• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB III METODE PENELITIAN

3.4. Variabel Penelitian

Dalam penelitian ini, variabel yang diamati pada pengukuran kinerja kriteria bangunan hijau Gedung Universitas Islam Negeri Sumatera Utara mengacu pada Greenship untuk Gedung Baru. variabel-variabel tersebut terdiri dari 6 (enam) matriks kelayakan bangunan, 8 kriteria prasyarat, dan 37 kriteria kredit, 1 kriteria bonus.

3.5. Survei Pendahuluan

Survei pendahuluan ini dilakukan sebelum melakukan pengukuran dengan cara:

a. Orientasi (melihat-lihat atau meninjau) gedung.

b. Melakukan pertemuan terbuka dengan pihak gedung untuk menyampaikan informasi bagaimana penelitian pada gedung akan dilakukan sehingga mendapatkan persetujuan dalam bentuk kerjasama serta mendapatkan informasi penting yang berhubungan dengan penelitian.

3.6. Metode Pengumpulan Data

Teknik pengumpulan data adalah cara-cara yang digunakan untuk mengumpulkan data. Data adalah fakta atau fenomena yang sifatnya mentah atau belum dianalisis, seperti angka, nama, keterangan dan sebagainya. Dalam penelitian ini diperlukan data primer dan data sekunder untuk mendukung keakuratan hasil penelitian ini. Adapun metode atau teknik pengumpulan data yang dilakukan peneliti untuk mendapatkan data-data tersebut yaitu:

3.6.1. Data Primer

Data primer merupakan data yang dikumpulkan dan diolah sendiri oleh peneliti langsung dari objek penelitian dengan cara:

1. Pengamatan langsung

Peneliti melakukan pengukuran langsung pada objek penelitian yaitu Gedung Universitas Islam Negeri Sumatera Utara untuk mengukur penilaian tingkat green building yang perlu diamati dengan baik sesuai dengan kriteria yang ada di kuesioner Green Building Council Indonesia.

2. Wawancara dan Kuesioner

Dalam penelitian ini ada enam narasumber yang diwawancarai, yang mengetahui konsep bangunan hijau secara umum dan mengetahui konsep perencanaan serta pelaksaan konstruksi dalam pembangunan gedung Universitas Islam Negeri Suamatera Utara. Wawancara dilakukan dengan tujuan untuk memastikan hasil dari kuesioner yang telah diisi sebelumnya oleh narasumber tersebut. Dalam hal ini narasumber yang dimaksud adalah

Project Manager : Iswandi Idris Petugas K3 : Ade Irma Siregar

Drafter : Arby Wibowo

Pengawas Lapangan : Ahmad Rivai Sihotang Admin Teknik : Muhammad Arief Rizqy Staf Teknik : Rahmat Syukur Harahap

STRUKTUR ORGANISASI PROYEK PEMBANGUNAN GEDUNG KULIAH TERPADU UNIVERSITAS ISLAM NEGERI SUMATERA UTARA

2018

PROJECT MANAGER ISWANDI IDRIS

SITE MANAGER FERDIANSYAH SIREGAR

KEUANGAN IIN EFRIANI

PETUGAS K3 ADE IRMA SIREGAR

DRAFTER ARBY WIBOWO

PENGAWAS LAPANGAN A. RIVAI SIHOTANG

ADMIN TEKNIK M. RIVAI SIHOTANG

QS/QC M. YUSUF

PELAKSANA LAPANGAN WAK URIK

MANDOR LAPANGAN

MANDOR LAPANGAN MANDOR LAPANGAN

PEKERJA

LOGISTIK

1. AYU MANDASARI 2. EDI

3.6.2. Data Sekunder

Data sekunder merupakan data yang diperoleh dalam bentuk yang sudah jadi, sudah dikumpulkan dan diolah serta sudah dipublikasikan oleh pihak lain.

