• Tidak ada hasil yang ditemukan

USTADZAH ULFA NOER DAN PONDOK PESANTREN ATTAQWA PUTRI

A. Profil Ustdzah Hj. Ulfa Noer, S.Ag

Hajjah Ulfa Noer, S.Ag dilahirkan di Desa Bahagia Ujung Harapan Bekasi pada tanggal 16 maret tahun 1953.43 Ustadzah Ulfa Noer (Ummi Ulfa) merupakan anak ke-enam dari sepuluh bersaudara. Orang tua beliau merupakan seorang ulama terkenal dan pendiri pondok pesantren Attaqwa. Sebagai anak yang terlahir dari keluarga seorang ulama, nuansa religius dan pendidikan akhlak sangat diutamakan. Beliau dilahirkan dari pasangan KH. Noer Alie dan Ibu Hj. Rahmah. Ayahnya mendidik Ulfa dengan keserhanaan namun nuansa religius hadir dalam keluarganya hal ini tidak lain adalah pendidikan yang ditanamkan oleh ayahnya. Semasa kecil, Ulfa sangat santun dan periang sehingga teman-temannya sangat sayang kepada beliau. Ulfa merupakan sosok wanita yang sangat disiplin dan penuh tanggungjawab dalam segala hal, selain itu Ulfa Noer juga memiliki kepribadian bersahaja, kreatif, rajin dan terutama dalam kegiatan belajar.44

Pada tahun 1977 Ustadzah Ulfa menikah dengan Ustadz H. Nasrullah dari hasil pernikahannya beliau dikaruniai empat orang anak. Satu putra dan tiga putri. Mereka adalah Ahmad Fauzan, Ika Barkah, Elly Kamalia, dan yang bungsu adalah Rif’ah Purnamasari. Semasa kecil Ulfa sangat tekun dalam mempelajari ilmu agama, ia belajar mengaji pada siang hari setelah pulang sekolah MI (Madrasah Ibtidaiyah) dan malam hari ba’da magrib sampai jam 20.00 WIB dan guru beliau mengaji tidak lain adalah ayahnya.

Pendidikan formal Ustadzah Ulfa Noer, yaitu : 1. MI Attaqwa Tahun 1958-1963

2. MTS Attaqwa Tahun 1964-1967 3. MA Attaqwa Tahun 1968-1971

43

Wawancara pribadi dengan Ustadzah Ulfa Noer. Bekasi, 04 Juli 2009 44

4. S1 IAIN Jakarta tahun 1972 Sastra Arab, tetapi hanya semester IV

5. Pada tahun 1974 Kairo (Mesir) dengan jurusan yang sama yaitu Sastra Arab selama 4 tahun

6. S1 Pada tahun 2003 di Sekolah Tinggi Agama Islam Al-Aqidah Jakarta, jurusan Tarbiyah (PAI).

Aktivitas yang pertamakali beliau lakukan setelah lulus dari Madrasah Aliyah yaitu mengabdikan diri di pondok pesantren yang tidak lain adalah pondok pesantren Attaqwa, dengan membantu mengajar. Ketika Ustadzah Ulfa berumur 27 ayah beliau meninggal dunia, dan beliau diberi wasiat untuk menjaga dan mengurus para santri dengan tetap menjalankan ajaran-ajaran yang telah diberikan kyai kepada santri. Semua itu masih beliau lakukan sampai sekarang.

Selain itu, aktivitas ustadzah Ulfa juga berdakwah dimasyarakat dengan menghadiri majlis ta’lim kaum ibu baik di dalam maupun di luar lingkungan pesantren. Beliau juga sering diundang untuk ceramah dalam kegiatan keagamaan seperti acara Maulid, Isra Mi’raj, dan ada juga dalam acara pernikahan, khitanan, dan lain-lain.45

B. Sejarah Pondok Pesantren Attaqwa Putri Ujung Harapan Bahagia Bekasi

Pondok pesantren Attaqwa lahir atas prakarsa KH. Noer Alie, seorang kyai kharismatik yang sangat dihormati. Pondok pesantren Attaqwa putri terletak diujung harapan kecamatan babelan kabupaten bekasi, provinsi Jawa Barat, yang dipimpin oleh KH. Noer Alie. Pada tahun 1953 KH. Noer Ali membentuk organisasi sosial yang diberi nama yayasan pembangunan, pemeliharaan, pertolongan Islam (P.3), yaitu untuk dijadikan induk pendidikan S.R.I pesantren dan kebutuhan umat lainnya.

