• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

C. Variabel Penelitian

Dengan melihat judul diatas peningkatan nilai religius siswa melalui metode pembinaan karakter, Terdapat dua variabel yaitu variabel bebas (x) metode pembinaan karakter, sedangkan variabel terikat (y) yaitu peningkatan nilai religious.

D. Devenisi Operasional Variabel

Agar penelitian ini dapat terarah dalam pengumpulan data, maka penulis mengemukakan defenisi variabel-variabelnya secara operasional, adalah sebagai berikut:

29

1. Nilai religius adalah nilai kerohanian yang tertinggi, bersifat mutlak dan abadi, serta bersumber pada kepercayaan dan keyakinan dalam diri manusia.

2. Metode pembinaan karakter adalah langkah-langkah yang ditempuh oleh seorang guru dalam upaya untuk mengarahkan kepribadian peserta didik yang telah tertanam dalam diri masing-masing setiap individu menuju pribadi yang lebih baik.

E. Populasi dan Sampel

Agar pembahasan hasil terarah dan sistematis sesuai dengan tujuan penelitian, maka peneliti berupaya semaksimal mungkin untuk menguraikan hal-hal yang terkait dengan metode penelitian ini adalah populasi dan sampel.

1. Populasi

Kegiatan penelitian pada dasarnya bertujuan untuk mengola data yang otentik di lapangan. Penelitian populasi maupun penelitian sampel sama-sama tujuannya untuk memperoleh sejumlah data.

Penentuan jumlah populasi dalam suatu penelitian merupakan salah satu langkah penting karena dalam populasi diharapkan diperoleh data yang diperlukan. Untuk mengetahui secara jelas populasi yang akan dijadikan objek penelitian, terlebih dahulu penulis mengemukakan pengertian populasi berdasarkan rumusan oleh beberapa ahli antara lain:

Suharsimi Arikunto dalam Sugiyono (2002 : 115) berpendapat bahwa populasi yaitu keseluruhan objek penelitian. Pendapat ini senada dengan apa yang dikemukakan oleh Sugiyono(2002 : 55), bahwa

populasi adalah keseluruhan objek yang diteliti, baik berupa benda, kejadian, nilai maupun hal-hal yang terjadi.

Berdasarkan beberapa pandangan di atas, maka dapat dipahami bahwa yang dimaksud dengan populasi adalah seluruh anggota atau objek yang akan diteliti di dalam suatu penelitian.

Tabel 1 Keadaan Populasi

No Kelas Jumlah

1 VII 15

2 VIII 15

3 IX 20

Jumlah 50

Sumber data : Kantor SMP Muhammadiyah Pancariajang Kab.

Sidrap 2015/2016 2. Sampel

Dalam penelitian diperlukan adanya yang dinamakan sampel penelitian atau miniatur dari populasi yang dijadikan sebagai contoh.

Dalam hal ini Nana Sujana (2009: 72) mengemukakan sampel adalah sebagian dari populasi terjangkau yang memiliki sifat yang sama dengan populasi.

Pendapat lain tentang sampel dapat dilihat dari apa yang dikemukakan oleh Sutrisno Hadi dalam Amirul Hadi dan Haryono (1998:

194) bahwa sampel adalah sebagian individu yang diselidiki dari keseluruhan individu penelitian.

31

Dengan melihat beberapa pendapat di atas maka penulis menyimpulkan bahwa sampel adalah bagian dari populasi yang mewakili keseluruhan.

Tabel 2 Keadaan Sampel

No Kelas Jumlah

1 VII 15

2 VIII 15

3 IX 20

Jumlah 50

Sumber data : Kantor SMP Muhammadiyah Pancariajang Kab.

Sidrap 2015/2016 F. Instrumen Penelitian

Adapun instrumen yang penulis akan pergunakan dalam penelitian untuk mengetahui peningkatan nilai religius siswa melelui metode pembinaan karakter di SMP Muhammadiyah Pancarijang Kabupaten Sidrap. Instumen yang digunakan dalam pengumpulan data penelitian ini adalah mengunakan tes, panduwan wawancara dan observasi untuk mengukur, mengamati dan mencatat peningkatan nilai religius siswa melalui metode pembinaan karakter di SMP Muhammadiyah Pancarijang Kabupaten Sidrap, setiap kejadian yang berlangsung kepada siswa kelas VII.

