DATA DAN TEMUAN PENELITIAN
2. Utomo Pamungkas alias Fadhlullah Hasan alias Mubarok alias Amin
Utomo Pamungkas lahir dari keluarga yang relijius dan cukup terpandang di masyarakat. Ayahnya yang bernama Harsono adalah seorang guru agama yang memiliki karakter yang keras dan tegas. Karenanya, pola asuh yang diterapkan di tengah keluarga adalah pola asuh yang sangat otoriter, keras, tegas dan kaku.
Semenjak dimarahi sang ayah karena meminta sesuatu di kereta yang sedang berlalu cepat, Utomo kecil menjadi orang yang sangat serius dan kaku dalam pergaulan. Karakternya yang serius dan tegas justeru membuatnya kharismatik di depan teman-temannya sehingga ia dipilih menjadi pemimpin. Jiwa kepemimpinannya, orientasinya pada tindakan yang progresif, dan kemauannya yang keras menjadi ciri khas yang sangat menonjol pada diri Utomo, setidaknya dalam persepsi teman-teman terdekatnya saat di pondok pesantren..
Didikan yang kental dengan nilai-nilai Islam ia peroleh dari ayahnya, seorang guru agama di sekolah Muhammadiyah. Sang ayah mendidik Utomo Pamungkas dan saudara-saudaranya dengan nilai-nilai Islam yang sangat kuat.
Itulah sebabnya kenapa Tomo kecil tumbuh menjadi pribadi yang memiliki minat kuat di bidang ilmu agama Islam (hal: 285).
Utomo menjadi jihadis bermula ketika ia ditawari untuk belajar di Pakistan. Sesampai di pakistan, dia diberi dua pilihan: belajar mendalami ilmu agama Islam atau berjihad di medan jihad Afghanistan. Utomo memilih jihad setelah melihat kondisi Afghanistan yang sangat menyedihkan dan memprihatinkan di matanya. Akhirnya Utomo mengikuti latihan militer atau tadrib di Akademi Militer Afghanistan di bawah pimpinan Abdul Rabbi Rasul Sayyaf. Jiwa pemberaninya muncul ketika harus ikut di medan perang. Tank, pesawat, dan suara morir menjadi familiar baginya. Cita-citanya sebagai syahid atau martir belum bisa tercapai di Afghanistan karena sampai perang berakhir, ia masih tetap sehat wal-afiat.
Analisa Psikologis
Menganalisa sisi psikologis para teroris adalah pekerjaan yang tidak mudah karena bidang ini relatif baru. Selain itu, keterlibatan seseorang dalam terorisme tidak semata-mata dipengaruhi oleh faktor psikologis tetapi juga oleh faktor-faktor lain seperti ekonomi, sosial dan politik. Kendati demikian, dapat dikatakan bahwa analisa psikologis terhadap para teroris, baik yang masih hidup maupun yang sudah mati, dapat membantu menjelaskan kenapa seseorang terlibat dalam terorisme dan bagaimana mengakhiri keterlibatan mereka.
Sebagai suatu ilmu yang mempelajar perilaku, psikologi sangat tepat untuk digunakan dalam mengkaji terorisme karena ia berkaitan dengan perilaku teror. Mengkaji perilaku teror tanpa melibatkan ilmu psikologi sama dengan mendiagnosa suatu penyakit tanpa menggunakan alat yang tepat. Ilmu psikologi dengan segala variannya bisa memberikan perspektif yang menarik dalam
mengkaji perilaku teror. Misalnya, psikologi klinis, psikologi sosial dan psikologi agama.
Psikologi agama sebagai salah satu cabang psikologi berperan penting dalam menjelaskan motivasi kekerasan keagamaan yang dilakukan oleh individu-individu yang menggunakan agama sebagai inspirasi, dan upaya pencegahannya, termasuk misalnya bagaimana mengubah seorang yang radikal atau teroris sekalipun menjadi tidak lagi terlibat dalam radikalisme dan perilaku teror.
Tindakan teroris dan relijiusitas kaum fundamentalis tidak dapat dijelaskan semata-mata melalui patologi psikologis atau patologi sosial karena sejumlah penelitian membuktikan bahwa para teroris bukanlah kaum abnormal yang tidak menyadari apa yang mereka lakukan. Bahkan, penelitian menegaskan bahwa mereka adalah kumpulan orang normal yang menyadari sepenuhnya tindakan mereka karena aksi teror mereka didasarkan atas ideologi dan keyakinan tertentu, serta digerakkan oleh tujuan tertentu.
