BAB III. VALUASI EKONOMI SUMBERDAYA ALAM PESISIR DAN LAUT
3.4. Langkah-Langkah Penilaian Valuasi ekonomi Sumberdaya Alam Pesisir dan Laut
3.4.3 Valuasi Ekonomi Sumberdaya Mineral Lepas Pantai
Suatu dampak kegiatan terhadap lingkungan hidup dikatakan sebagai dampak penting apabila mempunyai kriteria sebagai berikut:
x Jumlah manusia yang terkena dampak cukup banyak, x Wilayah persebaran dampak cukup luas,
x Intensitas dampak cukup tinggi dan berlangsung lama, x Banyak komponen lingkungan lainnya yang terkena dampak, x Dampak yang bersangkutan bersifat kumulatif,
x Dampak lingkungan itu bersifat tidak terbalik (irreversible).
Tabel 3. 6. Identifikasi Manfaat dan Fungsi Sumberdaya Mineral Lepas Pantai
USE VALUE NON USE VALUE
DIRECT USE VALUE
INDIRECT USE VALUE
OPTION VALUE EXISTENCE VALUE
BIQUEST VALUE
Bahan urugan Kualitas Air Laut Obyek penelitian
Bahan bangunan Flora dan Fauna
Bahan baku
industri
Wilayah nelayan tradisional
Jalur pelayaran Jalur kabel laut
2. Mengkuantifikasi besarnya dampak
Untuk mengetahui harga setiap manfaat di atas dilakukan kuantifikasi segenap manfaat dan fungsi ke dalam nilai uang. Teknik kuantifikasi yang digunakan adalah sebagai berikut : (1) Nilai Pasar, (2) Harga Tidak Langsung dan (3) Metode nilai kontingensi
3. Merupiahkan besarnya dampak
Untuk mengetahui harga setiap manfaat dari sumberdaya mineral lepas pantai yang paling tepat digunakan harga pasar.
Sumberdaya mineral sebagai bahan bangunan, yaitu seluruh sumberdaya mineral tersebut
digunakan sebagai campuran dengan semen. Sumberdaya mineral lepas pantai biasanya didominasi oleh mineral-mineral kuarsa yang bagus untuk bahan bangunan. Sebelum digunakan mineral-mineral tersebut dicuci terlebih dahulu untuk menghilangkan kadar garam yang tinggi. Harga setiap meter kubik mineral tergantung pasar, dan biasanya dijual tidak jauh dari lokasi penambangan.
Sumberdaya mineral lepas pantai sebagai material urugan, yaitu seluruh bahan galian
yang digali dari dasar laut digunakan sebagai bahan urugan, walaupun didalam bahan galian tersebut kemungkinan terkandung berbagai jenis mineral berharga. Contoh untuk jenis ini adalah pasir laut dari perairan Provinsi Riau yang marak dijual ke Singapura. Nilai dari mineral tersebut biasanya dihargai dengan harga pasar lokal. Sebagai contoh adalah pasir laut dari perairan Riau yang dijual hanya ke Singapura, meskipun sudah lintas Negara tetapi dilihat dari jaraknya masih dianggap pasar lokal.
Sumberdaya mineral lepas pantai sebagai bahan baku industri, yaitu bahan galian yang
diambil dari dasar laut kemudian diekstrak dan didapatkan mineral-mineral berharga seperti: magnetit, zircon, illmenit, monzonit, rutil, casiterit, emas dan platina. Nilai dari masing-masing
mineral dapat dilihat pada harga pasar, baik pasar lokal, regional, maupun internasional. Harga lokal dapat diketahui secara langsung di daerah survey, sedangkan harga regional dan internasional dapat dilihat pada internet.
4. Analisis Ekonomi
Suatu kegiatan atau proyek harus dipandang dari berbagai kelayakan (feasibility), diantaranya adalah kelayakan teknis, kelayakan finansial, kelayakan ekonomi, kelayakan sosial budaya, dan kelayakan lingkungan.
