BAB II KAJIAN TEORI
3. Variasi Bahasa
Manusia sebagai pemakai bahasa, sering melakukan peralihan kode
bahasa dari kode bahasa yang satu ke kode bahasa yang lain kerena adanya
beragam variasi bahasa dan kemampuan untuk menggunakannya. Mereka sering
menggunakan variasi bahasa sesuai dengan situasi dan peran mereka
masing-masing. Misalnya pada situasi formal seperti rapat, maka variasi bahasa yang
digunakan bersifat resmi, namun ketika berhubungan dengan teman sebaya,
Ohoiwatun (2002: 46), menyatakan variasi bahasa merupakan wujud
perubahan atau perbedaan dari berbagai manifestasi kebahasaan, namun tidak
bertentangan dengan kaidah-kaidah kebahasaan. Menurut Pateda (1987: 52),
variasi bahasa ditentukan oleh lima faktor, yaitu faktor tempat, faktor waktu,
faktor pemakai atau penutur, faktor pemakaiannya, dan faktor situasi.
Bahasa mempunyai dua aspek mendasar, yaitu aspek bentuk yang
meliputi bunyi, tulisan, dan struktur serta makna, baik leksikal, fungsional,
maupun struktural (Nababan, 1986: 13). Menurut Suwito (1983: 148), variasi
bahasa timbul karena adanya kebutuhan penutur akan adanya alat komunikasi
yang sesuai dengan situasi dalam konteks sosialnya. Adanya berbagai variasi
menunjukkan bahwa pemakaian bahasa tutur itu bersifat aneka ragam.
Suwito (1983: 3), mengatakan bahwa faktor penyebab terjadinya variasi
bahasa adalah adanya faktor sosial dan faktor situasional. Faktor sosial bisa
berupa status sosial, tingkat pendidikan, umur, tingkat ekonomi, jenis kelamin,
dan sebagainya, sedangkan faktor situasional bisa berupa siapa yang berbicara,
dengan bahasa apa, kepada siapa, kapan, di mana, dan mengenai masalah apa.
Menurut Nababan (1986: 13), terjadinya variasi bahasa disebabkan oleh beberapa
faktor, yaitu: daerah asal penutur, kelompok atau keadaan sosial penutur, situasi
berbahasa atau tingkat formalitas, dan waktu terjadinya tuturan.
Menurut pendapat Kridalaksana (1980: 12-13), variasi bahasa juga
ditentukan oleh faktor waktu, tempat, faktor sosiokultural, faktor situasi, dan
faktor medium pengungkapannya. Faktor waktu menimbulkan perbedaan bahasa
tempat dengan yang ada di tempat lain. Variasi sosio kultural membedakan bahasa
yang dipakai suatu kelompok sosial dari kelompok sosial yang lain atau
membedakan suatu stratum sosial dari sosial yang lain. Variasi situasional timbul
karena pemakai bahasa memilih ciri-ciri bahasa tertentu dalam situasi tertentu.
Faktor medium pengungkapan membedakan bahasa lisan dan bahasa tulisan.
Variasi bahasa tersebut dapat dibagi menjadi empat, yaitu sebagai
berikut.
a. Idiolek
Idiolek adalah variasi bahasa atau ragam bahasa sesuai dengan ciri-ciri
khas masing-masing individu (Chaer, 1994: 55). Menurut Kridalaksana (1980:
13), idiolek adalah keseluruhan ujaran seorang pembicara pada satu saat yang
dipergunakan untuk berinteraksi dengan orang lain, sedangkan Adisumarto (1985:
58) mengartikan idiolek sebagai keseluruhan ciri-ciri bahasa seseorang sejak
mulai belajar berbahasa sampai tua.
