• Tidak ada hasil yang ditemukan

Utopia agung

Dalam dokumen friedrich a hayek jalan menuju perbudakan (Halaman 43-53)

uToPIa agung

Yang selalu membuat negara jadi neraka di bumi ini adalah manusia yang justru ingin

mengubahnya jadi surga baginya.

F. hoelderlin

B

ahWa sosialisme telah menggantikan liberalisme sebagai doktrin yang dipegang mayoritas besar orang progresif tidak cuma berarti bahwa orang telah melupakan berbagai peringatan yang telah disampaikan oleh para pemikir besar liberal masa lampau mengenai konsekuensi kolektivisme. hal ini terjadi karena mereka terbujuk oleh hal-hal yang berlawanan dari apa yang telah diprediksikan orang-orang ini. Yang luar biasa adalah bahwa sosialisme yang sama, yang bukan saja sudah dikenali sejak tahap dini sebagai ancaman terberat bagi kebebasan, tetapi juga secara terang-terangan bermula sebagai reaksi terhadap liberalisme Revolusi Prancis, diterima umum di bawah bendera kebebasan. Jarang diingat kini bahwa sosialisme pada awalnya terang-terangan otoritarian. Para penulis Prancis yang telah meletakkan fondasi sosialisme modern tak ragu bahwa ide- ide mereka dapat dipraktikkan hanya oleh suatu pemerintahan diktatorial yang kuat. Bagi mereka, sosialisme berarti usaha untuk “mengakhiri revolusi” melalui reorganisasi yang terencana atas masyarakat berdasarkan kebijakan-kebijakan hierarkis dan pemaksaan dengan “kekuatan spiritual” yang menindas. Sejauh

mengenai kebebasan, para pendiri sosialisme sama sekali tidak menyembunyikan maksud-maksud mereka. Kebebasan berpikir bagi mereka adalah akar kejahatan masyarakat abad ke-19, dan salah seorang perencana modern, Saint-Simon, bahkan mera malkan bahwa orang-orang yang tidak menaati badan perencanaan yang diusulkannya akan “diperlakukan sebagai ternak”.

Baru di bawah pengaruh arus kuat demokratis yang menda- hului revolusi 1848, sosialisme mulai mempersekutukan dirinya dengan kekuatan-kekuatan kebebasan. Tetapi dibutuhkan waktu lama bagi “sosialisme demokratis” untuk menundukkan berbagai kecurigaan terhadapnya yang timbul akibat masa lalunya. Tak seorang pun melihat sejelas de Tocqueville bahwa demokrasi sebagai lembaga yang pada intinya individualis berada dalam konlik yang tak dapat diperdamaikan dengan sosialisme:

Demokrasi memperluas wilayah kebebasan individu [dia mengatakan hal ini di tahun 1848], sosialisme membatasinya. Demokrasi melekatkan semua nilai yang mungkin kepada setiap orang; sosialisme membuat semua orang semata- mata sebagai alat yang dipekerjakan, hanya sebagai angka. Demokrasi dan sosialisme tidak memiliki kesamaan kecuali satu kata: kesetaraan. Tetapi perhatikan perbedaannya: sementara demokrasi memperjuangkan kesetaraan di dalam kebebasan, sosialisme mencari kesetaraan dalam kontrol dan perhambaan.1

Untuk mengurangi kecurigaan ini dan untuk menempelkan pada dirinya motif politik terkuat itu, yakni, kehausan akan kebebasan, sosialisme mulai makin mengiming-imingkan janji akan “kebebasan baru”. Kedatangan sosialisme akan menjadi lompatan dari dunia pemenuhan kebutuhan ke dunia kebebasan.

1 “Discours prononcé à l’assemblée constituante le 12 Septembre 1848 sur la question du droit au travail.” Œuvres complètes d’Alexis de Tocqueville, vol. IX, 1866, hlm. 546.

F R I E D R I C H A . H AY E K 31

Sosialisme akan membawa “kebebasan ekonomi”, yang tanpanya kebebasan politik yang sudah didapat “tak bernilai untuk dimiliki”. hanya sosialisme yang dapat mewujudkan hasil pergumulan yang sudah lama untuk mendapatkan kemerdekaan, yang di dalamnya pencapaian kebebasan politik hanyalah langkah pertama.

