BAB II TINJAUAN UMUM MENGENAI PERJANJIAN
D. Wanprestasi dan Akibatnya dalam Perjanjian
Pada debitur terletak kewajiban untuk memenuhi prestasi. Dan jika debitur tidak melaksanakan kewajibannya tersebut bukan karena keadaan memaksa, maka ia
dianggap melakukan ingkar janji. Wanprestasi berasal dari bahasa Belanda, yang artinya prestasi buruk. Wanprestasi adalah keadaan dimana debitur tidak memenuhi prestasi (ingkar janji) yang telah diperjanjikan.
Tidak dipenuhinya kewajiban oleh debitur dapat disebabkan oleh dua kemungkinan, yaitu:38
1. Karena kesalahan debitur, baik dengan sengaja tidak dipenuhinya kewajiban maupun karena kelalaian
2. Karena keadaan memaksa (overmacht), force majeure, di luar kemampuan debitur. Debitur dalam pengertian ini dianggap tidak bersalah.
Dalam membicarakan wanprestasi, kita tidak bisa terlepas dari masalah pernyataan lalai (ingerbrekke stelling) dan kelalaian (verzuim). 39Wanprestasi terbagi atas tiga bentuk, antara lain : 40
1. Tidak memenuhi prestasi sama sekali
Sehubungan dengan debitur yang tidak memenuhi prestasinya maka dikatakan debitur tidak memenuhi prestasinya sama sekali;
2. Memenuhi prestasinya tetapi tidak tepat waktunya
38
20 Desember 2010.
39
M. Yahya Harahap., op.cit, hlm 60.
40
Apabila prestasi debitur masih dapat diharapkan pemenuhannya, maka debitur dianggap memenuhi prestasi tetapi tidak tepat waktunya;
3. Memenuhi prestasi tetapi tidak sesuai atau keliru
Debitur yang memenuhi prestasi tapi keliru, apabila prestasi yang keliru tersebut tidak dapat diperbaiki lagi maka debitur dikatakan tidak memenuhi prestasi sama sekali.
Sedangkan menurut Subekti, wanprestasi ada empat macam, yaitu :41
a. Tidak melakukan apa yang disanggupi akan dilakukannya;
b. Melaksanakan apa yang diperjanjikan, tetapi tidak sebagaimana yang diperjanjikan;
c. Melakukan apa yang diperjanjikan, tetapi terlambat;
d. Melakukan sesuatu yang menurut perjanjian tidak boleh dilakukan.
Apabila terjadi wanprestasi, ada kemungkinan bahwa pihak yang berhak masih menuntut adanya pelaksanaan dari perjanjian itu. Apabila hal ini sama sekali tidak dimungkinkan, maka adanya wanprestasi ini dapat mempunyai akibat-akibat sebagai berikut :42
41
R. Subekti, loc. cit.
42
1. Resiko terhadap sesuatu benda, yang menurut undang-undang menjadi tanggung jawab dari kreditur, berpindah kepada debitur apabila ini telah terbukti melakukan mora debitoris.
2. Dengan adanya wanprestasi dapat diadakan tuntutan ganti rugi.
3. Untuk persetujuan–persetujuan timbal balik, tuntutan memuat Pasal 1266 (pemutusan persetujuan) dapat dilakukan.43
4. Bila memenuhi syarat-syarat yang ditentukan oleh undang-undang dapat juga diadakan tuntutan hak reklame.
Dalam hal wanprestasi dapat menimbulkan akibat keharusan atau kemestian bagi debitur membayar ganti rugi/schadevergoeding. Hal ini dapat dilihat dalam keputusan Mahkamah Agung tanggal 21 Mei 1973 No. 70 HK/ Sip/1972 : apabila salah satu pihak melakukan wanprestasi karena tidak melaksanakan pembayaran barang yang dibeli, pihak yang dirugikan dapat menuntut pembatalan jual beli.44
Sedangkan tentang ganti rugi dapat kita lihat dalam Pasal 1365 KUH Perdata, yang berisi “tiap perbuatan melanggar hukum, yang membawa kerugian kepada orang lain, mewajibkan orang yang karena salahnya menerbitkan kerugian itu, mengganti kerugian itu”.
