BAB III DESKRIPSI OBJEK PENELITIAN
B. Gambaran Umum Dinas Perumahan dan Permukiman
1. Visi dan Misi Dinas Perumahan dan Permukiman
Visi adalah cara pandang jauh kedepan, kemana instansi pemerintah harus dibawa agar dapat eksis, antisipatif dan inovatif. Secara umum visi adalah pandangan ideal masa depan yang ingin diwujudkan dan secara potensial untuk terwujud. Visi yang ditetapkan merupakan gambaran bersama mengenai masa depan dan menjadi komitmen murni dari seluruh masyarakat dan Dinas Perumahan dan Permukiman Kota Medan.
Dengan mengacu pada visi misi perumahan nasional dan rencana pembangunan kota untuk memberikan gambaran serta arahan organisasi yang jelas maka Dinas Perumahan dan Pemukiman Kota Medan membuat visi sebagai acuan dalam mengimplementasikan program-program yang akan dibuat di Kota Medan. Oleh sebab itu yang menjadi visi Dinas Perumahan dan Pemukiman Kota Medan adalah: “Kinerja Prima Dan Dukunan Masyarakat Mewujudkan Perumahan Dan Permukiman Kota Medan Yang Sehat Dan Nyaman”.
b. Misi
Misi adalah suatu yang harus diemban atau dilaksanakan oleh instansi pemerintah sesuai visi yang ditetapkan, agar tujuan organisasi dapat terlaksana dan berhasil dengan baik. Pemerintah khususnya Dinas Perumahan dan Pemukiman menyadari bahwa memang pada dasarnya dalam mewujudkan perumahan yang sehat dan nyaman tidak terlepas dari peran masyarakat itu sendiri dalam mendukung dan membantu pemerintah untuk mewujudkan visi yang telah dibuat. Untuk mewujudkan visi tersebut, Dinas Perumahan dan Permukiman Kota Medan mempunyai misi, yaitu:
1. Meningkatkan pembangunan perumahan dan permukiman.
2. Membangunkan sistem koordinasi, sistem perencanaan dan regulasi tentang pembangunan perumahan dan permukiman serta sistem pengawasan.
3. Meningkatkan kapasitas sumber daya aparatur dan masyarakat.
2. Tugas Pokok dan Fungsi Organisasi
Adapun Uraian tugas pokok dan Fungsi Dinas Perumahan dan Permukiman yaitu sesuai dengan Peraturan walikota Medan Nomor 44 Tahun 2010 Tentang Rincian Tugas Pokok dan Fungsi Dinas Perumahan dan Permukiman Kota Medan adalah sebagai berikut:
a. Kepala Dinas Tugas pokok:
Melaksanakan urusan pemerintah daerah di bidang perumahan dan permukiman berdasarkan asas otonomi dan tugas pembantuan.
Fungsi:
1. Perumusan kebijakan teknis di bidang perumahan dan permukiman 2. Penyelenggaraan urusan pemerintahan dan pelayanan umum di bidang
perumahan dan permukiman
3. Pembinaan dan pelaksanaan tugas di bidang perumahan dan permukiman
4. Pelaksanaan tugas lain yang diberikan oleh walikota sesuai dengan tugas dan fungsinya.
b. Sekretariat Tugas pokok:
Melaksanakan sebagian tugas dinas lingkup kesekretariatan meliputi pengelolaan administrasi umum, keuangan, dan penyusunan program. Fungsi:
1. Penyusunan rencana,program, dan kegiatan kesekretariatan 2. Pengkoordinasian penyusunan perencanaan program Dinas
3. Pelaksanaan dan penyelenggaraan pelayanan administrasi kesekretariatan dinas yang meliputi administrasi umum, kepegawaian, keuangan, dan kerumahtanggaan dinas
4. Pengelolaan dan pemberdayaan sumber daya manusia, pengembangan organisasi, dan ketatalaksanaan
5. Pelaksanaan koordinasi penyelenggaraan tugas – tugas dinas 6. Penyiapan bahan pembinaan, pengawasan, dan pengendalian 7. Pelaksanaan monitoring, evaluasi dan pelaporan kesekretariatan
