• Tidak ada hasil yang ditemukan

VERFIKASI MODEL

Dalam dokumen Model Penilaian Cepat Kinerja Industri Gula (Halaman 83-124)

Verifikasi MPG 1.0 dilaksanakan terhadap tiga PG yaitu: PG. Candi Baru mewakili skala kecil, PG. Lestari mewakili skala sedang, dan PG. Ngadirejo mewakili skala besar. PG. Candi Baru merupakan PG yang dikelola oleh PT. RNI dan berlokasi di Jawa Timur. Pasokan bahan baku sebagian besar berasal dari tebu rakyat (TR) dan sebagian kecil dari tebu sendiri (TS). PG. Lestari merupakan PG yang dikelola oleh PTPN X dan berlokasi di Jawa Timur. Sebagian besar bahan baku berasal dari TR dan sebagian kecil berasal dari TS. PG. Ngadirejo merupakan PG yang dikelola oleh PTPN X dan berlokasi di Jawa Timur. Bahan baku PG. Ngadirejo kebanyakan juga berasal dari TR dan sebagian kecil berasal dari TS.

Verifikasi bertujuan untuk mengetahui apakah model penilaian kinerja PG yang telah disusun dapat digunakan untuk melakukan penilaian kinerja PG dengan benar. Dari hasil verifikasi model akan diperoleh informasi tentang pencapaian level kinerja pengelolaan PG atau penyimpangan PG terhadap standar ideal. Dengan membandingkan antara data empirik PG dengan standar pengelolaan PG, maka akan diperoleh nilai deviasi antara PG dengan standar. Dari parameter-parameter yang mempunyai deviasi yang signifikan selanjutnya dapat disusun suatu rekomendasi.

Verifikasi dimulai dengan memasukkan data identitas PG. Informasi yang dimasukkan dalam identifikasi PG adalah nomer urut identifikasi PG, nama PG, dan kapasitas giling PG yang dinyatakandalam TCD (ton cane day). Formulir input identifikasi PG ditampilkan dalam Gambar 16.

Gambar 15. Formulir Identifikasi PG

MPG 1.0 terdiri dari empat belas sub-model penilaian kinerja (SMPK) yang berkaitan dengan aspek penilaian internal dan eksternal. Data yang digunakan untuk verifikasi model adalah data sekunder yang diperoleh dari P3GI. Verifikasi dimulai dengan memasukkan data-data parameter yang berkaitan dengan aspek pengelolaan internal PG, dan kemudian dilanjutkan dengan memasukkan data-data yang berkaitan dengan aspek pengelolaan eksternal PG. Berikut ini adalah hasil verifikasi setiap SPMK yang dilakukan pada tiga PG tersebut:

1. SMPK Stasiun Bahan Baku

SMPK Stasiun Bahan Baku merupakan sub-model yang pertama dari Model Penilaian Cepat Kinerja Industri Gula. Sub-model ini bertujuan untuk mengukur pencapaian kualitas bahan baku yang akan masuk ke dalam PG. Mutu bahan baku (tebu) yang baik sangat diperlukan untuk mencapai tingkat efisiensi pabrikasi yang tinggi. Contoh formulir penilaian

penilaian kinerja stasiun bahan baku dari ketiga PG ditampilkan dalam Tabel 14, 15, dan 16.

Tabel 14. Hasil Penilaian Kinerja Stasiun Bahan Baku PG. Candi baru.

KRITERIA IDEAL INPUT DEVIASI KESIMPULAN

Tingkat Kemasakan Tebu (%) 25-40% 26.50 0 Baik Trash (%) <= 5 6.00 20 Kurang Baik Kesegaran Tebu, tebang giling, (jam) <= 24 19.00 0 Baik Pol tebu (%) >= 12 8.62 28.17 Kurang Baik Kadar nira tebu (%) >= 80 90.00 0 Baik Kemurnian nira npp (%) >= 85 78.00 8.24 Baik Rendemen (%) 10.50 6.42 38.86 Kurang Baik

KESIMPULAN 13.61 Kurang Baik

Tabel 15. Hasil Penilaian Kinerja Stasiun Bahan Baku PG. Lestari.

