• Tidak ada hasil yang ditemukan

ISU UTAMA TERKAIT PLTN

Seperti diketahui bahwa PLTN menerapkan teknologi maju yang dari waktu ke waktu terus berkembang untuk menuju tingkat keselamatan yang makin tinggi dan daya saing ekonomi yang lebih baik. Saat ini teknologi PLTN sudah berkembang mengarah ke Generasi ke 4. Teknologi muthakir ini memperhatikan capaian optimasi antara tuntutan keselamatan yang tinggi dengan filosofi ”fail to safe”, tetapi tetap tidak meningkatkan biaya ekonominya atau bahkan diusahakan lebih rendah biayanya. Selain itu teknologi fabrikasi bahan bakar telah sampai pada tingkat yang sukar untuk didaur-ulang, sehingga sukar untuk mengambil sisa uranium ataupun plutonium, hal ini berarti pula pembentukan limbah yang sangat minimal, sehingga memberikan jaminan tentang ”proliferation resistent” dan ”waste free”.

Dalam sistem PLTN, falsafah dan tradisi keamanan menekankan bahwa keselamatan adalah prioritas utama. Diterapkannya standar internasional yang tinggi, sistem jaminan mutu dan pengaturan yang efektif menjamin tingkat keamanan yang

tinggi. Peningkatan standar dan tingkat keselamatan PLTN dari 10-4 kemungkinan leleh teras/tahun (KLT/tahun) menjadi 10-6 KLT/tahun melalui desain maju dan sistem keselamatan pasif. Sebagai catatan bahwa reaktor Chernobyl yang mengalami leleh teras pada tahun 1976 hanya mempunyai tingkat keselamatan yang rendah yaitu 10-3 KLT/tahun. Sehingga kecelakaan seperti di Chernobyl dapat dihindarkan, jika Indonesia akan membangun PLTN.

Teknologi reaktor nuklir pada prinsipnya mengutamakan dan menekankan aspek keselamatan yang diterapkan pada setiap tahap kegiatannya dari awal konstruksi hingga akhir operasi. Prinsip keselamatan yang ketat diterapkan agar PLTN dapat beroperasi secara aman dan terkendali serta bahaya radiasi dapat ditekan serendah mungkin. Hal ini sejalan dengan konsensus Internasional untuk menggalang dan selalu memutakhirkan standar keselamatan dan prosedur keselamatan operasional. Teknologi keselamatan PLTN menerapkan sistem pertahanan berlapis, yang mencegah insiden kecil menjadi kecelakaan dan mengungkung zat radioaktif yang timbul agar tetap berada dalam sistem pengungkung. Hal ini harus diterapkan secara konsekuen karena persyaratan yang ditetapkan pada sistem PLTN mempunyai prinsip dan standard internasional.

Disain suatu PLTN berpedoman pada filosofi “Defense in Depth” (pertahanan berlapis) untuk keselamatan yang terdiri atas:

- Mampu mencegah insiden yang mungkin dapat menjalar menjadi kecelakaan.

- Mampu mendeteksi dini adanya insiden dan mematikan reaktor secara otomatis.

- Memiliki sistem keselamatan terpasang yang mencukupi untuk mencegah terjadinya insiden dan untuk menanggulangi konsekuensinya.

Selain itu teknologi nuklir juga menerapkan azas keselamatan yang diungkapkan dalam kalimat “As Low As Reasonably Achievable (ALARA)”, yaitu upaya keselamatan pada aplikasi teknologi nuklir harus dilakukan seoptimal mungkin, agar potensi bahaya serendah mungkin. Azas keselamatan tersebut meliputi:

- Azas manfaat, aplikasi teknologi nuklir harus bermanfaat dan manfaat tersebut harus lebih besar dari risikonya.

- Azas optimasi, upaya pencapaian keselamatan tersebut harus semaksimal mungkin dan dalam batas kewajaran.

- Azas limitasi, untuk mencegah risiko bahaya radiasi terhadap kesehatan, harus ditetapkan batas keselamatan dosis radiasi. Azas tersebut menjadi acuan yang dianut secara internasional melalui IAEA, dan dituangkan dalam upaya pencegahan dan penanggulangan (control). Pencegahan merupakan aktivitas pemanfaatan teknologi nuklir agar berlangsung secara aman, baik terhadap pekerja, masyarakat dan lingkungan. Sedangkan penanggulangan merupakan seluruh upaya dan tindakan untuk menghadapi dampak negatif bila upaya pencegahan tidak berhasil. Sehingga isu kekhawatiran kecelakaan PLTN seperti di Chernobyl dijamin tidak akan terjadi di Indonesia.

