• Tidak ada hasil yang ditemukan

Validasi dan monitoring metode sterilisasi :

Dalam dokumen 28452780 Bab II Tinjauan Pustaka (Halaman 161-175)

1. Farmakope Indonesia Edisi IV; 1110

Prinsip dasar untuk validasi dan sertifikasi suatu proses sterilisasi dijabarkan sebagai berikut :

a. Pastikan bahwa peralatan yang digunakan mampu berfungsi dan memenuhi parameter yang diisyaratkan.

b. Tunjukkan bahwa peralatan pengendali kritis dan instrumentasi mampu berfungsi sesuai dengan parameter yang seharusnya bagi peralatan bersangkutan.

c. Lakukan siklus replikasi yang memiliki operasional yang dipersyaratkan bagi peralatan bersangkutan dan gunakan produk sebenarnya atas simulasi. Tunjukkan bahwa proses telah dilaksanakan sesuai batasan protokol yang ditetapkan dan akhirnya kemungkinan mikroba yang masih hidup pada proses replikasi yang telah selesai tidak lebih besar dari batasan yang ditetapkan.

d. Pantau proses yang divalidasi sewaktu pengerjaan berjalan secara pasti. Jika perlu secara periodik peralatan dikalibrasi dan disertifikasi ulang.

e. Lengkapkan protokol dan dokumentasikan langkah di atas mulai nomor 1 hingga nomor 4.

2. The Theory and Practice of Industry Pharmacy; 1261-1262

Validasi sebenarnya dari suatu proses sterilisasi harus mengikuti serangkaian tahap dan prosedur yang sistematis dan logis. Prosedur validasi untuk suatu proses sterilisasi uap bisa meliputi rancangan :

a. Memberikan tanda bahwa pensteril sudah dicek secara mekanis dan memenuhi syarat.

b. Pilihlah mikroorganisme indiktor biologis yang paling tepat yang mempunyai daya tahan terhadap panas uap yang diinginkan, sambil merealisasi keunggulan dari bahaya bioindikator.

c. Tentukan nilai D dan nilai Z dari bioindikator yang dipilih secara eksperimen.

d. Tentukan distribusi panas dalam pensteril kosong dan identifikasi tempat yang paling dingin.

e. Tentukan distribusi panas dari ukuran muatan dan konfigurasi tertentu serta identifikasi tempat yang paling dingin.

f. Tentukan penetrasi ke dalam unit produk pada tempat yang paling dingin dan pada tempat yang dicurigai, di mana penetrasi panasnya paling lambat.

g. Evaluasi efek dari tolak ukur siklus seperti waktu, temperature, dan konfigurasi muatan pada pengrusakan bioindikator dan besarnya nilai Fo.

h. Tentukan waktu proses sterilisasi yang digunakan untuk mencapai harga Fo yang diinginkan dan tingkat probabilitas dari pengrusakan bioindikator.

i. Ulangi proses tersebut sampai diperoleh ulangan yang memuaskan dan dapat diandalkan.

j. Tetapkan suatu program pemantauan untuk rekualifikasi secara periodik dari siklus sterilisasi tersebut.

k. Akhiri prosedur pelaksanaan standar dan tingkat aksi, kalau-kalau ada perubahan dan perkembangan masalah di masa yang akan datang.

Prosedur validasi untuk suatu proses penyaringan aseptis bila meliputi rancangan:

a. Buatlah secara tepat evaluasi fasilitas dan daerah kritis untuk fungsi peralatan yang tepat, kualitas udara dan kriteria teknik lainnya.

b. Lakukan uji mikroba permukaan dan udara dalam daerah pengisian untuk mengetahui dapat dipercayanya latar belakang kontaminasi mikroba.

c. Pilih suatu medium pertumbuhan mikroba yang sensitif. d. Pilih mikroorganisme penantang yang paling tepat untuk validasi penyaringan aseptis.

e. Sterilkan medium pertumbuhan dan semua alat penyaringan dengan metode sterilisasi yang sebelumnya telah divalidasi.