KRITERIA IDEAL INPUT DEVIASI KESIMPULAN

Tingkat Kemasakan Tebu (%) 25-40% 26.00 0 Baik Trash (%) <= 5 7.00 40 Kurang Baik Kesegaran Tebu, tebang giling, (jam) <= 24 16.00 0 Baik Pol tebu (%) >= 12 9.09 24.25 Kurang Baik Kadar nira tebu (%) >= 80 82.00 0 Baik Kemurnian nira npp (%) >= 85 89.00 0 Baik Rendemen (%) 10.50 6.93 34 Kurang Baik

KESIMPULAN 14.04 Kurang Baik

Tabel 16. Hasil Penilaian Kinerja Stasiun Bahan Baku PG. Ngadirejo.

KRITERIA IDEAL INPUT DEVIASI KESIMPULAN

Tingkat Kemasakan Tebu (%) 25-40% 30.00 0 Baik Trash (%) <= 5 5.20 4 Baik Kesegaran Tebu, tebang giling, (jam) <= 24 14.00 0 Baik Pol tebu (%) >= 12 9.52 20.67 Kurang Baik Kadar nira tebu (%) >= 80 78.00 2.5 Baik Kemurnian nira npp (%) >= 85 78.50 7.65 Baik Rendemen (%) 10.50 7.23 31.14 Kurang Baik

KESIMPULAN 9.42 Baik

Pada tabel 16 ditunjukkan bahwa pencapaian kinerja bahan baku pada PG. Ngadirejo sudah mencapai lebih dari 90%, yaitu sebesar 90.58% dari standar ideal. Pencapaian ini sudah termasuk dalam kategori ”baik”. Sebaliknya pada Tabel 14 dan Tabel 15 didapatkan bahwa kinerja PG. Lestari dan PG. Candi Baru tergolong rendah. Pencapaian kinerja bahan baku kedua PG tersebut di bawah nilai 90% terhadap standar. Sehingga pencapaian kinerja stasiun bahan baku kedua PG tersebut

tergolong kurang baik. Berdasarkan verifikasi pada ketiga PG tersebut dapat diketahui penyebab utama rendahnya kinerja stasiun bahan baku setiap PG adalah karena faktor kecilnya pol (kandungan sukrosa) tebu, rendemen tebu rendah, serta tingginya pengotor (trash) dalam tebu yang diangkut ke dalam PG.

2. SMPK Stasiun Penggilingan Tebu

Sub-model ini berfungsi untuk mengukur kinerja ekstraksi nira mentah dari tebu pada unit operasi penggilingan. Sasaran yang ingin dicapai dalam stasiun penggilingan adalah mendapatkan jumlah nira sebagai hasil kestraksi tebu yang maksimal dari tebu yang digiling, dengan ampas yang mengandung kadar gula seminimal mungkin. Data empirik parameter penilaian kinerja stasiun penggilingan pada ketiga PG ditampilkan dalam Tabel 17, 18 dan 19.

Tabel 17. Hasil Penilaian Kinerja Stasiun Penggilingan PG. Candi baru.

KRITERIA STANDAR INPUT DEVIASI KESIMPULAN

Kadar sabut (%) 14 - 16 13 6.67 Baik Preparation Index (%) >= 90 83 7.78 Baik Fibre loading (g/dm2): untuk

semua unit gilingan +- 200 180 10 Baik Imbibisi % sabut >= 200 195 2.5 Baik Nira mentah % tebu >= 100 200 0 Baik Ekstraksi gula (%) > 96 82 14.58 Kurang Baik Kapasistas Giling (TCD) >=1500 1660 0 Baik

KESIMPULAN 5.93 Baik

Tabel 18. Hasil Penilaian Kinerja Stasiun Penggilingan PG. Lestari.

KRITERIA STANDAR INPUT DEVIASI KESIMPULAN

Kadar sabut (%) 14 - 16 15 0 Baik Preparation Index (%) >= 90 81.69 9.22 Baik Fibre loading (g/dm2): untuk

semua unit gilingan +- 200 180 10 Baik Imbibisi % sabut >= 200 225 0 Baik Nira mentah % tebu >= 100 100.20 0 Baik Ekstraksi gula (%) > 96 85 11.46 Kurang Baik Kapasistas Giling (TCD) >=3000 3612 0 Baik

Tabel 19. Hasil Penilaian Kinerja Stasiun Penggilingan PG. Ngadirejo.

