• Tidak ada hasil yang ditemukan

Bab II Studi Pustaka II-

II.3.2 Volume Lalu Lintas (Q)

Volume lalu lintas merupakan jumlah kendaraan yang melewati satu titik tertentu dari suatu segmen jalan selama waktu tertentu (Edward, 1978). Dinyatakan dalam satuan kendaraan atau satuan mobil penumpang (smp). Sedangkan volume lalu lintas rencana (VLHR) adalah perkiraan volume lalu lintas harian pada akhir tahun rencana lalu lintas dan dinyatakan dalam smp/hari. Satuan volume lalu lintas yang umum dipergunakan sehubungan dengan penentuan jumlah dan lebar lajur adalah :

a) Lalu Lintas Harian Rata-rata

Lalu lintas harian rata-rata adalah volume lalu lintas rata-rata dalam satu hari. Dari cara memperoleh data tersebut dikenal 2 jenis lalu lintas harian rata-

rata yaitu lalu lintas harian rata-rata tahunan (LHRT) dan lalu lintas harian rata-rata (LHR). LHRT adalah jumlah lalu lintas kendaraan rata-rata yang melewati satu jalur jalan selama 24 jam dan diperoleh dan diperoleh dari data selama satu tahun penuh.

3

Pada umumnya lalu lintas jalan raya terdiri dari campuran kendaraan berat dan kendaraan ringan, cepat atau lambat, motor atau tak bermotor, maka dalam hubungannya dengan kapasitas jalan (jumlah kendaraan maksimum yang melewati 1 titik/1 tempat dalam satuan waktu) mengakibatkan adanya pengaruh dari setiap jenis kendaraan tersebut terhadap keseluruhan arus lalu lintas. Pengaruh ini diperhitungkan dengan mengekivalenkan terhadap kendaraan standart.

b) Volume Jam Rencana

Volume jam perencanaan (VJP) adalah prakiraan volume lalu lintas pada jam sibuk rencana lalu lintas dan dinyatakan dalam smp/jam. Arus rencana bervariasi dari jam ke jam berikut dalam satu hari, oleh karena itu akan sesuai jika volume lalu lintas dalam 1 jam dipergunakan. Volume 1 jam yang dapat digunakan sebagai VJP haruslah sedemikian rupa sehingga :

• Volume tersebut tidak boleh terlalu sering terdapat pada distribusi arus lalu lintas setiap jam untuk periode satu tahun.

• Apabila terdapat volume lalu lintas per jam yang melebihi VJP, maka kelebihan tersebut tidak boleh mempunyai nilai yang terlalu besar.

• Volume tersebut tidak boleh mempunyai nilai yang sangat besar, sehingga akan menyebabkan jalan menjadi lenggang.

VJP dapat di hitung dengan rumus : VJP = LHRT x k Dimana :

Bab II Studi Pustaka

II-32

Laporan Tugas Akhir

Perencanaan Jembatan Ngampin pada Proyek Jalan Lingkar Ambarawa

Faktor K : Faktor konversi dari LHRT menjadi arus lalu lintas jam puncak

Tabel 2-3 Penentuan Faktor K

Lingkungan Jalan Jumlah Penduduk Kota

> 1 Juta 1 Juta Jalan didaerah komersial dan jalan arteri 0,07 – 0,08 0,08 – 0,10 Jalan di daerah pemukiman 0,08 – 0,09 0,09 – 0,12

Sumber : Manual Kapasitas Jalan Indonesia (MKJI), 1997

Arus dan Komposisi Lalu Lintas

Arus lalu lintas adalah jumlah kendaraan yang melalui suatu titik pada ruas jalan tertentu persatuan waktu, yang dinyatakan dalam kend/jam (Qkend) atau smp/jam (Qsmp). Pada MKJI 1997, nilai arus lintas (Q) mencerminkan komposisi lalu lintas. Semua nilai arus lalu lintas (per arah dan total) di konversikan menjadi satuan mobil penumpang (smp) dengan menggunakan ekivalensi mobil penumpang (emp) yang diturunkan secara empiris untuk tipe kendaraan sebagai berikut :

Tabel 2-4 Pembagian Tipe Kendaraan

Tipe Kendaraan Kode Karakteristik Kendaraan

Kendaraan ringan LV Kendaraan bermotor beroda empat dengan gandar berjarak 2-3 m (termasuk kendaraan penumpang, oplet, mikro bis, pick up dan truk kecil)

Kendaraan Berat Menengah MHV Kendaraan bermotor dengan dua gandar yang berjarak 3,5 – 5 m (termasuk bis kecil, truk dua as dengan enam roda)

Truk besar LT Truk tiga gandar dan truk kombinasi dengan jarak antar gandar < 3,5 m

Bis besar LB Bis dengan dua atau tiga gandar dengan jarak antar gandar 5-6 m

Sepeda motor MC Sepeda motor dengan dua atau tiga roda (meliputi sepeda motor dan kendaraan roda tiga)