G. Teknik Pengumpulan Data 1. Pedoman Wawancara

Penelitian yang tujuannya untuk memperoleh data atau keterangan secara langsung dari instrumen. Wawancara sering pula disebut interview, yaitu pengumpulan informasi dengan cara mengajukan sejumlah pertanyaan secara lisan untuk dijawab secara lisan pula.

Dalam hal ini peneliti mengadakan wawancara dengan membuat sejumlah daftar pertanyaan untuk dijawab oleh informan yaitu:

1. Kepala sekolah SMP Muhammadiyah Pancarijang Kabupaten Sidrap.

2. Guru agama SMP Muhammadiyah Pancarijang Kabupaten Sidrap..

2. Pedoman Observasi

Observasi ini dilakukan untuk mengetahui peningkatan nilai religius siswa dengan adanya penerapan metode pembinaan karakter maka keagamaan siswa semakin meningkat.

3. Dokumentasi

Kegiatan dekomentasi dimaksud untuk memperoleh data siswa kelas VII SMP Muhammadiyah Pancarijang Kabupaten Sidrap, kurikulum dan rencana pelaksanaan pembelajaran mata pelajaran pendidikan agama islam dengan standar kompetensi akan di sesuaikan pada saat penelitian.

33

4. Angket

Angket atau kuesioner adalah teknik pengumpulan data yang dilakukan dengan cara memberi seperangkat pertanyaan atau pernyataan tertulis kepada responden untuk dijawabnya.

Amirul Hadi dan Haryono (1998: 137) menyebutkan macam-macam quesioner/angket yaitu:

a. Quesioner berstruktur.

b. Quesioner tak berstruktur.

c. Quesioner kombinasi berstruktur dan tak berstruktur.

d. Quesioner semiterbuka.

H. Teknik Analisis Data

Analisis data adalah suatu kegiatan untuk meneliti, memeriksa, mempelajari, membandingkan data yang ada dan membuat interpretasi yang diperlukan. Selain itu, analisis data dapat digunakan untuk mengidentifikasi ada tidaknya masalah. Kalau ada, masalah tersebut harus dirumuskan dengan jelas dan benar. Teknik analisis yang digunakan adalah analisis deskriptif yang menggunakan data kuantitatif yang memberikan gambaran dengan jelas dan benar. Teknik analisis yang digunakan adalah analisis deskriptif yang memberikan gambaran dengan jelas makna dari indikator-indikator yang ada, membandingkan dan menghubungkan antara indikator yang satu dengan indikator lain.

34

Pada pembahasan ini penulis menguraikan tentang hasil penelitian, namun sebelum terlalu jauh membahas mengenai hasil penelitian ini, terlebih dahulu peneliti memberikan gambaran tentang obyek lokasi penelitian sebagai berikut:

1. Sejarah Berdirinya SMP Muhammadiyah Pancarijang

SMP Muhammadiyah Pancarijang adalah salah satu sekolah yang didirikan pada tahun 2007, sebelumnya sebagai kelas jauh SMP Negeri 1 Rappang, guru-guru yang mengajar di SMP Muhammadiyah itu juga yang mengajar di SMP Negeri 1 Rappang, dan kegiatan ekstra kulikulerpun gabung dengan SMP Negeri 1 Rappang.

Pada tahun 2008 SMP Muhammadiyah Pancarijang, dimana lokasinya di sebelah timur perkebunan, di sebelah barat kantor camat disebelah selatan kampung Rappang, dan disebelah utara rumah sakit. SMP Muhammadiyah sudah berdiri sendiritahun 2009 dan tidak lagi di katakan SMP Negeri 1 Rappang.

Sejak berdirinya SMP Muhammadiyah Pancarijang sampai sekarang masih tetap mampu bertahan, berkembang dalam bidang pendidikan demi tercapainya kualitas Sumber Daya Manusia (SDM) yang berilmu pengetahuan dengan dasar keimanan dan ketakwaan kepada Allah SWT.

