• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB II GAMBARAN UMUM BADAN PENGELOLA PAJAK DAN RETRIBUSI

D. VisidanMisiBadanPengelolaPajakdanRetribusi

Visi Badan Pengelola Pajak dan Retribusi Kota Medan adalah “Terwujudnya Pendapatan Daerah Sebagai Andalan Pembiayaan Pembangunan Daerah”. Misi dari Badan Pengelola Pajak Dan Retribusi Kota Medan adalah :

1. Meningkatkan kualitas pelayanan terhadap sumber dan pengelola pendapatan daerah.

2. Meningkatkan sarana dan prasarana dinas

3. Intensifikasi dan ekstensifikasi subjek dan objek pajak 4. Meningkatkan penegakan hukum.

Tabel 2.1

Jumlah PNS berdasarkan golongan di BPPRD Kota Medan

No. Golongan Jumlah Pegawai

1 IV/ c 1

2 IV/ b 1

3 IV/ a 8

4 III/ d 55

5 III/ c 41

6 III/ b 123

7 III/ a 95

8 II/ d 7

9 II/ c 13

10 II/ b 23

11 II/ a 3

12 I/ c 1

Total 371

Sumber : Kantor BPPRD Kota Medan (2017)

BAB III

GAMBARAN DATA PENELITIAN PAJAK DI KOTA MEDAN

A. Tingkat Kepatuhan Wajib Pajak Hiburan Di Kota Medan

Pajak Hiburan merupakansalah satu komponen dari pendapatan asli daerah.

Pajak hiburan memberikan kontribusi yang besar bagi PAD Kota Medan, dimana pajak hiburan dipergunakan untuk mendukung dan membiayai penyelenggaraan dan pembangunan Kota Medan.

Berikut ini Tabel Jumlah Wajib Pajak Hiburan dan Target Serta Realisasi Pajak

Target Dan Realisasi Penerimaan Pajak Hiburan Di Kota Medan

Tabel 3.2 Target dan Realisasi Penerimaan Pajak Hiburan Pada Tahun 2014 –tahun 2016

TAHUN TARGET (RP) REALISASI (RP) PERSENTASE 2014 35.308.417.000,00 29.504.654.723,00 83,56%

2015 35.308.417.000,00 31.162.476.865,14 88,25%

2016 38.308.417.000,00 33.103.004.155,25 86,41%

Sumber: Badan Pengelola Pajak dan Retribusi Daerah (2017)

B.Gambaran Data Wajib Pajak Hiburan Yang Terdaftar Di Kota Medan

Seperti yang kita ketahui hasil dari pengumungutan pajak sangat membantu bagi pertumbuhan dan perkembangan negara, jumlah wajib pajak sangat berpengaruh kepada besar kecilnya penghasilan negara dari pajak, semakin banyak wajib pajak semakin tinggi pula penghasilan negara dari pajak, dan sebaliknya jika semakin sedikit wajib pajak maka semakin rendah penghasilan yang di terima negara dari hasil pajak.

Berdasarkan observasi dilapangan, pengumpulan data-data yang ada, termasuk diadakannya metode wawancara, berikut ini adalah data-data tentang jumlah wajib pajak hiburan, target dan realisasi penerimaan pajak hiburan serta kontribusi pajak

Tabel 3.1Daftar wajib Pajak Hiburan yang terdaftar Pada Tahun 2014 – Tahun

Sumber data : Badan Pengelola Pajak Dan Retribusi Daerah 2017

C.Kontribusi Penerimaan Pajak Hiburan terhadap Pajak Daerah

Tabel 3.3 Kontribusi Penerimaan Pajak Hiburan Terhadap Pajak Daerah tahun 2014 – tahun 2016

Tahun Pajak Daerah Pajak Penerangan Jalan Persentase 2014 948,401,872,843,17 29.504.654.723,00 3,11%

2015 1,000,207,760,291,45 31.162.476.865,14 3,11%

2016 1,132,752,367,823,32 33.103.004.155,25 2.92%

Sumber: Badan Pengelola Pajak dan Retribusi Daerah (2017)

D.Hasil Wawancara

1. Faktor yang mempengaruhi penerimaan pajak hiburan

Berdasarkan observasi dilapangan, pengumpulan data-data yang ada, termasuk diadakannya metode wawancara, ditemukan masalah-masalah yang muncul dalam Pajak Hiburan.Adapun faktor yang mempengaruhi penerimaan pajak hiburan adalah sebagai berikut:

