• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

2.2 Teori yang Digunakan

2.2.4 Pilihan Bahasa

2.2.4.3 Variasi dalam Bahasa yang Sama

Jenis pilihan bahasa ini sering menjadi fokus kajian tentang sikap bahasa misalnya dimasukkan pilihan bentuk “sor-singgih” dalam bahasa Bali atau ngoko-karma” dalam bahasa Jawa, karena variasi unda-usuk dalam kedua bahasa itu ada dalam “bahasa yang sama” (Sumarsono,203-204).

Contoh lain, variasi tunggal bahasa (variasi dalam bahasa yang sama) digunakan untuk menghindari timbulnya kesalahan pada penggunaan bahasa Jawa yang memiliki tingkatan bertutur. Pedagang dan pembeli umumnya tidak saling mengenal sehingga tidak diketahui tingkat sosial lawan bicaranya. Hal tersebut menyebabkan kedua belah pihak tidak tahu tingkat bahasa mana yang tepat

22

digunakan. Jadi, bahasa Indonesia dianggap lebih aman dalam situasi tutur itu karena dapat terhindar dari keharusan menggunakan tingkat tutur yang berbeda seperti yang terdapat pada penggunaan bahasa Jawa (Wibowo, 2006:50).

23

BAB III

METODE PENELITIAN

Metode penelitian adalah upaya untuk menghimpun data yang diperlukan dalam penelitian (Manurung, 2010:19). Dengan kata lain bahwa metode akan memberikan jawaban atau petunjuk terhadap pelaksanaan penelitian atau bagaimana cara penelitian ini dilakukan untuk memperoleh data yang aktual yang dapat dibuktikan kebenarannya terhadap objek permasalahan .

3.1 Metode Dasar

Metode dasar yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode deskriptif. Metode deskriptif adalah metode yang berusaha untuk menuturkan pemecahan masalah yang ada sekarang berdasarkan data-data dan juga menyajikan data dan menginterpretasikan data (Nurbako,1991:4).

3.2 Lokasi dan Sumber Data Penelitian

Lokasi yang dijadikan daerah penelitian adalah di desa Sionom Hudon Sibulbulon, Kecamatan Parlilitan, Kabupaten Humbang Hasundutan. Pemilihan lokasi ini karena adanya variasi bahasa dalam peristiwa tutur yang digunakan oleh masyarakat.

Sumber data penelitian adalah masyarakat yang melakukan interaksi dalam tawar-menawar di pasar yang menjual berbagai macam kebutuhan masyarakat seperti tas, pakaian jadi, buah-buahan, sayur-sayuran dan makanan.

24 3.3 Instrumen Penelitian

Instrumen yang digunakan dalam penelitian ini berupa buku catatan, alat tulis, kamera dan alat perekam. Buku catatan adalah tempat untuk menuliskan setiap hal yang bisa menjadi data penelitian dan alat tulis digunakan untuk mencatat hal-hal yang terdapat di lapangan yang bisa menjadi data penelitian, kamera berguna untuk mengabadikan suatu kejadian secara visual yang bisa menjadi bukti penelitian dan alat rekam adalah alat utama untuk mendapatkan data yang lengkap untuk melengkapi data yang mungkin tak tercatat di dalam buku catatan.

3.4 Metode Pengumpulan Data

Dalam skripsi ini penulis menggunakan teknik pengumpulan data seperti berikut :

1. Metode Simak (pengamatan/observasi) dengan Teknik Simak Libat Cakap yaitu penulis berpartisipasi sambil menyimak pembicaraan. Penulis juga ikut serta dalam pembicaraan dengan mitra wicaranya sedangkan mitra wicara sama sekali tidak tahu bahwa yang diperhatikan bukan isi pembicaraan melainkan bahasa yang digunakan. Dalam teknik ini penulis sebagai alatnya, yaitu untuk dilibatkan langsung dalam membentuk dan memunculkan calon data. Penulis juga dapat menyadap pola-pola perilaku itu berulang, serta apakah kondisi-kondisi yang menyebakan muculnya perilaku tersebut.

