• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB III METODE PENELITIAN

E. Validitas dan Reliabilitas Alat

Uji keabsahan data dalam penelitian sering ditekankan pada uji validitas dan reliabilitas. Untuk mendapatkan data yang valid dan reliabel maka instrumen penelitiannya perlu diuji coba terlebih dahulu, uji coba instrumen tersebut dapat dilakukan setelah perangkat tes telah tersusun. Setelah perangkat tes telah diuji cobakan, langkah selanjutnya adalah dilakukan analisis instumen, analisis ini bertujuan agar instrumen yang digunakan dapat memperoleh data yang benar absah dan dapat dipercaya. Analisis uji coba instrumen meliputi:

1. Validitas Alat

Dalam penelitian ini kriteria utama terhadap data hasil penelitian adalah valid, validitas merupakan derajat ketetapan antara data yang terjadi pada objek penelitian dengan data yang dapat dilaporkan oleh peneliti (Sugiyono, 2017:363). Validitas adalah suatu ukuran yang menunjukkan tingkat kevalidan atau kesahihan suatu instrumen. Sebuah istrumen dikatakan valid apabila mampu mengukur apa yang diinginkan dan dapat

mengungkapkan data dari variabel yang diteliti secara tepat. Pada penelitian ini untuk menguji validitas alat dengan rumus korelasi Product

Moment menggunakan angka kasar, dengan rumus :

Rxy = koefisien korelasi x dan y N = jumlah responden

X = jumlah skor butir soal Y = jumlah skor total yang benar

Untuk menafsirkan validitas maka digunakan klasifikasi, dengan membandingkan nilai rhitung dengan rtabel untuk degree of freedom (df) = n dimana n adalah jumlah sampel. Apabila rhitung lebih besar daripada rtabel

maka data dapat dikatakan valid.

a. Validitas Soal

Tabel 3.2 Hasil Perhitungan Validitas Soal

Kriteria No Butir Soal Jumlah

Valid 1, 2, 4, 5,6 ,7, 8, 9, 10, 11, 12, 13, 14, 16, 17, 18, 19, 21, 23, 24. 20 Tidak Valid 3, 15, 20, 22, 25. 5

Sumber: Data Olahan, 2020

Perhitungan validitas soal dapat dilihat pada Lampiran 12. b. Validitas Angket

Tabel 3.3 Hasil Perhitungan Validitas Angket

Kriteria No Butir Soal Jumlah

Valid 1, 2, 3, 4, 5, 6, 7, 8, 9, 10, 11, 12, 13, 14, 15, 16, 17, 19, 20

19

Tidak Valid 18 1

Sumber: Data Olahan, 2020.

Perhitungan validitas angket dapat dilihat pada Lampiran 14. 2. Realiabilitas Alat

Menurut Arikunto (2009:86) reabilitas alat menunjukkan suatu pengertian bahwa instrumen cukup dipercaya untuk dapat digunakan sebagai alat pengumpulan data karena istrumen sudah layak. Istrumen yang

layak tidak akan bersifat tendensius mengarahkan responden untuk dimaksud adalah instrumen memilih jawaban-jawaban tertentu. Reliabilitas menunjukkan tingkat keandalan suatu istrumen, sehingga apabila instrument itu reliabel berarti data yang diperoleh dapat dipercara dan diandalkan. Uji reliabilitas pada penelitian ini menggunakan rumus product

moment memakai angka kasar pada data tes dan cronbach alpha pada data

angket dengan perhitungan pada SPSS 24.

Keterangan

r11 : reliabilitas soal secara keseluruhan

p : proporsi subjek yang yang menjawab item dengan benar q : proporsi subjek yang menjawab dengan salah

Σpq : jumlah hasil perkalian antara p dan q N : jumlah item

S² : standar deviasi dari soal (akar dari varians) a. Reliabilitas Soal

Berdasarkan perhitungan reliabilitas diperoleh r11 sebesar 0,70 harga r11 tersebut terletak pada interval 0,70 r11<1,00 termasuk kategori reliabilitas tinggi. Perhitungan selengkapnya dapat dilihat pada Lampiran 12.

b. Reliabilitas Angket

Berdasarkan koefisien Crobanch’s Alpha diperoleh 0,887 dengan memiliki koefisien >0,60 maka dikatakan reliabilitas.