- Limbah dan Dekomisioning

Limbah radioaktif dari PLTN, dan penggunaan radioisotop dalam pertanian, industri, riset dan kedokteran, telah menjadi subyek perhatian pemerintah, para pakar dan masyarakat umum. Saat ini teknologi pengelolaan limbah radioaktif telah mapan dan terus berkembang sesuai dgn kemajuan iptek dan tuntutan keselamatan. Awal 1960, organisasi pemerintah dan internasional, termasuk IAEA, telah mengembangkan dan menerapkan standar, kriteria, pedoman serta petunjuk praktis dalam pengelolaan dan penyimpanan limbah radioaktif secara aman. Sampai saat ini tahun 2000 hampir empat puluh tahun

acuan bagi negara yang ingin mengembangkan teknologi pengolahan limbah radioaktif.

Hampir semua negara di dunia, termasuk yang tidak menggunakan PLTN, juga menghasilkan limbah radioaktif yang berasal dari berbagai bidang aplikasi isotop dan radiasi. Jenis-jenis limbah yang dihasilkan mempunyai sifat fisik dan volume sangat berbeda, dan pada umumnya berasal dari aktivitas:

1. Penambangan dan pengolahan mineral uranium dan thorium serta aktivitas yang terkait dengan daur bahan bakar nuklir; 2. Operasi yang berhubungan dengan daur bahan bakar, seperti

konversi dan pengayaan uranium, pabrikasi bahan bakar serta olah-ulang (reprocessing) bahan bakar bekas;

3. Operasi PLTN, termasuk bahan bakar bekas;

4. Dekontaminasi dan dekommisioning fasilitas nuklir;

5. Penggunaan radioisotop dan radiasi dalam bidang pertanian, industri dan kedokteran.

Tidak seperti pembangkit batubara atau minyak yang menghasilkan limbah yang besar ke biosfer (udara, air dan tanah), jumlah limbah dari PLTN relatif kecil dan dapat dibatasi, disimpan dan diisolasi dari lingkungan manusia. Jumlah limbah dari PLTN jauh lebih sedikit dari pada PLTU batu bara, karena energi yang dihasilkan dari reaksi pembelahan uranium sangat tinggi dibandingkan bahan bakar yang lain, hal ini disebabkan oleh densitas energi uranium yang sangat tinggi.

Limbah nuklir berupa zat radioaktif mempunyai sifat meluruh dengan waktu, sehingga umurnya berkurang dengan waktu (waktu paruh t1/2), dan potensi bahaya radiasinya berkurang secara eksponensial terhadap waktu. Di samping membiarkan limbah meluruh dengan waktu, secara garis besar penanganan limbah radioaktif mengikuti tiga prinsip yaitu: pengurangan volume, pengolahan untuk mengubah menjadi bentuk stabil secara fisik maupun kimia yang disesuaikan dengan teknik transportasi dan penyimpanannya, untuk selanjutnya limbah

radioaktif ini dipindahkan ke tempat yang terisolasi dari lingkungan hidup.

Limbah suatu PLTN digolongkan menjadi tiga kategori, yaitu limbah aktivitas tinggi (LAT), limbah aktivitas sedang (LAS) dan limbah aktivitas rendah (LAR). Sebagai gambaran, PLTN dengan daya 1000 MWe (tingkat pengkayaan 4%) selama setahun akan menghasilkan jumlah limbah LAT dalam bentuk bahan bakar bekas sekitar 30 ton, LAS terolah sekitar 300 ton dan LAR sekitar 450 ton.

Jika dilihat dari jumlah zat radioaktif, maka sebagian besar limbah radioaktif terdapat dalam bahan bakar bekas (98%). Bahan bakar bekas disimpan secara khusus di reaktor dengan kapasitas simpan yang dapat mengakomodasi seluruh bahan bakar selama masa operasi PLTN. Kemudian dapat disimpan secara tetap di tempat khusus (repository) bila dianut daur bahan bakar tertutup. Bila ditempuh daur terbuka maka bahan bakar bekas diproses untuk perolehan sisa uranium dan plutonium untuk difabrikasi kembali menjadi bahan bakar. Dari proses daur ulang ini akan terbentuk LAT sekitar 8 ton.