2. Metode Cakap dengan menggunakan teknik cakap semuka yaitu dengan tatap muka langsung. Percakapan diarahkan sesuai dengan kepentingan

25

penulis yaitu memperoleh data selengkapnya. Dalam hal ini, baik diri penulis sendiri maupun orang lain yang dipancing datanya secara bersama-sama sebagai satu kesatuan yang dapat dipandang sebagai alatnya. Orang yang dipancing bicaranya itu merupakan narasumber bahan penelitian yang kemudian disebut informan. Informan tesebut sadar akan perannya sebagai narasumber yang pada hakikatnya alat pemerolehan data itu.

Artinya, dia tahu bahwa yang dikehendaki penulis adalah bahasanya bukan isi wicaranya.

3. Metode Catat. Untuk mendapatkan data yang lebih jelas baik dari metode simak maupun metode cakap dilakukan pencatatan. Pencatatan terhadap tuturan itu dapat dipandang sebagai teknik lanjutan. Proses kegiatan menyi mak dan mencatat tersebut dilakukan sedemikan rupa sehingga tidak menggangu kewajaran proses kegiatan peristiwa tutur yang sedang terjadi.

4. Metode Wawancara, yaitu penulis melakukan wawancara kepada informan yang dianggap dapat memberikan informasi atau data-data tentang objek penelitian.

3.5 Metode Analisis Data

Setelah data terkumpul, selanjutnya adalah menganalisis data. Adapun tahap-tahap analisis data yang dilakukan dalam penelitian ini adalah sebagai berikut :

1. Reduksi data, yaitu melakukan identifikasi keragaman pemilihan kode.

Pada tahap ini peneliti memutar ulang hasil rekaman dan mengidentifikasi keragaman pemilihan berdasarkan kode yang digunakan di dalam

26

peristiwa tutur tersebut. Reduksi ini bermanfaat untuk mendapatkan data-data yang masuk dalam kategori penelitian, yakni tuturan yang mengandung unsur alih kode dan campur kode pada tuturan yang terjadi dalam interaksi jual-beli di desa Sionom Hudon Sibulbulon, Kecamatan Parlilitan, Kabupaten Humbang Hasundutan.

2. Dilakukan transkip data hasil rekaman.

3. Setelah dilakukan transkip hasil rekaman, langkah selanjutnya adalah pengelompokkan data sesuai dengan jenis pilihan kode , faktor-faktor pemilihan kode dan wujud kode yang terdapat dalam peristiwa tutur tersebut.

4. Langkah terakhir adalah penyimpulan hasil penelitian yaitu jenis pilihan kode, faktor-faktor pilihan kode dan wujud varian kode dalam interaksi jual-beli di desa penelitian.

27

BAB IV PEMBAHASAN

Hasil penelitian yang dikemukakan dalam bab IV ini meliputi pemilihan bahasa atau kode yang digunakan dalam masyarakat dwibahasa, faktor-faktor yang mempengaruhinya dan wujud kode yang dipakai dalam masyarakat dwibahasa yang ada di desa Sionom Hudon Sibulbulon, Kecamatan Parlilitan, Kabupaten Humbang Hasundutan.

4.1 Pilihan Kode yang Digunakan Masyarakat Dwibahasa

Pilihan kode juga dibutuhkan oleh masyarakat dwibahasa di desa Sionom Hudon Sibulbulon, Kecamatan Parlilitan, Kabupaten Humbang Hasundutan berdasarkan pada kemahiran menggunakan dua bahasa dalam komunikasi. Pilihan kode atau pilihan bahasa selalu muncul bersama dengan adanya ragam bahasa.

Karena itu mengkaji pilihan bahasa jelas merupakan aspek penting dalam sosiolinguistik.

Rokhman (2013:25) pemilihan bahasa terdapat tiga kategori. Pertama, dengan memilih satu variasi dari bahasa yang sama atau disebut dengan tunggal bahasa (intra language variation). Apabila seorang penutur bahasa Batak Toba berbicara kepada orang lain dengan menggunakan bahasa Batak Toba. Kedua , dengan melakukan alih kode (code switching), artinya menggunakan satu bahasa pada satu keperluan dan menggunakan bahasa lain pada keperluan lain dalam satu peristiwa komunikasi. Ketiga, dengan melakukan campur kode (code mixing) artinya menggunakan satu bahasa tertentu dengan bercampur serpihan-serpihan dari bahasa lain.