Menurut Suwito (1982: 21), idiolek merupakan sifat khas tuturan
seseorang yang berbeda dengan tuturan orang lain. Setiap penutur mempunyai
sifat-sifat khas yang tidak dimiliki oleh penutur yang lain. Sifat ini disebabkan
oleh faktor fisik dan faktor psihkis. Sifat khas yang disebabkan oleh faktor fisik
misalnya perbedaan bentuk atau kualitas alat-alat tuturnya seperti, mulut, bibir,
gigi, lidah, dan sebagainya. Sedangkan sifat khas yang disebabkan karena faktor
b. Dialek
Dialek adalah variasi bahasa yang digunakan oleh sekelompok anggota
masyarakat pada suatu tempat atau waktu (Chaer, 1994: 55). Nababan (1986: 14),
mengartikan dialek sebagai bentuk variasi bahasa yang berkaitan dengan daerah
atau lokasi geografis, sedangkan Poedjosoedarmo (1978: 5), mengartikan dialek
sebagai variasi bahasa yang ditentukan oleh latar belakang si penutur.
Ohoiwatun (2002: 20) mengatakan, dialek adalah variasi bahasa yang
berbeda secara konsisten dari variasi-variasi (ragam) lain dari bahasa yang sama
yang digunakan di kawasan-kawasan geografis yang berlainan dan oleh
kelompok-kelompok sosial yang berlainan. Berlainan dengan Pateda (1987: 5)
menyatakan bahwa dialek geografis merupakan seperangkat bentuk ujaran
setempat yang berbeda-beda, yang memiliki ciri-ciri umum dan masing-masing
lebih mirip sesamanya dibandingkan bentuk ujaran lain dari bahasa yang sama.
Meillet (via Ayatrohaedi, 1983: 1-2) berpendapat bahwa istilah dialek
berasal dari kata Yunani dialektis. Kata tersebut digunakan dalam hubungannya
dengan keadaan bahasanya. Ada enam dialek yang dibedakan oleh
Poedjosoedarmo (1978: 7-9), bila berhubungan dengan penggunaan dialek, yaitu
sebagai berikut.
1) Dialek Geografis
Dialek geografis yaitu tempat asal daerah si penutur, seperti dalam
2) Dialek Sosial
Dialek sosial ialah latar belakang tingkat sosial dari mana seorang
penutur berasal. Dialek ini dibedakan menjadi dialek kelas sosila tinggi,
menengah, dan rendah.
3) Dialek Aliran
Dialek aliran dapat berwujud aliran agama, kepercayaan kebatinan,
ataupun kepartaian.
4) Dialek Usia
Dialek usia berbentuk dialek anak-anak dan dialek orang dewasa. Faktor
penentu variasi bahasa ibi ialah unsur atau kedewasaan usia si penutur.
5) Dialek Jenis
Dialek jenis ada dua yaitu dialek kaum laki-laki dan dialek kaum
perempuan. Kaum perempuan biasanya berbicara seperti umumnya orang
perempuan begitu juga laki-laki berbicara seperti umumnya laki-laki.
6) Dialek Suku
Dialek suku adalah dialek yang digunakan oleh suku tertentu. Dialek
suku yang satu berbeda dengan dialek suku yang lain. Contoh, dialek suku-suku
yang ada di negara kita seperti: dialek suku Jawa, dialek suku Sunda, dialek suku
Dayak, dan sebagainya.
c. Sosiolek
Sosiolek adalah idiolek-idiolek yang menunjukkan persamaan dengan
idiolek-idiolek lain yang disebabkan oleh kedekatan sosial, yaitu penutur-penutur
1986: 4). Menurut Chaer (1994: 84), sosiolek juga disebut dengan istilah dialek
sosial, yakni variasi yang berkenaan dengan status, golongan, dan kelas sosial
para penuturnya. Variasi ini menyangkut semua masalah pribadi para penuturnya
seperti usia, pendidikan, pekerjaan, keadaan sosial ekonomi, kelas sosial, dan
sebagainya.
Sosiolek disebut juga dengan istilah dialek sosial, yaitu ragam bahasa
yang dipergunakan oleh sekelompok tertentu yang membedakannya dari
kelompok masyarakat lainnya (Kridalaksana via Ayatrohaedi, 1983: 14).