Net Present Value (NPV)
Setelah perkiraan nilai biaya dan manfaat suatu proyek atau kegiatan diperoleh, maka analisis mengenai layak atau tidaknya suatu kegiatan atau proyek harus dibuat. Salah satu cara yang umum dipakai adalah menghitung nilai sekarang bersih (net present value = NPV), yaitu dengan cara mengurangkan semua nilai manfaat dengan semua nilai biaya yang seluruhnya dinyatakan dalam nilai sekarang. Apabila positip (NPV > 0), maka proyek atau kegiatan dinyatakan layak. Dalam rangka penentuan besarnya pungutan lingkungan, maka yang digunakan sebagai alat analisis adalah analisis biaya dan manfaat yang telah dikembangkan (extended net present value). Untuk jenis sumberdaya mineral digunakan rumus (Abelson, P., 1979) sebagai berikut:
n (PQ – SC + Eb – Ec)i NPV = ---
i = 1 (1+r)i
dimana:
NPV = Net Present Value P = Price of Mineral
Q = Quantity sold
SC = Social Cost of resources used in production
Eb = External Benefits (include social assets created by the mineral companies, such as roads and ports)
Ec = External Cost (water pollution and distruction of fauna and flora) r = The discount rate
i = year in the life of the project
n = number of years in the life of the project
Benefit Cost Ratio (BCR)
Selain analisis NPV, dalam analisis kelayakan proyek dikenal analisis perbandingan antara manfaat dan biaya proyek atau kegiatan yang umum disebut sebagai benefit – cost ratio analysis (BCR). Cara ini dilakukan dengan cara membandingkan antara total manfaat proyek terhadap total biaya proyek, yang semuanya dinyatakan dalam nilai sekarang. Nilai biaya dan manfaat juga harus dihitung dengan memasukkan unsur biaya dan manfaat eksternal (unsur lingkungan). Kriteria kelayakan suatu proyek atau kegiatan adalah sebagai berikut:
x Apabila nilai B/C > 1, maka proyek atau kegiatan dinyatakan layak.
Daftar Pustaka
DAFTAR PUSTAKA
Abelson, P. 1979. Cost Benefit Analysis and Environmental Problems. Itchen Printers Limited, Southampton. England.
Alino, P. M., A. J. Uichiaco, N. A. Bermas, and E. D. Gomez. 1992. Assemblage Stucture of Coral
Reef Fish : Multi-scale Correlatons With Environmental Variables. In : Chou, L. M & C. R. Wilkinson (eds.). 1992 Third ASEAN Scince Technology Week Conference Proceedings, Vol. 6:Marine Science: Living Coastal Resources, 21-23 Sept. 1992. Singapore. Dept. of Zoology, National University of Singapore and National Science and Technology Board, Singapore.
Barbier, R., E. B. M. Acreman, and D. Nowler. 1997. Economic Valuation of Wetland : A Guide for Makers and Planners. RAMSAR Convention Berau, Gland. Switzerland.
Barton, D. N. 1994. Economic Factors and Valuation of Tropical Coastal Resources. Universiteit I Bergen. Senter for Miljo-Og Ressursstudier. Norway.
Cesar, H., 1996. "Economic Analysis of Indonesian Coral Reefs." World Bank Environment
Department Department Paper, Environmentally Sustainable Development Vice Presidency. December 1996. The World Bank.
Dahuri, 1995. Studi Pengembangan Kebijaksanaan Ekosistem Lingkungan. PPLH IPB dan Kantor Kementerian Negara Lingkungan Hidup.
Dahuri, R., J. Rais, S. P. Ginting., dan M. J. Sitepu. 1996. Pengelolaan Sumberdaya Wilayah Pesisir dan Lautan Secara Terpadu. Pradnya Paramita, Jakarta.
Davis, R., 1963. Recreation Planning as an Economic Problem. Natural Resource Journal 3, 239-249.
Djajadiningrat, S.T. 2001. Untuk Generasi Masa Depan: Tantangan dan Permasalahan Lingkungan. Studio Tekno Ekonomi ITB. Bandung
Fauzi, Akhmad., 1999. Teknik Valuasi Sumberdaya Alam dan Lingkungan. Bahan pelatihan “Manajemen Lingkungan Segara Anakan”. Bogor, Agustus 1999.
Fauzi, Akhmad., 2002. Teknik Valuasi Ekonomi Sumberdaya Pesisir dan Lautan. Bahan pelatihan “Pengelolaan Sumberdaya Wilayah Pesisir dan Lautan, Universitas Diponegoro”. Semarang, Maret 2002.
