III. METODE PENELITIAN
4.2 Visi dan Misi Usaha UD Je’neberang
Pengorganisasian yang dilakukan UD Je’neberang dalam melaksanakan kegiatannya adalah dimulai dengan menetapkan visi dan misi perusahaan.
Perusahaan yang bergerak dibidang pembudidayaan tanaman hias,selain mencari keuntungan dari hasil penjualan tanaman hias, perusahaan ini juga memiliki visi dan misi dalam menjalankannya perusahaannya, hal ini dituturkan oleh bapak Syamsul Dg Ngemba selaku pemilik juga pendiri UD. Je’neberang, visi dan misi sebagai berikut : VISI : Meningkatkan kembali kualitas udara agar tetap segar dan sehat sepanjang hari, MISI : Menjual Tanaman hijau terbaik kepada masyarakat agar mampu menghijaukan kembali lingkungan, Menyediakan tanaman yang berkualitas dan memberikan pelayanan yang terbaik bagi konsumen tanaman hias.
25 4.3 Struktur Organisasi
Struktur organisasi merupakan suatu rangkaian kerja yang mengatur setiap kegiatan usaha agar setiap tugas, wewenang dan tanggung jawab setiap bagian dapat terlihat jelas. Struktur organisasi juga menjelaskan hirarki dan susunan kewenangan, serta hubungan pelaporan (siapa melapor kepada siapa). Kegiatan atau akivitas yang dilakukan dalam suatu perusahaan memerlukan suatu pengorganisasian yang baik. Hal ini perlu dilakukan agar setiap orang yang terlibat dalam suatu organisasi dapat bekerja lebih terarah, terencana dan bertanggung jawab dengan pekerjaannya. Perusahaan dalam menjalankan kegiatan setiap harinya harus didukung oleh sumberdaya manusia yang sudah diorganisasikan dengan baik sesuai dengan jenis pekerjaan dan tanggung jawab yang diberikan. Untuk menjalankan segala perencanaan tersebut, haruslah disusun suatu struktur organisasi yang baik agar dapat membantu perusahaan
Strukur organisasi UD Je’neberang adalah struktur lini dan staf, dimana pada organisasi ini pelimpahan wewenang berlangsung secara vertikal dan sepenuhnya dari pimpinan tertinggi kepada unit di bawahnya. UD Je’neberang dipimpin oleh seorang pimpinan yang sekaligus memimpin perusahaan. Dalam menjalankan tugasnya direktur dibantu oleh bendahara, pemeliharaan dan pemasaran.
Pengambilan keputusan tersebut merupakan keputusan penting yang diambil berdasarkan anlisis yang sangat mendalam (telah mempertimbangkan berbagai faktor-faktor penting). Oleh karena itu, untuk realisasi keputusan yang diambil, sangatlah perlu manajemen yang baik dan handal untuk mewujudkannya.
26 Manajemen dalam kegiatan bisnis, terkait tentang perencanaan bisnis, pengorganisasian yang akan digunakan, actuating yang akan digunakan, dan pengendalian manajemen yang dapat digunakan.
Dalam menjalankan usaha tanaman hias ini, pemilik tanaman hias memiliki 2 tenaga kerja. Masing-masing tenaga kerja memiliki tugas yang sama yaitu sebagai penjaga, perawat, dan membantu dalam proses penjualan tanaman hias. Tenaga kerja yang diambil adalah tenaga kerja laki-laki yang memilki pengetahuan mengenai tanaman khususnya tanaman hias. Adapun struktur organisasi dari usaha tanaman hias UD Je’neberang sebagai berikut :
Gambar 2 Struktur Organisasi UD Je’neberang
Suatu organisasi dan segala aktivitasnya terdapat suatu hubungan yang menjalankan aktivitas tersebut. Semakin banyak kegiatan yang dilakukan dalam suatu organisasi maka semakin kompleks hubungan yang ada. Kekuasaan tertinggi dipegang oleh pemilik perusahaan. Sebagai pemilik perusahaan Syamsul Dg Ngemba bertanggung jawab untuk merencanakan dan mengawasi
Pimpinan
Bendahara
Perawatan / Pemeliharaan Penjualan / Pemasaran
27 seluruh aktivitas yang meliputi pembelanjaan, produksi, pemasaran, administrasi agar sesuai dengan rencana dan tujuan yang dikehendaki. Sedangkan bagian bendahara dipegang oleh Saharia yang bertugas mengelola seluruh keuangan usaha. Untuk bagian perawatan tanaman hias dipegang oleh Sultan Dg Makka tugasnya mengatur serta mengawasi berjalannya budidaya hingga penjualan.
