• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB V PEMBAHASAN

5.1 Variabel yang Memengaruhi Penggunaan Jamban

Hasil uji statistik regresi logistik berganda menunjukkan bahwa variabel kebiasaan mempunyai pengaruh yang signifikan terhadap penggunaan jamban

(ρ=0,000<0,05). Hal ini menunjukkan bahwa akan terjadi peningkatan penggunaan

jamban jika disertai dengan peningkatan kebiasaan yang baik oleh responden. Salah satunya dengan membangun jamban umum dan jamban keluarga percontohan dengan fasilitas yang cukup dan memadai oleh pemerintah guna meningkatkan perilaku BAB yang baik.

Berdasarkan hasil penelitian di lapangan menunjukkan kategori responden yang terbesar pada kategori memiliki kebiasaan yang buruk terhadap penggunaan jamban. Menurut penelitian di lapangan, responden tidak menggunakan jamban karena masih menggunakan sungai sebagai tempat untuk membuang hajat. Kebiasaan

masyarakat masih menggunakan sungai sebagai tempat membuang hajat merupakan suatu kebiasaan dari dulu hingga sekarang sehingga masih banyak rumah tangga yang belum memiliki dan belum menggunakan jamban sebagai tempat membuang hajat.

Kebiasaan adalah perilaku atau kegiatan yang bersifat fisik atau mental yang telah mendarah daging dan membudaya dalam diri seseorang. Dalam hal ini dapat disimpulkan bahwa kebiasaan menjadi dasar bagi masyarakat Desa Gunungtua untuk tidak menggunakan jamban sebagai tempat membuang hajat. Berdasarkan hasil penelitian, diketahui 27 responden (28,1%) yang menggunakan jamban (mempunyai jamban di rumah) sebagai tempat untuk membuang hajatnya. Hal ini dikarenakan responden tersebut telah sadar akan kebersihan diri dan lingkungannya sehingga menggunakan jamban sebagai tempat membuang hajat. Dari 27 responden yang menggunakan jamban ini terdapat 20 responden (20,8%) yang menggunakan jamban jika pergi ke luar desa (di sawah, kebun dan rumah saudara) dan sebanyak 7 responden menggunakan sungai sebagai tempat membuang hajat karena belum mempunyai jamban keluarga di rumahnya.

Diketahui sebanyak 69 responden (71,9%) tidak menggunakan jamban (belum mempunyai jamban di rumah) sebagai tempat membuang hajat. Responden ini memanfaatkan sungai yang berada tepat di belakang rumahnya sebagai tempat membuang hajat baik dalam kondisi darurat seperti pada malam hari (waktu hujan dan sakit perut). Hal ini dikarenakan membuang hajat di sungai adalah suatu kebiasaan yang telah mendarah daging pada masyarakat Desa Gunungtua.

Menurut hasil wawancara yang dilakukan penulis, responden menyatakan tidak perlu menggunakan jamban karena sampai sekarang responden dan keluarganya jarang mendapatkan penyakit berbasis lingkungan seperti diare sehingga tidak perlu menggunakan jamban karena tetap sehat. Alasan dan kebiasaan tersebut harus diluruskan dan diubah karena akibat kebiasaan tidak menggunakan jamban akan memperbesar masalah kesehatan.

Kebiasaan untuk menggunakan jamban perlu diubah mengingat masyarakat di suatu wilayah yang BAB sembarangan, maka wilayah tersebut terancam beberapa penyakit menular berbasis lingkungan di antaranya penyakit cacingan, kolera (muntaber), diare, tipus, disentri, paratypus, polio, hepatitis B dan masih banyak penyakit lainnya. Selain itu dapat menimbulkan pencemaran lingkungan pada sumber air dan bau busuk serta estetika. Semakin besar persentase yang BAB sembarangan maka semakin tinggi risiko terjadinya penularan penyakit berbasis lingkungan.

