BAB IV HASIL PENELITIAN
C. Visi dan Misi Dinas Sosial Tenaga Kerja dan Transmigrasi
1. Visi
Terwujudnya penaganan PMKS dan angkatan kerja untuk mencapai pertumbuhan ekonomi terkemuka dibagian selatan sulawesi selatan tahun 2018
2. Misi
a. Meningkatkan dan memperkuat peran dinas sebagai pusat pengelola pelayanan terpadu dan gerakan masyarakat peduli kabupaten/kota sejahtera (pandu gempita) b. Meningkatkan perlindugan dan jaminan sosial bagi PMKS serta meningkatkan
profesionalisme pelayanan sosial dalam rangka pemberdayaan, rehabilitasi dan penanggulangan PMKS
2
60
c. Meningkatkan serapan tenaga kerja sektor industri terhadap angkatan kerja dengan mewujudkan hubungan industrial yang selaras dan seimbang serta meningkatkan kualitas SDM pencari kerja.
D.Tujuan Dinas Sosial Tenaga Kerja dan Transmigrasi
1. Meningkatkan kualitas pelayanan umum kesejahteraan sosial, ketenagakerjaan dan ketransmigrasian dengan dengan cepat, mudah, murah dan terjangkau. 2. Mengoptimalkan posisi kantor dinas dengan sebagai pusat pengelolaan Pandu
Gempita.
3. Meningkatkan kualitas data kemiskinan dan PMKS serta pengelolaan bursa tenaga kerja yang berbasis teknologi informasi.
4. Mengefektifkan pemanfaatan sarana dan prasarana yang ada dan memperkuat kemitraan dan jejaring kerjasama dengan para pemangku kepentingan dalam penanganan kesejahteraan sosial dan ketenagakerjaan.
E.StrategiDinas Sosial Tenaga Kerja dan Transmigrasi
1. Memanfaatkan secara efektif sumber daya manusia yang ada dalam mengelola program Pandu Gempita.
2. Mengoptimalkan posisi kantor sebagai pusat pelayanan umum peningkatan kesejahteraan sosial, ketenagakerjaan dan transmigrasi.
61
3. Meningkatkan akurasi data PMKS dan ketenagakerjaan dengan memanfaatkan aplikasi teknologi informasi
4. Mengusahakan tersedianya tenaga fungsional kesejahteraan sosial dan ketenagakerjaan dengan meningkatkan kompetensi SDM Aparatur yang ada. 5. Mengefektifkan pengelolaan bursa kerja online dengan menyediakan sarana dan
prasarana yang diperlukan.
6. Meningkatkan kompetensi dan keterampilan penyandang masalah kesejahteraan sosial (PMKS) dan angkatan kerja dengan memanfaatkan Balai Latihan Kerja (BLK) yang ada.
F.KebijakanDinas Sosial Tenaga Kerja dan Transmigrasi
1. Menyukseskan program percontohan Pandu Gempita.
2. Memberdayakan dan memperkuat peran Dinas sebagai pusat pelayanan Pandu Gempita.
3. Mengadakan validasi data dan penyusunan data base kemiskinan dan penyandang masalah kesejahteraan sosial (PMKS).
4. Meningkatkan kapasitas dan kompetensi aparatur yang ada untuk menjadi tenaga fungsional kesejahteraan sosial dan ketenagakerjaan.
5. Meningkatkan pengelolaan bursa kerja online yang berstandar ISO.
6. Mengefektifkan pemanfaatan sarana dan prasarana yang dimilki dengan mengadaakan kunjungan lapangan secara berkala.
62
7. Memberdayakan tenaga kesejahteraan sosial sebagai ujung tombak pelayanan dan sumber informasi di lapangan.
8. Membangun jejaring kerjasama dengan para pemangku kepentingan (dunia usaha, masyarakat, Ormas, LSM, dan perorangan) dalam memupuk bantuan dan pembiayaan penanganan kesejahteraan sosial dan ketenagakerjaan.
