BAB III KONSEPSI KHITAN
C. Waktu Pelaksanaan Khitan
Pendapat para ulama tentang waktu pelaksanaan khitan terbagi atas tiga yaitu wajib, sunnah dan makruh:
1. Waktu Wajib
Menurut pendapat Syekh Abu Bakar bin Muhammad Satha ad-Dimyanti
dalam kitab I’anatul Thalibin bahwa khitan diwajibkan bagi laik-laki yang sudah
58M. Asrorun Ni’man Sholeh, Fatwah MUI Tentang Khitan Perempuan Vol. 12 no. 2
baliq, berakal dan berfisik sehat.59 Pandapat ini menunjukkan wajibnya khitan pada saat usia baliq, berakal sehat bagi laki-laki. Meskipun usianya sudah baliq dan berakal sehat tapi memiliki fisik tidak sehat maka baginya tidak wajib berkhitan.
Dari kalangan mazhab Syafi’i berpendapat bahwa waktu khitan sudah aqil
baliq, karena sebelum aqil baliq seorang anak tidak wajib menjalangkan syariat agama.60 Kewajiban menjalankan syariat agama Islam saat usia baliq maka baginya wajib menjalankan ibadah seperti shalat puasa dan sebagainya.
Usia baliq adalah batasan usia taklif (pembebenan hukum syar’i) sejak saat itulah seorang tergolong apa yang diwajibkan syariat kepada muslim maka wajib dilaksanakannya dan apa yang diharam wajib baginya untuk menjauhinya. Satu hal
yang diwajibkan syara’ pada anak yang berusia aqil baliq adalah menunaikan shalat
lima waktu, sedangkan khitan merupakan syarat sahnya shalat ketika anak menginjak usia baliq maka wajib dikhitan agar kewajiban ibadahnya dapat ditunaikan.61
2. Waktu Sunnah
Tentang waktu yang disunnahkan menurut pendapat mayoritas ulama menyepakati bahwa waktu yang dimaksud sebelum aqil baligh, kategori sunnah dalam khitan yang ditemukan rentang waktu atau masa persiapan saat usia mukallaf.
Sementara pengikut ulama Imam Abu Hanifa dan Imam Malik, menetapkan bahwa waktu khitan yang disunnahkan ialah pada masa kanak-kanak yaitu pada usia 9-10 tahun atau anak sudah mampu menahan rasa sakit saat dikhitan.62
59Abu Bakar bin Muhammad Satha ad-Dimyati al-Bakri. I’natul at-Thalibin t.d, h. 283.
60Ahmad Ma’ruf Asrari dkk, Khitan dan Aqiqah: Upaya Pembentukan Generasi Qur’an (Cet. II Surabaya: Al-Mifta, 1998), h.11.
61Nela Kamala, Tinjauan Hukum Islam dan Kesehatan Terhadap Khitan laki-laki dan
Perempuan Skripsi (Jakarta: Fak. Syariah dan Hukum UIN Syarif Hidayatullah) h. 22.
Imam Asy-Sayfi’i menekankan keutamaan khitan ketika anak masih kecil. Jika kita merujuk kepada hadist Rasulullah SAW, saat mengkhitan cucunya Hasan dan Husen yaitu pada usia bayi baru berusia tujuh hari. Sebagaimana disebutkan dalam hadist Nabi saw artinya:
Dari jabir , sesungguhnya Nabi saw “mengkhitan Hasan dan Husen ketika berusia tujuh hari dari kelahiran’’. (HR. al Hakim).63
Kembali kepada waktu sunnah pelaksanaan khitan syeikh Zainuddin bin Abdul Aziz al-Malibari memberikan keterangan yang flaksibel adalah sebagai berikut:
a. Pelaksanaan khitan di sunnahkan pada usia bayi 7 hari setelah kelahiran
mengikuti jejak Rasul (ittiba’ Rasul).
