Validitas merupakan sejauhmana ketepatan dan kecermatan suatu alat ukur dalam melakukan fungsi ukurnya. Validitas ditentukan oleh ketepatan dan kecermatan hasil pengukuran. Pengukuran sendiri dilakukan untuk mengetahui seberapa banyak (dalam arti kuantitatif) suatu aspek psikologis terdapat dalam diri seseorang, yang dinyatakan oleh skornya pada instrumen pengukuran yang bersangkutan (Azwar, 1997).
Dalam penellitian ini, peneliti menggunakan uji validitas berupa validitas isi. Menurut Azwar (1997), validitas isi merupakan validitas yang diestimasi lewat pengujian terhadap isi tes dengan analisis rasional atau lewat professional judgment. Pertanyaan yang dicari jawabannya dalam validitas ini adalah ”suatu instrumen dikatakan valid bila item-item dalam tes tersebut
mencakup keseluruhan kawasan isi objek yang hendak diukur”. Dengan kata
lain, item-item yang ada dalam instrumen itu isinya harus relevan dan tidak keluar dari batasan tujuan ukur (Azwar, 1997).
Peneliti menggunakan pengujian terhadap isi tes dengan analisis rasional. Peneliti menggunakan sebuah uji coba untuk mengetahui validitas sebuah instrumen. Dikarenakan, Instrumen tes kognitif harus diujicobakan di lingkungan populasi penelitian, setelah itu hasil uji coba lalu dianalisis untuk mengetahui tingkat validitas isinya (content validity) dan reliabilitas dari instrumen tersebut (Reksoatmodjo, 2007).
Validitas isi akan menunjukkan tingkat kesesuaian soal-soal dengan isi pekerjaan yang akan diukur. Untuk maksud ini dilakukan uji indeks kesukaran item dan uji daya diskriminasi item soal-soal (Reksoatmodjo, 2007). Berikut pemaparannya:
a) Uji Indeks Kesukaran Item
Indeks kesukaran item merupakan rasio antara penjawab item dengan benar dan banyaknya penjawab item. Secara teoretik dikatakan bahwa p sebenarnya merupakan probabilitas empiric untuk lulus item tertentu bagi kelompok siswa tertentu (Azwar, 1996). Formula indeks kesukaran item adalah:
Tabel 3.4
Uji Indeks Kesukaran Item P = ni / N
46
Molly Novianti, 2013
Efektivitas Jenis Permainan Montessori Dalam Meningkatkan Kognitif Anak Universitas Pendidikan Indonesia | repository.upi.edu | perpustakaan.upi.edu
Azwar (1996) Keterangan:
P : Indeks kesukaran item
ni : Banyaknya siswa yang menjawab item dengan benar N : Banyaknya siswa yang menjawab
Dalam menentukan seberapa jauh kesulitan soal, maka indeks kesulitan soal dapat diklasifikasikan sebagai berikut (Reksoatmodjo, 2009):
1) P = 0,00 s/d 40,0 berarti soal sulit
2) P = 41,0 s/d 70,00 berarti soal sedang
3) P = 71,0 s/d 100,0 berarti soal mudah
Berdasarkan hasil uji coba instrumen yang telah dilakukan oleh peneliti dengan perhitungan manual, didapatkan hasil uji indeks kesukaran item sebagai berikut (untuk perhitungan secara rinci terlampir):
Tabel 3.5
Hasil Uji Indeks Kesulitan
Nomor Soal Hasil Kategorisasi
1 0,88 Mudah 2 0,53 Sedang 3 0,88 Mudah 4 0,47 Sedang 5 0,82 Mudah 6 0,41 Sedang
b) Uji Indeks Daya Diskriminasi Item
Daya indeks diskriminasi item adalah kemampuan item dalam membedakan antara siswa yang mempunyai kemampuan tinggi (dalam hal ini diwakili oleh mereka yang termasuk kelompok tinggi) dan siswa yang mempunyai kemampuan rendah (diwakili oleh mereka yang termasuk dalam kelompok rendah). Suatu item yang dikatakan mempunyai daya diskriminasi tinggi haruslah dijawab dengan benar oleh semua atau sebagian besar subjek kelompok tinggi dan tidak dapat
dijawab dengan benar oleh semua atau sebagian besar subjek kelompok rendah. Semakin besar perbedaan antara proporsi penjawab benar dari kelompok tinggi dan dari kelompok rendah, semakin besarlah daya diskriminasi suatu item (Azwa, 1996).
