• Tidak ada hasil yang ditemukan

Pelatihan konseling dan terapi do’a oleh teman sebaya

BAB II PAPARAN DATA DAN TEMUAN

D. Pola Pencegahan ESKA Oleh Yayasan GAGAS

2. Pelatihan konseling dan terapi do’a oleh teman sebaya

Beberapa kegiatan-kegiatan kampanye terkait dengan pencegahan Pratik ESKA yang dilakukan oleh Yayasan Gagas seperti teater, pembuatan film dokumenter, peringatan hari anak Nasional, dan media massa. Berdasarkan pola pencegahan yang dilakukan oleh Yayasan Gagas dalam melakukan rehabilitasi serta memberantas kasus yang terjadi di Kabupaten Lombok Barat khusunya di Desa Senteluk, tentunya tidak serta merta melakukan program yang telah direncanakan sendiri. Adanya kolaborasi antara Yayasan Gagas dan LPAD dan Sanggar Anak Desa Senteluk. Yayasan sebagai koordinator ataupun pengawas dalam program yang telah direncanakan kaitannya dengan upaya pencegahan pada kasus ESKA yang terjadi di Desa Senteluk.

Dalam menjalankan mandat LPAD dan Sanggar Anak Desa Senteluk tentunya memperhatikan peraturan-peraturan yang telah

48

ditetapkan sebelumnya oleh Yayasan Gagas. Berdasarkan informasi yang diperoleh peneliti melalui kegiatan hasil wawancara dan observasi. Pola pencegahan kasus yang dilakukan oleh LPAD dan Sanggar Anak yaitu melaksanakan kegiatan Konseling Sebaya dalam hal ini melalui metode terapi dan do’a pada anak. Berbagai langkah dan upaya dilakukan oleh Yayasan Gagas dengan bekerjasama LPAD Desa Senteluk dan Sanggar Anak seperti:

a. Melakukan pemilihan konselor sebaya ada anak

Yayasan Gagas melakukan program Down to Zero dimana pogram DtZ ini merupakan program yang bertitik fokus penekanan pada kasus ESKA di sektor pariwisata dan kita ketahui bersama bahwasannya letak geografis Desa Senteluk sangat dengan wisata Senggigi. Perlu kita ketahui program DtZ ini merupakan ide yang diinisiasi oleh yayasan Plan International Indonesia. Dalam program ini Jakarta dan NTB (Lombok) merupakan wilayah yang difokuskan dalam hal Direct Intervensi. Dalam program ini YPII melakukan perlibatan beberapa wilayah guna untuk melakukan intervensi terkait dengan program yang diluncurkan. Yayasan Gagas menjadi salah satunya yang terpilih untuk melaksanakan program Down to Zero untuk daerah Lombok Nusa Tenggara Barat. Seperti yang dijelaskan pada paragraf sebelumnya Yayasan Gagas melakukan program Down to Zero sebelum itu berinisiasi membentuk Lembaga Perlindungan Anak Desa dan Sanggar Anak guna melancarkan program yang telah direncanakan dengan melakukan pendampingan pada anak yang terlibat kasus ESKA.

Informasi ini diperoleh peneliti pada saat melakukan wawancara salah satu anggota Sanggar Anak yakni Yus Ali, beliau mengatakan:

“Beliau mengatakan Sanggar Anak merupakan wadah yang kuat dari mereka yaitu untuk melakukan pengkajian tentang penyebaran kasus eksploitasi seks komersial anak pada Desa Senteluk. Adapun informasi yang diperoleh

49

terkait dengan ESKA yang teradi di Desa Senteluk yang kami peroleh dari Sanggar Anak itu sendiri. Karena pada dasarnya anak-anak lebih banyak bercerita pada teman seumuran (sebaya). Perlu diketahui pada kasus ini kami tidak serta merta melibatkan seluruh anggota Sanggar Anak, tetapi kami memilih beberapa saja menurut kaca mata kami orang itu mempunyai kemampuan serta dapat kami percaya dalam menangani kasus ini”.43

Hal senada dengan informasi yang diperoleh peneliti dari salah angggota Yayasan Gagas Abdan Syakur bagian pendampingan dan pemberdayaan anak beliau mengatakan:

“Program Down to Zero merupakan tinjauan kami untuk melakukan catatan harian anak dalam hal ini mengntrol perkembangan pada anak-anak yang berada di Sanggar. Pada bagian ini juga kami mencoba memilih anak yang memiliki rekam jejak disitulah kami melibatkan pada proses menangani kasus”.44

b. Melakukan pelatihan pada anak selaku konselor sebaya Banyak upaya dilakukan untuk menguatkan kemampuan anak selaku konselor sebaya dengan melakukan pelatihan pada LPAD dan Sanggar Anak kian hari terus dilakukan, bertujuan supaya LPAD dan Sanggar Anak memiliki kemampuan yang baik pada saat menangani kasus ESKA.