Pada tahun 1954, KH. Abdurahman diperintahkan oleh KH. Noer Ali untuk mendirikan pesantren di Bekasi, yang akan diberi nama ”Pesantren Bahagia” mengingat di Bekasi belum ada pendidikan tingkat lanjut bagi anak-anak daerah Bekasi. Pesantren bahagia yang ada dibekasi dipindahkan keujung harapan untuk mendukung konsentrasi KH. Noer Alie

45

dan para guru dalam proses belajar mengajar. Itulah yang menjadi alasan pemindahan pesantren bahagia dalam memajukan dan mengembangkan pendidikan di kampung ujung harapan.

Pondok pesantren Attaqwa sekarang telah memiliki santri-santri yang berjumlah ratusan, jika dijumlahkan semua mungkin sudah mencapai ribuan jumlahnya. Pesantren Attaqwa sekarang dipimpin oleh salah satu putri beliau yang bernama Ustdz. Hj. Atiqoh Noer MA. Pesantren Attaqwa dibawah naungan yayasan yang diberi nama yayasan Attaqwa yang dipimpin oleh salah satu putra beliau bernama KH. Amin Noer LC. Pondok pesantren Attaqwa dalam cita-cita pendidikannya, adalah berusaha membentuk muslim yang intelek dan bertakwa sehingga mampu menegakkan agama islam dari segala aspek kehidupannya dan terwujud masyarakat utama, adil dan makmur yang diridhoi Allah SWT. Untuk mewujudkan itu semua maka tersusunlah Visi dan Misi tersebut adalah sebagai berikut :46

C. Visi, Misi dan Tujuan Pondok Pesantren Attaqwa Putri ujung Harapan Bekasi

1. Visi

Berilmu Amaliyah beramal ilmiyah dengan landasan Al Quran dan Sunnah Rasul SAW yang diformulasikan dalam kalimat singkat, yaitu :

a. Ikhlas, adalah titik tolak kegiatan insan muslim menuju keridhoan Allah SWT tidak ada kegiatan insan mukhlis yang tidak didasari ibadah kepada Allah SWT. Ikhlas diperintahkan Allah SWT dalam firmannya QS. Al Baqarah : 139 yang berbunyi :

!

"# $%&

'( !

'( "# $%&

*+

,-.0 !

1 23 "+4 5

6789:

Artinya : Katakanlah ”Apakah kamu memperdebatkan dengan kami tentang Allah, padahal dia Rabb kami dan Rabb kamu bagi kami amalan kami, bagi kamu amalan kamu dan hanya kepadanya mengikhlaskan hati (QS. 2 : 139).

46

Sekretariat Yayasan Attaqwa, Visi, Misi dan Garis Besar Kerja Yayasan Attaqwa (Bekasi, 2004), hal. 2

Ayat di atas memberikan pemahaman bahwa tanpa keikhlasan maka semua amal tidak diterima dan sia-sia dihadapan Allah SWT. Kalau diibaratkan amal sebagai tubuh atau jasad maka ikhlas adalah ruhnya. Jadi setiap amal yang tidak ikhlas sama dengan tubuh yang tidak bernyawa, tidak mempunyai ruh atau sama dengan mayyit. Setiap orang melaksanakan sesuatu dengan ikhlas akan muncul dalam diri sifat amanah dalam kehidupannya. Orang amanah itu dalam bahasa Arab disebut sebagai Amin.47

b. Berdzikir, dalam makna yang luas yakni bahwa semua kegiatan adalah untuk berdzikir kepada Allah. Ibadah mahdoh berupa shalat, puasa, zakat, dan haji dilakukan untuk berdzikir kepada Allah. Demikian juga kegiatan lain selalu dihubungkan dengan mengingat kepada Allah. Tidak ketinggalan pula dzkir berupa doa dan pembacaan doa. Dengan berdzikir tersebut akan lahir insan-insan yang benar dalam segala tindakannya. Insan yang benar dalam bahasa arab disebut sebagai orang yang shadik dan siddik. Berdzikir adalah aktivitas yang diperintahkan Allah SWT yang tertuang dalam Al-Quran surat An Nisa ayat 103 yang berbunyi :

; < =

>?@+AB9

C D C"E3!