KRITERIA STANDAR INPUT DEVIASI KESIMPULAN

Kadar sabut (%) 14 - 16 15 0 Baik Preparation Index (%) >= 90 83.29 7.46 Baik Fibre loading (g/dm2): untuk

semua unit gilingan +- 200 190 5 Baik Imbibisi % sabut >= 200 224 0 Baik Nira mentah % tebu >= 100 99.52 0.47 Baik Ekstraksi gula (%) > 96 85 11.46 Kurang Baik Kapasistas Giling (TCD) >= 4000 5117 0 Baik

KESIMPULAN 3.48 Baik

Dari hasil penilaian diperoleh bahwa kinerja unit operasi penggilingan pada setiap PG adalah baik, yaitu pencapaian kinerja mencapai rata-rata di atas 95 %. Namun dari ketiga tabel di atas didapatkan bahwa kinerja pada parameter ekstraksi gula pada ketiga PG berada di bawah standar. Hal ini terjadi dimungkinkan karena pengaruh dari rendahnya pol dan rendemen dari bahan baku yang menjadi input PG.

3. SMPK Stasiun Pemurnian Nira

Sub-model ini digunakan untuk mengukur kinerja unit operasi pemurnian nira. Tujuan utama stasiun pemurnian nira adalah menghilangkan bahan organik dan anorganik bukan gula yang terdapat dalam nira mentah, sehingga diperoleh nira dengan kadar sukrosa maksimum. Hasil pengukuran kinerja unit operasi pemurnian nira pada ketiga PG ditampilkan dalam Tabel 20, 21, dan 22.

Tabel 20. Hasil Penilaian Kinerja Stasiun Pemurnian di PG. Candi Baru.

KRITERIA STANDAR INPUT DEVIASI KESIMPULAN

Turbidity (ppm) <= 50 53.5 7 Baik Kadar CaO (ppm) <= 80 60 0 Baik Pengasingan bukan gula (%) <= 14 15 7.14 Baik Pol blotong (%) <= 2 2.25 12.5 Kurang Baik Blotong/tebu (%) <= 3 3.2 6.67 Baik

Tabel 21. Hasil Penilaian Kinerja Stasiun Pemurnian di PG. Lestari.

KRITERIA STANDAR INPUT DEVIASI KESIMPULAN

Turbidity (ppm) <= 50 53 6 Baik Kadar CaO (ppm) <= 80 75.2 0 Baik Pengasingan bukan gula (%) <= 14 15 7.14 Baik Pol blotong (%) <= 2 2.3 15 Kurang Baik Blotong/tebu (%) <= 3 3.8 26.67 Kurang Baik

KESIMPULAN 10.96 Kurang Baik

Tabel 22. Hasil Penilaian Kinerja Stasiun Pemurnian PG. Ngadirejo.

KRITERIA STANDAR INPUT DEVIASI KESIMPULAN

Turbidity (ppm) <= 50 53.5 7 Baik Kadar CaO (ppm) <= 80 78 0 Baik Pengasingan bukan gula (%) <= 14 17.5 25 Kurang Baik Pol blotong (%) <= 2 2.1 5 Baik Blotong/tebu (%) <= 3 2.8 0 Baik

KESIMPULAN 7.40 Baik

Rata-rata pencapaian kinerja stasiun pemurnian dari ketiga PG tersebut adalah baik, yaitu sebesar 91.66 %. Kecuali pada PG. Lestari, hasil penilaian menunjukkan bahwa kinerja stasiun pemurnian kurang baik. Nilai pencapaian PG. Lestari sebesar 89.04 %, dengan sedikit lagi memperbaiki kinerja pada parameter limbah (blotong), maka pencapaian di PG. Lestari akan dapat dinaikkan sampai pada status ”baik”. Dari ketiga penilaian tersebut diketahui bahwa tingginya limbah yang terbentuk diperkirakan karena jumlah bahan pengotor (trash) dalam bahan baku yang masuk ke PG cukup tinggi, terutama di PG. Candi Baru dan PG. Lestari.

4. SMPK Stasiun Penguapan

Sub-model ini digunakan untuk menilai kinerja unit operasi penguapan. Tujuan utama unit operasi penguapan adalah memekatkan nira dengan mengurangi kandungan air sampai mendekati jenuh. Hasil penilaian stasiun penguapan ketiga PG disajikan dalam Tabel 23, 24, dan 25.

Tabel 23. Hasil Penilaian Kinerja Stasiun Penguapan PG. Candi Baru.

KRITERIA STANDAR INPUT DEVIASI KESIMPULAN

Tabel 24. Hasil Penilaian Kinerja Stasiun Penguapan PG. Lestari.

KRITERIA STANDAR INPUT DEVIASI KESIMPULAN

Nira kental, % brix >= 65 69 0 Baik Nira kental, warna kuning kecoklatan 90 10 Baik Nira jernih, suhu (oC) >= 100 102 0 Baik

KESIMPULAN 3.33 Baik

Tabel 25. Hasil Penilaian Kinerja Stasiun Penguapan PG. Ngadirejo.