Perubahan halus dalam makna yang diberikan kepada kata kebebasan supaya argumen ini terdengar masuk akal penting diperhatikan. Bagi para rasul agung kebebasan politik, kata ini berarti kebebasan dari penindasan, kebebasan dari kekuasaan sewenang-wenang orang lain, kebebasan dari ikatan-ikatan yang tidak memberikan pilihan kepada seorang individu kecuali ketaatan kepada perintah orang yang lebih tinggi yang mengikat dirinya. Namun kebebasan baru yang dijanjikan adalah kebebasan dari keharusan pemenuhan kebutuhan, kebebasan dari tekanan bermacam keadaan yang mau tak mau membatasi aneka ragam pilihan kita semua, meskipun bagi beberapa orang pembatasan ini lebih luas ketimbang orang lain. Sebelum orang betul-betul dapat bebas, “despotisme tuntutan kebutuhan isik” harus dihancurkan, “berbagai hambatan sistem ekonomi” harus dikurangi.

Kebebasan dalam pengertian ini, tentu saja, hanyalah nama lain dari kekuasaan2 atau kekayaan. Namun, kendatipun janji-

2 Pencampuradukan yang khas antara kebebasan dan kekuasaan, yang akan kita temukan berulang kali di sepanjang diskusi ini, adalah subjek yang terlalu besar untuk dikaji secara menyeluruh di sini. Sama tuanya dengan sosialisme sendiri, kebebasan sangat erat terikat dengan kekuasaan sehingga hampir 70 tahun yang lampau seorang sarjana Prancis, yang mendiskusikan asal-usul pencampuradukan ini dalam Saint-Simonianisme, akhirnya tergiring untuk mengatakan bahwa teori tentang kebebasan ini “est à elle seule tout le socialisme”, “seluruhnya adalah sosialisme” (P. Janet, Saint-Simon et le Saint-Simonisme, 1878, hlm. 26, catatan). adalah signiikan bahwa pembela paling eksplisit pencampuradukan ini adalah ilsuf terkemuka sayap kiri amerika, John Dewey, yang menurutnya “kebebasan adalah kekuasaan efektif untuk melakukan hal-hal tertentu” sehingga “tuntutan akan kebebasan adalah tuntutan akan kekuasaan” (“Liberty and Social control”, he Social

janji kebebasan baru ini sering disertai dengan janji-janji yang tak bertanggungjawab tentang peningkatan kekayaan material dalam jumlah besar di dalam suatu masyarakat sosialis, kebebasan ekonomi yang diharapkan tidaklah berasal dari pe- naklukan absolut atas alam yang pelit itu. Janji ini sebenarnya adalah bahwa disparitas pilihan di antara orang-orang yang berbeda akan lenyap. Tuntutan akan kebebasan baru itu dengan demikian hanyalah nama lain bagi tuntutan lama atas penyebaran kekayaan yang setara. Tetapi nama baru itu memberikan kepada kalangan sosialis sebuah kata lain yang juga dipakai kalangan liberal, dan mereka sepenuh-penuhnya memanfaatkannya. Dan kendatipun kata ini digunakan dalam pengertian yang berbeda oleh kedua kubu itu, sedikit saja orang yang memperhatikan hal itu dan bahkan lebih sedikit lagi yang bertanya kepada diri mereka sendiri apakah kedua jenis kebebasan yang dijanjikan itu benar-benar dapat digabungkan.

Janji akan kebebasan yang lebih besar tak pelak lagi telah menjadi salah satu senjata paling efektif propaganda sosialis, dan kepercayaan bahwa sosialisme akan dapat mendatangkan kebebasan adalah kepercayaan yang murni dan jujur. Tetapi hal ini hanya akan memperparah tragedi jika terbukti bahwa apa yang dijanjikan kepada kita sebagai Jalan Menuju Kebebasan ternyata adalah Jalan Bebas hambatan Ke Perbudakan. Tak terbantahkan lagi, janji akan kebebasanlah yang menyebabkan lebih banyak orang liberal tertarik menempuh jalan sosialis, dan yang membuat mereka tak melihat konlik yang ada di antara prinsip-prinsip dasar sosialisme dan liberalisme, serta yang sering memungkinkan kalangan sosialis merongrong nama partai kebebasan yang lama. Sosialisme diyakini oleh sebagian besar cendekiawan sebagai penerus tradisi liberal: karena itu tidaklah mengherankan bahwa mereka sulit percaya bahwa sosialisme justru membawa orang ke dalam keadaan yang bertentangan dengan kebebasan.