3.7. Proses Penelitian

Dalam melakukan penelitiaan diperlukan tahapan- tahapan atau yang lebih dikenal proses penelitian. Urutan proses penelitian yang akan di lakukan dapat di lihat pada gambar berikut :

3.7.1. Flowchart

Gambar 3.5. Bagan Alir Penelitian

Studi literatur

Pengumpulan Data

Pengolahan dan Analisis Data Menggunakan Analisa Deskriptif

Hasil Penelitian Pemilihan Strategi Penelitian

Penyusunan Instrumen Penelitian

Survei Pendahuluan Penelitian

Analisis Penerapan Green Building Pada Gedung Perkuliahan Universitas Islam Negeri Sumatera Utara

Hasil Penelitian & Saran

Data Sekunder - Greenshipgedung baru versi 1.2 - Gambar bangunan gedung UINSU - Rencana kerja dan syarat –syarat pembangunan gedung UINSU Data Primer

-Pengamatan langsung - Kuesioner

- Wawancara

BAB 4

HASIL DAN PEMBAHASAN

4.1. Kondisi Eksisting Gedung Perkuliahan Universitas Islam Negeri Sumatera Utara

Proyek pembangunan gedung perkuliahan terpadu Universitas Sumatera Utara berada di jalan Iskandar Pasar V Kenangan Baru, Medan Estate, Percut Sei Tuan, Kabupaten Deli Serdang, Sumatera Utara, satu komplek dengan Gedung Biro Pusat Administrasi Universitas Islam Sumatera Utara (Gedung BPA UINSU), dan gedung perkuliahan fakultas Universitas Islam Negeri Sumatera Utara. Bangunan gedung ini termasuk ke dalam kategori bangunan baru. Gedung yang memiliki 6 lantai dan 1 basement dengan luas lantai keseluruhan kurang lebih 7056m2.

Tabel 4.1 Fungsi Setiap Lantai Gedung Universitas Islam Negeri Sumatera Utara Lantai Digunakan

Basement Parkir kendaraan bermotor

I Kantor

II-V Ruang perkuliahan

VI Kantin

Sumber : Pengamatan diUniversitas Islam Negeri Sumatera Utara, 2019

4.2. Syarat Kelayakan Bangunan

Sebuah gedung harus memenuhi kelayakan sebelum dilakukan proses penilaian. Kelayakan ini ditetapkan di dalam Greenship untuk Gedung Baru (New Building) berdasarkan pada Undang-Undang maupun peraturan yang telah ditetapkan oleh pemerintah. Yang harus dipenuhi tersebut antara lain:

4.2.1. Minimum luas gedung adalah 2500 m2

Luas gedung perkuliahan Universitas Islam Negeri Sumatera Utara keseluruhan adalah 7056 m2 dengan perincian seperti pada Tabel 4.1 berikut ini:

Tabel 4.2. Luas Gedung Perkuliahan Universitas Islam Negeri Sumatera Utara Lantai Luas (m2)

Basement 976

I 1168

II 1168

III 936

IV 936

V 936

VI 936

Sumber : Universitas Islam Negeri Sumatera Utara, 2019

4.2.2. Fungsi gedung sesuai dengan peruntukan lahan berdasarkan RT/RW setempat

Berdasarkan Undang-Undang No. 28 Tahun 2002 tentang Bangunan Gedung, Pasal 6 ayat (1) Pemerintah mewajibkan bangunan gedung dengan fungsi sosial dan budaya harus sesuai dengan peruntukan lokasi yang diatur dalam Peraturan Daerah tentang Rencana Tata Ruang Wilayah Kabupaten/Kota.

Berdasarkan Peraturan Presiden Republik Indonesia Nomor 62 Tahun 2011 Tentang Rencana Tata Ruang Kawasan Perkotaan Medan, Binjai, Deli Serdang, Dan Karo, pasal 18 ayat (2) butir (e), lahan peruntukan yang ada di lokasi tapak area Gedung Perkuliahan Universitas Islam Negeri Sumatera Uatara sudah memenuhi syarat tata ruang sebagai pusat pendidikan.

4.2.3. Kepemilikan rencana upaya pengelolaan lingkungan (UKL) atau upaya pemantauan lingkungan (UPL)

Berdasarkan Undang-Undang No. 32 Tahun 2009 tentang Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan Hidup Pasal 34 bahwa setiap jenis usaha yang tidak termasuk mengubah bentang alam dan mengeksploitasi sumber daya alam harus memiliki Usaha Pengelolaan Lingkungan dan Usaha Pemantauan Lingkungan

Negeri Sumatera Utara tidak memiliki dokumen lingkungan, baik AMDAL ataupun UKL UPL.

4.2.4. Kesesuaian gedung terhadap standar ketahanan gempa

Berdasarkan Undang-Undang No. 28 Tahun 2002 tentang Bangunan Gedung, Pasal 18 ayat (1) persyaratan kemampuan struktur bangunan gedung yang stabil dan kukuh sampai dengan kondisi pembebanan maksimum dalam mendukung beban muatan hidup dan beban muatan mati, serta kemampuan untuk mendukung beban muatan yang timbul akibat perilaku alam, seperti gempa bumi.