Field, B.C. 1994. Environmental Economics: An introduction. McGraw-Hill Book Co.
Hutomo, M. (1987), "Coral Fish Resources and Their Relation to Reef Condition: Some Case Studies in Indonesian Waters", Coral Reef Management in Southeast Asia. Vol. 29, pp. 67-8 1.
Krutila, J. (1967). Conservation Reconsidered. American Economic Review, 57, 787-796
Kusumastanto, T. 2000. Ekonomi Sumberdaya dan Lingkungan. Program Pengelolaan Sumberdaya Pesisir dan Lautan, Program Pasca Sarjana. Institut Pertanian Bogor. Bogor.
Kusumastanto, T Dan Purwanto, A.B. 2001. Metode Penghitungan Nilai Ekonomi Sumberdaya Alam. Prosiding Rapat Koordinasi Teknis Neraca Sumberdaya Alam Spasial. BAKOSURTANAL.
Maynard M. Huftschmidt, David James, Anton D. Meister, Blair T. Bower, John Dixon. 1983. Environment, Natural Systems, and Development: An Economic Valuation Guide. The John Hopkins University Press, Baltimore. hal. 170-261.
Nugroho, B, 2001. Paparan Teoritis : Menghitung Nilai Ekonomi Sumberdaya Hutan. Najalah Surili Edisi 21/2001(hal 17 21).
Nybakken, J. W. 1988. Biologi Laut Suatu Pendekatan Ekologis (Terjemahan Muhammad Eidman, Koesoebiono, Dietriech G. B., Malikusworo Hutomo Dan Sukristijono). Penerbit PT. Gramedia. Jakarta.
Pearce, D.W. 1986. The Economics of Natural Resource Management. Projects Policy Department. The World Bank. Washington.
Repetto, R. et. Al. 1992. Green Fees: How a tax shift can work for the environment and the economy.
Ruitenbeek, H. J. 1991. Mangrove Management : An Economic Analysis of Management Options with a Focus on Bintuni Bay, Irian Jaya. EMDI/KLH. Jakarta.
Saragih, H. H. 1993. Keadaan Umum Perikanan di Kecamatan Percut Sei Tuah, Kabupaten Deli Serdang Provinsi Sumatera Utara. Fakultas Perikanan IPB. Bogor.
Suparmoko, M. 1998. Ekonomi Sumberdaya Alam dan Lingkungan. BPFE, Yogyakarta.
Suparmoko dan Maria R. Suparmoko. Ekonomika Lingkungan. 2000. BPFE Yogyakarta. hal. 101-132.
Suparmoko, M. 2002. Penilaian Ekonomi : Sumberdaya Alam dan Lingkungan (konsep dan Metode Penghitungan). LPPEM Wacana Mulia, Jakarta.
The Centre for Social and Economics Research on the Global Environment (CSERGE). 1994. Economic Values and the Environment in the Development Wolrd, A Report to the UNEP, Nairobi.
Tietenberg, T. 1995. Environmental and Natural Resources Economics. HarperCollins Publishers, Inc., New York.
Daftar Istilah
DAFTAR ISTILAH
Neraca sumberdaya lahan pesisir adalah “timbangan” yang disusun untuk mengetahui
besarnya cadangan awal sumberdaya lahan pesisir yang dinyatakan dalam aktiva, dan besarnya pemanfaatan yang dinyatakan dengan pasiva, sehingga perubahan cadanagn dapat diketahui besarnya sisa cadngan yang dinyatakan dalam slado dalam satu kurun waktu.
Neraca sumberdaya mineral adalah suatu alat evaluasi sumberdaya mineral, yang menyajikan
cadangan awal, perubahan/pemanfaatan, dan keadaan akhir dalam bentuk tabel dan peta penyebaran sumberdaya mineral.
Peta adalah gambaran dari permukaan bumi pada suatu bidang datar yang dibuat secara
kartografis menurut proyeksi dan skala tertentu dengan menyajikan unsur-unsur alam dan buatan serta informasi lainnya yang diinginkan.
Peta aktiva adalah peta yang menggambarkan kondisi keadaan awal suatu sumberdaya.
Peta neraca adalah peta hasil tumpang tindih (overlay) peta aktiva dan pasiva, sehingga
memberikan gambaran keadaan awal, perubahan yang terjadi dan keadaan akhir.