Tabel 3.4 Hasil Perhitungan Reliabilitas Angket

Reliability Statistics

Cronbach's Alpha

N of Items

.877 20

Sumber: Data Olahan, 2020 3. Tingkat Kesukaran Soal

Saifudin Azwar (2006:129) dalam Hanifah (2014:46) mengatakan bahwa tingkat kesukaran butir soal adalah proporsi antara banyaknya peserta tes yang menjawab butir soal dengan benar dengan banyaknya peserta tes. Hal ini berarti semakin banyak peserta tes yang menjawab butir soal dengan benar maka semakin besar indeks tingkat kesukaran, yang berarti semakin mudah butir soal tersebut. Begitupun sebaliknya makin sedikit peserta tes yang menjawab butir soal dengan benar makan soal tersebut semakin sukar.

Soal yang baik adalah soal yang tidak terlalu mudah dan tidak terlalu sulit, dengan perhitungan tingkat kesukaran soal dapat diketahui mana soal yang dianggap mudah maupun sulit yang ditujukan dengan indeks kesukaran soal. Untuk menentukan tingkat kesukaran digunakan rumus sebagai berikut:

IK = JBA + JBB JSA + JSB Keterangan:

IK : Tingkat kesukaran

JBA : Jumlah yang benar pada butir soal kelompok atas JBB : Jumlah yang benar pada butir soal kelompok bawah JSA : Banyaknya siswa pada kelompok atas

JSB : Banyaknya siswa pada kelompok bawah

Indeks kesukaran dapat diklarifikasikan sebagai berikut: IK = 0,00 adalah soal terlalu sukar

0,00<IK 0,30 adalah soal sukar 0,30<IK 0,70 adalah soal sedang

Tabel 3.5 Hasil Perhitungan Tingkat Kesukaran

Kriteria Nomor Butir Soal Jumlah

Sukar - -

Sedang 3, 4, 15, 20, 22, 25, 5

Mudah 1, 2, 5, 6, 7, 8, 9, 10, 11, 12, 13, 14, 16, 17, 18, 19, 21, 23, 24

15

Sumber: Data Olahan, 2020 4. Daya Pembeda Soal

Hanifah (2014:47) menyatakan bahwa daya pembeda soal merupakan kemampuan soal untuk membedakan kelompok peserta tes berkemampuan tinggi dan kelompok peserta tes yang berkemampuan rendah. Nilai daya pembeda dinyatakan melalui indeks daya pembeda, semakin tinggi atau makin besar indeks daya pembeda sal, makin besar juga soal tersebut dapat membedakan antara kelompok tinggi dan kelompok rendah.

Langkah-langkah dalam menghitung daya pembeda soal adalah sebagai berikut:

a. Meranking skor hasil tes dengan mengurutkan tes siswa mulai dari skor tertinggi sampai dengan skor terendah.

b. Mengelempokkan seluruh peserta tes menjadi 2 kelompok, yakni kelompok atas dan kelompok bawah.

Untuk menghitung daya pembeda soal pilihan ganda dapat digunakan rumus sebagai berikut:

DP = JBA JBB

JSA JSB (Arikunto, 2009:214) Keterangan:

JBA = Jumlah siswa kelompok atas yang menjawab soal dengan benar JBB = Jumlah siswa kelompok bawah yang menjawab soal dengan benar JSA = Jumlah siswa kelompok atas yang menjawab soal dengan salah JSB = Jumlah siswa kelompok bawah yang menjawab soal dengan salah Klasifikasi daya pembeda dalam penelitian ini menurut Arikunto (2009:218) adalah sebagai berikut:

DP = 0,00 : sangat jelek 0,00<DP 0,20 : jelek

0,20<DP 0,40 : cukup 0,40<DP 0,70 : baik

0,70<DP 1,00 : sangat baik

Tabel 3.6 Hasil Perhitungan Daya Beda Soal Kriteria Daya

Pembeda

No Butir Soal Jumlah

Sangat Jelek - - Jelek 20 1 Cukup - - Baik 1, 2, 3, 4, 5, 6, 7, 8, 9, 10, 11, 12, 13, 14, 15, 16, 17, 18, 19, 21, 22, 23, 24, 25. 19 Sangat Baik - -

Sumber: Data Olahan, 2020

Perhitungan daya beda soal dapat dilihat pada Lampiran 12.

Berdasarkan hasil analisis validitas, reliabilitas, tingkat kesukaran, dan daya pembeda soal maka jumlah soal yang memenuhi kriteria sebagai alat ukur ialah sebanyak 20 butir soal yakni butir soal nomor 1, 2, 4, 5, 6, 7, 8, 9, 10, 11, 12, 13, 14, 16, 17, 18, 19, 21, 23, 24.

Dokumen terkait