8. Pelaksanaan tugas lain yang diberikan oleh kepala dinas sesuai dengan tugas dan fungsinya.
c. Bidang Perencanaan dan Bina Teknik Tugas pokok:
Melaksanakan sebagian tugas Dinas lingkup sarana dan prasarana dasar dan lingkungan, serta bangunan gedung
Fungsi:
1. Penyusunan rencana, program, dan kegiatan Bidang perencanaan dan Bina Teknik
2. Penyusunan petunjuk teknis lingkup sarana dan prasarana dasar dan lingkungan, serta bangunan gedung
3. Pelaksanaan perencanaan sarana dan prasarana dasar 4. Pelaksanaan perencanaan sarana dan prasarana lingkungan
5. Pelaksanaan perencanaan bangunan gedung dan bangunan gedung pemerintah
6. Pemberian pelayanan penyediaan tata teknik dan konstruksi di kawasan perumahan dan permukiman meliputi sarana dan prasarana dasar, sarana dan prasarana lingkungan, dan bangunan gedung dalam rangka peningkatan kualitas perumahan dan permukiman
7. Perencanaan perumahan sesuai dengan teknik pembangunan
8. Penetapan persyaratan administrasi dan teknis untuk bangunan gedung semi permanen, darurat dan bangunan gedung yang dibangun di lokasi bencana
9. Penyusunan pedoman dan manual perencanaan pembangunan dan pengelolaan PSU skala kota
10. Pembinaan teknis pelaksanaan penyelenggaraan pembangunan dan pengelolaan kawasan khusus
11. Pelaksanaan monitoring, evaluasi, dan pelaporan lingkup bidang perencanaan dan bina teknik
12. Pelaksanaan tugas lain yang diberikan oleh kepala dinas sesuai dengan tugas dan fungsinya
d. Bidang Pembinaan dan Pengembangan Perumahan Tugas pokok:
Melaksanakan sebagian tugas Dinas lingkup pembinaan perumahan formal dan swadaya, pengembangan kawasan, dan pembinaan peraturan perumahan.
Fungsi:
1. Penyusunan rencana, program, dan kegiatan bidang Pembinaan dan Pengembangan Perumahan
2. Penyusunan petunjuk teknis lingkup pembinaan perumahan formal dan swadaya, pengembangan kawasan, dan pembinaan peraturan perumahan
3. Perumusan kebijakan, strategi, dan program di bidang pembinaan dan pengembangan perumahan
4. Penyusunan dan penerapan Norma Standar dan Manual (NSPM) di bidang pembinaan dan pengembangan perumahan
5. Pemberian masukan dalam penyusunan dan perumusan RPJP dan RPJM Kota tentang pembinaan dan pengembangan perumahan
6. Pelaksanaan sosialisasi kebijakan, strategi, program, dan NSPM di bidang pengembangan perumahan
7. Pelaksanaan kajian dan studi kelayakan di bidang pengembangan perumahan baik secara fisik, sosial budaya, dan peluang sumber pembiayaan
8. Pengumpulan dan menginventarisir data-data di bidang pengembangan perumahan
9. Pengkoordinasian, kerjasama, dan pemanfaatan badan usaha pembangunan perumahan, baik BUMN, BUMD, Koperasi, Perorangan maupun Swasta yang bergerak di bidang usaha industri bahan bangunan, konsultan, kontraktor, pengembang, dan pembiayaan perumahan
10. Penginventarisiran aset pemerintah daerah di bidang perumahan
11. Penyusunan rencana kota dalam Pembangunan dan Pengembangan Perumahan dan Permukiman Daerah (RP4D) dan melakukan monitoring dan evaluasi pelaksanaannya
12. Pelaksanaan monitoring, evaluasi, dan pelaporan lingkup bidang pembinaan dan pengembangan perumahan
13. Pelaksanaan tugas lain yang diberikan oleh Kepala Dinas sesuai dengan tugas dan fungsinya
e. Bidang Pembangunan Pemeliharaan dan Pengelolaan Tugas pokok:
Melaksanakan sebagian tugas dinas lingkup prasarana dasar dan lingkungan, serta bangunan pemerintah
Fungsi:
1. Penyusunan rencana, program, dan kegiatan Bidang Pembangunan Pemeliharaan dan Pengelolaan
2. Penyusunan petunjuk teknis lingkup prasarana dasar dan lingkungan, serta bangunan pemerintah
