BAB II GAMBARAN UMUM LOKASI TUGAS AKHIR
E. Visi dan Misi Badan Pengelola Pajak dan Retribusi Daerah Kota
Visi Badan Pengelola Pajak dan Retribusi Daerah Kota Medan ialah “ Terwujudnya Pendapatan Daerah Sebagai Andalan Pembiayaan Pembangunan Daerah” sedangkan Misi Badan Pengelola Pajak dan Retribusi Daerah Kota Medan, sebagai berikut :
1. Meningkatan kualitas pelayanan terhadap sumber dan pengelola pendapatan daerah.
2. Meningkatkan sarana dan prasarana dinas.
3. Inntensifikasi dan ekstensifikasi subjek dan objek pajak.
4. Meningkatkan penegakan hukum.
BAB III
Gambaran Data Laporan Tugas Akhir
A. Pengertian Pajak Hotel
Pajak hotel adalah setiap pelayanan yang disediakan oleh hotel dengan pembayaran termasuk jasa penunjang sebagai kelengkapan hotel yang sifatnya memberikan kemudahan dan kenyamanan, termasuk fasilitas olah raga dan hiburan. Termasuk dalam pengertian hotel adalah:
a. Gubug Pariwisata (cottage) b. Motel
c. Losmen (rumah penginapan) d. Wisma Pariwisata
e. Pesanggrahan (Hostel)
f. Penginapan Remaja (Youth Hostel) g. Pondok Pariwisata (Home Stay)
h. Rumah kos dengan jumlah kamar lebih dari 10 (sepuluh) B. Sejarah Perkembangan Pajak Hotel
Pada mulanya yang melandas keberadaan pajak hotel adalah berasal dari Pajak Pembangunan I. Demikian pula dasar hukum yang melandasi diberlakukannya Undang-Undang Pajak Pembangunan I adalah Undang-Undang Nomor 14 Tahun 1947 (Lembaga Negara Republik Indonesia Tahun 1947 Nomor 25) yang kemudian disesuaikan dengan perkembangan daerah.
Instruksi Presiden Nomor 3 Tahun 1983 sebagai implementasi pelaksanaan Pajak Pembangunan I memberikan keringanan pajak dan retribusi izin membangun hotel di daerah tujuan wisata. Instruksi Presiden ini bertujuan untuk mendorong pertumbuhan dan perkembangan kepariwisataan di Indonesia, khususnya untuk meningkatkan peneriman devisa
Daerah tujuan wisata yang dimaksud terdiri dari 10 Daerah Tingkat I/Provinsi, yaitu:
a. Provinsi Sumatera Utara b. Provinsi Sumatera Barat c. Provinsi DKI Jakarta d. Provinsi Jawa Barat e. Provinsi Jawa Tengah f. Provinsi Jawa Timur g. Provinsi Yogyakarta h. Provinsi Bali
i. Provinsi Sulawesi Utara j. Provinsi Sulawesi Selatan
C. Objek, Subjek, dan Wajib Pajak Hotel
Objek pajak hotel adalah pelayanan yang disediakan oleh hotel dengan pembayaran termasuk jasa penunjang sebagai kelengkapan hotel yang sifatnya memberikan kemudahan dan kenyamanan, termasuk fasilitas olah raga dan hiburan.
Yang termasuk objek pajak hotel adalah:
a. Fasilitas penginapan atau fasilitas tinggal jangka pendek atau jangka panjang termasuk tempat kos, wisma, pondok wisata, dan gedung pertemuan.
b. Jasa penunjang sebagai kelengkapan fasilitas penginapan yang sifatnya memberikan kemudahan dan kenyaman yaitu telepon, faksimili, teleks, internet, fotocopy, pelayanan cuci, seterika, taksi dan pengankutan lainnya yang diadakan atau dikelola oleh hotel. Sedangkan yang dimaksud dengan pengertian jasa persewaan ruangan untuk kegiatan acara atau pertemuan.