LAMPIRAN
LAMPIRAN 1. CONTOH PERHITUNGAN NILAI EKONOMI TOTAL HUTAN MANGROVE 1. Nilai Guna Langsung
a). Nilai Kayu log
Nilai manfaat kayu log dihitung berdasarkan data, tegakan, kerapatan dan diameter kayu tersebut. Nilai kayu mangrove per ha dapat dihitung dengan menggunakan rumus ;
Nilai kayu mangrove = Vha x H= 1/2ȺD2TK x H – B (Rp.m3/ha/th) Dimana :
Vha = Volume kayu mangrove per hektar per tahun
H = Harga kayu mangrove
T = Tinggi rata-rata K = Kerapatan rata-rata D = Diameter rata-rata B = Biaya operasional
b). Nilai lkan
Nilai ikan dihitung berdasarkan jumlah hasil tangkapan pertahun dikalikan dengan harga jual. Nilai ikan = (T x H) – B (Rp/ha/th)
Dimana :
T = Tangkapan ikan (kg/ha/th) H = Harga jual (Rp/kg)
B = Biaya operasional (Rp)
c). Nilai Udang
Nilai udang dihitung berdasarkan jumlah hasil tangkapan pertahun dikalikan dengan harga jual. Nilai udang = (T x H) – B (Rp/ha/th)
Dimana :
T = Tangkapan udang (kg/ha/th) H = Harga jual (Rp/kg)
B = Biaya operasional (Rp)
d). Nilai Kepiting
Nilai kepiting dihitung berdasarkan jumlah hasil tangkapan pertahun dikalikan dengan harga jual.
Nilai kepiting = (T x H) – B (Rp/ha/th) Dimana :
T = Tangkapan kepiting (ekor/ha/th) H = Harga jual (Rp/ekor)
B = Biaya operasional (Rp)
e). Nilai Burung
Nilai burung dihitung berdasarkan jumlah hasil tangkapan pertahun dikalikan dengan harga jual. Nilai burung = (T x H) – B (Rp/ha/th)
Dimana :
T = Tangkapan burung (ekor/ha/th) H = Harga jual (Rp/ekor)
B = Biaya operasional (Rp)
f). Nilai Kerang
Nilai kerang dihitung berdasarkan jumlah hasil tangkapan pertahun dikalikan dengan harga jual. Nilai kerang = (T x H) – B (Rp/ha/th)
Lampiran
T = Tangkapan kerang (kg/ha/th) H = Harga jual (Rp/kg)
B = Biaya operasional (Rp)
2. Manfaat tidak Langsung a). Fungsi biologis
Manfaat tidak langsung ekosistem hutan mangrove di antaranya adalah sebagai tempat penyediaan pakan (feeding ground), tempat pembesaran (nursery ground) dan tempat pemijahan (spawning ground) ikan. Manfaat ini dapat didekati dengan jumlah hasil tangkapan ikan di perairan sekitar hutan mangrove tersebut dikurangi biaya investasi dan operasional (asumsi fungsi ini tersebar secara merata). Nilai yang diperhitungkan ini tidak meliputi ikan hasil tangkapan laut lepas pantai yang dianggap tidak memanfaatkan fungsi hutan tersebut.
Nilai fungsi biologis = (T x H) – B (Rp/ha/th) Dimana :
T = Tangkapan ikan (kg/ha/th) H = Harga jual (Rp/kg)
B = Biaya operasional (Rp)
b). Fungsi Fisik
Selain itu, ekosistem hutan mangrove juga berfungsi sebagai pelindung pantai dari gelombang laut. Nilai ini dihitung melalui pendekatan biaya pembuatan beton yang setara dengan fungsi hutan mangrove sebagai penahan abrasi.
Nilai fungsi fisik = (P L D) x Dt x Pgp x B (Rp/ha/th) Dimana :
P L D = Pemecah gelombang berukuran Panjang x Lebar x Dalam (m3) Dt = Daya tahan (th)
Pgp = Panjang garis pantai (m) B = Biaya standar beton (Rp)
3. Nilai Pilihan
Nilai plihan dapat diketahui dengan menggunakan Contingent Valuation Method. Nilai pilihan hasil penelitian Ruintenbeek, 1991 sebesar US$ 1.500/km2/th dapat pula dijadikan sebagai acuan dengan asumsi hutan mangrove tersebut berfungsi penting secara ekologis dan tetap terpelihara.