A. Jumlah Wajib Pajak Hiburan

Jumlah wajib pajak hiburan sangat berpengaruh dalam penerimaan pajak hiburan, jika semakin banyak jumlah wajib pajak maka makin banyak pula yang menyetor pajak hiburannya. Begitu juga sebaliknya, jika makin sedikit tempat hiburan yang aktif di Kota Medan, maka tidak optimal pada penerimaan pajak hiburan.

g. Tingkat keamanan

Medan merupakan salah satu kota besar yang paling aman di Indonesia dibanding kota kota besar lainnya seperti Jakarta, Bandung, dan lain sebagainya yang rawan terorisme dan tingkat kriminal yang tinggi. Jadi keamanan saat sedang diadakannya hiburan dapat lebih terkendali.

h. Tingkat Kenyamanan dan Kelengkapan Fasilitas Tempat Hiburan

Kenyamanan hotel sangat berpengaruh dalam pendapatan suatu sarana hiburan.

Dikarenakan hal tersebut menjadi penunjang penarik minat para pengunjung.

Kebersihan dan kelengkapan fasilitas yang dimiliki suatu tempat hiburan membuat pengunjung merasa senang.

i. Tarif/Tiket Hiburan

Disamping kenyaman dan fasilitas suatu tempat hiburan, yang paling utama bagi pengunjung adalah tarif. Hal ini dapat dilihat dari banyaknya pengunjung yang memilih tempat hiburan yang memiliki tarif rendah namun fasilitas sudah baik, karena hal tersebut dapat lebih terjangkau bagi masyarakat.

2. Kendala Yang Menjadi Penghambat dalam Mengelola Pajak Hiburan

Meskipun Pajak Hiburan dapat memberikan kontribusi yang baik bagi pendapatan daerah, namun tidak dipungkiri adanya masalah-masalah yang timbul.Sedikit atau banyak masalah yang dihadapi harus tetap diperhatikan. Untuk diketahui sejauh mana masalah-masalah tersebut berpengaruh atau berdampak bagi kelangsungan proses Pajak Hiburan tersebut.

Berdasarkan observasi dilapangan, pengumpulan data-data yang ada, termasuk diadakannya metode wawancara, ditemukan masalah-masalah yang muncul dalam Pajak Hiburan. Adapun masalah-masalah tersebut antara lain :

a. Wajib pajak hiburan banyak yang tidak mengutip pajak sesuai dengan tarif yang sudah ditetapkan berdasarkan peraturan yang berlaku.

b. Koordinasi dengan wajib pajak hiburan susah dilakukan, hal ini karena banyak pemilik hiburan yang berdomisili di luar Kota Medan dan jam operasional diluar jam kerja petugas dari Badan Pengelolaan Pajak dan Retribusi Daerah Kota Medan.

c. Masih banyak wajib pajak yang tidak melaporkan kegiatan usahanya baik operasi maupun pelaporan keuangannya secara benar.

d. Dengan sistem self assesmentwajib pajak berhak menentukan sendiri jumlah setoran pajaknya, sehingga wajib pajak sering menjadikan ini sebagai dasar untuk tidak meningkatkan pembayaran pajak rutin tiap bulan.

BAB IV

ANALISA DAN EVALUASI

A. Analisis Tingkat Kepatuhan Wajib Pajak Dalam Pembayaran Pajak Hiburan

1. Tingkat Kepatuhan Wajib Pajak Dalam Pembayaran Pajak Hiburan

Dalam kamus besar bahasa indonesia, pengertian kepatuhan adalah perilaku sesuai aturan dan berdisiplin. Seseorang dikatakan patuh bila mau datang ke petugas yang telah ditentukan sesuai dengan jadwal yang telah ditetapkan serta mau melaksanakan apa yang dianjurkan oleh petugas. Oleh karena itu, jika wajib pajak tidak patuh dalam hal pembayaran pajak hiburan maka dia bisa dikatakan tidak patuh dengan peraturan yang telah ditetapkan.

Dalam penetapan penerimaan Pajak Hiburan, Pemerintah Daerah pun menetapkan target yang hendak dicapai dalam penerimaan Pajak Hiburan. Agar lebih jelas, peneliti akan menjelaskan penerimaan Pajak Hiburan pada BPPRD dapat dilihat pada tabel 3.2.

Berdasarkan tabel 3.2 target dan realisasi penerimaan Pajak Hiburan pada BPPRD selama 3 (tiga) tahun, adalah sebagai berikut:

a. Realisasi penerimaan Pajak Hiburan pada tahun 2014 tidak mencapai target yang ditentukan . dari target Rp.35.308.417.000,00 yang tercapai hanya Rp.

