• Tidak ada hasil yang ditemukan

PRODUKSI PEREMUK BATUBARA PADA UNIT PEREMUK BATUBARA PT. SEBUKU BATUBAI COAL

4.7 Waktu Produksi Efektif Dan Hambatan Operasi

Sistem operasi proses peremukan batubara pada unit peremuk batubara PT. Sebuku Batubai Coal dibagi dalam 2 gilir kerja (shift) yaitu shift I dn shift II dengansatu kali waktu istirahat untuk masing – masing waktu gilir kerja.

Pembagian waktu operasi proses peremukan dapat dilihat pada table 4.4.

Tabel 4.2

Jadwal Waktu Kerja Per Shift

Kegiatan

Waktu (pukul) Lamanya (menit)

Shift I Shift

44

Dalam pelaksanaannya dari total waktu yang tersedia belum sepenuhnya digunakan secara efektif, hal ini terjadi karena adanya beberapa faktor gangguan produksi. Hambatan yang disebabkan oleh faktor alat biasanya terjadi karena kerusakan pada unit alat peremuk, sehingga mengakibatkan terhentinya operasi.

4.7.1 Hambatan yang dapat dihindari

Hambatan yang dapat dihindari merupakan hambatan yang menyebabkan waktu produksi efektif berkurang, hambatan ini disebabkan karena faktor kerusakan alat (faktor teknis) dan faktor manusia (operator).

a. Hambatan karena faktor alat (faktor teknis)

Hambatan ini adalah hambatan yang terjadi karena kerusakan alat, sehingga alat berhenti beroperasi dan membutuhkan waktu untuk perbaiakan. Terjadinya hambatan ini menyebabkan pengurangan dalam waktu kerja sehingga menurunkan waktu produksi efektif alat yang menyebabkan efisiensi kerja alat rendah. Hambatan teknis pada proses peremukan dapat dikelompokkan menurut urutan alat yang digunakan pada unit peremuk. Alat terhenti atau tidak beroperasi dapat disebabkan oleh beberapa hal, antara lain :

1. Gangguan pada vibrating grizzly

Gangguan yang terjadi pada vibrating grizzly antara lain kerusakan dan perbaikan pada cut grizzly. Besar waktu hambatan rata-rata yangdisebabkan karena kerusakan dan perbaikan vibrating grizzly adalah sebesar 6,7 menit per hari (Lampiran I).

2. Gangguan pada primary Crusher

Gangguan pada primary Crusher terjadi karena kerusakan mekanik danperbaikan pada cut primary Crusher yang menyebabkan terganggunya proses peremukan. Besar waktu hambatan rata-rata yang disebabkan karena kerusakan dan perbaikan primary Crusher adalah sebesar 34,3 menit perhari (Lampiran I).

3. Gangguan pada vibrating screen

45

Gangguan pada vibrating screen antara lain; terjadi kerusakan pada net screen, kerusakan dan penggantian v-Belt yang menyebabkan terganggunya proses peremukan Besar waktu hambatan rata-rata yang disebabkan karenakerusakan dan perbaikan vibrating screen adalah sebesar 23,7 menit perhari (Lampiran I).

4. Gangguan pada secondary Crusher

Gangguan pada secondary Crusher paling sering terjadi seperti:

kerusakan dan perbaikan pada cut secondary, gigi peremuk, panel induk, dan pada motor penggerak sehingga proses peremukan terganggu serta distribusi ukuran produk tidak sesuai dengan yang diinginkan. Besar waktu hambatan rata-rata yang disebabkan kerusakan dan perbaikan secondary Crusher adalah rata-rata sebesar 97,5 menit per hari (Lampiran I).

5. Gangguan pada radial stacker conveyor

Gangguan yang sering terjadi pada radial stacker conveyor berupa terjadinya selip dan putus pada Belt sehingga menyebabkan system transportasi terhenti dan kerusakan sekaligus perbaikan pada radial stacker. Besar waktu hambatan rata-rata yang disebabkan karena kerusakan dan perbaikan radial stacker conveyor adalah sebesar 22,6 menit per hari (Lampiran I).

Waktu total hambatan rata-rata yang terjadi karena faktor alat pada unit peremuk batubara adalah sebesar 244,5 menit

b. Hambatan karena faktor operator (non teknis)

Merupakan hambatan yang sering terjadi karena perilaku dari operator yang kurang disiplin yang menyebabkan menurunnya waktu produktif yang tersedia. Gangguan atau hambatan non teknis yang sering terjadi, antara lain:

1. Terlambat awal

Hambatan yang terjadi karena tertundanya produksi yang disebabkanketerlambatan memulai kegiatan pada awal shift kerja.