3. Pelaksanaan pembangunan dan pengkoordinasian pemeliharaan / rehabilitasi sarana dan prasarana dasar di kawasan perumahan dan permukiman
4. Pelaksanaan pembangunan dan pengkoordinasian pemeliharaan / rehabilitasi sarana dan prasarana lingkungan
5. Pelaksanaan pembangunan dan pengkoordinasian pemeliharaan / rehabilitasi bangunan gedung dan bangunan pemerintah milik badan usaha atas dasar kerjasama dengan Pemerintah Kota
6. Penyelenggaraan pengelolaan bangunan pemerintah kota
7. Pelaksanaan monitoring, evaluasi, dan pelaporan lingkup bidang pembangunan pemeliharaan dan pengelolaan
8. Pelaksanaan tugas lain yang diberikan oleh Kepala Dinas sesuai dengan tugas dan fungsinya
f. Bidang Pengawasan dan Survei Tugas pokok:
Melaksanakan sebagian tugas dinas lingkup sarana dan prasarana dasar dan lingkungan, serta bangunan gedung dan pemerintah
Fungsi:
1. Penyusunan rencana, program, dan kegiatan bidang pengawasan dan survei
2. Penyusunan petunjuk teknis lingkup sarana dan prasarana dasar dan lingkungan, serta bangunan gedung dan pemerintah
3. Pelaksanaan pengawasan fisik pembangunan prasarana dasar, sarana lingkungan, dan gedung-gedung pemerintah
4. Pelaksanaan survei atau pendataan prasarana dasar, prasarana lingkungan, dan gedung-gedung pemerintah
5. Pengawasan dan pengendalian pelaksanaan kebijakan pembangunan dan pengelolaan perumahan
6. Pengawasan dan pengendalian bangunan pemerintah, prasarana dan sarana umum
7. Pengawasan dan pengendalian penyelenggaraan Kasiba, Lisiba, dan permukiman kumuh
8. Pengawasan dan penertiban pembangunan, pemanfaatan, dan pembongkarean bangunan gedung, pelestarian bangunan gedung yang dilindungi, dan dilestarikan yang berskala lokal
9. Pelaksanaan monitoring, evaluasi, dan pelaporan lingkup bidang pengawasan dan survei
10. Pelaksanaan tugas lain yang diberikan oleh Kepala Dinas sesuai dengan tugas dan fungsinya
3. Struktur Organisasi
Adapun struktur organisasi dinas sesuai dengan Peraturan walikota Medan Nomor 44 Tahun 2010 Tentang Rincian Tugas Pokok dan Fungsi Dinas Perumahan dan Permukiman Kota Medan adalah sebagai berikut:
1. Kepala Dinas 2. Sekretariat:
a. Sub Bagian Umum b. Sub Bagian Keuangan
c. Sub Bagian Penyusunan Program 3. Bidang Perncanaan dan Bina Teknik: a. Seksi Sarana dan Prasarana Dasar b. Seksi Sarana dan Prasarana Lingkungan c. Seksi Bangunan Gedung
4. Bidang Pembinaan dan Pengembangan Perumahan: a. Seksi Pembinaan Perumahan Formal dan Swadaya b. Seksi Pengembangan Kawasan
c. Seksi Pembinaan Peraturan Perumahan
5. Bidang Pembangunan Pemeliharaan dan Pengelolaan: a. Seksi Prasarana Dasar
b. Seksi Prasarana Lingkungan c. Seksi Bangunan Pemerintah 6. Bidang Pengawasan dan Survei:
a. Seksi Sarana dan Prasarana Dasar b. Seksi Sarana dan Prasarana Lingkungan
KEPALA DINAS Sub Bagian Umum Sub Bagian Penyusunan Program Sub Bagian Keuangan Sekretariat Dinas Bidang Perencanaan dan Bina Teknik
Seksi Sarana dan Prasarana Dasar
Seksi Sarana dan Prasarana Lingkungan Seksi Bangunan Gedung Bidang Pembinaan dan Pengembangan Perumahan Seksi Pembinaan Perumahan Formal dan Swadaya Seksi Pengembangan Kawasan Seksi Pembinaan Peraturan Perumahan Bidang Pembangunan Pemeliharaan dan Pengelolaan Seksi Prasarana Dasar Seksi Prasarana Lingkungan Seksi Bangunan Pemerintah Bidang Pengawasan dan Survei Seksi Prasarana Dasar Seksi Praarana Lingkungan Seksi Bangunan Pemerintah Unit Pelaksana Tenis Kelompok Jabatan Fungsional c. Seksi Bangunan Gedung dan Pemerintah
7. Unit Pelaksana Teknis (UPT) 8. Kelompok Jabatan Fungsional