Bagian penjualan atau pemasaran dipegang oleh Syahrir Dg Ngoyong bertugas untuk survai pasar tanaman hias dan melayani pelanggan. Adapun keadaan dan jumlah tenaga kerja UD. Je’neberang di Kabupaten Gowa dapat dilihat Tabel 1.
Tabel 1 Jumlah Tenaga Kerja UD Je’neberang di Kabupaten Gowa 2015 No Nama Tenaga Kerja Umur (tahun) Pendidikan
1 Syamsul Dg Ngemba 46 SMA
2 Saharia 42 SMP
3 Sultan Dg Makka 34 SMP
4 Syahrir Dg Raja 32 SD
Sumber : Data Primer Setelah diolah, 2015.
Tabel 1 menunjukkan bahwa UD Je’neberang di Kabupaten Gowa memiliki 4 tenaga kerja, yang masing-masing mempunyai bagian dan tugas serta tanggung jawab, dimana pemiliki UD Je’neberang juga termasuk dalam tenaga kerja sebagai pimpinan.
Tenaga kerja tetap UD Je’neberang memperoleh gaji berdasarkan hasil penjualan bunga per pohon, dimana setiap pohon yang laku dan tenaga kerja memperoleh Rp 6.500 / pohon per penjualan atau tergantung dari berapa besar jumlah tanaman hias terjual, apabila jumlah tanaman hias terjual dalam sebulan banyak, maka upah tenaga kerja pun meningkat, begitu pun sebaliknya apabila
28 jumlah tanaman hias yang terjual sedikit maka upah tenaga kerja pun sedikit berkurang.
Pengelolaan tenaga kerja sering menghadapi masalah-masalah yang berhubungan dengan alokasi optimal dari berbagai sumberdaya yang produktif, terutama tenaga kerja yang mempunyai tingkat efisiensi berbeda-beda untuk pekerjaan yang berbeda pula. Oleh karena itu, UD Je’neberang menetapkan suatu ukuran pekerjaan dalam satuan jam tanpa adanya gangguan seperti kekurangan bahan atau kerusakan alat. Standar jam kerja yang berlaku dyaitu dimulai dari pukul 07.30 – 16.00 WITA dengan waktu istirahat dari pukul 12.00 – 13.00 WITA. Penetapan hari kerja yang ada pada UD Je’neberang yaitu dari hari senin hingga sabtu sedangkan hari libur yang ditetapkan yaitu hari minggu dan hari libur nasional.
29
V. HASIL DAN PEMBAHASAN
5.1 Kegiatan Produksi Usaha Tanaman Hias
Kegiatan yang dilakukan di UD Je’neberang meliputi semua kegiatan manajemen. Perusahaan melakukan kegiatan produksi dan budidaya tanaman hias daun baik untuk kebutuhan daun potong maupun tanaman hias daun dalam pot dan polibag sampai kegiatan pemasaran produk dari produsen ke konsumen.
Pengelolaan tanaman hias yang ada di UD Je’neberang disesuaikan dengan keinginan konsumen, mengikuti tren model tanaman yang berubah-ubah, serta melihat prospek pasaran yang ada. Pengelolaan di perusahaan cukup baik dan profesional terbukti dari banyaknya jumlah tanaman hias daun yang dikoleksi baik untuk daun potong maupun tanaman hias daun dalam pot, khususnya tanaman pucuk merah.