b. Jika pada usia 7 hari sebelum terlaksanakan, maka disunnahkan pada usia 40 hari setelah kelahiran.
c. Jika pada usia 40 hari belum terlaksana maka disunnahkan pada saat usia 7 tahun, karena pada usia ini anak harus dilatih melaksanakan shalat.64
3. Waktu Makru
Waktu yang di makru pelaksanaan khitan adalah ketika kondisi anak tidak memungkinkan untuk dikhitan karena fisik anak tersebut lemah sehingga tidak mampu menaggung rasa sakit pada saat berkhitan. Waktu yang dimaksud adalah saat usia bayi kurang dari 7 hari.
63Abu Bakar Ahmad bin Hasan bin Ali al-Baihaqi, Sunnah al-Qubra (Beirut: Darl al-Fikr, t.th) juz XIII, h. 81.
64M. Nipan Abdul Halim, Mendidik Kesalehan Anak akikah, Pemberian Nama, Khitan dan
Adapun menurut keterangan yang lain adalah pada waktu anak berusia kurang dari tujuh hari semenjak kelahiran, di makrukkan berkhitan karena dengan alasan selain fisiknya lemah ini juga di menyerupai perbuatan orang Yahudi.65
Tidak ada waktu yang ditentukan, karena setiap masyarakat punya kebiasaan yang berbeda-beda, dalam prakteknya ditemukan sangat berpariasi, biasanya tergantung pada adat dan kebudayaan masyarakat setempat. Umumnya sunat perempuan dilakukan pada saat anak perempuan masih dalam usia bayi, yaitu ketika berusia 7-10 tahun. Akan tetapi di beberapa negara, seperti Somalia sunat perempuan sering kali dilakukan pada usia 17-60 tahun. Sedangkat di Etiopia usia sunat perempuan biasanya dilakukan pada kisaran usia yang lebih tua antara 30 dan 52 tahun. Umumnya yang paling banyak dilakukan adalah ketika anak perempua masih balita, yakni antara 4-7 tahun. Sementara di Indonesia, umumnya sunat dilakukan saat anak perempuan masih bayi, yaitu pada hari ke tujuh setelah kelahiran, dan biasanya dilakukan oleh dukun bayi dan tenaga medis.66
Bila dilihat umur saat anak disunat bahwa sebagaian besar anak perempuan disunat pada saat berumur 1-3 bulan, hal ini berbeda dengan hasil penelitian Yasin tahun 2013 berdasarkan hasil penelitian wanita kurdi Irak bahwa sunat perempuan banyak dilakukan pada saat anak berumur 4-7 tahun, semetara hasil penelitian di pedesaan Tanzania menyebutkan bahwa rata-rata anak perempuan disunat saat berumur 9,5 tahun.67
65M. Nipan Abdul Halim, h. 123.
66Musdah Mulia, “Re [UIN Syarif Hidayatullah] Sunat perempuan Dalam Perspektif Islam”,
30 April 2014. [email protected] ( 7 Maret 2018).
67Zainul Khaqiqi, dkk. Determinan Orang Tua Dalam Perilaku Sunat Anak Perempuan Di
Prosen khitan bagi bayi berjenis kelamin perempuan yang baru lahir bukanlah hal tabu di wilayah nusantara khususnya di darah pedalaman pulau Madura. Proses sakral tersebut merupakan bentuk perwujudan proteksi dari orang tua, dan masyarakat yang terakumulasi dalam konsep tradisi untuk tujuan agar anak perempuan kelak ketika besar tidak binal (nakal) dan juga kengukuti tuntunan agama. Hasil penelitian Rahman Ida terhadap perempuan Madura yang dikhitan bahwa terdapat beberapa faktor yang masih eksisnya tradisi khitan perempuan, satu faktor yang paling dominan adalah kepercayaan masyarakat Madura yang sangat kuat bahwa dalam proses menjadi muslim laki-laki dan perempuan harus dikhitan Mereka yang belum di khitan bukanlah orang muslim.68