35

2. Visi dan Misi SMP Muhammadiyah Pancarijang a. Visi SMP Muhammadiyah Pancaijang

Menguasai teknologi informasi, mantap dalam IMTAQ unggul dalam IPTEK, berprestasi dalam olahraga dan seni serta siap bersaing dalam menghadapi era global.

b. Misi SMP Muhammadiyah Pancarijang

1) Menciptakan lingkungan pembelajaran yang kondusif dalam upaya meningkatkan mutu pembelajaran.

2) Menumbuhkembangkan semangat keunggulan dan bernalar sehat kepada para peserta didik, guru dan pegawai sehingga berkemauan kuat untuk terus maju.

3) Meningkatkan komitmen seluruh tenaga kependidikan terhadap tugas pokok dan fungsinya.

4) Mengembangkan teknologi informasi dan komunikasi dalam pembelajaran dan administrasi sekolah.

3. Keadaan Guru dan Pegawai

Guru dan pegawai merupakan salah satu komponen yang sangat penting pula dalam pengelolaan pendidikan dan pengajaran. Guru sebagai anggota masyarakat yang mengembang suatu tugas profesional mempunyai syarat-syarat profesional yang dipercayakan untuk mentransfer nilai-nilai pendidikan kepada peserta didik sebagai suatu jawaban profesional yang dilaksanakan atas dasar kode etik keguruan yang di dalamnya tercakup suatu kedudukan fungsional yang

melaksanakan tanggung jawabnya sebagai pengajar, pemimpin dan sebagai orang tua. Untuk mengetahui keadaan guru dan pegawai yang ada di SMP Muhammadiyah Pancarijang Kab. Sidrap dapat diliat pada tabel berikut: -19641231 198903 1 210 - 3563742643200023

6 Idayanti, S.Pd. P Lt. Salo, Guru

37

Sumber Data : Kantor SMP Muhammadiyah Pancarijang

Berdasarkan tabel diatas menunjukkan bahwa sumber daya manusia di SMK Negeri 1 Enrekang sangat memadai dalam rangka meningkatkan minat hasil belajar siswa yang ada di sekolah tersebut.

4. Keadaan Siswa

Siswa merupakan komponen yan sangat penting dalam proses belajar mengajar. Siswa menjadi sasaran atau objek sekaligus sebagai subyek atau pelaksana dalam kegiatan belajar mengajar, karena kelanjutan dari suatu lembaga pendidikan ataupun dalam usaha untuk menarik minat masyarakat, juga tergantung adanya jumlah siswa yang hadir di sekolah tersebut. Dengan kata lain siswa adalah sebagai daya tarik dalam menentukan jumlah siswa yang masuk di tahun-tahun berikutnya. Siswa atau anak didik yang dimaksud di sini adalah anak yang belum dewasa, yang masih memerlukan bimbingan dan pertolongan dari orang lain yang telah dewasa guna melaksanakan tugasnya sebagai hamba Allah SWT, sebagai khalifah di muka bumi, juga sebagai anggota masyarakat.

Dalam kaitannya dengan uraian-uraian tersebut di atas, maka berikut ini akan menguraikan tentang data siswa di SMP Muhammadiyah Pancarijang berdasarkan jumlah dan jenis kelamin secara keseluruhan, tabel berikut:

Tabel 4

Keadaan Siswa SMP Muhammadiyah Pancarijang

No Kelas Jumlah

1 VII 15

2 VIII 15

3 IX 20

Jumlah 50

Sumber data : Kantor SMP Muhammadiyah Pancariajang Kab.