Seperti yang telah dikemukakan, daya diskriminasi suatu item merupakan perbedaan proporsi penjawab item dengan benar antara kelompok tinggi dan kelompok rendah, karena itu formula daya diskriminasi item adalah:
Tabel 3.6
Uji Indeks Daya Diskriminasi Item
Azwar (1996) Keterangan:
nir : Banyaknya penjawab item dengan benar dari kelompok tinggi Nt : Banyaknya penjawab dari kelompok tinggi
nir : Banyaknya penjawab item dengan benar dari kelompok rendah Nr : Banyaknya penjawab dari kelompok rendah
Dalam hubungan ini, seorang ahli yaitu Ebel (dalam Azwar, 1996) menyarankan kriteria evaluasi indeks diskriminasi dalam empat kategori yaitu:
Tabel 3.7
Kriteria Evaluasi Indeks Diskriminasi Indeks
Diskriminasi
Evaluasi
> 0,40 Bagus Sekali
0,30 – 0,39 Lumyan bagus tapi mungkin masih perlu peningkatan
0,20 – 0,29 Belum memuaskan, perlu diperbaiki < 0,20 Jelek dan harus dibuang
48
Molly Novianti, 2013
Efektivitas Jenis Permainan Montessori Dalam Meningkatkan Kognitif Anak Universitas Pendidikan Indonesia | repository.upi.edu | perpustakaan.upi.edu
Berdasarkan hasil uji coba instrumen yang telah dilakukan oleh peneliti dengan perhitungan manual, didapatkan hasil uji indeks diskriminasi item adalah (perhitungan secara rinci terlampir):
Tabel 3.8
Hasil Uji Daya Diskriminasi Item Nomor Soal Hasil Kriteria
1 0,4 Bagus Sekali 2 0,4 Bagus Sekali 3 0,4 Bagus Sekali 4 0,4 Bagus Sekali 5 0,4 Bagus Sekali 6 0,8 Bagus Sekali
Karena nilai yang diperoleh rata-rata diatas > 0,4 yaitu dengan kriteria bagus sekali, maka dapat disimpulkan bahwa item-item yang digunakan peneliti dalam variabel perkembangan kognitif telah memenuhi kriteria dan dapat diterima untuk dianalisis lebih lanjut. 2. Reliabilitas Instrumen
Menurut Azwar (2010), reabilitas adalah sejauhmana hasil suatu pengukuran dapat dipercaya. Hasil pengukuran dikatakan reliabel apabila dalam beberapa kali pelaksanaan pengukuran terhadap kelompok subjek yang sama diperoleh hasil yang relatif sama selama aspek yang diukur dalam diri subjek memang belum berubah (Azwar, 2010).
Dalam menghitung koefisien reliabilitas penelitian ini menggunakan prinsip konsistensi internal (internal consistency), yaitu pengujian akan konsistensi antar bagian atau konsistensi antar item dalam tes (Azwar, 1997). Rumus yang dipakai adalah rumus koefisien Spearman-Brown, dikarenakan formula yang sangat popular untuk estimasi reliabilitas tes yang dibelah menjadi dua bagian yang relatif paralel satu dengan yang lainnya. Serta,
formula ini dapat digunakan pada tes yang item-itemnya diberi skor dikotomi maupun bukan dikotomi (Azwar, 1997). Rumus koefisien Spearman-Brown adalah sebagai berikut:
Tabel 3.9 Spearman-Brown
Azwar (1997) Keterangan:
rxxᶦ : Koefisien reliabilitas Spearman-Brown
rΌ. : Koefisien korelasi antara kedua belahan
Untuk mengetahui reliabilitas sebuah variabel pada formula spearman-Brown ini, maka sebelumnya dilakukan terlebih dahulu perhitungan pada koefisien korelasi antara kedua belahan. Berikut merupakan rumus koefisien korelasi antara kedua belahan:
rxy = ∑ XY –(∑ X) (∑ Y) / n √ (∑ X2–(∑ X) 2/ n) (∑ Y2–(∑ Y)2
/ n)
Azwar (1997) Keterangan:
rxy = Koefisien korelasi antara X dan Y n = Banyaknya subjek
X = Skor belahan 1 Y = Skor belahan 2
Dalam prinsip umum yang digunakan untuk menafsirkan tinggi rendahnya koefisien reliabilitas instrumen, penelitian ini didasarkan pada koefisien reliabilitas menurut Guilford (Subino, 1987) dengan kriteria:
2 (r . ) S-B = rxxᶦ = _________
50
Molly Novianti, 2013
Efektivitas Jenis Permainan Montessori Dalam Meningkatkan Kognitif Anak Universitas Pendidikan Indonesia | repository.upi.edu | perpustakaan.upi.edu
Tabel 3.10
Kriteria Reliabilitas Giulford Derajat Reliabilitas Interpretasi
0,900 – 1.00 Sangat Tinggi 0,70 – 0,90 Tinggi 0,40 – 0,70 Sedang 0,20 – 0,40 Rendah 0,00 – 0,20 Sangat Rendah
Berdasarkan hasil uji relibilitas yang telah dilakukan terhadap instrumen perkembangan kognitif dengan perhitungan manual, didapatkan koefisien reliabilitas sebesar 0,76 (perhitungan secara rinci terlampir):
Tabel 3.11 Hasil Uji Reliabilitas
Hasil Interpretasi
0,76 Tinggi
Karena nilai yang diperoleh di atas 0,76 maka dapat disimpulkan bahwa reliabilitas instrumen variabel perkembangan kognitif dikategorikan tinggi dan dapat diterima untuk dianalisis secara lebih lanjut.