28

Banyaknya variasi kebahasaan pada peristiwa tutur bahasa di masyarakat tutur di desa Sionom Hudon Sibulbulon, merupakan adanya berbagai kode bahasa yang dipakai di daerah tersebut. Data dari peristiwa tutur dalam ranah pekerjaan di pasar pada penelitian ini, memperlihatkan pemilihan kode yang digunakan dominan alih kode dan campur kode yang muncul dalam peristiwa tutur pada masyarakat di desa Sionom Hudon Sibulbulon. Alih kode dan campur kode tersebut tampak dalam tuturan berikut.

Percakapan 1

Pembeli 1 Elperia Panjaitan, Guru 51 (etnik Batak Toba) Pembeli 2 Muti Tinambunan, Bertani 48 (etnik Batak Pakpak) Penjual Teti Siregar, pedagang cabe, 37 (etnik Batak Pakpak)

Konteks Percakapan antara Pembeli dan Penjual pada waktu tawar menawar cabe

Pembeli 1 : “na naik ngo gendari arga cina ?”

„sekarang harga cabe naik ?‟

Pembeli 2 : “ue, lagi naik, bawang pe ku angan karang na naik nola”

„iya, naik lagi kayaknya bawang juga sebentar lagi naik lagi‟

Penjual : “cari apa eda ?“

„cari apa eda „ Pembeli 2 : “sadike seikatnya ?”

„berapa seikatnya ?‟

Penjual : “tiga ribuan. Pilih aja eda, masih ijo-ijo ini”

„tiga ribuan. Pilih aja eda, masih ijo-ijo ini'

Pembeli 2 : “ini tiga ikat aja. Buatkan cabe rawit lima ribu ya”

29

„ini tiga ikat aja. Buatkan cabe rawit lima ribu ya”

Dalam percakapan di atas awalnya pembeli 1 dan pembeli 2 menggunakan bahasa Batak Pakpak di dalam percakapannya, dan ketika penjual ikut dalam percakapan mereka dengan menggunakan bahasa Indonesia maka mereka pun beralih kode menggunakan bahasa Indonesia. Berdasarkan percakapan diatas pembeli 2 beralih kode dengan menggunakan bahasa Indonesia, karena menghormati penjualnya, dengan tidak sengaja mereka telah menghormati penjual karena tidak mempertahankan bahasa yang mereka gunakan pada waktu berinteraksi.

Gejala alih kode yang disebabkan karena pembicara atau penutur ingin mengimbangi kemampuan berbahasa si lawan tutur tersebut. Dalam hal ini biasanya kemampuan berbahasa si lawan tutur kurang karena memang mungkin bukan bahasa pertamanya. Kalau si lawan tutur itu berlatar belakang bahasa yang sama dengan penutur, maka alih kode yang terjadi hanya peralihan varian (baik regional maupun sosial), ragam, gaya, atau register. Kalau si lawan tutur berlatar belakang bahasa yang tidak sama dengan penutur, maka yang terjadi adalah alih bahasa.

Percakapan 2

Latar belakang : Pasar di desa Sionom Hudon Sibulbulon Para pembicara :

Pembeli Elperia Panjaitan, Guru, 51 (etnik Batak Toba)

Penjual Misda Tinambunan, pedagang pakaian jadi, 45 (etnik Batak Pakpak)

30

Konteks Percakapan antara Pembeli dan Penjual pada waktu tawar menawar

baju tidur

Pembeli : ”Sadike da, baju tidur en ?”

„berapa da, baju tidurnya ? „ Penjual : “Waluh puluh ribu”

„delapan puluh ribu‟.

Pembeli : “Nda boi kurang ?”

„tidak boleh kurang ?‟

Penjual : “Ya moru-moru citok mo”

„ya kurang-kurang sedikitlah‟

Pembeli : “Moru citok sadike ?”

„kurang sedikit berapa ?‟

Penjual : “Lima ribu mo”

„lima ribu ya‟

Pembeli : “Citok nai. Molo i?”

