• Tidak ada hasil yang ditemukan

METODE PENELITIAN

C. Voter’s Turn Out

Dari 200 responden, hampir seluruhnya responden tercatat sebagai pemilih dan hanya 1 persen saja responden yang tidak terdaftar sebagai pemilih dalam pemilu 2014. Sebagian besar responden yakni 55,6 persen responden mengatakan mengetahui dirinya terdaftar sebagai pemilih karena mendapatkan surat undangan untuk datang ke Tempat Pemungutan Suara (TPS) dari pihak penyelenggara. Klian banjar kembali menjadi titik penting di mana 34,8 persen responden mengetahui dirinya terdaftar karena informasi yang disampaikan oleh Klian Banjar. Data yang cukup menarik adalah ternyata terdapat 3 persen responden yang cukup aktif untuk melihat apakah dirinya terpilih dari daftar pemilih tetap dan daftar pemilih sementara. Selengkapnya pada gambar di bawah ini:

Gambar 4.11 Sumber Informasi Responden Terdaftar dalam DPT

Bagi responden yang tidak terdaftar, ternyata peran dari klian banjar kembali menjadi titik penting, di mana 71,9 persen responden yang tidak terdaftar menyatakan mencari klian banjar mereka untuk mendaftarkan diri. Namun terdapat 20,6 persen responden yang tidak

terdaftar menyatakan tidak melakukan apapun untuk mendaftarkan diri alias diam saja.

Kelompok ini adalah kelompok yang pasif sehingga diperlukan pendekatan yang intensif agar kelompok ini tetap tidak kehilangan hak pilihnya. Selengkapnya pada gambar di bawah ini:

Gambar 4.12 Tindakan yang Dilakukan Saat Tidak Terdaftar dalam DPT pada Pemilu 2014

Dari 200 responden, 98 persen responden mengaku mendapatkan undangan memilih ke TPS dari pihak penyelenggara. Di mana 97 persen responden mengatakan menggunakan hak pilihnya dalam pemilu legislative 2015 lalu, dan hanya 3 persen responden yang menyatakan tidak menggunakan hak pilihnya. Hal ini menunjukkan tingginya tidak kesadaran dan tingkat partisipasi pemilih dalam pemilu legislatif tahun 2014 lalu di Denpasar.

Selengkapnya pada dua gambar di bawah ini:

Gambar 4.13 Pemilih yang Mendapatkan Undangan Memilih

Gambar 4.14 Penggunaan hak pilih dalam Pemilu legislatif 2014

Tingginya tingkat partisipasi pemilih dalam Pileg 2014 lalu merupakan salah satu indikator dari kesadaran responden akan makna dari pemilu itu sendiri. Sebesar 52,3 persen responden yang memilih menyatakan bahwa memilih itu adalah sebuah kewajiban. Kemudian 42,1 persen responden yang memilih menyatakan bahwa memilih itu penting. Namun masih terdapat responden yang ternyata memilih bukan berdasarkan kesadaran namun karena diajak dan mengikuti trend saja. Selengkapnya dalam gambar di bawah ini:

Gambar 4.15 Alasan Responden Menggunakan Hak Pilihnya

Bagi responden yang tidak menggunakan hak pilih, terdapat beragam alasan, sebagian besar atau 42,3 persen responden yang tidak memilih mengatakan karena pada hari pemilihan mereka harus bekerja. Hal ini menunjukkan bahwa masih terdapat perusahaan yang kurang mendukung agar warga negara menggunakan hak pilihnya. Data yang menarik adalah terdapat 11,5 persen responden yang menyatakan tidak memilih karena bagi mereka golput adalah sebuah pilihan. Selengkapnya dalam grafik di bawah ini:

Gambar 4.16 Alasan Tidak Menggunakan Hak Pilih

Perilaku pemilih pun dapat dilihat pada pola perilakunya pada hari pemilihan. Data yang cukup menarik adalah sebagian besar responden yakni 40,9 persen responden menyatakan datang ke TPS saat hari pencoblosan antara pukul delapan hingga pukul Sembilan pagi. Kemudian 27,8 persen responden lainnya mengatakan akan datang ke TPS antara pukul Sembilan hingga pukul sepuluh pagi. Data ini merupakan masukan bagi pihak penyelenggara bahwa jam tersebut adalah jam-jam di mana TPS akan dibanjiri oleh pemilih. Selengkapnya pada gambar di bawah ini:

Gambar 4.17 Waktu Kedatangan Pemilih di TPS pada Pemilu 2014

Data lain yang cukup menarik adalah, dari 200 responden 77 persen responden mengaku datang ke TPS bersama keluarga mereka, dan hanya 22 persen responden yang menyatakan datang ke TPS seorang diri. Data ini menunjukkan bahwa peran ajakan keluarga menjadi sangat penting dalam meningkatkan partisipasi seseorang dalam pemilu. Data selengkapnya pada gambar di bawah ini:

Gambar 4.18 Dengan Siapa Datang ke TPS

Perilaku pemilih pun dapat dilihat dengan indikator yang lainnya pula seperti kapan pemilih menentukan pilihannya. Dari 200 responden di Kota Denpasar, 34 persen responden ternyata baru menentukan pilihannya pada masa kampanye, 26,5 persen responden menentukan pilihannya jauh sebelum hari pemilihan. Bahkan ada 19,5 persen responden yang menyatakan menentukan pilihannya pada hari pemilihan dan 10 persen responden menyatakan menentukan pilihannya pada saat di bilik suara. Data selengkapnya terdapat dalam diagram batang di bawah ini:

Gambar 4.19 Waktu Pemilih Menentukan Pilihannya

Data di atas sangat menarik bagi banyak pihak. Artinya lebih dari seperempat pemilih di Denpasar yang berkarakteristik perkotaan masih menentukan pilihan politiknya secara impulsif pada hari pemilihan bahkan saat di bilik suara. Artinya ada pemilih yang datang ke TPS tanpa tahu siapa yang akan dipilihnya. Selain itu, kegiatan kampanye juga sangat mempengaruhi pandangan pemilih tentang kandidat.

Tingginya jumlah pemilih yang menentukan pilihan sebelum hari pemilihan dikarenakan banyak hal. Salah satunya adalah dari 200 responden, 64 persen responden menyatakan mereka mencari informasi terlebih dahulu akan siapa yang akan mereka pilih atau siapa yang mencalonkan diri. Angka ini tergolong tinggi sebagai indikator bahwa responden sudah mulai memiliki kesadaran politik. Selengkapnya pada gambar di bawah ini:

Gambar 4.20 Apakah Pemilih Mencari Informasi Mengenai Caleg yang Akan Dipilih

Setelah responden mencari informasi mengenai calon, ternyata terdapat beberapa faktor terkait informasi yang dicari tadi yang mempengaruhi dan tidak mempengaruhi pilihan responden. Faktor yang mempengaruhi pilihan responden di antaranya adalah faktor profesi, pendidikan, program kerja dan loyalitas kandidat. Sedangkan faktor yang menurut responden tidak mempengaruhi pilihan mereka adalah usia, wilayah asal, latar belakang puri, partai pengusung dan soroh/dadia. Angka-angka ini mengungkapkan bahwa pemilih di Kota Denpasar termasuk pemiih yang rasional. Selengkapnya pada data dalam tabel di bawah ini:

Tabel 4.1 Faktor yang Mempengaruhi Pilihan Pemilih FAKTOR YANG

Dokumen terkait