43
Syarat batal dianggap selalu dicantumkan dalam persetujuan – persetujuan yang bertimbal balik, manakala salah satu pihak tidak memenuhi kewajibannya. Dalam hal demikian persetujan tidak batal demi hukum, tetapi pembatalan harus dimintakan kepada hakim. Permintaan ini juga harus dilakukan, meskipun syarat batal mengenai tidak dipenuhinya kewajiban dinyatakan dalam perjanjian. Jika syarat batal tidak dinyatakan dalam persetujuan, hakim adalah leluasa unutk menurut keadaan, atas permintaan si tergugat, memberikan suatu jangka waktu untuk masih juga memenuhi kewajibannya. Jangka waktu mana namun tidak boleh lebih dari satu bulan.
44
Mengenai ganti rugi, terdapat pengecualian terhadap debitur yang karena
overmacht atau karena toeval tidak berkesempatan melakukan kewajibannya
(menyerahkan, melakukan sesuatu atau tidak melakukan sesuatu), maka ganti rugi itu ditiadaan. Pengecualian terhadap ganti rugi ini terdapat di dalam Pasal 1245 KUH Perdata, yang menyatakan “ tidaklah biaya ganti rugi dan bunga, harus digantinya, apabila lantaran keadaan memaksa atau lantaran suatu kejadian tak disengaja, si berutang berhalangan memberikan, atau berbuat sesuatu yang diwajibkan, atau lantaran hal-hal yang sama telah melakukan perbuatan yang terlarang”. Jadi alasan untuk bebas dari pemberian ganti rugi adalah adanya overmacht bagi pihak debitur.
Kewajiban ganti rugi tidak dengan sendirinya timbul pada saat kelalaian. Ganti rugi baru efektif menjadi kemestian debitur setelah debitur dinyatakan lalai. Dengan kata lain harus ada pernyataan lalai dari kreditur (debitur harus berada dalam
in gebrekke stelling atau in mora stelling).45
Pernyataan berada dalam keadaan lalai ini ditegaskan dalam Pasal 1243 KUH Perdata, yang berbunyi “penggantian pengongkosan, kerugian dan bunga, baru merupakan kewajiban yang harus dibayar debitur, setelah ia untuk itu ditegur kealpaannya melaksanakan perjanjian, akan tetapi sekalipun sudah ditegur ia tetap juga melalaikan peringatan dimaksud”. Dari ketentuan di atas terdapat asas umum
45
bahwa untuk lahirnya kewajiban ganti rugi, debitur harus terlebih dahulu diletakkan dalam keadaan lalai, melalui prosedur peringatan/pernyataan lalai.
Mengenai kapan seseorang baru dapat dikatakan lalai atau wanprestasi, dapat kita lihat dari Pasal 1238 KUH Perdata, yang menyebutkan : ”si berutang adalah lalai, apabila ia dengan surat perintah atau dengan sebuah akta sejenis itu telah dinyatakan lalai, atau demi perikatannya sendiri, ialah jika menetapkan bahwa si berutang harus dianggap lalai dengan lewatnya waktu yang telah ditentukan”.
Menurut Subekti, ada empat sanksi yang dapat dikenakan kepada debitur yang lalai, yaitu:46
1. Membayar kerugian yang diderita oleh kreditur atau disebut ganti rugi; 2. Pembatalan perjanjian atau juga dinamakan pemecahan perjanjian; 3. Peralihan resiko;
4. Membayar biaya perkara, kalau sampai diperkarakan di muka hakim.
Pada Pasal 1240 dan 1241 KUH Perdata, diatur mengenai pihak yang berhak dapat menuntut :
1. Penghapusan hak-hak yang telah dilakukan oleh pihak wajib yang merupakan pelanggaran janji
2. Mengerjakan sendiri hal-hal yang harus dilakukan oleh pihak wajib atas biayanya.47
46
Isi Pasal 1240 KUH Perdata : “Dalam pada itu si berpiutang adalah berhak menuntut akan penghapusan segala sesuatu yang telah dibuat berlawanan dengan perikatan, dan bolehlah ia minta supaya dikuasakan oleh hakim untuk menyuruh menghapuskan segala sesuatu yang telah dibuat tadi atas biaya si berutang; dengan tidak mengurangi hak menuntut penggantian biaya, rugi dan bunga jika ada alasan untuk itu”.
