• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

B. Hasil Temuan Peneliti

7. Bimbingan Lanjut

menyesuaikan kondisi dan kebijakan dari masing-masing program (Ichwan dan Pradana 2022).

Fokus penelitian disini adalah untuk mengetahui bagaimana proses rehabilitasi sosial orang dengan gangguan jiwa di Rumah Pelayanan Sosial Disabilitas Mental Martani Cilacap. Gangguan jiwa ialah gangguan berpikiran, perilaku, dan perasaan yang tidak dapat dikendalikan sehingga membuat adanya teknan dalam diri individu hingga individu tersebut tidak bisa mengelola tekanan sehingga menyebabkan penderitaan dan hambatan dalam menjalankan fungsinya dalam kehidupan. Individu yang mengalami gangguan jiwa akan cenderung mengalami kecemasan yang berlebih sehingga mengganggu aktivitas sehari-hari, sering halusinasi, kesulitan dalam mengendalikan emosinya, munculnya perilaku agresif, kekacauan dalam berpikir serta mengasingkan diri dari orang lain. Maka perlu adanya tempat rehabilitasi sosial untuk memulihkan keberfungsian sosialnya.

Rehabilitasi sosial ialah proses untuk mengembalikan keberfungsian seseorang yang awalnya individu tersebut baik karena ada sesuatu hal sehingga menjadikan tidak dapat berfungsi lagi sehingga perlu adanya bimbingan, petunjuk dan dorongan dari para ahli agar proses rehabilitasi ini bisa tercapai dengan baik.

Adapun proses rehabilitasi yang dijalankan, yaitu dari pendekatan awal, pengungkapan dan pemecahan masalah, penyusunan rencana pemecahan masalah, pemecahan masalah, resosialisasi, terminasi dan bimbingan lanjutan. Pendekatan awal, kegiatan yang mengawali proses dari rehabilitasi sosial itu sendiri, seperti orientasi dan konsultasi, indentifikasi, motivasi serta seleksi. Kedua tahap pengungkapan dan

pemecahan masalah yaitu mengungkap dan menelaah masalah yang dialami penyandang disabilitas serta potensi dan sumber yang memiliki berkaitan dengan pengumpulan data dan informasi, analisis dan temu bahas kasus. Tahap ketiga penyusunan rencana pemecahan masalah yaitu tahapan membuat sekala prioritas penerima layanan, menentukan jenis layanan dan rujukan sesuai dengan kebutuhan penerima manfaat, serta membuat kesepakatan tentang rencana pelaksanaan menyelesaikan masalah. Tahap empat pemecahan masalah yaitu pengembangan rencana pemecahan masalah dalam mengatasi masalah yang ditangani oleh penerima manfaa. Kelima tahap Resosialisasi, tahap resosialisasi ini mempersiapkan keluarga dan masyarakat untuk menerima kembali penerima manfaat agar mendapat kesempatan berpartisipasi didalam keluarga maupun dalam kehidupan bermasyarakat. Keenam tahap terminasi merupakan tahap berakhirnya pelayanan, terminasi dapat dilakukan pada saat tujuan rehabilitasi sosial telah tercapai. Dan tahap terakhir yaitu bimbingan lanjut yaitu kegiatan memantau dan evaluasi pasca pelayanan.

Setelah mendapatkan penanganan orang dengan gangguan jiwa (ODGJ) diharapkan bisa hidup secara mandiri, dapat mempertanggung jawabkan atas dirinya serta memiliki ketrampilan yang nantinya menjadikan individu lebih produktif sehingga menimbulkan kepercayaan diri dan dapat kembali serta berinteraksi dengan lingkungan.

32

Proses penyusunan proposal dilaksanakan pada akhir Maret 2022 hingga pada saat pengajuan sidang proposal dan munaqosah/ skripsi dilaksanakan.

C. Subjek Penelatian

Teknik pengambilan sampling ialah teknik pengambilan sampel.

Berbagai teknik digunakan ketika memutuskan sampel mana yang akan digunakan dalam penelitian. Penelitian ini menggunakan purposive sampling, yaitu teknik pengambilan sampel sumber data dengan

pertimbangan tertentu. Pertimbangan tertentu siapa yang diyakini paling tahu terkait data penelitian yang diharapkan peneliti. (Sugiyono 2019).