F R I E D R I C H A . H AY E K 33 g

akan tetapi, dalam tahun-tahun belakangan ini, ketakutan lama akan adanya konsekuensi-konsekuensi tak terduga dari sosialisme telah sekali lagi disuarakan dengan lantang oleh bagian- bagian masyarakat yang paling tak disangka-sangka. Pengamat demi pengamat, kendatipun mendekati pokok bahasan ini dengan harapan yang berlawanan, telah terkesan oleh keserupaan luar biasa dalam banyak hal antara kondisi-kondisi di bawah “fasisme” dan “komunisme”. Sementara kalangan “progresif” di negeri ini dan di tempat lain masih menipu diri sendiri bahwa komunisme dan fasisme menampilkan kutub-kutub yang berlawanan, semakin banyak orang mulai bertanya pada diri sendiri apakah tirani-tirani baru ini bukannya dihasilkan oleh kecenderungan- kecenderungan yang sama. Bahkan orang komunis sedikit banyak terguncang oleh testimoni-testimoni dari orang semacam Mr. Max Eastman, sahabat lama Lenin, yang terpaksa mengakui bahwa “bukannya bertambah baik, Stalinisme bahkan lebih buruk daripada fasisme, lebih kejam, lebih barbar, lebih tak adil, lebih tak bermoral, lebih antidemokratis, tak tergantikan oleh harapan atau penyesalan apa pun”, dan bahwa ini “lebih baik digambarkan sebagai suprafasis”; dan ketika kita menemukan penulis yang sama mengakui bahwa “Stalinisme adalah sosialisme, dalam arti bahwa Stalinisme adalah akibat politik yang niscaya, walaupun tak terduga sebelumnya, dari nasionalisasi dan kolektivisasi yang dia andalkan sebagai bagian dari rencananya membangun masyarakat tanpa kelas”,3 kesimpulannya jelas mendapatkan

makna yang lebih luas.

Kasus Mr. Eastman mungkin paling luar biasa, namun dia sama sekali bukanlah orang pertama atau satu-satunya pengamat yang simpatik pada eksperimen Rusia, yang kemudian mengambil kesimpulan-kesimpulan serupa. Beberapa tahun sebelumnya Mr. W.h. chamberlin, yang selama 12 tahun berada di Rusia

sebagai seorang wartawan amerika telah melihat semua ideal- idealnya dirontokkan, meringkaskan kesimpulan bermacam kajiannya di sana serta di Jerman dan Italia dalam pernyataan bahwa “sosialisme jelas telah membuktikan, sedikitnya pada awalnya, bahwa dirinya BUKaN jalan menuju kebebasan, tetapi menuju kediktatoran dan kontra-kediktatoran, menuju perang saudara yang paling sengit. Sosialisme yang bisa didapatkan dan dipertahankan oleh sarana-sarana demokratis sudah jelas hanya ada di dunia utopia.”4 Begitu juga, seorang penulis Britania,

Mr. F.a. Voigt, setelah sekian tahun mengadakan pengamatan seksama atas berbagai perkembangan di Eropa sebagai seorang wartawan asing, menyimpulkan bahwa “Marxisme telah ber- muara pada Fasisme dan Nasional-Sosialisme, karena, dalam segala hal dasariahnya, Marxisme adalah Fasisme dan Nasional- Sosialisme.”5 Dan Dr. Walter Lippmann tiba pada keyakinan

bahwa

generasi kita kini sedang belajar dari pengalaman tentang apa yang terjadi ketika orang mundur dari kebebasan lalu masuk ke dalam suatu pengorganisasian koersif atas urusan- urusan mereka. Meskipun mereka menjanjikan kepada diri mereka sendiri suatu kehidupan yang lebih berlimpah, mereka dalam praktiknya harus melepaskannya; ketika pengarahan terorganisasi meningkat, keanekaragaman tujuan digantikan oleh keseragaman. Beginilah nasib masyarakat terencana dan prinsip otoritarian di dalam perkara-perkara insani.6