Sidrap 2015/2016

5. Keadaan Sarana dan Prasarana

Keadaan sarana dan prasarana SMP Muhammadiyah Pancarijang Tabel 5

Keadaan sarana dan prasarana SMP Muhammadiyah Pancarijang

No Jenis Fisik Jumlah Ket

1 Ruang Belajar 3 Berfungsi

2 Ruang Kantor 1 Berfungsi

3 Ruang Guru 1 Berfungsi

4 RuangKepalaSekolah 1 Berfungsi

5 Laboratorium 1 Berfungsi

6 RuangPerpustakaan 1 Berfungsi

7 Ruang Tata Usaha 1 Berfungsi

8 Mushollah 1 Berfungsi

Sumber Data : Kantor SMP Muhammadiyah Pancarijang

39

B. Model Peningkatan Nilai Religius Siswa Melalui Metode Pembinaan Karakter di SMP Muhammadiyah Pancarijang Kab.Sidrap

Nilai religius merupakan nilai kerohanian yang tertinggi, bersifat mutlak dan abadi, serta bersumber pada kepercayaan dan keyakinan dalam diri manusia. Religius sesungguhnya merupakan sikap atau tindakan manusia yang dilakukan terus-menerus dalam upaya mencari jawaban atas sejumlah pertanyaan yang berkaitan dengan eksistensinya atau keberadaan manusia. Hal ini bersangkut paut dengan sikap sebagai makhluk hidup dan makhluk sosial. Nilai religius bersumber dari agama dan mampu merasuk ke dalam intimitas jiwa. Nilai religius perlu ditanamkan dalam lembaga pendidikan untuk membentuk budaya religius yang mantap dan kuat di lembaga pendidikan.

Pendidikan Agama dimaksudkan untuk peningkatan potensi religius dan membentuk peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertaqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa dan berakhlak mulia. Akhlak mulia mencakup etika, budi pekerti, dan moral sebagai perwujudan dari pendidikan agama. Peningkatan potensi religius mencakup pengenalan, pemahaman, dan penanaman nilai-nilai keagamaan, serta pengamalan nilai-nilai tersebut dalam kehidupan individual ataupun kolektif kemasyarakatan. Peningkatan potensi religius tersebut pada akhirnya bertujuan pada optimalisasi berbagai potensi yang dimiliki manusia yang aktualisasinya mencerminkan harkat dan martabatnya sebagai makhluk Tuhan. Pendidikan Agama harus benar-benar diajarkan secara efektif

kepada siswa, jangan terbatas pada nilai kognitif saja, tetapi juga menyentuh sikap dan perilaku agama; dan (3) Hal penting yang perlu diperhatikan dalam rangka pembinaan karakter yang efektif di sekolah adalah visi, misi, dan tujuan sekolah, kebersamaan, ada program-program yang jelas dan rinci, pelibatan semua mata pelajaran dan semua guru, ada dukungan sarana prasarana, dan perlu ada tim khusus.

Adapun model peningkatan nilai religius siswa melalui metode pembinaan karakter yaitu :

a. Guru lebih meningkatkan atau menambah waktu pelajaran Pendidikan Agama Islam.

b. Guru mengajarkan kepada siswa agar senantiasa mengucapkan salam saat masuk kelas.

c. Guru mengajarkan kepada siswa agar membaca doa sebelum pelajaran dimulai dan ketika pelajaran akan ditutup.

d. Guru senantiasa membimbing dan mengarahkan siswa agar melaksanakan shalat berjamaah ketika sudah waktunya.

Pembinaan karakter sangat penting bagi siswa dalam pendidikan.

Pendidikan karakter akan menjadi basic atau dasar dalam pembentukan karakter berkualitas bangsa, yang tidak mengabaikan nilai-nilai sosial seperti toleransi, kebersamaan, kegotongroyongan, saling membantu dan mengormati dan sebagainya. Pendidikan karakter akan melahirkan pribadi

41

unggul yang tidak hanya memiliki kemampuan kognitif saja namun memiliki karakter yang mampu mewujudkan kesuksesan.

Hal ini ditegaskan oleh Muhammad Ridwan,S.Pd (Kepala Sekolah) Religius artinya sikap dan perilaku yang patuh dalam melaksanakan ajaran agama yang di anutnya, toleran terhadap pelaksanaan ibadah agama lain, dan hidup rukun dengan pemeluk agama lain. Jadi model yang perlu dilakukan dalam peningkatan nilai religius siswa melalui metode pembinaan karakter yaitu dengan memperbanyak pelajaran pendidikan Agama Islam. (wawancara, 10 Oktober 2015)

Karakter merupakan cara berpikir dan berperilaku yang menjadi ciri khas tiap individu untuk hidup dan bekerjasama, baik dalam lingkup keluarga, masyarakat, bangsa dan negara. Individu yang berkarakter baik adalah individu yang bisa membuat keputusan dan siap mempertanggung jawabkan tiap akibat dari keputusan yang ia buat karakter berhubungan dengan Tuhan Yang Maha Esa, diri sendiri, sesama manusia, lingkungan, dan kebangsaan yang terwujud dalam pikiran, sikap, perasaan, perkataan, dan perbuatan berdasarkan norma-norma agama, hukum, tata krama, budaya, dan adat istiadat.

