• Tidak ada hasil yang ditemukan

409 Volume 8 Nomor 3 September

mening- katkan kualitas dalam pembelajaran; (2) Manfaat bagi siswa : agar melalui penelitian ini diharapkan

siswa lebih terampil dalam

mengembangkan paragraf; (3) Manfaat bagi sekolah : hasil yang didapatkan dalam penelitian ini sangat membantu sekolah dalam rangka perbaikan proses pembelajaran.

KAJIAN TEORI

Istilah paragraf atau alinea sudah sering kita dengar bahkan pernah digunakan baik dalam percakapan maupun dalam praktik. Apalagi mereka yang sering menulis baik menulis surat, kertas kerja, laporan, dan skripsi pastilah mereka itu mengguna-kan paragraf dalam tulisannya terse-but. Menurut Barnett (dalam Tarigan, Dj.1881:10) bahwa paragraf merupa-kan seperangkat kalimat berkaitan erat satu sama lainnya. Kalimat-kalimat tersebut disusun menurut aturan tertentu sehingga makna yang dikandungnya dapat dibatasi, dikembangkan dan diperjelas. Hal ini senada dengan pendapat Sampurno (2003 : 23) bahwa paragraf ialah seperangkat kalimat yang berhubungan untuk mendukung satu topik. Paragraf dapat juga dikatakan karangan yang paling pendek (singkat). Kita akan kepayahan membaca sebuah tulisan atau buku, kalau tidak ada paragraf, karena kita seolah-olah dicambuk untuk membaca terus menerus

sampai selesai. Kita pun susah

mengosentrasikan pikiran dari suatu gagasan ke gagasan lain. Dengan adanya paragraf kita dapat berhenti sebentar, sehingga kita dapat memusatkan pikiran tentang gagasan yang terkandung dalam paragraf.Tarigan. Dj.(1881:11) mengemukakan bahwa fungsi paragraf ada beberapa macam, yakni (1) sebagai penampung dari sebagian kecil jalan pikiran atau ide pokok keseluruhan karangan; dan (2) memudahkan pemahaman jalan pikiran atau ide pokok pengarang. Selain itu Atar Semi (1990 : 55) mengemukakan beberapa fungsi paragraf yakni ; (1) memudahkan pengertian dan pemahaman dengan memisahkan satu topik atau tema dengan yang lain, karena setiap para-graf hanya boleh

mengandung satu unit pikiran; (2)

memisahkan dan menegaskan pengertian secara wajar dan formal, untuk memungkinkan pembaca berhenti lebih lama dari penghentian di akhir kalimat.

Fungsi paragraf (3) ialah memungkinkan pengarang melahirkan jalan pikirannya secara sistematis.

Paragraf yang baik selalu berisi ide pokok. Ide pokok itu merupakan bagian yang integral dari ide pokok yang terkandung dalam keseluruhan karangan. Melalui fragmen-fragmen ide pokok yang tersirat dalam tiap paragraf, maka akhirnya pembaca sampai kepada pemahaman total isi karangan. Dalam hal ini dapat dikatakan bahwa paragraf berfungsi sebagai (1) alat penyampai fragmen pikiran dan (2) penanda pikiran baru mulai berlangsung.

Paragraf yang berpola Umum –

Khusus, dengan atau tanpa transisi (berupa kata atau kalimat) terdiri atas bermacam-macam jenis (Tarigan,Dj. 1881:30). Beberapa di antaranya ialah : (1) Paragraf Deduksi yakni kalimat topik

dikembangkan dengan pemaparan

ataupun deskripsi sampai bagian- bagian kecil sehingga pengertian kalimat topik yang bersifat umum menjadi jelas. (2) Paragraf Induksi yakni para-graf dimulai dengan penjelasan bagian-bagian kongkret atau khusus yang dituangkan dalam

beberapa kalimat pengembang.

Berdasarkan penjelasan itu pengarang sampai kepada kesimpulan umum dinyatakan dengan kalimat topik pada bagian akhir paragraf. (3) Paragraf Campuran yakni Paragraf dapat dimulai dengan kalimat topik disusul kalimat pengembang dan diakhiri kalimat penegas. Menurut Atar Semi (1990 : 56) paragraf ada beberapa jenis, yakni (1) paragraf pembuka; (2) paragraf penghubung; (3) paragraf penutup; dan (4) paragraf topik. Paragraf pembuka, penghubung dan penutup disebut sebagai paragraf pembantu, karena ketiga paragraf itu berada di antara beberapa paragraf pokok dan berfungsi sebagai pembantu dan pendukung paragraf pokok

tersebut. Paragraf pembuka adalah

paragraf yang berada pada bagian awal suatu pokok bahasan yang sifat dan fungsinya mengantarkan pokok bahasan yang hendak disampaikan pada paragraf berikut, yaitu paragraf pokok.

Paragraf penghubung adalah

paragraf yang menuntun pembaca agar lancar mengikuti hubungan antara satu fase pembahasan topik kepada fase berikutnya. Paragraf penutup adalah paragraf yang isinya menyatakan bahwa diskusi tentang

410

PEDAGOGIKA Jurnal Ilmu Pendidikan

suatu topik berakhir, atau berupa

penyimpulan singkat tentang pokok

bahasan. Paragraf penutup ini sama dengan paragraf pembuka. Ia mungkin terdiri dari suatu paragraf, dan dapat pula terdiri dari beberapa paragraf.