Pasal 1241 KUH Perdata “Apabila perikatan tidak dilaksanakannya, maka si berpiutang boleh juga dikuasakan supaya dia sendirilah mengusahakan pelaksanaannya atas biaya si berutang”.
E. Eksekusi dan Jenis-Jenisnya
Istilah eksekusi dalam bahasa Indonesia diartikan sebagai pelaksanaan putusan. Eksekusi merupakan suatu tindakan hukum yang dilakukan oleh pengadilan kepada pihak yang kalah dalam suatu perkara merupakan aturan dan tata cara lanjutan dari proses pemeriksaan perkara. Oleh karena itu, eksekusi merupakan tindakan yang berkesinambungan dari keseluruhan proses hukum acara perdata. Eksekusi dapat pula diartikan menjalankan putusan pengadilan, yang melaksanakan secara paksa putusan pengadilan dengan bantuan kekuatan umum apabila pihak yang kalah tidak mau
47
menjalankan secara sukarela. Eksekusi dapat dilakukan setelah mempunyai kekuatan hukum tetap. 48
Pedoman tentang tata cara eksekusi diatur di dalam HIR atau RBG, yaitu terdapat dalam Bab Kesepuluh Bagian Kelima HIR atau Titel Keempat Bagian Keempat RBG. Pada bagian tersebut telah diatur pasal – pasal tata cara menjalankan putusan pengadilan mulai dari :49
1. Tata cara peringatan (aanmaning); 2. Sita eksekusi (executoriale beslag); dan 3. Penyanderaan (gijzeling).
Cara–cara menjalankan eksekusi diatur mulai Pasal 195 sampai Pasal 224 HIR atau Pasal 206 sampai Pasal 258 RBG. Namun pada saat sekarang, tidak semua ketentuan pasal-pasal ini berlaku. Yang masih berlaku adalah Pasal 195 sampai Pasal 208 dan Pasal 224 HIR atau Pasal 206 sampai Pasal 240 dan Pasal 258 RBG. Sedangkan Pasal 209 sampai Pasal 223 HIR atau Pasal 242 sampai Pasal 257 RBG yang mengatur tentang sandera (gijzeling), tidak lagi diberlakukan secara efektif. Seorang debitur yang dihukum untuk membayar utangnya berdasarkan putusan
48
Victor M Situmorang, Cormentyna Sitanggang, Grosse Akta dalam Pembuktian dan
Eksekusi, (Jakarta: PT. Rineka Cipta, 1993), hlm 119. 49
pengadilan tidak lagi dapat disandera sebagai upaya memaksa sanak keluarganya melaksanakan pembayaran menurut putusan pengadilan.50
Eksekusi dapat dibedakan dalam 2 (dua) bentuk, yaitu :
Di samping itu, terdapat lagi Pasal 180 HIR atau Pasal 191 RBG yang mengatur tentang pelaksanaan putusan secara serta–merta (uitvoerbaar bij voorraad) atau provisionally enforceable (to have immediately effect), yaitu pelaksanaan putusan segera dapat dijalankan lebih dahulu, sekalipun putusan yang bersangkutan belum memperoleh kekuatan hukum tetap. Namun ketentuan pasal–pasal tersebut tidak terlepas dari peraturan lain seperti yang terdapat dalam asas-asas hukum, yurisprudensi, maupun praktik peradilan sebagai alat pembantu memecahkan penyelesaian masalah eksekusi yang timbul, seperti memecahkan masalah eksekusi antara instansi pengadilan dengan PUPN, tidak bisa dipecahkan tanpa mengaitkan aturan pasal-pasal eksekusi dengan Undang-Undang Nomor 49 Prp/1960, sebagai sumber hukum yang mengatur kewenangan parate eksekusi (parate executie) yang dilimpahkan undang–undang kepada instansi PUPN (Panitia Urusan Piutang Negara). Selain itu, peraturan yang berhubungan erat dengan eksekusi adalah Peraturan Lelang No.189 / 1980 (Vendu Reglement St.1908 / no.189).