Pembagian kelompok dalam masyarakat biasanya berdasarkan pada pekerjaan,
usia, kegiatan, jenis kelamin, pendidikan, dan sebagainya. Dengan demikian,
dialek sosial dapat diartikan sebagai variasi bahasa yang membedakan kedudukan
orang-orang dalam kelompok masyarakat.
d. Fungsiolek
Nababan (1986: 4-5) mengatakan, bahwa fungsiolek adalah variasi
bahasa yang dipengaruhi oleh situasi dan keadaan berbicara. Situasi dan keadaan
berbicara tersebut meliputi: peristiwa berbicara, pelaku tutur, tempat berbicara,
masalah yang dibicarakan, tujuan berbicara, media berbahasa, dan sebagainya.
Martin Joss (via Nababan, 1986: 22-23) membagi fungsiolek dalam
bahasa Inggris berdasarkan tingkat formal atas lima tingkat. Tingkatan ini sering
disebut style atau gaya bahasa. Kelima tingkatan itu yaitu: frozen, formal,
consultative, casual, dan intimate. Dalam bahasa Indonesia berturut-turut berarti:
1) Ragam Beku (Frozen)
Ragam beku yaitu ragam bahasa yang paling resmi yang dipergunakan
dalam situasi-situasi yang khidmat dan upacara-upacara resmi. Ragam beku ini
juga terdapat dalam dokumen-dokumen bersejarah seperti undang-undang dasar
dan dokumen penting lainnya. Disebut ragam beku karena pola dan kaidahnya
sudah ditetapkan secara mantap, tidak dapat diubah. Berikut ini ciri-ciri ragam
beku, yaitu struktur gramatikalnya tidak dapat diubah, susunan kalimatnya
biasanya panjang-panjang, bersifat kaku dan kata-katanya lengkap, dan kosakata
yang biasa digunakan; bahwa, maka, dan sesungguhnya.
2) Ragam Resmi (Formal)
Ragam resmi ialah ragam bahasa yang dipakai dalam pidato-pidato
resmi seperti pidato kenegaraan, rapat dinas, atau rapat resmi pimpinan suatu
badan. Bentuk tertulis, ragam ini dapat ditemukan dalam surat menyurat dinas,
khotbah, buku-buku pelajaran dan sebagainya. Pola dan kaidah ragam resmi sudah
ditentukan secara mantap sebagai suatu standar. Ragam resmi ini pada dasarnya
sama dengan ragam bahasa baku atau standar yang hanya digunakan dalam situasi
resmi.
3) Ragam Usaha (Consultative)
Ragam usaha adalah ragam bahasa yang sesuai dengan
pembicaraan-pembicaraan biasa di sekolah, perusahaan, dan rapat-rapat usaha yang berorientasi
kepada hasil atau produksi; dengan kata lain, ragam ini berada pada tingkat yang
4) Ragam Santai (Casual)
Ragam santai adalah ragam bahasa santai antarteman dalam
berbincang-bincang, rekreasi, berolahraga, dan sebagainya. Berikut ini adalah ciri-ciri ragam
santai, yaitu kosakatanya banyak memakai unsur leksikal dialek dan unsur bahasa
daerah, banyak memakai bentuk alegro, memakai kata ganti tidak resmi,
seringkali tidak memakai struktur morfologi dan sintaksis yang normatif.
Menurut Poedjosoedarmo (1978: 12), dalam ragam santai terdapat
kelainan-kelainan tertentu bila dibandingkan dengan bahasa yang dipakai dalam
suasana resmi atau formal. Kelainan seperti pemakaian kalimat yang tidak
lengkap atau berbentuk kalimat inversi.
5) Ragam Akrab (Intimate)
Ragam akrab adalah ragam bahasa antaranggota yang akrab dalam
keluarga atau teman-teman yang tidak perlu berbahasa secara lengkap dengan
artikulasi yang terang, tetapi cukup dengan ucapan-ucapan yang pendek. Hal ini
disebabkan oleh adanya saling pengertian dan pengetahuan satu sama lain. Dalam
tingkat inilah banyak dipergunakan bentuk-bentuk dan istilah-istilah (kata-kata)
khas bagi suatu keluarga atau sekelompok teman akrab.
Dalam dokumen
ALIH KODE DALAM FILM KETIKA CINTA BERTASBIH
(Halaman 31-38)