Potensi dampak dari limbah PLTU ini lebih besar ketimbang PLTN. Jumlah limbah PLTN ini relatif sangat kecil dibandingkan limbah PLTU batubara dengan daya yang sama. PLTU batubara dengan daya 1000 MWe selama 1 tahun memerlukan 3 juta ton batubara dan dari sini akan terebntuk limbah CO2 sekitar 7 juta ton, SO2 dan NO2 masing-masing sekitar 20.000 dan 4000 ton, debu sekitar 300.000 ton dan logam berat seperti Hg, As, Pb, Cd dan lainnya sekitar 400 ton. Potensi bahaya limbah PLTN adalah jauh lebih kecil dari pada potensi bahaya operasi PLTN itu sendiri. Hal ini karena didukung oleh teknologi pengolahan limbah yang andal dan teruji. Sedangkan biaya pengendalian dan pembuangan limbah radioaktif dari PLTN sangat kecil jika dibandingkan dengan

nilai ekonomi total listrik yang diproduksi. Biaya pengolahan limbah nuklir biasanya sudah dimasukkan dalam biaya pembangkitan energi nuklir dan secara umum berkisar antara 2– 6% dari harga listrik.

PLTN yang telah berakhir masa penggunaannya akan didekomisioning, yaitu upaya untuk menghilangkan residu potensi bahaya yg ditinggalkan oleh reaktor dan sarana pendukungnya setelah habis masa operasinya. Teknologi dekomisioning telah diterapkan di berbagai negara dan biaya dekommisioning sudah termasuk dalam perhitungan harga listrik. Sebagai contoh di Swedia, biaya sekitar 0,3 US sen per kWh telah disisihkan untuk menutupi seluruh biaya manajemen dan penyimpanan limbah serta dekomisioning.

- Penerimaan Masyarakat

Pembangunan PLTN memang telah, sedang dan masih akan menciptakan pro dan kontra. Kendati demikian, Pemerintah yang telah memiliki komitmen serta menghadapi permasalahan energi di masa depan tidak dapat mengambil sikap “abu-abu” dan tidak tegas. Baik pihak yang menentang dan mendukung pembangunan PLTN sudah sewajarnya diberikan peluang untuk menyampaikan argumen masing-masing secara transparan, akuntabel, dan damai. Bagaimanapun juga, dalam alam demokrasi konflik kepentingan tidak dapat ditutupi dan direpresi sebagaimana pada masa sebelumnya. Dialog harus menjadi wahana bagi penyelesaian konflik, termasuk masalah pro-kontra pembangunan PLTN. Pihak-pihak yang berkonflik diharapkan memberikan solusi yang menguntungkan kedua belah pihak (win-win solutions), dan bukan hanya “waton suloyo” atau sekedar berbeda. Lebih buruk lagi apabila konflik tersebut menciptakan ketegangan sosial karena tidak ditemukannya solusi.

Selama beberapa tahun terakhir, pro dan kontra seputar pembangunan PLTN di Muria telah mengakibatkan munculnya berbagai aksi dalam masyarakat yang menolak secara a-priori maupun dengan argumen rasional. Selain itu, kecurigaan yang muncul sebagai akibat dari rencana pembangunan PLTN tersebut telah sedemikian rupa, sehingga dikhawatirkan telah tidak proporsional serta politis. Sayangnya, dari pihak pendukung PLTN dan Pemerintah sendiri, tampak tidak konsisten dan terpadu di dalam menghadapi pihak penentang. Bahkan, dengan adanya ketidak jelasan keputusan untuk memberikan time line dan time frame bagi pembangunan PLTN, maka hal ini dibaca oleh pihak penentang sebagai sikap mundur (retreat) dari Pemerintah. Kendati pihak DPR, khususnya Komisi VII (energi, iptek, dan lingkungan hidup) telah memberikan dukungan yang cukup kuat terhadap pembangunan PLTN, namun hal ini tidak dimanfaatkan secara optimal sehingga terkesan ketidak paduan antara Pemerintah dan DPR dalam mengatasi masalah pro-kontra tersebut.