Gambar 3.1
Struktur Organisasi Dinas Perumahan dan Permukiman Kota Medan
4. Kepegawaian Dinas Perumahan Dan Permukiman Kota Medan
Untuk melaksanakan apa yang menjadi visi dan misi dinas perumahan dan permukiman maka di perlukan aparatur dalam mengimplementasikan program – program yang telah ditetapkan, Dinas Perumahan dan Permukiman Kota Medan didukung oleh 77 sumber daya manusia yang telah mengisi posisi yang ada dalam dinas tersebut. Aparatur yang bekerja di Dinas Perumahan dan Permukiman memiliki pembangian tugas yang jelas yang sesuia dengan spesialisasinya masing-masing. Berdasarkan data pada Dinas Perumahan dan Permukiman, jumlah pegawai negeri sipil menurut eselon, golongan dan pendidikan pada tahun 2011 – 2015 adalah:
Tabel 3.3
Sumber Daya Dinas Perumahan dan Permukiman Kota Medan 2011 – 2015
No. Eselon Golongan Pendidikan
Eselon Jumlah Golongan Jumlah Pendidikan Jumlah
1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 II III a III b IV a Staf 1 1 4 14 57 IV c IV b IV a III d III c III b III a II d II c II b II a 1 3 3 13 12 15 17 1 3 - 9 S-2 S-1 D-III SMA 6 23 5 43 Jumlah 77 77 77
Unsur pendidikan merupakan unsur yang sangat penting dalam perumusan sampai pada tahap implementasinya di lapangan. Jenjang pendidikan menjadi sangat berarti dalam meningkatkan kinerja dalam suatu organisasi terutama dalam organisasi publik. Dari 77 total jumlah pegawai di Dinas Perumahan dan Permukiman, 7,8 % memiliki latar belakang pendidikan S-2, 29,9 % memiliki latar belakang pendidikan S-1, 6,5 % memiliki latar belakang pendidikan D-III dan 55,8 % berlatar belakang pendidikan SMA. Jenjang pendidikan yang ada pada Dinas Perumahan dan Permukiman sudah sangat baik karena jenjang pendidikan yang mendominasi adalah S-1 dan D-III.
Hal inilah yang dijadikan sebagai dorongan untuk meningkatkan kinerja dalam dinas tersebut. Selain itu, pada Dinas Perumahan dan Permukiman memiliki pegawai yang sudah matang dalam arti memiliki pemikiran yang dapat membangun perkembangan kinerja dinas tersebut.
BAB IV
HASIL PENELITIAN
A. Hasil Penelitian
Dalam penelitian ini memerlukan data yang dapat diperoleh melalui dokumen, wawancara mendalam dan observasi. Pada tahap awal peneliti memperoleh data melalui dokumen atau database yang ada pada Dinas Perumahan dan Permukiman Kota Medan. Selain data langsung dari Dinas Perumahan dan Permukiman, data juga dapat diperoleh melalui akses internet yang kemudian akan di interpretasikan. Untuk menambah wacana dalam skripsi ini maka diperlukan data berupa wawancana kepada orang-orang yang memiliki hubungan dengan permasalahan penelitian. Wawancara yang dilakukan adalah wawancara secara mendalam kepada orang yang tertentu.
1. Strategi yang Dilakukan Dinas Perumahan Dan Permukiman Kota Medan Untuk Mengatasi Masalah Permukiman Kumuh di Kota Medan
Permasalahan pembangunan perumahan dan permukiman baik pada tingkat nasional maupun daerah adalah kurangnya akses yang sama bagi masyarakat miskin atau masyarakat berpenghasilan rendah untuk memiliki kesempatan yang sama untuk mendapatkan rumah yang layak. Kemampuan pemerintah yang terbatas dan berbagai faktor yang mempengaruhi kepemilikan rumah oleh seluruh masyarakat hanya menempatkan masyarakat dengan golongan ekonomi mampu yang hanya sanggup untuk memiliki rumah yang layak bagi
tempat tinggalnya. Sesuai dengan amanat undang-undang serta kebijakan strategi nasional perumahan permukiman mensyaratkan untuk memberikan akses yang luas bagi masyarakat miskin untuk mendapatkan rumah yang layak.