F &G H+; =

I

J$# AK

A &

D C &

& &

D

; < =

L =M $%

F $AK M =

C D C"E3!

D

O1 P

C D C"E3!

%Q RS

C &

TUK KV $+!

X# @KS

 OV

67Y8:

Artinya : Maka apabila kamu telah menyelesaikan shalat (mu), ingatlah Allah di waktu berdiri, di waktu duduk, dan diwaktu berbaring. Kemudian apabila kamu telah merasa aman, maka dirikanlah shalat itu (sebagaimana biasa). (QS. 4 : 103).

47

Sekretariat Yayasan Attaqwa, Visi, Misi dan Garis Besar Kerja Yayasan Attaqwa (Bekasi, 2004), hal. a

Sebagai hamba Allah yang muslim dan mukmin harus senantiasa berada dalam keadaan ingat kepada Allah dengan berdzikir, baik dzikir yang wajib ataupun dzikir yang sunnah, baik secara sendiri-sendiri ataupun secara jamaah, seperti shalat, puasa, ngaji, dan wiridan seperti membaca Al Quran, takbir, tahlil, tahmid, dan tasbih. Hal ini telah dilaksanakan oleh Nabi Muhammad SAW para sahabat, tabi`in dan aulia shalihin serta ulama pada umumnya, dan khususnya yang telah dicontohkan oleh pendiri Attaqwa. Sehingga diharapkan akan selalu mendapatkan rahmat, maghfiroh dan maunah dari Allah SWT. Dzikir ini juga merupakan ungkapan bahwa manusia makhluk yang sangat lemah, dan hanya Allah satu-satunya yang maha besar, maha kuasa dan maha pemurah, sehingga sewajarnya manusia selalu menggantungkan diri padanya dalam segala hal. Dengan dzikir pada setiap saat dan pada setiap tempat dimanapun kita

berada diharapkan Allah akan memberikan keselamatan kepada dunia dan akhirat.48 c. Berfikir, disini menggambarkan bahwa semua tindakan seorang insan muslim

berdasarkan kepada pemikiran yang jernih, logis, dan berdasarkan kepada ilmu pengetahuan. Untuk itu ia harus mengembangkan pengetahuan yang diperlukan bagi kepentingan umat manusia ini. Dengan berfikir tersebut akan lahir insan-insan yang pintar dan cerdas, yang sanggup mempergunakan pengetahuannya dalam kegiatan kehidupannya. Dalam bahasa arab pintar dan cerdas itu disebut dengan fathonah.49 Berfikir diperintahkan Allah SWT dalam Al Quran surat Ali Imran : 191 yang berbunyi :

ZK I

1 &G'S\ 4

I

J$# AK

A &

D C &

] & &

1 &G^ R_ L 4

:`=" a

K b # cdd!

6e @f

g

V

hQ+PC" a

R\#

iRKj#

X # k

YP =

al R\ &

 O !

6797:

48

Sekretariat Yayasan Attaqwa, Visi, Misi dan Garis Besar..., ibid. hal. 6 49

Artinya : Yaitu orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri atau duduk atau dalam keadaan berbaring dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi (seraya berkata) : ”Ya Rabb kami, tiadalah engkau menciptakan ini dengan sia-sia maha suci engkau, maka peliharalah kami dari siksa api neraka (QS. 3 : 191).