Alasan menggunakan teknik purposive sampling adalah teknik yang digunakan dalam penelitian dimana sampel memerlukan kriteria khusus agar sampel yang dikumpulkan nantinya dapat memenuhi tujuan peneliti dan memecahkan masalah peneliti.

Dalam penelitian ini subjek penelitian harus memiliki karakteria seperti:

1. Orang yang menjalankan proses rehabilitasi sosia. Alasannya karena orang yang ahli dalam bidang tersebut maka akan lebih mengetahui proses pelaksanaan rehabilitasi sosial, sehingga data yang di dapatkan akan lebih akurat.

2. Sudah berkerja minimal 2 tahun. Alasanya karena orang yang berkerja dan menekuni proses rehabilitasi sosial minimal 2 tahun akan lebih menguasai dan memahami langkah-langkah ataupun proses rehabilitasi dibandingkan yang berkerja kurang dari 2 tahun, sehingga data yang didapat akan lebih akurat.

Subjek penelitian ini adalah pekerja sosial dan staf yang menjalankan program rehabilitasi sosial ODGJ di Rumah Pelayanan Sosial Disambilitas Mental “Martani” Cilacap.

D. Teknik Pengumpulan Data

Teknik pengumpulan data merupakan langkah awal dalam penelitian dengan tujuan memperoleh data, maka berbagai teknik bisa digunakan untuk melakukan pengumpulan data, sehingga peneliti berfokus pada teknik pengumpulan data sebagai berikut:

1. Wawancara /Interview

Wawancara, proses tanya jawab antara dua orang untuk bertukar informasi dan ide melalui tanya jawab. Menurut (Sugiyono 2019) Teknik wawancara dibagi menjadi tiga, wawancara terstruktur (structured interview), wawancara semi terstruktur (semistructure interview), dan

wawancara tak berstruktur (unstructured interview).

Adapun teknik yang dipakai peneliti yaitu wawancara semi terstruktur.

Menurut (Sugiyono 2019) wawancara semi struktur ialah wawancara yang termasuk dalam kategori in-dept interview, dimana pelaksanaanya lebih bebas. Wawancara semi struktural mempunyai tujuan untuk menemukan permasalahan secara lebih terbuka, dimana pihak yang diajak wawancara diminta pendapat, dan ide-idenya. Artinya peneliti bisa menambah pertanyaan selain yang ada pada pedoman wawancara pada saat waktu pelaksanaannya.

Dengan adanya wawancara diharapkan peneliti dapat memperoleh informasi secara mendalam mengenai gambaran proses rehabilitasi sosial di Rumah Pelayanan Sosial Disabilitas Mental “Martani” Cilacap.

2. Observasi

Menurut Sugiyono (2019) Observasi ialah suatu kegiatan pemuatan penelitian pada subjek peneliti. Ditinjauh dari proses pengumpulan data, observasi dibagi menjadi dua, yaitu partisipan dan non-partisipan.

Penelitian ini menggunakan metode observasi non partisipan, merupakan pengamatan yang dilakukan penulis dengan mengambil jarak atau menjauhkan diri dari keterlibatan peneliti dalam aktivitas subjek yang diamati.

Observasi ini berfokus pada proses rehabilitasi sosial di Rumah Pelayanan Sosial Disabilitas Mental “Martani” Cilacap dengan tujuan untuk menyajikan gambaran proses rehabilitasi sosial tersebut. Observasi yang dilakukan peneliti menggunakan metode pencatatan dengan Anedotal record (catatan anekdot) yaitu metode pencatatan mengenai suatu pristiwa yang dianggap penting, baik peristiwa individu maupun kelompok. Ciri-ciri pencatatan ini menerankan tanggal, tempat dan waktu berlangsungnya kejadian tertenu dan siapa yang menjadi observer, melukiskan peristiwa yang faktual dan objektif dan harus segera dibuat agar tidak kehilangan informasi.

3. Dokumentasi

Menurut (Sugiyono 2019) Dokumentasi ialah cara yang digunakan untuk mendapatkan data atau informasi dalam bentuk buku, arsip, dokumen, tulisan, angka, maupun gambar yang berupa laporan serta keterangan yang dapat digunakan sebagai pendukung dalam penelitian.

Dokumen dalam gambar seperti foto, gambar hidup, sketsa, dan lain-lain.

Dokumen berupa karya seni, seperti gambar, patung, film dan lain-lain.

