BAB II : VISI, MISI, DAN NILAI LUHUR
A. Visi
peningkatan efektivitas sistem pengendalian dan pengawasan intern.
Dengan demikian, dalam batas-batas tertentu, Puslitbangwas BPKP selaiknya dapat melayani kebutuhan para pengguna hasil dari pihak eksternal BPKP. Untuk itu, diperlukan kebijakan yang mengatur sampai sejauh mana Puslitbangwas dapat melayani para pengguna ekstern. Kebijakan dijabarkan ke dalam prosedur, yang memudahkan akses terhadap hasil-hasil litbang, baik bagi para pengguna intern maupun ekstern BPKP, agar mereka dapat menjadikan hasil litbang sebagai acuan, rujukan, dan referensi dalam bidang pengawasan.
Tanpa kebijakan dan prosedur yang jelas, visi Puslitbang menjadi “Pusat litbang tepercaya di bidang pengawasan” tidak akan terwujud.
Dari sisi input (perencanaan) penelitian, para pengguna hasil litbang sangat dibutuhkan kontribusinya untuk memberikan masukan tentang topik-topik penelitian yang menjadi skala prioritas tertinggi bagi mereka dan relevan dalam mendukung pelaksanaan tugas dan fungsinya. Dengan demikian, bagi Puslitbangwas sendiri dapat mengetahui kebutuhan para penggunanya. Dari sisi proses, mereka juga merupakan sumber data dan informasi penelitian, sedangkan dari sisi output, penilaian para pengguna sangat diperlukan sebagai
Renstra 2015-2019 Page 18
umpan balik untuk mengetahui sampai sejauh mana hasil-hasil litbang telah memenuhi harapan mereka.
c. Penataan Ulang Perencanaan dan Kegiatan-kegiatan Litbang
Dengan adanya perubahan mandat dan peran BPKP, diperlukan penataan kembali terhadap perencanaan dan kegiatan-kegiatan penelitian. Setiap program penelitian harus memiliki grand design yang jelas, sehingga terlihat jelas bahwa program-program tersebut selaras dengan kebutuhan BPKP dan menjadi prioritas utama BPKP serta sesuai dengan tuntutan lingkungan. Sebagai contoh, kegiatan litbang terkait dengan akuntabilitas keuangan negara dan lintas sektoral serta kebendaharaan umum negara, harus jelas apa yang ingin dicapai Puslitbangwas pada tahun pertama, tahun berikutnya, dan akhir tahun 2019, gambarannya sudah harus dirancang sejak saat ini.
Pada tahap perencanaan harus ada seleksi yang ketat atas topik-topik penelitian, yang dimintakan masukannya dari para pengguna/pemangku kepentingan. Masukan ini diseleksi dan dibandingkan dengan grand design yang telah disusun.
Dengan demikian, meskipun terjadi perubahan prioritas kegiatan litbang tahunan, perubahan tersebut tidak menyimpang jauh dari tema yang telah direncanakan.
d. Penataan Struktur Organisasi Puslitbangwas
Sejalan dengan tuntutan lingkungan, Struktur organisasi Puslitbangwas juga seharusnya disesuaikan agar pelaksanaan tugas dan fungsi kelitbangan dapat dilaksanakan dengan lancar. Struktur organisasi diusulkan sesuai dengan hasil kajian
”Redefinisi Tupoksi Puslitbangwas” yang dihasilkan oleh Puslitbangwas pada tahun 2006.
Renstra 2015-2019 Page 19
e. Peningkatan Kemampuan SDM dalam Metodologi Penelitian
Hasil analisis SWOT yang telah diuraikan sebelumnya menunjukkan bahwa transformasi peran dari Jabatan Fungsional Auditor (JFA) menjadi Jabatan Fungsional Peneliti (JFP) akan menjadi penentu keberhasilan pencapaian misi Puslitbangwas. Meskipun demikian, masuknya SDM dalam JFP baru merupakan perangkat formal. Secara faktual untuk meningkatkan mutu hasil litbang, memerlukan penguasaan metodologi penelitian secara profesional. Peningkatan profesionalisme bisa dilakukan dengan pelatihan di kantor sendiri (PPM), mengikutsertakan SDM Puslitbangwas baik pada diklat-diklat teknis/subtantif yang diselenggarakan oleh pihak internal maupun eksternal, dan dalam jenjang pendidikan formal, baik di dalam maupun di luar negeri.
f. Peningkatan Manajemen SDM dengan Merit Sistem
Penerapan reformasi birokrasi di lingkungan BPKP yang diimbangi dengan sistem kompensasi melalui remunerasi, di satu sisi akan menambah motivasi bagi SDM. Namun, di lain sisi lain dapat menimbulkan frustasi, apabila tidak didukung dengan sistem penilaian kinerja individual. Artinya, SDM dengan kinerja yang rendah, mendapat take home pay yang sama dengan yang kinerjanya tinggi. Hal ini akan berdampak terhadap motivasi SDM untuk meningkatkan kinerjanya.