G. Sarana dan Prasarana Kantor Untuk Mendukung Pelaksanaan Tugas dan
Fungsi Serta Kegiatan Operasional Dinas Sosial Tenaga Kerja dan Transmigrasi
1. Gedung kantor : 2 unit 2. Rumah dinas : 1 unit 3. Kendaraan roda 4 (empat) : 3 buah 4. Kendaraan roda 2 (dua) : 2 buah 5. Mesin ketik : 2 buah 6. Personal Computer ( PC ) : 5 unit
7. Laptop : 3 unit
8. Meja kerja : 21 buah 9. Kursi kerja : 20 buah 10. Meja rapat : 6 buah 11. Kursi Rapat Besi : 60 buah 12. Kursi Rapat Pelastik : 80 buah
63
13. TV : 2 buah
14. Filling Cabinet : 3 buah 15. Lemari Dokumen : 12 buah 16. Lemari Arsip : 2 buah
17. Brangkas : 1 buah
18. Printer Laser Jet : 3 buah 19. Mesin Foto Copi : 1 buah 20. Perangkat Aplikasi E KTP : 1 Unit
H. Implementasi Hasil Kerja Dinas Sosial Terhadap Kebutuhan Ekonomi dan
Sosial Masyarakat di Pedesaan Kabupaten Bantaeng
Dalam rangka implementasi hasil kerja Dinas Sosial terhadap kebutuhan ekonomi dan sosial masyarakat pedesaan di Kabupaten Bantaeng, Dinas Sosial Kabupaten Bantaeng memiliki beberapa program kerja, diantaranya adalah sebagai berikut:
1. Program pemberdayaan fakir miskin, Komunitas Adat Terpencil (KAT) dan penyandang masalah kesejahteraan sosial (PMKS) lainnya.
a. Peningkatan kemampuan (capacity building) petugas dan pendamping sosial pemberdayaan fakir miskin, KAT dan PMKS lainnya.
b. Pelatihan keterampilan berusaha bagi keluarga miskin. c. Fasilitas manajemen usaha bagi keluarga miskin.
64
d. Pengadaan sarana dan prasarana pendukung usaha keluarga miskin. e. Pelatihan keterampilan bagi penyandang masalah kesejahteraan sosial
2. Program pelayanan dan rehabilitasi kesejahteraan sosial
a. Pengembangan kebijakan tentang akses sarana dan prasarana publik bagi penyandang cacat dan lanjut usia.
b. Pelayanan dan perlindungan sosial, hukum bagi korban eksploitasi perdagangan perempuan dan anak.
c. Pelaksanaan KIE, konseling dan kampanye sosial bagi penyandang masalah kesejahteraan sosial (PMKS).
d. Pelatihan ketrampilan dan praktek belajar kerja bagi anak terlantar, termasuk anak jalanan, anak cacat dan anak nakal.
e. Pelayanan psikososial bagi PMKS di trauma center termasuk bagi korban bencana. f. Pembentukan pusat informasi penyandang cacat dan trauma center.
g. Peningkatan kualitas pelayanan, sarana dan prasarana rehabilitasi kesejahteraan sosial bagi PMKS.
h. Penyusunan kebijakan pelayanan dan rehabilitasi sosial bagi penyandang masalah kesejahteraan sosial
i. Koordinasi perumusan kebijakan dan sikronisasi pelaksanaan upaya-upaya penanggulangan kemiskinan dan penurunan kesenjangan.
j. Penangan masalah-masalah strategis yang menyangkut tanggap cepat darurat dan kejadian luar biasa.
65
Berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan penulis, beberapa program diantaranya sudah memiliki hasil kerja, yaitu program pemberdayaan fakir miskin, Komunitas Adat Terpencil (KAT) dan penyandang masalah kesejahteraan sosial (PMKS) lainnya, dalam bentuk peningkatan kemampuan (capacity building) petugas dan pendamping sosial pemberdayaan fakir miskin, KAT dan PMKS lainnya., pelatihan keterampilan berusaha bagi keluarga miskin, fasilitas manajemen usaha bagi keluarga miskin, serta pengadaan sarana dan prasarana pendukung usaha keluarga miskin.
Adapun program implementasi hasil kerja dinas sosial dalam bentuk bantuan ekonomi berupa:
1) Mendirikan usaha-usaha kecil.
2) Mendirikan usaha warung barang campuran.
3) Mempekerjakan fakir miskin dalam usaha cathering yang didirikan oleh Kelompok Usaha Bersama (KUBE).