Ayat di atas memberikan gambaran bahwa seorang muslim berpikir dan menggunakan akal yang telah diberikan Allah kepadanya. Berpikir tentang rahasia alam termasuk apa yang ada dalam dirinya sebagai nikmat yang maha besar dari Allah SWT. Dengan berpikir akan terwujud insan yang cerdas pintar berwawasan luas dan akan menjadi sumber daya manusia yang mampu memanfaatkan potensi alam untuk kesejahteraan manusia yang pada akhirnya dapat mewujudkan islam sebagai agama yang Ya`lu wa la yu` la alaih. Disamping itu dengan berpikir itu akan memperkuat keyakinan dan keimananya akan kebesaran Allah SWT dan akan menjadi modal untuk mencapai kebahagiaan hakiki di akhirat kelak. Kegiatan berdzikir dan berpikir tersebut merupakan dua langkah yang harus dilakukan oleh seorang insan agar ia menjadi manusia yang mempunyai wawasan yang luas. Langkah pertama adalah mengarahkan hati manusia untuk dzikir kepada Allah dan beribadah kepadanya dalam kondisi apa pun. Langkah berikutnya dilanjutkan memikirkan seluruh ciptaan Allah SWT yang juga terkait dengan ibadah kepadanya. Langkah kedua ini adalah sesungguhnya merupakan sisi lain dari bentuk dzikir dan pikir kepada Allah SWT.50

Beramal, adalah konsekuensi logis dari berdzikir dan berpikir. Insan yang berdzikir akan muncul dari mulutnya ucapan sanjungan dan pengakuan bahwa Allah tidak menciptakan alam ini tidak sia-sia. Semua yang diciptakan Allah mempunyai manfaat dan hikmah. Oleh sebab itu ia akan melakukan berbagai amal saleh, usaha yang baik untuk mengkaji pemanfaatan dan hikmah dari semua yang diciptakan Allah SWT. Dari amal saleh yang

50

Sekretariat Yayasan Attaqwa, Visi, Misi dan Garis Besar Kerja Yayasan Attaqwa (Bekasi, 2004), hal. 10

dilakukan dengan prinsip dzikir dan pikir tersebut akan lahir berbagai keterampilan atau skill dalam dirinya, terutama life skill.

Amal adalah mata rantai yang keempat dari rantai-rantai tersebut di atas yang tidak boleh terputus karena amal merukan penentu atau hasil dari buah pikir dan dzikir. Tanpa amal manusia tidak mempunyai nilai apa-apa. Sukses atau tidaknya seseorang sangat ditentukan oleh amalnya, baik untuk kepentingan orang banyak, khususnya untuk kepentingan agama, bangsa dan negara. Inilah yang disebut amal sholeh.51

2. Misi Pondok Pesantren Attaqwa Putri Ujung Harapan Bahagia Bekasi

Membentuk insan salehah yang mampu menegakan ajaran islam dalam aspek kehidupannya. Insan yang berdzikir dan berpikir serta mamapu menerima dan memberi nasihat serta tidak otoriter dan tidak pula rendah diri dan dalam bentuk kongkritnya membentuk muslimah yang cerdas, benar, trampil dan disiplin.

a. Cerdas

Mempunyai kecerdasan untuk memahami dan menerima islam secara kaffah dan mempunyai kesanggupan untuk menggali ilmu dengan ikhlas dan benar.

b. Benar

Yang dimaksud adalah akidah yang benar melakukan ibadah yang baik dan memiliki akhlakul karimah.

c. Terampil

Adalah santri yang mempunyai kemampuan untuk membuktikan umumnya ditengah-tengah masyarakat. Dan mempunyai kesanggupan untuk berusaha.

d. Disiplin

Adalah mempunyai kedisiplinan yang tinggi untuk mengatur waktu dan kehidupannya.52

51

Sekretariat Yayasan Attaqwa, ... hal.11 52

M. Amin Noer, Sejarah Ringkas Yayasan Attaqwa, (Ujung Harapan : Sekretariat Yayasan Attaqwa 2003), hal. 15

D. Tujuan Pondok Pesantren Attaqwa Putri Ujung Harapan Bekasi

a. Pondok pesantren Attaqwa putri adalah suatu lembaga yang bertujuan untuk membentuk insan sholeh dan mushlih yang mampu menegakan ajaran Islam dalam aspek kehidupannya, insan yang berdzikir dan berfikir serta membentuk muslimah yang cerdas, benar, trampil, dan berdisiplin sesuai dengan ajaran islam.

b. Dalam usaha mencapai tujuan pendidikan di Pondok Pesantren Attaqwa Pusat Putri dipandang perlu diwujudkan tata kehidupan pesantren dengan tata tertib yang memadai. c. Pondok Pesantren Attaqwa Pusat Putri perlu di tetapkan peraturan tata tertib dasar santri

sebagai salah satu pembinaan terhadap santri.