Menurut para ahli dan pakar di bidang psikologi, justeru proses psikologi sosial yang normal, seperti reduksi ketidakpastian, manajemen teror, identitas sosial, dan pencarian makna melalui agama berkombinasi dengan faktor-faktor kognitif seperti intratekstualitas dan kompleksitas integratif yang rendah, memberikan pemahaman yang lebih memadai mengenai radikalisasi kaum muda yang sebagian menjadi pelaku kekerasan dan kebencian terhadap anggota kelompok lain.
Artinya, menyimpulkan para teroris sebagai kumpulan orang-orang yang tidak normal dan tidak waras adalah suatu kesalahan besar. Mungkin, ada satu atau dua kasus individu yang terlibat dalam tindak teror karena faktor abnormalitas atau psikopati tetapi tidak bisa kemudian dijadikan sebagai dasar penyimpulan bahwa semua teroris adalah orang gila. Pandangan ini pada mulanya
dianut oleh sejumlah peneliti psikologi terorisme, tetapi mereka kemudian menarik pandangan tersebut karena data-data empirik dan fakta psikologis yang diperoleh melalui kajian trait dan pribadi teroris tidak mendukung pernyataan tersebut.
Proses Menjadi Teroris Ibarat Menaiki Tangga Gedung
Proses menjadi teroris ibarat menaiki anak tangga dalam sebuah bangunan yang tinggi. Anda bisa bayangkan bagaimana menaiki anak tangga dalam sebuah ruang bangunan tinggi. Prosesnya cukup panjang dan kadang-kadang agak melelahkan. Bagaimana menjelaskan hal itu? Fattali Mohammad Moghaddam (2007), seorang guru besar psikologi sosial keturunan Iran di University of Washington menyebutkan bahwa terdapat beberapa tahap atau anak tangga menuju terorisme. Tahapan-tahapan tersebut menggambarkan rentang proses psikologis keterlibatan seseorang dalam aktivitas teror yang destruktif, mematikan dan merugikan masyarakat, baik materil maupun psikologis.
Tahapan-tahapan psikologis tersebut mencakup lima tangga atau tahapan, yaitu: Pertama, lantai dasar atau tahap pencarian makna yang ditandai dengan awal krisis identitas diri dan krisis identitas kelompok. Pada tahap ini, seseorang mengalami krisis identitas, baik pada level individu maupun kelompok sebagai akibat interpretasinya atas realitas materil terkait dirinya dan kelompoknya vis a vis orang lain dan kelompok lain. Oleh karena terorisme merupakan fenomena kelompok atau suatu proses pembentukan identitas yang terjadi dalam kelompok maka yang paling ditekankan dan diutamakan adalah identitas kelompok.
Biasanya, pada tahap ini muncul kecenderungan deprivasi relatif, yaitu perasaan kecewa dengan kondisi kelompok ketika dibandingkan dengan kelompok lain yang lebih maju atau lebih sukses. Ketika perbandingan antara kelompok
sendiri yang lemah dan tidak berdaya dibandingkan dengan kelompok lain yang lebih kuat dan lebih berdaya maka perasaan kecewa muncul, lalu seseorang akan mencaritahu penyebab semua perbedaan dan kesenjangan tersebut. Penyebab kesenjangan umumnya dikaitkan dengan ketidakadilan atau kezaliman yang dilakukan kelompok lain terhadap kelompok sendiri.
Kedua, lantai pertama yaitu ketika seseorang mulai memasuki tahap psikologis tertentu yang ditandai dengan persepsi bahwa ketidakadilan telah menimpa dirinya dan kelompoknya sehingga ada dorongan psikologis untuk mencaritahu penyebab ketidakadilan atau kezaliman tersebut; Pertanyaan yang muncul pada tahap ini adalah seputar pertanyaan apa bentuk ketikadilan yang dialami kelompok? Kenapa kelompok lain melakukan kezaliman kepada kelompok sendiri?
Ketiga, lantai kedua, yaitu tahap berikutnya yang ditandai dengan tindakan agresi yang biasanya dilakukan dengan mencari kambing hitam penyebab terjadinya kezaliman dan ketidakadilan. Biasanya pada tahap ini terjadi mekanisme pengalihan target agresi dari pihak yang dipersepsikan bertanggungjawab ke pihak yang berkaitan dengan pihak yang dipersepsikan bertanggungjawab;
Keempat, keterlibatan moral seseorang dalam menilai kebaikan dan keburukan dari tindakan yang dia lakukan dalam kelompok teroris. Penilai moral dalam tahap ini tentu saja bertentangan dengan penilaian moral yang dianut mainstream masyarakat. Penilaian moral didasarkan atas justifikasi moral tertentu yang mendukung perasaan ketidakadilan yang menimpa kelompok.