Adapun beberapa jenis penginapan atau tempat peristirahatan yang tidak termasuk objek Pajak Hotel sebagaimana dimaksud diatas adalah:
f. jasa tempat tinggal asrama yang diselenggarakan oleh pemerintah atau pemerintah daerah;
g. jasa sewa apartemen, kondominium, dan sejenisnya;
h. jasa tempat tinggal di pusat pendidikan atau kegiatan keagamaan;
i. jasa tempat tinggal di rumah sakit, asrama perawat, panti jompo, panti asuhan, dan panti sosial lainnya yang sejenis; dan
jasa biro perjalanan atau perjalanan wisata yang diselenggarakan oleh hotelyang dapat dimanfaatkan oleh umum.
Subjek pajak hotel adalah orang pribadi atau badan yang melakukan pembayaran kepada orang pribadi atau badan yang
mengusahakan hotel.
Wajib pajak hotel adalah orang pribadi atau badan yang mengusahakan hotel.
D. Dasar Pengenaan dan Tarif Pajak Hotel
Dasar pengenaan pajak hotel adalah jumlah pembayaran atau yang seharusnya dibayar kepada hotel. Jumlah pembayaran yang dilakukan kepada Hotel merupakan pembayaran dari orang pribadi atau badan yang memperoleh pelayanan di hotel.
Tarif pajak hotel ditetapkan sebesar 10% (sepuluh persen). Khusus untuk rumah kost yang lebih dari 10 (sepuluh) kamar yang dihuni mahasiswa dengan
harga sewa kamar diatas 1 (satu) juta rupiah per kamar per bulan dikenakan tarif pajak 10% (sepuluh persen).
Contoh penghitungan pajak hotel:
Pajak Hotel di hitung untuk setiap bon penjualan atau bill yang dikeluarkan oleh Wajib Pajak dan atas jumlah yang akan dibayar oleh pengunjung/ tamu hotel.
a. Sewa kamar 2 hari = 2 x Rp 450.000,- = Rp 800.000,00
b. Cuci Setrika 4 potong = Rp 120.000,00
c. Telepon = Rp 50.000,00
d. Restoran = Rp 350.000,00
e. Taxi = Rp 0
f. Jumlah = Rp 1.320.000,00 g. Service 10% = Rp 132.000,00
h. Jumlah sebelum pajak = Rp 1.452.000,00
i. Potongan harga / diskon 5% = Rp 72.600,00 j. Jumlah setelah potongan harga / diskon = Rp 1.379.400,00
k. Pajak hotel 10% = Rp 137.940,00
l. Jumlah yang harus dibayar = Rp 1.517.340,00 E. Mekanisme Pemungutan Pajak Hotel
Pemungutan pajak melalui proses kegiatan pemungutan yang tidak dapat diserahkan kepada pihak ketiga. Namun, dimungkinkan adanya kerja sama dengan pihak ketiga yaitu formulir perpajakan, pengiriman surat-surat kepada wajib pajak, atau penghimpun data objek dan subjek pajak.
Kegiatan yang tidak dapat dikerjasamakan dengan pihak ketiga adalah kegiatan perhitungan besarnya pajak yang terutang, pengawasan penyetoran pajak, dan penagihan pajak.
Cara pemungutan pajak hotel, yaitu:
a. Wajib pajak menerima, mengisi dan menyampaikan Surat Pemberitahuan Pajak Daerah (SPTPD) yaitu Surat yang digunakan oleh Wajib Pajak untuk melaporkan perhitungan dan pembayaran pajak yang terutang ke petugas Badan Pengelola Pajak dan Retribusi Daerah (BPPRD). SPTPD sebagaimana dimaksud diisi dengan jelas, benar dan lengkap serta ditanda tangani oleh Wajib Pajak atau kuasanya.
b. Setiap Wajib Pajak wajib membayar pajak yang terutang berdasarkan SPTPD.
c. Wajib Pajak yang memenuhi kewajiban perpajakan sendiri dibayar dengan menggunakan SPTPD, Surat Ketetapan Pajak Daerah Kurang
Bayar (SKPDKB) dan/atau Surat Ketetapan Pajak Daerah Kurang Bayar Tambahan (SKPDKBT).
d. Pajak yang terutang dibayar ke Kas Daerah melalui Bank atau tempat pembayaran lain yang ditunjuk oleh Kepala Daerah.
e. Ketentuan lebih lanjut mengenai tata cara pembayaran pajak diatur lebih lanjut dengan Peraturan Kepala Daerah.