Dokumen tertulis seperti catatan harian, kisah hidup, cerita, biografi, peraturan, kebijakan. Teknik dokumentasi yang dilakukan peneliti ialah dokumentasi harian, foto-foto dan dokumen yang memperkuat data peneliti.

E. Teknik Keabsahan Data

Penelitian ini menggunakan metode triangulasi, yakni teknik validasi data, untuk membandingkan hasil wawancara dengan subjek penelitian. Triangulasi dalam pengujian kredibilitasi didefinisikan sebagai pengecekan data dari banyak sumber dengan berbagai cara dan waktu.

Penelitian ini menggunakan triangulasi teknik untuk menguji kredibilitas data dilakukan dengan cara mengecek data dari sumber yang sama dengan teknik yang berbeda. Data diperoleh melalui wawancara, lalu dicek dengan observasi, dokumentasi, atau kuisioner.

Menurut (Sugiyono 2019) analisis data kualitatif dilakukan sebelum peneliti memasuki lapangan. Analisis data dilakukan saat pengumpulan dan setelah pengumpulan data dalam jangka waktu tertentu. Menurut Miles dan Huberman dalam (Sugiyono 2019) analisis data kualitatif dilakukan secara berkaitan dan berkesinambungan sehingga datanya jenuh.

Aktivitas dalam analisis data dibagi menjadi tiga yaitu:

1. Reduksi data (data reduction)

Reduksi data mengacu pada pencarian tema dan pola, merangkum, memilih dan memfokuskan pada hal-hal pokok. Dengan demikian data yang direduksi, akan memberikan gambaran yang lebih jelas, sehingga mempermudah peneliti untuk mengumpulan lebih banyak data dan mencarinya sesuai kebutuhan.

2. Penyajian data (data display)

Dalam penelitian kualitatif, penyajian data dapat berupa deskripsi singkat, bagan, hubungan antara kategori, flowchart dan sejenisnya.

Dalam penelitian kualitatif, metode naratif paling sering digunakan untuk menyajikan data. Namun, data dapat ditampilkan menggunakan grafik, matrik, network (jejaring kerja) dan chart.

3. Penarikan kesimpulan dan verifikasi (conclusion drawing/verification) Kesimpulan dalam penelitian kualitatif berupa temuan baru yang belum pernah ada sebelumnya. Temuan dalam bentuk deskripsi ataupun suatu gambaran terhadap objek yang awalnya ambigu atau

remang-remang setelah dilakukan penelitian maka menjadi jelas, dapat berupa hubungan sederhana atau interaktif, hipotesis atau teori.

Rumah Pelayanan Sosial Disabilitas Mental “Martani” Cilacap merupakan bagian dari satu Panti Pelayanan Sosial Lanjut Usia

“Dewanata” Cilacap dan sebagai bagian pelaksana teknis pada dinas Sosial Provinsi Jawa Tengah. Tugas pokoknya untuk melaksanakan sebagai kegiatan teknis operasional dan/atau kegiatan teknis penunjang tertentu dinas sosial Provinsi Jawa Tengah dibidang penyantunan dan rujukan bimbingan dan rehabilitasi sosial para penyandang disabilitas mental. Rumah Pelayanan Sosial Disabilitas Mental berada di Jl.

Wijaya Kusuma No. 228 Pucung Kidul – Kroya – Cilacap.

Rumah Pelayanan Sosial Disabilitas Mental “Martani” Cilacap memiliki daya tampung 80 PM (penerima manfaat (PM) sebutan bagi pasien di RPSDM “Martani” Cilacap), saat ini Rumah Pelayanan Sosial Disabilitas Mental “Martani” sendiri telah memiliki 80 warga ODGJ warga putri sebanyak 36 dan putra 44 PM yang rata-rata orang dengan gangguan jiwa tersebut mengalami permasalahan akibat faktor ekonomi, kurangnya kasih sayang, percintaan, dan bullying.

2. Tujuan

Melalui proses rehabilitasi sosial di RPSDM “Martani Cilacap, para penerima manfaat bisa sehat, bahagia, hidup layak dan semangat dalam berkarya untuk masa depan yang lebih baik.

3. Visi dan Misi RPSDM “Martani” Cilaca a) Visi :

“Terwujudya kesejahteraan sosial penerima manfaat penyandang disabilitas mental unuk menuju hidup mandiri.”

b) Misi :

1) Melaksanakan program pelayanan kesejahteraan sosial secara profesional dan bermartabat terhadap penyandang Disabilitas Mental.

