• Tidak ada hasil yang ditemukan

Orang waswas, yaitu seseorang yang memiliki sensitivitas sangat tinggi terhadap najis, wajib mengamalkan saran-saran berikut untuk membebaskan diri dari waswasnya:

1. Menurut agama Islam, dalam masalah najis dan suci, bahwa prinsip dasar segala sesuatu itu dihukumi suci. Karena itu, apabila seseorang mengalami keraguan— meskipun sangat sedikit—mengenai kenajisan sesuatu, maka ia harus menghukuminya bahwa sesuatu tersebut tidak najis (menghukuminya suci).

2. Apabila seseorang merasa yakin bahwa bagian sesuatu itu terkena najis, maka ia pun harus menghukumi bahwa bagian lainnya itu tidak najis. Artinya bahwa hukum kenajisan itu hanya pada sesuatu yang dia saksikan sendiri kenajisannya dengan kedua matanya. Apabila ada orang lain yang melihat dan meyakini bahwa najis tersebut merembet ke tempat lainnya, maka hanya pada bagian-bagian itulah yang harus dihukumi kenajisannya. Hukum ini berlangsung terus hingga rasa waswas yang ada dalam dirinya hilang secara sempurna.

3. Untuk menyucikan setiap benda atau anggota badan yang terkena najis (mutanajjis), cukup lakukan satu kali basuhan dengan menggunakan air pipa, yaitu setelah benda najisnya hilang. Tidak diwajibkan mengulanginya atau membenamkannya ke dalam air. Apabila benda yang terkena najis itu dari jenis kain dan semisalnya, maka berdasarkan ihtiyath (kehati-hatian) harus dilakukan pemerasan atau menggoyangnya secara wajar hingga airnya keluar.

Pustaka

4. Agama Islam memiliki hukum-hukum yang mudah dan sesuai dengan fitrah manusia. Karena itu, hendaklah mereka jangan mempersulitnya. Sebab, hal itu akan membahayakan jasmani dan ruhani mereka. Kekhawatiran yang berlebihan dalam masalah ini hanya akan menyebabkan kehidupan mereka menjadi susah, dan Allah Swt tidak rida dengan kesulitan dan kesusahan mereka, juga kesusahan orang-orang yang berhubungan dengan mereka. Jadilah pensyukur nikmat dari agama yang mudah. Ketahuilah bahwa mensyukuri nikmat adalah perbuatan yang berdasar pada asas pengajaran yang diberikan oleh Allah Swt.

5. Keadaan waswas hanya merupakan sebuah kondisi yang sesaat dan bisa disembuhkan. Dengan demikian untuk melepaskan diri darinya tidak memerlukan mimpi maupun mukjizat, melainkan mereka harus menyingkirkan selera pribadi dan melakukan penghambaan, tunduk terhadap aturan-aturan agama serta mengimaninya. Begitu banyak orang yang telah terselamatkan dari musibah ini setelah melaksanakan metode di atas. Bertawakallah pada Allah Swt dan aturlah serta kontrollah nafsu diri dengan penuh perhatian dan dengan kehendak yang tenang. (Ajwibah

al-Istifta’at, No. 311, 312, dan Istifta’ dari Kantor Rahbar, Bab Taharah, Masalah 20)

Pustaka

DARAS 9

HAL-HAL YANG MENYUCIKAN (1)

Pokok Bahasan: Muthahirat

Muthahirat

Terdiri dari: 1. Air 2. Tanah 3. Pancaran matahari 4. Istihalah (perubahan) 5. Intiqal (perpindahan) 6. Islam 7. Taba’iyyat (mengikuti) 8. Hilangnya zat najis

9. Istibra’-nya hewan-hewan pemakan najis 10. Absennya muslim

> Catatan:

& Segala sesuatu yang menyucikan najis disebut juga dengan muthahirat.

Penjelasan:

1. Air

a. Cara menyucikan wadah

1. Wadah yang najis apabila hendak disucikan dengan air sedikit, maka harus dibasuh sebanyak tiga kali, tetapi jika dilakukan dengan air kurr dan air mengalir, cukup

Pustaka

dengan sekali basuhan. (Istifta’ dari Kantor Rahbar, Bab Taharah, Masalah 23)

2. Wadah yang dijilat oleh anjing atau dia meminum air atau cairan dari dalamnya, untuk menyucikannya harus dilakukan dengan cara: pertama, wadah tersebut harus diolesi dengan tanah lalu digosok-gosok, setelah itu dibasuh dengan air. Apabila pembasuhan dilakukan dengan air sedikit, maka setelah digosok dengan tanah harus dibasuh sebanyak dua kali. (Istifta’ dari Kantor Rahbar, Bab Taharah, Masalah 24)

