• Tidak ada hasil yang ditemukan

HASIL DAN PEMBAHASAN

4.1. Vegetasi Mangrove Blanakan

Daerah penelitian ditumbuhi beberapa jenis tanaman mangrove, beberapa mangrove telah dibudidayakan oleh masyarakat sekitar untuk dijadikan tambak. Berdasarkan identifikasi vegetasi mangrove di lokasi penelitian, terdapat 4 jenis mangrove yang tumbuh asri (relatif tidak terganggu) yaitu Avicennia (zona 1/BSR1), Rhizophora (zona 2/BSR2), Sonneratia (zona 4/BSR4), dan Bruguiera. Kemudian vegetasi yang juga identik dengan ekosistem mangrove adalah jeruju (zona 3/BSR3). Sehingga diambil 4 zona sesuai dengan vegetasi yang tumbuh, yaitu zona Avicennia, Rhizophora, Sonneratia, dan Jeruju. Adapun zona yang ditumbuhi oleh Bruiguera tidak dilakukan pengambilan sampel karena kondisi tanah yang selalu tergenang dengan kedalaman yang tidak dapat diperkirakan dan kondisi lapang yang berbahaya.

Pada zona Avicennia marina banyak ditemukan serasah dan lumpur pada lapisan atas tanahnya dengan kedalaman mencapai 30 cm. Zona ini dikelilingi parit dengan air yang relatif tidak mengalir dan paling dekat dengan muara atau aliran sungai dibandingkan zona lainnya. Zona Avicennia termasuk ke dalam tipe penggenangan 2 dimana dipenuhi dengan lumpur dan terpengaruh oleh aliran sungai.

Pada daerah yang ditanami Rhizophora ditemukan pula serasah namun tidak sebanyak pada daerah Avicennia. Serasah tersebut berupa serasah kering tanpa lumpur. Zona Rhizophora lebih jauh dari muara atau sungai/aliran sungai/laut dibandingkan zona Avicennia. Daerah ini juga dikelilingi parit yang airnya relatif tidak mengalir. Tipe penggenangan 2 sampai 3 dimana terdapat lumpur yang juga mendapat sedikit pengaruh dari aliran sungai/laut.

Jeruju dan Sonneratia hidup pada parit-parit yang dialiri oleh air/air relatif mengalir dengan kondisi tanah yang tergenang. Zona ini memiliki tipe penggenangan 4 dan 5 dimana tanahnya klei hasil pencucian dari aliran sungai. Selanjutnya zona Sonneratia acida memiliki tipe penggenangan 4 dan 5 dengan tanah klei dipengaruhi oleh aliran air sungai.

18 4.2. Tanah

Morfologi tanah yang dilihat langsung di lapang adalah.horisonisasi tanah, warna tanah, tekstur, struktur, jumlah ukuran bandingan karat, perakaran, horison penciri, konsistensi, dan DHL/Ec lapang.

Tanah pada zona 1 (BSR1) dengan vegetasi Avicennia marina memiliki 2 horison/lapisan, yaitu lapisan pertama dengan kedalaman 0-10 cm dan lapisan kedua pada kedalaman 10-100 cm. Warna tanah yang terdiri dari hue (spektrum yang dominan) pada lapisan 0-10 cm dan lapisan 10-100 cm berwarna Gley 1, value (gelap terang) pada lapisan 0-10 cm sebesar 2,5 dan pada lapisan 10-100 cm sebesar 5, serta chroma (kemurnian warna) pada lapisan 0-10 cm sebesar 12 dan pada lapisan 10-100 cm sebesar 10 Y. Tekstur di lapang menunjukkan bahwa tanah lokasi 1 memiliki tekstur klei berdebu baik pada lapisan 0-10 cm maupun pada lapisan 10-100 cm. Tanah pada zona 1 ini tidak mengandung bahan kasar dan tidak memiliki struktur dari 0-100 cm. Sistem perakaran di zona 1 kasar dan sedikit pada kedalaman 0-50 cm. Tidak memiliki horison penciri dan pada kondisi basah konsistensi ditetapkan dengan dua parameter, yaitu kelekatan dan plastisitas. Tanah zona 1 pada kondisi basah di lapisan 0-10 cm dan lapisan 10-100 cm adalah tidak lekat dan tidak plastis, sedangkan pada kondisi lembab konsistensi kedua lapisan sangat teguh dimana masa tanah sangat tahan terhadap remasan. Pada kondisi kering, konsistensi kedua lapisan sangat keras sekali (extremely hard) dimana tanah sangat tahan terhadap tekanan (masa tanah tidak dapat dipecahkan dengan tangan).