29.504.654.723,00. atau 83,56%

b. Realisasi penerimaan Pajak Hiburan pada tahun 2015 mengalami peningkatan dari tahun sebelumnya namun tidak mencapai target yang ditentukan. Dari target Rp. 35.308.417.000,00yang tercapai hanya Rp. 31.162.476.865,14. atau 88,25%

c. Realisasi penerimaan Pajak Hiburan pada tahun 2016 juga mengalami peningkatan dari dua tahun sebeumnya namun masih tidak mencapai target yang ditentukan. Dari target Rp.38.308.417.000,00 yang tercapai hanya Rp.33.103.004.155,25. atau86,41%.

2. Kontribusi Penerimaan Pajak Hiburan Terhadap Penerimaan Pajak Daerah

Pajak daerah termasuk salah satunya Pajak Hiburan merupakan salah satu sumber pendapatan daerah yang paling penting guna membiayai penyelengaraan pemerintahan daerah dan pembangunan daerah untuk meningkatkan dan meratakan kesejahteraan masyarakat. Dengan demikian daerah mampu melaksanakan otonomi, yaitu mampu mengatur dan mengurus rumah tangganya sendiri. Untuk menetapkan otonomi daerah yang luas, nyata, dan bertanggung jawab.

Untuk mengetahui kontribusi yang diberikan atau yang dihasilkan oleh Pajak Hiburan ini, sebagai salah satu sumber pendapatan dan pembangunan daerah. Berikut akan disajikan tabel target yang ditetapkan dan realisasi penerimaan yang dapat dicapai oleh Pajak Hiburan tersebut.

Dari table 3.3, kontribusi Pajak untuk pajak daerah pada tahun 2014 sebesar Rp.29.504.654.723,00 atau sekitar 3,11% dari pajak daerah. Pada tahun 2015 kontribusi penerimaan Pajak Hiburan pada pajak daerah meningkat tipis dari tahun 2014 yaitu sebesar Rp.31.162.476.865,14 atau namu dalam persentase kontribusi penerimaan Pajak Hiburan pada pajak daerah tidak mengalami perubahan dari tahun sebelumnya yaitu tetap 3,11% dari pajak daerah. Pada tahun 2016 kontribusi penerimaan Pajak Hiburan pada pajak daerah meningkat tipis dari tahun 2015 yaitu sebesar Rp.33.103.004.155,25. Namun dalam persentase kontribusi penerimaan Pajak

Hiburan pada pajak daerah mengalami penurunan dari tahun sebelumnya yaitu menjadi 2.92% .

B. Pengalokasian Pajak Hiburan

Perimbangan keuangan daerah antara Pemerintah Pusat dan Pemerintah Daerah mencakup pembagian keuangan antara Pemerintah Pusat dan Pemerintah Daerah secara proporsional, demokratis, adil dan transparan dengan memperhatikan potensi, kondisi dan kebutuhan daerah.

Dalam rangka penyelenggaraan otonomi daerah, penyerahan dan pelimpahan urusan pemerintah kepada daerah secaranyata dan bertanggung jawab harus diikuti dengan pengaturan, pembagian dan pemanfaatan sumber daya Nasional secara adil, termasuk perimbangan keuangan antara Pemerintah Pusat dan Pemerintah Daerah.

Dalam hal ini pajak hiburan disetor oleh BPPRD Kota Medan untuk menampung seluruh penerimaan daerah dan membayar seluruh pengeluaran daerah. Alokasi Pajak Hiburan yang dilaksanakan pada BPPRD diarahkan untuk membiayai penyelenggaraan pemerintahan dan pembangunan daerah guna meningkatkan kesejahtraan masyarakat.

BPPRD Kota Medan mempunyai tugas melaksanakan urusan pemerintahan daerah di bidang Pendapatan Pajak dan Retribusi Daerah berdasarkan asas otonomi dan tugas pembantuan. BPPRD Kota Medan berkewajiban untuk melakukan tugas dibidang Pendapatan Pajak Daerah dan Retribusi Daerah, sedangkan untuk pembelanjaan di bawah kewenangan. Seluruh pendapat akan langsung masuk kedalam kas daerah dan kelola langsung oleh Pemerintah Daerah.

C. Cara Yang Dapat dilakukan untuk mengoptimalkan Pendapatan Pajak Hiburan

Berbagai kebijakan telah dilakukan oleh Badan Pengelola Pajak untuk meningkatkan penerimaan Pajak Hiburan. Adapun beberapa upaya upaya peningkatan yang diambil pihak Badan Pengelola Pajak Kota Medan untuk meningkatkan penerimaan Pajak Hiburan,adalah sebagai berikut:

1. Melakukan pemeriksaan setiap tiga bulan sekali terhadap wajib pajak yang dianggap tidak melaporkan pajaknya secara benar, hasil pemeriksaan akan dituangkan dalam bentuk Laporan Hasil Pemeriksaan dan ditetapkan menjadi SKPDKB.