Dari hasil wawancara dengan beberapa informan pada Dinas Perumahan dan Permukiman Kota Medan, yang dibagi ke beberapa kelompok diantaranya yaitu kepala seksi pembinaan pengembangan kawasan, hingga sekertaris. Berdasarkan hasil wawancara dengan informan yaitu Sekretaris Dinas Perumahan dan Permukiman Kota Medan Bapak Drs. Riza Zulfi, MSP (dalam wawancara pada tanggal 3 Mei 2016) ketika ditanya adakah peraturan dan kebijakan yang mengatur tentang permukiman kumuh berpendapat bahwa:
“Tentu saja ada peraturan dan kebijakan yang mengatur tentang permukiman kumuh, yaitu UU No. 1 Tahun 2011. Dalam UU No. 1 Tahun 2011 pasal 1 ayat 1 jelas dikatakan bahwa perumahan dan kawasan permukiman adalah satu kesatuan sistem yang terdiri atas pembinaan, penyelenggaraan perumahan, penyelenggaraan kawasan permukiman, pemeliharaan dan perbaikan, pencegahan dan peningkatan kualitas terhadap perumahan kumuh dan permukiman kumuh penyediaan tanah, pendanaan dan sistem pembiayaan, serta peran masyarakat”.
Hal itu juga dibenarkan oleh Kepala Seksi Pembinaan Pengembangan Kawasan Bapak Mukhyar ST (dalam wawancara pada tanggal 4 Mei 2016 berpendapat bahwa :
“Ada 2 peraturan dan kebijakan yang mengatur tentang permukiman kumuh yaitu UU No. 1 tahun 2011 dan Keputusan Walikota Medan Nomor 640/039.K/I/2015.
Dalam UU No. 1 Tahun 2011 pasal 1 ayat 13 dikatakan bahwa permukiman kumuh adalah permukiman yang tidak layak huni karena ketidakteraturan bangunan, tingkat kepadatan bangunan yang tinggi, dan kualitas bangunan serta sarana dan prasarana yang tidak memenuhi syarat”.
Dari penjelasan tersebut tentu ada faktor – faktor yang menyebabkan munculnya permukiman kumuh di Kota Medan, dan dari hasil wawancara dengan Kepala Seksi Pembinaan Pengembangan Kawasan Bapak Mukhyar ST (dalam wawancara pada tanggal 4 Mei 2016) berpendapat bahwa :
“Ada beberapa faktor yang menjadi penyebab terjadinya permukiman kumuh di Kota medan yaitu faktor ekonomi, ketidakmampuan masyarakat memperbaiki rumah tinggal mereka, tingginya permintaan/kebutuhan tempat tinggal sedangkan luas lahan yang semakin terbatas, dan yang terakhir kepadatan penduduk”.
Informasi rata – rata status lahan/kependudukan masyarakat di Kota Medan akan dijelaskan oleh Kepala Seksi Pembinaan Pengembangan Kawasan Bapak Mukhyar ST (dalam wawancara pada tanggal 4 Mei 2016) menjelaskan bahwa:
“Untuk status lahan sebagian besar adalah legal walaupun begitu Dinas Perumahan dan Permukiman Kota Medan belum secara spesifik memperoleh data yang akurat”.