Informasi ini disampaikan oleh Samsul Hadi selaku koordinator Desa Senteluk beliau mengatakan:

“Pada dasarnya kami mempunyai detail implementasi program berguna sebagai tinjauan kami untuk bergerak yakni melaksanakan program yang telah dilakukan.

Adapun program detail implementasi program itu merupakan rencana pelatihan konselor sebaya. Kegiatan

43 Yus Ali, Anggota Sanggar Anak, Wawancara, Desa Senteluk: 24 Mei 2022.

44 Abdan Syahkur, Koordinator Program Down to Zero, Wawancara Kekalik: 3 Juni 2022.

50

ini telah kami laksanakan beberapa kali pada Sanggar Anak Desa Senteluk”.45

Informasi senada yang didapat penelitidari hasil wawancara terhadap Mahendra selaku salah koordinator program Down to Zero, beliau mengatakan:

“Berdasarkan program yang telah dijalankan kami selalu melakukan kegiatan pengontrolan pada perkembangan anak-anak di Sanggar. Kegiatan pengontrolan ini dilakukan supaya mengetahui bagaimana perkembangan anak yang menjadi konselor pada saat melakukan intervensi terhadap teman sebayanya. Kita ketahui bersama anak akan terbuka jika curhat dengan teman seumurannya”.46

Berdasarkan informasi yang didapat peneliti dari informan, maka dengan ini peneliti dapat menyimpulkan bahwasannya kegiatan konselor teman sebaya dilakukan dengan dasar dapat mengetahui mengapa anak bisa menjadi korban ESKA. Anak menjadi terbuka jika mereka curhat dengan teman seumuran.

c. Melakukan kegiatan terapi do’a oleh teman sebaya

Setelah melakukan pelatihan dan bimbingan oleh narasumber psikologi maka dengan harapan anak tersebut dapat mengimplementasikan ilmu yang mereka peroleh pada teman sebaya mereka dalam hal ini anak yang rentan dan korban ESKA. Seperti yang diungkapkan oleh Hendriansyah selaku anggota Sanggar Anak Desa Senteluk, beliau mengatakan:

“Berdasarkan pengimplementasi tentang kegiatan terapi do’a oleh teman sebaya kami memperoleh informasi

45 Samsul Hadi, Koordinator Wilayah Desa Program Down to Zero, Desa Senteluk, Wawancara Kekalik, 5 Juni 2022.

46 Mahendra, Koordinator Wilayah Program Down to Zero Lombok Barat, Wawancara Kekalik, 5 Juni 2022.

51

terkait dengan kondisi anak yakni dari masyarakat sekitar. Adapun kami juga melakukan pendekatan secara pribadi pada anak-anak rentan dan korban ESKA di Desa Senteluk. Syukur allhamdulilah dengan adanya kegiatan terapi dan do’a oleh teman sebaya sangat membantu anak-anak korban ESKA. Kami juga menerapkan ilmu ini yang dilatih oleh kakak-kakak Lembaga Perlindungan Anak Desa”.47

Hal yang senada yang diungkapkan oleh Indi Hiksalistia selaku ketua Sanggar Anak Desa Senteluk, beliau mengatakan:

“Jadi begini kakak kami selaku penamping mengajak anak-anak yang rentan serta korban ESKA untuk mengambil bagian ikut Sanggar Anak, dan di Sanggar mencoba mengajak anak-anak melakukan kegiatan-kegiatan posistif supaya mereka tidak mendekati ESKA lagi. Kami juga berusaha menjadi teman mereka dengan mendengarkan terkait curahatn mereka, dan juga kami terus mengingatkan mereka supaya terus mendekatkan diri dengan sang pencipta sekaligus memberi motivasi kepada anak-anak tersebut”.48

Berdasarkan pemaparan dari wawancara peneliti pada informan terkait dengan kegiatan terapi do’a oleh teman sebaya maka, dengan ini peneliti dapat menarik kesimpulan bahwasannya dengan adanya kegiatan tersebut anak-anak sangat terbantu dengan masalah yang mereka hadapi dan hasil dari kegiatan tersebut anak-anak sudah bisa menjadi pribadi yang lebih baik lagi.

