TC = TFC + TVC Keterangan:
5.7. Volume Penjualan Kakao
Berdasarkan Tabel 13 di atas maka dapat diketahui harga beli produk kakao pada tiap lembaga pemasaran yaitu harga beli tertinggi dilakukan oleh pedagang besar senilai Rp 20.500,00/kg untuk kakao jenis biji basah, sedangkan harga beli untuk produk kakao biji kering senilai Rp 29.500,00/kg. Harga beli ditingkat pedagang pengumpul untuk kakao biji basah senilai Rp 18.389,00/kg, untuk semua produk kakao yang di beli oleh pedagang pengumpul dari petani adalah kakao jenis biji basah.
5.7. Volume Penjualan Kakao
Tabel 14.Volume Penjualan Lembaga Pemasaran Kakao di Desa Bajiminasa Kecamatan Gantarangkeke Kabupaten Bantaeng.
Lembaga Pemasaran Jumlah Lembaga Pemasaran Volume Penjualan Kakao Biji Basah
(Ton/bulan)
Volume Penjualan Kakao Biji Kering
(Ton/bulan) Pedagang Pengumpul Pedagang Besar 9 2 1,591 - 1,044 22,000 Sumber : Analisis Data Primer, 2015.
Dari Tabel 14 tersebut di atas dapat diketahui, bahwa volume penjualan oleh pedagang besar kakao jenis biji kering yaitu 22,000 ton/bulan, besarnya volume penjualan juga dipengaruhi oleh besarnya modal yang dimiliki oleh pedagang besar, dan semua produk kakao yang dijual oleh pedagang besar adalah jenis biji kering karena produk kakao biji basah yang di beli sebelumnya dilakukan pengeringan terlebih dahulu. Selanjutnya volume penjualan kakao jenis biji kering oleh pedagang pengumpul yaitu 1,044 ton/bulan sedangkan untuk kakao jenis biji basah yaitu 1,591 ton/bulan.
51 5.8. Harga Jual Produk Kakao
Tabel 15. Harga Jual Lembaga Pemasaran Kakao di Desa Bajiminasa Kecamatan Gantarangkeke Kabupaten Bantaeng.
Lembaga Pemasaran Jumlah Lembaga Pemasaran Harga Jual Kakao Biji Basah
(Rp/kg)
Harga Jual Kakao Biji Kering
(Rp/kg) Pedagang Pengumpul Pedagang Besar 9 2 20.444,00 - 29.833,00 32.200,00 Sumber : Analisis Data Primer, 2015.
Berdasarkan Tabel 15 di atas maka dapat di ketahui harga jual produk kakao tiap lembaga pemasaran yaitu harga jual tertinggi oleh pedagang besar kakao jenis biji kering seniai Rp 32.200,00/kg semua produk kakao yang dijual oleh pedagang besar adalah jenis biji kering, kemudian harga jual produk kakao oleh pedagang pengumpul kakao jenis biji kering senilai Rp 29.833,00/kg untuk harga jual kakao jenis biji basah senilai Rp 20.444,00/kg. Tingginya selisih harga jual produk kakao jenis biji basah dengan kakao biji kering dipengaruhi oleh proses pengolahan yang dilakukan, selisih harga tersebut belum termasuk biaya yang di keluarkan selama proses pengolahan.
5.9. Margin Pemasaran Kakao
Margin pemasaran merupakan selisih harga dari beberapa tingkat rantai pemasaran, dalam pemasaran kakao terdapat dua jenis tingkat rantai pemasaran yaitu pedagang pengumpul dan pedagang besar. Untuk mengetahui lebih lanjut tentang margin pemasaran kakao di Desa Bajiminasa Kecamatan Gantarangkeke Kabupaten Bantaeng dapat dilihat pada tabel 16 berikut:
52 Tabel 16. Margin Pemasaran Lembaga Pemasaran Kakao di Desa Bajminasa
Kecamatan Gantarangkeke Kabupaten Bantaeng. Lembaga Pemasaran Jumlah Lembaga Pemasaran Margin Pemasaran Kakao Biji Basah
(Rp)
Margin Pemasaran Kakao Biji Kering
(Rp) Pedagang Pengumpul Pedagang Besar 9 2 2.055,00 - - 2.700,00 Sumber : Analisis Data Primer, 2015.
Berdasarkan Tabel 16 terlihat bahwa margin atau selisih harga pemasaran kakao tertinggi berada pada tingkat pedagang besar untuk kakao jenis biji kering sebesar Rp 2.700,00 tingginya total margin ini dipengaruhi oleh jalur pemasaran kakao yang bersangkutan sedangkan margin pemasaran kakao selanjutnya berada pada tingkat pedagang pengumpul untuk kakao jenis biji basah sebesar Rp 2.055,00.
53
VI. KESIMPULAN DAN SARAN
6.1 Kesimpulan
Berdasarkan hasil analisis data pada penelitian ini, maka diperoleh kesimpulan sebagai berikut:
1. Pendapatan usahatani petani kakao rata-rata per hektar sebesar Rp 9.519.437,50.
2. Terdapat dua agen pemasaran yang digunakan dalam proses pemasaran kakao yaitu : pedagang pengumpul dan pedagang besar.
3. Margin pemasaran menunjukkan selisih harga dari dua tingkat rantai pemasaran, maka total margin pemasaran kakao oleh pedagang besar untuk kakao jenis biji kering sebesar Rp 2.700,00 tingginya total margin ini dipengaruhi oleh jalur pemasaran kakao yang bersangkutan sedangkan margin pemasaran kakao selanjutnya berada pada tingkat pedagang pengumpul untuk kakao jenis biji basah sebesar Rp 2.055,00.