„dikit kali. Kalau itu ? Penjual : “Enem puluh ribu”

„enam puluh ribu‟

Pembeli : “Enem puluh ribu ? kasa beda bak i ?”

„enam puluh ribu ? kok beda dengan yang itu ? Penjual : “ Alah beda ngi”

„lah, memang beda‟

Pembeli : “Nda boi telu puluh ribu ?”

„engak dapat tiga puluh ribu ?‟

Penjual : “Oda, da.Harga pasnya lima puluh ribu, naing ki buat piga pasang ? “

31

„Tidak da, harga pasnya lima puluh ribu, mau ngambil berapa pasang ?‟

Pembeli : “Haaaa”

„Haaaa‟

Penjual : “Kipilih corak? Boi ngo”

„milih corak ? bisa kok‟

Pembeli : “Empat puluh lima ribu, boi da ?”

„empat puluh lima ribu ya, boleh da?‟

Penjual : “Boi mo lagi”

„Yaudahlah‟

Penjelasan :

Dilihat dari percakapan diatas adanya campur kode dalam proses komunikasi. Campur kode yang terdapat pada percakapan di atas adalah campur kode yang merupakan penyisipan unsur-unsur yang berupa kata dengan bahasa pertama (B1) yaitu bahasa Batak Pakpak. Kata “kurang" memiliki padanan kata dalam bahasa Batak Pakpak yang artinya „moru‟. Namun ada juga kata-kata yang yang tidak memiliki padanan kata dalam bahasa Batak Pakpak ke dalam bahasa Indonesia berikut ini contohnya, lima, baju tidur, pasang.

4.2 Faktor-faktor yang mempengaruhi Alih kode dan Campur kode

4.2.1 Faktor Penyebab Terjadinya Alih Kode Alih kode dalam interaksi percakapan pada ranah pekerjaan di Pasar di

desa Sionom Hudon Sibulbulon, Kecamatan Parlilitan, Kabupaten Humbang Hasundutan dianalisis melalui teori Fishman, yaitu faktor-faktor yang menyebabkan terjadinya alih kode mengacu pada siapa berbicara, dengan bahasa apa, kepada siapa, kapan dan dengan tujuan apa. Dibawah ini dapat dilihat

32

gambaran percakapan dari hasil penelitian seperti yang dapat diuraikan di bawah ini.

4.2.1.1 Penutur

Pada faktor penutur ini biasanya ada kepentingan yang menguntungkan atau terdapat manfaat yang ingin diperoleh oleh penutur, sehingga mereka melakukan alih kode. Percakapan dibawah ini menunjukkan penutur ingin mengharapkan keuntungan atau manfaat dari percakapan yang dilakukannya.

Percakapan di bawah ini menunjukkan penutur ingin mengharapkan keuntungan atau manfaat dari percakapan yang dilakukannya.

Percakapan 1

Pembeli 1 Elperia Panjaitan, Guru 51 (etnik Batak Toba) Pembeli 2 Muti Tinambunan, Bertani 48 (etnik Batak Pakpak) Penjual Teti Siregar, pedagang cabe, 37 (etnik Batak Pakpak)

Konteks Percakapan antara Pembeli dan Penjual pada waktu tawar menawar cabe

Pembeli 1 : “na naik ngo gendari arga cina ?”

„sekarang harga cabe naik ?‟

Pembeli 2 : “ue, lagi naik, bawang pe ku angan karang na naik nola”

„iya, naik lagi kayaknya bawang juga sebentar lagi naik lagi‟

Pembeli 1 dan Pembeli 2 berada di salah satu tempat jual beli cabe sehingga pembeli beralih kode ke dalam bahasa Indonesia.

Penjual : “cari apa eda ?“

„cari apa eda „ Pembeli 2 : “sadike seikatnya ?”