f. Lakukan suatu uji simulasi proses dengan menyaring volume yang diinginkan dari medium pertumbuhan mikroba, yang mengandung suatu konsentrasi mikroorganisme penantang yang diketahui ke dalam sejumlah wadah yang sesuai dan telah disterilkan sebelumnya.

g. Inkubasi wadah yang sudah ada atau terisi pada kondisi yang tepat dengan kontrol yang tepat pula.

h. Tentukan persen tingkat kontraminasi menurut persamaan berikut:

% C = NG x 100 NT - ND

di mana : NG = banyaknya wadah yang tidak dirusak dengan mikroorganisme

NT = jumlah wadah yang diisi sebelumnya

ND = banyaknya wadah yang rusak terkontaminasi i. Ulangi proses tersebut.

j. Jika persen tingkat kontraminasi tidak dapat diterima, misalnya > 0,1%, ulangi semua hasil uji lingkungan. Catatan sterilisasi dan data lain untuk menentukan langkah apa yang perlu diambil untuk mencapai persen tingkat kontraminasi kurang dari 0,1%.

3. Handbook of Formulation Sterile Product, e-book

a. Validasi

Studi validasi seharusnya dihubungkan dengan pembuktian efikasi dari sterilisasi melingkar. Studi pembatasan ulang juga seharusnya ditunjukkan pada basis periodik. Untuk kedua studi validasi dan produksi rutin, penggunaan bentuk beban terspesifikasi seharusnya didokumentasikan pada catatan batch.

Udara yang tidak dapat dipindahkan dari bahan pengisolasi menjaga panas lembab dari penetrasi, pemanasan bahan dan mencapai dengan uap jenuh. Sebagai akibatnya, terjadi energi panas yang jauh lebih lambat dan kecepatan pembunuhan yang lebih lambat dari panas kering pada lokasi yang terisolasi.

Perhatian khusus harus diberikan pada tipe bahan natural untuk disterilkan dan penempatan indikator biologik dengan bahan sterilisasi.

Sulit untuk mencapai lokasi dengan bahan sterilitas dan bahan spesifik, seharusnya menjadi evaluasi yang penting untuk efikasi sterilisasi meningkat. Setelah itu, pembatasan ulang atau revisilidasi harus dilanjutkan untuk memusatkan pada daerah beban sebagai daerah paling sulit untuk terpenetrasi atau terpanaskan.

1) Pembatasan = chamber kosong.

Studi evaluasi distribusi temperatur di banyak tempat sebagai unit pensteril kosong (contoh: autoklaf, oven) atau alat penyambung (contoh: tangki besar, pipa yang tidak dapat digerakkan). Ini penting, bahwa studi ini memperkirakan keseragaman temperatur pada berbagai lokasi sampai pensteril untuk mengidentifikasi potensial “tidak dingin” dimana di sana dapat tidak cukup panas untuk mencapai sterilitas. Studi panas seragam atau “temperatur pembuatan” seharusnya dihubungkan dengan menempatkan temperatur kalibrasi pada alat pengukur pada banyak lokasi sampai pada chamber.

2) Validasi = chamber beban.

Studi panas penetrasi seharusnya ditunjukkan dengan menggunakan alat beban pensteril yang dibuat. Validasi dari proses sterilisasi dengan pembuktian efek dari bahan pada pemasukan panas pada barang yang telah disterilisasi. Dan mungkin mengidentifikasi titik dingin di mana tidak cukup panas untuk mencapai sterilitas. Penempatan indikator biologik pada sejumlah posisi pada beban, termasuk tempat yang paling sulit disterilkan, adalah alat langsung untuk membuktikan efikasi dari beberapa

prosedur sterilisasi. Pada umumnya, thermocouple (Te) ditempatkan berdekatan dengan indikator biologik untuk memperkirakan hubungan antara leralitis mikrobial dan pemasukan panas. Sterilisasi dapat divalidasi melalui pendekatan setengah atau sebagian melingkar. Pada beberapa kasus, dasar digunakan untuk validasi sterilisasi. Untuk informasi lebih lanjut mengenai validasi dengan sterilisasi panas, mengikuti aturan FDA. b. Kontrol peralatan dan kalibrasi alat pengukur.