KRITERIA STANDAR INPUT DEVIASI KESIMPULAN

Nira kental, % brix >= 65 65 0 Baik Nira kental, warna kuning kecoklatan 90 10 Baik Nira jernih, suhu (oC) >= 100 103 0 Baik

KESIMPULAN 3.33 Baik

Dari ketiga tabel di atas diketahui bahwa rata-rata pencapian kinerja unit operasi penguapan pada masing-masing PG ”baik”. Tiga parameter penilaian dapat dipenuhi dengan baik. Sehingga kedepan pencapaian pada stasiun ini harus pertahankan.

5. SMPK Stasiun Kristalisasi

Sub-model ini digunakan untuk mengukur kinerja stasiun kristalisasi. Penilaian yang dilakukan dalam sub-model ini terdiri dari penilaian operasi pada masakan A, masakan C, masakan D, dan tetes. Tujuan unit operasi kristalisasi adalah mengubah nira kental jenuh menjadi bentuk kristal gula. Hasil penilaian stasiun kristalisasi pada PG. Candi Baru ditampilkan dalam Tabel 26, dan hasil penilaian pada PG. Lestari dan PG. Ngadirejo ditampilkan dalam Lampiran 5 dan 6.

Tabel 26. Hasil Penilaian Kinerja Stasiun Kristalisasi PG. Candi Baru.

KRITERIA STANDAR INPUT DEVIASI KESIMPULAN

MASAKAN A

Brix, % 93-94 93 0 Baik Kemurnian, % >= 85 87 0 Baik Purity drop, % 10-15 11 0 Baik Kerataan kristal rata 90 10 Baik Ukuran kristal, mm 0,8-1,1 1 0 Baik

KESIMPULAN 2.00 Baik

MASAKAN C

Brix, % 94-95 96 1.06 Baik Kemurnian, % >= 70 68 2.86 Baik Purity drop, % 15-20 14 5.71 Baik Kerataan kristal rata 90 10 Baik Ukuran kristal, mm >= 0,4 0.36 10 Kurang Baik

Tabel 26. (Lanjutan)

KRITERIA STANDAR INPUT DEVIASI KESIMPULAN

MASAKAN D

Brix, % > 96 97 0 Baik Kemurnian, % >= 60 63 0 Baik Purity drop, % 30-35 32 0 Baik Kerataan kristal rata 95 5 Baik Ukuran kristal, mm >= 0,2 0.23 0 Baik

KESIMPULAN 1.00 Baik TETES Kemurnian, % <= 30 28 0 Baik Brix, % >= 80 78.9 1.39 Baik Tetes/tebu. % <= 2.5 2.1 0 Baik KESIMPULAN 0.46 Baik KESIMPULAN 2.35 Baik

Dari hasil penilaian di atas diperoleh bahwa kinerja unit operasi kristalisasi PG. Candi Baru adalah ”baik”. Pencapaian kinerja stasiun kristalisasi PG. Candi baru mencapai 97.56 % dari nilai ideal. Demikian juga dengan kinerja dua PG yang lain juga diperoleh hasil penilaian yang ”baik”. Dari hasil penilaian diperoleh kinerja stasiun kristalisasi PG. Lestari sebesar 94.33 % dan pencapaian kinerja stasiun kristalisasi PG. Ngadirejo sebesar 92.18 %.

6. SMPK Stasiun Sentrifugasi

Sub-model ini digunakan untuk mengukur kinerja stasiun sentrifugasi (putaran). Tujuan stasiun sentrifugasi adalah memisahkan kristal gula dari cairan induknya. Hasil pengukuran kinerja stasiun sentrifugasi PG. Candi baru ditampilkan dalam Tabel 27, dan hasil penilaian PG. Lestari dan Pg. Ngadirejo ditampilkan dalam Lampiran 7 dan Lampiran 8.

Tabel 27. Hasil Penilaian Kinerja Stasiun Sentrifugasi PG. Candi Baru.