51
50
Pasal 209 sampai Pasal 223 HIR atau Pasal 242 sampai Pasal 257 RBG yang mengatur tentang sandera (gijzeling), tidak lagi diberlakukan secara efektif dengan diterbitkannya SEMA Nomor 2 Tahun 1964 pada tanggal 22 Januari 1964. Namun cara penerapan penyanderaan pada SEMA tersebut dianggap tidak realistis, karena terdapat celah bagi debitur untuk terbebas dari kesalahannya dengan cara licik. Maka untuk menyempurnakan SEMA Nomor 2 Tahun 1964 tersebut, diterbitkan PERMA Nomor 1 Tahun 2000 tentang Lembaga Paksa Badan.
1. Eksekusi Riil, yaitu eksekusi yang hanya mungkin terjadi berdasarkan putusan pengadilan untuk melakukan suatu tindakan nyata atau riil yang :
c. Telah memperoleh kekuatan hukum yang tetap (res judicata);
d. Bersifat dijalankan lebih dahulu (uitvoerbaar bij voorraad, provisionally
enforceable);
e. Berbentuk provisi (interlocutory injunction); f. Berbentuk akta perdamaian di sidang pengadilan.
2. Eksekusi pembayaran sejumlah uang tidak hanya didasarkan atas bentuk akta yang gunanya untuk melakukan pembayaran sejumlah uang yang oleh undang-undang disamakan nilainya dengan putusan yang memperoleh kekuatan hukum yang tetap, berupa:
f. Grosse akta pengakuan hutang; g. Grosse akta hipotek;
h. Crediet verband ;
i. Hak Tanggungan ; j. Jaminan Fidusia
51
BAB III
TINJAUAN UMUM MENGENAI PERJANJIAN LEASING
A. Pengertian dan Dasar Hukum Perjanjian Leasing
1. Pengertian Perjanjian Leasing
Sewa guna usaha (leasing) adalah salah satu jenis pembiayaan perusahaan yang merupakan hasil modifikasi dari perjanjian sewa-menyewa. Istilah leasing berasal dari bahasa Inggris, lease yang artinya sewa menyewa. karena leasing sebenarnya adalah perjanjian sewa menyewa yang telah berkembang di kalangan para pengusaha, dimana lessor (pihak yang menyewakan, yang sering merupakan perusahaan leasing) menyewakan suatu barang modal kepada lessee (penyewa) untuk suatu jangka waktu tertentu.52
52
R. Subekti, op.cit. hlm.55.
Menurut Surat Keputusan Bersama (SKB) Menteri Keuangan, Perindustrian, dan Perdagangan yang dimaksud dengan leasing adalah
“setiap kegiatan pembiayaan perusahaan dalam bentuk penyediaan barang- barang modal yang digunakan oleh suatu perusahaan untuk jangka waktu tertentu, berdasarkan pembayaran secara berkala, disertai dengan hak pilih (opsi) bagi perusahaan tersebut untuk membeli barang-barang modal yang bersangkutan atau memperpanjang jangka waktu leasing berdasarkan nilai-nilai sisa yang disepakati.”
Selain pengertian leasing yang tercantum dalam Surat Keputusan Bersama, juga terdapat beberapa pengertian yang dipaparkan oleh para ahli hukum Indonesia. Menurut Subekti, leasing adalah “perjanjian sewa-menyewa yang telah berkembang dikalangan pengusaha, dimana lessor (pihak yang menyewakan, yang sering merupakan perusahaan leasing) menyewakan suatu perangkat alat perusahaan (mesin-mesin) termasuk servis, pemeliharaan, dan lain – lain kepada lessee (penyewa) untuk suatu jangka waktu tertentu.”53
a. Leasing sama dengan sewa – menyewa.
Subekti mengkonstruksikan leasing sebagai berikut:
b. Subjek hukum yang terkait dalam perjanjian tersebut adalah pihak lessor dan
lessee.
c. Objeknya perangkat alat perusahaan (mesin-mesin) termasuk pemeliharaan dan lain – lain.
d. Adanya jangka waktu sewa.
Kelemahan dari definisi ini adalah tidak mencantumkan hak opsi dan jumlah angsuran yang harus dibayarkan oleh pihak lessee, padahal hakikat dari lembaga
leasing adalah ada atau tidaknya hak opsi.