Struktur utama pada gedung perkuliahan Universitas Islam Negeri Sumatera Utara adalah beton bertulang, dirancang sebagai bangunan tahan gempa, dengan struktur pondasi menggunakan borepile dengan kedalaman 21m.

4.2.5. Kesesuaian gedung terhadap standar keselamatan untuk kebakaran Berdasarkan Undang-Undang No. 28 Tahun 2002 tentang Bangunan Gedung, Pasal 17 ayat (1) persyaratan keselamatan bangunan gedung meliputi persyaratan kemampuan bangunan gedung untuk mendukung beban muatan, serta kemampuan bangunan gedung dalam mencegah dan menanggulangi bahaya kebakaran dan bahaya petir. Kemampuan bangunan gedung juga meliputi pengamanan terhadap bahaya kebakaran melalui sistem proteksi pasif dan/atau proteksi aktif. Berdasarkan instruksi menteri tenaga kerja no. ins.11/m/bw/1997 tentang pengawasan khusus kesehatan dan keselamatan kerja penaggulangan kebakaran.

Sistem proteksi aktif yang tersedia di setiap lantai di dalam proyek pembangunan gedung perkuliahan terpadu Universitas Islam Negeri Sumatera Utara adalah alarm kebakaran, sistem hidran, dan hidran box.

Gambar 4.1. Salah Satu Sistem Proteksi Aktif di Gedung Universitas Islam Negeri Sumatera Utara (UINSU)

4.2.6. Kesesuaian gedung terhadap standar aksesibilitas penyandang cacat Berdasarkan Undang-Undang No. 28 Tahun 2002 tentang Bangunan Gedung, Pasal 31 mengenai penyediaan fasilitas dan aksesibilitas bagi penyandang cacat dan lanjut usia merupakan keharusan bagi semua bangunan gedung, kecuali rumah tinggal. Peraturan ini diperjelas dalam Peraturan Menteri No. 30/PRT/M/2006 tentang Pedoman Teknis Fasilitas dan Aksesibiltas pada Bangunan Gedung dan Lingkungan. Berdasarkan hasil pengamatan di lokasi, dapat disimpulkan bahwa Gedung Perkuliahan Universitas Islam Negeri Sumatera Utara sudah aksesibilitas untuk diakses oleh kaum penyandang cacat.

Tabel 4.3 Prinsip penerapan fasilitas bangunan bagi kaum penyandang cacat No Pedoman teknis dan aksebilitas Penerapan di gedung kuliahan

terpadu UINSU

1 Ukuran dasar ruang Sudah memenuhi standar

2 Pintu Sudah memenuhi standar

3 Ram Tidak memenuhi standar

5 Lift Sudah memenuhi standar

6 Toilet Sudah memenuhi standar

7 Pancuran Sudah memenuhi standar

8 Westafel Sudah memenuhi standar

9 Perlengkapan dan peralatan kontrol Sudah memenuhi standar

10 Perabot Sudah memenuhi standar

11 Telepon Sudah memenuhi standar

12 Rambu dan marka Sudah memenuhi standar

Sumber : Universitas Islam Negeri Sumatera Utara, 2019

Setelah dilakukan analisis kelayakan bangunan berdasarkan hasil pengamatan dan wawancara di lokasi serta berdasarkan Perangkat Penilaian Greenship untuk Gedung Baru, diperoleh hasil seperti tabel berikut:

Tabel 4.4. Prinsip Penerapan dalam Pembangunan Tapak Gedung Perkuliahan Universitas Islam Negeri Sumatera Utara

No Kriteria Layak Tidak Layak

1. Luas minimum gedung adalah 2500 m2  -

2. Fungsi gedung sesuai dengan peruntukan lahan

berdasarkan RT/RW  -

3. Memiliki dokumen lingkungan, AMDAL,

dan/atau UKL-UPL 

4. Kesesuaian gedung terhadap standar keselamatan

untuk kebakaran  -

5. Kesesuaian gedung terhadap standar ketahanan

gempa  -

6. Kesesuaian gedung terhadap standar aksesibilitas

penyandang cacat  -

Sumber : Universitas Islam Negeri Sumatera Utara, 2019

4.3. Analisis Prasyarat Perangkat Penilaian Greenship Untuk Gedung Baru Prasyarat (Prerequisite) dalam penilaian bangunan hijau adalah kriteria yang wajib dipenuhi dan diaplikasikan dalam suatu bangunan.Terdapat 8 (delapan) prasyarat dalam Greenship untuk Gedung Baru yang mewakili 6 (enam) kategori.