33 „berapa seikatnya ?‟

Penjual : “tiga ribuan. Pilih aja eda, masih ijo-ijo ini”

„tiga ribuan. Pilih aja eda, masih ijo-ijo ini'

Pembeli 2 : “ini tiga ikat aja. Buatkan cabe rawit lima ribu ya”

„ini tiga ikat aja. Buatkan cabe rawit lima ribu ya”

Penjelasan :

Dilihat dari percakapan di atas dapat dilihat pada mulanya pembeli 1 berbicara menggunakan bahasa Batak Pakpak dan ditanggapi pembeli 2 dengan bahasa Batak Pakpak juga. Tetapi ketika pembeli 1 dan pembeli 2 berada di salah satu tempat jual beli cabe akhirnya pembeli pun beralih kode menggunakan bahasa Indonesia hingga percakapan berakhir dengan penjual tersebut.

Pada peristiwa ini tampak jelas bahwa penjual mencoba pembeli beralih bahasa daerah ke bahasa Indonesia karena penjual tidak bisa menggunakan bahasa daerahnya yaitu bahasa Batak Pakpak. Dengan berbahasa Indonesia, rasa ketersinggungan bahasa terjalin namun karena bahasa persatuan maka percakapan antara penjual dan pembeli berjalan dengan tepat. Alih kode untuk memperoleh

„keuntungan‟ini biasanya dilakukan oleh penutur yang dalam peristiwa tutur itu mengharapkan bantuan lawan tuturnya. Oleh karena itu alih kode yang dilakukan pembeli untuk memperoleh keuntungan yaitu mendapat barang yang diinginkan.

4.2.1.2 Lawan Tutur.

Dalam hal ini kemampuan berbahasa si lawan tutur kurang atau sedikit kurang mengerti karena bahasa tersebut bukan bahasa pertamanya., jika lawan tutur yang latar belakang kebahasaannya sama dengan penutur biasanya beralih kode dalam wujud alih varian (baik regional maupun sosial), ragam gaya. Atau

34

register. Kemudian bila lawan tutur berlatar belakang kebahasaan berbeda cenderung alih kode berupa alih bahasa.

Percakapan di bawah ini menunjukkan penutur beralih bahasa.

Percakapan 3

Latar belakang : Pasar di desa Sionom Hudon Sibulbulon Para pembicara :

Pembeli Elperia Panjaitan, Guru, 51 (etnik Batak Toba)

Penjual Yanti Tumanggor, pedagang baju jadi, 35 (etnik Batak Pakpak) Konteks Percakapan antara Pembeli dan Penjual pada waktu tawar

menawar baju tidur

Pembeli : “En daster en sadike da?”

„ini dasternya berapa, eda?‟

Penjual : “Waluh puluh ribu da, en nggo bagak kainna, da”

„delapan puluh ribu da, ini udah bagus kainnya Pembeli :“Boi moru ?”

„bisa kurang ?‟

Penjual : “Pitu puluh ribu harga pasna”

„tujuh puluh ribu pasnya‟

Pembeli : “Nda dapet lima puluh ribu, asa langganen kita”

„ngak dapat lima puluh ribu, biar langganan kita‟

Penjual : “Ki buat piga baju ?”

„ambil berapa baju ?‟

Pembeli : “Sada pe, boi ngo”

„satu aja, boleh ya‟

Penjual : “Ya bagimo da, aku buat sada pe”

35

„yaudahlah da, aku ambil satu aja‟.

Percakapan di atas dapat dilihat bahwa pembeli merupakan etnik Batak Toba dalam hal ini kemampuan berbahasa si pembeli sedikit mengerti bahasa batak Pakpak walaupun bahasa tersebut bukan bahasa pertamanya, sehingga pembeli yang latar belakang kebahasaannya berbeda dengan penjual biasanya beralihnya kode memiliki maksud tertentu, yaitu ingin menyesuaikan dengan kode yang dipakai oleh penjual. Karena situasi interaksi dilakukan di pasar maka kode yang berwujud ragam komunikasi ringkas digunakan dalam situasi non-formal.

4.2.1.3 Kehadiran Orang Ketiga.

Pada faktor ini biasanya orang ketiga tidak memiliki latar belakang bahasa yang sama dengan bahasa yang sedang digunakan penutur dan lawan tutur. Misal, terdapat dua orang yang sedang bercakap-cakap menggunakan bahasa Jawa, lalu datanglah teman dari Batak yang tidak mengerti bahasa Jawa tersebut. Kemudian, kedua orang tersebut dapat berada dalam lingkaran pembicaraan. Berkaitan dengan kehadiran orang ketiga ini. Tidak saja menentukan bahasa yang menjadi fokus alih kode, tetapi dapat pula varian yang digunakan. Misal, percakapan menggunakan bahasa Indonesia ragam santai menjadi ragam baku, dan lain-lain.