47 Hendriansyah, Anggota Sanggar Anak, Wawancara Desa Senteluk, 17 Mei 2022.

48 Indi Hiksalistia, Ketua Sanggar Anak, Wawancara Desa Senteluk, 17 Mei 2022.

52

d. Melakukan pengwasan terkait hasil konseling sebaya

Pada bagian ini anggota LPAD dan Sanggar Anak melakukan pengawasan (monitoring) pada anak selaku konseling sebaya yang telah mereka lakukan. Konseling sebaya harus melakukan pengawasan oleh ahlinya supaya dapat mengetahui hasil dari kegiatan tersebut.

Hal ini dikatakan oleh Hendriansyah selaku salah satu anggota Sanggar Anak, beliau mengatakan:

“Berdasarkan informasi yang di dapat tentang kasus ESKA bagi anak yang rentan dan korban ini diperoleh dari mereka sendiri. Selanjutnya kami melakukan pendampingan pada anak-anak sesuai dengan keahlian kami dalam mencegah kasus ESKA itu sendiri. Tapi sebelum kami melakukan intervensi pada anak terlebih dahulu kami meminta izin pada kedua orang tuanya ataupun keluaraga dari anak. Dengan adanya pendampingan ini anak-anak mengalami perubahan”.49

Informasi senada peneliti dapatkan dari Yus Ali selaku anggota Sanggar Anak, beliau mengatakan:

“Adapun kasus anak tentang pernikahan usia dini distulah kami juga melakukan pendampingan. Informasi ini biasanya kami dapatkan dari masyarakat sekitar yang bertempat tinggal dekat dengan rumah anak. Kami juga mengetahui tentang masalah anak dari hasil konseling sebaya yang dilakukan”.50

Berdasarkan hasil wawancara yang dilakukan oleh peneliti maka dari itu peneliti dapat menarik kesimpulan bahwasannya dengan adanya pengawasan yang dilakukan terkait dengan hasil konseling sebaya, disitulah anggota Sanggar Anak melakukan berbagai kegiatan selanjutnya

49 Hendriansyah, Anggota Sanggar Anak, Wawancara Desa Senteluk, 17 Mei 2022.

50 Indi Hiksalistia, Ketua Sanggar Anak, Wawancara Desa Senteluk, 17 Mei 2022.

53

terkait dengan pendampingan pada anak-anak rentan dan korban ESKA.

e. Melakukan evaluasi terkait hasil konseling sebaya

Jika ingin mengetahui hasil dari yang kerjakan hal pertama yang harus kita lakukan dengan evaluasi, sama halnya dengan kegitan evaluasi hasil konseling sebaya.

Dengan hasil itu, akan dijadikan tinjauan untuk melakukan hal-hal yang terkait dengan pendampingan anak sebagai rentan dan korban ESKA.

Informasi diperoleh peneliti dari Aluh Raidan selaku anggota Sanggar Anak Desa Senteluk, beliau mengatakan:

“Lembaga Perlindungan Anak Desa selalu melakukan monitoring tentang kegiatan konseling yang kami lakukan. Dengan adanya kegiatan konseling ini agar anak-anak tidak menjadi lagi korban dari bahanya ESKA di desa ini. Pengontrolan yang dilakukan oleh LPAD supaya mengetahui perkembangan anak setelah mengikuti kegiatan konseling sebaya”.51

Informasi yang senada diperoleh peneliti dari hasil wawancarara pada Marwatul Patmi selaku anggota LPAD, beliau mengatakan:

“Pihak LPAD sangat terbantu dengan adanya Sanggar Anak yang menjadi pendamping pada anak-anak yang terpapar kasus ESKA di Desa Senteluk. Sanggar Anak dalam melakukan pendampingan, mereka mencoba memberikan yang terbaik pada anak. Adanya beberapa permasalahan anak dapat diselesaikan dengan melakukan kegiatan konseling sebaya oleh anak-anak sanggar. Kami juga selalu melakukan evaluasi terkait dengan hasil konseling yang telah dijanlankan dan selanjutanya juga kami akan melakukan