Berikut ini adalah hasil wawancara dengan pihak bagian terkait yaitu Project Manager, Petugas K3, Drafter, Pengawas Lapangan, Administrasi Teknik, Staf Teknik. Prasyarat Perangkat Penilaian Greenship untuk Gedung baru terhadap Gedung Perkuliahan Universitas Islam Negeri.

Tabel 4.5. Prasyarat Perangkat Penilaian Greenship Untuk Gedung Baru

Sumber : Green Building Council Indonesia, 2014

No Kategori Kriteria Persyaratan Memenuhi

Ya Tidak

1 ASD P1

Adanya daerah lanskep berupa vegetasi (softscape) yang bebas dari struktur bangunan dan struktur sederhana bangunan tanaman (hardscape) diatas permukaan tanah atau di bawah tanah

P2

Area ini memiliki vegetasi mengikuti pemendagri no.1 tahun 2007 pasal 13 (2a) dengan komposisi 50% lahan tertutupi luasan pohon

2 EEC P1 Memasang KWH meter untuk

mengukur komsumsi listrik 

3 WAC

P1

Pemasangan alat meteran air (volume meter) yang di tempatkan di lokasi tertentu pada sistem distribusi air

P2

Perhitungan mengunakan worksheet perhitungan air dari GBC Indonesia untuk

Tidak mengunakan Chloro Fluoro Carbon (CFC) sebagai refrigeran dan halon sebagai bahan pemadam kebakaran

5 IHC P1

Desain ruangan yang menunjukkan adanya potensi

introduksi udara luar 

6 BEM P1

Adanya Instalansi atau fasilitas

untuk memilah dan

mengumpulkan sampah sejenis sampah rumah tangga berdasarkan jenis organik dan non organik

4.4. Analisis Kesesuaian Kriteria dalam Greenship di Gedung perkuliahan Universitas Islam Negeri Sumatera Utara

Analisis kesesuaian diperoleh dengan cara membandingkan hasil daftar periksa (checklist) dengan kondisi green yang ada dalam Greenship yang digunakan serta hasil pengamatan dan wawancara serta melakukan kuesioner secara langsung di lokasi proyek pembangunan gedung perkuliahan terpadu Universitas Islam Negeri Sumatera utara. Setelah dilakukan penyesuaian lalu diperoleh poin untuk setiap kriterianya untuk kemudian dijumlahkan hasilnya menjadi total poin dan akan diperoleh kategori peringkat dalam Greenship.

4.4.1. Kategori tepat guna lahan

Dalam kategori tepat guna lahan, terdapat 7 (tujuh) kriteria yang memiliki total nilai maksimum sebesar 17 poin. Tujuan dari kategori tepat guna lahan yaitu memelihara atau memperluas kehijauan kota untuk meningkatkan kualitas iklim mikro, menguranggi CO2, dan zat polutan, mencegah erosi tanah, menguranggi beban sistem drainase, menjaga keseimbangan neraca air bersih dan sistem air tanah.

Tabel 4.6. Ringkasan Tepat Guna Lahan (ASD)

NO Kriteria Memenuhi

Ya Tidak Poin Tepat Guna Lahan ( Appropriate Site Development)

ASD1 Pemilihan Tapak

1

Memilih daerah pembagunan yang di lengkapi minimal 8 dari 11 prasarana sarana kota

1. Jaringan jalan 2. Danau buatan

3. Jaringan penerangan dan listrik 4. Jalur pejalan kaki

5. Jaringan drainase 6. Jalur pemipaan gas

7. Sistem pembuangan sampah 8. Jaringan telepon

9. Sistem pemadam kebakaran 10. Jaringan air bersih

11. Jaringan fiber optic

 1

2

Melakukan pembangunan di atas lahan yang bernilai negatif dan tak terpakai karena bekas pembangunan atau dampak negatif pembangunan

 0

ASD2 Aksesibilitas Komunitas

1

Terdapat minimal 7 jenis fasilitas umum dalam jarak pencapaian jalan utama sejauh 1500 m dari tapak 9. Tempat penitipan anak