Kelima, berpikir kategoris yang ditandai dengan upaya identifikasi siapa lawan dan siapa kawan. Pada tahap ini, seseorang mulai memasuki kelompok teroris yang telah memiliki persepsi dan pandangan tersendiri tentang siapa
kawan yang harus dibela dan siapa lawan yang harus dilawan. Permusuhan dan perlawanan akan menjadi semakin kuat manakala kelompok lain atau representasi kelompok lain yang dipersepsikan sebagai penyebab ketidakadilan yang menimpa kelompok sendiri juga melakukan kategorisasi yang sama.
Keenam, tahap tindak teroris. Pada tahap ini seseorang melakukan tindakan teroris atas dasar keyakinan yang sangat kuat bahwa apa yang dia lakukan merupakan misi penting dan suci bagi penyelamatan kelompoknya (Moghaddam, 2003)
Mencari Makna dan Identitas Diri
Bagi Fathali Moghaddam (2007), pencarian makna dan identitas diri dan identitas kolektif di tengah dominasi budaya Barat terutama Amerika dalam berbagai bidang kehidupan, merupakan salah satu dasar psikologis keterlibatan kaum muda dalam tindak teror, terutama yang berasal dari kelompok garis keras dan kelompok teroris yang dipengaruhi oleh ideologi salafi-jihadis. Gambaran tersebut nampak jelas dari sekian banyak tokoh teror dari kelompok Islam garis keras, seperti Az-Zarqawi maupun Utomo Pamungkas yang menjadi sampel penelitian ini.
Sebagai salah satu tokoh teroris terkenal dan paling dicari oleh berbagai pihak termasuk Amerika Serikat, latarbelakang kehidupan dan dinamika psikologis yang dia alami sebagai seorang pemuda Muslim patut dilihat dan dikaji. Dalam perspektif psikologi secara umum, perilaku seseorang dalam hidupnya sangat dipengaruhi oleh dua faktor utama, yaitu faktor lingkungan dan kepribadian. Faktor lingkungan mencakup banyak hal seperti lingkungan keluarga, lingkungan pergaulan sebaya, lingkungan pendidikan, lingkungan tempat tinggal, dinamika kaum dan umat, serta kondisi ekonomi, sosial, politik dan keagamaan
seseorang. Sedangkan faktor kepribadian mencakup seperti tipe kepribadian, keyakinan ideologi, dan dimensi-dimensi psikologi internal lainnya.
Az-Zarqowi lahir di tengah Distrik Ramzi yang seperti ―tidak bertuan‖ alias tak terurus. Oleh karena itu, kota ini tidak memiliki pelayanan umum yang memadai dan memicu banyak persoalan yang melanda masyarakat kota. Salah satu masalah sosial yang muncul akibat tidak terurusnya kota adalah banyak kejahatan dan kemaksiatan yang terjadi. Fenomena kejahatan dan kemaksiatan dapat disaksikan secara nyata oleh siapapun yang ada di masa itu, termasuk Al-Zarqowi. Patut dicatat pula, di tengah merajalelanya keburukan dan kemaksiatan ada juga orang-orang yang berusaha bertahan dalam kebaikan dan kesalehan. Dalam suasana pertarungan antara kemaksiatan dan kesalehan; serta antara kebaikan dan keburukan, Zarqawi menikmati masa remaja yang penuh dengan pencarian jati diri. (Hussein, 2008).
Dalam perspektif psikologi, pencarian jati diri berkaitan dengan pertanyaan siapakah saya? Dari kelompok manakah saya berasal? Kenapa kondisi saya seperti ini sedangkan kondisi orang lain lebih baik dari kondisi saya? Kelompok kelompok saya bernasib seperti ini sedangkan kelompok lain bernasib lebih baik? Kenapa bangsa saya lebih buruk kondisinya dibandingkan nasib bangsa lain? Dalam kaitannya dengan para teroris dari kalangan kelompok garis keras Islam, pertanyaan kejatidirian umumnya berkisar pada kondisi umat (bangsa, peradaban, atau budaya) Islam yang lebih buruk dibandingkan kondisi umat yang lain.