Hal ini sebagaimana yang dikatakan oleh salah satu pendamping kelompok usaha bersama (KUBE) bahwa:
“Dinas Sosial Bantaeng telah melaksanakan program terkait dengan
pemenuhan kebutuhan ekonomi dengan cara mendirikan usaha-usaha kecil bagi PMKS, mendirikan usaha warung barang campuran bagi PMKS, dan mempekerjakan fakir miskin dalam usaha cathering yang didirikan oleh
Kelompok Usaha Bersama (KUBE)”3
3
66
Adapun program kerja Dinas Sosial Bantaeng dalam memenuhi kebutuhan sosial adalah memberikan bantuan sosial bagi penyandang masalah kesejahteraan sosial (PMKS) untuk peningkatan taraf hidup layak dan bantuan sosial berupa rehabilitasi rumah tidak layak huni.
Rumah adalah salah satu aspek dari kesejahteraan masyarakat yang harus di penuhi, karena rumah merupakan kebutuhan hidup manusia yang utama selain sandang dan pangan dimana tempat manusia dapat berlindung, mempertahankan dan juga meningkatkan kualitas hidupnya. Bantuan rehabilitasi rumah tidak layak huni tidak hanya ditujukan bagi penyandang masalah kesejahteraan sosial, namun juga untuk masyarakat yang terkena korban bencana terkait dengan tempat tinggalnya, seperti korban bencana kebakaran, korban bencana tanah longsor, dan lain sebagainya. Bantuan sosial ini telah di implementasikan ke dalam 10 desa, sebanyak 300 rumah. Hal ini sebagaimana yang telah diutarakan oleh kepala bagian bantuan sosial bahwa:
“bantuan sosial kepada penyandang masalah kesejahteraan sosial itu salah satunya telah diadakan bantuan rehabilitasi rumah tidak layak huni. bantuan rumah tidak layak huni ini sudah dilakukan di 10 desa di Bantaeng sebanyak 300 rumah.”4
Dari pernyataan diatas, 300 bantuan rehabilitasi rumah tidak layak huni yang tersebar ke 10 Desa tersebut diantaranya adalah sebagai berikut:
4
67
1) Desa Lojong, Kecamatan Ulu Ere 2) Desa Bontomaccini, Kecamatan Sinoa
3) Bonto Mate’ne, Kecamatan Sinoa
4) Desa Bonto Jai, Kecamatan Bisappu 5) Desa Bontolonrong, Kecamatan Bantaeng
6) Desa Baruga, Kecamatan Pa’jukukang
7) Desa Borongloe, Kecamatan Pa’jukukang 8) Desa Kaloling, Kecamatan Gantarangkeke
9) Desa Labbo’, Kecamatan Tompo Bulu
10) Desa Mappilawing, Kecamatan Eremerasa. Tabel 02
Bantuan Sosial Rehabilitasi Rumah tidak layak huni (RTLH) di 10 Desa di Kabupaten Bantaeng
No Desa Kecamatan Bantuan (RTLH)
1 Lojong Ulu Ere 30
2 Bontomaccini
Sinoa 30
3 Mate’ne 30
4 Bonto Jai Bisappu 30
5 Bontolonrong Bantaeng 30
6 Baruga
Pa’jukukang 30
7 Borongloe 30
8 Kaloling Gantarangkeke 30
9 Babbo Tompo Bulu 30
10 Mappilawing Eremerasa 30
jumlah 10 8 300
68
Berdasarkan tabel diatas dapat diketahui bahwa implementasi 300 bantuan sosial rehabilitasi tidak layak huni (RTLH) tersebar di 10 Desa, 8 Kecamatan di Kabupaten Bantaeng.
Dari semua hasil kerja tersebut telah dilakukan implementasi program hasil kerja selama 2 tahun terakhir. implementasi program hasil kerja tersebut berupa:
1) Mengidentifikasi jumlah Penyandang Masalah Kesejahteraan Sosial (PMKS) di Bantaeng.
2) Mengidentifikasi jumlah Penyandang Masalah Kesejahteraan Sosial (PMKS) yang mendapat bantuan pelayanan kebutuhan sosial dan ekonomi di Bantaeng. 3) Mengidentifikasi jumlah penyandang disabilitas di Bantaeng.