Di masyarakat sipil (civil society), kecenderungan yang tampak di permukaan adalah kuatnya penolakan masyarakat dan LSM serta kelompok cendekiawan, terutama di Jateng dan di lokasi PLTN. Bahkan sebagian ormas keagamaan telah menyampaikan penolakan terhadap PLTN dengan argumen keagamaan yang tentu saja memiliki pengaruh cukup kuat kepada warga masyarakat tradisional. Walaupun terdapat juga sejumlah kalangan dalam masyarakat sipil yang tidak menolak atau setidaknya diam terhadap rencana pembangunan PLTN, namun suara mereka cenderung tertenggelamkan oleh hingar-bingar pemberitaan di media yang lebih sering mengekspos pihak penentang

Sebuah panel diskusi telah diselenggarakan oleh MPEL dalam usaha untuk menjaring masukan dari masyarakat mengenai rencana pembangunan PLTN, khususnya dari aspek-aspek

non-teknis. Panel yang terdiri dari sejumlah pembicara dan tokoh masyarakat sebagai panelis yaitu Prof. Dr. Komaruddin Hidayat, Rektor UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, Hendarso Hadiparmono, anggota Komisi VII DPR-RI, Ir. Sarwono Kusumaatmadja, anggota Dewan Perwakilan Daerah–RI dan mantan Menteri Negara Lingkungan Hidup, Prof. Dr. A. Syafii Maarif, Guru Besar Universitas Muhammadiyah Yogyakarta, mantan Ketua Umum PP Muhammadiyah, dan Hilmi Panigoro, CEO PT Medco Energi Internasional Tbk. dan Ketua Masyarakat Energi Terbarukan Indonesia (METI), dan dimoderatori oleh Parni Hadi Direktur Utama Lembaga Penyiaran Publik RRI, menyimpulkan bahwa mendukung pembangunan PLTN kecenderungan (trend) penggunaan energi ke depan akan bergeser dari energi bersumber pada sumber daya alam (resource based energy) ke energi bersumber pada teknologi (technology based energy) termasuk diantaranya energi nuklir. Untuk itu Panel mendukung upaya pembanguna PLTN di Indonesia.

Isu persiapan pembangunan PLTN di Indonesia sudah terdengar sejak tahun 70-an, tetapi sampai saat ini belum ada realisasinya, untuk ini diperlukan suatu introspeksi para stake holders untuk mengkaji kembali persiapan dan kegiatan yang sudah dilakukan dan melangkah lagi dengan lebih pasti ke depan dengan menggunakan cara-cara yang tepat dan benar. Semua aspek harus diperhatikan, khususnya yang menyangkut permasalahan community development masyarakat sekitar tapak PLTN. Dengan demikian maka Pemerintah akan lebih berani dan lebih tegar memutuskan untuk membangun PLTN yang pertama di Indonesia.

Apabila ketidak jelasan keputusan pembangunan PLTN semakin lama dan tanpa alternatif pemecahan yang jelas (misalnya pemindahan lokasi, dsb), maka akibatnya akan menurunkan tingkat kredibilitas dan legitimasi Pemerintah dalam kebijakan public yang sifatnya sensitif. Di samping itu, dikhawatirkan

terjadinya efek tarik kereta (band wagon effect) penolakan terhadap PLTN yang akan dibangun di tempat yang lain dengan alasan-alasan yang tidak jelas, namun dilakukan dengan pelibatan opini publik secara massif. Dengan demikian, bukan saja hal ini akan mempersulit pembuatan keputusan terkait pembangunan PLTN tetapi juga meningkatkan resiko politik yang harus diperhitungkan dalam proses tersebut.

Dalam kondisi demikian, maka upaya mencari titik temu dan dialog di antara warga masyarakat sipil menjadi sangat sulit dilakukan. Ujung-ujungnya, terjadilah semacam kondisi stalemate di dalam warga masyarakat, dengan pihak penentang untuk sementara berada di atas angin. Dengan akibat, hubungan Pemerintah dan masyarakat di lokasi pembangunan PLTN menjadi kurang harmonis dan bahkan senantiasa dibayang-bayangi kemungkinan terjadinya konflik terbuka yang bukan tidak mungkin menggunakan kekerasan.

Untuk itu perlu direncanakan penyelenggaraan sosialisasi pada generasi muda, karena merekalah yang pada saatnya nanti akan menikmati tersedianya listrik yang cukup, murah, handal, dan ramah lingkungan atau sebaliknya mereka akan selalu mengalami giliran pemadaman listrik, dan hidup dalam lingkungan yang tidak sehat.

Dokumen terkait