Budidaya tanaman hias meliputi kebersihan pemupukan rutin, penyiraman, dan pengendalian hama dan penyakit tanaman. Hal ini mengakibatkan alokasi tenaga kerja yang besar untuk kegiatan produksi dan pemeliharaan.. Kegiatan pemasaran yang dilakukan di UD Je’neberang adalah menjual produknya melalui pemasaran langsung atau personal selling.
Belakangan, semakin banyak masyarakat dan instansi yang memanfaatkan pucuk merah sebagai tanaman penghijau kawasan. Selain daunnya rimbun, warna kemerah-merahan yang menutupi pohon menjadikan tanaman itu enak dilihat.
Selain itu, tanaman hias juga dapat digunakan sebagai dekorasi dalam berbagai acara, baik bersifat formal maupun non formal. Usaha ini meliputi penjualan
30 tanaman hias yang dijual per pot atau per pohon, selain itu juga meliputi jasa pembuatan taman ataupun dekorasi ruangan. Anggapan itu muncul, mungkin, lantaran daun dan cabang tanaman ini cukup rapat dan batangnya juga ramping.
Seiring dengan peningkatan permintaan, dua tahun terakhir, para petani tanaman hias menjadikan pucuk merah sebagai primadona baru. (Purwanto, 2006).
Gerakan pro-lingkungan lebih hijau selalu muncul setiap tahun. Di jalan-jalan protokol, semakin banyak muncul pot-pot besar berisi tanaman yang berfungsi untuk menghijaukan kawasan. Tanaman ini juga dapat dijadikan tanaman perindang atau tanaman peneduh.
5.2 Luas Lahan Untuk Usaha Tanaman Pucuk Merah
Pembudidaya tanaman pucuk merah di Kabupaten Gowa mengatakan, banyak orang menyukai pucuk merah karena tanaman ini jika sudah besar membuat rumah terlihat indah. Ataupun jika masih berada di dalam pot, dapat digunakan sebagai pembatas pada dinding rumah. Tanaman ini juga sering dijumpai di berbagai taman di tempat-tempat wisata serta tempat-tempat umum lainnya sebagai peneduh seperti di masjid atau kantor-kantor.
Untuk usahatani tanaman hias pucuk merah biasanya tidak memerlukan lahan yang luas seperti usahatani di bidang tanaman pangan. Pada lahan yang sempit saja tanaman hias pucuk merah sudah bisa dikembangkan. Luas lahan yang dijadikan tempat untuk tanaman hias pucuk merah yaitu luasnya sebesar 10 x 15 m. Status lahan yang dimiliki pengusaha tanaman hias pucuk merah yaitu milik pemerintah. Luas lahan menentukan besar kecilnya pendapatan yang diterima pengusaha tanaman hias pucuk merah yang ada di UD Je’neberang. Dari hasil
31 penelitian ini menunjukkan bahwa lahan usahatani pada umumnya milik pemerintah. Lahan yang dijadikan tempat untuk mengusahakan tanaman hias pucuk merah tidak bayar pajak, karena milik pemerintah dan telah melakukan perjanjian sebelumnya dengan catatan apabila lahan yang dijadikan tempat untuk mengusahakan tanaman hias pucuk merah akan digunakan maka lahan tersebut akan dikosongkan.
Seiring dengan peningkatan permintaan tiga bulan terakhir para petani tanaman hias menjadikan pucuk merah sebagai primadona baru. Para pengusaha tanaman hias mengaku mereka bisa menjual 20 hingga 250 per bulan tanaman pucuk merah.
Kota besar seperti Makassar dan Sungguminasa memang menjadi sasaran penjualan tanaman ini. Salah satu pengusaha tanaman hias, mengaku menjual tanaman pucuk merah dalam dua ukuran yaitu 50 sentimeter (cm) dengan harga Rp 40.000, dan 20 centimeter (cm) seharga Rp 15.000. Dalam sehari, ia minimal menjual 5 pohon ukuran 50 cm dan 7 pohon yang 20 cm.