51 Aluh Raidan, Anggota LPAD, Wawancara Desa Senteluk, 19 Mei 2022.

54

kegiatan yang dapat mencegah terjadinya ESKA pada anak-anak”.52

Berdasarkan hasil wawancara yang dilakukan peniliti kepada informan maka dengan ini peneliti menyimpulkan tentang kegiatan evaluasi terkait dengan kegiatan bimbingan konseling sebaya. Kegiatan evaluasi dilakukan supaya mengetahui kendala dan hasil yang dicapai pada saat kegiatan berjalan dan pihak LPAD sangat terbantu dengan adanya bimbingan yang dilakukan oleh Sanggar Anak.

Anak-anak yang ikut serta dalam pendampingan sedikit mengalami perubahan.

f. Melakukan alih tangan kasus kepada konselor ahli

Kita tentu menyadari bahwasannya anak-anak yang menjadi konselor sebaya masih dalam tahap belajar oleh karena itu harus adanya pendamping dari ahli konselor maka dari itu pembekalan harus sering dilakukan oleh pendamping. Kalaupun ada kasus yang tidak bisa ditangani oleh konselor sebaya maka konselor ahli yang mengambil bagian untuk menangani kasus ESKA tersebut.

Informasi ini peneliti peroleh dari hasil wawancara pada informan fitriadi selaku anggota LPAD Desa Senteluk, beliau mengatakan:

“Berdasarkan kasus ESKA yang ditangani bisa dicegah melalui kegiatan konselor sebaya. Jika kasus tidak bisa diatasi maka kami akan menyalurkan kasus ESKA ini kepada yang lebih ahli untuk mengatasi”.53

Disini peneliti dapat menyimpulkan terkait dengan pemaparan hasil wawancara peneliiti terhadap informan bahwasannya terkait dengan penanganan kasus ESKA yang dilakukan oleh Sanggar Anak melalui kegiatan konselor sebaya. Selama kasus ditangani oleh Sanggar anak berhasil

52 Marwatul Patmi, Wakil Ketua LPAD, Wawancara Desa Senteluk, 19 Mei 2022.

53 Fitriadi, Anggota LPAD, Wawancara Berbagai Kesempatan.

55

dicegah, jika tidak bisa selanjutnya melakukan rujukan kepada ahli konselor.

g. Pencapaian penerapan konseling sebaya

Meskipun kegiatan metode terapi do’a oleh teman sebaya berjalan begitu panjang, namun harus kita sebagai masyakat maupun lembaga yang senantiasa memberikan dukungan serta bimbingan terhadap anak patut pembimbing memberikan apreasiasi pada kegiatan ini. Karenanya dengan kegiatan ini juga anak-anak rentan dan korban ESKA sedikit demi sedikit mengalami perubahan.

Penegasan hasil wawancara ini dikatakan langsung oleh Samsul Hadi selaku Koordinator program Down to Zero Desa Senteluk

“Berdasarkan hasil pemantauan kami pada anak-anak yang mengikuti bimbingan yang dilakukan oleh Sanggar Anak mengalami perubahan dan juga mulai terbuka dengan kasus yang mereka hadapi”.54

Kesimpulan yang bisa diambil oleh peneliti dari kegiatan yang dilaksanakan Sanggar Anak Desa Senteluk terkait dengan kegiatan konseling sebaya melalui do’a dan terapi untuk menangani anak-anak rentan dan korban ESKA yang terjadi di Desa Senteluk. Anak-anak sangat terbantu dengan adanya kegiatan ini, dikarenakan Anak-anak sebagai korban mulai terbuka dengan masalah yang mereka hadapi dan juga mulai berkomunikasi dengan teman-teman sebayanya.

Pada metode yang dilakukan oleh Sanggar Anak, bukan hanya mengikuti bimbingan di dalam sanggar tetapi proses pelajaran dilakukan diluar. Cara ini dilakukan supaya anak tidak merasa bosan menerima mater-materi yang diberikan oleh pembina yang berada di Sanggar Anak Desa Senteluk.

Dokumen terkait