53
Berdasarkan konsep The International Accounting Standard, sewa guna usaha (leasing) adalah “suatu perjanjian dimana lessor menyediakan barang (asset) dengan hak penggunaan oleh lessee dengan imbalan pembayaran sewa untuk jangka waktu tertentu.”54
Definisi lain, dikemukakan oleh Sri Soedewi Masjchoen Sofwan, leasing adalah “suatu perjanjian dimana si penyewa barang modal (lessee) menyewa barang modal untuk usaha tertentu, untuk jangka waktu tertentu, dan jumlah angsuran tertentu”. Definisi ini dibuat dengan memandang bahwa institusi leasing merupakan suatu kontrak atau perjanjian antara pihak lessee dengan pihak lessor terdapat hubungan hukum sewa – menyewa. objek yang disewa adalah barang modal. Jangka waktu dan jumlah angsuran ditentukan oleh para pihak.55
54
Juli Irmayanto, dkk, Bank dan Lembaga Keuangan, (Jakarta : Universitas Trisakti, 2004), hlm 149.
55
Salim H.S, loc. cit.
Sedangkan Siti Ismijati Jenie mendefinisikan leasing sebagai :
“suatu perjanjian dengan mana pihak yang satu (lessor) tanpa melepaskan hak miliknya mengikatkan dirinya untuk memberikan hak pakai atas alat-alat produksi atau batrang-barang modal yang dimilikinya kepada pihak lain (lessee) yang bermaksud mempergunakan benda tersebut tanpa memilikinya untuk suatu jangka waktu tertentu yang berkaitan dengan umur ekonomis benda tersebut, dan oleh karena itu mengikatkan diri untuk melakukan pembayaran sejumlah uang yang besarnya telah disepakati bersama.”
Berdasarkan beberapa pengertian tersebut di atas, maka secara prinsipil pengertian perjanjian leasing yang dipaparkan memiliki makna yang sama dan mengandung beberapa unsur sebagai berikut : 56
a. Suatu pembiayaan perusahaan.
Awal mulanya leasing memang dimaksudkan sebagai usaha memberikan
kemudahan pembiayaan kepada perusahaan tertentu yang memerlukannya. Tetapi dalam perkembangan kemudian, bahkan leasing dapat juga diberikan kepada individu dengan peruntukan barang yang belum tentu untuk kegiatan usaha.
b. Penyediaan barang modal.
Unsur selanjutnya dari leasing adalah adanya penyediaan barang modal oleh pihak supplier atas biaya dari lessor. Barang modal tersebut akan dipergunakan oleh lessee umumnya untuk kepentingan bisnisnya. Barang modal ini sangat bervariasi. Dapat misalnya berupa mesin-mesin, pesawat terbang, peralatan kantor seperti komputer, mesin foto copy, kendaraan bermotor dan sebagainya.
c. Keterbatasan jangka waktu.
56
Munir Fuady, Hukum tentang Pembiayaan dalam teori dan praktek, (Bandung : PT Citra Aditya Bakti, 2002), hlm 11.
Salah satu unsur penting dari lembaga leasing adalah adanya jangka waktu yang terbatas. Dengan demikian apabila ada kesepakatan yang tidak terbatas jangka waktunya, maka hal ini tidak dapat dikatakan sebagai leasing, melainkan sewa-menyewa biasa. Biasanya dalam kontrak leasing ditentukan untuk berapa tahun leasing tersebut dilakukan. Selanjutnya setelah jangka waktu tertentu tersebut berakhir, ditentukan pula bagaimana status kepemilikan dari barang tersebut. Biasanya pada saat jangka waktu yang ditentukan oleh kontrak leasing berakhir, kepada lessee diberikan “hak opsi” yakni pilihan apakah lessee akan membeli barang tersebut pada harga yang terlebih dahulu disepakati bersama, atau lessee tetap menyewa,ataupun mengembalikan barang kepada pihak lessor.
Dalam hubungan leasing dengan hak opsi, maka oleh Keputusan Menteri Keuangan No. 1169/KMK.01/1991, tentang Kegiatan Sewa Guna Usaha (leasing) ditentukan bahwa jangka waktu leasing ditetapkan dalam tiga kategori sebagai berikut:
1) Jangka Singkat, yaitu minimal dua tahun, dan berlaku bagi barang modal golongan I;
2) Jangka Menengah, yaitu minimal tiga tahun, dan berlaku bagi barang modal golongan II dan III; dan
3) Jangka Panjang, yaitu minimal tujuh tahun, dan berlaku bagi golongan bangunan. Penggolongan barang modal kepada golongan I, II dan III tersebut sesuai penggolongan dalam Undang-Undang Pajak Penghasilan.
d. Pembayaran kembali secara berkala.
