• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB II GAMBARAN UMUM LOKASI TUGAS AKHIR

E. Visi dan Misi Badan Pengelola Pajak dan Retribusi Daerah

Visi Badan Pengelola Pajak dan Retribusi Daerah Kota Medan ialah

“Terwujudnya Pendapatan Daerah Sebagai Andalan Pembiayaan Pembangunan Daerah”, sedangkan Misi Badan Pengelola Pajak dan Retribusi Daerah Kota Medan, sebagai berikut:

1. Meningkatan kualitas pelayanan terhadap sumber dan pengelola pendapatan daerah.

2. Meningkatkan sarana dan prasarana dinas.

3. Intensifikasi dan ekstensifikasi subjek dan objek pajak.

4. Meningkatkan penegakan hukum.

BAB III

GAMBARAN DATA PAJAK HIBURAN

A. Ketentuan Umum

Berdasarkan Undang-Undang Nomor 28 Tahun 2009 tentang Pajak Daerah dan Retribusi Daerah, yang dimaksud dengan pajak daerah adalah kontribusi wajib kepada Daerah yang terutang oleh orang pribadi atau badan yang bersifat memaksa berdasarkan undang-undang, dengan tidak mendapatkan imbalan secara langsung dan digunakan untuk keperluan daerah bagi sebesar-besarnya kemakmuran rakyat.

Pajak Hiburan adalah pajak atas penyelenggaraan hiburan. Dengan demikian pajak hiburan itu dapat diartikan secara singkat adalah pajak atau pungutan daerah atas penyelenggara hiburan di tempat tersedianya hiburan tersebut. Pengenaan pajak hiburan tidak mutlak ada pada seluruh daerah kabupaten atau kota yang ada di Indonesia. Hal ini disebabkan karena penyelenggaraan daerah otonom sehingga daerah mempunyai kewenangan untuk mengenakan atau tidak mengenakan suatu jenis pajak Kabupaten/Kota. Pembangunan Kabupaten/Kota diseluruh Indonesia tentu tidak sama, demikian juga dengan penyelenggaraan pajak hiburan, oleh karena itu untuk dapat menerapkan pada suatu daerah Kabupaten/Kota pemerintah daerah setempat harus mengeluarkan peraturan daerah tentang pajak hiburan yang nantinya akan menjadi landasan atau pedoman hukum operasional dalam teknis pelaksanaan pengenaan dan pemungutan pajak hiburan di daerah kabupaten/kota tersebut. Dalam pemungutan pajak hiburan terdapat beberapa terminologi yang perlu diketahui, Terminologi tersebut adalah:

1. Hiburan adalah semua jenis tontonan, pertunjukan, permainan, dan/atau keramaian yang dinikmati dengan dipungut bayaran.

2. Penyelenggara hiburan adalah orang pribadi atau badan yang bertindak baik untuk atas nama sendiri atau untuk dan atas nama pihak lain yang menjadi tanggungannya dalam menyelenggarakan suatu hiburan.

3. Penonton atau pengunjung adalah setiap orang yang menghadiri suatu hiburan untuk melihat dan/atau mendengar, menikmatinya atau menggunakan fasilitas yang disediakan oleh penyelenggara hiburan, kecuali penyelenggaraan karyawan, artis (para pemain), dan petugas yang menyadari untuk melakukan tugas pengawasan.

4. Pembayaran adalah jumlah nilai uang atau yang dapat disamakan dengan itu yang diterima atau seharusnya diterima sebagai imbalan atas penyerahan jasa kepada penyelenggara hiburan.

5. Tanda masuk adalah semua tanda atau alat atau cara yang sah dengan nama dan dalam bentuk apapun yang dapat digunakan untuk menonton, menggunakan fasilitas, atau menikmati hiburan.

6. Harga tanda masuk, yang selanjutnya disingkat HTM, adalah nilai jual yang tercantum pada tanda masuk yang harus dibayar oleh penonton atau

pengunjung.

7. Bon Penjualan atau Bill, faktur atau invoice adalah dokumen bukti pembayaran yang sekaligus sebagai bukti pungutan pajak, yang dibuat oleh Wajib Pajak Hiburan pada saat pengajuan pembayaran kepada subjek pajak.