4. Nilai Eksistensi
Nilai ini juga dapat diketahui melalui pendekatan Contingent Valuation. Nilai Rupiah (rata-rata)/m2/th yang diperoleh dari sejumlah responden merupakan nilai eksistensi hutan mangrove tersebut. Fakhrudin, 1996 dalam Fauzi, 1999, mendapatkan nilai eksistensi hutan mangrove sebesar Rp 33,5 milyar/th untuk kawasan hutan mangrove di Kab. Subang.
5. Nilai Ekonomi Total Hutan Mangrove
Nilai ekonomi total hutan mangrove merupakan perjumlahan nilai manfaat langsung, manfaat tidak langsung, manfaat pilihan dan manfaat eksistensi.
LAMPIRAN 2. CONTOH PERHITUNGAN NILAI EKONOMI TOTAL TERUMBU KARANG 1. Manfaat Langsung
a). Nilai Ikan
Nilai ikan dihitung berdasarkan jumlah hasil tangkapan pertahun dikalikan dengan harga jual. Bila dari luas lahan 100 ha didapatkan hasil tangkapan ikan 3.000 kg/th dengan harga jual Rp 2.000/kg dikurangi biaya operasional Rp 100.000/th maka diperoleh nilai ikan = (3.000 kg/th x Rp 2.000/kg) – Rp 100.000 = Rp 5.900.000/th.
b). Nilai Marikultur
Nilai marikultur dihitung berdasarkan biaya pembuatan sebuah marikultur. c). Nilai Perdagangan Akuarium
Nilai perdagangan akuarium dihitung berdasarkan jumlah hasil tangkapan pertahun ikan hias untuk keperluan akuarium dikalikan dengan harga jual. Bila dari luas lahan 100 ha didapatkan hasil tangkapan ikan hias 2.000 ekor/th dengan harga jual Rp 5.000/ekor dikurangi biaya operasional Rp 100.000/th (pancing, umpan, wadah dsb) maka diperoleh nilai = (2.000 ekor/th x Rp 5.000/ekor) - Rp 100. 000 = Rp 9.900. 000/th.
d). Nilai Udang
Nilai udang dihitung berdasarkan jumlah hasil tangkapan pertahun dikalikan dengan harga jual. Bila dari luas lahan 100 ha didapatkan hasil tangkapan udang 10.000 kg/th dengan harga jual Rp 10.000/kg dikurangi biaya operasional Rp 1.000.000/th (jaring udang) maka diperoleh nilai = (10.000 kg/th x Rp 10.000/kg) - Rp 1.000.000 = Rp 90.000.000/th.
e). Nilai Kerang
Nilai kerang dihitung berdasarkan jumlah hasil tangkapan pertahun dikalikan dengan harga jual. Bila dari luas lahan 100 ha didapatkan hasil kerang 1.000 kg/th dengan harga jual Rp 1.500/kg dikurangi biaya operasional Rp 30.000/th maka diperoleh nilai = (1.000 kg/th x Rp 1.500/kg) - Rp 30.000 = Rp 1.470.000/th.
f). Nilai Kepiting
Nilai kepiting dihitung berdasarkan jumlah hasil tangkapan pertahun dikalikan dengan harga jual. Bila dari luas lahan 100 ha didapatkan hasil tangkapan kepiting 2.000 ekor/th dengan harga jual Rp 500/ekor dikurangi biaya operasional Rp 100.000/th (pancing, umpan, wadah dsb) maka diperoleh nilai = (2.000 ekor/th x Rp 500/ekor) - Rp 100. 000 = Rp 1. 900. 000/th.
g). Nilai Wideng
Nilai belut dihitung berdasarkan jumlah hasil tangkapan pertahun dikalikan dengan harga jual. Bila dari luas lahan 100 ha didapatkan hasil tangkapan wideng 5.000 kg/th dengan harga jual Rp 500/kg dikurangi biaya operasional Rp 100.000/th maka diperoleh nilai = (5.000 kg/th x Rp 500/kg) - Rp 100.000 = Rp 2.400.000/th.