Setelah lessor telah membayar lunas harga barang modal kepada pihak penjual (supplier), maka adalah kewajiban lessee untuk mengangsur pembayaran kembali harga barang modal kepada lessor. Jika menilik kepada besarnya dan lamanya angsuran, maka leasing mirip dengan suatu kredit bank, dengan barang itu sendiri sebagai jaminan / agunannya.
e. Hak opsi untuk membeli barang modal.
Hak opsi yang dimiliki oleh lessee untuk membeli barang modal pada saat dan syarat tertentu, juga merupakan salah satu unsur dari leasing. Artinya, di akhir masa leasing, diberikan hak (bukan kewajiban) kepada
lessee untuk membeli barang modal tersebut dengan harga yang bersangkutan
atau tidak. Meskipun demikian, tidak semua jenis leasing memberikan hak opsi ini karena ada juga jenis leasing yang sama sekali tidak memberikan hak opsi tersebut kepada lessee, melainkan harus menyerahkan kembali barang modal tersebut kepada pihak lessor di akhir masa leasing.
f. Nilai Sisa.
Nilai sisa merupakan besarnya jumlah uang yang harus dibayar kembali kepada lessor oleh lessee diakhir masa berlakunya leasing atau pada saat lessee mempunyai hak opsi. Nilai sisa biasanya telah ditentukan terlebih dahulu secara bersama dalam kontrak leasing.
2. Dasar hukum leasing
Pada saat mulai masuk dan berkembangnya kegiatan usaha leasing di Indonesia, peraturan tentang leasing dapat dikatakan masih sangat sederhana, dan pelaksanaannya hanya didasarkan pada kebijaksanaan yang tidak bertentangan dengan Surat Keputusan Menteri yang ada (Surat Keputusan Tiga Menteri tahun 1974). Peraturan lainnya kemudian di keluarkan untuk mengatur perihal perjanjian – perjanjian dan kegiatan – kegiatan leasing di Indonesia, terutama yang bersifat administratif. 57
Menurut Gani Djemat, dasar hukum secara umum yang melandasi perjanjian
leasing di Indonesia antara lain adalah sebagai berikut :58
a. Asas Konkordansi Hukum berdasarkan Pasal II Aturan Peralihan UUD 1945 atas Hukum Perdata yang berlaku bagi penduduk Eropa.
57
Amin Widjaja Tunggal, Arif Djohan Tunggal, op.cit, hlm 11.
58
b. Pasal 1338 KUH Perdata mengenai Asas Kebebasan Berkontrak serta asas- asas persetujuan pada umumnya sebagaimana tercantum dalam Bab I Buku III KUH Perdata. Pasal ini memberikan kebebasan kepada semua pihak untuk memilih isi pokok perjanjian mereka, sepanjang hal itu tidak bertentangan dengan undang-undang, kepentingan / kebijaksanaan umum (public policy) dan kesusilaan.
c. Pasal 1548 sampai 1580 KUH Perdata (Buku III Bab VII), yang berisikan ketentuan-ketentuan tentang sewa-menyewa sepanjang tidak diadakan penyimpangan oleh para pihak. Pasal – pasal ini membahas hak dan kewajiban lessor dan lessee.