Secara umum hambatan ini terjadi karena adanya waktu yang terbuang

46

yang disebabkan terlambatnya operator berkumpul, terpakainya waktu untuk pengarahan kerja oleh supervisor dan waktu yang digunakan untuk pengecekan alat pada awalshift. Besarnya waktu hambatan ini rata-rata adalah sebesar 18,2 menitperhari untuk shift I (giliran kerja pertama) dan 16,2 menit untuk shift II (giliran kerja kedua).

2. Istirahat kerja lebih awal

Waktu hambatan karena kebiasaan dari operator untuk menghentikan pekerjaan untuk istirahat sebelum waktunya. Besarnya waktu hambatan inirata-rata adalah sebesar 8 menit perhari untuk shift I dan 10 menit untuk shift II.

3. Terlambat awal kerja setelah istirahat

Terlambat awal kerja setelah istirahat, disebabkan keterlamabatan memulai pekerjaan kembali setelah waktu istirahat tiap shift kerja.

Besarnya waktuhambatan ini rata-rata adalah sebesar 5,5 menit perhari untuk shift I dan 8 menit untuk shift II.

4. Mengakhiri kerja lebih awal

Hilangnya waktu produksi karena operator terburu-buru atau menghentikankegiatan sebelum waktu kerja yang ditetapkan selesai.

Umumnya terjadikarena berebutan angkutan untuk kembali ke mesh.

Besarnya waktu hambatan ini rata-rata adalah sebesar 8,6 menit perhari untuk shift I dan 10,4 menit untuk shift II.

4.7.2 Hambatan yang tidak dapat dihindari

Hambatan yang tidak dapat dihindari adalah hambatan yang menyebabkan tidak dapat beroperasinya unit peremuk meskipun kondisi alat dalam keadaan baik dansiap beroperasi. Hambatan ini antara lain disebabkan karena proses pemeliharaan alat (preventive maintenance), faktor alam (cuaca dan bencana), atau dihentikannya operasi karena pertimbangan faktor keselamatan kerja.

47 a. Pemeliharaan alat

Waktu pemeliharaan alat merupakan waktu yang dipergunakan untuk melakukan perawatan terhadapa peralatan dan perlengakapan pada unit peremuk batubara, dimana waktu ini telah direncanakan oleh bagian maintenance perusahaan.Pengamatan di lapangan dan data dari divisi maintenance PT. Sebuku Batubai Coal diketahui waktu rata rata yang digunakan untuk perawatan alat adalah sebesar 59,7menit per hari.

b. Standby

Standby adalah waktu hambatan yang terjadi pada proses operasi peremukanyang menyebabkan sistem tidak dapat beroperasi atau terhenti, padahal sistem dalamkondisi siap (tidak terjadi kerusakan). Hal ini terjadi karena pertimbangan factor keamanan dan kelancaran pelaksanaan operasi dank arena adanya kondisi khusus,seperti yang terjadi pada waktu penelitian dilakukan, bertepatan dengan bulan Ramadhan. Dari pengamatan besarnya waktu hambatan ini rata-rata adalah 90,97 menit per hari. Dengan mengetahui waktu hambatan maka waktu produksi efektif : W = 1080 – 420,7

= 659,3 menit

Jadi, rata-rata waktu produksi efektif setiap hari yang diperoleh adalah 659,3 menit atau 12,98 jam. Waktu produksi efektif yang diperoleh digunakan untuk menghitung efisiensi kerja dengan persamaan :

E =We

Hasil perhitungan memperoleh nilai efisiensi waktu kerja rata-rata per hari sebesar 61,04 %

48

BAB V PEMBAHASAN

PT. Sebuku Batubai Coal mempunyai target produksi batubara sebesar 1.800.000 ton per tahun atau 6.666 ton per hari, dengan waktu kerja hari dari waktu kerja sebesar 18 jam per hari dengan 2 kerja shift. Sasaran produksi yang diinginkan oleh perusahaan sebesar 6.6666 ton per hari belum tercapai, untuk memperoleh produksi yang optimum maka perlu dilakukan penelitian dan penilaian terhadap sistem produksi pada unit peremuk PT. Sebuku Batubai Coal.

Penelitian ini membahas mengenai kapasitas nyata, kapasitas desain, ukuran produk, dan waktu produksi efektif unit alat peremuk.Berdasarkan pengamatan tersebut maka dapat dilakukan perbaikan-perbaikan untuk meningkatkan produktifitas unit peremuk.

Dokumen terkait