Tanah pada zona 2 (BSR2) memiliki 2 horison/lapisan, yaitu lapisan pertama dengan kedalaman 0-10 cm memiliki warna tanah 10YR 2/1 dan lapisan kedua pada kedalaman 10-100 cm memiliki warna tanah GY1 5/5 . Tekstur di lapang menunjukkan bahwa tanah zona 2 memiliki tekstur klei berdebu baik pada lapisan 0-10 cm maupun pada lapisan 10-100 cm. Tanah pada zona 2 tidak mengandung bahan kasar dan tidak memiliki struktur dari kedalamn 0-100 cm. Sistem perakaran pada zona ini kasar dan sedang terdapat pada kedalaman 0-60 cm. Sistem perakaran tersebut hanya dapat ditemukan pada tanah-tanah yang dekat dengan Rhizophora. Pada zona 2 tidak ditemukan horison penciri serta

19 konsistensi tanah zona 2 pada kondisi basah di lapisan 0-10 cm dan lapisan 10-100 cm adalah tidak lekat dan tidak plastis, sedangkan pada kondisi lembab konsistensi kedua lapisan sangat teguh dimana masa tanah sangat tahan terhadap remasan. Pada kondisi kering, konsistensi kedua lapisan sangat keras sekali dimana tanah sangat tahan terhadap tekanan (masa tanah tidak dapat dipecahkan dengan tangan).

Tanah pada zona 3 (BSR3) memiliki 2 horison/lapisan, yaitu lapisan pertama dengan kedalaman 0-50 cm memiliki warna tanah GY1 3/10 dan lapisan kedua pada kedalaman 50-100 cm memiliki warna tanah GY1 4/5. Tekstur di lapang menunjukkan bahwa tanah zona 3 memiliki tekstur klei berdebu baik pada lapisan 0-50 cm maupun pada lapisan 50-100 cm. Tanah zona 3 tidak mengandung bahan kasar dan tidak memiliki struktur dari 0-100 cm. Sistem perakaran pada zona 3 adalah kasar dan sedikit serta halus dan sedikit. Konsistensi tanah zona 3 pada kondisi basah di lapisan 0-50 cm dan lapisan 50-100 cm adalah tidak lekat dan tidak plastis, sedangkan pada kondisi lembab konsistensi kedua lapisan sangat teguh dimana masa tanah sangat tahan terhadap remasan. Pada kondisi kering, konsistensi kedua lapisan sangat keras sekali dimana tanah sangat tahan terhadap tekanan (masa tanah tidak dapat dipecahkan dengan tangan).

Tanah pada zona 4 memiliki 3 horison/lapisan, yaitu lapisan pertama dengan kedalaman 0-5 cm memiliki warna tanah 10YR 3/4, lapisan kedua pada kedalaman 5-40 cm memiliki warna tanah GY 1 2,5/12 dan pada lapisan ketiga kedalaman 40-100 cm memiliki warna tanah GY 1 3/5. Tekstur di lapang menunjukkan bahwa tanah di zona 4 pada ketiga kedalaman memiliki tekstur klei berdebu. Tanah zona 4 tidak mengandung bahan kasar dan tidak memiliki struktur dari 0-100 cm. Sistem perakaran pada zona 4 adalah kasar dan sedikit serta tidak memiliki horison penciri. Konsistensi tanah di zona 4 pada kondisi basah untuk ketiga lapisan adalah tidak lekat dan tidak plastis, sedangkan pada kondisi lembab konsistensi ketiga lapisan sangat teguh dimana masa tanah sangat tahan terhadap remasan. Pada kondisi kering, konsistensi ketiga lapisan sangat keras sekali dimana tanah sangat tahan terhadap tekanan (masa tanah tidak dapat dipecahkan dengan tangan).