Banyak lagi pernyataan serupa, dari orang-orang yang berada dalam posisi untuk menilai, yang dapat dipilihkan dari berbagai publikasi dalam tahun-tahun terakhir, khususnya publikasi dari orang-orang yang, sebagai warganegara dari negeri-negeri yang

4 W. h. chamberlin, A False Utopia, 1937, hlm. 202-203. 5 F. a. Voigt, Unto Caesar, 1939. hlm. 95.

F R I E D R I C H A . H AY E K 35

sekarang totalitarian, telah menjalani masa transformasi dan telah dipaksa oleh pengalaman mereka untuk merevisi banyak kepercayaan yang dulu disukai. Sebagai satu contoh lagi, kita akan mengutip seorang penulis Jerman yang mengungkapkan kesimpulan yang sama, yang mungkin lebih benar ketimbang kesimpulan orang-orang yang sudah dikutip sebelumnya.

Keruntuhan menyeluruh kepercayaan akan tersedianya kebebasan dan kesetaraan melalui Marxisme [tulis Mr. Peter Drucker7] telah memaksa Rusia menempuh jalan yang

sama, yang telah dan sedang ditempuh Jerman, menuju ke suatu masyarakat totalitarian, yang sepenuhnya negatif, non-ekonomi, yang dicirikan oleh ketiadaan kebebasan dan ketidaksetaraan. Bukan bahwa komunisme dan fasisme pada hakikatnya sama. Fasisme adalah tahap yang dicapai setelah komunisme terbukti suatu ilusi, dan telah terbukti bahwa fasisme juga adalah ilusi di Rusia Stalinis dan di Jerman pra- hitler.

Tak kurang pentingnya adalah sejarah intelektual para pemimpin Nazi dan Fasis. Setiap orang yang memperhatikan pertumbuhan bermacam gerakan ini di Italia8 atau di Jerman

sangat terkesan oleh jumlah orang terkemuka, dari Mussolini dan seterusnya (dan tak terkecuali Laval dan Quisling), yang memulai karir sebagai sosialis lalu berakhir sebagai Fasis atau Nazi. apa yang benar bagi para pemimpin bahkan lebih benar lagi bagi anggota-anggota biasa gerakan ini. Mudahnya seorang komunis muda berubah menjadi Nazi atau sebaliknya sudah umum diketahui di Jerman, dan sangat diketahui para juru propaganda kedua partai. Banyak dosen universitas dalam negeri

7 he End of Economic Man, 1939, hlm. 230.

8 Sebuah uraian yang mencerahkan mengenai sejarah intelektual dari banyak pemimpin fasis dapat ditemukan dalam R. Michels (seorang fasis eks-Marxis), Sozialismus und Faszismus, Munich 1925, jilid 2, hlm. 264-266, dan 311-312.

ini selama 1930-an telah melihat mahasiswa-mahasiswa Inggris dan amerika pulang dari Benua Eropa, tak yakin apakah mereka komunis atau Nazi, tetapi sangat yakin dalam satu hal, bahwa mereka membenci peradaban liberal Barat.

Tentu benar bahwa di Jerman sebelum 1933 dan di Italia sebelum 1922 kalangan komunis dan Nazi atau Fasis lebih sering berbenturan satu sama lain, ketimbang dengan partai-partai lain. Mereka bersaing untuk mendapatkan dukungan dari orang- orang yang berpikiran sama, dan menyimpan kebencian satu sama lain, yang masing-masing mereka pandang sebagai bidah. Tetapi praktik mereka memperlihatkan bahwa mereka sangat erat berhubungan. Bagi keduanya, musuh yang sebenarnya, yakni orang yang tak memiliki kesamaan apa pun dengan mereka, dan yang mereka tahu tidak dapat mereka yakinkan, adalah orang liberal jenis lama. Sementara bagi Nazi, orang komunis—dan bagi komunis, orang Nazi—dan bagi keduanya, orang sosialis—adalah orang-orang baru, terbuat dari bahan mentah yang cocok, yang potensial mereka rekrut, kendatipun mereka mendengarkan nabi-nabi palsu; mereka keduanya tahu, bahwa tidak ada kompromi antara mereka dan orang-orang yang sungguh percaya pada kebebasan individu.