2) Mengembangkan jarinan sosial serta memperkuat sistem kelembagaan dengan menjalin kemitraan dan kerjasama lintas sektoral dalam rangka penanganan penyandang Disabilitas Mental.

3) Meningkatkan pemulihan harkat dan martabat serta kualitas hidup penyandang Disabilitas Mental.

4) Meningkatkan sarana dan prasarana dalam pelaksanaan program pelayanan dan rehabilitasi sosial terhadap penyandang Disabilitas Mental.

5) Melaksanakan program bimbingan keterampilan dan pelatihan dasar terhadap penyandang Disabilitas Mental agar terwujud pola hidup yang terampil dan mendiri.

6) Meningkatkan peran serta keluarga dan masyarakat dalam rangka melaksanakan program pelayanan kesejahteraan sosial bagi penyandang Disabilitas Mental.

4. Proses dan Pelaksanaan Penelitian

Peneliti, sebelum melakukan penelitian melakukan studi pendahuluan guna memastikan ada tidaknya masalah dilokasi penelitian studi penelitian ini dilakukan bulan maret 2022 melalui wawancara dan observasi. Wawancara dilakukan kepada pegawai Rumah Pelayanan Sosial Disabilitas Mental “Martani” Cilacap.

Observasi sendiri dilakukan melalui pengamatan peneliti terhadap proses rehabilitasi sosial bagi orang dengan ganguan jiwa.

Setelah mendapatkan data awal melalui studi pendahuluan selanjutnya peneliti mempersiapkan proses selanjutnya berupa memersiapkan alat pengumpulan data penelitian. Alat pengumpulan data penelitian yang digunakan adalah wawancara, observasi dan dokumentasi.

Selanjutnya peneliti menentukan subjek (informan) penelitian yang dipilih secara purposive sampling atau berdasarkan keriteria-kriteria yang sudah ditentukan. Berdasarkan kriteria informasi terdapat 3 pegawai yang akan menjadi informan dalam penelitian ini yaitu Ibu

TK, Ibu RN, Ibu YS. Penjelasan masing-masing informan sebagai berikut:

a. Ibu TK

Ibu TK informan yang berusia 43 tahun. Pendidikan terakhir SLTA jurusan IPA, beliau awalnya berkerja di PPSLU

“Dewanata” karena dulu pernah sekolah kesehatan selama 1 tahun dengan menyoba mendaftar di PPSLU “Dewanata” menjadi relawan di panti jompo lalu ada pemberkasan diangkat menjadi PNS di panti jombo dari 2004 lalu dipindah tugaskan ke Rumah Pelayanan Sosial Disabilitas Mental “Martani” Cilacap dari tahun 2011 ada proses inpa peksos jadi di Rumah Pelayanan Sosial Disabilitas Mental “Martani” Cilacap jadi pekerja sosial fungsional.

b. Ibu RN

Ibu RN informan berusia 43 tahun. Pendidikan terakhir SMK kejuruan pekerja sosial, beliau berkerja di Rumah Pelayanan Sosial Disabilitas Mental “Martani” Clacap sejak tahun 2014.

Yang melatar belakangi beliau ingin berkerja di Martani karena latar belakang pekerjaan sosial, panggilan hati.

c. Ibu YS

Ibu YS informan berusia 53 tahun. Pendidikan terakhir sekolah tinggi kesejahteraan sosial bandung. Jabatan pekerja sosial ahli muda dan menjadi sub koordinator bimbingan dan rehabilitasi

sosial. Latar belakang menjadi peksos ingin berkerja dengan orang, tertarik dengan orang, tertarik dengan perkerjaan yang berkaitan dengan pertolongan.

“Kita arahkan kalau mereka yang belum pernah mendapakan perawatan dari rumah sakit maka kita sarankan untuk dirujuk kerumah sakit dulu, kalau sudah pernah mendapat perawatan ya kita sarankan untuk kontrolnya rutin (W1S1/TK/30-34)”.

Selanjutnya Ibu RN juga mengungkapkan bahwa orientasi dan konsultasi harus mendapatkan pengobatan secara medis apabila belum disarankan untuk dirujuk ke RSJ:

“...Mendapat perawatan secara medis apa belum kaya gitu, kalau belum kita sarankan dirujuk ke RSJ dulu (W1S2/RN/18-19)”.

