TABEL 30 VOKOID BAHASA NAGEKEO
8.2 Variasi Fonem dalam Dimensi Geografi Dialek
FRIKATIF TB - f s - c - - h - B - z - j - - - LATERAL B - - l - - - - - - TRILL=GETAR B - - r - - - - - - LUNCURAN SEMIVOKAL B - w - - y - - - -
8.2 Variasi Fonem dalam Dimensi Geografi Dialek
Variasi-variasi segmen fonem dalam Bahasa Nagekeo dibedakan atas dua macam, yaitu: variasi teratur dan variasi tidak teratur (sporadis).
xxix 8.2.1 Variasi Teratur
Variasi segmen fonem dikatakan teratur jika realisasi variasi fonem berupa alofon-alofon itu terjadi pada glos-glos yang berbeda pada berbagai titik pengamatan yang sama. Variasi-variasi segmen bunyi berupa alofon-alofon dalam berbagai isolek di Kabupaten Nagekeo, oleh penuturnya dijadikan sebagai ciri pengenal dan pembeda wilayah dialek/subdialek karena varian-varian itu digunakan secara konsisten dan berulang dalam berbagai glos pada satuan wilayah/daerah tertentu.
Variasi segmen fonem yang terjadi secara teratur dalam berbagai isolek di Kabupaten Nagekeo yang dipandang signifikan sebagai ciri pengenal dan pembeda wilayah dialek/subdialek secara geografis hanya ditemukan pada variasi fonem konsonan sedangkan variasi fonem vokal terjadi secara tidak teratur atau sporadis.
Dalam penelitian ini ditemukan 6 (enam) buah fonem konsonan yang mengalami variasi teratur, seperti yang dideskripsikan berikut ini.
8.2.1.1 Varian Teratur Konsonan /b/ ≈ Alofon [b], [bh], [mb] / #__V
Identifikasi variasi alofon [b], [bh], dan [mb] dilakukan berdasarkan pemakaian varian alofon-alofon itu pada berbagai titik pengamatan dalam Bahasa Nagekeo, Bahasa Mbay, dan Bahasa Ende.
a) Wilayah Bahasa Nagekeo
(1) Alofon bilabial [b] menjadi ciri pemakaian di:
(a) Wilayah Nage – Tengah Utara pada Dialek Munde, yang terdapat pada TP 3, Dialek Dhawe pada TP 4, Dialek Lape–Ia pada TP 6, 7, Dialek Lambo pada TP 12, Dialek Dhereisa pada TP 15, Dialek Rendu pada TP 16.
(b) Wilayah Nage - Tengah Selatan pada Dialek Ndora pada TP 22,30, Dialek Jaduro (Raja, Wudu, Gero) pada TP 23, 24, 28, Dialek
Kotakeo pada TP 31, 41, 44.
(c) Wilayah Nage - Tengah yang terdapat pada Dialek Boawae pada TP 25,26, 27, 34.
(d) Wilayah Keo–Barat, yang terdapat pada Dialek Lejo pada TP 32, 33, 37, 38; Dialek Aewoe pada TP 46; Dialek Kotagana pada TP 47; Sara – Taka pada TP 35, 36; dan Dialek Soa – Poa pada TP 13, 14.
(2) Alofon bilabial beraspirasi [bh] menjadi ciri pemakaian di wilayah Nage Utara –Timur yang terdapat Dialek Toto atau Dialek Wolowae pada TP 8, 11, 17 dan Dialek Oja pada TP 18.
(3) Alofon bilabial pranasal [mb] menjadi ciri pemakaian di:
(a) Wilayah Keo - Tengah pada Dialek Kotowuji pada TP 39, 40, 48, 49, 50; dan Dialek Romba pada TP 45.
xxx
(b) Wilayah Keo – Timur yang terdapat pada Dialek Riti-Woko pada TP 42, 43.
(c) Wilayah Nage Utara – Timur, yang terdapat pada Dialek Oja pada TP 9, 19, 20.