C. Kendala-Kendala Guru Dalam Peningkatan Nilai Religius Siswa Melalui Metode Pembinaan Karakter di SMP Muhammadiyah Pancarijang Kabupaten Sidrap

Pada hakikatnya, sekolah bukan hanya sekedar tempat

“menyampaikan isi pengetahuan” belaka. Seperti yang telah dikemukakan oleh Fraenkel, sekolah tidaklah seolah-olah tempat di mana para guru menyampaikan pengetahuan dengan melalui berbagai mata pelajaran.

Untuk sekolah sendiri ialah suatu lembaga yang mengusahakan upaya

dan proses pembelajaran yang berorientasi terhadap nilai (orientasi nilai perusahaan). selanjutnya, Fraenkel mengkutip dari John Childs yang mengatakan, Organisasi sebuah sistem sekolah yang ada pada dirinya sendiri merupakan satu usaha moral, karena itu merupakan upaya yang sengaja oleh manusia untuk mengontrol pola perkembangannya dimasyarakat.

Pembentukan pendidikan karakter dan watak siswa melalui sekolah, tidak dapat dilakukan seolah-olah melalui pengetahuan pembelajaran, tetapi melalui nilai-nilai pendidikan atau penanaman.

Secara luas, kajian-kajian yang menyangkut nilai biasanya mencakup 2 bidang pokok, etika dan estetika “ budi pekerti, akhlak, dan moral”. Etika mengacu kepada hal-hal tentang justifikasi terhadap tingkah laku yang pantas berdasarkan standar-standar yang berlaku didalam masyarakat, baik yang ada bersumber dari konvensi, agama, adat istiadat, dan lain sebagainya. Sedangkan, estetika mengacu kepada hal-hal tentang dan justifikasi terhadap apa yang dipandang manusia sebagai (keindahan), yang mereka senangi. & standar-standar itu ialah point-point akhlak atau moral tentang tindakan mana yang benar dan mana yang salah.

Adapun kendala-kendala guru upaya peningkatan nilai religius siswa melalui metode pembinaan karakter :

a. Kurangnya waktu pelajaran Pendidikan Agama Islam yang diberikan kepada siswa.

b. Kurangnya pelajaran tambahan ekstrakurikuler keagamaan disekolah.

43

c. Kurangnya motifasi siswa dalam melaksanakan shalat berjamaah ketika sudah waktunya.

Hal ini ditegaskan oleh Bapak Saleh (Guru Agama)

Ada kendala guru dalam peningkatan nilai religius siswa melalui metode pembinaan karakter di SMP Muhammadiyah Pancarijang dengan demikian upaya peningkatan nilai religius siswa guru harus memperhatikan dan mengatasi kendala yang ada. (wawancara, 10 Oktober 2015)

Tentunya keluarga dan rumah tangga hal yang paling utama sebagai lingkungan pembentukan sifat dan karakter siswa utama dan pertama harusnya keluarga hendaklah menjadi pelopor kembali “sekolah kasih sayang”, sekolah bagi kasih sayang tempat belajar yang penuh cinta sejati. keluarga yang sadar akan kelemahan dan kekurangannya, dan karena itu selalu berusaha meningkatkan ilmu dan pengetahuan setiap anggota keluarganya melalui proses belajar dan pendidikan seumur hidup D. Usaha-usaha yang Dilakukan Guru Dalam Mengatasi Kendala

Peningkatan Nilai Religius Siswa Melalui Metode Pembinaan Karakter di SMP Muhammadiyah Pancarijang Kab.Sidrap

Faktor lingkungan dalam konteks pendidikan karakter memiliki peran yang sangat peting karena perubahan perilaku peserta didik sebagai hasil dari proses pendidikan karakter sangat ditentunkan oleh faktor lingkungan ini. Dengan kata lain pembentukan dan rekayasa lingkungan yang mencakup diantaranya lingkungan fisik dan budaya sekolah, manajemen sekolah, kurikulum, pendidik, dan metode mengajar.