20 Hasil analisis sifat kimia tanah daerah penelitian merupakan gambaran tentang kesuburan dan potensi wilayah yang diteliti. Sifat-sifat tanah tersebut merupakan parameter untuk diuji hubungannya dengan vegetasi mangrove yang terbentuk. Analisis dilakukan terhadap 23 sifat tanah, baik sifat fisik maupun sifat kimia, mencakup tanah lapisan atas, tanah lapisan tengah, dan tanah lapisan bawah. Sifat kimia tanah tersebut meliputi pH H2O, C-Organik, N-Total, P-Tersedia, Ca-dd, Mg-dd, K-dd, Na-dd, Total Basa, KTK, KB, Al-dd, H-dd, Fe, S-tersedia, Ec, Salinitas dan tekstur tanah.

Sifat Kimia Tanah Kemasaman Tanah

Tanah pada zona 1 (BSR1) dengan vegetasi Avicennia memiliki pH di atas 5 yaitu pH 5,6-6,6 yang menunjukkan bahwa tanah tersebut memiliki tingkat kemasaman sedang hingga rendah. Nilai pH tanah terkecil terdapat pada lapisan atas, sedangkan nilai pH tertinggi terdapat pada lapisan tengah seperti yang terlihat pada Gambar 4 di bawah ini.

Gambar 4. Grafik Tingkat Kemasaman Tanah (pH H2O), Blanakan Subang. Zona 2 (BSR2) dengan vegetasi Rhizophora mucronata memiliki nilai pH 4,6-6,1 yang menunjukkan bahwa tanah tersebut memiliki tingkat kemasaman yang tinggi hingga sedang. Nilai pH terkecil terdapat pada lapisan tengah, sedangkan nilai pH tertinggi terdapat pada lapisan bawah.

BSR1.1 BSR1.5 BSR1.10 BSR2.1 BSR2.5 BSR2.10 BSR3.1 BSR3.5 BSR3.10 BSR4.1 BSR4.5 BSR4.10 pH H2O 5,0 6,6 5,6 5,7 4,6 6,1 4,8 5,5 6,9 4,8 5,0 5,3 0,0 1,0 2,0 3,0 4,0 5,0 6,0 7,0 8,0 Nila i pH T a na h

Tingkat Kemasaman Tanah (pH H2O) Blanakan, Kabupaten Subang

21 Kemasaman tanah pada zona 3 (BSR3) dengan vegetasi jeruju dan zona 4 (BSR4) dengan vegetasi Sonneratia acida dapat dilihat pada gambar 4 di atas, dimana pada zona 3 pH tanah berkisar antara 4,8-6,9 yang menunjukkan bahwa tanah pada zona ini memiliki tingkat kemasaman yang tinggi hingga sangat rendah. Nilai pH terkecil terdapat pada lapisan atas, sedangkan nilai pH tertinggi terdapat pada lapisan bawah. Nilai pH pada zona 4 berkisar antara 4,8-5,3 yang menunjukkan bahwa tanah pada zona 4 memiliki tingkat kemasaman yang tinggi. Zona 4 memiliki tingkat kemasaman paling tinggi dibandingkan dengan tanah pada keempat zona lainnya. Nilai pH terkecil pada zona 4 terdapat pada lapisan 1 sedangkan nilai pH tertinggi terdapat pada lapisan bawah.

Pengamatan berdasarkan nilai pH pada keempat lokasi menunjukkan bahwa pengaruh genangan, aerasi tanah, dan aliran air baik dari sungai/muara/laut yang menyebabkan nilai pH pada keempat lokasi berbeda-beda. Tanah dengan vegetasi Avicennia marina memiliki aerasi yang paling baik dibandingkan dengan ketiga jenis tanah lainnya, selain itu aliran air berpengaruh pada tanah ini karena kondisi di lapang terlihat bahwa tanah ini memiliki masa kering/tidak tergenang pada musim kemarau panjang. Sedangkan pada tanah dengan vegetasi Rhizophora mucronata yang cenderung lebih kering jika diamati di lapang memiliki pH dengan batas minimum kemasaman tinggi, hal ini dikarenakan lokasi tanah Rhizophora mucronata relatif sedikit sekali dipengaruhi oleh aliran air. Tanah dengan vegetasi Jeruju memiliki rentang kisaran nilai pH yang paling tinggi dibandingkan dengan zona lainnya, tanah ini terpengaruh oleh aliran air namun selalu tergenang. Kondisi yang hampir serupa juga ditemukan pada kondisi tanah dengan vegetasi Sonneratia acida, dimana tanah selalu tergenang. Zona Jeruju dan Sonneratia acida pada sekitar pukul 17.00 WIB (sore hari) mengalami kenaikan air pengaruh pasang hingga mencapai 30 cm. Penyebab zona Sonneratia acida lebih rendah dibandingkan dengan zona Jeruju, dimungkinkan karena zona Sonneratia acida dekat dengan zona yang selalu tergenang sedangkan zona Jeruju dikelilingi oleh zona mangrove yang telah dibudidayakan sehingga aerasi sekitar zona Jeruju menjadi lebih baik.