KRITERIA STANDAR INPUT DEVIASI KESIMPULAN

MASAKAN A

Kadar air maksimal (%) <= 1,0 0.08 0 Baik

Warna Putih 95 5 Baik

Ukuran kristal (mm) 0,8 - 1,1 0.9 0 Baik

Tabel 27. (Lanjutan)

KRITERIA STANDAR INPUT DEVIASI KESIMPULAN

MASAKAN A

Kadar air maksimal (%) <= 1,0 0.08 0 Baik

Warna Putih 95 5 Baik

Ukuran kristal (mm) 0,8 - 1,1 0.9 0 Baik

KESIMPULAN 1.67 Baik

MASAKAN C

Kadar air maksimal (%) <= 1,0 0.9 0 Baik Warna Putih kekuningan 95 5 Baik Ukuran kristal (mm) 0,4 0.35 12.5 Kurang Baik

KESIMPULAN 5.83 Baik

MASAKAN D

Kadar air maksimal (%) <= 1,0 0.9 0 Baik Warna Kuning 95 5 Baik Ukuran kristal (mm) 0,2 0.16 20 Kurang Baik

KESIMPULAN 8.33 Baik

KESIMPULAN 5.28 Baik

Dari hasil penilaian pada tabel di atas diperoleh bahwa kinerja stasiun sentrifugasi di PG. Candi Baru telah mencapai 94.72 %. Hasil penilaian kriteria pada masakan A menunjukkan hasil yang baik. Pada masakan C dan masakan D hasil penilaian juga menunjukkan hasil baik, hanya pada parameter ukuran kristal masih perlu diperbaiki karena masih berada di bawah standar. Berdasarkan hasil pengukuran kinerja stasiun sentrifugasi pada PG. Lestari dan PG. Ngadirejo juga didapatkan hasil yang baik. Pencapaian kinerja PG. Lestari mencapai 92.78 % dan pencapaian PG. Ngadirejo mencapai 94.72 %.

7. SMPK Stasiun Pengeringan dan Pengemasan.

Sub-model ini digunakan untuk mengukur kinerja stasiun pengeringan dan pengemasan. Stasiun pengeringan dan pengemasan merupakan unit operasi terakhir dalam aliran produksi gula. Dalam stasiun ini gula kristal yang dihasilkan dari proses sentrifugasi akan dikeringkan lebih lanjut dan dikemas dalam karung dengan berat tertentu. Hasil penilaian kinerja stasiun pengeringan dan pengemasan pada ketiga PG ditampilkan dalam Tabel 28, 29, dan 30.

Tabel 28. Hasil Penilaian Kinerja Stasiun Pengeringan dan Pengemasan PG. Candi Baru.

KRITERIA STANDAR INPUT DEVIASI KESIMPULAN

Kadar air gula sentrifugal (%) <= 1 0.9 0 Baik Suhu gula sebelum masuk

karung (oC) <= 40 38 0 Baik Berat gula per karung (kg) 50 50 0 Baik

Kemasan

Karung plastik, inner

bag 100 0 Baik

KESIMPULAN 0 Baik

Tabel 29. Hasil Penilaian Kinerja Stasiun Pengeringan dan Pengemasan PG. Lestari.

KRITERIA STANDAR INPUT DEVIASI KESIMPULAN

Kadar air gula sentrifugal (%) <= 1 0.96 0 Baik Suhu gula sebelum masuk karung

(oC) <= 40 42 5 Baik Berat gula per karung (kg) 50 50 0 Baik

Kemasan

Karung plastik, inner

bag 100 0 Baik

KESIMPULAN 1.25 Baik

Tabel 30. Hasil Penilaian Kinerja Stasiun Pengeringan dan Pengemasan PG. Ngadirejo.

KRITERIA STANDAR INPUT DEVIASI KESIMPULAN

Kadar air gula sentrifugal (%) <= 1 0.98 0 Baik Suhu gula sebelum masuk karung

(oC) <= 40 38 0 Baik Berat gula per karung (kg) 50 50 0 Baik

Kemasan

Karung plastik, inner

bag 100 0 Baik

KESIMPULAN 0 Baik

Dari ketiga tabel di atas diperoleh bahwa kinerja stasiun pengeringan dan pengemasan pada ketiga PG tersebut baik. Rata-rata pencapaian kinerja ketiga PG tersebut telah sesuai dengan standar. Kondisi ini harus dipertahankan oleh masing-masing PG.

8. SMPK Stasiun Energi

Model ini digunakan untuk menilai kinerja efisiensi pembangkitan dan konsumsi energi uap yang dihasilkan oleh bagian instalasi energi PG.

pembangkit energi PG di Indonesia dikelompokkan menjadi dua tipe, yaitu ketel tipe lama dan ketel tipe baru. Contoh PG yang menggunakan ketel tipe lama adalah PG. Ngdirejo, dan PG yang menggunakan ketel tipe baru adalah PG. Lestari dan PG. Candi Baru. Efisiensi produksi energi ketel tipe baru lebih tinggi dari pada efiesiensi ketel tipe lama. Hasil penilaian kinerja stasiun energi dari ketiga PG ditampilkan dalam Tabel 31, 32, dan 33.