Adapun Dasar Hukum pemungut pajak hiburan telah diatur pada Undang-Undang Nomor 28 Tahun 2009 tentang Pajak Daerah dan Retribusi Daerah. Dan Keputusan Walikota Medan Nomor 9 Tahun 2004 tentang Pelaksanaan Peraturan Daerah Kota Medan Nomor 12 Tahun 2003 tentang Pajak Daerah Kota Medan yang dimana dalam isinya terdapat pernyataan yang menyatakan bahwa Kepala Daerah atau pejabat dapat memberikan persetujuan kepada Wajib Pajak untuk mengangsur pajak terutang dan menunda pembayaran pajak sampai batas waktu yang ditentukan setelah memenuhi persyaratan yang ditentukan dengan dikenakan bunga sebesar 2% (dua persen) dari jumlah pajak yang belum kurang bayar.

B. Subjek dan Objek Pajak Hiburan 1. Subjek Pajak Hiburan

Dalam pajak hiburan yang dimaksud dengan subjek pajak adalah orang pribadi atau badan yang menonton dan atau menikmati hiburan. Sedangkan wajib pajak adalah orang pribadi atau badan yang menyelenggarakan hiburan.

Dengan demikian, subjek pajak dan wajib pajak tentu berbeda peranan hak maupun kewenangan. Misalnya orang pribadi atau badan yang menikmati pelayanan tempat hiburan merupakan subjek pajak hiburan yang membayar atau menanggung pajak, sedangkan penyelenggara hiburan tersebut bertindak sebagai wajib pajak hiburan yang mempunyai kewenangan untuk memungut pajak dari subjek pajak. Namun sebelum menjadi Wajib Pajak hiburan, subjek pajak terlebih dahulu harus mendaftar supaya dikukuhkan menjadi wajib Pajak.

Adapun tata cara pendataan dan pendaftaran menjadi Wajib Pajak Hiburan adalah:

a. Pendaftaran dilakukan terhadap subjek pajak yang berdomisili di dalam maupun di luar wilayah daerah dan memiliki objek pajak di daerah;

b. Kegiatan pendaftaran diawali dengan mempersiapkan formulir pendaftaran dan diberikan kepada subjek pajak;

c. Subjek pajak wajib mengisi formulir pendaftaran dengan jelas, lengkap dan benar serta mengembalikannya ke Badan Pengelola Pajak dan Retribusi Daerah;

d. Formulir pendaftaran yang dikembalikan oleh subjek pajak dicatat dalam daftar induk Wajib Pajak secara berurutan, yang nantinya akan digunakan sebagai Nomor Pokok Wajib Pajak (NPWP).

2. Objek Pajak Hiburan

Objek pajak hiburan adalah setiap penyelenggaraan hiburan dengan dipungut bayaran. Objek pajak hiburan terdiri dari:

1. Tonton Film;

2. Pagelaran Kesenian, Musik, Tari dan/atau Busana;

3. Kontes Kecantikan, Binaraga dan sejenisnya;

4. Pameran;

5. Diskotik, Karaoke, Klub malam dan sejenisnya;

6. Sirkus, Akrobat dan sulap;

7. Permainan Bilyard, Golf, Bowling;

8. Pacuan kuda, kendaraan bermotor dan permainan ketangkasan;

9. Panti pijat, refleksi, mandi uap/SPA, dan pusat kebugaran (Fitness center), dan;

10. Pertandingan olahraga;

Namun ada juga beberapa objek pajak hiburan yang tidak dikenakan pajak atau dikecualikan yaitu penyelenggaraan hiburan yang tidak dipungut bayaran, misalnya hiburan yang diselenggarakan dalam rangka pernikahan, upacara adat dan kegiatan keagamaan.

C. Dasar Pengenaan, Tarif dan Cara Perhitungan Pajak Hiburan 1. Dasar Pengenaan Pajak Hiburan

Dasar pengenaan pajak hiburan adalah jumlah pembayaran atau yang seharusnya dibayar untuk menonton dan atau menikmati hiburan.

a. Tarif Pajak Hiburan

Tarif pajak hiburan yang telah ditetapkan oleh Peraturan Daerah dikenakan paling tinggi 35% (tiga puluh lima persen). Tarif pajak hiburan di tiap kabupaten/kota tentu berbeda-beda, hal ini harus disesuaikan dengan keadaan daerahnya, asalkan tidak melebihi tarif pajak yang telah ditetapkan yaitu 35%.