10. Fotokopi umum utama di luar tapak yang menghubungkannya dengan jalan sekunder dan atau lahan orang lain sehingga tersedia akses ke minimal tiga fasilitas umum sejauh 300m jarak pencapaian pejalan kaki

 1

3

Menyediakan fasilitas akses yang aman, nyaman, dan bebas dari perpotongan dengan akses kendaraan bermotor untuk menghubungkan secara langsung bangunan dengan bangunan lain

 2

Menyediakan bus untuk penguna tetap gedung

dengan jumlah unit minimum untuk 10 %  0

2

Menyediakan fasilitas jalur pedestrian di dalam area gedung untuk menuju ke stasiun transportasi umum terdekat yang aman dan nyaman

 1

ASD4 Fasilitas Pengguna Sepeda 1

Adanya tempat parkir sepeda yang aman sebanyak satu unit parkir per 20 pengguna gedung hingga maksimal 100 unit parkir sepeda

 0

2

Apabila tolak ukur ASD4 no 1 diatas tepenuhi, perlu tersedianya shower sebanyak 1 unit untuk setiap 10 parkir sepeda

 0

ASD5 Lanskep Pada Lahan

1

Adanya area lanskep berupa vegetasi (softscape) yang bebas dari struktur bangunan

dan struktur sederhana bangunan tanaman (hardscape) yang terletak diatas permukaan tanah seluas minimal 40% luas total lahan

 0

2 Penggunaan tanaman yang telah dibudidayakan

secara lokal dalam skala provinsi  0

ASD6 Iklim mikro 1

Mengunakan berbagai material untuk menghindari heat island pada area atap gedung

atau menggunakan green roof  1

2

Mengunakan berbagai material untuk menghindari heat island pada area non atap gedung

 1

3

Desain lanskep berupa vegetasi (softscape) pada sirkulasi utama pejalan kaki menunjukkan adanya pelindung dari panas akibat radiasi matahari dan terpaan angin kencang

 0

ASD7 Manajemen Air Limpasan Hujan 1

Pengurangan beban limpasan air hujan ke jaringan drainase kota dari lokasi bangunan hingga 50 %, yang dihitung menggunakan nilai intensitas curah hujan

 0

2

Menunjukkan adanya upaya penangganan pengurangan beban banjir lingkungan dari luar lokasi bangunan

 0

3 Menggunakan teknologi–teknologi yang dapat

mengurangi debit limpasan air hujan  0

Sumber : Green Building Council Indonesia, 2014

4.4.1.1. Pemilihan tapak

Dalam kriteria pemilihan tapak terdapat 2 (dua) tolok ukur dengan masing-masing bernilai 1 (satu) poin. Jika tolok ukur tersebut terpenuhi semua akan bernilai 2 (dua) poin. Tujuan dari pada kriteria pemilihan tapak menghindari pembangunan di area lapangan hijau dan menghindari pembukaan lahan baru.

Tolok ukur pertama dengan bernilai 1 poin dengan kriteria yaitu memilih daerah pembangunan yang di lengkapi minimal 8 (delapan) dari 12 (dua belas) prasarana kota. Berikut adalah prasarana sarana kota gedung perkuliahan Universitas Islam Negeri Sumatera Utara :

Tabel 4.7. Prasarana Sarana Kota

Sumber : Pengamatan di Universitas Islam Negeri Sumatera Utara, 2019

Dengan demikian untuk tolak ukur pertama telah memenuhi syarat sehingga memperoleh 1 poin.

Tolak ukur kedua dengan bernilai 1 poin dengan kriteria yaitu melakukan pembangunan di atas lahan yang bernilai negatif dan tak terpakai karena bekas pembangunan atau dampak negatif pembangunan. Tolak ukur ini tidak memenuhi karena gedung tersebut tidak di bangun diatas lahan bernilai

Prasarana Sarana Kota Memenuhi

Jaringan jalan 

Jaringan penerangan listrik 

Jaringan drainase 

Sistem pembuangan sampah 

Sistem pemadam kebakaraan 

Jaringan fiber optik X

Danau buatan X

Jalur pejalan kaki 

Jalur pemipaan gas X

Jaringan telepon 

Jaringan air bersih 

negatif bangunan melainkan di bangunan diatas lahan kosong. Oleh karena itu, untuk tolak ukur kedua tidak memperoleh poin.