Implementasi program hasil kerja tersebut telah dirangkum dan dijadikan menjadi satu program perlindungan dan jaminan sosial, yaitu program Sipakatau. Program Sipakatau ini kemudian dijadikan program yang utama di Dinas Sosial Bantaeng, guna memproses atau menangani keluhan masyarakat terkait dengan pelayanan kebutuhan sosial dan ekonomi. Hal ini sebagaimana yang diutarakan oleh kepala Dinas Sosial Bantaeng bahwa:
“program-program yang telah dilaksanakan itu kemudian dilakukan
implementasi program hasil kerja, dalam bentuk identifikasi jumlah penyandang masalah kesejahteraan sosial, identifikasi jumlah penyandang masalah kesejahteraan sosial yang mendapat bantuan pelayanan sosial dan pelayanan kesehatan, dan identifikasi jumlah penyandang disabilitas di Bantaeng. pemanfaataan program ini kemudian disatukan dan dijadikan satu program, yaitu program Sipakatau untuk memproses keluhan masyarakat terkait
69
dengan pelayanan kebutuhan sosial dan ekonomi. program sipakatau ini sekarang dijadikan program yang utama di Dinas Sosial ini”5
I. Faktor Penghambat dan Pendukung Dalam Implementasi Hasil Kerja Dinas
Sosial Terhadap Kebutuhan ekonomi dan sosial Masyarakat Pedesaan di Kabupaten Bantaeng
Faktor penghambat dalam implementasi hasil kerja adalah segala sesuatu yang menjadi kendala dalam proses implementasi hasil kerja Dinas Sosial Bantaeng terkait dengan pemenuhan kebutuhan ekonomi dan sosial masyarakat pedesaan di Kabupaten Bantaeng. Faktor pendukung dalam implementasi hasil kerja adalah segala sesuatu yang dapat memperlancar jalannya proses hasil kerja Dinas Sosial Bantaeng terkait dengan pemenuhan kebutuhan ekonomi dan sosial masyarakat pedesaan di Kabupaten Bantaeng. Adapun faktor penghambat dan pendukung tersebut dapat dilihat sebagai berikut.
1. Faktor Penghambat
a. Paradigma perubahan pelayanan, yaitu terbaliknya paradigma masyarakat terkait pelayanan yang dulunya masyarakat mendatangi Dinas Sosial, dan sekarang Dinas Sosial yang kebanyakan turun langsung ke lapangan, awalnya disebabkan karena kurangnya kesiapan struktural Dinas Sosial untuk turun langsung ke lapangan. Hal ini sebagaimana yang maksud oleh kepala Dinas Sosial Bantaeng bahwa:
5
70
“salah satu penghambat pemanfaatan hasil kerja di Dinas Sosial ini adalah berubahnya paradigma pelayanan, yang dulunya masyarakat yang mendatangi kami, sekarang kami yang kebanyakan turun langsung ke lapangan, ini awalnya dikarenakan kurangnya kesiapan struktural kami untuk turun langsung ke lapangan”6
b. Kurangnya anggaran dalam bantuan sosial kepada Penyandang Masalah Kesejahteraan Sosial (PMKS). Anggaran yang dimaksud menyangkut semua program terkait dengan bantuan sosial kepada PMKS. Hal ini menyebabkan penyebaran bantuan sosial tidak merata atau tidak semua PMKS yang mendapat bantuan. Hal ini sebagaimana yang dikatakan oleh kepala bidang pelayanan dan rehabilitasi sosial bahwa:
“hambatan dalam implementasi hasil kerja yang paling sering terjadi di Dinas ini adalah kurangnya anggaran untuk program pelayanan bantuan sosial PMKS. hambatan ini menyebabkan penyebaran bantuan sosial kepada PMKS belum merata”7
2. Faktor Pendukung
Faktor yang menjadi pendukung dalam proses implementasi hasil kerja di Dinas Sosial Bantaeng adalah adanya berbagai bantuan dari Potensi Sumber Kesejahteraan Sosial (PSKS), yang terdiri dari:
a. Karang Taruna
b. Pekerja Sosial Makasyarakat (PSM)
6
Syahrul Bayan S.STP (37 tahun), Kepala Dinas Sosial Bantaeng, 07 Oktober 2016 7
Dr. ST. Aminah (50 tahun), Kepala Bidang Pelayanan dan Rehabilitasi Sosial, 09 Oktober 2016
71
c. Fasilitator Sistem Layanan Rujuan Terpadu (SLRT) d. Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM)
e. Tenaga Kerja Sosial Kecamatan (TKSK)
