Hasil kesepakatan melalui mufakat dalam FGD per kelompok aktor di Kabuaten Berau menempatkan usulan kebijakan distribusi manfaat (UKDM) dari PSDH, DR dan royalti pertambangan yang seharusnya dimenangkan dan dijalankan melalui sebuah Peraturan Daerah (Perda). Semua kelompok aktor, termasuk DISTAMBEN, menyetujui UKDM ini.
DISTAMBEN sebagai pihak yang berkepentingan terhadap royalti pertambangan, memilih sepakat dengan UKDM ini dengan 2 (dua) alasan utama. Pertama, penerimaan royalti pertambangan tidak sepenuhnya kembali ke DISTAMBEN untuk operasional pembinaan dan pengawasan kegiatan pertambangan. Berdasarkan perkiraan DISTAMBEN dari sekitar Rp 140 milyar (rata-rata per tahun) royalti pertambangan yang diperoleh Kabupaten Berau, hanya sekitar Rp 10 milyar saja yang dialokasikan ke DISTAMBEN dalam APBD. Kedua, selama pengelolaan dana (termasuk di dalamnya royalti pertambangan) yang dialokasikan untuk mitigasi deforestasi dan degradasi hutan ini melibatkan DISTAMBEN. DISTAMBEN tidak berkeberatan mengelola dana ini bersama DISHUT.
Pengelolaan distribusi manfaat dari PSDH, DR dan royalti pertambangan yang diinginkan oleh semua kelompok aktor untuk mitigasi deforestasi dan degradasi hutan pada tahap alokasi dan distribusi akan dijelaskan pada bagian berikut.
5.1. Alokasi PSDH, DR dan royalti tambang untuk mitigasi deforestasi dan degradasi hutan dalam UKDM
5.1.1. Tingkat alokasi
Sebagian besar responden, baik dari KMS, PARPOL dan PEMDA, memilih setuju dan sangat setuju dengan alokasi dana untuk mitigasi deforestasi dan degradasi hutan sampai ke level kecamatan. Responden yang memilih setuju dan sangat setuju dari semua kelompok aktor mencapai sekitar 88% (Gambar 5.1). Sementara itu, responden yang memilih ragu-ragu sebesar 7%, dan responden yang tidak setuju sebesar 5%. Responden yang menjawab tidak setuju sekitar 5% tersebut berasal dari kelompok PEMDA.
27
Gambar 5.1. Pendapat para aktor mengenai skema UKDM, jika dana dialokasikan hingga ke level kecamatan untuk tujuan mitigasi deforestasi dan degradasi hutan
Pertimbangkan yang disampaikan oleh aktor-kator yang setuju alokasi dana sampai ke level kecamatan adalah agar penanganan deforestasi dan degradasi hutan dapat berjalan optimal sesuai faktor-faktor pendorong (driven) di masing-masing kecamatan. Namun, aktor-aktor yang setuju dana dialokasikan sampai ke level kecamatan tetap mempersyaratkan pemerintah kabupaten harus membekali perangkat di level kecamatan dengan kemampuan manajerial yang cukup dalam pengelolaan program dan dana. Sementara, aktor-aktor yang tidak setuju (sekitar 5% responden) dana dialokasikan sampai ke level kecamatan disebabkan keraguan mereka akan kemampuan perangkat kecamatan dalam pengelolaan dana dan implementasi program. Ada kekhawatiran dari mereka (aktor-aktor yang tidak setuju) bahwa alokasi dana sampai ke kecamatan akan membuka peluang korupsi baru di level kecamatan.
5.1.2. Proporsi dana mitigasi deforestasi dan degradasi hutan antara kabupaten dan kecamatan
Hasil rata-rata proporsi dana untuk mitigasi deforestasi dan degradasi hutan antara kabupaten dan kecamatan yang diinginkan oleh semua kelompok aktor, baik PEMDA, KMS, dan PARPOL, menempatkan alokasi di tingkat kabupaten lebih besar dari kecamatan. Proporsi alokasi ke tingkat kecamatan paling besar diberikan oleh KMA. KMA menginginkan rata-rata proporsi alokasi dana ke tingkat kecamatan mencapai 48% berbanding 52% untuk kabupaten.
Sementara kelompok yang memberikan rata-rata proporsi alokasi dana yang lebih besar ke kabupaten adalah kelompok PEMDA, yaitu dengan perbandingan antara kabupaten dan kecamatan sebesar 71% : 21% (Gambar 5.2).Sedangkan, kelompok OMS memberikan
28
proporsi alokasi kabupaten dengan kecamatan sebesar 66,5% : 33,5% dan kelompok PARPOL sebesar 70,5% : 29,5%.