Tabel 31. Hasil Penilaian Kinerja Stasiun Energi PG. Candi Baru (Ketel Tipe Baru).

KRITERIA STANDAR INPUT DEVIASI KESIMPULAN

Efisiensi Ketel (%) >= 78 75 3.85 Baik Produksi uap per kg ampas (kg/kg) >= 2,10 2.3 0 Baik Konsumsi Energi (uap % tebu)

dengan mesin uap (%)

<= 65 70 7.69 Baik

Konsumsi Energi (uap % tebu) dengan turbin uap (%)

<= 60 70 16.67 Kurang Baik

KESIMPULAN 7.05 Baik

Tabel 32. Hasil Penilaian Kinerja Stasiun Energi PG. Lestari (Ketel Tipe Baru).

KRITERIA STANDAR INPUT DEVIASI KESIMPULAN

Efisiensi Ketel (%) >= 78 60 23.08 Kurang Baik Produksi uap per kg ampas (kg/kg) >= 2,10 1.8 14.29 Kurang Baik Konsumsi Energi (uap % tebu)

dengan mesin uap (%)

<= 65 60 0 Baik

Konsumsi Energi (uap % tebu) dengan turbin uap (%)

<= 60 60 0 Baik

KESIMPULAN 9.34 Baik

Tabel 33. Hasil Penilaian Kinerja Stasiun Energi PG. Ngadirejo (Ketel Tipe Lama).

KRITERIA STANDAR INPUT DEVIASI KESIMPULAN

Efisiensi Ketel (%) >= 68 55 19.12 Kurang Baik Produksi uap per kg ampas (kg/kg) >= 1,95 1.83 6.15 Baik Konsumsi Energi (uap % tebu)

dengan mesin uap (%) <= 65 58 0 Baik Konsumsi Energi (uap % tebu)

dengan turbin uap (%) <= 60 14.4 0 Baik

KESIMPULAN 6.3175 Baik

Hasil penilaian kinerja stasiun energi pada ketiga PG menunjukkan hasil yang baik. Parameter yang perlu mendapat perhatian adalah efisiensi ketel, baik pada ketel tipe lama atau pun ketel tipe baru. Pada ketiga PG tersebut terlihat bahwa efisiensi ketel bekerja rata-rata berada di bawah

standar. Hal ini perlu diperbaiki agar ketel dapat beroperasi dengan lebih optimal.

9. SMPK Produk

Sub-model ini digunakan untuk menilai apakah kualitas gula yang dihasilkan oleh PG telah sesuai dengan SNI yang berlaku. SNI ini harus dipenuhi oleh setiap PG, karena gula kristal yang dihasilkan adalah gula kristal yang akan dikonsumsi langsung oleh rumah tangga. Dalam verifikasi sub-model ini digunakan data GKP 1. Hasil penilaian kinerja produk dari ketiga PG ditampilkan dalam Tabel 34, 35, dan 36.

Tabel 34. Hasil Penilaian Kinerja Produk PG. Candi Baru.

KRITERIA STANDAR INPUT DEVIASI KESIMPULAN

Warna kristal (%) Min 70 72.00 0 Baik Warna larutan (ICUMSA) (IU) Maks. 250 234.00 0 Baik Besar jenis butir (% b/b) 0,8-1,2 0.82 0 Baik Susut pengeringan (mm b/b) Maks.0,10 0.04 0 Baik Polarisasi ( oZ, 20, oC) (oZ) Min 99,6 99.40 0.2 Baik Gula reduksi (% b/b) Maks.0,10 0.06 0 Baik Abu konduktiviti (% b/b ) Maks.0,10 0.07 0 Baik Zat tidak larut (derajat) Maks. 5 6.00 20 Kurang Baik Belerang dioksida (SO2) (mg/kg) Maks. 30 24.00 0 Baik Timbal (Pb) (mg/kg) Maks 2,0 1.20 0 Baik Tembaga (Cu) (mg/kg) Maks 2,0 1.40 0 Baik Arsen (As) (mg/kg) maks 1,0 0.23 0 Baik

KESIMPULAN 1.68 Baik

Tabel 35. Hasil Penilaian Kinerja Produk PG. Lestari.