Badan Pengelola Pajak dan Retribusi Daerah Kota Medan telah melakukan pembaharuan dalam mekanisme perpajakan dengan mengunakan jasa internet terutama dalam hal pelaporan SPTPD yang dianggap dapat memudahkan wajib pajak dalam proses pengadministrasiannya dan juga untuk meminilmalisasi kendala-kendala yang dihadapi BPPRD, dan jumlah fiskus atau pegawai pajak yang harus melayani wajib pajak akan semakin bertambah sehingga proses kegiatan dalam pelaporan ini kurang efektif. Maka dengan dikeluarkannya SPTPD Online atau SIMP4D dapat membantu wajib pajak dalam pendaftaran wajib pajak, pelaporan SPTPD Online, dan pembayaran pajak daerah.
Cara melapor SPTPD Online:
a. Sebelum menggunakan fitur-fitur SIMP4D, wajib pajak harus melakukan registrasi userterlebih dahulu, melalui website SIMP4D atau customer service SIMP4D di Kantor BPPRD Kota Medan.
b. Pemilik usaha dapat mendaftar sebagai wajib pajak secara online melalui website http://simp4d.pemkomedan.go.id
c. Wajib pajak login ke Simp4d, kemudian mengisi data penjualan / omset setiap bulan, dan lampirkan scan laporang keuangan wajib pajak.
d. Wajib pajak dapat melakukan pembayaran di seluruh kantor Bank Sumut yang dapat dilakukan melalui ATM dan Teller Bank.
BAB IV
ANALISIS DAN EVALUASI
A. Cara Pemungutan Pajak Hotel yang Dilakukan di Badan Pengelola Pajak dan Retribusi Daerah Kota Medan
Untuk meningkatkan Pendapatan Asli Daerah (PAD) di Kota Medan diperlukan usaha untuk meningkatkan penerimaan yang berasal dari pajak daerah. Pajak Hotel merupakan salah satu komponen yang memberikan sumbangan yang cukup besar bagi Kota Medan, dimana pajak hotel digunakan untuk mendukung dan membiayai penyelenggaraan pemerintahan dan pembangunan di Kota Medan.
Tarif pajak hotel pada Badan Pengelola Pajak dan Retribusi Daerah Kota Medan adalah 10% dan dalam pemungutan pajaknya menggunakan satu metode yaitu self assessment. BPPRD Kota Medan juga membuat fitur SIMP4D yang bertujuan untuk melaporkan SPTPD dengan mudah dan efektif secara online yang digunakan untuk mencetak Nota Bayar dalam melakukan pembayaran di Bank yang telah ditentukan. Pada Nota Bayar tersebut akan berisi tentang informasi wajib pajak beserta total pajak terutangnya dan denda-denda (jika terdapat denda) yang harus dibayarkan oleh wajib pajak.
B. Target dan Realisasi Penerimaan Pajak Hotel di Kota Medan
Dalam perencanaan Badan Pengelola Pajak dan Retribusi Daerah Kota Medan melakukan langkah pertama yaitu penentuan target.
Penentuan target merupakan hal yang wajib dilakukan, target yang akan dicapai setiap daerah pertahun dapat memberikan kontribusi dalam penyusunan anggaran negara.
