Bab III : Waris Beda Agama di Indonesia
WARIS BEDA AGAMA DI INDONESIA
B. Waris menurut KUHP
Kitab Undang-undang Hukum Perdata (KUHP) yang berlaku di Indonesia adalah berasal dari BURGELIJK WETBOEK yang terdiri dari 4 buku, yakni :
1. Buku kesatu tentang orang, 2. Buku kedua tentang kebendaan, 3. Buku ketiga tentang perikatan, dan
4. Buku keempat tentang pembuktian dan daluarsa.3
Kitab Undang-undang Hukum Perdata (Burgelijk Wetboek) mengandung lima (5) asas sebagai berikut :
1. Asas Hak Eigendon (hak milik) yang bersifat individualistis tetapi berdasarkan undang-undang Pokok Agraria. Undang-undang No. 5 Tahun 1960 dalam pasal 6 dikatakan bahwa hak milik adalah mempunyai fungsi sosial,
2. Asas kebebasan berkontrak (sesuai dengan pasal 1320 jo. Pasal 1338 KUH. Per,
3. Asas Netral dan tidak memihak,
4. Asas dalam lapangan Hukum Kekeluargaan yang bertindak dari wanita yang sudah bersuami, Suami dan istri mempunyai hak yang sama diatur dalam pasal 31 UU no. 1 Tahun 1974.
5. Asas Perkawinan Monogami (sesuai undang-undang No. 1 Tahun 1974 tentang Perkawinan,4
3Sudarsono, “Hukum Waris dan Sistem Bilateral”, (Jakarta: PT. Rineka Cipta,1990),
Adapun waris menurut KUHP diatur dalam buku kedua yang pertama-tama disebut dalam pasal 830 yakni: “Pewarisan hanya berlangsung karena kematian”. Jelasnya menurut pasal ini rumusan/definisi hukum waris, mencakup masalah yang begitu luas. Pengertian yang dapat dipahami dari kalimat singkat tersebut ialah bahwa jika seseorang meninggal dunia, maka seluruh hak dan kewajibannya berpindah kepada ahli warisnya.5
Pada dasarnya pewarisan merupakan proses berpindahnya harta peninggalan dari seseorang yang meninggal dunia kepada ahli warisnya. Akan tetapi proses perpindahan tersebut tidak dapat terlaksana apabila unsur-unsurnya tidak lengkap. Menurut hukum perdata barat terdapat 3 unsur warisan, yakni:
1. Orang yang meninggalkan harta warisan, disebut: Erflater, 2. Harta warisan, disebut: Erfenis,
3. Ahli Waris, disebut: Erfgenaam.6
Asas Pewarisan dalam Hukum Perdata (BW) ialah asas kematian artinya pewarisan hanya karena kematian (pasal 830 KUH.Per), akan tetapi hukum perdata masih memiliki asas lain yaitu :
1. Asas Individual
4
Ramulyo Idris, “Beberapa Masalah Pelaksanaan Hukum Kewarisan Perdata Barat”
(Jakarta: Sinar Grafika, 1993), hal. 26
5
Sudarsono, “Hukum Waris dan Sistem Bilateral”, (Jakarta: PT. Rineka Cipta,1990),
Hal. 11
6
Sudarsono, “Hukum Waris dan Sistem Bilateral”, (Jakarta: PT. Rineka Cipta,1990),
34
Asas individual (sistem pribadi) di mana yang menjadi ahli waris adalah perorangan (secara pribadi) bukan kelompok ahli waris dan bukan kelompok klan, suku, atau keluarga. Hal ini dapat kita lihat dalam pasal 852 jo. 852a yang menentukan bahwa yang berhak menerima warisan adalah suami dan istri yang hidup terlama, anak beserta keturunannya.
2. Asas Bilateral
Asas Bilateral artinya bahwa seseorang tidak hanya mewarisi dari bapak saja tetapi juga sebaliknya dari ibu, demikian juga saudara laki-laki mewarisi dari saudara laki-lakinya, maupun saudara perempuannya, asas bilateral ini dapat dilihat dari pasal 850,853,856 yang mengatur bila anak-anak dan keturunannya serta suami atau istri hidup terlama tidak ada lagi maka harta peninggalan dari si meninggal diwarisi oleh Ibu dan Bapak serta saudara laki-laki maupun sudara perempuan.7
3. Asas Perderajatan
Asas Perderajatan artinya ahli waris yang derajatnya dekat dengan si pewaris menutup ahli waris yang jauh derajatnya.
Dalam KUHP ditetapkan ada orang-orang yang karena perbuatannya tidak patut (onwaardig) menerima warisan. Menurut pasal 838, karena putusan hakim telah :
7
Hadikusuma hilman, Hukum Waris Adat, (Tanjung karang: Alumni/1983/Bandung , 1983), hal. 14.
1. Dipersalahkan membunuh atau mencoba membunuh si yang meninggal,
2. Telah memfitnah atau mengajukan pengaduan yang diancam dengan hukuman penjara lima tahun atau lebih berat,
3. Dengan kekerasan telah mencegah si yang meninggal untuk membuat atau mencabut surat gugatan atau menghalang-halangi si meninggal, 4. Mereka yang telah menggelapkan, merusak atau memalsukan surat
wasiat si yang meninggal.8
Dalam KUHP perbedaan agama tidak menjadi suatu alasan seseorang tidak mendapatkan warisan karena selama masih mempunyai nasab dengan pewaris/keturunan, meskipun berbeda agama masih mempunyai hak waris tersebut.