5.3 Biaya Produksi dan Pendapatan Usaha Tanaman Hias Pucuk Merah
Produksi yang dihasilkan pada usahatani, ditentukan oleh faktor manajemen, sarana produksi dan lingkungan pada saat itu, jika komponen sarana produksi terpenuhi, pengelolaan usaha dengan baik, dan faktor lingkugan menunjang maka produksi yang dihasilkan akan tinggi.
Pembiayaan usaha tani biasa kita kenal ada dua biaya yaitu biaya tetap dan biaya tidak tetap. Biaya tetap besarnya tidak dipengaruhi oleh besar kecilnya
32 produksi yang dihasilkan, sedangkan biaya tidak tetap (variabel) adalah biaya yang besar kecilnya dipengaruhi oleh produksi yang diperoleh.
Biaya adalah nilai dari semua korbanan atau input ekonomis yang diperlukan dan dapat diukur untuk menghasilkan suatu produk. Semakin banyak faktor produksi yang digunakan (hingga batas kebutuhan batas optimum) maka tanaman akan menghasilkan produksi yang maksimal.
Biaya biasa dipergunakan untuk mengetahui pendapatan yang diterima petani pada usahataninya. Pada analisis ini akan hitung biaya dan pendapatan usaha tani
Produksi adalah suatu proses mengubah input menjadi output sihingga nilai barang tersebut bertambah. Input dapat berupa terdiri dari barang atau jasa yang digunakan dalam proses produksi, dan output adalah barang atau jasa yang di hasilkan dari suatu proses produksi.
Total produksi tanaman hias pucuk merah selama 5 bulan terakhir sebanyak 1355 pohon pucuk merah.
5.3.1 Input Produksi
Input produksi terdiri dari, pupuk,bibit, dan tenaga kerja a. Bibit
Bibit adalah benih/biji yang telah disemai sebelumnya yang akan ditanam ke lahan/media tanam dan memenuhi persyaratan di dalam pembudidayaan tanaman. Termasuk dalam kategori bibit yaitu hasil cangkokan, sambungan, okulasi, kultur jaringan dan bibit hasil perbanyakan vegetatif lainnya. Bibit
33 yang digunakan oleh responden yaitu bibit pucuk merah . Total bibit yang digunakan selama 5 bulan terakhir yakni 1485 bibit pohon pucuk merah b. Tanah
Tanah adalah media tanaman yang digunakan untuk proses budidaya tanaman agar dapat tumbuh sesuai dengan perkembangannya.
Pada usaha tanaman hias pucuk merah menggunakan tanah yang ada dalam karung sebanyak 25 karung yang digunakan sebagai media tanam pucuk merah dengan memasukkan ke polybag
c. Pupuk
Pupuk adalah suatu bahan yang digunakan untuk mengubah sifat fisik, kimia atau biologi tanah sehingga menjadi lebih baik bagi pertumbuhan tanaman. Pupuk yang digunakan oleh responden yaitu jenis pupuk kandang.
Total penggunaan pupuk kandang selama 5 bulan terakhir pada tanaman hias pucuk merah yakni 134 kg
d. Tenaga kerja
Tenaga kerja adalah salah satu unsur penentu, terutama bagi usahatani yang tergantung pada musim. Kelangkaan tenaga kerja berakibat mundurnya penanaman sehigga berpengaruh pada pertumbuhan tanaman, produktivitas, dan kualitas produk.
Tenaga kerja yang dipakai dalam usaha tanaman hias ini adalah 4 orang, dimana kesemuanya terlibat dalam kegiatan perawatan tanaman, pemupukan, penyiraman, dan pemangkasan . Tenaga kerja ini melibatkan
34 pimpinan usaha agar dapat mengetahui langsung keadaan tanaman hias pucuk merah.
e. Polybag
Polybag adalah plastik segi empat dengan dominan berwarna hitam yang digunakan untuk menyemai tanaman dengan ukuran tertentu yang di sesuaikan dengan jenis tanaman dan tujuan dari persemaian.