22 Daya Hantar Listrik (DHL)/EC

Nilai Daya Hantar Listrik (DHL/EC) dari lapisan atas ke lapisan bawah pada tanah zona 1 semakin meningkat dengan nilai berkisar antara 7,63 mS/cm sampai dengan 13,7 mS/cm, seperti yang ditunjukkan pada gambar 5 di bawah ini. Nilai DHL terkecil pada zona 1 terdapat pada lapisan atas, sedangkan nilai tertinggi terdapat pada lapisan bawah. Nilai DHL pada zona 1 tergolong rendah dibandingkan dengan nilai DHL pada tanah mangrove secara umum. Hal ini dapat menunjukkan bahwa keempat zona dipengaruhi oleh air laut dan air sungai dengan kecenderungan dari zona 1 ke zona 4 pengaruh air laut semakin berkurang dan pengaruh air sungai semakin meningkat.

Gambar 5. Grafik Nilai Daya Hantar Listrik (DHL/EC) Tanah, Blanakan Subang Daya hantar listrik untuk zona 2 (BSR2) vegetasi Rhizophora mucronata memiliki nilai DHL/EC yang lebih rendah dibandingkan dengan zona 1 dengan nilai berkisar 4,12 mS/cm sampai dengan 8,12 mS/cm. Hal ini juga menunjukkan bahwa lokasi zona 2 lebih sedikit dipengaruhi air payau/asin dibandingkan dengan zona 1, karena lokasi zona 2 yang juga relatif lebih jauh dengan sungai dibandingkan zona 1. Nilai DHL/Ec pada zona 2 mengalami peningkatan dari lapisan atas ke lapisan bawah, dengan nilai terkecil terdapat pada lapisan atas dan nilai tertinggi terdapat pada lapisan bawah.

Zona 3 (BSR3) dengan vegetasi jeruju memiliki nilai rata-rata DHL yang lebih rendah lagi dibandingkan dengan nilai DHL pada zona 1 dan zona 2. Nilai

BSR1.5 BSR1.10 BSR2.1 BSR2.5 BSR2.10 BSR3.1 BSR3.5 BSR3.10 BSR4.1 BSR4.5 BSR4.10 EC (mS/cm) 7,63 11,13 13,70 4,12 7,30 8,12 4,90 6,05 6,96 3,11 3,65 5,62 0,00 2,00 4,00 6,00 8,00 10,00 12,00 14,00 16,00 Nila i DH L /E C T a na h

23 DHL zona 3 berkisar antara 4,9 mS/cm sampai dengan 6,96 mS/cm, dengan nilai DHL terkecil terdapat pada lapisan atas dan nilai DHL tertinggi terdapat pada lapisan bawah. Sedangkan pada zona 4 memiliki nilai rata-rata DHL paling rendah dibandingkan dengan ketiga zona lainnya, yaitu berkisar antara 3,11 mS/cm sampai dengan 5,62 mS/cm. Nilai DHL semakin meningkat dari lapisan atas ke lapisan bawah.

Dari hasil pengamatan DHL/EC menunjukkan bahwa dari zona Avicennia marina hingga zona Sonneratia acida sedikit sekali dipengaruhi oleh air asin, hal ini karena lokasi penelitian berjarak cukup jauh dengan laut. Aliran air yang mempengaruhi keempat lokasi ini berasal dari aliran sungai dan air cenderung payau.