Selanjutnya Ibu YS juga menjelaskan bahwa orientasi dan konsultasi bahwa ODGJ harus bebas pasung, diobatkan kerumah sakit:

“...ODGJ sekarang harus bebas pasung tidak boleh dipasun, harus diobatkan dulu kerumah sakit jika membutuhkan panti sebagai alternatif terakhir, keluarga dan masyarakat salah satu cara untuk proses penyembuhan (W1S3/YS/48-52)”.

Wawancara tersebut diperkuat dengan bukti dokumentasi pada gambar G5 Surat Kontrol.

Menurut hasil observasi melihat form yang mengisi terkait surat keterangan sehat dari rumah sakit dan melihat adanya surat kontrol yang harus dibawa ketika CPM dipanggil.

Berdasarkan hasil wawancara, observasi dan dokumentasi dapat disimpulkan bahwa orientasi dan konsultasi orang dengan gangguan jiwa harus bebas pasung dan mengarahkan ODGJ untuk keumah sakit apabila belum pernah dan harus menjalankan kontrol secara rutin dengan adanya bukti membawa surat kontrol.

b. Identifikasi

Identifikasi upaya yang dilakukan untuk memahami masalah calon penerima manfaat. Hasil temuan yang didapat menurut Ibu TK identifikasi mencari tau tempat, kondisi PM, dan persyaratan sesuai panti tidak :

“...Identifikasi mencari tau tempat dan kondisi PM, sesuai persyaratan panti atau tidak (W1S1/TK/61-63)”.

Selanjutnya menurut Ibu RN identifikasi melihat penampilan, cara bicara, responsif tidak :

“...lihat dari penampilan dia, cara menjawab karena kita ajak calon PM ngobrol kaya gitu dalam menangapinya bagaimana, dia respon tidak dia komunikatif atau tidak (W1S1/RN/48-51)”.

Selanjutnya Ibu YS identifikasi melihat data PM memenuhi karekteria untuk diterima :

“...melihat data identifikasi adalah data tentang ODGJ itu sendiri.

Identifikasi apakah calon PM tersebut memenuhi kerekteria untuk diterima (W1S3/YS/ 26-28)”.

Wawancara tersebut diperkuat dengan bukti dokumentasi pada gambar G2 Formulir identifikasi CPM.

Data diatas diperkuat dalam observasi dalam proses assesment CPM, dimana petugas melihat kondisi PM ketika dibawa dan mencocokan dalam hasil assesment awal.

Berdasarkan hasil wawancara, observasi dan dokumentasi dapat disimpulkan bahwa identifikasi ini proses mencari tau kondisi PM,

responsif tidak, cara bicara sesuai persyaratan tidak sesuai dengan form identifikasi CPM.

c. Motivasi

Motivasi kegiatan dalam menumbuhkan kesadaran serta minat penerima pelayanan serta dukungan keluarga untuk mengikuti rehabilitasi. Hasil temuan yang didapat menurut ibu TK memberikan pengertian kekeluarga dan masyarakat agar memberikan perhatian, merawat, melakukan pengawasan rutin minum obat:

“...keluarga dan lingkungan diberi pengertian dan pemahaman serta motivasi, sehingga keluarga mau memberikan perhatian dan merawat, membantu merujuk ke rs dan pengawasan rutin minum obat (W1S1/TK/52-55)”.

Menurut Ibu RN pemberian motivasi dilakukan agar CPM mau disiplin minum obat:

“Memberikan pengertian ke CPM nanti sementara waktu dipanti untuk disiplin minum obat biar setabil bisa melakukan aktivitas sesuai keinginanmu kalau kamu dirumah gak mau minum obat nanti kamu semakin terpuruk padahal kamu masih muda lo masa depanmu masih panjang disana banyak kegiatan-kegiatan positif biar kamu gak ngalamun (W1S2/RN/35-41)”.

Selanjutnya Ibu YS mengungkapkan bahwa pemberian motivasi terkait pengobatan kerumah sakit :

“... keluarga dan masyarakat salah satu cara untuk proses penyembuhan memotivasi mereka yang awalnya untuk pengobatan mereka, edukasi masyarakat bukan serta-merta mereka dibawa kepanti bukan (W1S3/YS/53-57)”.