Pembentukan karakter melalui rekasyasa faktor lingkungan dapat

dilakukan melalui strategi : keteladanan, intervensi, pembiasaan yang dilakukan secara Konsisten. Dengan kata lain perkembangan dan pembentukan karakter memerlukan pengembangan keteladanan yang ditularkan, intervensi melalui proses pembelajaran, pelatihan, pembiasaan terus-menerus dalam jangka panjang yang dilakukan secara konsisten dan penguatan serta harus dibarengi dengan nilai-nilai luhur.

Usaha-usaha yang dilakukan guru dalam mengatasi kendala peningkatan nilai religius siswa melalui metode pembinaan karakter yaitu : a. Guru harus menambah waktu pelajaran Pendidikan Agama Islam di

sekolah

b. Guru harus mengadakan pelajaran tambahan keagamaan disekolah.

c. Guru harus membimbing siswa agar senantiasa melaksanakan shalat tepat pada waktunya.

Hal ini ditegaskan oleh Bapak Saleh (Guru Agama)

Melalui proses pembelajaran Pendidikan Agama Islam yang ditingkatkan dalam peningkatan nilai religius siswa melalui metode pembinaan karakter maka kendala dapat diatasi dengan baik dan benar. (wawancara, 10 Oktober 2015)

Dalam pembentukan karakter, sangat diperlukan perhatian yang lebih pada pendidikan anak usia dini. Jadi pendidikan dasar khusunya usia dini pada anak sangat penting dan merupakan tonggak awal pembentukan karakter dari seseorang. Pendidikan yang baik dan benar di usia dini maka akan membentuk karakter yang baik pula nantinya ketika anak sudah dewasa.

45

Untuk mengetahui bagaimana peningkatan nilai religius siswa melalui metode pembinaan karakter di SMP Muhammadiyah Pancarijang maka berikut disajikan beberapa tabel hasil angket yang diberikan kepada responden.

Tabel 6

Jawaban Responden Mngenai Peningkatan Nilai Religius Siswa di SMP Muhammadiyah Pancarijang

No Alternative jawaban Frekuensi Persentase

1 Baik 11 22%

2 Kurang baik 38 76%

3 Cukup baik 1 2%

Jumlah 50 100%

Sumber : Hasil Olah Data Angket Nomor 1

Berdasarkan hasil penelitian diketahui bahwa 11 atau 22%

responden mengatakan bahwa peningkatan nilai religius siswa di SMP Muhammadiyah baik. 38 atau 76% mengatakan peningkatan nilai religius siswa kurang baik , dan 1 atau 2% mengatakan kurang meningkat. Hal ini menunjukkan bahwa peningkatan nilai religius siswa di SMP Muhammadiyah Pancarjang meningkat.

Pendidikan agama dapat dijadikan basis untuk meningkatkan nilai religius siswa dengan pembelajaran agama siswa dapat mengetahui baik buruknya sesuatu yang dikerjakan sehingga dapat meningkatkan kesopanan dan ketakwaan.

Tabel 7

Jawaban Responden Mengenai Peningkatan Nilai Religius Siswa Melalui Metode Pembinaan Karakter di SMP

Muhammadiyah Pancarijang

No Alternative Jawaban Frekuensi Persentase

1 Baik 11 22%

2 Kurang baik 24 48%

3 Cukup baik 6 12%

4 Tidak baik 9 18%

Jumlah 50 100%

Sumber : Hasil Olah Data Angket Nomor 2

Berdasarkan hasil penelitian diketahui bahwa 11 atau 22%

responden mengatakan bahwa peningkatan nilai religius siswa melalui metode pembinaan karakter di SMP Muhammadiyah baik, 24 atau 48%

mengatakan peningkatan nilai religius melalui metode pembinaan karakter kurang baik, 6 atau 12% peningkatan nilai religius siswa melalui metode pembinaan karakter cukup baik dan 9 atau 18% mengatakan tidak baik.

Hal ini menunjukkan bahwa peningkatan nilai religius siswa melalui metode pembinaan karakter di SMP Muhammadiyah Pancarijang baik .