Beruntung, ketika memasuki usia sekolah menengah atas, Zarqowi diminta orang tuanya untuk bersekolah di pusat Kota Zarqo yang banyak memiliki masjid-masjid yang megah. Akhirnya, ia memilih Masjid Abdullah bin Abbas sebagai pusat kegiatan pencarian jati dirinya. Masjid tersebut memang terletak
berdekatan dengan rumahnya sehingga ia tidak kesulitan untuk pulang-pergi dari rumah ke masjid atau sebaliknya.
Dalam pandangan ahli psikologi sosial, dinamika antara dimensi kepribadian dan dimensi lingkungan selalu dimenangkan oleh dimensi lingkungan. Sebaliknya, menurut para ahli psikologi kepribadian, dimensi lingkungan tidak akan berarti apa-apa di hadapan seseorang yang memiliki kepribadian dan karakter yang kuat. Penulis sendiri mengambil pandangan jalan tengah yang mengkombinasikan antara keduanya, yaitu bahwa perilaku seseorang, termasuk para teroris adalah perpaduan pengaruh dan kontribusi antara dimensi kepribadian dan dimensi lingkungan. Semua anasir kepribadian dan anasir psikologi lingkungan bersinergi membentuk dan mendorong seseorang dalam mewujudkan perilaku. Artinya, seorang teroris yang melakukan aksi teror, bukanlah gambaran patologis yang dia alami tetapi bukan pula semata-mata tindakan normal yang tidak dipengaruhi oleh hal-hal yang bersifat abnormalitas.
Bila merujuk kepada teori-teori psikologi pada umumnya dan ―teori staircases to terrorism‖ yang digagas Fathali Moghaddam (2003), pencarian identitas dan makna diri yang bersifat sosial adalah pintu masuk pertama keterlibatan seseorang dalam dunia teror yang sangat panjang. Hal yang sama juga dialami oleh Utomo Pamungkas, seorang pelaku teror dari Tanah Jawa yang pernah menimba ilmu di Ngruki dan Afganistan. Banyak peristiwa masa kecil dan masa remaja yang membentuk dirinya menjadi pribadi yang keras, tegas dan amat rentan dipengaruhi oleh pemikiran-pemikiran Islam garis keras. Hal itulah yang kemudian mendorongnya bergabung dalam kelompok teror paling ditakuti di Asia Tenggara, bahkan di dunia. Kelompok Jamaah Islamiyah yang mengusung ajaran salafi jihadis dan bercita-cita hendak mendirikan khilafah Islamiyah yang membentang dan mencakup seluruh kawasan Asia Tenggara.
Berdasarkan perspektif psikologi, sebagaimana yang telah dikemukakan sebelumnya, keterlibatan seseorang dalam suatu perilaku atau aksi sesungguhnya ditumbuhkembangkan oleh modalitas kepribadian yang khas pada diri seseorang. Modalitas kepribadian tersebut kemudian dipicu oleh pengalaman-pengalaman tidak mengenakkan yang dialami seseorang. Pengalaman secara psikologis tidak selalu merujuk kepada sesuatu yang pernah dialami seseorang, tetapi juga sesuatu yang pernah disaksikan dan dirasakan dalam hidup. Apa yang dilihat, dirasakan dan dialami seseorang itulah yang membentuk struktur pengalamannya yang kemudian mempengaruhi kepribadian dan cara pandangnya dalam melihat persoalan-persoalan sosial yang ada di sekitarnya.
Hal yang demikian juga tergambar dengan jelas pada diri Utomo Pamungkas sebagaiman diceritakan oleh Nurhuda, ―Pengalaman demi pengalaman yang telah Tomo dapatkan sejak kecil mengukuhkan kepribadiannya yang keras. Kemiskinan di depan mata yang menimpa orang-orang sekitarnya yang umumnya beragama Islam adalah persoalan yang harus segera dituntaskan menurutnya.‖ (hal: 284). Pengalaman nestapa, tertekan dan tidak mengenakkan yang menimpa orang-orang di sekitar Utomo membentuknya mejadi pribadi unik dengan identitas sosial yang diidentifikasi secara kuat oleh dirinya. Ia berubah menjadi pribadi yang merasa mewakili kenestapaan umat yang ada di sekitarnya.