E. Keadaan Santri dan Pelajar

Yayasan Attaqwa sendiri mengembangkan sistem pendidikan sekolah tersebut diberbagai daerah bekasi, jumlah sekolah itu meliputi 20 TK, 62 MI, 18 Madrasah Tsanawiyah dan SMP, 13 Madrasah Aliyah, 2 SMU dan SMEA, dan 2 Pesantren tinggi untuk putra dan putri. Jumlah keseluruhan dari siswa yang menuntut ilmu pada yayasan ini adalah 18.718 orang.53

Pondok pesantren attaqwa yang dulunya sederhana kini menjelma menjadi kebanggaan masyarakat ujung harapan. Pada saat ini pendidikan di pesantren attaqwa terdiri dari tingkat Tsanawiyah, Aliyah, Pesantren Tinggi Attaqwa dan sekolah Tinggi Agama Islam, Attaqwa (STAIA). Namun, pondok pesantren attaqwa sendiri identik dengan madrasah Tsanawiyah dan Aliyah. Sebab anak didik yang belajar dan tinggal diasrama, keseluruhannya santri yang masih duduk dijenjang madrasah Tsanawiyah dan Aliyah dua jenjang inilah yang terkait oleh aturan-aturan pondok pesantren. Sedangkan anak didik yang masih belajar di Madrasah Ibtidaiyah (MI) dan sekolah tinggi, mereka tinggal dirumah mereka masing-masing.

Lazimnya pesantren lainnya, pondok pesantren Attaqwa juga menekankan adanya keseimbangan antara belajar (dirasah) dan beribadah (ubudiyah) namun, ada yang berbeda

53

Sekretariat Yayasan Attaqwa, Rekapitulasi Global Lembaga – lembaga di bawah Yayasan Attaqwa Pusat, (Ujung Harapan Bahagia Bekasihal. 4

dipesantren lainnya, yakni masa belajar dipesantren ini sungguh luar biasa padatnya. Tidak mengenal lelah dari pagi hingga malam hari, ruang-ruang kelas selalu penuh dengan santri yang sedang belajar. Pagi hari mulai jam 07.15-12.00, siang hari dari jam 13.30-15-30 dan malam hari jam 18.00-22.00.54

Materi yang diberikan pada pagi hari dan siang hari adalah materi pelajaran, baik yang menyangkut pengetahuan umum, pengetahuan agama. Sedangkan malam harinya adalah khusus untuk membahas pelajaran agama meski jadwal balajar keagamaan padat, namun santri merasa senang mendapatkan pelajaran berharga dari pondok pesantren Attaqwa Putri. Terbukti dengan jumlah santri yang menimba ilmu dipondok pesantren Attawwa putri yang tak pernah surut. Kebanyakan berasal dari wilayah Jabotabek (Jakarta, Bogor, Tanggerang, Bekasi).

Adapun kegiatan ekstrakurikuler santri lainnya adalah sebagai berikut : 1. Pukul 04.00-04.30 Bangun tidur dan persiapan shalat subuh berjemaah. 2. pukul 04.30-05.00 Shalat subuh berjemaah dan wirid.