(4) Alofon bilabial beraspirasi [bh] dan Alofon bilabial berpranasal /mb/ dikenal dan digunakan secara bersama di wilayah Nage Utara - Timur yang terdapat di wilayah Dialek Toto atau Dialek Wolowae pada TP 17 di Desa Utetoto karena desa ini sejak zaman dahulu terletak di daerah transisi dengan wilayah Bahasa Ende yang menggunakan alofon bilabial berpra-nasal /mb/.
b) Wilayah Bahasa Mbay
Konsonan bibial berpranasal /mb/ menjadi ciri pemakaian dari: (1) Dialek Lengkosambi yang terdapat pada pada TP 1.
(2) Dialek Nggolonio yang terdapat pada TP 2. (3) Dialek Nggolombay yang terdapat pada TP 5. c) Wilayah Bahasa Ende
Alofon bibial berpranasal [mb] menjadi ciri pemakaian dari: (1) Dialek Maukaro yang terdapat pada TP 10 Desa Kebirangga (2) dialek Nangapanda yang terdapat pada TP 21 Desa Kerirea. 8.2.1.2 Varian Teratur Konsonan /d/ ≈ Alofon [d] dan [nd] / #__V
Identifikasi variasi alofon [d] dan [nd] dilakukan berdasarkan pemakaian varian alofon itu pada berbagai titik pengamatan dalam Bahasa Nagekeo, Bahasa Mbay, dan Bahasa Ende, seperti terlihat pada tabel di atas.
1) Wilayah Bahasa Nagekeo
a) Alofon dental [d] menjadi ciri pemakaian di wilayah-wilayah berikut ini, (1) Wilayah Nage - Tengah Utara, yang terdapat Dialek Munde pada TP 3;
Dialek Dhawe pada TP 4; Dialek Lape – Ia pada TP 6,7; Dialek Lambo pada TP 12; Dialek Dhereisa pada TP 15; Dialek Rendu pada TP 16. (2) Wilayah Nage Tengah – Selatan yang terdapat Dialek Ndora pada TP
22, 30; Dialek Jaduro (Raja, Wudu, Gero) pada TP 23, 24, 28; Dialek Boawae yang terdapat pada TP 25-27,25-27, 34; Dialek Kelimado pada TP 29;13,14,Dialek Kotakeo pada TP 31; Dialek Sara - Taka pada TP 35, 36.
(3) Wilayah Keo – Barat yang terdapat Dialek Lejo pada TP 37, 38; Dialek Aewoe pada TP 46; Dialek Kotagana pada TP 47.
b) Alofon dental berpranasal [nd] menjadi ciri pemakaian di wilayah-wilayah berikut ini.
(1) Wilayah Nage Utara – Timur, yang terdapat pada Dialek Toto atau Dialek Wolowae pada TP 8, 9, 11, 17; Dialek Oja pada TP 18, 19, 20.
xxxi
(2) Wilayah Keo Tengah, yang terdapat pada Dialek Kotowuji pada TP 39, 40, 48-50
(3) Wilayah Keo Timur, yang terdapat pada Dialek Riti – Woko pada TP 42, 43.
(4) Wilayah Keo Barat, yang terdapat pada Dialek Lejo pada TP 32, 33; Dialek Aewoe pada TP 46; dan Dialek Kotagana pada TP 47.
c) Alofon dental [d] dan dental berpranasal [nd] digunakan secara bersama di wilayah Keo Barat yang terdapat di wilayah Dialek Ladolima Utara pada TP 41, wilayah Dialek Ladolima pada TP 44, wilayah Dialek Witurombaua pada TP 45, wilayah Dialek Aewoe pada TP 46 dan Dialek Kotagana pada TP 47 karena wilayah ini terletak di daerah transisi dengan wilayah Keo Tengah.
2) Wilayah Bahasa Mbay
Alofon dental berpranasal [nd] menjadi ciri pemakaian pada. (1) Dialek Lengkosambi yang terdapat pada TP 1.
