• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB V HASIL DAN PEMBAHASAN

5.3 Penyusunan Model Pendugaan Biomassa

5.3.4 Verifikasi Model

Verifikasi model dilakukan untuk mengetahui apakah nilai dugaan biomassa yang dihasilkan oleh model terpilih tidak berbeda dengan nilai biomassa di lapangan. Hasil verifikasi model dengan menggunakan analisis uji T berpasangan disajikan pada Tabel 10 dan Tabel 11. Apabila Thit > Ttabel maka tolak Ho atau

nilai signifikasnsi < 0,05. Apabila Thit < Ttabel maka terima Ho atau nilai

signifikansi > 0,05.

Dimana Hipotesis uji yang diberlakukan adalah sebagai berikut : H0 : µ1 - µ2 = 0 (Biomassa aktual = biomassa model)

H1 : µ1 - µ2≠ 0 (Biomassa aktual ≠ biomassa model)

Berdasarkan hasil uji T berpasangan yang dilakukan pada model pendugaan dengan variabel bebas backscatter ALOS PALSAR resolusi 50 m, terdapat 4 (empat) model terbaik yang dapat digunakan dalam menduga biomassa, dua model pertama merupakan model pendugaan biomassa berdasarkan backscatter ALOS PALSAR 50 m yang dihasilkan dari regresi biomassa Hendri dengan backscatter HH maupun HV. Sedangkan dua model yang lain merupakan model pendugaan biomassa berdasarkan backscatter ALOS PALSAR 12,5 m yang dihasilkan dari regresi biomassa alometrik Hendri dengan backscatter HH maupun HV.

43

Pada Tabel 11 dapat dilihat bahwa model 1 sampai dengan model 4 memiliki nilai T hitung berturut-turut sebesar 0.182, dan 0.444, nilai ini lebih kecil dari T tabel (2.056) dan nilai signifikansi lebih besar dari 0,05 sehingga dapat diartikan bahwa nilai pendugaan biomassa tidak berbeda nyata dengan nilai biomassa aktual di lapangan. Lampiran 5 menyajikan hasil perhitungan dengan menggunakan model hubungan terpilih pada citra ALOS PALSAR resolusi 50 m.

Tabel 11 Hasil verifikasi model pendugaan biomassa pada citra ALOS PALSAR resolusi 50 m

No. Model Terpilih R2adj RMSE T hit T tabel sig.

Alometrik Hendri –Backscatter

1 Y = 318,289 + 1/0.030×BS_HH 60,7% 38,25 0,182 2,056 0,857

2 Y = Exp (9,291 + 0.38×BS_HV) 79,4% 27.70 0,444 2,056 0,661

Y = Biomassa, BS = Backscatter citra ALOS PALSAR

Model pendugaan biomassa di atas permukaan dengan menggunakan polarisasi HH (Lampiran 5) pada citra ALOS PALSAR 50 m menunjukkan hasil yang tidak berbeda jauh dengan hasil pendugaan biomassa dengan polarisasi HV. Sehingga baik pada model pendugaan biomassa yang dihasilkan dari hubungan biomassa alometrik Hendri dengan backscatter HH citra ALOS PALSAR 50 m maupun model pendugaan biomassa yang dihasilkan dari hubungan biomassa alometrik Hendri dengan backscatter HV citra ALOS PALSAR 50 m dapat digunakan dalam pendugaan biomassa di atas permukaan.

Hasil verifikasi model hubungan biomassa alometrik Hendri dan backscatter citra ALOS PALSAR 12,5 m disajikan pada

Tabel 12. Nilai T hitung pada model 3 dan model 4 sebesar 0.647 dan 0.745 menunjukkan bahwa T hitung setiap model bernilai lebih kecil dari T tabel (2.056) dan nilai signifikansi lebih besar dari 0,05 sehingga dapat diartikan bahwa nilai pendugaan biomassa tidak berbeda nyata dengan nilai biomassa aktual di lapangan baik pada model hubungan biomassa model alometrik Hendri dengan backscatter HH, maupun model hubungan biomassa alometrik Hendri dengan backscatter HV.

Tabel 12 Hasil verifikasi model pendugaan biomassa pada citra ALOS PALSAR resolusi 12,5 m

No. Model Terpilih R2adj RMSE T hit T tabel sig.