Mekanisme psikologis yang seperti ini adalah ciri khas yang terjadi pada inividu-individu yang lahir, tumbuh dan berkembang dalam lingkungan masyarakat yang sangat kolektivis, jika kita merujuk kepada konsep nilai individualis-kolektivis yang dikembangkan oleh Hofstede. Individu yang hidup dan mengalami tumbuh-kembang di tengah masyarakat dengan nilai-nilai yang didominasi semangat kolektivis cenderung memiliki empati yang tinggi terhadap apa yang dirasakan orang-orang di sekitarnya. Sehingga pada titik tertentu ia merasa berhak menjadi wakil bagi masyarakatnya yang tertindas dan terzolimi.
Krisis identitas jati diri yang terjadi akibat kemiskinan dan keterzaliman yang dipersepsikan menimpa umat Islam semakin menguat manakala Utomo Pamungkas memasuki Pesantren Ngruki yang sebagian tokohnya menggelorakan perlawanan terhadap pihak lain terutama dalam hal ini adalah Amerika dan Israel yang dipersepsi sebagai biang keladi kehancuran umat Islam terutama di berbagai belahan dunia Islam. Hal itu tampak jelas dari pernyataan Utomo Pamungkas sebagaimana diceritakan oleh Nurhuda dalam buku ―Temanku teroris?‖ seperti berikut ini:
“Barangkali saya termasuk beruntung, saat masuk Ngruki masih sempat
bertemu langsung dengan Ustaz Abdullah Sungkar dan Ustaz Abu Bakar
Ba’asyir” tutur akhi Fadlul kepadaku. “Saya masih sempat mendapat pengajaran dari Ustaz Dullah dan Ustaz Abu.” (hal: 289)
Ustad Abdullah Sungkar dan Ustad Abu Bakar Baasyir adalah dua tokoh pendiri Jamaah Islamiyah yang sangat membenci Amerika dan Israel karena dianggap sebagai penyebab berbagai bentuk kezaliman dan penindasan yang dialami umat Islam di berbagai belahan dunia terutama di Afganistan dan Palestina.
Ideologi Islam garis keras yang tertanam pada diri Utomo Pamungkas sebagai hasil indoktrinasi Ustad Abdullah Sungkar dan Ustad Abu Bakar Baasyir selama berada di pesantren dan masa panjang pengkaderan di Malaysia dan Afganistan telah membentuk cara pandangnya tentang Islam dan bagaimana ajaran Islam ditegakkan. Cara pandang Islam garis keras tersebut kemudian menjadi semacam ideologi dan keyakinan yang berharga mati, sebagaimana diungkapkan Nurhuda mengenai teman masa kecilnya di pesantren.
―Doktrin “Islam harus ditegakkan tidak sebatas ucapan” sangat terpatri
dalam kesadarannya. Baginya, musuh Islam ada di mana-mana sehingga setiap muslim harus membekali dirinya dengan fisik yang kuat dan ilmu beladiri yang
baik. Jika sewaktu-waktu situasi membutuhkan, kita harus siap sedia memnuhi panggilan untuk membela kebenaran” (hal: 134).
Kekuatan ideologi tampak jelas pada diri Utomo. Ideologi Islam garis keras yang diajarkan para gurunya betul-betul menggerakkan pikiran, perasaan dan perilakunya. Memang, ideologi bukan penarik utama keterlibatan seseorang dalam dunia teror, tetapi ketika seseorang telah memasuki kelompok teror maka ideologi menjadi bahan bakar yang menggerakkan aksi teror seseorang. Hal itu diperkuat juga oleh pandangan Grugklanski dkk (2009) ketika menjelaskan tentang motivasi bom bunuh diri, salah satu bentuk aksi teror yang mulai marak digunakan di Indonesia. Krukglanski dkk mengatakan bahwa motivasi bom bunuh diri adalah mencari kebermaknaan. Ada beberapa faktor penyebab bom bunuh diri yaitu faktor personal (trauma, perasaan terhina, isolasi sosial dan lain-lain) yang kemudian mendapatkan pembenaran dari berbagai alasan ideologis seperti melakukan pembebasan dari pendudukan bangsa asing, membela agama dan bangsa, serta didorong kuat oleh faktor tekanan sosial. Terorisme bunuh diri merupakan cermin dari restorasi makna, pencapaian makna, dan usaha mempertahankan diri dari kehilangan maknav.