Pada usaha tanaman hias pucuk merah menggunakan polybag untuk tanaman sebanyak 1485 lembar, dimana plastic polybag yang digunakan berwarna hitam.
5.3.2 Biaya produksi
Sesuai dengan pengertian produksi di atas, maka produksi pertanian dapat dikatakan sebagai suatu usaha pemeliharaan dan penumbuhan komoditi pertanian untuk memenuhi kebutuhan manusia. Pada proses produksi pertanian terkandung pengertian bahwa guna atau manfaat suatu barang dapat diperbesar melalui suatu penciptaan guna bentuk yaitu dengan menumbuhkan bibit sampai besar dan pemeliharaan.
Biaya produksi yang dikeluarkan firma dapat dibedakan dua jenis biaya, yaitu biaya eksplisit dan biaya tersembunyi. Biaya eksplisit adalah pengeluaran pengeluaran perusahaan yang berupa pembayaran dengan uang untuk mendapatkan faktor-faktor produksi dan bahan mentah yang dibutuhkan firma.
Sedangkan biaya tersembunyi adalah taksiran pengeluaran keatas faktor-faktor produksi yang dimiliki firma itu sendiri. Pengeluaran seperti antara lain adalah
35 pembayaran untuk keahlian produsen, modalnya sendiri yang digunakan dalam perusahaan, dan pembangunan perusahaan yang dimilikinya.
Dalam suatu proses produksi digunakan berbagai jenis biaya yang dapat dibedakan atas biaya variabel dan biaya tetap.
a. Biaya variabel
Biaya variabel adalah biaya yang tingkat penggunaannya berpengaruh secara langsung terhadap produksi.
Tabel 1. Penggunaan Biaya Saprodi Untuk Usaha Tanaman Hias Pucuk Merah UD Je’neberang selama 5 bulan terakhir, 2015
No Sarana produksi Nilai (Rp)
Sumber: Data Primer Setelah Diolah 2015
Penggunnan bibit tanaman hias pucuk merah oleh responden pada usaha UD Je’neberang sebanyak Rp 2.970.000. pupuk sebanyak Rp 402.000, Tanah sebanyak Rp 250.000, Tenaga kerja sebanyak Rp 8.807.500, polybag sebanyak Rp 371.250 dan tranposrtasi sebanyak Rp 2.032.500, maka total penggunaan sarana produksi sebanyak Rp 14.833.250 pada usaha tanaman hias pucuk merah pada usaha UD Je’neberang. Untuk biaya transportasi digunakan untuk mengambil bibit pucuk merah dalam bentuk polybag di wilayah Sudiang dengan harga Rp 1.500/polybag.
36 b. Biaya tetap
Biaya tetap adalah biaya yang penggunaannya tidak langsung berpengaruh terhadap produksi dalam jangka pendek.
Tabel 2. Penggunaan Biaya Tetap Usaha Tanaman Hias Pucuk Merah UD Je’neberang, selama 5 bulan terakhir tahun 2015
No Jenis Biaya Tetap Nilai (Rp)
NPA akhir selama 5 bulan 144.300
Sumber: Data Primer Setelah Diolah 2015
Penggunaan biaya tetap dalam usaha tanaman hias pucuk merah terdiri dari Cangkul, Ember, Gunting Stek, Selang air, Sabit, gunting, skop, terpal, pompa air, linggis dan parang. Jadi total biaya tetap berdasarkan nilai penyusutan akhir selama 5 bulan sebesar Rp 144.300.
5.4 Pendapatan Usaha Tanaman Hias Pucuk Merah
Besarnya pendapatan yang akan diperoleh dari suatu kegiatan usahatani tergantung dari beberapa faktor yang mempengaruhinya seperti luas lahan, tingkat produksi, identitas pengusaha, pertanaman, dan efisiensi penggunaan tenaga kerja.