f. Sumber Daya Manusia dari struktural Dinas Sosial Bantaeng
Bantuan-bantuan dari berbagai sumber tersebut dapat berupa bantuan tenaga kerja, bantuan tambahan anggaran, bantuan sumber informasi terkait pelayanan, dan lain sebagainya. Hal ini sebagaimana yang dikatakan oleh kepala Dinas Sosial Bantaeng bahwa:
“alhamdulillah kalau soal faktor pendukung dalam implementasi hasil kerja disini mendapat banyak bantuan dari Potensi Sumber Kesejahteraan Sosial (PSKS) yang terdiri dari Karang Taruna, Pekerja Sosial Masyarakat (PSM), fasilitator Sistem Layanan Rujuan Terpadu (SLRT), Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM), Tenaga Kerja Sosial Kecamatan (TKSK), dan adapun dari Daya Manusia dari struktural Dinas Sosial ini. bantuan tersebut dapat berupa bantuan tenaga kerja, bantuan tambahan anggaran, bantuan sumber informasi terkait pelayanan, dan lain sebagainya”8
8
72
BAB V KESIMPULAN
A. Kesimpulan
Berdasarkan hasil pembahasan yang dilakukan pada bab-bab sebelumnya maka penulis dapat menarik kesimpulan sebagai berikut:
1. Implementasi hasil kerja Dinas Sosial terhadap kebutuhan ekonomi dan sosial masyarakat pedesaan di Kabupaten Bantaeng adalah mengidentifikasi jumlah Penyandang Masalah Kesejahteraan Sosial (PMKS) di Bantaeng, mengidentifikasi jumlah Penyandang Masalah Kesejahteraan Sosial (PMKS) yang mendapat bantuan pelayanan kebutuhan ekonomi dan sosial di Bantaeng, dan mengidentifikasi jumlah penyandang disabilitas di Bantaeng. Implementasi hasil kerja tersebut telah dirangkum dan dijadikan menjadi satu program perlindungan dan jaminan sosial, yaitu program Sipakatau. Program Sipakatau ini kemudian dijadikan program yang utama di Dinas Sosial Bantaeng, guna memproses atau menangani keluhan masyarakat terkait dengan pelayanan kebutuhan sosial dan ekonomi.
2. Faktor penghambat dalam implementasi hasil kerja adalah segala sesuatu yang menjadi kendala dalam proses pemanfaatan hasil kerja Dinas Sosial Bantaeng terkait dengan pemenuhan kebutuhan sosial dan ekonomi masyarakat pedesaan Kabupaten Bantaeng. Faktor penghambat tersebut adalah paradigma perubahan pelayanan dan kurangnya anggaran dalam bantuan sosial kepada Penyandang
73
Masalah Kesejahteraan Sosial (PMKS) di Bantaeng. Faktor pendukung dalam implementasi hasil kerja adalah segala sesuatu yang dapat memperlancar jalannya proses implementasi hasil kerja Dinas Sosial Bantaeng terkait dengan pemenuhan kebutuhan ekonomi dan sosial masyarakat pedesaan di Kabupaten Bantaeng. Faktor pendukung tersebut adalah adanya berbagai bantuan dari Potensi Sumber Kesejahteraan Sosial (PSKS), yang terdiri dari Karang Taruna, Pekerja Sosial Makasyarakat (PSM), Fasilitator Sistem Layanan Rujuan Terpadu (SLRT), Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM), Tenaga Kerja Sosial Kecamatan (TKSK), dan Sumber Daya Manusia dari struktural Dinas Sosial Bantaeng. Bantuan dari berbagai sumber tersebut dapat berupa bantuan tenaga kerja, bantuan tambahan anggaran, bantuan sumber informasi terkait pelayanan, dan lain sebagainya.
B. Implikasi Penelitian
Berdasarkan pada kesimpulan di atas, terdapat beberapa implikasi penelitian yaitu sebagai berikut:
1. Penulis berharap faktor penghambat implementasi hasi kerja Dinas Sosial Kabupaten Bantaeng terhadap kebutuhan ekonomi dan sosial dalam penelitian ini dapat lebih diperhatikan, sehingga proses implementasi hasil kerja tersebut dapat diterapkan secara maksimal.
74
2. Penulis juga berharap agar penelitian ini dapat memberi pemahaman terhadap pembaca khususnya tentang Implementasi Hasil Kerja Dinas Sosial terhadap kebutuhan ekonomi dan sosial masyarakat pedesaan di Kabupaten Bantaeng, dan dapat berguna sebagai referensi untuk pembaca kedepannya.
