• Tidak ada hasil yang ditemukan

B. Penafsiran Sufistik

4. Validitas Penafsiran Sufistik

Penentuan validitas penafsiran sufistik sangat terkait dengan korelasi antara syari‟at dengan hakikat secara legal formal yang bersumber dari Al-Qur‟an dan Hadits. Hal terpenting dalam tradisi penafsiran sufistik adalah argumentasi-argumentasi yang dibangun di atas tradisi tersebut, baik secara naqliyah yang bersumber dari Al-Qur‟an maupun Hadits ataupun argument yang bersumber dari rasio.

Sebagian kaum Sufi berpendapat bahwa Al-Qur‟an mempunyai pengertian batin yang sulit dipahami. Tapi, mereka melihat tidak ada pertentangan antara lahir dan batin. Semua itu berdasarkan dasar-dasar pemahaman yang benar. Namun, Ibnu Sholah menyatakan, barangkali orang yang dipercaya dari kalangan Sufi bila mengungkapkan sesuatu yang semacam itu, maka dia bukan mengungkapkan sebagai tafsir (dari ayat-ayat Al-Qur‟an, dan tidak pula sebagai penjelasan terhadap

272 Sahl al-Tustârî, Tafsîr Al-Qur‟ân al-„Azhîm, Kairo: Dâr al-Kutûb al-„Arabiyyah, 1991, hal 12-14.

kalimat yang disebutkan dalam Al-Qur‟an. Kalau halnya seperti itu, tentu mereka menempuh jalan yang ditempuh oleh kaum bathiniyyah Dia hanya mengungkapkan hal itu, sebagai persamaan dengan apa yang ada di dalam Al-Qur‟an.273

Disisi lain, Mengenai tafsir atau ta`wil yang diajukan oleh kalangan Sufi tersebut, di samping terdapat sebagian Ulama yang mengecamnya, juga terdapat sebagian Ulama yang mendukungnya.

Jalal al-Din al-Suyuthi, setelah menghimpun sejumlah pendapat dari kedua kalangan Ulama tersebut, dalam kitabnya, al-Itqân fî „Ulûm Al-Qur‟ân, menutup uraiannya dengan mengutip pendapat dari Syeikh Taj al-Dîn Ibn „Athâ`illah, dalam kitabnya, Lathâ‟if al-Minân, yang menyatakan bahwa penafsiran kaum Sufi terhadap ayat-ayat Al-Qur`an ataupun Hadits-Hadits Nabi SAW dengan makna-makna yang tidak biasa, bukanlah pengingkaran terhadap makna lahiriahnya, tetapi mengambil pengertian dari makna yang dimaksud oleh suatu ayat menurut kelaziman bahasa. Di dalam Al-Qur`an dan Hadits terdapat pelbagai pengertian yang tersembunyi yang hanya dapat dipahami oleh mereka yang hatinya telah dibukakan oleh Allah. Apa yang mereka lakukan, tegas Ibn „Atha`illah, tidak dapat dituduh sebagai telah mengubah Kalam Ilahi.274

Al-Taftâzanî juga berpandangan, bahwa apabila penafsiran sufistik hanya meyakini makna bâthin dengan mengingkari makna zhâhir ayat serta mengabaikan aspek syari‟at, maka hal tersebut bisa tergolong kepada ilẖad. Sebaliknya, jika interpretasi para sufi sejalan dengan makna zhâhir, tidak melepaskan dari aspek syari‟at serta dilakukan oleh orang-orang yang memiliki otoritas untuk itu, maka hal tersebut merupakan keteguhan iman dan kesempurnaan „irfân yang mendalam.275

Al-Syathibî juga menyatakan bahwa pemakanaan Al-Qur‟an secara isyârî dapat dilakukan dengan dua syarat. Pertama, makna bâthîn sesuai dengan tuntutan zhâhir sebagaimana ketentuan ketentuan struktur dalam bahasa Arab. Kedua, pemaknaan bâthin tersebut harus mempunyai argumentasi syari‟at yang mendukung keabsahannya tanpa ada pertentangan di dalamnya. Jika tidak, maka penafsirannya terhadap Al-Qur‟an termasuk mengada-ada.276