Untuk kedua validasi dan kontrol rutin, kebenaran dari data umum melalui monitoring alat sterilisasi melingkar harus dipertimbangkan untuk menjadi sangat penting. Alat yang mengukur parameter melingkar harus secara rutin dikalibrasi. Prosedur yang telah ditulis harus dibuat untuk memastikan bahwa alat tepat pada tingkat kalibrasi. Monitoring alat temperatur untuk sterilisasi panas harus dikalibrasi pada interval yang sesuai, sebaik sebelum dan sesudah validasi berjalan. Alat yang digunakan untuk memonitoring waktu pada alat sterilisasi harus dikalibrasi secara periodik. Jumlah mikrobial dan jumlah O dari indikator biologikal seharusnya telah jelas sebelum studi validasi. Alat pengukuran digunakan untuk menentukan kemurnian dari uap seharusnya dikalibrasi. Untuk alat lubang panas kering di pirogenasi (seperti sensor dan transmiter) yang digunakan untuk mengukur kecepatan daerah sebenarnya secara rutin dikalibrasi. Peralatan sterilisasi seharusnya dipelihara dengan tepat untuk mendapatkan kepuasan dan konsistensi tinggi. Evaluasi dari penampilan

benda-benda steril seharusnya ada keseimbangan antara penelitian sebelumnya dan teori.

4. Formulasi steril; 98 a. Validasi dan monitoring.

Sebelum menggunakan obat, kita harus terlebih dahulu menvalidasikannya dapat menyatakan alat banyak dapat dipakai. Hal ini dapat dilakukan dengan menggunakan :

1) Indikator biologi

Merupakan sediaan berisi populasi mikroorganisme aseptik dalam bentuk spora II bakteria/resisten terhadap beberapa parameter yang terkontrol dan terukur dalam suatu panas tertentu. Prinsip kerjanya adalah mensterilkan spora hidup mikroorganisme nonpatogenik dan sangat resisten dalam jumlah tertentu. Jika selama dalam proses spora tertentu, maka dapat diasumsikan bahwa mikroorganisme lainnya ikut terbunuh dan bisa dikatakan telah steril. Jenis yang digunakan adalah Bacillus stearotermophillus (sterilisasi uap) dan Bacillus sabtilis (sterilisasi gas etilen oksida dan panas kering). Beberapa jenis indikator biologi :

- Beberapa strip kertas yang mengandung spora kering dikemas dalam kantong bersegel. Setelah disterilisasi, spora kering dipindahkan secara efektif dalam media pertumbuhan untuk melihat pertumbuhan koloni indikator biologi ini dibuat dalam wadah tersendiri, dimana strip terisi spora dikemas dalam vial bersama ampul yang berisi media pertumbuhan spora. Setelah sterilisasi, indikator ini diaktifkan dengan

menghancurkan ampul berisi media pertumbuhan. Sehingga spora mendapatkan lingkungan yang sesuai untuk tumbuh. Indikator kemudian diinkubasi sehingga mikroorgnisme yang bertahan hidup dapat tumbuh.

- Jenis lain indikator biologi adalah yang mengandung sistem deteksi cepat (rapid). Sistem yang demikian bekerja berdasarkan adanya interaksi enzim dalam spora dengan bahan yang ada dalam media pertumbuhan. Apabila mendapatkan sinar UV, maka hasil positif akan memberikan flouresensi. Bila tidak terjadi flouresensi, maka kondisi sterilisasi telah mencapai dan spora telah terbunuh. Indikator demikian, memerlukan alat khusus untuk mendeteksi ada atau tidaknya flouresensi. Kita dapat membaca hasilnya selama 3 jam.

Interprestasi hasil indikator biologi.

