BAB III METODOLOGI PENELITIAN
F. Validitas dan Reliabilitas
Noor (2011) menyatakan validitas merupakan suatu indeks yang menunjukkan alat ukur yang digunakan benar-benar mengukur apa yang diukur (akurasi instrumen). Menurut Azwar (2010) alat ukur yang dapat dikatakan memiliki validitas tinggi apabila alat ukur tersebut dapat menjalankan fungsi ukur atau akurat dalam melakukan pengukuran yang ingin diukur. Pengujian validitas yang digunakan dalam skala ini adalah validitas isi. Validitas isi adalah proses pengujian isi alat ukur yang dilakukan berdasarkan expert judgement (Azwar, 2009). Validitas ini dinilai berdasarkan penilaian dosen pembimbing sebagai expert judgement
untuk mengetahui kesesuaian aitem-aitem dalam tes dengan aspek-aspek yang hendak diungkap. Selain itu validitas isi dalam skala stres akademik yang merupakan skala adaptasi didapatkan oleh peneliti berdasarkan penilaian dari professional judgement. Setelah dilakukan tryout pada skala stres akademik, validasi dilakukan kembali terhadap aitem aitem dalam skala stres akademik melalui penilaian dari professional judgement karena terdapat beberapa aitem yang kurang dapat mengukur stres akademik secara spesifik dan cenderung lebih mengukur stressor akademik.
2. Seleksi Aitem
Seleksi aitem merupakan tahap selanjutnya setelah dilakukan validitas isi oleh expert judgement dan setelah dilakukan tryout. Tryout dilaksanakan di beberapa tempat yaitu Universitas Sanata Dharma, Universitas Gajah Mada, dan UPN Veteran Yogyakarta. Tryout diberikan kepada 100 mahasiswa. Berdasarkan hasil tryout didapatkan 94 data subjek mahasiswa yang memenuhi kriteria dan 6 data subjek lainnya tidak dapat digunakan karena tidak memenuhi kriteria penilaian.
Seleksi aitem dilakukan untuk melihat aitem-aitem mana yang memiliki nilai korelasi aitem total yang tinggi dan aitem mana yang memiliki nilai korelasi aitem total yang rendah. Seleksi aitem dapat dilakukan dengan melihat daya diskriminasi yang dimiliki oleh tiap-tiap aitem. Daya diskriminasi aitem adalah sejauh mana aitem mampu membedakan antara individu atau kelompok individu yang memiliki dan
yang tidak memiliki atribut yang diukur (Azwar, 2012). Daya diskriminasi diperoleh dengan mengkorelasikan antara skor aitem dengan skor item total. Korelasi antara skor aitem dengan skor total disebut koefisien korelasi aitem total (rix). Besar koefisien korelasi aitem total berada antara 0 sampai dengan 1,00 baik positif maupun negatif. Skor yang semakin mendekati 1,00 memiliki daya diskriminasi yang tinggi dan apabila mendekati angka 0 maka aitem yang bersangkuran memiliki daya diskriminasi yang rendah (Azwar, 2010).
Pemilihan aitem berdasarkan korelasi aitem total memiliki batasan rix ≥ 0,30. Aitem yang mencapai koefisien korelasi aitem total minimal
0,30 dapat dikatakan memiliki daya diskriminasi yang baik. Sebaliknya, aitem yang memiliki koefisien korelasi aitem total kurang dari 0,30 merupakan aitem yang berdaya diskriminasi rendah. Jika jumlah aitem yang lolos kurang memenuhi jumlah yang diharapkan, maka skor korelasi item total dapat diturunkan menjadi 0,25 (Azwar, 2009). Nilai rix 0,30 dan taraf signifikansi 0,05 yang digunkan dalam penelitian ini menunjukkan, bahwa aitem yang digunakan memiliki skor koefisien korelasi aitem total
≥ 0,30 pada taraf signifikansi 0,05. Pengujian ini menggunakan program
SPSS for windows.
Pada skala stres akademik terdapat 34 aitem pernyataan. Aitem-aitem ini kemudian diseleksi dengan melihat rix-nya. Aitem yang memiliki rix ≥ 0,30 dikategorikan sebagai aitem yang baik, sedangkan aitem yang memiliki nilai rix ≤ 0,30 dikategorikan sebagai aitem yang kurang baik.
Hasil dari pengujian data skala stres akademik menunjukkan bahwa terdapat 33 aitem yang memiliki nilai rix ≥ 0,30, sedangkan aitem yang memiliki nilai rix ≤ 0,30 adalah aitem nomor 12 dengan nilai rix sebesar 0,238. Akan tetapi dalam Supratiknya (2014) dikatakan bahwa alat ukur yang ideal, semua item harus memiliki koefisien korelasi item-total diatas 0,20. Selain itu dikarenakan nilai Alfa Cronbach (α) skala adaptasi berada
diatas 0,70 dan dikatakan memuaskan (Guilford, dalam Supratiknya 2014) maka peneliti tidak menggugurkan aitem nomor 12. Sehingga total aitem yang digunakan dalam skala ini adalah 34 aitem.