Deprivasi Relatif dan Persepsi Tentang Kezaliman
Masjid bukan hanya sebagai tempat ibadah, tetapi juga bisa menjadi lokus pertukaran ide dan gagasan. Oleh karena itu, masjid bisa juga menjadi lahan subur tumbuhnya ideologi garis keras. Pandangan ini sejalan dengan hasil penelitian yang dilakukan oleh CSRC UIN Jakarta (2011) yang menyimpulkan bahwa masjid-masjid yang ada di Bekasi, Bogor dan Pandeglang, --terutama untuk dua wilayah yang pertama—adalah tempat konsolidasi kaum radikalis dalam
menghimpun ide, kekuatan dan dana untuk menggerakkan aksi, misi dan visi mereka dalam menyebarkan faham yang radikal dan keras.
Masjid Abdullah bin Abbas banyak menghimpun para pemuda dari berbagai mazhab dan kelompok yang ada di Yordania. Mereka umumnya kelompok pemuda Islam yang menganut faham wahabi dan aliran Islam garis keras lainnya. Oleh karenanya, Zarqowi seperti menemukan dunia baru, yaitu dunia anak muda yang sama-sama mencari makna dan jati diri dalam hidup. Menurut Hussein (2008), hampir semua pemuda yang ada di masjid ini sangat terpengaruh dengan ide jihad dan kesyahidan yang didengungkan oleh para guru dan mentor. Maka, tidak heran jika ide jihad dan kesyahidan menjadi sistem kedirian Zarqawi yang paling dalam dan paling kokoh. Saat itu, Zarqowi berpikir bahwa jihad memberikan makna yang besar bagi dirinya dan kehidupannya.
Ideologi jihad dalam pengertian perang melawan kaum kafir, murtad dan munafik berkecamuk dalam diri Zarqowi. Terjadi pertarungan batin di dalam dirinya antara memilih berjihad di tanah Palestina atau di tanah Afganistan. Di satu sisi, Palestina adalah asal-usul nenek moyangnya sehingga pantas untuk dibela dan diperjuangkan, sedangkan di sisi lain, tanah Afganistan sedang dianeksasi Uni Soviet yang komunis. Pertarungan batin tersebut berakhir ketika ia memilih Afganistan sebagai medan jihad atas pengaruh sejumlah tokoh seperti Abdullah Azzam dan Usamah bin Ladin.
Gambaran pergolakan batin yang menimpanya tercermin dalam sebuah surat yang ditujukan kepada saudara-saudaranya. Bunyi surat yang dimaksudkan adalah demikian:
“Wahai saudara-saudaraku, kembalilah kepada Islam yang tidak lain adalah
kejayaan dan kehormatan kalian. Islam adalah kejayaan nenek moyang yang pernah berjuang bersama Salahuddin Al-Ayyubi dalam merebut dan
membebaskan Jerussalem.... Wahai saudara-saudaraku, nenek moyang kita pada masa itu telah menjaga dan melindungi tanah Jerussalem. Sekarang,
giliran kita yang harus merebut dan menjaganya.”vi
Suasana psikologis yang sama juga dialami oleh Utomo Pamungkas alias Fadlullah Hasan, terdakwa Bom Bali I, 2002, yang dijatuhi hukum penjara seumur hidup. Dalam catatan yang ditulis oleh Noor Huda Ismail, Utomo Pamungkas menceritakan perasaannya yang tercabik-cabik saat mengetahui kondisi umat Islam di Afganistan.
“Ketika di hadapanmu terjadi pembantaian yang dilakukan oleh kekuatan
yang tak pernah berpikir dan bertindak untuk keadilan, apa yang akan kamu lakukan? Ketika di hadapanmu terpapar pemandangan rumah-rumah dihancurkan bom, anak-anak tewas bersimbah darah dengan peluru kaum penjajah bersarang di perutnya, para ibu dan gadis-gadis mereka dirampas kehormatannya, ayah-ayah mereka dibunuh tanpa kesalahan dan dipenjarakan tanpa pengadilan, apa yang menjalari perasaanmu? Jika dirimu menyaksikan suatu bangsa dipecah-belah oleh kepentingan kaum imperialis dan kolonialis, relakah kamu menyaksikan kehancurannya?”vii
Nurhuda, seorang aktivis LSM yang bergerak dalam kegiatan dan program deradikalisasi sekaligus sahabat Utomo Pamungkas saat nyantri di Ngruki Solo, menggambarkan bagaimana Utomo Pamungkas mengalami kecamuk pikiran dan perasaan tentang kondisi generasi muda Islam di Indonesia. Katanya:
“Bagi akhi Fadlul, masyarakat Indonesia telah mengalami dekadensi moral.
Kalau dibiarkan terus, generasi muda akan semakin meninggalkan Islam. Oleh karena itu, diperlukan kader-kader muda untuk memperdalam ilmu