Untuk informasi strategi untuk mengatasi persoalan pemukiman kumuh di Kota Medan yang dijelaskan oleh Kepala Seksi Pembinaan Pengembangan Kawasan Bapak Mukhyar ST (dalam wawancara pada tanggal 4 Mei 2016) berpendapat bahwa :
“Ada dua strategi yang dilakukan oleh Dinas Perumahan dan Permukiman Kota Medan untuk mengatasi permukiman kumuh di Kota Medan, yaitu dengan cara melakukan perbaikan rumah atau peningkatan kualitas rumah masyarakat berpenghasilan rendah dan pemberian Bantuan Stimulan Perumahan Swadaya (BSPS) oleh pusat dan pembangunan Rumah Susun Sewa (RUSUNAWA) yang bekerjasama dengan pusat, kedua cara inilah yang paling efektif untuk dilakukan. Perbaikan rumah MBR didasari oleh Undang – Undang No 1 Tahun 2011 tentang Perumahan dan Kawasan Permukiman dan Surat Perintah Menteri Perumahan yang menargetkan di tahun 2025 jumlah rumah tidak layak huni berkurang menjadi 0%, meski demikian tanpa ada kerja sama berbagai pihak hal tersebut sulit tercapai. Selain itu Perencanaan Pembangunan perumahan MBR ini juga didasari oleh Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) kota Medan dan Strategi Pengembangan Permukiman dan Infrastruktur Perkotaan (SPPIP).Saat ini perkembangan pembangunan rumah di kota Medan tumbuh sebesar 5,32% per tahun. Apabila pertumbuhan pembangunan rumah ini dapat terus bisa dipertahankan maka diperkirakan tahun 2020 jumlah rumah layak huni untuk penduduk Kota Medan dapat terpenuhi. Namun hal ini hanya dapat terjadi melalui kontribusi dan kerjasama dari masyarakat, pihak developer dan pemerintah. Saat ini perencanaan pembangunan perumahan MBR di Kota Medan yang dikenal dengan RP4D (Rencana Pembangunan dan Pengembangan Perumahan dan Permukiman di Daerah) masih berlandaskan pada UU No 4 Tahun 1992”.
Menurut Peraturan Menteri No. 6 Tahun 2013 tentang Pedoman Pelaksanaan Bantuan Stimulan Perumahan Swadaya (BSPS), syarat penerima
bantuan rumah susun sewa dan bedah rumah untuk masyarakat berpenghasilan rendah adalah:
a. Warga negara Indonesia
b. Masyarakat berpenghasilan rendah dengan penghasilan dibawah upah minimum provinsi rata – rata nasional atau masyarakat miskin sesuai dengan data dari Kementrian Sosial
c. Sudah berkeluarga
d. Memiliki atau menguasai tanah
e. Belum memiliki rumah, atau memiliki dan menghuni rumah yang tidak layak hun i
f. Belum pernah mendapat bantuan perumahan dari Pemerintah atau Pemerintah Daerah, termasuk yang terken bencana alam, kebakaran atau kerusuhan sosial
g. Didahulukan yang telah memiliki rencana membangun atau meningkatkan kualitas rumah yang dibuktikan dengan:
1. Memiliki tabungan bahan bangunan
2. Telah mulai membangun rumah sebelum mendapatkan bantuan stimulan
3. Memiliki aset lain yang dapat dijadikan dana tambahan BSPS 4. Memiliki tabungan uang yang dapat dijadikan dana tambahan BSPS h. Bersungguh – sungguh mengikuti program bantuan stimulan perumahan
swadaya
Adapun kriteria obyek bantuan menurut Peraturan Menteri No. 6 Tahun 2013 tentang Pedoman Pelaksanaan Bantuan Stimulan Perumahan Swadaya (BSPS), yaitu:
1. Rumah tidak layak huni yang berada di atas tanah:
a. Dikuasai secara fisik dan jelas batas – batasnya, seperti: a.1. Bahan lantai berupa tanah atau kayu
a.2. Bahan dinding berupa bilik bambu, kayu, rotan, kurang ventilasi atau pencahayaan
a.3. Bahan atap berupa daun atau genteng yang sudah rapuh b. Bukan merupakan tanah warisan yang belum dibagi
c. Tidak dalam status sengketa
d. Penggunaannya sesuai dengan rencana tata ruang
2. Bangunan yang belum selesai dari yang sudah diupayakan oleh masyarakat sampai paling tinggi struktur tengah dan luas lantai bangunan paling tinggi 45 m²
3. Terkena kegiatan konsolidasi tanah atau relokasi dalam rangka peningkatan kualitas perumahan dan kawasan permukiman kumuh
4. Terkena bencana alam, kerusuhan sosial atau kebakaran
Mengenai biaya sewa untuk 1 unit Rumah Susun Sewa (RUSUNAWA) dijelaskan oleh Kepala Seksi Pembinaan Pengembangan Kawasan Bapak Mukhyar ST (dalam wawancara pada tanggal 4 Mei 2016), menjelaskan bahwa : “Harga sewa untuk setiap unit di Rumah Susun Sewa memiliki harga yang berbeda setiap lantainya, lantai pertama kedua dan ketiga adalah lantai yang paling mahal harga sewanya sekitar Rp 240.000 sedangkan lantai – lantai
berikutnya mempunyai harga sewa sekitar Rp 170.000. Harga rumah susun sewa ini cukup murah agar para masyarakat yang berpenghasilan rendah dapat memiliki tempat tinggal yang layak huni, dan pihak pemko juga mengharapkan masyarakat yang menempati rumah susun sewa saat ini tidak selamanya tinggal di sana maksimal hanya lima tahun saja. Hal tersebut dimaksudkan agar para masyarakat dapat menyisihkan sebagian penghasilan mereka untuk dapat memiliki hunian permanen tanpa harus disubsudi oleh pemerintah. Namun pada kenyataannya banyak masyarakat yang tetap memilih tinggal di rumah susun tersebut”.