(2) Dialek Nggolonio yang terdapat pada TP 2. (3) Dialek Nggolombay yang terdapat pada TP 5. 3) Wilayah Bahasa Ende
Alofon dental berpranasal [nd] menjadi ciri pemakaian pada: (1) Dialek Maukaro yang terdapat pada TP 10 Desa Kebirangga (2) dialek Nangapanda yang terdapat pada TP 21 Desa Kerirea. 8.2.1.3 Varian Teratur Konsonan /g/ ≈ Alofon [g] dan [ŋg] / #__V
Identifikasi varian alofon velar [g] dan velar berpranasal [ŋg] dilakukan berdasarkan pemakaian varian-varian alofon itu pada berbagai titik pengamatan dalam Bahasa Nagekeo, Bahasa Mbay, dan Bahasa Ende.
1) Wilayah Bahasa Nagekeo
a) Varian alofon velar [g] menjadi ciri pemakaian di:
(1) Wilayah Nage Tengah - Utara yang terdapat pada Dialek Munde pada TP 3; Dialek Dhawe yang terdapat pada TP 4; Dialek Lape - Ia yang terdapat pada TP 6, 7; Dialek Lambo yang terdapat pada RP 12; Dialek Dhereisa yang terdapat pada TP 15; Dialek Rendu terdapat pada TP 16.
(2) Wilayah Nage Tengah - Selatan yang terdapat pada Dialek Ndora pada TP 22, 30; Dialek Jaduro (Raja, Wudu, Gero) pada TP 23, 24, 28; Dialek Kelimado pada TP 29; Dialek Kotakeo pada TP 31, 41, 44; Dialek Boawae pada TP 25, 26, 27, 34; Dialek Sara – Taka pada TP 35, 36; Dialek Soa – Poma pada TP 13, 14.
(3) Wilayah Keo - Barat yang terdapat pada Dialek Lejo pada TP 32, 33, 37, 38; Dialek Aewoe pada TP 46.
xxxii
(3) Wilayah Dialek Toto atau Dialek Wolowae terdapat pada TP 8, 9, 11; Dialek Oja terdapat pada TP 17, 18;
b) Varian alofon velar berpranasal [ŋg] menjadi ciri pemakaian di:
(1) Wilayah Nage Utara - Timur yang terdapat pada dialek Toto atau Dialek Wolowae pada TP 9,17; Dialek Oja terdapat pada TP 19, 20. (2) Wilayah Keo – Tengah yang terdapat pada Dialek Kotowuji pada TP
39, 40, 45, 48--50; Dialek Romba yang terdapat pada TP 45.
c) Varian alofon velar [g] dan velar berpranasal [ŋg] digunakan secara bersama di wilayah Nage Utara–Timur yang terdapat di wilayah Dialek Toto atau Dialek Wolowae pada TP 17 di Desa Utetoto karena desa ini sejak zaman dahulu terletak di daerah transisi dengan wilayah Bahasa Ende yang menggunakan alofon velar berpranasal [ŋg].
2) Wilayah Bahasa Mbay
Alofon velar berpranasal [ŋg] menjadi ciri pemakaian pada (1) Dialek Lengkosambi yang terdapat pada TP 1, (2) Dialek Nggolonio yang terdapat pada TP 2, (3) Dialek Nggolombay yang terdapat pada TP 5.
3) Wilayah Bahasa Ende
Alofon velar berpranasal [ŋg] menjadi ciri pemakaian pada: (1) Dialek Maukaro yang terdapat pada TP 10 Desa Kebirangga
(2) dialek Nangapanda yang terdapat pada TP 21 Desa Kerirea.
8.2.1.4 Varian Teratur Konsonan Apiko Alveolar /z/ ≈ Alofon [z], [r], [R], [s], [y]/ #__V
Identifikasi varian alofon [z], [r], [s], [y] dilakukan berdasarkan pemakaian varian alofon itu pada berbagai titik pengamatan dalam Bahasa Nagekeo, Bahasa Mbay, dan Bahasa Ende.