Dengan demikian, penilaian kinerja individual merupakan kunci keberhasilan dalam mencapai tujuan. Sistem penilaian kinerja tersebut harus dilaksanakan secara transparan, dan didukung dengan sistem penerapan reward and punishment yang konsekuen, di samping dukungan pendidikan berkelanjutan sebagaimana telah diuraikan di atas.
Renstra 2015-2019 Page 20
BAB II
VISI, MISI, DAN NILAI LUHUR
ejalan dengan perubahan lingkungan strategis, khususnya berkaitan dengan penguatan peran BPKP melalui Perpres No. 192 Tahun 2014 dan Inpres 9 Tahun 2014 dan sebagai aparat pengawasan intern pemerintah yang bertanggung jawab langsung kepada Presiden, BPKP menegaskan jati dirinya melalui visi “Auditor Internal Pemerintah RI Berkelas Dunia untuk Meningkatkan Akuntabilitas Pengelolaan Keuangan dan Pembangunan Nasional.”
Sebagai auditor internal pemerintah RI, BPKP melakukan peran internal auditing yang menurut definisi Institute of Internal Auditor (IIA) tentang internal auditing yaitu “an independent, objective assurance and consulting activity designed to add value and improve an organization’s operations. It helps an organization accomplish its objectives by bringing a systematic, disciplined approach to evaluate and improve the effectiveness of risk management, control, and governance processes”. Sesuai definisi tersebut, dua sifat aktifitas peran BPKP dalam melaksanakan pengawasan intern yaitu sebagai pemberi jasa assurance dan pemberi jasa consultancy dengan pendekatan yang sistematis dan metodologis untuk mengevaluasi dan meningkatkan efektivitas pengelolaan risiko, pengendalian dan proses governance. Lebih spesifik lagi, untuk program atau kebijakan pembangunan nasional, pengawasan intern BPKP menuntut penerapan pendekatan evaluasi (riset sosial) untuk menghasilkan rekomendasi perbaikan atas ketiga hal tersebut. Posisi BPKP sebagai auditor pemerintah RI bertanggung jawab langsung kepada Presiden, sebagai mata dan telinga Presiden yang difungsikan untuk melihat dan mendengar secara langsung fakta lapangan dan memberikan respon berupa informasi assurance melalui suatu sistem pengawasan, dalam hal ini sistem informasi
S
Renstra 2015-2019 Page 21
akuntabilitas. Menteri atau Kepala Lembaga atau Kepala Daerah atau pada tataran tertentu, Direktur Utama BUMN, adalah pembantu Presiden atau delegatee kekuasaan Presiden. Peran assurance menunjukkan adanya risiko terhadap pencapaian tujuan program pemerintah, BPKP berfungsi memberikan rekomendasi perbaikan untuk memitigasi risiko, dan memastikan tujuan program pemerintah, dalam hal ini sasaran pembangunan nasional, dapat tercapai.
Terdapat tiga aspek yang menunjukkan BPKP sebagai auditor berkelas dunia yaitu aspek SDM, aspek organisasi dan aspek produk.
Sumber daya Manusia (SDM) BPKP wajib menerapkan due professional care dalam setiap pelaksanaan penugasan pengawasan dan wajib memenuhi persyaratan minimal. Kedua persyaratan tersebut biasanya ditetapkan dalam standar pengawasan yang berlaku bagi BPKP yaitu standard operating procedure (SOP) yang berlaku dan memperhatikan standar audit dari AAIPI atau IIA, dengan quality assurance berjenjang untuk memastikan kualitas proses pelaksanaan pengawasan. Aspek kewenangan BPKP dalam pengawasan program lintas di kementerian, lembaga dan pemerintah daerah diwujudkan dalam pemberian kualitas yang independen dan obyektif atas pengendalian intern yang diterapkan dalam sertifikasi profesi pengawasan. Kapabilitas pengelolaan organisasi dan profesional pengawasan BPKP diarahkan pada kerangka penilaian Internal Audit Capability Model dengan target minimal kapabilitas pada level 3 pada tahun 2019. Sedangkan aspek produk BPKP diharapkan mampu me-leverage rekomendasi hasil pengawasan melalui peran assurance dan consultancy.