Data jumlah wajib pajak yang terdaftar pada Badan Pengelola Pajak dan Retribusi Daerah, yaitu:
Tabel 4.1 Jumlah Wajib Pajak Hotel yang Terdaftar pada Badan Pengelola Pajak dan Retribusi Daerah Kota Medan 2015-2017
No KLASIFIKASi HOTEL Tahun2015 Tahun2016 Tahun2017
1. BINTANG 5 5 5 5
Sumber: Badan Pengelola Pajak dan Retribusi Daerah Kota Medan 2018
Tabel 4.2 Data Realisasi Penerimaan Pajak Hotel di Badan Pengelola Pajak dan Retribusi Kota Medan 2015-2017
Tahun Target ( RP ) Realisasi ( RP ) Persentase ( % ) 2015 87.980.801.593,00 82.304.995.232,53 93,55%
2016 91.980.801.593,00 95.822.427.298,65 104,18%
2017 96.980.801.593,00 109.117.368.140,12 112,51%
SumberData:BadanPengelolaPajakdanRetribusiKota Medan 2018
Berdasarkan tabel di atas, dapat dilihat bahwa pada tahun 2015 target pajak hotel yaitu sebesar Rp 87.980.801.593,00 dan yang terealisasi sebesar Rp 82.304.995.232,53 dengan persentase 93,55%
menunjukkan bahwa tahun 2015 tidak mencapai target yang telah ditetapkan. Tahun 2016 target pajak hotel sebesar Rp 91.980.801.593,00 dan yang terealisasi sebesar 95.822.427.298,65 dengan persentase 104,18% menunjukkan bahwa tahun 2016 telah mencapai target yang ditetapkan dan memperoleh surplus sebesar Rp 3.841.625.706. Tahun 2017 target pajak hotel sebesar Rp 96.980.801.593,00 dan yang terealisasi sebesar Rp 109.117.368.140,12 dengan persentase 112,51%
menunjukkan bahwa tahun 2017 juga telah mencapai target yang ditetapkan dan memperoleh surplus sebesar Rp 12.136.566.547.
Realisasi penerimaan pajak hotel di Kota Medan dari tahun 2015 sampai dengan tahun 2017 mengalami kenaikan. Hal ini menunjukkan bahwa pemungutan pajak hotel di Kota Medan yang dilakukan oleh Badan Pengelola Pajak dan Retribusi Daerah sudah sangat baik.
C. Masalah-masalah dalam Pelaksanaan Pemungutan Pajak Hotel
a. Kurangnya kesadaran wajib pajak untuk melaksanakan kewajiban perpajakannya, sehingga wajib pajak tidak mau membayar pajak walaupun surat tagihan pajak (STP) sudah beberapa kali disampaikan.
b. Kurangnya pencatatan/pembukuan yang masih belum baik atau menganut pada pola tradisional.
c. Masih banyak pengusaha hotel di Kota Medan sudah memenuhi syarat sebagai Wajib Pajak Hotel. Akan tetapi, tidak membayar pajak yang sesuai dengan penghasilan sebenarnya.
d. Kurangnya profesionalitas Sumber Daya Manusia yang dimiliki oleh Badan Pengelola Pajak dan Retribusi Daerah Kota Medan dalam melaksanakan penagihan pajak.
D. Upaya yang Dilakukan dalam Meningkatkan Penerimaan Pajak Hotel
Upaya yang dilakukan oleh Badan Pengelola Pajak dan Retribusi Daerah:
a. Oleh Badan Pengelola Pajak dan Retribusi Daerah Kota Medan melalui 7 ( tujuh ) UPT akan meningkatkan pengawasan terhadap setiap wajib pajak baru maupun wajib pajak yang sudah tidak beroperasi lagi.
b. Melakukan pemeriksaan setiap 3 ( tiga ) bulansekali yang akan dituangkan dalam SKPDBK.
c. Menerbitkan Surat Tagihan Pajak ( STP ) terhadap wajib pajak yang memiliki tunggakan pajak.
d. Membentuk tim pemantau yang bertugas untuk menghimbau wajib pajak untuk meningkatkan pembayaran pajak usahanya dan melakukan pemantauan terhadap kegiatan insidentil di seluruh wilayah Kota Medan.
e. Melakukan pendataan terhadap wajib pajak sehingga data yang disampaikan dapat lebih mendekati akuratisasi data.
f. Mengadakan peninjauan ulang apabila terjadi kesalahan dalam
pemeriksaan. Agar tidak terjadi kesalahan dalam pendataan, apabila dilakukan peninjauan kembali atau meneliti data dengan benar sehingga tidak adanya lagi kesalahan-kesalahan dalam perhitungan besar pajak yang seharusnya terutang.
g. Melakukan pengawasan secara rutin kepada wajib pajak, hal ini dilakukan guna untuk menghindari adanya penyimpangan atau adanya data yang tidak benar disampaikan oleh wajib pajak.