Alometrik Hendri –Backscatter

1 Y = Exp(6.676 + 0.274×BS_HH125) 62.20% 37.28 0.647 2,056 0.523

2 Y = Exp(8.811 + 0.302×BS_HV125) 71.70% 32.43 0.745 2,056 0.463 Y = Biomassa, BS = Backscatter citra ALOS PALSAR

44

Model pendugaan biomassa di atas permukaan dengan menggunakan polarisasi HH menunjukkan hasil yang tidak berbeda jauh dengan hasil pendugaan biomassa dengan polarisasi HV (Lampiran 7). Sehingga baik pada model pendugaan biomassa yang dihasilkan dari hubungan biomassa alometrik hendri dengan backscatter HH citra ALOS PALSAR 12,5 m maupun model pendugaan biomassa yang dihasilkan dari hubungan biomassa alometrik Hendri dengan backscatter HV citra ALOS PALSAR 12,5 m dapat digunakan dalam pendugaan biomassa di atas permukaan.

Pendugaan biomassa dengan menggunakan polarisasi HV lebih baik dari pendugaan biomassa dengan menggunakan polarisasi HH. Hal ini dibuktikan dengan nilai RMSE, R2adj dan nilai signifikansi yang lebih baik dari pendugaan

biomassa dengan menggunakan polarisasi HH (Tabel 11 dan Tabel 12). Bukti ini didukung oleh hasil penelitian sebelumnya dengan menggunakan Citra ALOS PALSAR, dimana hubungan antara polarisasi HV dengan biomassa lebih baik dibandingkan polarisasi HH dengan biomassa (Sarker & Nichol 2010).

Selanjutnya Sarker dan Nichol (2010) menjelaskan bahwa polarisasi dua arah (HV atau VH) lebih sensitif terhadap volume maka pendugaan biomassa dengan menggunakan polarisasi dua arah menjadi lebih baik dibandingkan pendugaan biomassa dengan menggunakan polarisasi satu arah (HH atau VV). Pada pembuatan model pendugaan biomassa dengan menggunakan polarisasi HV selalu memberikan nilai statistik dan nilai verifikasi yang lebih baik bila dibandingkan dengan polarisasi HH.

Hamburan balik (backscatter) pada radar L-band menembus sebagian daun dan ranting dimana hamburan terbesar dihasilkan oleh batang dan cabang, pada kelas umur tua yang memiliki jarak antar pohon semakin jauh diakibatkan penjarangan, nilai biomassa yang dapat di duga oleh backscatter radar cenderung kecil. Ditemukan pada beberapa plot yang diukur di lapangan, pada daerah yang memiliki jarak tanam yang teratur sehingga memungkinkan mekanisme backscatter dikembalikan dengan langsung tanpa ada gap yang terlalu besar antar pohon, membuat nilai pendugaan biomassa cukup besar.

Polarisasi searah menuju sensor dihasilkan oleh pantulan energi gelombang mikro dari kanopi, batang, atau cabang. Backscatter yang dihasilkan cenderung

45

sangat kuat dan direkam sebagai objek yang memiliki rona cerah pada citra radar dengan polarisasi searah (HH atau VV). Kecerahan rona ini menandakan nilai dijital yang tinggi sehingga backscatter yang dihasilkan pun tinggi. Sebaliknya pada backscatter dengan polarisasi dua arah (HV atau VH) dihasilkan dari pancaran energi gelombang mikro yang menembus permukaan kanopi suatu pohon, pada daun, cabang dan batangnya. Hamburan balik (backscatter) dua arah ini seringkali disebut sebagai hamburan balik Volume. Nilai dijital yang relatif rendah ditandakan dengan rona yang tidak terlalu cerah, sehingga nilai backscatter pada citra dengan polarisasi ini cenderung rendah.

Variasi yang terjadi pada nilai pendugaan biomassa dipengaruhi oleh jarak antar individu pohon (Sarker & Nichol 2010). Reflektansi dari biomassa (baik biomassa total maupun komponen biomassa) pada SAR backscatter akan lebih baik pada hutan yang homogen, baik yang memiliki kesamaan bentuk, tinggi, maupun diameter, dimana pada hutan yang homogen alokasi biomassa pada setiap komponen tegakan yang berbeda akan relatif lebih konsisten (Lucas et al. 2004).

Dokumen terkait