Tarif pajak dapat digolongkan menjadi 2 golongan yaitu:

1. Tarif Tunggal terdiri dari:

a. Tarif pajak tetap adalah jumlah atau angkanya tetap, tidak bergantung besarnya dasar pengenaan pajak.

b. Tarif propesional adalah tarif objek yang persentasenya tetap dan tidak bergantung pada besarnya dasar pengenaan pajak.

2. Tarif Tidak Tunggal, terdiri dari:

a. Tarif Progresif adalah tarif pajak yang persentasenya meningkat sesuai besarnya atau meningkatnya dasar pengenaan pajak.

b. Tarif Degresif adalah tarif pajak yang persentasenya menurun sesuai dengan meningkatnya dasar pengenaan pajak.

Tarif Pajak Hiburan Kota Medan adalah sebagai berikut:

a. Pertunjukan Film Bioskop

Tabel 3.1

Tarif Pajak Hiburan Kota Medan Tahun 2015 Klasemen Bioskop Besar Pajak

Sumber: Badan Pengelola Pajak dan Retribusi Daerah 2015

b. Ketentuan klasemen dan besarnya harga tanda masuk untuk masing-masing di Kota Medan akan ditetapkan lebih lanjut dengan Surat Keputusan Kepala Daerah.

c. Tata cara pengadaan/perforasi tanda masuk/karcis tontonan dan pembayaran di muka (PDM) pajak hiburan tetap dan insidentil akan ditetapkan lebih lanjut dengan Keputusan Kepala Daerah.

d. Untuk menunjukkan kesenian antara lain kesenian tradisional, pertunjukan sirkus, pameran seni:

1) Di ruangan yang memakai AC dipungut pajak sebesar 15% dari HTM.

2) Di ruangan yang tidak memakai AC dipungut pajak sebesar 10%

dari HTM.

e. Untuk pameran busana, kontes kecantikan, pertunjukan/pegelaran musik dan tari:

1) Di ruangan yang memakai AC dipungut pajak sebesar 25% dari HTM.

2) Di ruangan yang tidak memakai AC dipungut pajak sebesar 20%

dari HTM.

f. Untuk Diskotik, Bar, Karaoke, Klab Malam, dan sejenisnya ditetapkan sebesar 30% dari HTM atau jumlah pembayaran untuk menonton dan atau menikmati hiburan di luar harga makanan/minuman yang telah dikenakan Pajak Hotel dan Pajak Restoran.

g. Untuk Diskotik, Bar, Klub Malam yang tidak menggunakan tanda masuk dan atau tidak membayar untuk menonton dan atau menikmati hiburan dipungut pajak sebesar Rp 2.000,- untuk setiap pengunjung di luar harga makanan/minuman yang telah dikenakan Pajak Hotel dan atau Pajak Restoran.

h. Untuk Permainan Bilyard:

1) Di ruangan yang memakai AC dipungut pajak sebesar 20% dari HTM atau harga koin per meja untuk sekali permainan.

2) Di ruangan yang tidak memakai AC dipungut pajak sebesar 15%

dari HTM atau harga koin permeja untuk sekali permainan.

i. Untuk Permainan Ketangkasan, Taman Hiburan Keluarga, Permainan Anak-anak antara lain Video Game, Playstation, Mini Train, Kuda Pusing, Sampan Pusing, Speed Boat, Bom-bom Car dan sejenisnya yang dipungut pajak sebesar 20% dari HTM atau harga koin.

j. Usaha Panti Pijat, Mandi Uap dan sejenisnya dipungut pajak 20% dari HTM per jam, Salon Kecantikan dipungut sebesar 20% dari jumlah pembayaran.

k. Pertunjukan pertandingan olahraga antar klub dalam negeri dipungut pajak sebesar 15% dari HTM, sedangkan pertandingan olahraga dengan dukungan antar bangsa dipungut sebesar 20% dari HTM.

l. Taman Rekreasi, Kolam Renang, Kolam Pancing dan sejenisnya dipungut pajak sebesar 10% dari HTM.

m. Untuk jenis hiburan yang tidak menggunakan tanda masuk dipungut pajak sebesar 20% dari jumlah pembayaran. Untuk persewaan permainan internet dipungut pajak 10% dari nilai sewa per jam.