Terdapat dua ruang lingkup pengawasan yang menjadi tugas BPKP terkait akuntabilitas pengelolaan keuangan dan pembangunan.
Pertama, terkait dengan fungsi manajemen lingkup pengawasan intern yang meliputi perencanaan, penganggaran, pelaksanaan, pelaporan dan pertanggungjawaban. Kedua, terkait dengan lingkup APBN, pengawasan intern akan meliputi fungsi
Renstra 2015-2019 Page 22
penerimaan, program prioritas nasional dan kebijakan fiskal.
Pengawasan BPKP dilakukan untuk merespon permasalahan yang mengemuka pada pembangunan nasional yang menjadi perhatian Presiden atau masyarakat luas.
Mengingat tugas besar yang diemban oleh BPKP, dengan lingkup tugas yang sangat luas dan variatif, BPKP harus didukung dengan unit-unit kerja dan aparat yang handal serta kompeten (profesional).
Juga diperlukan terobosan-terobosan metode kerja yang tepat guna, tepat sasaran, dan inovatif. Selain itu, harus tersedia informasi yang berkualitas untuk mendukung setiap keputusan yang diambil oleh pimpinan BPKP.
A. VISI PUSLITBANGWAS
Puslitbangwas BPKP, sebagai salah satu unit pendukung BPKP, harus mampu menyediakan kebutuhan BPKP melalui penelitian dan pengembangan yang menjadi tugas dan fungsi utamanya.
Untuk itu, Puslitbangwas BPKP harus memiliki visi dan misi yang sejalan dan dapat mendukung BPKP dalam mewujudkan visi tersebut di atas. Visi Puslitbangwas BPKP periode 2015―2019 adalah menjadi
Dalam pernyataan visi tersebut di atas, terdapat beberapa kata kunci, yaitu:
1. Pusat Penelitian dan Pengembangan 2. Pengawasan
3. Tepercaya
4. BPKP Berkelas Dunia
Pusat Penelitian dan Pengembangan Pengawasan Yang Tepercaya dalam Mendukung BPKP
Berkelas Dunia
Renstra 2015-2019 Page 23
Pemahaman atas makna kata-kata kunci tersebut akan memberikan pemahaman yang komprehensif tentang visi. Makna ringkas dari masing-masing kata kunci tersebut sebagai berikut:
Pusat penelitian dan pengembangan, artinya menjadi pusat acuan dan rujukan, khususnya bagi pimpinan BPKP dalam mengambil keputusan, kebijakan dan prosedur pelaksanaan tugas dan fungsi BPKP. Puslitbangwas menjadi acuan dan rujukan dalam mengembangkan dan mengaplikasikan teori-teori mutakhir di bidang pengawasan ke dalam dunia praktik secara tepat guna dan tepat sasaran. Puslitbangwas menjadi “dapur”
untuk mengolah bahan mentah (data) pengawasan menjadi
“masakan” (informasi) yang siap untuk dinikmati para penikmat hasil (pemangku kepentingan).
Hasil-hasil litbang juga menjadi pusat rujukan bagi kalangan aparat pengawasan intern pemerintah (APIP) lainnya, mengingat cakupan tugas dan fungsi para APIP, baik di Kementerian/Lembaga maupun di Pemda-Pemda merupakan bagian dari fungsi pengawasan oleh Presiden, khususnya di bidang akuntabilitas keuangan negara. Selain itu, secara keseluruhan tugas dan fungsi APIP merupakan bagian dari sistem pengawasan intern pemerintahan secara nasional.
Bahkan, diharapkan hasil-hasil Puslitbangwas menjadi pusat referensi bagi kalangan yang lebih luas, yaitu jajaran manajemen pemerintahan dan publik terkait lainnya. Fungsi pengawasan intern pemerintah dewasa ini memiliki cakupan yang sangat luas, untuk menghasilkan nilai tambah bagi proses tata kelola pemerintahan (governance), manajemen risiko, dan pengendalian intern. Dengan demikian Pulitbangwas BPKP menjadi pusat acuan dan rujuan Nasional di bidang pengawasan.
1. Pusat Penelitian dan Pengembangan
Renstra 2015-2019 Page 24
Siapapun yang memerlukan referensi di bidang/masalah pengawasan, Puslitbangwas BPKP yang dicari dan dibutuhkan.