2. Melakukan penjagaan dan atau penongkrongan terhadap wajib pajak yang dianggap tidak melaporkan SPTPD secara benar, kegiatan penjagaan dilakukan selama 15 hari.

3. Melakukan kegiatan ekstensifikasi dan intensifikasi Pajak Hiburan, pendataan wajib Pajak Hiburan, pendataan wajib Pajak Hiburan secara rutin melalui 7 UPT di wilayah Kota Medan.

4. Wajib pajak yang tidak mengirimi SPTPD akan dikirimi Surat Teguran atas keterlambatan melaporkan SPTPD untuk setiap bulan.

5. Membuat dan mengirimkan Surat Teguran Pajak untuk setiap wajib pajak yang memiliki pajak yang belum dibayarkan.

6. Menjalin kerja sama dengan SKPD lain yang terkait ijin usaha, seperti Dinas Penanaman Modal dan Perijinan Terpadu Kota Medan dan Dinas Pariwisata Kota Medan.

7. Membangun sistem informasi perpajakan yang lebih baik lagi yang dapat memudahkan wajib pajak untuk melakukan kewajiban perpajakan secara lebih efektif dan efisien.

BAB V

KESIMPULAN DAN SARAN

A. KESIMPULAN

Berdasarkan uraian-uraian yang telah dikemukakan di atas, maka penulis menarik kesimpulan sebagai berikut:

1. Pajak Hiburan adalah pajak atas penyelenggaraan hiburan atau pungutan daerah atas penyelenggaraan hiburan.

2. Tarif Pajak Hiburan di tetapkan oleh Pemerintah Daerah berdasarkan kondisi daerahnya sehingga tarif untuk setiap daerahnya tidak selalu sama.

3. Badan Pengelola Pajak Dan Retribusi Daerah merupakan salah satu unit kerja yang yang berperan aktif dalam melaksanakan pemungutan pajak daerah.

4. Daerah kota medan mempunyai potensi penerimaan Pajak Hiburan. Hal itu terlihat dari semakin meningkatnya jumlah wajib pajak hiburan yang terdaftar setiap tahunnya yaitu, pada tahun 2014 sebanyak 617 dan pada tahun 2015 meningkat menjadi 652, hingga data yang terakhir tahun 2016 wajib pajak hiburan juga meningkat menjadi 689. Pajak Hiburan juga merupakan salah satu sumber penerimaan daerah yang digunakan untuk membiayai penyelenggaraan pemerintahan dan pembangunan daerah guna meningkatkan kesejahtraan masyarakat.

5. Penerimaan Pajak Hiburan di Kota Medan sudah berjalan dengan baik tetapi masih kurang maksimal dikarenakan kurangnya kesadaran wajib pajak Hiburan dalam memenuhi kewajiban perpajakannya dan adanya wajib pajak yang merasa rugi jika membayarkan pajak atas usaha Hiburan yang dimilikinya.

6. Dalam rangka meningkatkan penerimaan Pajak Hiburan agar target yang telah ditetapkan dapat tercapai maka pemerintah daerah khususnya BPPRD telah melakukan upaya ekstensifikasi dan intensifikasi dalam bidang perpajakan.

7. Hasil penerimaan pajak daerah khususnya Pajak Hiburan diserahkan kepada Pemerintah Daerah untuk menopang otonomi daerah dan pembangunan daerah.

B. SARAN

1. BPPRD Kota Medan perlu meningkatkan kinerjanya terutama kualitas kinerja aparat pajak dalam meningkatan penerimaan pajak.

2. Perlu ditingkatan pengawasan terhadap aparat pajak maupun wajib pajak agar tidak ditemukannya penyimpangan dalam penerimaan Pajak Hiburan sehingga secara langsung tidak merugikan daerah.

3. Perlu diadakan penyuluhan atau sosialisasi yang lebih intensif kepada masyarakat baik secara langsung maupun tidak langsung (melalui media cetak maupun elektronik) mengenai daerah Khususnya Pajak Hiburan untuk meningkatkan kesadaran akan pentingnya pajak daerah terhadap pembangunan di Kota Medan.

4. Dalam penentuan penetapan target, hendaknya Pemerintah Daerah perlumelakukan pengkajian ulang terhadap realisasi penerimaan Pajak Hiburan dan disesuaikan dengan keadaan sekarang agar target tersebut dapat tercapai.