Selain dasar hukum secara umum di atas, terdapat dasar-dasar hukum yang secara khusus yang melandasi perjanjian leasing di Indonesia baik terkait secara langsung maupun yang tidak terkait secara langsung, antara lain :59
a. Dasar hukum yang terkait langsung dengan kegiatan usaha leasing, meliputi:
1) Peraturan Presiden RI Nomor 9 Tahun 2009 tentang Lembaga Pembiayaan
2) Peraturan Menteri Keuangan RI Nomor 84/PMK.012/2006 tentang Perusahaan Pembiayaan
59
3) Peraturan Menteri Keuangan RI Nomor 30/PMK.010/2010 tentang Penerapan Prinsip Mengenal Nasabah Bagi Lembaga Keuangan Non- Bank
4) Peraturan Menteri Keuangan RI Nomor 166/PMK.010/2008 tentang Pemeriksaan Perusahaan Pembiayaan
5) Peraturan Menteri Keuangan RI Nomor 81/PMK.03/2009 tentang Pembentukan atau Pemupukan Dana Cadangan yang Boleh Dikurang Sebagai Biaya
6) Keputusan Menteri Keuangan RI Nomor 1169/KMK.010/1991 tentang Kegiatan Sewa Guna Usaha (Leasing)
7) Peraturan Ketua Bapepam-LK Nomor PER-03/BL/2008 tentang Penilaian Kemampuan dan Kepatutan Bagi Anggota Direksi dan Dewan Komisaris Perusahaan Pembiayaan
8) Keputusan Direktur Jenderal Lembaga Keuangan, Departemen Keuangan RI, Nomor KEP-1500/LK/2005 tentang Petunjuk Pelaksanaan Penyusunan dan Penyampaian Laporan Perusahaan Pembiayaan
b. Dasar hukum yang tidak terkait langsung antaranya adalah:
2) Undang-Undang Larangan Praktik Monopoli dan Persaingan Usaha Tidak Sehat (UU 5/1999)
3) Undang-Undang Wajib Daftar Perusahaan (UU 3/1982)
4) Undang-Undang Dokumen Perusahaan (UU 8/1997)
5) Undang-Undang Perseroan Terbatas (UU 40/2007)
6) Undang-Undang Perkoperasian (UU 25/1992)
7) Undang-Undang Penanaman Modal (UU 25/2007)
8) Undang-Undang Kepailitan dan Penundaan Kewajiban Pembayaran Utang (UU 37/2004)
9) Undang-Undang Arbitrase dan Alternatif Penyelesaian Sengketa (UU 30/1999)
10) Undang-Undang Pajak Penghasilan-PPh (UU 7/1983 jo UU 36/2008)
11) Undang-Undang Pajak Pertambahan Nilai/PPN (UU 8/1983 jo UU 42/2009)
12) Undang-Undang Tindak Pidana Pencucian Uang (UU 15/2002 jo UU 25/2003)
B. Jenis – Jenis Perjanjian Leasing
Pada prinsipnya ada dua macam / tipe perjanjian leasing, yaitu leasing yang berbentuk operating dan leasing yang berbentuk financial. Namun demikian terdapat juga berbagai bentuk lainnya yang lebih merupakan bentuk turunan dari kedua bentuk pokok tersebut. Hal yang perlu diperhatikan dari perbedaan operating lease dengan financial lease adalah mengenai hak pemilikan secara hukum, cara pencatatan di dalam akuntansi serta mengenai lamanya masa lease sera besarnya biaya lease. 60
1. Operating lease
Operating lease disebut juga service lease. Leasing seperti ini tidak
dibenarkan dilakukan oleh perusahaan finansial, sebab menurut Keputusan Menteri Keuangan No. 1169/KMK.01/1991, yang dibenarkan hanya leasing yang mempunyai hak opsi. Operating lease merupakan leasing dengan karakteristik sebagai berikut: 61
a. Jangka waktu berlakunya leasing relatif singkat, dan lebih singkat dari usia ekonomis dari barang tersebut.
b. Besarnya harga sewa lebih kecil ketimbang harga barang ditambah keuntungan yang diharapkan lessor.
c. Tidak diberikan “hak opsi” bagi lessee untuk membeli barang di akhir masa leasing.
60
Munir Fuady, op.cit, hlm 19.
61
d. Biasanya operating lease dikhususkan untuk barang-barang yang mudah terjual setelah pemakaian (yang berlaku di pasar barang bekas).
e. Operating lease biasanya diberikan oleh pabrik atau leveransir karena
umumnya mereka mempunyai keahlian dalam seluk beluk tentang barang tersebut. Sebab dalam operating lease, jasa pemeliharaan merupakan tanggung jawab lessor.
f. Biasanya harga sewa setiap bulannya dibayar dengan jumlah yang tetap. g. Biasanya lessorlah yang menanggung biaya pemeliharaan, kerusakan,