Gambar 5.2. Proporsi alokasi dana untuk mitigasi deforestasi dan degradasi hutan antara kabupaten dan kecamatan menurut masing-masing kelompok pemangku
kepentingan
KMA memberikan proporsi yang cukup besar ke level kecamatan (48%) dengan pertimbangan bahwa penanganan deforestasi dan degradasi hutan di level kecamatan memerlukan dana yang cukup besar. Sementara dana di level kabupaten dapat digunakan untuk capacity building perangkat dan masyarakat kecamatan. Sementara kelompok lain, baik PEMDA, OMS dan PARPOL, yang menginginkan alokasi ke tingkat kabupaten jauh lebih besar (skala 66,5 – 71%) dari kecamatan berharap program-program penanganan deforestasi di level kecamatan tidak sepenuhnya dilakukan oleh perangkat desa. PEMDA, OMS, dan PARPOL berharap ada pula program di kecamatan yang dilakukan oleh kabupaten, dalam hal ini DISHUT. Jadi, PEMDA yang diwakili DISHUT tidak sekedar melakukan pendampingan saja melalui capacity building.
5.1.3. Kriteria alokasi
Semua responden (100%), baik dari PEMDA, KMS, dan PARPOL sepakat apabila yang digunakan sebagai dasar alokasi ke level kecamatan adalah tutupan hutan (forest cover) dan cadangan karbon (stock carbon). Meskipun demikian, kelompok KMS dan PARPOL ingin mengusulkan tambahan kriteria. KMS dan PARPOL mengusulkan kriteria budaya. Artinya, kecamatan yang mana masyarakat di sana masih kental budaya adatnya akan menerima alokasi
29
dana lebih besar dari yang sudah mulai terkikis budaya lokalnya. Namun, indikator ini memang akan sulit diterapkan.
5.2. Distribusi dari PSDH, DR dan royalti tambang dalam UKDM
5.2.1. Keterlibatan publik dalam perencanaan, pelaksanaan dan pengawasan penggunaan dana mitigasi deforestasi dan degradasi hutan
Semua kelompok aktor (100% responden dari PEMDA, KMS, dan PARPOL) menyetujui bahwa perencanaan, pelaksanaan dan pengawasan penggunaan dana PSDH, DR dan Royalti Pertambangan untuk program mitigasi deforestasi dan degradasi hutan, baik di level kabupaten maupun kecamatan, melibatkan pihak di luar pemerintah. Pihak di luar pemerintah ini dapat berupa OMS, jurnalis, dan akademisi. Kelompok PEMDA juga tidak berkeberatan dengan usulan ini, selama kelompok yang terlibat dapat profesional dan semangat yang dibangun adalah semangat perbaikan bukan sekedar mengkritisi. PEMDA berharap bahwa pelibatan semua pihak dalam perencanaan penggunaan dana dapat membangun rasa kepemilikan bersama semua pihak. Sementara, pelibatan para pihak dalam pelaksanaan dan pengawasan penggunaan dana diharapkan dapat mendorong pengelolaan dana yang transparan, sehingga program untuk penanganan deforestasi dan degradasi hutan dapat berjalan efektif.
Sementara kelompok KMS dan PARPOL berharap bentuk pelibatan ini dapat dibuat secara formal. KMS dan PARPOL mengusulkan ada sebuah Surat Keputusan (SK) dari Bupati yang menyatakan tentang keterlibatan para pihak di luar pemerintahan. Dalam SK Bupati tersebut diharapkan terdapat rincian pihak-pihak luar birokrasi yang terlibat secara jelas, baik di level kecamatan maupun kabupaten.
5.2.2. Transparansi penggunaan dana
Para aktor (100% responden) memberikan pilihan sangat setuju dan setuju (100% setuju) untuk penggunaan dana mitigasi deforestasi dan degradasi hutan dilakukan secara transparan.
Transparansi penggunaan dana ini berlaku, baik untuk dana yang dikelola pihak kabupaten maupun dana yang dikelola oleh pihak kecamatan. Para aktor di setiap kelompok, baik PEMDA, KMS, dan PARPOL, menyadari bahwa pengelolaan dana yang transparan akan lebih dapat mendorong penurunan deforestasi dan degradasi hutan secara efektif. Para aktor juga sepakat bahwa pelaporan penggunaan dana harus disampaikan ke publik setiap tahun.
30