KRITERIA STANDAR INPUT DEVIASI KESIMPULAN

Warna kristal (%) Min 70 72.00 0 Baik Warna larutan (ICUMSA) (IU) Maks. 250 245.00 0 Baik Besar jenis butir (% b/b) 0,8-1,2 0.85 0 Baik Susut pengeringan (mm b/b) Maks.0,10 0.08 0 Baik Polarisasi ( oZ, 20, oC) (oZ) Min 99,6 98.00 1.61 Baik Gula reduksi (% b/b) Maks.0,10 0.08 0 Baik Abu konduktiviti (% b/b ) Maks.0,10 0.06 0 Baik Zat tidak larut (derajat) Maks. 5 5.20 4 Baik Belerang dioksida (SO2) (mg/kg) Maks. 30 27.80 0 Baik Timbal (Pb) (mg/kg) Maks 2,0 1.20 0 Baik Tembaga (Cu) (mg/kg) Maks 2,0 0.80 0 Baik Arsen (As) (mg/kg) maks 1,0 0.30 0 Baik

Tabel 36. Hasil Penilaian Kinerja Produk PG. Ngadirejo.

KRITERIA STANDAR INPUT DEVIASI KESIMPULAN

Warna kristal (%) Min 70 72.30 0 Baik Warna larutan (ICUMSA) (IU) Maks. 250 235.00 0 Baik Besar jenis butir (% b/b) 0,8-1,2 0.90 0 Baik Susut pengeringan (mm b/b) Maks.0,10 0.09 0 Baik Polarisasi ( oZ, 20, oC) (oZ) Min 99,6 99.30 0.3 Baik Gula reduksi (% b/b) Maks.0,10 0.05 0 Baik Abu konduktiviti (% b/b ) Maks.0,10 0.07 0 Baik Zat tidak larut (derajat) Maks. 5 3.70 0 Baik Belerang dioksida (SO2) (mg/kg) Maks. 30 18.45 0 Baik Timbal (Pb) (mg/kg) Maks 2,0 1.25 0 Baik Tembaga (Cu) (mg/kg) Maks 2,0 1.30 0 Baik Arsen (As) (mg/kg) maks 1,0 0.02 0 Baik

KESIMPULAN 0.03 Baik

Hasil penilaian produk pada ketiga PG menunjukkan hasil baik. Setiap parameter SNI gula tersebut merupakan kriteria standar konsumsi yang sangat penting, sehingga jika salah satu standar parameter tidak terpenuhi maka produk tersebut dapat dikatakan tidak layak untuk di konsumsi.

10. SMPK Keuangan

Sub-model ini digunakan untuk menilai kinerja PG dalam efisiensi pemanfaatan sumber daya keuangan untuk keperluan SDM dan dan non- SDM. Standar penilaian keuangan dibedakan menjadi tiga sesuai dengan kategori skala PG, yaitu standar untuk PG kecil, PG sedang, dan PG besar. Hasil penilaian kinerja keuangan pada ketiga PG ditampilkan dalam Tabel 37, 38, dan 39.

Tabel 37. Hasil Penilaian Keuangan PG. Candi Baru (PG. skala kecil).

KRITERIA STANDAR INPUT DEVIASI KESIMPULAN

Biaya produksi per kg

gula (Rp) 1.589 2,355.57 48.24 Kurang Baik Biaya SDM tiap ton

kapasitas (Rp) 2.806.932 3,357,663.50 19.62 Kurang Baik Biaya non SDM tiap

kg gula (RP) 1.081 1,394.68 29.02 Kurang Baik KESIMPULAN 32.29 Kurang Baik

Tabel 38. Hasil Penilaian Keuangan PG. Lestari (PG. skala sedang).

KRITERIA STANDAR INPUT DEVIASI KESIMPULAN

Biaya produksi per kg

gula (Rp) 1,851 3,545.89 91.57 Kurang Baik Biaya SDM tiap ton

kapasitas (Rp) 4,042,826 3,005,352.75 0 Baik Biaya non SDM tiap

kg gula (RP) 1,106 2,469.69 123.3 Kurang Baik KESIMPULAN 71.62 Kurang Baik

Tabel 39. Hasil Penilaian Keuangan PG. Ngadirejo (PG. skala besar).