DAFTAR PUSTAKA
Al-qur`an dan Terjemahnya. Departemen Agama RI. Bandung: Sygma Examedia Arkanlemaa, 2009.
Abdul Qodir,Analisis Kelembagaan dalam Upaya Pembangunan Kesejahteraan Masyarakat, (Studi Kasus Peranan Koperasi Jasa Keuangan dalam Pelaksanaan Program Pemberdayaan Ekonomi Masyarakat Kelurahan Kebon Kosong Kemayoran Kotamadya Jakarta Pusat), “Depok”.Depok: Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Depok, 2011.
---, Analisis Kelembagaan dalam Upaya Pembangunan Kesejahteraan
Masyarakat”, Tesis (Depok: Fak. Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Program Studi Ilmu Kesejahteraan Sosial, 2011.
Arif Satria, Menuju Desa 2030, Cet, 1; Yogyakarta: Pohon Cahaya, 2011.
Hari Witono Suparlan, “Pemberdayaan Masyarakat”, Yayasan Paramulia Indonesia, Sidoarjo, hal. Xviii
Hasniati, Peningkatan Kesejahteraan Berbasis Organisasi Sosial (Studi Pandu Gempita di UPT-SPMKS “Sipakatau” Kabupaten Bantaeng). “Skripsi” Gowa:
UIN Aluddin Makassar, 2015.
Helmi Sadid Parassa, Peranan Pemerintah dalam Peningkatan Kesejahtraan Masyarakat Desa Wasuponda Kabupaten Luwu Timur. “Skripsi”. Makassar: Universitas Hasanuddin, 2012.
---, “Peran Pemerintah dalam Peningkatan Kesejahteraan Masyarakat Desa Wasuponda Kabupaten Luwu Timur” Skripsi, Makassar: Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Hasanuddin, 2012.
Irwan Soeharto, Metode Penelitian Sosial, Cet. VII; Bandung: PT. Remaja Rosdakarya, 2008.
Jayadinata, Pembangunan Desa Dalam Perencanaan, Bandung: ITB, 2006.
Kementrian Sosial RI, “Pelaksanaan Program Pemberdayaan Fakir Miskin Melalui Bantauan Langsung Pemberdayaan Sosial (BLPS)” Artikel diakses 25 Juli
2016, jam 09.00 AM. Sumber: http://www.kemsos.go.id/modules.php?name= Content&pa=showpage&pid=23&page=1
Lexy J Maleong, Metodologi Penelitian Kualitatif, Bandung Remaja Rosdakarya, 2011.
Nurul Huda, Ekonomi Makro Islam, Jakarta: Kencana Prenada Media Group, 2013. M Dawam Rahardjo, Pembangunan Ekonomi Nasional, Cet. I; Jakarta: PT Intermasa
Anggota Ikapi, 1997.
Marsuki, Metode Risearch, Yogyakarta: Fakultas Ekonomi Universitas Islam Negeri Indonesia, 1983.
Perticipatory Development Forum, Pengembangan Swadaya Nasional “tinjauan ke arah persepsi yang utuh”, Jakarta: LP3ES.
Prof. Dr.Ir. Totok Mardikanto, Ms. Pembangunan Berbasis Masyarakat, Cet. II; Bandung: Alfabet, 2015.
Perticipatory Development Forum, “Pengembangan Swadaya Nasional: Tinjauan Kearah Persepsi Yang Utuh” Jakarta: LP3ES, hal. 98
Redaksi Sinar Grafika, Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional, Jakarta: Sinar Grafika, 2009.
Revrisond Baswir dkk, Pembangunan Tanpa perasaan, Jakarta: Lembaga Studi dan Advokasi Masyarakat.
Republik Indonesia, Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2009 “Tentang Kesejahteraan Sosial
Revrisond Baswir dkk, “Pembangunan Tanpa Perasaan” Lembaga Studi dan
Advokasi Masyarakat, Jakarta, hal.149
Redaksi Sinar Grafika, “Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional” Sinar
Grafika, Jakarta, 2004-2009, hal 10
Ridwan Kamil, “Wabub KSB Bersama Pemprov NTB Studi Banding Ke Bantaeng”
Artikel diakses 26 Juli 2016, jam 09.00 AM. Sumber: http://www.suarapilardemokrasi.com/2016/05/wabub-ksb-bersama-pemprov-ntb-studi.html
Sugiono, Metode Penelitian Kuantitatif Kualitatif, Bandung: Alfabeta, 2009. ---, Metodologi Penelitian Administrasi, Jakarta: Alfabeta, 2006.