Supaya hal ini tidak diragukan oleh orang yang sudah ter- pengaruh oleh propaganda resmi dari kedua belah pihak, baiklah saya mengutip satu pernyataan lagi dari seorang yang memiliki otoritas yang tak seharusnya dicurigai. Dalam sebuah artikel yang judulnya signiikan, “he Rediscovery of Liberalism”, Prof. Eduard heimann, salah seorang pemimpin sosialisme religius Jerman, menulis:

hitlerisme memproklamasikan diri sendiri baik sebagai demokrasi sejati maupun sebagai sosialisme sejati, dan kebe- naran yang menakutkan adalah bahwa klaim-klaim semacam itu ada benarnya—memang kebenarannya sangat kecil, tetapi bagaimana pun juga cukup untuk difungsikan sebagai basis bagi distorsi-distorsi fantastis semacam itu. Bahkan

F R I E D R I C H A . H AY E K 37

hitlerisme sampai mengklaim berperan sebagai pelin- dung Kekristenan, dan kebenaran yang menakutkan adalah bahwa bahkan penyalahtafsiran habis-habisan ini membuat sebagian orang percaya. Tetapi ada satu fakta yang tampak dengan jelas sejelas-jelasnya di dalam semua kerancuan ini: hitler tak pernah mengklaim mewakili liberalisme sejati. Liberalisme memiliki kekhasan sebagai doktrin yang paling dibenci hitler.9

harus ditambahkan bahwa kebencian ini hampir tidak muncul dalam kenyataan hanya karena, pada waktu hitler mulai berkuasa, liberalisme sebetulnya telah mati di Jerman. Dan yang telah membunuhnya adalah sosialisme.

g

Walaupun bagi banyak orang, yang telah memperhatikan langsung transisi dari sosialisme ke fasisme, koneksi di antara kedua sistem ini telah tampak semakin jelas, di negeri ini mayoritas penduduk masih percaya bahwa sosialisme dan kebe basan dapat dikombinasikan. Memang kebanyakan kaum sosialis di sini masih percaya sekali pada ideal liberal mengenai kebebasan, dan mereka akan menarik diri jika mereka menjadi yakin bahwa realisasi program mereka akan menyebabkan kehancuran kebebasan. Masih sangat sedikit masalah yang terlihat, masih sangat mudah ideal-ideal yang paling bertolak belakang hidup bersama, sehingga kita masih dapat mendengar kontradiksi dalam terminologi seperti “sosialisme individualis”

9 Social Research (New York), vol. viii, no. 4, November 1941. Dalam hubungan ini, patut diingat bahwa, apa pun alasannya, hitler berpikir adalah menguntungkan untuk mengumumkan dalam salah satu pidato publiknya di akhir Februari 1941 bahwa “pada dasarnya Nasional-Sosialisme dan Marxisme adalah sama.” (Bdk. he Bulletin of International News, yang diterbitkan oleh Royal Institute of International afairs, vol. xviii, no. 5, hlm. 269).

didiskusikan dengan serius. Jika demikianlah keadaan pikiran yang membuat kita hanyut ke dalam suatu dunia baru, tak ada yang lebih mendesak ketimbang bahwa kita harus benar-benar memeriksa arti penting evolusi yang telah terjadi di tempat lain. Meskipun kesimpulan-kesimpulan kita akan menegaskan kekhawatiran yang telah diungkapkan orang lain, alasan-alasan mengapa per kembangan ini tidak boleh dianggap kebetulan tak akan tampak tanpa kajian penuh dan menyeluruh atas aspek- aspek pokok transformasi kehidupan sosial ini. Banyak orang tidak akan percaya bahwa sosialisme demokratis, yang sudah menjadi utopia agung beberapa generasi, bukan hanya tak dapat dicapai, tetapi bahwa usaha keras ke arah itu justru akan meng- hasilkan sesuatu yang sangat berbeda, sehingga sedikit saja orang yang kini menginginkannya akan siap menerima berbagai macam konsekuensinya, kecuali bila kaitannya dibentangkan dalam semua seginya.

Dalam dokumen friedrich a hayek jalan menuju perbudakan (Halaman 43-53)

Dokumen terkait