Setelah masa inkubasi, kita melakukan pengamatan agar mendapatkan interprestasi hasil indikator biologi. Hasil disebut positif bial terjadi kekeruhan dan pertumbuhan koloni (indikator konvensional), adanya flouresensi (indikator rapid) atau adanya perubahan warna (indikator mutakhir). Kitapun melakukan pengamatan terhadap kontrol positif, yaitu indikator biologi yang diaktifkan dan diinkubasi tanpa melewati proses sterilisasi. Kontrol positif harus menunjukkan hasil positif, keberhasilan sterilisasi ditandai hasil indikator biologi yang negatif. Sebaliknya, bila hasil positif, maka merupakan indikasi adanya kegagalan proses sterilisasi.

2) Indikator kimia

Chemical indikator atau indikator kimia adalah indikator yang menandai terjadinya paparan sterilitas (uap panas atau gas etilen oksida) pada objek yang disterilkan dengan adanya perubahan warna, indikator kimia diproduksi dalam bentuk strip, tape, kartu, dan vial, indikator sensitif terhadap satu atau lebih parameter sterilisasi. Indikator memberikan informasi tercapainya validasi steril pada tiap kemasan, maka selalu digunakan di luar, adapula yang menggunakan di dalam beberapa indikator kimia yang dikenal adalah indikator eksternal dan indikator internal.

Indikator eksternal berbentuk pita dan digunakan dibagian luar kemasan. Terjadinya perubahan warna indikator memberikan informasi bahan bagian kemasan benda yang disterilkan telah melewati proses sterilisasi. Kemudian, indikator internal berbentuk strip dan pemakaiannya diletakkan dalam setiap kemasan. Indikator internal memberikan informasi bahwa berada di dalam warna indikator. Terjadinya perubahan warna menunjukkan bahwa sterilan telah berpenetrasi di dalam kemasan.

3) Indikator fisika

Indikator mekanik adalah instrumen mesin sterilisasi seperti garge, table, dan indikator suhu maupun tekanan yang menunjukkan apakah alat sterilisasi bekerja dengan baik.

− Pengu kuran temperatur dan tekanan merupakan fungsi penting sistem monitoring sterilisasi. Apabila indikator mekanik berfungsi dengan baik, maka akan memberikan informasi segera mengenai temperatur, tekanan, waktu, dan mekanik lainnya dari alat.

− Memb

erikan indikator adanya masalah apabila alat masuk dan memerlukan perbaikan. Contohnya adalah indikator hanya digunakan untuk Buvderick. Indikator ini digunakan untuk menilai efisiensi pompa vakum pada alat sterilisasi serta untuk mengetahui adanya kebocoran udara dalam ruang sterilisasi. Oleh karena itu, indikator hanya digunakan pada metode sterilisasi uap panas yang menggunakan sistem vakum. Jadi, indikator sama sekali bukan untuk mengetahui apakah kondisi sterilisasi telah tercapai kemudian keterbatasannya adalah :

• Indikator mekanik tidak menunjukkan bahwa keadaan steril sudah tercapai, melainkan hanya memberikan informasi tentang fungsi alat sterilisasi.

• Karena bersifat mekanis, maka bila tidak dilakukan kalibrasi alat dengan tepat atau pemakaian yang terlalu kering indikator dapat memberikan informasi yang tidak benar. Oleh karena itu, monitoring hanya dengan indikator mekanik tidak cukup. Kita masih

memerlukan indikator lainnya untuk memberikan jaminan bahwa proses sterilisasi berjalan baik.

II.I. 8 Macam – macam sediaan steril : 1. Sterile Dosage Form; 15-16

a. Injeksi

Larutan obat dalam bahan yang cocok dengan atau tanpa bahan tambahan, digunakan untuk penggunaan parenteral didefenisikan sebagai injeksi. Sebuah injeksi bisa disiapkan sebagai dosis tunggal atau dosis ganda, volumenya bisa sama kecilnya dengan setengah militer, seperti injeksi atropine sulfat, atau sebesar 1 liter, seperti injeksi dextrose. Istilah ini juga bisa digunakan sebagai emulsi steril.

b. Cairan infus

Cairan infus intravena merupakan kelompok injeksi yang terkarakterisasi oleh metode pemberian. Ini termasuk sediaan yang digunakan sebagai nutrisi dasar, seperti injeksi dextrose, untuk penyimpanan keseimbangan elektrolit, seperti injeksi ringer mengandung ion natrium, kalium, dan kalsium, untuk penggantian cairan, kombinasi seperti injeksi dextrose dan NaCl, dan untuk beberapa kegunaan lain, seperti hiperalimentasi parenteral.

c. Radiofarmasetik

Bahan radiofarmasetik yang digunakan untuk uji fungsi organ terpisah sebagai kelompok injeksi di bawah istilah radiofarmasetikal.