3. Pukul 05.00-06.00 Pengajian Al Quran (Tadarus)

4. Pukul 06.00-07.15 Olah raga, sarapan pagi, dan persiapan sekolah. 5. Pukul 07.15-12.00 Belajar pagi hari

6. Pukul 12.00-12.30 Shalat zuhur berjemaah. 7. Pukul 12.30-13.00 Makan siang.

8. Pukul 13.00-15.30 Belajar siang hari 9. Pukul 15.30-16.00 Shalat berjemaah 10. Pukul 16.00-17.00 Kegiatan ekstrakurikuler

11. Pukul 17.00-18.00 Makan sore, mandi, dan persiapan sholat maghrib 12. Pukul 18.00-18.30 Shalat maghrib berjamaah

13. Pukul 18.30-19.00 Tadarusan

14. Pukul 19.00-19.30 Shalat Isya berjamaah

54

15. Pukul 19.30-22.00 Mudzakaroh, mengulang pelajaran sekolah. Pukul 22.00-04.00 Tidur malam.

Untuk mendukung kualitas pendidikan dan pengajaran tingkat Madrasah Tsanawiyah dan Madrasah Aliyah Attaqwa, maka dipersiapkan tenaga edukatif yang berpengalaman. Kebanyakan dari sarjana-sarjana lulusan Damaskus, Al Azhar, GONTOR, IKIP, IAIN, King Saud University, IIU Malaysia, IIU Islamabad, STAI Attaqwa, Unisma, AIC jakarta, Unipta serta PTA Attaqwa.55

55

BAB IV

ANALISIS POLA KOMUNIKASI USTADZAH ULFAH NOER TERHADAP SANTRI DI PONDOK PESANTREN

ATTAQWA PUTRI

A. Pola Komunikasi Ustadzah Ulfa Noer Terhadap Santri di Pondok Pesantren Attaqwa Putri

Berdasarkan pengamatan penulis selama penelitian, Ustadzah Ulfa Noermengandalkan komunikasi dengan para santrinya dengan menggunakan menggunakan dua pola komunikasi, yaitu :

1. Komunikasi kelompok. Hal ini dapat dilihat atau dibuktikan pada kegiatan belajar mengajar baik secara formal maupun non formal. Dalam kegiatan belajar mengajar beliau sangat semangat dalam menjawab setiap pertanyaan yang diajukan para santriwatinya. Beliau dikenal sangat tegas dalam mendidik santriwatinya, jika ada santri yang tidur ketika pelajaran nya, maka beliau pun tidak segan-segan untuk menghukumnya baik dengan pukulan atau berdiri, namun bagi para santri pukulan beliau adalh berkah (memotivasi santri) untuk berubah.56 Penjelasan beliau sangat mudah difahami sehingga santri senang ketika diajar dengannya. Walaupun demikian, beliau sangat memperhatikan keadaan santri.

2. Selain menggunakan komunikasi kelompok, beliau juga menggunakan komunikasi antarpribadi. Biasanya komunikasi antarpribadi terjadi Pada kegiatan menghafal pelajaran yang rutin diakan pada sore hari (Ba’da ashr), para santri menghadap kepada beliau untuk membuktikan hafalannya. Di samping menghafal, tidak sedikit santri yang curhat (tukar pikiran), beliaupun menanggapi dengan antusias apa yang dikeluhkan oleh para santriwatinya baik tentang keadaan pondok, teman-teman maupun para pengurus pondok pesantren. Setelah menanggapi keluhan beliau memberikan nasehat dan motivasi kepada satriwatinya. Hal ini yang membedakan pondok Pesantren Attaqwa Putridengan pondok

56

pesantren lainnya. Dimana ustadzah adalah ibu bagi santrinya. Beliau sangat memperhatikan keadaan santri-santrinya Sehingga terjalin hubungan yang sangat dekat antara ustadzah dan para santrinya.

Hal ini sesuai dengan penuturan ustadzah Ulfa Noersebagai berikut:

” Aktivitas saya dengan santri, seperti ibu dan anak. Ditengah-tengah kesibukan, saya menyempatkan diri saya untuk mengontrol keadaan santri pada sore dan malam hari semua itu saya lakukan untuk lebih dekat dengan anak-anak. Sore hari adalah waktu anak-anak datang kerumah saya untuk menyetorkan hafalannya (pelajaran) dan biasanya setelah menghafal, tidak sedikit anak-anak yang curhat sama saya sekitar masalah dengan temannya, pengurus, ustadzah dan ada juga yang curhat tentang keadaan pesantren. Sebagai ibu saya berikan anak-anak solusi yang tepat dengan masalah yang mereka sampaikan. Semua ini saya lakukan agar anak-anak lebih terbuka akan masalah yang dihadapi. Selain itu, hal ini dilakukan agar apa yang dilaporkan oleh para pengurus kepada saya tentang santri tidak terjadi kesalahpahaman dengan apa yang saya dengar langsung dari anak-anak”.57