Dalam melakukan kegiatan usahatani, petani berharap dapat meningkatkan pendapatannya sehingga kebutuhan hidup sehari-hari dapat terpenuhi.
37 Pendapatan adalah hasil penjualan barang dan jasa yang dibebankan kepada langganan/mereka yang menerima. Secara umum pendapatan petani pada usaha tani tanaman pangan tergolong rendah. Tingkat pendapatan yang diperoleh petani ditentukan oleh jumlah satuan fisik produksi yang dihasilkannya dan nilai produksi satuan fisik. Penerimaan yang tinggi tidaklah mutlak menunjukkan pendapatan yang tinggi, oleh karena itu pengeluaran perlu dirinci dengan baik.
Tabel 3. Produksi, Penerimaan dan Pendapatan Usaha Tanaman Hias Pucuk
Jumlah Biaya Variabel 14.833.250
b. Biaya Tetap
Penyusutan Alat Selama 5 bulan terakhir
721.500
Jumlah Biaya Tetap 721.500
Total Biaya (a + b) 15.554.750
3. Pendapatan (1-2) 20.770.250
Sumber : Data Primer, 2015
38 Tabel 3 menunjukkan bahwa penerimaan UD Je’neberang dari usaha tanaman hias pucuk merah selama 5 bulan terakhir sebesar Rp 36.325.000, dimana jumlah produksi pucuk merah untuk ukuran 50 cm sebanyak 640 pohon, dan 20 cm sebanyak 715 pohon dengan nilai jual masing-masing untuk 50 cm sebesar Rp 25.600.000 dan 20 cm sebesar Rp 10.725.000. Untuk biaya variabel yang terdiri dari bibit, pupuk, tanah, tenaga kerja, polybag dan transportasi selama kegiatan 5 bulan terakhir sebesar Rp 14.833.250, sedangkan untuk biaya tetap meliputi biaya penyusutan alat selama 5 bulan terakhir sebesar Rp 721.500.
Jadi total biaya yang digunakan oleh UD Je’neberang dalam melakukan kegiatan usaha tanaman hias pucuk merah sebesar Rp 15.554.750, sehingga pendapatan yang diperoleh dari usaha tanaman hias pucuk merah selama 5 bulan terakhir sebesar Rp 20.770.250. Semakin besar biaya yanh dikeluarkan dalam proses produksi, maka semakin kecil pula pendapatan yang akan diterima oleh UD Je’neberang, begitu pula sebaliknya apabila biaya selama proses produksi berkurang maka jumlah pendapatan yang diterima oleh pengusaha tanaman hias pucuk merah semakin besar. Jadi total penerimaan dan total biaya sangat mempengaruhi pendapatan UD. Je’neberang di Kecamatan Somba Opu Kabupaten Gowa. Rata-rata pendapatan dari usaha tanaman hias pucuk selaman 5 bulan terakhir Rp 4.154.050/ bulan.
39
VI KESIMPULAN DAN SARAN
6.1 Kesimpulan
Berdasarkan hasil penelitian dan pembahasan, maka diperoleh kesimpulan bahwa usaha tanaman hias pucuk merah selama 5 bulan terakhir memperoleh pendapatan sebesar Rp 20.770.250 dan besarnya rata-rata jumlah pendapatan perbulannya yaitu sebesar Rp 4.154.050.
6.2 Saran
1. UD Je’neberang tetap aktif mengikuti pameran-pameran tanaman hias yang berfungsi untuk memperluas dan meningkatkan pasaran tanaman hias yang dimiliki oleh UD Je’neberang, disamping itu tetap mengembangkan tanaman hias pucuk merah yang memiliki permintaan yang tinggi.
2. Kepada pemerintah khususnya Kecamatan Somba Opu agar lebih memberi perhatian kepada usaha tanaman hias yang memiliki estetika yang tinggi dan dapat mempengaruhi lingkungan hidup disekitaranya.