3. Wadah yang dijilat oleh babi atau dia meminum air atau makan makanan cair dari dalamnya, harus dibasuh sebanyak tujuh kali, tetapi tidak ada kewajiban untuk mengolesinya dengan tanah. (Istifta’ dari Kantor Rahbar, Bab Taharah, Masalah 25)

b. Cara menyucikan selain wadah

1. Sesuatu yang telah najis, apabila dimasukkan satu kali ke dalam air kurr, air mengalir atau diletakkan di bawah air keran yang bersambung dengan air kurr ketika menghilangkan benda najisnya (‘ainun najis), maka begitu air telah mencapai tempat-tempat yang terkena najis, ia akan menjadi suci. Sedangkan untuk permadani, karpet, pakaian dan sejenisnya, berdasarkan ihtiyath wajib setelah dimasukkan ke dalam air harus ditekan atau digoyang-goyangkan. Dalam penekanan serta penggoyangan ini, tidak ada kewajiban untuk mengeluarkan air yang ada di dalamnya, bahkan hanya dengan masuknya air

Pustaka

ke dalamnya telah dianggap mencukupi. (Ajwibah

al-Istifta’at, No. 71, 72, dan Istifta’ dari Kantor Rahbar, Bab Taharah, Masalah 23)

2. Sesuatu yang menjadi najis karena bersentuhan dengan air kencing, jika setelah benda najisnya hilang, lalu dibasuh dua kali dengan air sedikit, maka ia akan menjadi suci, sedangkan untuk sesuatu yang menjadi najis karena bersentuhan dengan najis selain air kencing, setelah benda najisnya hilang, hanya dengan satu kali basuhan dapat membuatnya suci. (Istifta’ dari Kantor Rahbar, Bab Taharah, Masalah 21)

3. Sesuatu yang dibasuh dengan air yang sedikit, maka air yang dituangkan ke permukaannya (air bekas cucian) harus terpisah. Dan, pada benda yang bisa diperas, seperti pakaian dan karpet, harus ditekan, supaya air bekas cucian itu dapat terpisah darinya. (Istifta’ dari Kantor Rahbar, Bab Taharah, Masalah 22)

> Catatan:

& Dalam penyucian karpet najis dan yang sejenisnya dengan menggunakan air pipa, terpisahnya air bekas cucian bukan merupakan syarat, melainkan begitu air telah mencapai tempat yang terkena najis setelah benda najisnya hilang dan air bekas cucian bergerak dari tempatnya karena gosokan pada permukaan karpet pada saat masih bersambung dengan air keran, hal ini sudah bisa dianggap menghasilkan kesucian. (Ajwibah

al-Istifta’at, No. 83)

Pustaka

& Bagian permukaan tanur1 yang terbuat dari lumpur yang bercampur dengan air najis bisa suci dengan membasuhnya. Dengan cara ini kesucian bagian permukaan tanur—tempat melekatkan adonan untuk proses pembakaran roti—telah dianggap mencukupi. (Ajwibah al-Istifta’at, No. 85)

& Pakaian-pakaian najis yang pada saat dibasuh mengubah warna air (luntur), bila perubahan warna ini tidak menjadikan mudhaf-nya air, maka dengan menuangkan air di atasnya, pakaian-pakaian yang najis tersebut akan menjadi suci. (Ajwibah al-Istifta’at, No. 83)

& Pakaian-pakaian najis yang diletakkan di dalam ember dan hendak dicuci, dengan dituangkannya air pipa ke atasnya hingga merata ke seluruh permukaannya, akan menyebabkan keseluruhan pakaian, ember, air dan bekas-bekas tinta yang terlepas dari baju dan terlihat di permukaan air lalu tumpah keluar bersama air, menjadi suci (Tentu saja sebagaimana yang telah dijelaskan terdahulu, berdasarkan ihtiyath, untuk pakaian dan semisalnya, setelah dimasukkan ke dalam air, harus ditekan atau digerak-gerakkan). (Ajwibah al-Istifta’at, No. 289)

1 Tanur: tungku besar yang biasa digunakan untuk pembuatan roti-roti tradisional di

Pustaka

DARAS 10

HAL-HAL YANG MENYUCIKAN (2) Pokok Bahasan:

Muthahirat (Lanjutan)

2. Tanah

Seseorang yang telapak kaki atau alas kakinya najis karena berjalan di permukaan tanah yang najis, akan menjadi suci dengan berjalan di atas tanah yang kering dan suci kira-kira sebanyak 10 langkah, dengan syarat, sebelum itu benda najisnya telah hilang. (Ajwibah al-Istifta’at, No. 80, dan Istifta’ dari Kantor Rahbar, Bab Taharah, Masalah 26)

> Catatan:

& Tanah yang beraspal atau dilapisi dengan pek, tidak dapat menyucikan bagian bawah kaki ataupun alas sepatu. (Ajwibah al-Istifta’at, No. 81)