Menurut Sampurno, Adi (2003:27) dalam sebuah komposisi biasanya terdapat tiga macam paragraf jika dilihat dari jenisnya, yakni : (1) paragraf pembuka, (2) paragraf isi, dan (3) paragraf penutup. Paragraf pembuka merupakan pembuka atau pengantar untuk sampai pada segala pembicaraan yang akan menyusul kemudian. Paragraf isi secara teknis, berada di antara paragraf pembuka dan paragraf penutup.

Dalam pengembangan paragraf,

kita harus menyajikan dan

mengorganisasikan gagasan menjadi

suatu paragraf yang memenuhi

persyaratan. Persyaratan itu ialah

kesatuan, kepaduan, dan kelengkapan (Akhadiah, 1989 : 148). (a) Kesatuan, yakni tiap paragraf hanya mengandung satu gagasan pokok atau satu topik. Fungsi paragraf ialah mengembangkan topik

tersebut. Oleh sebab itu, dalam

pengembangannya tidak boleh terdapat unsur-unsur yang sama sekali tidak berhubungan dengan topik atau gagasan pokok tersebut. (b) Kepaduan, yakni syarat kedua yang harus dipenuhi oleh sebuah paraghraf ialah koherensi atau

kepaduan. Suatu paragraf bukanlah

merupa-kan kumpulan atau tumpukan kalimat yang masing-masing berdiri sendiri atau terlepas, tetapi di bangun oleh kalimat-kalimat yang mempunyai hubungan timbal balik . Kepaduan dalam sebuah paragraf dibangun dengan memperhatikan : 1) Unsur kebahasaan yang digambarkan dengan : a) repetisi atau pengulangan kata kunci, b) kata ganti, c) kata transisi atau ungkapan penghubung, d) paralelisme. 2) Pemerincian dan urutan

isi paragraf. Bagaimana cara

mengembangkan pi-kiran utama menjadi sebuah paragraf dan bagaimana hubungan antara pikiran utama dengan pikiran-pikiran penjelas dapat dilihat dari urutan perinciannya. 3) Kelengkapan suatu paragraf dikatakan lengkap, jika berisi kalimat-kalimat penjelas yang cukup untuk menunjang kejelasan kalimat topik atau kalimat utama.

Pada hakikatnya keterampilan

mengembangkan paragraf merupakan

keterampilan penyusunan karangan setidak-tidaknya relevan dan menunjang penyusunan karangan yang baik pula. Cara mana yang paling baik dan tepat sangat sukar ditetapkan. Pemilihan cara sangat

tergantung kepada beberapa faktor,

diantaranya : (1) faktor usia siswa, (2) kesiapan siswa, (3) tingkat pendidikan siswa, (4) ba-han, (5) alat bantu, dan (6) situasi dan lain-lain

Teknik pengembangan paragraf

secara garis besar ada dua macam yang dikemukakan oleh Sampurno,Adi (2003 : 29). Pertama dengan menggunakan ilustrasi. Kalimat topik yang dipersiapkan dilukiskan dan digambarkan dengan kalimat-kalimat penjelas sehingga di depan pembaca tergambar dengan nyata apa yang dimaksud oleh penulis. Kedua, dengan analisis.

Menurut Tarigan, Dj.(1981 :19) sebagian besar kalimat-kalimat yang terdapat dalam suatu paragraf termasuk kalimat pengembang. Bila dimisalkan jumlah kalimat dalam suatu paragraf 12 buah, maka perbandingan jumlah kalimat sebagai berikut : (1) paragraf yang berunsur transisi, kalimat topik, kalimat pengembang dan penegas mempunyai porsi masing-masing satu untuk transisi, satu untuk kalimat topik dan satu untuk penegas, sisanya sembilan, itulah kalimat pengembang atau 75 %; (2) bila transisi tidak berupa kalimat maka

kalimat pengembangannya berjumlah

sepuluh atau 83,3 %; (3) bila paragraf tersebut tanpa transisi dan penegas maka jumlah kalimat pengembang sebelas buah atau 91,6 %.

Pada dasarnya, paragraf yang baik harus memenuhi tiga prinsip berikut (Nurchasanah, dkk. 1993:25) yakni : (1) menyajikan ide pokok; (2) menunjukkan

adanya keutuhan; (3) kohesif dan

koherensif. Dalam mengembangkan

paragraf, ada beberapa cara atau teknik yang dikemukakan oleh Akhadiah (1989:159) yakni : (1) secara alamiah; (2) klimaks dan antiklimaks; (3) umum - khusus; atau (4) khusus-umum.

Kooperatif berasal dari kata ko (sama) dan operatif (melakukan), dengan demikian kooperatif dapat diartikan melakukan suatu kegiatan bersamasama. Pembelajaran kooperatif pada dasarnya merupakan suatu kegiatan pembelajaran yang lebih mengutamakan aktifitas siswa yaitu siswa belajar

411