Kadar Air

Persentase kadar air keempat zona sangat tinggi, hal ini karena keempat zona saat pengambilan sampel berada pada kondisi tergenang.

Persentase kadar air lapang pada zona 1 paling kecil jika dibandingkan dengan zona lainnya. persentase kadar air dari lapisan atas ke lapisan bawah pada tanah di zona 1 (BSR1) semakin menurun dengan persentase kadar air berkisar antara 88,86% sampai dengan 95,15%, hal ini dapat dilihat pada gambar 6. berikut ini. Rendahnya nilai persentase kadar air pada zona ini kemungkinan dipengaruhi oleh kerapatan tanaman, dimana pada zona ini kerapatan tanaman sangat tinggi dibandingkan dengan zona lainnya. Selain itu, serasah dan lumpur pada lapisan atas tanah yang tebal dapat menghambat air yang masuk ke tanah.

Gambar 6. Grafik Nilai Persentase Kadar Air Tanah Blanakan, Subang

BSR1.1 BSR1.5 BSR1.10 BSR2.1 BSR2.5 BSR2.10 BSR3.1 BSR3.5 BSR3.10 BSR4.1 BSR4.5 BSR4.10 % Kadar Air 95 93 89 120 104 101 124 121 110 183 117 137 0 20 40 60 80 100 120 140 160 180 200 % K a da r Air

24 Gambar 6 di atas juga menunjukkan persentase kadar air pada zona 2, zona 3, dan zona 4 dengan persentase kadar air di atas 100%. Persentase kadar air pada zona 2 berkisar antara 101,22% sampai 120,23% dengan nilai persentase yang semakin menurun dari lapisan atas ke lapisan bawah. Persentase kadar air pada zona 3 sebesar 110,12% sampai 124,42% dengan nilai persentase yang semakin menurun dari lapisan atas ke lapisan bawah. Pada zona 4 persentase kadar air berkisar antara 117,32% sampai dengan 182,91%. Persentase kadar air terkecil pada zona 4 terdapat pada lapisan tengah sedangkan persentase kadar air tertinggi terdapat pada lapisan atas.

Tekstur

Tekstur pada tanah zona 1 didominasi oleh klei dengan kandungan yang semakin meningkat dari lapisan atas ke lapisan bawah, berkisar antara 62,2% sampai dengan 71,1%. Rata-rata persentase klei pada zona 1 paling kecil dibandingkan dengan rata-rata persentase klei pada ketiga zona lainnya. Sedangkan persentase debu memiliki nilai berkisar antara 25,9% sampai 37,1%, nilai persentase debu semakin menurun dari lapisan atas ke lapisan bawah. Sebaliknya pada persentase pasir, nilainya semakin meningkat dari lapisan atas ke lapisan bawah dengan persentase pasir berkisar antara 0,66% sampai 2,34% seperti yang ditunjukkan pada gambar di bawah ini.

Gambar 7. Grafik Persentase Pasir, Debu, dan Klei, serta Kematangan (n-value) Tanah Blanakan, Subang

BSR1.1 BSR1.5 BSR1.10 BSR2.1 BSR2.5 BSR2.10 BSR3.1 BSR3.5 BSR3.10 BSR4.1 BSR4.5 BSR4.10 % Pasir 0,72 0,66 2,34 0,69 0,92 0,67 1,05 1,00 0,58 0,72 4,01 1,06 % Klei 62,23 73,42 71,09 77,18 75,78 75,46 75,43 74,45 82,24 92,24 73,35 76,19 % Debu 37,06 25,92 26,57 22,13 23,31 23,87 23,53 24,55 17,18 7,04 22,64 22,75 n-value 1,6 2,7 2,3 3,2 2,3 3,0 3,0 2,8 4,0 4,8 3,4 4,0 0,00 10,00 20,00 30,00 40,00 50,00 60,00 70,00 80,00 90,00 100,00 Nila i

Tekstur (% Pasir, % Debu, % Klei) dan n-value Tanah Blanakan Subang

25 Komposisi tekstur pada zona 2 didominasi oleh klei dengan persentase berkisar antara 75,5% sampai dengan 77,2%. Persentase klei mengalami penurunan dari lapisan atas ke lapisan bawah. Komposisi tekstur tertinggi kedua yaitu debu dengan nilai persentase berkisar antara 22,1% sampai 23,9%. Kecenderungan persentase debu semakin meningkat nilainya dari lapisan atas ke lapisan bawah. Komposisi pasir sangatlah kecil pada tanah di zona 2, berkisar antara 0,67% sampai dengan 0,92%. Persentase pasir terkecil terdapat pada lapisan bawah, sedangkan persentase pasir tertinggi terdapat pada lapisan tengah.