Secara garis besar peran yang dijalankan oleh Dinas Perumahan dan Permukiman sebagai pihak yang berwenang melaksanakan pembangunan perumahan dan permukiman untuk mengatasi permukiman kumuh di Kota Medan mampu berjalan dengan baik walaupun masih terdapat banyak kekurangan. Hal ini dapat dilihat dari pelaksanaan perbaikan rumah yang telah dijalankan oleh Dinas Perumahan dan Permukiman di beberapa daerah kumuh di Kota Medan. Menurut Sekretaris Dinas Perumahan dan Permukiman Kota Medan Bapak Drs. Riza Zulfi, MSP (dalam wawancara pada tanggal 3 Mei 2016) ketika ditanya apakah masalah permukiman kumuh di Kota Medan ini dapat diatasi sepenuhnya dan bagaimana seharusnya mengatasi permukiman kumuh yang tepat khususnya di Kota Medan, mengatakan bahwa :
“Masalah permukiman kumuh sesuai amanat harus 0% ditahun 2019, meski
demikian tanpa ada kerjasama berbagai pihak hal tersebut akan sulit untuk diwujudkan”.
2. Kendala Dalam Mengatasi Masalah Permukiman Kumuh di Kota Medan.
Menurut Sekretaris Dinas Perumahan dan Permukiman Kota Medan Bapak Drs. Riza Zulfi, MSP (dalam wawancara pada tanggal 3 Mei 2016), ketika ditanya kendala apa saja yang di alami Dinas Perumahan dan Permukiman Kota Medan dalam mengatasi permukiman kumuh di Kota Medan, mengatakan bahwa : “Ada beberapa kendala di dalam mengatasi masalah permukiman kumuh di Kota Medan diantaranya adalah:
1. Terbatasnya lahan yang tersedia untuk lokasi pembangunan perumahan dan
pemukiman, terbatasnya lahan menyebabkan lahan yang tinggal sedikit menjadi mahal, dan menyebabkan pembangunan ilegal.
2. Rendahnya kondisi sosial ekonomi sebagian masyarakat, dengan padatnya
jumlah penduduk mempekecil peluang kerja dan menimbulkan pengangguran atau pekerja yang tidak menghasilkan secara maksimal.
3. Terbatasnya kemampuan pemerintah dalam menyediakan perumahan dan
pemukiman.
Pada dasarnya saat ini di Kota Medan, lahan yang diperuntukkan bagi pembangunan perumahan MBR adalah di pinggiran kota. Hal ini disebabkan ketidaktersediaan lahan di daerah pusat kota dan kalaupun ada harga lahan yang mahal menjadi pertimbangan. Kondisi ini menimbulkan kendala lain yakni kurangnya infrastuktur dan masalah transportasi. Bagi sebagian masyarakat berpenghasilan rendah yang bekerja di pusat kota, letak perumahan di pinggiran kota terkesan kurang tepat sasaran. Selain jarak yang jauh dan kurangnya sarana transportasi yang menopang, infrastruktur yang tersedia pun kurang memadai
dibandingkan dengan pusat kota yang notabene merupakan pusat pembangunan. Hal itu membuat pemerintah harus mengeluarkan biaya tambahan untuk membangun infrastruktur dan sarana transportasi dalam mendukung pembangunan perumahan MBR di kota Medan. Kemudian kendala yang selanjutnya adalah anggaran pembiayaan. Saat ini biaya yang digunakan untuk pembangunan perumahan MBR berasal dari APBD Kota Medan yang jumlahnya terbatas. Namun dikarenakan posisi pembangunan perumahan yang terletak di pinggiran kota sehingga dibutuhkan biaya tambahan untuk membangun fasilitas