Di bawah ini adalah beberapa percakapan di dalam interaksi tawar-menawar di desa Sionom Hudon Sibulbulon.

Percakapan 4

Latar belakang : Pasar di desa Sionom Hudon Sibulbulon Para pembicara :

Pembeli Selin Sinaga, Pelajar, 18 (etnik Batak Toba)

Penjual 1 Tika Sinambela, pedagang jeruk, 45 (etnik Batak Toba)

36

Penjual 2 Lisda Barutu, pedagang lemang, 30 (etnik Batak Pakpak)

Konteks Percakapan antara Pembeli dan Penjual pada waktu tawar menawar

jeruk

Percakapan antara Pembeli dan Penjual pada saat menawar lemang Penjual : “Naing manuhor aha dek ?”

„mau beli apa, de ?‟

Pembeli : “sadia jeruk ?”

„berapa jeruknya ?‟

Penjual 1 : “sapuluh dua, naing muat piga kilo ?”

„dua belas ribu, mau berapa kilo ?‟

Pembeli : “bain ma jo sakilo”

„buatlah dulu sekilo‟

Tiba-tiba datang penjual lemang

Penjual 2 : “Lemang….lemang…..

Tokor ke lemang en dek, oda lot duri en belgah ngo lot”

„lemang…. Lemang….

Belilah de lemangnya, tidak ada durinya, besar lagi‟

Pembeli : “Idike mungkin lot duri lemang, sadike sabungkus ?”

“Tidak mungkin berduri lemang, berapa sebungkus?”

Penjual : “lima ribu ngo da”

„lima ribu aja‟

Pembeli : “bain mo lagi dua bungkus, en kepengna”

„ya sudah dua bungkus aja, ini uangnya‟

Penjelasan :

37

Dalam percakapan di atas awalnya penjual dan pembeli menggunakan bahasa Batak Toba di dalam percakapannya, dan ketika penjual 2 datang dan ikut dalam percakapan mereka dengan bahasa Batak Pakpak. Berdasarkan percakapan diatas pembeli beralih kode atau beralih bahasa dengan menggunakan bahasa Batak Pakpak, karena menghargai penjual 2, dengan tidak sengaja pembeli telah menghargai penjual 2 karena tidak mempertahankan bahasa yang mereka gunakan pada waktu tawar-menawar.

Gejala alih kode yang disebabkan karena pembicara atau penutur ingin mengimbangi kemampuan berbahasa si lawan tutur tersebut. Dalam hal ini biasanya kemampuan berbahasa si lawan tutur yang kurang karena memang mungkin bukan bahasa pertamanya. Kalau si lawan tutur itu berlatar belakang bahasa yang sama dengan penutur, maka alih kode yang terjadi hanya peralihan varian (baik regional maupun sosial), ragam, gaya atau register. Kalau si lawan tutur berlatar belakang bahasa yang tidak sama dengan penutur, maka yang terjadi adalah alih bahasa.

4.2.1.4 Perubahan Topik Pembicaraan.

Perubahan situasi bicara dapat menyebabkan terjadinya alih kode. Situasi tersebut dapat berupa situasi formal ke informal atau sebaliknya. Di bawah ini adalah beberapa percakapan di dalam interaksi tawar-menawar yang terjadi peristiwa alih kode yang disebabkan oleh situasi pembicaraan.

Percakapan 7

Latar belakang : Pasar di desa Sionom Hudon Sibulbulon Para pembicara :

38

Pembeli Elperia Panjaitan, Guru, 51 (etnik Batak Toba) Eritansel Tumanggor, siswa, 11 (anaknya)

Penjual Lisda Nahampun, pedagang pakaian jadi, 34 (etnik Batak Pakpak) Konteks Percakapan antara Pembeli dan Penjual pada waktu tawar

menawar pakaian jadi

Pembeli : “Si ketek-ketek en sambin ?”