Namun, peneliti kembali melakukan validasi terhadap aitem aitem dalam skala stres akademik melalui penilaian dari professional judgement karena terdapat beberapa aitem yang kurang dapat mengukur stres akademik secara spesifik dan cenderung lebih mengukur stressor akademik. Setelah dilakukan validasi terpilih 14 aitem yang digunakan dalam penelitian ini, dengan rentang rix 0,378 – 680. Sehingga dapat dikatakan aitem dalam penelitian ini memiliki daya diskriminasi yang baik (rix ≥ 0,30).
Tabel 6. Distribusi Aitem Skala Stres Akademik Setelah Seleksi Aitem
No. Variabel Nomor Aitem Jumlah Bobot
1. Stres Akademik 4, 5, 6, 7, 8, 13, 15, 17, 20, 21,
22, 23, 24, 27
14 100 %
Pada skala kecenderungan impulsive buying, terdapat 32 aitem, 16 aitem favorable dan 16 aitem unfavorable. Aitem aitem ini diseleksi dengan melihat rix-nya. Aitem yang memiliki rix ≥ 0,30 dikategorikan sebagai aitem yang baik, sedangkan aitem yang memiliki nilai rix ≤ 0,30
dikategorikan sebagai aitem yang kurang baik sehingga akan digugurkan. Hasil dari pengujian data skala kecenderungan impulsive buying menunjukkan bahwa terdapat 28 aitem yang memiliki nilai rix ≥ 0,30, sedangkan aitem yang memiliki nilai rix ≤ 0,30 adalah aitem 7, 9, 15, 25.
Selanjutnya untuk menyeimbangkan aitem, peneliti melakukan penyeleksian kedua secara langsung dengan melihat skor terendah lainnya pada aspek afektif. Kemudian peneliti melakukan pengguguran pada skor rendah tersebut sehingga komposisi pada tiap aspek sama. Setelah melalui proses penyeleksian kedua, maka ditetapkan jumlah aitem yang tidak lolos adalah 6 aitem. Sehingga jumlah aitem yang lolos adalah 26 aitem
Tabel 7. Distribusi Aitem Skala Kecenderungan Impulsive Buying Setelah Seleksi Aitem
Nomor Aitem
No. Aspek Favorable Unfavorable Jumlah Bobot
1. Aspek Kognitif 1, 2, 3, 4, 19, 20, 21, 22, 5, 6, 8, 23, 24 13 50% 2. Aspek Afektif 10, 11, 12, 13, 26, 27, 28, 29 16, 18, 30, 31, 32 13 50% Total 26 100%
3. Reliabilitas
Menurut Noor (2011) reliabilitas merupakan indeks yang menunjukkan sejauh mana suatu alat ukur dapat dipercaya atau diandalkan. Hal ini berarti menunjukkan sejauh mana alat pengukur dikatakan konsisten, jika dilakukan pengukuran dua kali atau lebih terhadap gejala yang sama. Penelitian ini menggunakan pendekatan konsistensi internal yang bertujuan untuk melihat konsistensi antar item atau antar bagian dalam tes. Untuk mencari estimasi reliabilitas konsistensi internal tersebut, digunakan rumus dari Alpha Cronbach (ɑ) (Azwar, 2009).
Teknik ini dapat dilakukan dengan menggunakan analisis data SPSS 16.0 for windows. Koefisien reliabilitas berada dalam rentang 0 sampai dengan 1. Jika koefisien skala semakin mendekati 1 maka dapat dikatakan skala tersebut memiliki koefisien reliabilitas yang baik (Azwar, 2010). Koefisien minimum yang dipandang memuaskan untuk reliabilitas skala adalah 0,70. Dibawah angka tersebut sebuah skala menjadi kurang memadai untuk digunakan bagi perorangan sebab hal itu menunjukkan bahwa kesalahan baku skor tampak sedemikian besar sehingga interpretasi skor menjadi meragukan (Guilford, dalam Supratiknya 2014).
Skala stres akademik diuji dengan menggunakan teknik Alpha Cronbach dan diperoleh nilai (ɑ) sebesar 0,884, dan setelah dilakukan
akademik secara spesifik diperoleh nilai (ɑ) sebesar 0,895. Pada skala kecenderungan impulsive buying nilai Alpha Cronbach yang diperoleh setelah mengalami seleksi aitem adalah 0,920.
G. Metode Analisis Data