4.4.1.2. Aksebilitas komunitas

Dalam kriteria aksebilitas komunitas terdapat 4 (empat) tolok ukur dengan tolak ukur pertama bernilai 2 poin, tolak ukur kedua bernilai 1 poin, tolak ukur ketiga bernilai 2 poin, tolak ukur keempat bernilai 2 poin. jika tolok ukur tersebut terpenuhi semua akan bernilai 6 poin. Tujuan dari pada kriteria aksebilitas komunitas mendorong pembangunan di tempat yang telah memiliki jaringan konektivitas dan meningkatkan pencapaian penggunaan gedung sehingga mempermudah masyarakat dalam menjalankan kegiatan sehari-hari dan menghindari penggunaan kendaraan bermotor.

Tolok ukur pertama dengan bernilai 1 poin dengan kriteria yaitu terdapat minimal tujuh jenis fasilitas umum dalam jarak pencapaian jalan utama sejauh 1500m dari tapak. Berikut adalah fasilitas yang ada digedung perkuliahan Universitas Islam Negeri Sumatera Utara.

Tabel 4.8. Daftar Fasilitas Umum di Sekitar Gedung perkuliahan Universitas Islam Negeri Sumatera Utara

No Nama Fasilitas Umum Jarak (m)

1 Bank 60 m

3 Parkir umum 0 m

4 Warung atau Toko kelontong 60 m

5 Pos keamanan 10 m

6 Tempat ibadah 70 m

7 Lapangan olahraga 40 m

8 Rumah makan/ Kantin 60 m

10 Fotokopi umum 60 m

11 Fasilitas kesehatan 60m

12 Terminal 10m

13 Perpustakaan 40m

Sumber : Pengamatan diUniversitas Islam Negeri Sumatera Utara, 2019

Dengan demikian untuk tolak ukur pertama telah memenuhi syarat sehingga memperoleh 1 poin.

Tolak ukur kedua bernilai 1 poin dengan kriteria yaitu membuka akses pejalan kaki selain ke jalan utama di luar tapak yang menghubungkannya dengan jalan sekunder dan atau lahan orang lain sehingga tersedia akses ke minimal tiga fasilitas umum sejauh 300 m jarak pencapaian pejalan kaki. Tolak ukur ini memenuhi karena memiliki trotoar untuk pendestrian yang menghubungkan antar tapak menuju jalan umum. Oleh karena itu tolak ukur kedua memperoleh 1 poin.

Tolak ukur ketiga dengan bernilai 2 poin dengan kriteria yaitu menyediakan fasilitas/akses yang aman, nyaman, dan bebas dari perpotongan dengan akses kendaraan bermotor untuk menghubungkan secara langsung bangunan dengan bangunan lain, dimana terdapat minimal tiga fasilitas umum dan atau bangunan stasiun transportasi umum. Memenuhi karena memiliki trotoar menghubungkan ke bangunan lain seperti badan administrasi Universitas Islam Negeri Sumatera Utara dan ke bangunan fakultas lainnya, kantin, perpustakaan.

Dengan demikian untuk tolak ukur pertama telah memenuhi syarat sehingga memperoleh 2 poin.

Tolak ukur keempat dengan bernilai 2 poin dengan kriteria yaitu membuka lantai dasar gedung sehingga dapat menjadi akses pejalan kaki yang aman dan nyaman selama minimum 10 jam sehari. Tolak ukur ini tidak memenuhi karena lantai dasar bangunan tersebut terbatasi oleh dinding-dinding masif maka tidak mendapatkan poin.

4.4.1.3. Transportasi umum

Dalam kriteria transportasi umum terdapat 2 (dua) tolok ukur dengan tolak ukur pertama bernilai 2 poin, tolak ukur kedua bernilai 1 poin. Jika tolok ukur tersebut terpenuhi semua akan bernilai 2 poin. Tujuan dari pada kriteria transportasi umum mendorong penguna gedung untuk menggunakan kendaraan umum masal dan mengguranggi kendaraan pribadi.

Tolak ukur pertama dengan bernilai 1 poin dengan kriteria yaitu adanya halte atau stasiun transportasi umum dalam jangkauan 300 m dari gerbang lokasi bangunan atau menyediakan bus untuk penguna tetap gedung dengan jumlah unit minimum untuk 10% pengguna tetap gedung. Tolak ukur ini memenuhi karena halte atau stasiun transportasi langsung di depan gerbang pintu keluar Universitas Islam Negeri Sumatera Utara, akan tetapi Universitas Islam Negeri Sumatera Utara belum memiliki bus untuk pengguna tetap gedung maka salah satu dari kriteria tersebut memenuhi syarat maka mendapatkan 1 poin.