C. Hukum Waris Adat
Hukum waris adat adalah sebagian dari ilmu pengetahuan tentang hukum adat yang berhubungan dengan kekeluargaan dan kebendaan. Sebagai ilmu pengetahuan ia memerlukan penguraian yang sistematis, yang tersusun bertautan antara satu dan yang lainnya.9
Prof. Soepomo merumuskan, hukum waris adat adalah hukum waris yang memuat peraturan-peraturan adat yang mengatur proses meneruskan serta
8
Ramulyo Idris, “Beberapa Masalah Pelaksanaan Hukum Kewarisan Perdata Barat”
(Jakarta: Sinar Grafika, 1993), hal. 32
9
Hadikusuma hilman, Hukum Waris Adat, (Tanjung karang: Alumni/1983/Bandung , 1983), hal. 14.
36
mengoperkan barang-barang harta benda dan barang-barang tidak berwujud dari angkatan manusia kepada keturunannya.10
Hilman Hadikusumah dalam bukunya mengemukakan bahwa "warisan menunjukkan harta kekayaan dari orang yang telah meninggal, yang kemudian disebut pewaris, baik harta itu telah dibagi-bagi atau masih dalam keadaan tidak terbagi-bagi".11
Masyarakat Indonesia menganut berbagai macam agama dan kepercayaan yang berbeda-beda, mempunyai sistem kekeluargaan yang berbeda-beda pula. Secara teoritis garis keturunan pada dasarnya dapat digolongkan menjadi tiga sistem kekeluargaan atau kekerabatan, yaitu sebagai berikut :
a. Sistem Kekeluargaan Patrilineal
Yaitu sistem kekeluargaan yang menarik garis keturunan menurut garis bapak, dimana menurut sistem ini kedudukan laki-laki lebih menonjol dibandingkan dengan kedudukan perempuan terutama dalam hal pewarisan. Contohnya : Masyarakat Batak, Bali, Nias, Sumba, dan lain-lain.
b. Sistem Kekeluargaan Matrilineal
Yaitu sistem kekeluargaan yang menarik garis keturunan menurut garis ibu, dimana menurut sistem ini kedudukan perempuan lebih menonjol dibandingkan dengan kedudukan laki-laki dalam hal pewarisan. Contoh : Masyarakat Minangkabau
10
Gultom Elfrida, Hukum Waris Adat di Indonesia (Jakarta : Literata, 2010), hal. 45
11
Athoilah, Fikih Waris, Metode Pembagian Waris Praktis, (Bandung: Yrama Widya, 2013), hlm. 2
c. Sistem kekeluargaan Parental atau Bilateral
Yaitu sistem kekeluargaan yang menarik garis keturunan berdasarkan garis bapak dan ibu, di mana menurut sistem ini kedudukan antara laki-laki dan perempuan dalam hal pewarisan adalah seimbang atau sama. Contoh : Masyarakat Jawa, Sunda, Aceh, Kalimantan, dan lain-lain.12
Menurut hukum Adat Bali yang berhak mewaris hanyalah keturunan pria dan pihak keluarga pria dan anak angkat lelaki. Hal ini berdasarkan Putusan Mahkamah Agung pada tanggal 3 Desember 1958 No. 200 K/Sip/1958. Menurut hukum adat Bali dalam membagi harta peninggalan itu lebih mengutamakan anak laki-laki, dalam agama Islam juga bagian laki-laki lebih besar daripada bagian perempuan yakni 2:1. Di Bali anak laki-laki yang tertua sering diwarisi harta warisan, tetapi dengan kewajiban wajib menghidupi adik-adiknya sampai mereka pada menikah.13
Namun dengan perkembangan zaman yang pesat dan banyaknya masyarakat yang menuntut ilmu di pesantren sedikit demi sedikit mulailah ajaran-ajaran Islam mulai berkembang contohnya dalam praktek pembagian warisan, mulai ada pergeseran dari mulai harta peninggalan yang seutuhnya di berikan kepada anak laki-laki mulai bergeser dengan adanya tata cara sistem kewarisan Islam yang membagi semua harta peninggalan dengan cara seadil-adilnya.
12
Gultom Elfrida, Hukum Waris Adat di Indonesia (Jakarta : Literata, 2010), hal. 35-36.
13
Oemarsalim. Dasar-dasar Hukum Waris di Indonesia. ( Jakarta: PT. Rineka Cipta), 2006, hal. 97
38
Walaupun terdapat banyak juga yang dalam pembagian harta waris tetap menggunakan pembagian waris adat patrilinial.14
Berikut ini yang menjadi dasar-dasar pembagian hukum adat:
1. Adanya persamaan hak para ahli waris.
2. Harta warisan tidak dapat dipaksakan untuk dibagi para ahli waris. 3. Pembagian warisan dapat ditunda ataupun dibagikan hanya sebagian
saja.
4. Harta warisan tidak merupakan satu kesatuan, tetapi harus dilihat dari sifat, macam asal dan kedudukan hukum dari barang-barang warisan tersebut.15
14
Arikunto, Suharsimi. Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Praktek, Edisi Revisi V. (Jakarta : Rineka Cipta), 2002, Hal. 58
15
39