2. Cara Perhitungan Pajak Hiburan

Untuk menghitung besarnya pajak hiburan yang terutang adalah dengan cara mengalikan tarif dengan dasar pengenaan pajak atau secara umum dapat dirumuskan sebagai berikut:

Pajak Terutang = Tarif Pajak x Dasar Pengenaan Pajak

= Tarif Pajak x Jumlah Pembayaran untuk menikmati hiburan Di dalam pajak hiburan terdapat juga masa pajak yang merupakan jangka waktu yang lamanya sama dengan tahun takwim. Tahun takwim sama dengan satu tahun lamanya atau biasanya dihitung mulai dari bulan Januari sampai dengan Desember. Selanjutnya di dalam masa pajak atau tahun pajak, Wajib Pajak harus membayar pajak yang terutang berdasarkan ketentuan Peraturan Daerah mengenai pajak hiburan yang telah ditetapkan oleh Pemerintah Daerah. Pajak hiburan yang terutang akan dipungut di wilayah atau daerah tempat hiburan tersebut diselenggarakan. Hal ini karena kewenangan yang dimiliki oleh Pemerintah Daerah yang terbatas akan tempat hiburan yang berlokasi dan terdaftar dalam lingkup wilayah administrasinya.

D. Mekanisme Pemungutan Pajak Hiburan

Pemungutan adalah suatu rangkaian kegiatan mulai dari penghimpunan data objek dan subjek pajak atau retribusi, penentuan pajak atau retribusi yang terutang sampai kegiatan penagihan pajak atau retribusi kepada wajib pajak atau wajib retribusi serta pengawasan penyetoran”. Untuk itu wajib pajak terlebih dahulu melaporkan jenis usahanya kepada Badan Pengelola Pajak dan Retribusi Daerah dengan mekanisme sebagai berikut:

1. Pengukuhan Wajib Pajak

Wajib pajak hiburan, wajib melaporkan usahanya kepada Badan Pengelola Pajak dan Retribusi Daerah Kota Medan dalam jangka waktu tertentu selambat-lambatnya tiga puluh hari setelah izin penyelenggaraan hiburan diperoleh untuk dikukuhkan dan diberikan Nomor Pokok Wajib Pajak Daerah (NPWPD). Surat keputusan pengukuhan yang dikeluarkan oleh Kepala Badan Pengelola Pajak dan Retribusi Daerah kabupaten/kota tidak merupakan dasar untuk menentukan mulai saat terutang pajak hiburan. Tetapi hanya merupakan sarana dalam administrasi dan pengawasan bagi petugas atau fiskus Badan Pengelola Pajak dan Retribusi Daerah. Apabila penyelenggara hiburan tidak mendaftarkan usahanya dalam jangka waktu yang ditentukan, Kepala Badan Pengelola Pajak dan Retribusi Daerah akan menetapkan pengusaha atau penyelenggara hiburan tersebut sebagai wajib pajak jabatan. Penetapan secara jabatan ini dimaksudkan untuk memberikan nomor pengukuhan dan NPWPD dan bukan merupakan untuk penetapan besarnya pajak terutang.

2. Pendaftaran Pendataan

Kegiatan pendaftaran diawali dengan mempersiapkan formulir pendaftaran dan diberikan kepada Wajib Pajak. Wajib Pajak wajib mengisi formulir pendaftaran dengan jelas, lengkap, dan benar serta mengembalikannya ke Badan Pengelola Pajak dan Retribusi Daerah.Formulir pendaftaran yang dikembalikan oleh Wajib Pajak dicatat dalam Daftar Induk Wajib Pajak secara berurutan yang digunakan sebagai NPWPD.