BAB V
KESIMPULAN DAN SARAN
A. KESIMPULAN
Dari uraian yang telah dikemukakan oleh penulis dari hasil data yang diperoleh pada Badan Pengelola Pajak dan Retribusi Daerah Kota Medan, sebagai akhir dari penulisan ini penulis menyimpulkan sebagai benikut : a. Pelaksanaan pemungutan dari tahun 2015-2017 mengalami kenaikan,
walaupun pada tahun 2015 tidak mencapai target yang ditetapkan. Hal ini menunjukkan bahwa Badan Pengelola Pajak dan Retribusi Daerah melakukan mekanisme pelaksanaan pemungutan pajak hotel berjalan dengan baik.
b. Kendala dalam pelaksanaan pemungutan pajak hotel yaitu masih kurangnya kesadaran wajib pajak terhadap pajak terutangnya.
c. Upaya yang dilakukan oleh Badan Pengelola Pajak dan Retribusi Daerah cukup baik, dengan adanya fitur SIMP4D sangat membantu wajib pajak dalam melaporkan SPTPD dengan mudah dan efektif dan ini membantu BPPRD dalam pemungutan pajak hotel serta
pengawasan fiskus terhadap waib pajak
B. SARAN
Penulis ingin memberikan saran yang mungkin bermanfaat untuk Badan Pengelola Pajak dan Retribusi Daerah:
a. Meningkatakan peran dan keaktifan dalam memungut pajak hotel serta diharapkan fiskus yang memungut pajak hotel adalah fiskus yang jujur dan bertanggung jawab terhadap tugasnya dan mensosialisasikan peraturan daerah kepada masyarakat.
b. Melakukan pendekatan kepada masyarakat agar masyarakat lebih sadar akan pentingnya membayar pajak, seperti melakukan sosialisasi.
c. Untuk mencapai hasil yang terbaik bagi mahasiswa, perlu diadakan kerja sama dan pengaturan yang baik. Misalnya, dalam menyelesaikan Tugas Akhir, mahasiswa tidak hanya berperan dalam pengambilan data saja, tetapi turut serta berperan di dalamnya, sehingga dapat diperoleh hasil yang lebih maksimal.
DAFTAR PUSTAKA
Halim,Abdul, Icuk R.Bawono serta Amin
Dara.2014.Perpajakan.Jakarta:Salemba Empat.
Herwinarni,Y.,dan Sunarto.2013.Hambatan Pemungutan Pajak Hotel dan Pajak Restoran Pada Dinas Pendapatan dan Pengelolaan Keuangan (DPPK) Dalam Meningkatan Pendapatan Asli Daerah (PAD) Kabupaten Brebes.
Jurnal dari Universitas Pancasakti Tegal. Diambil dari http://ejournal.upstegal.ac.id/index.php/per/about (23 Mei 2018)
Pemerintah Kota Medan.2011.Peraturan Daerah Kota Medan No. 4 Tahun 2011 Tentang Pajak Hotel.
Pemerintah Kota Medan.2017.Peraturan Wali Kota Medan No. 27 Tahun 2017 Tentang Rincian Tugas dan Fungsi Badan Pengelola Pajak dan Retribusi Daerah.
Rahayu,Siti Kurnia.2010.PerpajakanIndonesia.Yogyakarta:GrahaIlmu.
Republik Indonesia.1947.Undang-Undang No. 14 Tahun 1947 Tentang Pemungutan Pajak Pembangunan di Rumah Makan dan Rumah Penginapan.
Republik Indonesia.1983.Instruksi Presiden No. 3 Tahun 1983 Tentang Keringanan Pembangunan Pajak I dan Retribusi Izin Membangun Hotel di Daerah Tujuan Wisata.
Republik Indonesia.2004.Undang-Undang No. 32 Tahun 2004 Tentang Pemerintahan Daerah.
Republik Indonesia.2009.Undang-Undang No. 16 Tahun 2009 Tentang Ketentuan Umum dan Tata Cara Perpajakan.
Republik Indonesia.Undang-Undang No. 28 Tahun 2009 Tentang Pajak Daerah dan Retribusi Daerah.
Samudera, Azhari Aziz.2016.Perpajakan di Indonesia: Keuangan, Pajak dan Retribusi Daerah.Jakarta:Rajawali Pers.
Suandy, Erly.2014.Hukum Pajak.Jakarta:Salemba Empat.