Mengubah kebiasaan adalah sebuah hal yang terlihat mudah, tetapi sulit dilakukan dan membutuhkan waktu yang lama. Kebiasaan akan sulit diubah ketika sebuah kebiasaan telah berganti menjadi sebuah kenyamanan (Maulana, 2009). Kebiasaan yang baik dengan BAB di jamban dapat memutuskan mata rantai penularan penyakit akibat kontaminasi kotoran manusia. Bagi rumah yang belum memiliki jamban, sudah dipastikan mereka memanfaatkan sungai, kebun atau tempat lainnya untuk tempat membuang hajat (Pebriani, 2012).

Mengingat dampak perilaku terhadap derajat kesehatan cukup besar, yang secara teoritis mempunyai andil 30-35 %, maka diperlukan berbagai upaya untuk

mengubah perilaku yang tidak sehat menjadi sehat. Salah satu upaya yang dilaksanakan pemerintah adalah melalui program PHBS. Menurut Depkes (2009), adanya kesadaran masyarakat untuk menerapkan Pola Hidup Bersih dan Sehat (PHBS) akan dapat menolong dirinya sendiri dalam berperilaku kesehatan termasuk kebiasaan terhadap penggunaan jamban. Adapun Sasaran PHBS antara lain sebagai berikut:

1. Sasaran primer

Berupa sasaran langsung, yaitu individu, anggota masyarakat, kelompok-kelompok dalam masyarakat dan masyarakat secara keseluruhan, yang diharapkan untuk mempraktekkan PHBS.

2. Sasaran sekunder

Sasaran sekunder adalah mereka yang memiliki pengaruh terhadap sasaran primer dalam pengambilan keputusan untuk mempraktekkan PHBS. Termasuk di sini adalah para pemuka masyarakat atau tokoh masyarakat yang umumnya menjadi panutan sasaran primer.

3. Sasaran tersier

Sasaran tersier adalah mereka yang berada dalam posisi pengambilan keputusan formal, sehingga dapat memberikan dukungan, baik berupa kebijakan/pengaturan atau sumber daya dalam proses pembinaan PHBS. Adapun salah satu komponen yang terdapat dalam PHBS adalah menggunakan jamban sehat.

Dari beberapa uraian di atas dapat disimpulkan bahwa perubahan perilaku kesehatan ke arah yang lebih baik terutama dalam upaya mengubah kebiasaan

masyarakat Desa Gunungtua agar membuang hajat di jamban, diperlukan suatu kebijakan dan peraturan-peraturan dari Pemerintah Daerah Kabupaten Mandailing Natal untuk membuat suatu kebijakan tentang penggunaan jamban dan larangan BAB di sungai. Perlunya kerjasama oleh Dinas Kesehatan maupun Puskesmas dengan instansi lain sangat diperlukan untuk mendukung keberhasilan suatu kebijakan tersebut sesuai dengan yang diharapkan. Selain itu perlu ditingkatkan program dan kegiatan kesehatan oleh tenaga kesehatan untuk mendukung tumbuhnya Perilaku Hidup Bersih dan Sehat di masyarakat (di rumah tangga, tempat-tempat umum, institusi pendidikan, tempat kerja, sarana kesehatan,dll) terutama dalam menggunakan jamban sehat yang merupakan salah satu komponen PHBS.

5.1.2 Variabel Dukungan Tenaga Kesehatan

Hasil uji statistik regresi logistik berganda menunjukkan bahwa variabel dukungan tenaga kesehatan mempunyai pengaruh yang signifikan terhadap

penggunaan jamban (ρ=0,022<0,05). Hal ini menunjukkan bahwa akan terjadi peningkatan penggunaan jamban jika disertai dengan peningkatan dukungan tenaga kesehatan.

Hasil penelitian ini sejalan dengan penelitian Harahap (2012), yang menyatakan bahwa upaya tenaga kesehatan memengaruhi ketersediaan jamban keluarga dalam kaitannya dengan penggunaanya di Desa Pargarutan Tonga Kecamatan Angkola Timur Kabupten Tapanuli Selatan.