Upaya yang bisa dilakukan untuk pembinaan karakter siswa di sekolah diantaranya adalah dengan memaksimalkan fungsi mata pelajaran pendidikan agama di sekolah. Pendidikan agama dapat dijadikan basis untuk pembinaan karakter siswa tersebut. Guru agama

47

bersama-sama para guru yang lain dapat merancang berbagai aktivitas sehari-hari bagi siswa di sekolah yang diwarnai nilai-nilai ajaran agama.

Tabel 8

Jawaban Responden Mengenai Keberhasilan Peningkatan Nilai Religius Siswa Melalui Metode Pembinaan Karakter

No Alternative jawaban Frekuensi Persentase

1 Baik 15 30%

2 Kurang baik 17 34%

3 Cukup baik 18 46%

Jumlah 50 100%

Sumber : Hasil Olah Data Angket Nomor 3

Berdasarkan hasil penelitian diketahui bahwa 15 atau 30%

responden mengatakan bahwa keberhasilan peningkatan nilai religius siswa melalui metode pembinaan karakter di SMP Muhammadiyah baik.

17 atau 34% mengatakan peningkatan nilai religius siswa meningkat dengan baik , dan 18 atau 46% mengatakan cukup baik. Hal ini menunjukkan bahwa peningkatan nilai religius siswa di SMP Muhammadiyah Pancarjang meningkat cukup baik.

Keberhasilan peningkatan nilai religius siswa dapat dilahat setiap hari melalui pembelajaran agama islam. Dengan ini siswa dapat meningkatkan nilai-nilai sosial seperti kebersamaan, kesopanan, toleransi dan kerjasama.

Tabel 9

Jawaban Responden Mengenai Keadaan Nilai Religius Siswa di SMP Muhammadiyah Pancarijang

No Alternative Jawaban Frekuensi Persentase

1 Baik 11 22%

2 Kurang baik 24 48%

3 Cukup baik 12 24%

4 Tidak baik 3 6%

Jumlah 60 100%

Sumber : Hasil Olah Data Angket Nomor 4

Berdasarkan hasil penelitian diketahui bahwa 11 atau 22%

responden mengatakan bahwa keadaan nilai religius siswa di SMP Muhammadiyah Pancarijang baik, 24 atau 48% mengatakan keadaan nilai religius kurang baik, 12 atau 24% mengatakan nilai religius siswa cukup baik dan 3 atau 6% mengatakan tidak baik. Hal ini menunjukkan bahwa keadaan nilai religius siswa di SMP Muhammadiyah Pancarijang baik .

Nilai religius bersumber dari agama dan mampu merasuk ke dalam intimitas jiwa. Nilai religius perlu ditanamkan dalam lembaga pendidikan utamanya bagi siswa serta para guru untuk membentuk budaya religius yang mantap dan kuat di lembaga pendidikan tersebut.

49

Tabel 10

Jawaban Responden Mengenai Langkah-langkah Peningkatan Nilai Religius Siswa Melalui Metode Pembinaan Karakter

No Alternative jawaban Frekuensi Persentase

1 Baik 16 32%

2 Kurang baik 24 48%

3 Cukup baik 10 20%

Jumlah 50 100%

Sumber : Hasil Olah Data Angket Nomor 5

Berdasarkan hasil penelitian diketahui bahwa 16 atau 32%

responden mengatakan bahwa langkah-langkah peningkatan nilai religius siswa melalui metode pembinaan karakter di SMP Muhammadiyah baik.

24 atau 48% mengatakan kurang baik dan 10 atau 20% mengatakan cukup baik. Hal ini menunjukkan bahwa langkah-langkah peningkatan nilai religius siswa melalui metode pembinaan karakter di SMP Muhammadiyah Pancarjang berhasil dengan baik.

Pembinaan karakter menekankan setiap tindakan berpedoman terhadap nilai normatif. Anak didik menghormati norma-norma yang ada dan berpedoman pada norma tersebut. Dan pembinaan karakter atau membangun rasa percaya diri dan keberanian, dengan begitu anak didik

Pembinaan karakter menekankan setiap tindakan berpedoman terhadap nilai normatif. Anak didik menghormati norma-norma yang ada dan berpedoman pada norma tersebut. Dan pembinaan karakter atau membangun rasa percaya diri dan keberanian, dengan begitu anak didik

Dokumen terkait