„yang kecil-kecil hanya ini ?‟

Pembeli : “Sadike en ?”

„berapa ini ?‟

Penjual : (sambil mencarikan model yang lain) “Lot ngo model lain”.

„ada kok model lainnya‟.

Pembeli : “Waluh puluh lima ribu i pake kain puring”

„delapan puluh lima ribu itu menggunakan kain puring‟

Penjual : “Lot I jolo i, yang plokadot atau yang mana ?”

„ada, lah itu ada di depan, si plokadot atau yang mana ?‟.

Pembeli : (berbicara dengan puterinya yang masih kecil) “Mau yang ini nak ?”

Penjual : “Coba kidah en ?”

„coba yang ini ?‟

Pembeli : “En sadike? “ „ini berapa ?”

Penjual : “Pitu puluh ribu”

„tujuh puluh ribu‟

Pembeli : “naing buat piga ?”

39 „mau ambil berapa ?”

Penjual : “Sada pe, harga pasna sadike ? “ „satu aja, berapa harga pasnya ?‟

Pembeli : “Enem puluh ribu”

„enam puluh ribu‟

Penjual : “Ue”

„iya‟

Pembeli : “molo dua pasang ?”

„kalau dua pasang ?‟

Penjual : “molo dua pasang dua kali lipat argana, seratus dua puluh “

„kalau dua pasang ya dua kali lipat harganya, seratus dua puluh

ribu‟

Pembeli : “haaa, molo dua pasang saratus ribu, boi ?.

„haaa, kalau dua pasang seratus ribu, boi ? Penjual : “molo nasi oda dapet”

„enggak dapat kalau segitu‟

Pembeli : (sambil berjalan meninggalkan lokasi tawar-menawar)

Dalam percakapan di atas dapat dilihat pada saat si pembeli bermaksud membelikan pakaian untuk anaknya yang masih kecil. Kebetulan si anak tidak dapat berbahasa Pakpak tetapi berbahasa Indonesia. Karena si pembeli selalu berbahasa Indonesia (profesi guru) dalam mencobakan pakaiannya kepada si anak, si penjual pun tetap mempertahankan bahasanya hanya si pembeli yang beralih kode terhadap si anak.

40 4.2.1.5 Membangkitkan Rasa Humor.

Pada faktor ini biasanya penutur dan lawan tutur kesulitan mencari kata-kata humor dalam bahasa yang mereka gunakan, lalu mencari kata-kata-kata-kata lucu atau humor dalam bahasa yang mereka kuasai. Seorang pelawak Kartolo terkadang dalam humornya sering menggunakan bahasa Jawa, padahal percakapan yang ia gunakan dalam komunikasi kepelawakannya menggunakan bahasa Indonesia.

Dapat dilihat dan diperhatikan tidak ada ditemukan interaksi yang membangkitkan rasa humor saat berlangsungnya tawar-menawar di desa Sionom Hudon Sibulbulon.

4.2.1.6 Gengsi.

Pada faktor ini sebenarnya penutur ingin meningkatkan status sosialnya dihadapan lawan tutur agar ia dianggap memiliki status sosial yang lebih tinggi.

Sebagai misal, ketika bercakap-cakap dalam bahasa Indonesia, lalu penutur dengan tiba-tiba beralih menggunakan bahasa asing (Inggris, Arab, dan lain-lain) untuk meningkatkan rasa gengsinya bahwa ia ingin dianggap berpendidikan.

Percakapan 8

Latar belakang : Pasar di desa Sionom Hudon Sibulbulon Para pembicara :

Pembeli 1 Elperia, Guru 51 (etnik Batak Toba dan menguasai bahasa Batak

Pakpak)

Pembeli 2 Emelia Tumanggor, Siswa 20 (etnik Pakpak)

Penjual Lamris Nahampun, penjual pakaian , 33 (etnik Batak Pakpak) Konteks Percakapan antara Pembeli dan Penjual pada waktu tawar

menawar pakaian

41 Pembeli 1 : “sadike short en sada?”

„berapa short (celana pendek) ini satu ?‟

„berapa short (celana pendek) ini satu ?‟

Dokumen terkait