3. Pancaran Matahari

1. Pancaran matahari akan menyucikan bumi dan segala sesuatu yang tidak bisa dipindahkan seperti bangunan dan segala sesuatu yang berhubungan dengan bangunan seperti pintu, jendela, dinding, tiang dan sebagainya. Demikian juga pancaran matahari akan menyucikan pohon dan tumbuh-tumbuhan. (Ajwibah al-Istifta’at, No. 80, dan Istifta’ dari Kantor Rahbar, Bab Taharah, Masalah 26)

2. Pancaran matahari bisa menyucikan sesuatu yang najis dengan terpenuhinya syarat-syarat berikut:

Pustaka

a. Sesuatu yang najis berada dalam keadaan basah. b. Benda najisnya (‘ainun najis) tidak terdapat

pada sesuatu yang najis (dan bila ada, telah dihilangkan sebelum memancarnya sinar matahari).

c. Sinar matahari memancar kepadanya secara langsung (tidak ada sesuatu yang menghalangi pancaran sinarnya seperti tirai atau awan). d. Kering dikarenakan pancaran sinar matahari

(bila masih lembab, berarti belum suci). (Ajwibah

al-Istifta’at, No. 82, dan Istifta’ dari Kantor Rahbar, Bab Taharah, Masalah 28)

4. Istihalah (Perubahan)

Sesuatu yang najis, bila berubah menjadi jenis yang lainnya, seperti kayu (yang terkena najis) yang berubah menjadi abu karena proses pembakaran, minuman keras yang berubah menjadi cuka, atau anjing yang mati di lahan bergaram dan berubah menjadi garam, menjadi suci. Akan tetapi bila jenisnya tidak berubah, melainkan hanya bentuknya saja yang berubah seperti gandum yang berubah menjadi tepung, atau gula yang larut di dalam air, maka hal ini tidak dapat menjadikannya suci. (Istifta’ dari Kantor Rahbar, Bab Taharah, Masalah 29)

> Catatan:

& Untuk menyucikan bahan yang najis seperti minyak yang najis, dengan hanya melakukan proses aksi reaksi kimiawi sehingga menghasilkan khasiat baru untuk bahan, dianggap tidak memadai untuk kesuciannya

Pustaka

(karena dengan perbuatan ini, istihalah tidak akan terwujud). (Ajwibah al-Istifta’at, No. 86)

& Hanya dengan memisahkan bahan-bahan mineral yang tercemar, bakteri-bakteri dan sebagainya dari air limbah, tidak akan bisa mewujudkan terjadinya proses istihalah, kecuali pada proses penyaringan yang dilakukan dengan cara penguapan yang dilanjutkan dengan proses pengubahan uap menjadi air kembali. (Ajwibah

al-Istifta’at, No. 88)

5. Intiqal (Perpindahan)

Darah yang dihisap oleh nyamuk dan serangga lainnya dari tubuh manusia, selama masih dianggap sebagai darah manusia, hukumnya najis (seperti darah yang dihisap oleh lintah dari tubuh manusia). Akan tetapi setelah berlalunya waktu dan darah tersebut telah dianggap sebagai darah serangga, maka hukumnya suci. (Istifta’ dari Kantor Rahbar, Bab Taharah, Masalah 30)

6. Hilangnya Benda (‘ainun) Najis

Bila tubuh hewan terkotori oleh sesuatu yang najis, begitu sesuatu itu dihilangkan, maka tubuh hewan tersebut akan menjadi suci dan tidak memerlukan basuhan air. Demikian juga apabila yang terkotori oleh najis itu berada di dalam tubuh manusia, seperti di dalam mulut atau hidung, dengan syarat, najis dari luar tidak mengenainya (tidak ada najis lain dari luar—peny.). Dengan demikian, darah yang keluar dari gigi, jika ia hilang di dalam air liur, maka mulut dianggap tetap suci. (Istifta’ dari Kantor Rahbar, Bab Taharah, Masalah 31)

7. Absennya Muslim

Apabila seseorang yakin bahwa tubuh, pakaian atau salah

Pustaka

satu dari benda milik seorang muslim berada dalam keadaan najis, lalu dia tidak melihat muslim tersebut untuk beberapa lama dan ketika dia melihatnya lagi si muslim telah memperlakukan benda yang tadinya najis sebagaimana benda suci, maka benda tersebut dihukumi suci. Dengan syarat, si pemilik benda-benda tersebut mengetahui kenajisan benda itu dan juga mengetahui hukum-hukum yang berkenaan dengan taharah dan najasah. (Istifta’ dari Kantor Rahbar, Bab Taharah, Masalah 32)

DARAS 11

HAL-HAL YANG MENYUCIKAN (3)

Pokok-pokok Bahasan:

Dokumen terkait