h). Nilai Ular
Nilai ular yang diperoleh dari ekosistem hutan mangrove dihitung berdasarkan hasil tangkapan pembiayaan pertahun dengan menggunakan jaring. Misalkan, dari 100 ha hutan mangrove dihasilkan ular 1.000 kg/th dengan harga jual Rp 1.000/kg maka dalam satu tahun diperoleh nilai ular = (1.000 x Rp 1.000/kg) = Rp 1.000.000. Bila modal jaring Rp 50.000 maka nilai bersihnya = Rp 950. 000.
i). Nilai Burung
Nilai burung dihitung berdasarkan jumlah hasil buruan pertahun dikalikan dengan harga jual. Bila dari luas lahan 100 ha didapatkan hasil tangkapan burung 2.000 ekor/th dengan harga jual Rp 1.000/ekor dikurangi biaya operasional Rp 250.000/th (senapan angin dan mimisnya) maka diperoleh nilai= (2.000 kg/th x Rp 1.000/kg) - Rp 250.000 = Rp 1.750.000/th.
Lampiran
2. Manfaat Tidak Langsung
a). Fungsi Biologis
Manfaat tidak langsung ekosistem terumbu karang diantaranya adalah sebagai tempat penyediaan pakan (feeding ground), tempat pembesaran (nursery ground) dan tempat pemijahan (spawning ground) ikan, kura-kura dan burung laut. Manfaat ini dapat didekati dengan jumlah hasil tangkapan ikan, kura-kura dan burung laut di perairan sekitar terumbu karang tersebut dikurangi biaya investasi dan operasional (asumsi fungsi ini tersebar secara merata). Nilai yang diperhitungkan ini tidak meliputi ikan hasil tangkapan laut lepas pantai yang dianggap tidak memanfaatkan fungsi terumbu karang tersebut.
b). Fungsi Fisik
Selain itu, ekosistem terumbu karang juga berfungsi sebagai pelindung pantai dari gelombang laut. Nilai ini dihitung melalui pendekatan biaya pembuatan beton yang setara dengan fungsi terumbu karang sebagai penahan abrasi. Hasil perhitungan (Dahuri, 1995) biaya standar beton pemecah gelombang berukuran 1 m x 5 m x 6 m (panjang x lebar x dalam) dengan daya tahan 10 th adalah Rp 3.000.000 diketahui dengan cara mengalikan nilai standar tersebut dengan panjang garis pantainya. Seandainya panjang garis tersebut adalah 30.000 m maka diperoleh nilai fungsi sebesar Rp 90 milyar/ 10 th atau Rp 9 milyar/th. Nilai kerusakan suatu ekosistem terumbu karang ekuivalen dengan biaya pembuatan terumbu karang buatan.
c). Fungsi Estetik
Ekosistem terumbu karang yang kaya akan keanekaragaman bentuk karang dan ikan-ikan karang menjadi daya tarik tersendiri bagi para wisatawan dan ilmuwan. Oleh karena itu nilai fungsi estetik terumbu karang dapat dihitung dengan biaya yang dikeluarkan untuk menikmati keindahan terumbu karang yang dapat dihitung dengan Travel Cost Method. Didalamnya mencakup biaya perjalanan untuk mencapai daerah terumbu karang tersebut (biaya bahan bakar, sewa perahu), biaya peminjaman alat selam (masker, snorkel, SCUBA), biaya penginapan dan lain-lain. Indeks mortalitas Hard Coral dapat digunakan sebagai proxy untuk menggambarkan kondisi terumbu karang yang ada.
3. Nilai Pilihan
Nilai pilihan dapat diketahui dengan menggunakan metode Contingent Valuation. Nilai pilihan hasil penelitian Ruintenbeek, 1991 sebesar US$ 1.500/km2/th dapat pula dijadikan sebagai acuan dengan asumsi terumbu karang tersebut berfungsi penting secara ekologis dan tetap terpelihara.
4. Nilai Eksistensi
Nilai ini juga dapat diketahui melalui Pendekatan Contingent Valuation. Nilai Rupiah (rata-rata)/m2/th yang diperoleh dari sejumlah responden merupakan nilai eksistensi terumbu karang tersebut.
5. Nilai Ekonomi Total Terumbu Karang
Nilai ekonomi total terumbu karang merupakan penjumlahan nilai manfaat langsung, manfaat tidak langsung, manfaat pilihan dan manfaat eksistensi.