Mereka berbeda dari injeksi lain yaitu obat dalam bentuk radioaktif, teknik berbeda juga dibutuhkan dalam penyiapan dan penanganan.

d. Padatan steril

Sejak beberapa obat tidak memiliki stabilitas yang cocok dalam larutan untuk membolehkan pembungkusan sebagai injeksi, mereka disiapkan sebagai padatan kering agar ditempatkan dalam larutan pada saat penggunaan. Jika padatan kering tidak mengandung buffer, pengisi, atau bahan tambahan lain, mereka dilabeli sebagai obat steril, seperti Natrium Nafcilin Steril. Jika bentuk kering dari obat juga mengandung buffer, pengisi, dan bahan tambahan lain, sediaan dilabeli sebagai obat untuk injeksi, seperti Amfoterisin B untuk injeksi. Perbedaan dalam pelabelan mengindikasikan kehadiran atau ketiadaan dari bahan.

e. Suspensi steril

Obat yang disuspensikan dalm bahan parenteral yang cocok dibuat sebagai suspensi obat steril, contohnya suspensi steril hidrokortison asetat. Jika obat dalam bentuk kering dan akan menjadi suspensi dengan penambahan bahan parenteral yang cocok, ditandai sebagai obat steril untuk suspensi, seperti Suspensi Steril Kloramfenikol. Tidak seperti injeksi, 2 tipe suspensi tidak pernah diberikan intravena atau diinjeksikan ke dalam kanal sum-sum tulang belakang.

Obat dalam larutan diberikan dengan cara ditanamkan pada mata adalah sediaan steril, walaupun istilah ”steril” tidak umum termasuk dalam namanya, contoh Larutan Mata Natrium Sulfasetamida atau Suspensi Mata Hidrokortison Asetat. Mereka juga berbeda dari sediaan sebelumnya yaitu tidak perlu bebas pirogen karena tempat penggunaannya. Dalam penyiapan salep mata, bahan obat baik dalam larutan atau padatan termikronisasi ditambahkan agar tidak mengiritasi basis salep. Salep disterilkan dengan panas kering atau dengan radiasi; beberapa disiapkan dengan penyiapan steril melalui kombinasi aseptik dari bahan steril. Mereka harus dikemas dalam wadah bersegel dan bebas dari bahan partikulat yang tidak diinginkan seperti partikel logam.

g. Larutan irigasi

Larutan yang digunakan untuk mencuci luka terbuka, didefenisikan sebagai larutan irigasi dan digunakan secara topikal, tidak pernah secara parenteral.

h. Bahan diagnostik

Larutan yang diberikan secara parenteral untuk tujuan diagnostik, seperti injeksi Evan’s Blue, digunakan untuk menentukan volume darah.

i. Ekstrak allergenio

Ekstrak allergenio adalah konsentrasi allergen atau bahan yang bertanggung jawab untuk sensitivitas yang tidak biasa dari beberapa individu, digunakan untuk diagnostik atau pengobatan reaksi allergenik.

Larutan digunakan dengan teknik dialisis peritoneal untuk menurunkan sampah tubuh, cairan tubuh, elektrolit serum dan bahan racun.

Kesimpulan :

Macam-macam sediaan steril adalah : a. Injeksi

b. Cairan infuse c. Radifarmasetik d. Padatan steril e. Suspensi steril

f. Larutan mata, suspensi, dan salep g. Larutan irigasi

h. Bahan diagnostik i. Esktrak allergnio

j. Larutan dialysis peritonial

II.1.8 Teknik aseptik dan sterilisasi hasil akhir

Dalam dokumen 28452780 Bab II Tinjauan Pustaka (Halaman 161-175)

Dokumen terkait