3. Kepada peneliti selanjutnya untuk dapat mengembangkan penelitian ini dengan berbagai jenis tanaman hias yang memiliki nilai tinggi bagi masyarakat.
40
DAFTAR PUSTAKA
Anonim. 2008 Pucuk Merah. www.barouset.com. Diakses pada tanggal 18 Maret 2015.
Anonim. 2009 Pemilihan Dan Perawatan Tanaman Hias. http:// tanamanhias.
comze.com/tips.ht ml. Diakses pada tanggal 19 Maret 2015.
Gray, C. 2008. Pengantar Evaluasi Proyek. PT. Gramedia. Jakarta.
Junaedhie, Kurniawan. 2006. Panduan Praktis Perawatan Tanaman Hias . Agro Media Pustaka. Jakarta.
Mirna. 2009. Bisnis Tanaman Hias. http://www.rankerzseo.com. Diakses pada tanggal 19 Maret 2015.
Mubyarto. 1986. Pengantar Ekonomi Pertanian. Lembaga penelitian dan Penerangan Ekonomi Sosial, Jakarta.
Nazaruddin, 2003. Agribisnis Tanaman Hias. Penebar Swadaya. Bogor.
Purwanto, Ari .W. 2006. Tanaman Hias, Pesona Kecantikan Sang Ratu Daun. Kanisius. Yogyakarta.
Soekartawi, 2002. Analisis Usahatani, Universitas Indonesia, Jakarta
Soekartawi, 2003. Prinsip Dasar Ekonomi Pertanian, Teori dan Aplikasinya.
Rajawali pes. Jakarta
Soerojo, R. 2008. Pengamatan dan Pengembangan Holtikultura. Bumi Aksara.Jakarta.
Subono, M dan Andoko, A. 2005. Meningkatkan Kualitas Pucuk Merah. Cet IV.
Agromedia Pustaka. Depok.
Suratiyah, K. 2008. Ilmu Usahatani. Penebar Swadaya. Jakarta
41 Lampiran 1 Kuesioner Penelitian
KUISIONER PENELITIAN
ANALISIS PENDAPATAN USAHA TANAMAN HIAS JENIS PUCUK MERAH PADA UD JENE’BERANG
KABUPATEN GOWA I. Identitas Petani:
1. Nama ...
2. Umur ... Tahun 3. Pendidikan ……… Tahun 4. Pengalaman usahatani: Tahun
5. Tanggungan keluarga Orang II. Usaha Tanaman Hias
1. Jenis alat yang dimiliki No Jenis alat Jumlah
III. Penggunaan Sarana Produksi 1. Penggunaan Bibit
No Jenis tanaman Bibit (kg) Harga (Rp)
1 ………….. …………..
Jumlah
42 2. Penggunaan Obat-obatan
No Jenis obat-obatan obat-obatan(kg) Harga (Rp)
1 ………….. ………….. …………..
43 Lampiran 2 Penjualan Tanaman Hias Pucuk Merah untuk Ukuran 50 cm dan 20
cm selama 4 bulan terakhir
No Bulan Harga (Rp) Sumber : UD. Je’neberang, 2015
Lampiran 3. Pengeluaran Gaji Tenaga Kerja Tanaman Hias Selama 5 Bulan
44 Lampiran 4 Nilai Penyusutan Akhir yang digunakan Pada Tanaman Hias Pucuk
Merah selama 5 bulan terakhir. UD Je’neberang, 2015
No Jenis Peralatan Nilai baru
45 Lampiran 5 Penerimaan Tanaman Hias Pucuk Merah selama 5 bulan terakhir UD
Je’neberang 2015.