1) Wilayah Bahasa Nagekeo
a) Varian alofon apiko alveolar [z] menjadi ciri pemakaian di:
(1) Wilayah Nage Tengah-Utara, yang terdapat Dialek Munde pada TP 3; Dialek Dhawe pada TP 4; Dialek Lape – Ia pada TP 6,7; Dialek Lambo pada TP 12; Dialek Dhereisa pada TP 15; Dialek Rendu pada TP 16
(2) Wilayah Nage Utara–Timur, yang terdapat pada Dialek Toto atau Dialek Wolowae pada TP 11, 17 dan Dialek Oja pada TP 20.
(3) Wilayah Nage Tengah – Selatan, yang terdapat pada Dialek Ndora pada TP 22, 30; Dialek Jaduro (Raja, Wudu, Gero) pada TP 23, 24, 28; Dialek Kelimado pada TP 29.
(4) Wilayah Nage Tengah, yang terdapat pada Dialek Boawae pada TP 25-27.
xxxiii
(5) Wilayah perbatasan Kabupaten Nagekeo, dengan Kabupaten Ngada yang terdapat pada Dialek Sara – Taka pada TP 35.
b) Varian alofon tril [r] menjadi ciri pemakaian pada wilayah berikut ini. (1) Wilayah Nage Tengah yang terdapat pada Dialek Boawae pada TP 34. (2) Wilayah perbatasan Kabupaten Nagekeo dengan Kabupaten
Ngada yang terdapat pada Dialek Sara - Taka pada TP 36.
(3) Wilayah Keo – Barat pada yang terdapat pada Dialek Lejo yang terdapat pada TP 32, 33, 37, 38; Dialek Aewoe pada TP 46.
(4) Wilayah Keo Tengah yang terdapat pada Dialek Kotowuji pada TP 39, 40, 48--50; Dialek Romba pada TP 45.
(5) Wilayah Keo Timur yang terdapat pada Dialek Riti - Woko pada TP 42, 43.
(6) Wilayah Nage Utara – Timur, yang terdapat pada Dialek Watu Mite pada TP 18
c) Varian alofon apiko alveolar dan tril [z,r] menjadi ciri pemakaian pada Dialek Wolowae pada TP 8.
d) Varian alofon semivokal [y] menjadi ciri pemakaian di:
(1) Wilayah Nage Utara – Timur, yang tedapat pada Dialek Toto atau Dialek 19.
(2) Wilayah Nage Tengah – Selatan, yang tedapat pada Dialek Kotakeo pada TP 31, 41, 44.
2) Wilayah Bahasa Mbay
Varian alofon desis [s] menjadi ciri pemakaian pada: (a) Dialek Lengkosambi yang terdapat pada TP 1.
(b) Dialek Nggolonio yang terdapat pada TP 2. (c) Dialek Nggolombay yang terdapat pada TP 5. 3) Wilayah Bahasa Ende
Varian alofon tril uvular [R] menjadi ciri pemakaian Dialek Maukaro pada TP 10 dan Subdialek Kerirea pada TP 21.
8.2.1.5 Varian Teratur Konsonan tril /r/ ≈ Alofon [r], [R], [l], [lh], [h], [y], [ø]/ #__V
Identifikasi Varian Alofon [r], [R], [l], [lh], [h], [y], [ø] dilakukan berdasarkan pemakaian varian alofon-alofon itu pada berbagai titik pengamatan dalam Bahasa Nagekeo, Bahasa Mbay, dan Bahasa Ende.
a) Wilayah Bahasa Nagekeo
1) Alofon tril [r] menjadi ciri pemakaian dari Wilayah Nage Tengah – Utara pada: (a) Dialek Dhawe pada TP 4,
xxxiv (c) Dialek Rendu pada TP 16.