Keberhasilan kegiatan ini terlihat, bahwa tidak adanya jarak antara seorang pendidik dengan para santri. Hal ini akan menumbuhkan sikap saling percaya antara komunikator (Ustzh. Ulfa Noer) dan komunikan (santri) sehingga melahirkan suatu sikap simpatik santri dan masyarakat sekitar terhadap ustadzah Ulfa. Seperti penuturan ustadzah Ade Damroh, salah satu pengajar di pondok pesantren Attaqwa :

“...Hubungan kami dan ustadzah Ulfa sangat dekat, karena beliau selalu membaur dengan para ustadzah dan juga dengan para santri. Beliau adalah seorang ibu yang bijak, sehingga santri pun tidak segan lagi untuk menyampaikan pendapatnya dan begitu juga ketika berinteraksi dengan beliau.”58

Sesuai dengan perkataan Ustadzah. Ulfa Noer, bahwa : perintah dakwah (dalam agama islam) tidak mengharuskan secepatnya berhasil dengan satu metode saja, namun berbagai cara harus dikerjakan sesuai dengan keadaan objek dakwahnya, kemampuan masing-masing da’i dan atas kebijaksanaannya masing-masing-masing-masing.

57

Wawancara dengan Ustadzah Ulfa tanggal 06 Juli 2009 58

Terdapat beberapa hal yang disampaikan Ustadzah Ulfa Noer dan para pengurus pondok pesantren Pesantren Attaqwa Putri dalam hal pembelajaran kepada santri, diantaranya yaitu:

1. Dalam Pendidikan

Salah satu prasyarat untuk mewujudkan masyarakat madani ditentukan oleh sejauh mana kualitas peradaban masyarakatnya. Peradaban suatu bangsa akan tumbuh dan lahir dari sistem pendidikan yang digunakan oleh bangsa tersebut. Masyarakat yang berperadaban adalah masyarakat yang berpendidikan. Hal ini juga sesuai dengan konsep pendidikan yang dilakukan oleh Muhammad Naquib Al Atthas. Menurut pendidikan Islam itu lebih tepat diistilahkan dengan ta`dib (dibanding istilah Tarbiyah, Ta`lim dan lainnya), sebab dengan konsep ta`dib pendidikan akan memberikan adab atau kebudayaan. Dengan istilah ini juga dimaksudkan pendidikan berlangsung dengan terfokus pada manusia sebagai objeknya guna pemenuhan potensi intelektual dan spiritual.

Pendidikan dan pengajaran dapat pula dijadikan sebagai metode dakwah. Sebab dalam definisi dakwah telah disebutkan bahwa dakwah dapat diartikan dua sifat, yakni bersifat pembinaan (melestarikan dan membina agar tetap beriman) dan pengembangan (sasaran dakwah). Pendidikan agama sebagai dakwah pada dasarnya membina (melestarikan) fitrah anak yang dibawa sejak lahir, yakni fitrah beragama (perasaan bertuhan). Yang mana bila fitrah itu tidak dilestarikan melalui pendidikan dikhawatirkan fitrah itu akan luntur menjadi atheis atau menganut agama selain Islam.

Menyikapi realitas pendidikan Semarang, maka lembaga-lembaga yang ada harus selalu berusaha menemukan format yang ideal sebagai sistem alternatif bangsa Indonesia masa depan. Perpaduan antara sistem pendidikan klasik dengan sistem pendidikan modern dapat melahirkan sistem pendidikan Islam yang komferhensif, tidak saja hanya menekankan penguasaan khasanah keilmuan Islam klasik tetapi juga mempunyai integritas keilmuan modern.

Menyadari hal demikian, pimpinan pondok Pesantren Attaqwa Putri mencoba untuk menerapkan sistem tersebut kedalam pendidikan santri secara klasikal yang merupakan

Dokumen terkait