Syakhruddin Tagana, “Pembangunan Sosial dan Kesejahteraan Sosial”. Artikel
diakses 25 Juli 2016, jam 07.00 AM. Sumber: http://syakhruddin.com /2013/03/30/pembangunan-sosial-dan-kesejahteraan-sosial/
Tietiep Rohendi Rohidi, Analisis Data Kualitatif, Jakarta: UI Pres, 1992.
Tjahya Supriatna, “Strategi Pembangunan dan Kemiskinan” Rineka Cipta, Jakarta,
hal.5
Wisnu Andrianto, dkk., “Peran Tenaga Kesejahteraan Sosial Kecamatan dalam
Penanggulangan Masalah Kesejahteraan Sosial’, Jurnal Administrasi Publik (JAP) 2, no. 2, 2011.
UIN Alauddin Makassar, Pedoman Penulisan Karya Tulis Ilmiah (Makalah, Disertasi, danLaporanPenelitian). Edisi Revisi. Makassar: Aluddin Press, 2013.
PEDOMAN WAWANCARA
A. Bagaimana cara implementasi hasil kerja Dinas Sosial terhadap kebutuhan ekonomi dan sosial masyarakat pedesaan di Kabupaten Bantaeng?
1. Apa sajakah program kerja Dinas Sosial dalam pemenuhan kebutuhan ekonomi dan sosial masyarakat pedesaan di Kabupaten Bantaeng?
2. Bagaimana implementasi program kerja tersebut?
B. Apa faktor penghambat dan pendukung dalam pemanfaatan hasil kerja Dinas Sosial dalam pemenuhan kebutuhan sosial dan ekonomi masyarakat pedesaan Kabupaten Bantaeng?
1. Apa faktor penghambat yang dihadapi dalam implementasi hasil kerja Dinas Sosial dalam pemenuhan kebutuhan sosial dan ekonomi masyarakat pedesaan Kabupaten Bantaeng?
2. Bagaimana strategi Dinas Sosial Kabupaten Bantaeng dalam menghadapi faktor penghambat tersebut?
3. Apa faktor pendukung dalam implementasi hasil kerja Dinas Sosial terhadap kebutuhan ekonomi dan sosial masyarakat pedesaan di Kabupaten Bantaeng? 4. Bagaimana langkah Dinas Sosial Kabupaten Bantaeng dalam implementasi
DOKUMENTASI BERSAMA SEKERTARIS DINAS SOSIAL DAN KEPALA BAGIAN REHABILITASI DAN PELAYANAN SOSIAL
DOKUMENTASI HASIL KERJA DINAS SOSIAL BANTAENG BERUPA USAHA WARUNG BARANG CAMPURAN DAN USAHA WARUNG SOP UBI
RIWAYAT HIDUP PENULIS
Muh. Reza Nofrianto yang akrab dipanggil dengan sapaan Reza, lahir di Bantaeng, pada tanggal 22 November 1994. Penulis merupakan anak ke dua dari dua bersaudara, pasangan dari Muh. Rusli Rasyid dan Hj. Saidah Nur.
Tahapan pendidikan yang telah ditempuh oleh penulis dimulai dari pendidikan Sekolah Dasar Negeri (SDN) 05 Bantaeng dan selesai pada tahun 2006,
penulis melanjutkan Sekolah Menengah Pertama di SMPN 02 Bantaeng dan selesai pada tahun 2009 dan Sekolah Menengah Atas di SMA Negeri 02 Bantaeng. Penulis melanjutkan studi di perguruan tinggi di Universitas Islam Negeri Alauddin Makassar pada jurusan PMI/Konsentrasi Kesejahteraan Sosial Fakultas Dakwah dan Komunikasi dan selesai pada tahun 2016.
Selama menjalani perkuliahan penulis pernah dikader dan mengikuti beberapa organisasi diantaranya Taruna Siaga Bencana (TAGANA) dan pernah menjadi salah satu anggota di Himpunan Mahasiswa Jurusan (HMJ). Untuk memperoleh gelar Sarjana Sosial penulis menyelesaikan Skripsi dengan judul “Pemanfaatan Hasil Kerja Dinas Sosial Dalam Pemenuhan Kebutuhan Sosial dan Ekonomi Masyarakat Pedesaan Kabupaten Bantaeng”.