Tolak ukur kedua dengan bernilai 1 poin dengan kriteria yaitu menyediakan fasilitas jalur pedestrian di dalam area gedung untuk menuju ke stasiun tranportasi umum terdekat yang aman dan nyaman. Tolak ukur ini memenuhi syarat karena adanya jalur utama yang menghubungkan langsung dari dalam gedung ke luar gedung tersebut maka mendapatkan 1 poin.

.

Gambar 4.2. Stasiun Transportasi Umum

4.4.1.4. Fasilitas pengguna sepeda

Dalam kriteria fasilitas pengguna sepeda terdapat 2(dua) tolok ukur dengan tolak ukur pertama bernilai 2 poin, tolak ukur kedua bernilai 1 poin. Jika tolok ukur tersebut terpenuhi semua akan bernilai 2 poin. Tujuan dari pada kriteria fasilitas penggunaan sepeda motor mendorong penggunaan sepeda bagi pengunaan gedung dengan memberikan fasilitas yang memadai sehingga dapat mengguranggi kendaraan bermotor.

Tolak ukur pertama bernilai 1 poin dengan kriteria yaitu adanya tempat parkir sepeda yang aman sebanyak 1 unit parkir per 20 pengguna gedung hingga maksimal 100 unit parkir sepeda.

Tolak ukur kedua bernilai 1 poin dengan kriteria yaitu apabila tolak ukur pertama terpenuhi, perlu tersedianya shower sebanyak satu umit untuk setiap 10 parkir sepeda maka tolak ukur pertama dan kedua tidak memenuhi karena tidak memiliki parkir sepeda serta shower, pihak gedung tidak menyediakan tempat parkir sepeda ataupun shower, mahasiswa yang berada di Universitas Islam Negeri Sumatera Utara biasanya menggunakan sepeda motor sehingga tolak ukur pertama dan kedua tidak mendapatkan poin.

4.4.1.5. Lansekap pada lahan

Dalam kriteria lanskep pada lahan terdapat 3 (tiga) tolok ukur dengan tolak ukur pertama bagian A bernilai 1 poin, tolak ukur pertama bagian B bernilai 1 poin, tolak ukur kedua bernilai 1 poin. Jika tolok ukur tersebut terpenuhi semua akan bernilai 3 poin. Tujuan dari pada kriteria lansekap pada lahan yaitu memelihara atau memperluas kehijauan kota untuk meningkatkan kualitas ikim mikro, mengurangi CO2 dan zat polutan, mencegah erosi tanah, menguranggi, beban sistem drainase, menjaga keseimbangan neraca air bersih dan sistem air tanah.

Tolok ukur pertama bagian A dengan bernilai 1 poin dan tolak ukur pertama bagian B bernilai 1 poin dengan kriteria yaitu adanya daerah lanskep berupa vegetasi (softscape) yang bebas dari struktur bangunan dan struktur sederhana bangunan tanaman (hardscape) yang terletak diatas permukaan tanah seluas minimal 40% luas total lahan dan bila tolak ukur pertama dipenuhi maka setiap penambahan 5% area lanskep dari luas total lahan. Tolak ukur ini tidak memenuhi karena perkarangan menanam tanaman hanya seluas 21 m2, tidak seluas 40% atau 45% dari luas total lahan maka tidak mendapatkan poin.

Tolak ukur kedua dengan bernilai 1 poin dengan kriteria yaitu penggunaan tananaman yang telah di budidayakan secara lokal dalam skala

provinsi. Tolak ukur ini untuk saat ini belum memenuhi syarat karena dari wawancara dengan drafter proyek pembangunan gedung perkuliahan terpadu di Universitas Islam Negeri Sumatera Utara mengatakan mereka merencanakan membangun perkarangan tapi tidak mengetahui akan menanam pohon jenis apa

provinsi. Tolak ukur ini untuk saat ini belum memenuhi syarat karena dari wawancara dengan drafter proyek pembangunan gedung perkuliahan terpadu di Universitas Islam Negeri Sumatera Utara mengatakan mereka merencanakan membangun perkarangan tapi tidak mengetahui akan menanam pohon jenis apa

Dokumen terkait