Tekstur tanah pada zona 3 masih didominasi oleh klei dengan nilai persentase berkisar antara 74,4% sampai dengan 82,2%. Persentase klei terkecil terdapat pada lapisan tengah dan persentase klei tertinggi terdapat pada lapisan bawah. Persentase debu pada tanah zona 3 berkisar antara 17,2% sampai dengan 23,5%. Nilai persentase debu terkecil terdapat pada lapisan bawah dan persentase debu tertinggi terdapat pada lapisan tengah. Persentase pasir tanah zona 3 sebesar 0,58% sampai 1,05% dengan nilai persentase debu yang semakin menurun dari lapisan atas ke lapisan bawah.

Tanah zona 4 masih didominasi oleh klei dengan persentase sebesar 73,4% sampai dengan 92,2%. Nilai persentase klei pada lapisan atas adalah nilai persentase tertinggi hingga mencapai 92%, sedangkan nilai persentase klei terkecil terdapat pada lapisan tengah. Komposisi tekstur zona 4 berikutnya adalah debu dengan nilai persentase berkisar antara 7,04% sampai dengan 22,8%. Nilai persentase debu meningkat dari lapisan atas ke lapisan bawah. Persentase pasir pada zona 4 memiliki nilai rata yang lebih tinggi dibandingkan dengan rata-rata persentase pasir ketiga zona lainnya. Nilai persentase pasir berkisar antara 0,72% sampai 4,01% dengan nilai terkecil terdapat pada lapisan atas dan nilai tertinggi terdapat pada lapisan tengah.

Apabila kita perhatikan gambar 7 di atas, terlihat komposisi tekstur keempat zona didominasi oleh klei, hal ini disebabkan karena aliran air yang tenang menuju ke laut (hilir) banyak membawa dan mengendapkan klei. Nilai persentase klei ini juga mengalami peningkatan dari zona 1 ke zona 4. Rata-rata persentase klei terkecil terdapat pada zona 1, sedangkan rata-rata persentase terbesar terdapat pada zona 4. Kecenderungan ini juga dimiliki oleh persentase pasir, terlihat

26 kenaikan persentase pasir dari zona 1 ke zona 4. Rata-rata persentase pasir terkecil terdapat pada zona 1, sedangkan rata-rata persentase terbesar terdapat pada zona 4. Hal ini berbeda dengan persentase debu, dari zona 1 ke zona 4 nilai persentase debu semakin menurun. Rata-rata persentase debu terbesar terdapat pada zona 1, sedangkan rata-rata persentase debu terkecil terdapat pada zona 4.

Kematangan Tanah (n-value)

Nilai kematangan suatu tanah berhubungan dengan besarnya air yang diikat oleh klei. Menurut tabel 1, kematangan tanah juga dapat kita lihat dari kadar air lapang tanah tersebut. Kematangan tanah daerah ini umumnya relatif rendah atau termasuk ke dalam kelompok tanah belum matang, hal ini ditunjukkan pada nilai n-value/nilai kematangan yang sangat tinggi yaitu lebih besar dari 1, pada tanah yang ditanami Avicennia/zona 1 memiliki nilai kematangan tanah 1,6-2,4 dengan n-value terkecil terdapat pada lapisan atas dan n-value tertinggi terdapat pada lapisan tengah. Zona 2 memiliki rata-rata n-value tanah yang lebih tinggi dibandingkan dengan rata-rata n-value tanah zona 1, hal ini menunjukkan zona 2 tanahnya lebih mentah dibandingkan dengan zona 1. Besarnya n-value zona 2 sebesar 2,28 sampai 3,15 dengan n-value terkecil terdapat pada lapisan tengah dan n-value tertinggi terdapat pada lapisan atas. Kematangan tanah zona 3 berkisar antara 2,78 sampai 3,96, dengan n-value terkecil terdapat pada lapisan tengah dan n-value tertinggi terdapat pada lapisan atas. Nilai kematangan terendah pada tanah zona 4 dengan nilai kematangan berkisar antara 3,39 sampai 4,8 dengan n-value terkecil terdapat pada lapisan tengah dan n-value tertinggi terdapat pada lapisan atas. Secara berurutan dapat kita amati bahwa rata-rata n-value tanah dari zona 1 ke zona 4 semakin meningkat sesuai dengan peningkatan persentase klei pada tanah keempat zona, hal ini menunjukkan bahwa dari zona 1 ke zona 4 tanahnya semakin mentah. Kematangan tanah semakin rendah seiring dengan meningkatnya kadar air lapang.