3. Laporan Pajak dan Surat Pemberitahuan Pajak Daerah (STPPD)

Wajib pajak hiburan wajib melaporkan kepada Bupati/Walikota dalam praktek sehari-hari ditujukan kepada Kepala Badan Pengelola Pajak dan Retribusi Daerah Kabupaten/Kota, mengenai perhitungan dan pembayaran pajak hiburan yang terutang. Wajib pajak yang telah memiliki NPWPD, setiap awal masa pajak wajib mengisi SPTPD. SPTPD disi dengan jelas, lengkap, benar dan ditandatangani oleh wajib pajak atau kuasanya dan disampaikan kepada Walikota/Bupati atau pejabat yang ditunjuk sesuai dengan jangka waktu yang ditentukan. Biasanya, SPTPD harus disampaikan selambat-lambatnya lima belas hari setelah berakhir masa pajak. Seluruh data perpajakan yang diperoleh dari daftar isian tersebut kemudian dihimpun dan dicatat dituangkan dalam berkas atau kartu data yang merupakan hasil akhir yang akan dijadikan sebagai dasar dalam perhitungan dan penetapan pajak yang terutang.

Keterangan dan dokumen yang harus dicantumkan dan atau dilampirkan pada SPTPD ditetapkan oleh Walikota. Walikota atas permohonan wajib pajak dengan alasan yang sah dan dapat diterima dapat memperpanjang jangka waktu penyampaian SPTPD untuk jangka waktu tertentu. SPTPD dianggap

tidak dimasukkan jika wajib pajak tidak sepenuhnya melaksanakan ketentuan pengisian dan penyampaian SPTPD yang telah ditetapkan. Wajib pajak yang tidak melaporkan atau melaporkan tidak sesuai dengan batas waktu yang telah ditentukan akan dikenakan sanksi administrasi berupa denda sesuai dengan ketentuan peraturan daerah dalam peraturan daerah Kota Medan.

Pemungutan pajak hiburan pada Badan Pengelola Pajak dan Retribusi Daerah Kota Medan dapat dibagi dua kegiatan yang masing-masing memiliki sistem pemungutan yang berbeda, yaitu:

a. Penyelenggaraan Hiburan Rutin

Dalam penyelenggaraan hiburan rutin dapat dibagi atas dua, yaitu:

1. Penyelenggaraan atas hiburan rutin yang menggunakan tiket masuk.

Terhadap wajib pajak yang menyelenggarakan hiburan rutin dengan menggunakan tiket tanda masuk seperti bioskop, kolam renang umum, penyelenggaraan tempat-tempat wisata rekreasi dan sejenisnya, pelaksanaan pemungutan dan pembayaran wajib pajak ditetapkan dengan sistem official assesment.

2. Penyelenggaraan hiburan rutin yang tidak menggunakan tiket tanda masuk. Terhadap wajib pajak yang menyelenggarakan hiburan rutin dengan tidak menggunakan tiket tanda masuk seperti diskotik/karaoke, video game, panti pijat dan kegiatan sejenisnya, pelaksanaan pemungutan dan pembayaran wajib pajak hiburan ditetapkan dengan self assesment. Dengan sistem ini wajib pajak berkewajiban untuk melakukan pembayaran setiap bulannya ke Kantor Kas Badan Pengelola Pajak dan Retribusi Daerah dengan menyampaikan SPTPD.

b. Penyelenggaraan hiburan isidentil

Terhadap kegiatan peyelenggaraan hiburan insidentil sistem pemungutannya semi self assesment, dimana pada saat penyelenggaraan hiburan wajib pajak diberi wewenang untuk melakukan penjualan tiket dan pada masa akhir penyelenggaraan berakhir fiskus atau petugas pemungut pajak yang telah ditunjuk Badan Pengelola Pajak dan Retribusi Daerah Kota Medan menentukan ketetapan pajak terutang atau menentukan besarnya pajak yang harus dibayar oleh wajib pajak dalam hal ini adalah penyelenggaraan hiburan. Biasanya wajib pajak menyampaikan tiket untuk acara hiburan insidentil tersebut dalam waktu minimal tujuh hari sebelum acara dilaksanakan, juga untuk mengajukan permohonan legalisasi/porporasi tiket dengan memberikan jumlah tiket.

4. Sistem Pemungutan Pajak a. Official Assesment System

Official Assestment System adalah suatu sistem pemungutan yang memberi

wewenang kepada pemerintah (FISKUS) untuk menentukan besarnya pajak yang terutang oleh wajib pajak.

Ciri-cirinya adalah:

1. wewenang untuk menentukan besarnya pajak terutang ada pada fiskus 2. wajib pajak bersifat pasif

3. utang pajak timbul setelah dikeluarkan surat ketetapan pajak oleh fiskus.

b. Self Assesment System

Self Assestment System adalah suatu sistem pemungutan pajak yang

memberi wewenang kepada wajib pajak untuk menentukan sendiri besarnya pajak yang terutang.