Kendaraan Tak Bermotor UM Kendaraan bertenaga manusia atau hewan diatas roda (meliputi sepeda, becak, kereta kuda dan kereta dorong

c) Nilai Konversi Kendaraan

Dalam MKJI,1997 definisi dari emp (ekivalensi mobil penumpang) adalah faktor yang menunjukkan berbagai tipe kendaraan dibandingkan kendaraan ringan sehubungan dengan pengaruhnya terhadap kecepatan kendaraan ringan dalam arus lalu lintas (untuk mobil penumpang dan kendaraan ringan yang sasisnya mirip, emp = 1.0) dan definisi dari smp (satuan mobil penumpang) adalah satuan untuk arus lalu lintas dimana arus berbagai tipe kendaraan diubah menjadi arus kendaraan ringan (termasuk mobil penumpang) dengan menggunakan emp. Semua nilai arus lalu lintas (per arah dan total) diubah menjadi satuan mobil penumpang (smp) dengan mengunakan ekivalensi mobil penumpang (emp) yang diturunkan secara empiris untuk tipe kendaraan berikut (berdasarkan MKJI, 1997):

a) Kendaraan ringan (HV) meliputi mobil penumpang, minibus, pick up, truk kecil dan jeep atau kendaraan bermotor dua as beroda empat dengan jarak as 2.0 – 3.0 m (klasifikasi Bina Marga)

b) Kendaraan berat (HV) meliputi truck dan bus atau kendaraan bermotor dengan jarak as lebih dari 3.50 m, biasanya beroda lebih dari 4 (klasifikasi Bina Marga).

c) Sepeda motor (MC) merupakan kendaraan bermotor beroda dua atau tiga (klasifikasi Bina Marga).

Menentukan ekivalensi mobil penumpang (emp) berdasarkan MKJI, 1997, seperti yang terlihat pada tabel 2-5 berikut ini.

Tabel 2-5 emp untuk Jalan Perkotaan Tak Terbagi

Tipe jalan : Tak terbagi

Arus lalu lintas total dua arah

(kend/jam)

Emp HV

MC

Lebar jalur lalu lintas Wc (m) < 6 > 6 Dua jalur,takterbagi (2/2 UD) 0 > 1800 1.3 1.2 0.50 0.35 0.40 0.25 Empat jalur, tak terbagi

(4/2 UD) 0 > 1800 1.3 1.2 0.40 0.25 Sumber : MKJI,1997

Bab II Studi Pustaka

II-34

Laporan Tugas Akhir

Perencanaan Jembatan Ngampin pada Proyek Jalan Lingkar Ambarawa

Tabel 2-6 emp untuk Jalan Perkotaan Terbagi dan Satu Arah Tipe jalan :

Jalan satu arah dan jalan terbagi

Arus lalu lintas perlajur (kend/jam)

Emp

HV MC

Dua lajur, satu arah (2/1) dan Empat lajur terbagi (4/2 D)

0 > 1800 1.3 1.2 0.40 0.25 Tiga lajur satu arah (3/1) dan

Enam lajur terbagi (6/2 D)

0 > 1800 1.3 1.2 0.40 0.25 Sumber : MKJI, 1997 d) Kecepatan Rencana

Kecepatan rencana adalah kecepatan yang dipilih sebagai dasar perencanaan geometrik jalan yang memungkinkan kendaraan-kendaraan bergerak dengan aman dan nyaman dalam kondisi cuaca yang cerah, lalu lintas yang lenggang dan pengaruh samping jalan yang tidak berarti.

Faktor-faktor yang mempengaruhi penentuan besarnya kecepatan rencana adalah :

• Keadaan medan (Terrain)

Untuk menghemat biaya tentu saja perencanaan jalan sebaiknya disesuaikan dengan keadaan medan. Sebaliknya fungsi jalan seringkali menuntut perencanaan jalan tidak sesuai dengan kondisi medan dan sekitar, hal ini dapat menyebabkan tingginya volume pekerjaan tanah. Keseimbangan antara fungsi jalan dan keadaan medan akan menentukan biaya pembangunan jalan tersebut. Untuk jenis medan datar, kecepatan rencana lebih besar dari pada jenis medan perbukitan atau pegunungan dan kecepatan rencana jenis medan perbukitan lebih besar daripada jenis medan pegunungan. Klasifikasi menurut medan jalan untuk perencanaan geometrik dapat dilihat pada tabel di bawah ini.

Tabel 2-7 Klasifikasi menurut medan jalan

No Jenis Medan Notasi Kemiringan Medan 1 2 3 Datar Perbukitan Pegunungan D B G <3 3-25 >25

Sumber : Standart Perencanaan Geometrik untuk Jalan Perkotaan,1997 • Sifat dan Penggunaan Daerah

Kecepatan rencana yang diambil akan lebih besar untuk jalan luar kota daripada jalan perkotaan. Jalan dengan volume lalu lintas tinggi dapat direncanakan dengan kecepatan tinggi, karena penghematan biaya operasi kendaraan dan biaya lainnya dapat mengimbangi tambahan biaya akibat diperlukannya tambahan biaya untuk pembebasan tanah dan biaya konstruksinya. Tapi sebaliknya jalan dengan volume lalu lintas rendah tidak dapat direncanakan dengan kecepatan rendah, karena pengemudi memilih kecepatan bukan berdasarkan volume lalu lintas saja, tetapi juga berdasarkan batasan fisik, yaitu sifat kendaraan pemakai jalan dan kondisi jalan.

Tabel 2-8 Penentuan Kecepatan Rencana

Tipe Kelas Kecepatan Rencana (km/jam)

Tipe I Kelas 1 100 ; 80 Kelas 2 80 ; 60 Tipe II Kelas 1 60 Kelas 2 60;50 Kelas 3 40;30 Kelas 4 30;20

Sumber : Standar Perencanaan Geometrik untuk Jalan Perkotaan, 1992

Dokumen terkait