No Bulan
Produksi Pucuk
Merah Penerimaan
Total Penerimaan Ukuran
50 cm
Ukuran 20 cm
Ukuran 50 cm @ Rp
40000
Ukuran 20 cm @ Rp
15000
1 Maret 200 20 8.000.000 300.000 8.300.000
2 April 40 80 1.600.000 1.200.000 2.800.000
3 Mei 75 130 3.000.000 1.950.000 4.950.000
4 Juni 150 220 6.000.000 3.300.000 9.300.000
5 Juli 175 265 7.000.000 3.975.000 10.975.000
Jumlah 640 715 25.600.000 10.72.5000 36.325.000
Rata-rata 5.120.000 2.145.000 7.265.000
46 Lampiran 6 Besarnya Biaya Variabel UD Je’neberang di Kecamatan Somba Opu Kabupaten Gowa
No Bulan Penjualan (per pohon)
Pupuk Polybag Tanah Bibit Transportasi
Upah TK
(RP) Total (Rp) kg
Rp
3.000/kg lembar
Rp
250/lembar Karung
Rp
10.000 Polybag Rp 2000
Pucuk
Merah/polybag Rp 1500
1 Maret 220 25 75.000 255 63.750 4 40.000 255 510.000 220 330.000 1.430.000 2.448.750
2 April 120 15 45.000 150 37.500 2 20.000 150 300.000 120 180.000 780.000 1.362.500
3 Mei 205 20 60.000 220 55.000 5 50.000 220 440.000 205 307.500 1.332.500 2.245.000
4 Juni 370 34 102.000 400 100.000 6 60.000 400 800.000 370 555.000 2.405.000 4.022.000
5 Juli 440 40 120.000 460 115.000 8 80.000 460 920.000 440 660.000 2.860.000 4.755.000
Jumlah 1355 134 402.000 1485 371.250 25 250.000 1485 2.970.000 1355 2.032.500 8.807.500 14.833.250
Rata-rata 80.400 74.250 50.000 594.000 406.500 2.966.650
47 Lampiran 7 Besarnya Pendapatan Bersih UD Je’neberang di Kecamatan Somba Opu Kabupaten Gowa selama bulan Maret – Juli
2015
No Bulan Penerimaan (Rp)
Total Biaya Variabel (RP)
Total Biaya Tetap (Rp)
Total Biaya (Rp)
Pendapatan (Rp)
1 Maret 8.300.000 2.448.750 144.300 2.593.050 5.706.950
2 April 2.800.000 1.362.500 144.300 1.506.800 1.293.200
3 Mei 4.950.000 2.245.000 144.300 2.389.300 2.560.700
4 Juni 9.300.000 4.022.000 144.300 4.166.300 5.133.700
5 Juli 10.975.000 4.755.000 144.300 4.899.300 6.075.700
Jumlah 36.325.000 14.833.250 721.500 15.554.750 20.770.250
Rata-rata 4.15.4050
48 Lampiran 8 Dokumentasi Penelitian
Gambar 1. Tanaman Pucuk Merah 50 cm
Gambar 2 Tanaman Pucuk Merah 20 cm
49 Gambar 3. Proses Pemeliharaan
Gambar 4. Lokasi Usaha Tanaman Pucuk Merah
50 Gambar 5. Proses Penyiraman
Gambar 6. Jenis Pupuk yang Digunakan pada tanaman pucuk merah
51 Gambar 7. Peralatan Jenis Gunting
Gambar. 8 Peralatan Pompa air, skop dan linggis
52
RIWAYAT HIDUP
Yulianti, lahir pada tanggal 09 Oktober 1992 di Pangkaje’ne Kabupaten Takalar Provinsi Sulawesi Selatan.
Anak Tunggal dari pasangan Syamsir dan Jumati.
Pendidikan formal SD Negeri Komara 1 pada tahun 1999 dan tamat pada tahun 2005. Pada tahun yang sama penulis melanjutkan pendidikan ke Sekolah Menengah Pertama Negeri 3 Polombangkeng Utara dan tamat pada
Pendidikan formal SD Negeri Komara 1 pada tahun 1999 dan tamat pada tahun 2005. Pada tahun yang sama penulis melanjutkan pendidikan ke Sekolah Menengah Pertama Negeri 3 Polombangkeng Utara dan tamat pada