Ciri-cirinya adalah:

1. wewenang untuk menentukan besarnya pajak terutang ada pada wajib pajak sendiri

2. wajib pajak aktif mulai dari menghitung, menyetor dan melaporkan sendiri pajak yang terutang

3. fiskus tidak ikut campur dan hanya mengawasi.

c. With Holding System

With Holding System adalah suatu sistem pemungutan pajak yang memberi

wewenang kepada pihak ketiga (bukan fiskus dan bukan wajib pajak) yang bersangkutan untuk menentukan besarnya pajak yang terutang oleh wajib pajak. Ciri-cirinya wewenang menentukan besarnya pajak yang terutang ada pada pihak ketiga selain fiskus dan wajib pajak.

5. Tata Cara Pemungutan Pajak Tata Cara Pemungutan Pajak, yaitu:

a. Wajib Pajak/Penyelenggara mengajukan Surat Permohonan Perforasi Karcis kepada Kepala Badan Pengelola Pajak dan Retribusi Kota Medan b. Subdis Datap (Sie Tapda) mempersiapkan Surat Permohonan Perforasi,

ditujukan kepada Bendaharawan Khusus Benda Berharga Badan Pengelola Pajak dan Retribusi Daerah Kota Medan. Subdis Datap (Sie Tapda) memverifikasi hasil penjualan karcis sesuai dengan Berita Acara Pemeriksaan, Laporan Hasil Penjualan dan Pemakaian Karcis untuk dituangkan ke Kartu Data selanjutnya menerbitkan SKPD/SKPDKB.

c. Bendaharawan Penerima Badan Pengelola Pajak dan Retribusi Daerah Kota Medan mempersiapkan Bukti Tanda Terima Uang Jaminan untuk selanjutnya menyetorkan jaminan dari penyelenggara ke Bendaharawan Penerima Badan Pengelola Pajak dan Retribusi Daerah Kota Medan.

Bendaharawan Penerimaan mempersiapkan SSPD (Surat Setoran Pajak Daerah) sesuai dengan SKPD/SKPDKB.

d. Petugas Lapangan mengawasi penyelenggaraan acara di lapangan, antara lain seperti peredaran karcis/tanda masuk.

e. Petugas lapangan mempersiapkan Berita Acara Pemeriksaan, Laporan Hasil Penjualan dan Pemakaian Karcis atas penyelenggaraan acara di lapangan.

f. Wajib Pajak/Penyelenggara mengajukan Surat Laporan hasil Penjualan Tiket kepada Kepala Badan Pengelola Pajak dan Retribusi Daerah Kota Medan sekaligus menyerahkan sisa karcis ke Bendaharawan Benda Berharga.

g. Menyetor Pajak Hiburan ke Bendaharawan Penerima Badan Pengelola Pajak dan Retribusi Daerah Kota Medan dengan menyertakan SSPD dan Bukti Tanda Terima Uang Jaminan.

E. Penetapan Pajak Hiburan

1. Berdasarkan Surat Pemberitahuan Daerah, Kepala Daerah atau Pejabat menetapkan pajak terutang dengan menerbitkan Surat Ketetapan Pajak Daerah (SKPD) yang dipersamakan dengan itu;

2. Apabila Surat Ketetapan Pajak Daerah tidak atau kurang setelah lewat waktu paling lama 30 (tiga puluh) hari sejak SKPD diterima, dikenakan sanksiadministrasi berupa bunga sebesar 2% (dua persen) sebulan dan ditagih dengan menerbitkan SKPD;

3. Wajib Pajak Hiburan dalam menghitung, memperhitungkan, menetapkan, membayar dan melaporkan sendiri pajak yang terutang menggunakan SPTPD;

4. Dalam jangka waktu 5 (lima) tahun sesudah saat terutangnya pajak, Kepala Badan atau Pejabat yang ditunjuk dapat menerbitkan:

a. Surat Ketetapan Pajak Daerah Kurang Bayar (SKPDKB)

b. Surat Ketetapan Pajak Daerah Kurang Bayar Tambahan (SKPDKBT) c. Surat Ketetapan Pajak Daerah Nihil (SKPDN)