Berdasarkan hasil wawancara dapat disimpulkan bahwa pemberian motivasi ini dilakukan untuk pengawasan minum obat dan melakukan rujukan kerumah sakit.

d. Seleksi

Seleksi pada tahap rehabilitasi sosial yaitu pemilihan dan penetapan calon penerima pelayanan. Hasil temuan yang didapatkan pada tahap seleksi ini menurut Ibu TK tidak memiliki cacat fisik dan penyakit menular :

“...tidak mempunyai cacat fisik dan juga penyakit dalam karena kita khusus untuk kejiwaannya (W1S1/TK/69-71)”.

Selanjutnya menurut Ibu RN tahap seleksi ini tidak memiliki penyakit menular dan mobilitas jalan :

“....mempunyai penyakit menular atau tidak, mobilitasnya jalan tidak dari ketempat satu ketempat lain bisa tidak kalau tidak kita repot (W1S2/RN/58-64)”.

Selanjutnya menurut Ibu YS seleksi usia produktif tidak memiliki penyakit menular, tidak memiliki cacat ganda, dan sudah pernah dirawat dirumah sakit

“... usia produktif, tidak berpenyakit menular, tidak cacat ganda, sudah dirawat dirumah sakit atau sedang proses pengobatan (W1S3/YS/58-60)”.

Wawancara tersebut diperkuat dengan bukti dokumentasi pada gambar G1 Formulir seleksi CPM.

Hasil observasi juga memperlihatkan bagaimana petugas menanyakan terkait persuratannya sudah lengkap belum, jika

masih ada yang kurang pihak penanggung jawab harus melengkapi. Berdasarkan hasil wawancara, observasi dan dokumentasi yang dilakukan oleh peneliti dapat disimpulkan bahwa tahap seleksi ini PM tidak memiliki cacat secara fisik, penyakit menular,sudah atau sedang dirawat dirumah sakit sesuai dengan formulir seleksi CPM.

2. Pengumpulan dan Pemecahan Masalah a. Pengumpulan Data dan Informasi

Pengumpulan Data dan Informasi upaya dalam memperoleh data dan informasi penerima manfaat. Hasil temuan yang didapat pada tahap pengumpulan data dan informasi, menurut Ibu TK yaitu tanya sekitar lokasi, saat identifikasi, kekeluarga terdekat, dan kependamping :

“Bisa langsung ke lokasi tanya kesekitarnya, kedua kalau proses identifikasinya sekali PM langsung dianter kita mencari informasinya pertama kekeluarga terdekat yang ikut mengantar, kependampingnya atau perangkat desanya dan kecalon PM langsung. Kita cek kadang sie A bercerita seperti ini-ini sie B seperti itu beda lagi maka kita cek lagi (W1S1/TK/132-139)”.

Selanjutnya menurut Ibu RN pengumpulan data dan informasi langsung kekeluarga dan peneriman manfaat :

“...menanyakan kekeluarga terkait latar belakang masalah, diagnosa dari dokter itu apa, ketika PM mengikuti kegiatan ya kita coba dekati kita galih terus sampai bener-bener menemukan (W1S2/RN/89-92)”.

“.. misalkan disini ada kerja bakti kita ikut kerja bakti disitu entah dengan nyabut rumput kita tanya-tanya kita galih permasalahannya kenapa kamu sakit bagaimana dengan keluargan nah diakan secara tidak sadar kita korek-korek nanti akan muncul akan bercerita sendiri atau saat bimbingan rekreaif

atau relaksasi bagaimana perasaanmu nanti akan bercerita sendiri (W1S2/RN/196-203)”.

Selanjutnya menurut Ibu YS pengumpulan data dan Informasi bisa lewat data primer dan data sekunder baik CPM dan penanggung jawab :

“Lewat data primer atau data sekunder, primernya kalau CPM bisa diajak bicara boleh, bisa pengantar, penanggung jawab, keluarga, kita melakukan wawancara (W1S3/YS/101-103)”.

Wawancara tersebut diperkuat dengan bukti dokumentasi pada gambar G3 Formulir assesment awal.