Kapasitas Tukar Kation

Nilai KTK pada tanah di zona 1 (BSR1) berkisar antara 23,9 me/100 gram sampai dengan 33,2 me/100 gram. Nilai KTK terkecil terdapat pada lapisan atas, sedangkan nilai KTK tertinggi terdapat pada lapisan tengah. Nilai KTK tanah zona 2 berkisar antara 30,2 me/100 gram sampai dengan 39,83 me/100. Persentase

27 KTK pada lapisan atas tanah zona 2 lebih tinggi dibandingkan dengan lapisan tengah tanah, sedangkan nilai KTK pada lapisan tengah lebih rendah dibandingkan dengan lapisan bawah. Nilai KTK tanah zona 3 berkisar antara 28,7 me/100 gram sampai dengan 31,5 me/100 gram. Nilai terkecil terdapat pada lapisan atas dan lapisan bawah, sedangkan nilai tertinggi terdapat pada lapisan tengah. Nilai KTK tanah zona 4 berkisar antara 25 me/100 gram sampai dengan 36,7 me/100 gram, dengan nilai terkecil terdapat pada lapisan tengah dan nilai tertinggi terdapat pada lapisan atas. Peningkatan KTK pada zona 1, zona 2, dan zona 3 seiring dengan peningkatan kandungan klei dalam tanah. Pada zona 4, peningkatan KTK terjadi secara acak. Berdasarkan nilai KTK tanah, keempat zona tidak berbeda signifikan.

Kation Basa

Zona 1 memiliki kandungan kalium, magnesium, kalsium, dan natrium yang mengalami peningkatan dari lapisan atas ke lapisan bawah. Kandungan basa-basa pada zona ini sesuai dengan kenaikan pH dari lapisan atas ke lapisan bawah. Kandungan Basa-basa ini berpengaruh pada nilai persentase kejenuhan natrium (ESP) dan nisbah jerapan natrium (SAR). Nilai ESP dan nilai SAR dari lapisan atas ke lapisan bawah mengalami kenaikan. Persentase ESP tanah di zona 1 berada di atas 50% yang menunjukkan bahwa tanah ini termasuk ke dalam kelompok tanah sangat sodik. Nilai SAR pada zona ini tergolong sangat rendah, hal ini berkaitan dengan DHL/Ec dan Na yang dipengaruhi oleh air laut. Persentase KB pada lapisan atas ke lapisan bawah mengalami peningkatan dengan nilai berkisar 97,4% sampai dengan 162%.

Pada zona 2, Kandungan Na berkisar antara 11,6 me/100 gram sampai dengan 18,3 me/100 gram. Kandungan Na ini lebih rendah dibandingkan dengan kandungan Na pada zona 1. Hal ini menunjukkan bahwa pengaruh air laut lebih sedikit diterima oleh tanah pada zona 2 dibandingkan dengan zona 1. Sedangkan nilai K pada zona ini berkisar antara 0,7 me/100 gram sampai dengan 1,03 me/100 gram. mengalami kenaikan dari lapisan atas ke lapisan bawah. Kandungan Ca mengalami penurunan dari lapisan atas ke lapisan bawah. Kandungan Mg pada zona 2 berkisar antara 14,7 me/100 gram sampai 17,2 me/100 gram dengan nilai terkecil pada lapisan tengah dan nilai tertinggi terdapat pada lapisan atas. Jika kita

28 amati kandungan basa-basa pada zona 2 tidak mengikuti perubahan pH tanah,

Dokumen terkait