5. SKPDKB diterbitkan apabila:

a. Apabila berdasarkan hasil pemeriksaan atau keterangan lain pajak yang terutang tidak atau kurang bayar, dikenakan sanksi administrasi berupa bunga sebesar 2% (dua persen) sebulan dihitung dari pajak yang kurang atau terlambat dibayar untuk jangka waktu paling lama 24 (dua puluh empat) bulan sejak saat terutangnya pajak sampai dengan diterbitkanya SKPDKB;

b. Apabila SPTPD tidak disampaikan kepada Kepala Badan dalam jangka waktu 15 (lima belas) hari sejak diterima dan setelah ditegur secara tertulis tidak disampaikan pada waktunya sebagaimana ditentukan dalam surat teguran dikenakan sanksi administrasi berupa bunga sebesar 2% (dua persen) sebulan dihitung dari pajak yang kurang atau terlambat dibayar untuk jangka waktu paling lama 24 (dua puluh empat) bulan sejak saat terutangnya pajak sampai dengan diterbitkannya SKPDKB;

c. Apabila kewajiban mengisi SPTPD tidak dipenuhi, pajak terutang dihitung secara jabatan dan dikenakan sanksi administrasi berupa kenaikan sebesar 25% (dua puluh lima persen) sebulan dihitung dari pajak yang kurang atau terlambat dibayar untuk jangka waktu paling lama 24 (dua puluh empat) bulan dihitung sejak saat terutangnya pajak sampai dengan diterbitkannya SKPDKB.

6. SKPDKBT diterbitkan apabila ditemukan data baru yang semula belum terungkap yang menyebabkan penambahan jumlah pajak yang terutang, akan dikenakan sanksi administrasi berupa kenaikan sebesar 100%

(seratus persen) dari jumlah utang pajak tersebut;

7. SKPDN diterbitkan apabila jumlah pajak terutang sama besarnya dengan jumlah pajak yang telah disetor;

8. Apabila kewajiban membayar pajak terutang dalam SKPDKB dan SKPKBT tidak sepenuhnya dibayar dalam jangka waktu yang ditentukan, ditagih dengan menerbitkan Surat Tagihan Pajak Daerah (STPD) ditambah dengan sanksi administrasi berupa bunga sebesar 2% (dua persen) sebulan;

9. Penambahan jumlah pajak yang terutang tidak dikenakan pada Wajib Pajak apabila melaporkan sendiri sebelum dilakukan pemeriksaan.

F. Tata Cara Pembayaran Pajak Hiburan

Untuk memperlancar pembayaran pajak hiburan sebaiknya, Wajib Pajak mengetahui bagaimana tata cara pembayaran pajak hiburan. Berikut adalah tata cara pembayaran pajak hiburan:

1. Pembayaran pajak hiburan dilakukan di Kas Daerah atau tempat yang ditunjuk oleh Kepala Daerah dalam waktu 30 (tiga puluh) hari setelah diterimanya Surat Pemberitahuan Pajak Daerah (SPTD), Surat Ketetapan Pajak Daerah (SKPD), Surat Ketetapan Pajak Daerah Kurang Bayar (SKPDKB), Surat Ketetapan Pajak Daerah Kurang Bayar Tambahan (SKPDKBT), Surat Tagihan Pajak Daerah (STPD);

2. Apabila pembayaran pajak hiburan dilakukan di tempat lain yang ditunjuk hasil penerimaan pajak harus disetor ke Kas Daerah selambat-lambatnya 1 x 24 jam;

3. Pembayaran pajak hiburan dilakukan dengan menggunakan Surat Setoran Pajak Daerah (SSPD);

4. Pembayaran pajak hiburan dengan sistem Self Assesment System, dilakukan di Kas Daerah atau tempatlain yang ditunjuk oleh Kepala Daerah pada tanggal 7, 14, 21 dan 28 berdasarkan SPTPD atas pajak yang telah dipungut dalam masa pajak bilamana tanggal tersebut jatuh pada tanggal libur maka jadwal pembayaran dimundurkan pada tanggal berikutnya;

5. Pembayaran pajak hiburan harus dilakukan sekaligus atau lunas;

5. Pembayaran pajak hiburan harus dilakukan sekaligus atau lunas;

Dokumen terkait