5. Dinas Pendapatan Kota Medan perlu menambah sarana dan prasarana yang ada.

6. Mempertegas sanksi hukum bagi Wajib Pajak yang Melanggar Peraturan 7. Menggiatkan pendataan ulang, terutama pada lokasi-lokasi yang dianggap

memiliki potensi pajak hiburan.

8. Meningkatkan teknologi administrasi (komputerisasi) sehingga mampu mengikuti perkembangan penduduk/wajib pajak dengan teknologi maju.

DAFTAR PUSTAKA

Mardiasno, 2016,Perpajakan, PenerbitAndi, Yogyakarta

Siahaan,Marihot P. 2010. Pajak Daerah dan Retribusi Daerah. Edisi Revisi.

Jakarta:Rajawali Pers.

Halim, Abdul, Icuk Rangga Bawono, dan Amin Dara. 2014. Perpajakan: Konsep, Aplikasi, Contoh, dan Studi Kasus. Jakarta: SalembaEmpat

Pohan,Chairil Anwar. 2014.PembahasanKomperehensifPerpajakan Indonesia TeoridanKasus. Jakarta: MitraWacana Media

PeraturanWalikotaMedan,No. 1 tahun 2017.

Republik Indonesia. 2011. Peraturan Daerah Kota Medan No. 7 Tahun 2011 tentang Pajak Hiburan

Republik Indonesia. 2014. Undang-Undang No. 23 Tahun 2014 tentangPemerintahDaerah

RepublikIndonesia. 2007. Undang-Undang No. 28 Tahun 2007 tentangKetentuanUmumdan Tata Cara Perpajakan

Republik Indonesia. 2009. Undang-Undang No. 28 Tahun 2009 tentangPajak Daerah

Republik Indonesia. 1978. Peraturan Daerah No. 12 Tahun 1978

menyesuaikanataumembentukstrukturorganisasiBadanPengelolaPajakdanRetri busi Daerah.

Republik Indonesia. 2003. Undang-Undang No. 12Tahun 2003TentangPajak Daerah Kota Medan

Republik Indonesia. 2004. Undang-Undang No. 33 Tahun 2004 tentang PerimbanganKeuanganantaraPemerintahPusatdan Daerah.

Republik Indonesia. 2002. PeraturanWalikota Medan No. 35 Tahun 2002

tentangTugasPokokdanFungsiBadanPengelolaPajakdanRetribusi Daerah Kota Medan.

Republik Indonesia. 2009. Undang-Undang No. 16 Tahun 2009 tentang Pengertian Pajak Daerah

Republik Indonesia. 2000. Undang-Undang No. 34 Tahun 2000tentangDefinisiPajak.

Republik Indonesia. 2001. Undang-undangNomor 65 Tahun 2001 danUndang-UndangNo. 66.

RepublikIndonesia. 2016. Undang-Undang No. 8 Tahun 2016 TentangPeraturan Daerah Kota Medan

BAGAN ORGANISASI BADAN PENGELOLAAN PAJAK DAN RETRIBUSI DAERAH KOTA MEDAN

KELOMPOK JABATAN

KEPALA BADAN

BIDANG BEA PEROLEHAN HAK ATAS TANAH DAN BANGUNAN ,PAJAK BUMI

DAN BANGUNAN

BIDANG HOTEL, RESTORAN , DAN HIBURAN

BIDANG PARKIR,

REKLAME,PENERANGAN JALAN, AIR TANAH,SARANG BURUNG WALET ,

DAN RETRIBUSI

SUB BIDANG KEBERATAN DAN SENGKETA

SUB BIDANG KEBERATAN DAN SENGKETA

SUB BIDANG PARKIR, REKLAME,PENERANGAN JALAN, AIR

TANAH,SARANG BURUNG WALET , DAN RETRIBUSI

SUB BIDANG PERENCANAAN, PENGEMBANGAN, DAN EVALUASI PAJAK DAERAH

SUB BIDANG HUKUM DAN PUBLIKASI PAJAK DAN RETRIBUSI

DAERAH SUB BIDANG KEBERATAN DAN

SENGKETA

SUB BIDANG PEMBUKUAN DAN PELAPORAN

SUB BAGIAN PENYUSUNAN PROGRAM

SUB BIDANG PEMBUKUAN DAN PELAPORAN BEA PEROLEHAN HAK ATAS TANAH

DAN BANGUNAN DAN PAJAK BUMI

SUB BIDANG TEKNIS HOTEL, RESTORAN, DAN HIBURAN

Dokumen terkait