6.2 Saran
1. Pendapatan usahatani kakao dapat ditingkatkan bahkan dapat memperluas areal penanaman dengan efisiensi biaya untuk mendapatkan hasil yang maksimal.
2. Perlu adanya inovasi baru terkait pengelolaan usahatani kakao baik dari segi perawatan maupun penanganan pasca panen sehingga mampu meningkatkan produksi dan kualitas produk kakao.
54 3. Diharapkan kepada pemerintah dan setiap lembaga pemasaran yang terlibat dalam pemasaran kakao untuk berperan aktif guna terciptanya kalancaran dalam penyaluran kakao mulai dari produsen hingga ke konsumen industri.
55
DAFTAR PUSTAKA
Amran.2009.Studi Evaluasi Gerakan Nasional Peningkatan Produksi Dan Mutu Kakao (Gernas Kakao) di Kabupaten Bantaeng.Jurnal Penelitian. Bantaeng.
Arikunto.2006.Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Praktik.Jakarta: Riheka Cipta.
Baihaqi.2014.Analisis Rantai Nilai Tambah Kakao Petani di Kecamatan Paya Bakong dan Geurudong Pase Kabupaten Aceh Utara.Jurnal Penelitian Agrisep Volume (15) No.2 2014.Universitas Syiah Kuala, Banda Aceh. BPS Sulawesi Selatan, 2012. Sulawesi Selatan Dalam Angka. Badan Pusat
Statistik Sulawesi Selatan. Makassar.
Disbun Sulsel, 2009. Gerakan Peningkatan Produksi dan Mutu kakao Nasional Sulawesi Selatan Tahun 2009 -2011. Disampaikan pada Acara Diskusi dengan Komisi Pengawas Persaingan Usaha Republik Indonesia Kantor Perwakilan daerah Makassar, 27 Agustus 2009.
Firdaus.2010.Manajemen Agribisnis.Jakarta: BumiAksara.
Hanafiah.1995. Tataniaga Hasil Perikanan.Jakarta: Universitas Indonesia.
James J. Spillane.1995.Komoditi Kakao ( Peranannya Dalam Perekonomian Indonesia).Yogyakarta: Kanisius.
Kotler P, Amstrong G.2008.Prinsip Prinsip Pemasaran.Edisi 12 Jilid 1.Jakarta: Erlangga.
Kotler dan Keller.2007.Manajemen pemasaran.Jakarta: PT Macanan Jaya Cemerlang.
Kusumawati.2013.Rantai Nilai (Value Chain) Agribisnis Labu di Kecamatan Getasan Kabupaten Semarang.Skripsi. Fakultas Ekonomi dan Bisnis,Universitas Diponegoro,Semarang.
Mursyrid.2003.Manajemen Pemasaran.Cetakan 3.Jakarta.
Soekartawi.2006.Analisis Usaha Tani.Universitas Indonesia UI Press Jakarta. Sugiyono.2011.Metode Penelitian Administrasi.Bandung: CV Alfabeta.
56
Sunanto.1992.Cokelat (Budidaya,Pengolahan Hasil,dan Aspek
Ekonominya).Yogyakarta: Kanisius.
Swastha.2007.Manajemen Pemasaran dan Pemasaran Jasa.edisi revisi.Bandung: CV Alfabeta.
Lampiran 1. Kuesioner
DAFTAR KUESIONER (Untuk Petani)
‘’Analisis Rantai Nilai Komoditas Kakao di Kabupaten Bantaeng’’ A. IDENTITAS RESPONDEN
1. NamaResponden : ...………...
2. Umur : ..…..…….. tahun
3. Pendidikan Terakhir : TT SD / SD / SLTP / SLTA / Diploma / Sarjana 4. Pekerjaan Pokok : ...………... 5. Pekerjaan Sampingan : ...………... 6. Pengalaman Berusahatani : ..…..…….. tahun
7. Luas Lahan Usahatani : ... ha 8. Jumlah tanggungan keluarga : ..…..…….. orang B. BIAYA USAHATANI KAKAO
1.BiayaVariabel (SaranaProduksi dan TenagaKerja
No Uraian Satuan (unit) Jumlah (unit) Harga (Rp/unit) Banyaknya/ Musim Nilai (RP) 1 Pemupukan a. pupuk ... Kg b. pupuk ... Kg c. pupuk ... Kg d. TK Luar Keluarga HKO e. TK Dalam Keluarga HKO
2 Pemangkasan
a. TK Luar Keluarga HKO b. TK Dalam Keluarga HKO
3 Pengendalian OPT
a. Peptisida l/kg
b. ... l/kg c. TK Luar Keluarga HKO d. TK Dalam Keluarga HKO
4. Panen
a. TK Luar Keluarga HKO b. TK Dalam Keluarga HKO
5. Pasca panen
a. Transportasi HKO
b. Pengeringan/penjemuran HKO c.
2. BiayaTetap: 2.1. Penyusutan Alat
Nama alat Harga Beli (Rp/unit) Jumlah (unit) Nilai (Rp) Umur Ekonomis (tahun) Penyusutan (Rp/musim) Total Penyusutan (RP) 1. Parang 2. Gerobak 3. Pompa air 4. Tombak 5. Ember/Baskom 6. Karung 7. Gunting pangkas 2.2.Pengeluaran lain-lain
a. Iuran kelompok tani : Rp ... /musim b. Pajak ... : Rp ... /musim c. ... : Rp... /musim C. PENERIMAAN USAHATANI KAKAO
Komoditas Kakao Jumlah
(kg)
Harga (Rp/kg)
Nilai (Rp) Kakao biji basah
Kakao biji kering
D. PEMASARAN KAKAO