Observasi ketika PM dibawa pihak keluarga dan pihak TKSK, petugas memastikan data assesment awal ini sudah benar dengan menanyakan kembali kekeluarga dan pihak TKSK ataupun yang membawanya. Berdasarkan hasil wawancara, observasi dan dokumentasi yang dilakukan oleh peneliti dapat disimpulkan bahwa pengumpulan data dan informasi didapatkan bisa melalui lokasi tanya sekitarnya, keluarga, penanggung jawab, TKSK dan bisa langsung keCPM.

b. Analisis

Analisis kegiatan interpretasi data dan informasi untuk menemukan masalah dan kebutuhan penerima layanan. Temuan yang didapat pada tahap analisis ini menurut Ibu TK ditemukannya penyakit :

“Dipanti ada temuan-temuan sering jatuh sering kejang kalau kaya gitu kan epilepsi ya kita ambil langkahnya ini harus dirujuk

kerumah sakit nanti komukasikan kekeluarga kalau epilepsi tidak sesuai persyaratan terpaksa kita kembalikan kekeluarga (W1S1/TK/152-157)”.

Selanjutnya menurut Ibu RN analisis bahwa dia bisa minum obat, pengarahan bimbingan yang cocok :

“....assesment kita bisa menganalisis dia ternyata sudah bisa minum obat bisa mandiri tetapi masih suka ngalamun, suka olahraga, fisiknya besar dari hasil itu bisa kita analisis mungkin nanti waktu ada bimbingan vokasional PM ini diarahkan membuat paving blok (W1S2/RN/109-114)”.

Selanjutnya menurut Ibu YS analisis menuntukan kontraknya :

“...sudah memperoleh data kita analisa dalam bentuk cc temu bahas untuk menentukan apakah dia sesuai karakteria kita, kita analisa data yang diperoleh untuk menentukan kontrak apakah sesuai (W1S3/YS/106-109)”.

Wawancara tersebut diperkuat dengan bukti dokumentasi pada gambar G4 Formulir data assesment awal.

Berdasarkan hasil wawancara diatas dan dokumentasi yang dilakukan oleh peneliti dapat disimpulkan bahwa tahap analisis didapatkan dari data assesment awal lalu ditemukannya penyakit PM, menentukan bimbingan dan untuk menentukan kontraknya.

c. Temu Bahas Kasus

Temu bahas kasus kegiatan untuk mengidentifikasi masalah serta mengetahui kebutuhan pelayanan. Hasil temuan yang didapat pada tahap bahas kasus ini, menurut Ibu TK mengungkapkan bahwa temu bahas kasus ditemunya permasalahan :

“Anak hilang dijalanan tidak beridentitas ada juga kasus seperti itu lama-lama kita gali infonya terus dia inget 1 2 3 kali sampai

satu bulan jawabannya sama kaya gitu kia lacak keberadaan alamat itu terus kita koordinasi (W1S1/TK/160-163)”.

Selanjutnya menurut Ibu RN temu bahas kasus pemberian bimbingan sesuai dengan kebutuhan PM :

“...hasil tadi kita bisa lihat misal PM tidak bisa melakukan ADL maka kita lakukan bimbingan ADLnya mbak. Ada lagi misal dia suka mengurung diri tidak mau bersosialisasi ya kita dari hati ke hati dekati pelan-pelan kita ajak ngobrol bikin dia nyaman lalu kita ajak mengikuti kegiatan (W1S2/RN/116-121)”.

Selanjutnya menurut Ibu YS juga mengatakan bahwa temu bahas kasus ini setelah assesmet awal maka pemberian teknik apa yang sesuai atau cocok :

“Ditim penerimaan, ditim cc kalau sudah diasessment lanjutan kita di tim temu bahas nanti kita bahas disitu. Oh sie ini kasusnya menarik diri berarti nanti kita harus pakek teknik apa biar tidak menyendiri (W1S3/YS/137-140)”.

Wawancara tersebut diperkuat dengan bukti dokumentasi pada gambar G4 Formulir data assesment awal. Berdasarkan hasil wawancara dan dokumentasi yang dilakukan oleh peneliti dapat disimpulkan bahwa temu bahas kasus ini didapatkan dari hasil assesment awal dimana permasalahan-permasalah PM itu diberikan treatment agar permasalahnya dapat diselesaikan.

3. Penyusunan Rencana dan Pemecahan Masalah a. Sekala Prioritas

Hasil temuan yang didapatkan pada tahap penyusunan rencana dan pemecahan masalah dalam menuntukan sekala

Dokumen terkait