Hasil penelitian di lapangan menunjukkan bahwa mayoritas responden mengatakan bahwa tenaga kesehatan tidak pernah melakukan penyuluhan tentang penggunaan jamban. Menurut Notoatmodjo (2007), faktor-faktor yang memengaruhi perilaku kesehatan seseorang atau masyarakat ditentukan oleh adanya informasi kesehatan yang merupakan bahan mentah dalam membentuk pengetahuan termasuk dalam penggunaan jamban. Masyarakat tidak hanya memerlukan pengetahuan, sikap positif dan dukungan fasilitas saja dalam berperilaku sehat, melainkan diperlukan juga perilaku contoh (acuan) dari para tokoh masyarakat, tokoh agama, para petugas, terutama petugas kesehatan. Dengan adanya dukungan tersebut akan meningkatkan penggunaan jamban pada masyarakat Desa Gunungtua.

Peningkatan kegiatan penyuluhan oleh tenaga kesehatan dapat membantu memberikan pengetahuan/informasi guna mendukung tumbuhnya perilaku hidup bersih dan sehat (di rumah tangga, tempat-tempat umum, institusi pendidikan, tempat kerja, sarana kesehatan,dll) terutama dalam menggunakan jamban sehat yang merupakan salah satu komponen PHBS . melalui peningkatan kegiatan penyuluhan tersebut diharapkan masyarakat Desa Gunungtua mengetahui tentang pentingnya menggunakan jamban dalam menjaga kebersihan dan kesehatan keluarga.

5.1.3 Variabel Dukungan Tokoh Masyarakat

Hasil uji statistik regresi logistik berganda menunjukkan bahwa variabel dukungan tokoh masyarakat mempunyai pengaruh yang signifikan terhadap

peningkatan penggunaan jamban jika disertai dengan peningkatan dukungan tokoh masyarakat.

Berdasarkan hasil penelitian, diketahui bahwa mayoritas responden tidak pernah mendapatkan informasi tentang penggunaan jamban dari tokoh masyarakat dan tokoh masyarakat juga tidak selalu menggunakan jamban. Hal ini terjadi karena tokoh masyarakat yang berada di Desa Gunungtua masih menggunakan sungai sebagai tempat membuang hajatnya dan telah menjadi suatu kebiasaan bagi dirinya.

Menurut Notoatmodjo (2005), untuk memberdayakan perubahan perilaku kesehatan masyarakat dengan baik diperlukan dukungan dari tokoh masyarakat untuk memberikan contoh yang baik maupun membekali masyarakat dengan pengetahuan/informasi yang bermanfaat. Memberikan contoh yang baik sebagai tokoh panutan bagi masyarakat merupakan suatu dukungan yang positif agar masyarakat berperilaku atau mengadopsi perilaku kesehatan dengan cara persuasif, bujukan, himbauan dan ajakan melalui kegiatan pendidikan atau penyuluhan kesehatan (Notoadmodjo, 2003).

Dari beberapa uraian di atas dapat disimpulkan bahwa dukungan tokoh masyarakat dalam memberikan contoh yang baik maupun memberikan informasi kepada masyarakat dapat memengaruhi responden untuk dapat menggunakan jamban sebagai tempat membuang hajatnya. Mengingat kehadiran tokoh masyarakat di Desa Gunungtua masih sangat dihormati dan dianggap sebagai acuan dalam berperilaku. Dukungan tokoh masyarakat dalam memberikan contoh dengan BAB di jamban maupun memberikan informasi kepada masyarakat merupakan suatu upaya

perubahan perilaku kesehatan masyarakat dalam pemeliharaan kesehatannya seperti peningkatan terhadap penggunaan jamban.

5.2 Variabel Yang Tidak Memengaruhi Penggunaan Jamban

Dokumen terkait