Obyek penelitian dan pengembangan Puslitbangwas adalah di bidang pengawasan. Pengawasan yang dimaksud adalah pengawasan intern, yaitu seluruh proses kegiatan audit, reviu, evaluasi, pemantauan, dan kegiatan pengawasan lain terhadap penyelenggaraan tugas dan fungsi organisasi dalam rangka memberikan keyakinan yang memadai bahwa kegiatan telah dilaksanakan sesuai dengan tolok ukur yang telah ditetapkan secara efektif dan efisien untuk kepentingan pimpinan dalam mewujudkan tata kepemerintahan yang baik.
Pengawasan intern BPKP yang menjadi tugas dan fungsi BPKP memiliki cakupan yang luas, meliputi proses governance, manajemen risiko, dan pengendalian intern atas pelaksanaan tugas dan fungsi K/L dan Pemda, serta BUMN/BUMD dan ketatausahaan lainnya. Hal tersebut merupakan bidang bahasan/konsep yang luas cakupannya, apalagi dikaitkan dengan tugas dan fungsi pemerintahan, baik pusat maupun daerah yang berbeda satu sama lain.
Selain itu, pembinaan pengawasan intern juga merupakan ranah baru bagi BPKP sejak terbitnya PP Nomor 60 tahun 2008, yang mengkhususkan pada masalah-masalah makro, nasional, lintas sektoral, BUN, dan tugas-tugas khusus dari Presiden. Bidang tugas ini sangat luas, sehingga kegiatan pengawasan BPKP difokuskan kepada pengawasan keuangan negara yang menyentuh rakyat banyak, dan perlu dijabarkan dengan jelas.
Demikian pula dengan tools pengawasannya, seperti audit, evaluasi, dsb., perlu ditetapkan metode dan teknik apa yang dapat digunakan secara tepat guna dan tepat sasaran untuk
2. Pengawasan
Renstra 2015-2019 Page 25
melaksanakan tugas tersebut. Demikian pula bidang tugas BPKP lainnya terkait dengan pembinaan penyelenggaraan SPIP di Indonesia.
Dalam hal ini peran litbang sangat penting dan strategis dalam mendukung tugas-tugas pengawasan BPKP sebagai Auditor Presiden, melalui kegiatan penelitian dan pengembangan pengawasan. Terkait dengan governance, khususnya lingkup akuntabilitas keuangan negara, banyak hal yang perlu dikaji dan dikembangkan secara terus-menerus, agar sasaran pengawasan BPKP menjadi efektif. Terkait dengan manajemen risiko pada sektor publik, banyak konsep-konsep dan teori baru yang perlu dikembangkan ke tataran praktis yang sesuai dengan kebutuhan pemerintah, sehingga dapat menjadi alat manajemen yang efektif untuk mencapai tujuan. Demikian pula dengan penyelenggaraan SPIP dan tugas-tugas pembinaan, perlu dikembangkan metode-metode penyelenggaraan dan pembinaan yang tepat guna dan tepat sasaran, sehingga SPIP tidak berbalik menjadi sesuatu yang kontraproduktif dan memberatkan pimpinan instansi pemerintah. Di sisi lain, bidang sasaran pengawasan BPKP di bidang makro, nasional dan lintas sektoral, serta metode pangawasan yang tepat guna dan tepat sasaran, menjadi bahan kajian dan pengembangan Puslitbangwas BPKP untuk mendukung visi BPKP sebagai Auditor Berkelas Dunia.
Tepercaya artinya: paling dipercaya, dapat dipercaya.1 Tepercaya mengandung makna bahwa seseorang atau sesuatu memang benar atau nyata atau benar ada. Tepercaya juga memiliki makna bahwa seseorang itu “jujur”, dan tepercaya juga bermakna
“memastikan akan kemampuan atau kelebihan seseorang atau sesuatu, yang akan dapat memenuhi harapannya.”
1 Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), Edisi ke-3 (2002).
3. Tepercaya
Renstra 2015-2019 Page 26
Puslitbangwas BPKP menyatakan diri sebagai “Pusat Litbang Tepercaya”, artinya bahwa hasil kerja Puslitbangwas harus dapat diandalkan, berkualitas, dan bermanfaat bagi kepentingan pemangku kepentingan. Kepercayaan tersebut akan timbul jika Puslitbangwas didukung oleh staf dan peneliti yang kompeten, yang senantiasa melaksanakan kegiatannya berdasarkan pada kaidah-kaidah dan metode ilmiah secara sistematis dan menjaga standar mutu. Kepercayaan juga timbul karena para peneliti memiliki integritas yang tinggi dan penuh tanggung jawab dalam melaksanakan tugas/mandat yang diberikan kepadanya, serta memahami dan menerapkan etika dan aturan perilaku peneliti.