273 Sa‟id Hawa, Tafsir Al-Asas, Terj. Syafril Halim, Jakarta: Robbani Press, 1999, hal. 313-314.

274 Jalâl al-Dîn al-Suyûthi, Al-Itqan fî „Ulum Al-Qur`ân,...juz 2, hal. 184-185.

275 Jalâl al-Dîn al-Suyûthî, al-Itqân fî Ulûm Al-Qur‟an,…jilid 2, hal. 357.

276 Al-Syâtibî, al-Muwafaqât fî Ushûl al-Syari‟ah, Beirut: Dâr al-Ma‟ârif, t.th, hal.

357.

79 Sementara itu al-Dzahabî menyebutkan bahwa sebuah penafsiran sufistik dapat terhindar dari penyimpangan apabila penafsiran tersebut memenuhi beberapa kriteria, yaitu: Pertama, tidak bertentangan dengan makna zhâhir ayat Al-Qur‟an. Kedua, didukung oleh argumen rasional atau bukti kuat yang bersumber dari syara‟. Ketiga, tidak bertentangan dengan syari‟at atau akal sehat. Keempat, tidak mengklaim bahwa tafsir sufistik adalah satu-satunya yang dimaksudkan Allah di dalam ayat tersebut, sebaliknya mufassir yang menulis tafsir tersebut harus mengakui adanya makna zhâhir ayat sebelum ia menjelaskan makna isyâri-nya.277

Syarat-syarat penafsiran yang dikemukakan oleh al-Dzahabî di atas menunjukan bahwa ia menaruh kekhawatiran besar akan penyimpangan penafsiran yang dilakukan oleh para sufi. Al-Dzahabî mensyaratkan penafsiran sufistik tidak boleh menyimpang dari makna zhâhirnya, karena pada praktiknya para sufi dalam menafsirkan ayat lebih menekankan pemaknaan isyârînya. Sehingga dikhawatirkan para sufi terlalu jauh menakwilkan ayat Al-Qur‟an, bahkan memungkinkan tidak mengindahkan makna dzâhir sama sekali. Demikian pula syarat yang lainnya, seperti yang didukung oleh argument rasional (akal sehat), serta tidak bertentangan dengan syara‟, bertujuan untuk memberikan rambu-rambu kepada para sufi yang terkadang mengabaikan argument rasional, dan bahkan mengabaikan syari‟at dalam penafsirannya. Kemudian syarat selanjutnya yakni agar para sufi tidak mengkalim bahwa satu-satunya penafsirannya yang benar.

sehingga menolak penafsiran kelompok lain yang tidak sesuai dengan mereka.

Uraian di atas menunjukkan bahwa penafsiran sufistik sangat tergantung pada orientasi dan penggunaan takwil dari para mufassirnya.

Jika orientasi sang mufassir tersebut hanya menjustifikasi ajaran teori tasawufnya, tanpa memperhatikan dalil-dalil syar‟i, maka akan terlihat pemaksaan terhadap penafsirannya. Demikian pula ketika penggunaan takwil terlalu jauh dari prinsip prinsip yang telah ditetapkan, maka akan menyeret orang kepada kesesatan. Tetapi sebaliknya, jika penakwilan dilakukan sesuai dengan prinsip Islam maka akan menunjukkan keindahan kemukjizatan Al-Qur‟an. Oleh karena itu, syarat-syarat penafsiran yang diungkapkan al-Dzahabî, lebih bisa diterima pandangannya dan bisa juga menjadi pedoman para sufi dalam menafsirkan Al-Qur‟an.

277 Muẖammad Husayn al-Dzahabî, al-Tafsîr Wa al-Mufassirûn,…jilid 2, hal. 48;

lihat juga: Rosihon Anwar Dan Asep Hidayat, Ilmu Tafsir, …hal. 168.

5. Perdebatan Tentang Penafsiran Sufistik