KRITERIA STANDAR INPUT DEVIASI KESIMPULAN

Biaya produksi per kg

gula (Rp) 2,546 3,830.39 50.45 Kurang Baik Biaya SDM tiap ton

kapasitas (Rp) 7,454,416 5,585,723.00 0 Baik Biaya non SDM tiap

kg gula (RP) 1,172 2,258.47 92.7 Kurang Baik

KESIMPULAN 47.72 Baik

Hasil penilaian kinerja keuangan pada ketiga PG menunjukkan bahwa kinerja keuangan masing-masing PG rendah, bahkan masih jauh berada di bawah standar. Rata-rata pencapaian kinerja keuangan ketiga PG tersebut hanya mencapai 50.54 %. Pencapaian terendah terjadi di PG. Lestari, yaitu hanya mencapai 28.38 %. Selanjutnya PG. Ngadirejo 52.28 %, dan PG. Candi Baru 67.71 %.

Pencapaian kinerja keuangan dari ketiga PG tersebut perlu mendapat perhatian serius dan harus segera diperbaiki, karena baik buruknya pengelolaan keuangan akan sangat berpengaruh bagi kinerja perusahaan. Dengan pengelolaan keuangan yang baik diharapkan berbagai input yang berkualitas dapat dibeli secara tepat sehingga kelancaran produksi akan terjamin.

11. SMPK Formasi Tenaga Kerja (SDM)

Sub-model ini digunakan untuk menilai kecukupan jumlah tenaga kerja pada setiap tingkatan fungsi dalam PG. Standar formasi tenaga kerja dalam sub-model ini disusun sesuai dengan golongan skala PG, yaitu standar formasi tenaga kerja untuk PG kecil, PG sedang, dan standar

PG. Candi Baru ditampilkan dalam Tabel 40, dan hasil penilaian pada PG. Lestari dan PG. Ngadirejo di tampilkan dalam Lampiran 9 dan 10.

Tabel 40. Hasil Penilaian Kinerja Formasi Tenaga Kerja PG. Candi Baru (PG. skala kecil).

KRITERIA STANDAR INPUT DEVIASI KESIMPULAN

LINGKUP PG

Strata I 1 1 0 Baik Strata II 4 3 25 Kurang Baik Strata III 10 9 10 Baik Strata IV 27 27 0 Baik Pelaksana Tetap 411 418 1.7 Baik Pelaksana Musiman 372 380 2.15 Baik

KESIMPULAN 6.48 Baik

LINGKUP Pimpinan dan AKU

Strata I 1 1 0 Baik Strata II 1 1 0 Baik Strata III 1 1 0 Baik Strata IV 9 8 11.11 Kurang Baik Pelaksana Tetap 99 94 5.05 Baik Pelaksana Musiman - -

KESIMPULAN 3.23 Baik

LINGKUP Tanaman

Strata I - -

Strata II 1 1 0 Baik Strata III 4 3 25 Kurang Baik Strata IV 12 10 16.67 Kurang Baik Pelaksana Tetap 85 86 1.18 Baik Pelaksana Musiman - -

KESIMPULAN 10.71 Baik

LINGKUP Instalasi dan Pengolahan

Strata I - -

Strata II 2 2 0 Baik Strata III 7 6 14.29 Kurang Baik Strata IV 5 5 0 Baik Pelaksana Tetap 227 225 0.88 Baik Pelaksana Musiman 372 367 1.34 Baik

KESIMPULAN 3.30 Baik

KESIMPULAN 5.93 Baik

Dari hasil penilaian formasi tenaga kerja diperoleh bahwa kinerja formasi tenaga kerja pada ketiga PG adalah baik. Pencapaian terhadap standar pada PG. Candi Baru sebesar 94.07 %, PG. Lestari sebesar 91.8 %, dan pencapaian pada PG. Nadirejo sebesar 93.11 %.

Rata-rata pencapaian kinerja formasi pada setiap lingkup PG dalam ketiga PG tersebut adalah baik. Kecuali pada PG. Lestari perlu diperhatikan pada lingkup pimpinan dan AKU, pencapaian pada lingkup ini masih kurang baik. Nilai pencapaian masih di bawah 90 %, yaitu sebesar

89.68 %. Penyebabnya karena terdapat kelebihan jumlah karyawan pada strata III. Hal ini perlu diperhatikan lagi oleh manajemen PG. Lestari sehingga kedepan pencapaian terhadap standar formasi dapat ditingkatkan. 12. SMPK Ekonomi

Sub-model ini digunakan untuk menilai daya saing PG dipasaran

Dalam dokumen Model Penilaian Cepat Kinerja Industri Gula (Halaman 83-124)

Dokumen terkait