Puslitbang dapat dipercaya, jika hasil kerja dan produk-produknya inovatif dan antisipatif. Inovatif yaitu memanfaatkan teori atau ilmu pengetahuan yang telah ada untuk meningkatkan fungsi, manfaat, dan aplikasi/penerapan praktis, dengan menggunakan cara, metode, teknik, atau proses. Antisipatif mengandung arti sikap dan perilaku yang bersifat tanggap terhadap sesuatu yang akan terjadi di masa yang akan datang, yang dapat berpengaruh terhadap tugas dan fungsinya. Puslitbangwas harus antisipatif terhadap perubahan yang terjadi, baik di internal organisasi maupun perubahan eksternal, misalnya apa yang dapat disumbangkan oleh auditor internal dan dapat memberikan nilai tambah untuk menghadapi krisis global. Semua harus dapat diantisipasi, agar kepercayaan dapat diraih.
Keyakinan dan kepercayaan atas hasil kerja dan produk-produknya, akan menjadikan Puslitbangwas BPKP sebagai pusat acuan dan rujukan tentang hal-hal yang berkaitan dengan pengawasan, baik oleh intern BPKP, APIP, pihak manajemen pemerintahan baik Pusat maupun Daerah serta lingkup pengawasan secara nasional.
Selain itu, pada tahun 2013 Puslitbangwas telah mendapatkan sertifikat ISO 9001: 2008 dalam hal manajemen mutu hasil
Renstra 2015-2019 Page 27
Puslitbangwas. hal ini menjadi pendorong semangat untuk terus menjaga mutu hasil-hasil litbang ke depan.
Terdapat tiga aspek yang menunjukkan kualitas BPKP sebagai auditor internal berkelas dunia yaitu aspek SDM, aspek organisasi dan aspek produk. Puslitbangwas yang mendukung BPKP berkelas dunia sudah seharusnya menempatkan dirinya untuk memenuhi standar internasional, baik dalam kualitas SDM, metodologi yang dilakukan, dan produk penelitiannya. Upaya untuk memenuhi standar internasional telah dilakukan melalui ISO untuk proses penelitian. Penelitian dan pengembangan Puslitbangwas harus mendukung upaya peningkatan kualitas SDM, mendukung pencapaian SDM yang menerapkan standard operating procedure (SOP) yang berlaku dan memperhatikan standar audit dari Asosiasi Auditor Internal Pemerintah Indonesia (AAIPI) atau Institute Internal Auditor (IIA). Peningkatan kompetensi pegawai juga ditingkatkan melalui penelitian dan pengembangan terkait metode pengawasan BPKP dalam memberikan jasa assurance maupun consulting untuk mengevaluasi dan meningkatkan efektivitas pengelolaan risiko, pengendalian dan proses governance. Termasuk diantaranya untuk program atau kebijakan pembangunan nasional, pengawasan intern BPKP menuntut penerapan pendekatan evaluasi (riset sosial) untuk menghasilkan rekomendasi perbaikan atas ketiga hal tersebut.
Dalam meningkatkan aspek kewenangan BPKP melakukan pengawasan, Puslitbangwas melakukan penelitian dan pengembangan yang mendukung pemberian kualitas yang independen dan obyektif atas pengendalian intern yang diterapkan dalam sertifikasi profesi pengawasan, pengawasan lintas sektoral, kebendaharaan umum negara, dan penugasan
4.
Mendukung BPKP Berkelas DuniaRenstra 2015-2019 Page 28
presiden lainnya. Terkait dengan kapabilitas organisasi, penelitian dan pengembangan bisa diarahkan untuk peningkatan kompetensi dalam berbagai bidang terkait sehingga meningkatkan kemampuan dalam mengidentifikasi masalah dan solusinya serta memahami perubahan peraturan terkait dan standar baru di bidang pengawasan.
Peran yang harus ditingkatkan terkait aspek produk, Puslitbangwas harus mampu menghasilkan output yang mampu meningkatkan leverage Rekomendasi Hasil Pengawasan.
Sebagian dari fokus penelitian dan pengembangan diarahkan untuk menghasilkan metode pengawasan dalam menghasilkan rekomendasi strategis dari kegiatan assurance dan consultance sehingga mempunyai daya ungkit (leverage) yang cukup signifikan dalam meningkatkan kinerja pemerintahan dan program pembangunan.