• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Water Sensitive City

Water Sensitive City (WSC) merupakan perencanaan kota yang terintegrasi dengan manajemen, perlindungan, dan konservasi siklus air perkotaan untuk memastikan bahwa pengelolaan air perkotaan sensitif terhadap proses hidrologi dan ekologi alam (Johnstone, et al., 2012). Kata Water Sensitive City digunakan untuk menggambarkan daerah perkotaan di masa mendatang yang akan mampu menghadapi tantangan yang kompleks terkait dengan keterbatasan sumber daya alam maupun degradasi lingkungan, sehingga nantinya akan membentuk suatu kota yang layak huni, tangguh, produktif, dan berkelanjutan (McCallum & Boulot, 2015; Wong, et al., 2013).

Konsep WSC ini memiliki 3 (tiga) pilar didalamnya yang harus terintegrasi dengan lingkungan perkotaan, yaitu (1) kota sebagai daerah resapan air, dimana semua sumber daya air yang tersedia di perkotaan dianggap berharga, termasuk limbah, air hujan, dan air tanah. (2) Kota menyediakan pelayanan keberlanjutan ekosistem, dimana infrastruktur air dan lanskap perkotaan dirancang dengan secara fungsional dan estetis, dan sistem ini terintegrasi untuk memberikan manfaat ganda seperti pengolahan air hujan, perlindungan banjir, mitigasi pemanasan, kesehatan ekologi, dan kemudahan lanskap. (3) Kota terdiri dari masyarakat yang peduli terhadap air perkotaan, dimana masyarakat menghargai nilai-nilai yang terkandung dalam air, merasa terhubung dengan air di sekitar mereka, dan terlibat dalam perilaku sensitif air. (Wong & Brown, 2009; Wong, et al., 2013)

Membuat suatu kota untuk menjadi kota yang sensitif terhadap air perlu mempertimbangkan beberapa indikator yang berperan penting dalam penilaian kemajuan suatu kota untuk menuju kota yang berkelanjutan dan layak huni. Pembahasan berikut merupakan tujuan dan indikator yang dikembangkan oleh Cooperative

Research Centre of Water Sensitive Cities untuk tercapainya konsep WSC pada suatu kawasan perkotaan. (Chesterfield, et al., 2016) - Tujuan pertama yaitu untuk memastikan pemerintahan yang

sensitif terhadap air. Hal ini dapat diukur dengan pengetahuan, kemampuan, dan kapasitas organisasi; air merupakan elemen kunci dalam perencanaan dan perancangan kota; susunan dan proses institusional yang lintas sektor; keterlibatan publik dan transparansi; kepemimpinan, komitmen, dan visi jangka panjang; penyediaan sumber air dan pembiayaan untuk memberikan nilai sosial yang luas; serta representasi yang pantas dari berbagai perspektif.

- Tujuan kedua yaitu meningkatkan modal masyarakat. Hal ini dapat diukur dengan pengetahuan tentang air; hubungan dengan air; pembagian kepemilikan, manajemen dan tanggung jawab; kesiapan masyarakat dan respon terhadap peristiwa yang ekstrim; serta keterlibatan dalam perencanaan air.

- Tujuan ketiga yaitu untuk mencapai pemerataan pelayanan yang penting. Hal ini dapat diukur dengan akses yang merata terhadap persediaan air; akses yang merata terhadap sanitasi yang aman dan dapat diandalkan; akses yang merata terhadap perlindungan banjir; serta akses yang merata dan terjangkau terhadap nilai keramahan dari aset yang terkait dengan air.

- Tujuan keempat yaitu meningkatkan produktivitas dan efisiensi sumber. Hal ini dapat diukur dengan memaksimalkan pemulihan sumber; emisi gas rumah kaca yang rendah di sektor air; peluang bisnis yang terkait dengan air; permintaan yang rendah terhadap air minum bagi pemakai akhir; serta keuntungan lintas sektor.

- Tujuan kelima yaitu mempromosikan infrastruktur hijau yang adaptif. Hal ini dapat diukut dengan diversifikasi untuk tujuan penyediaan air; infrastruktur air yang multifungsi; kontrol yang cerdas dan terintegrasi; infrastruktur yang kuat; infrastruktur dan kepemilikan diberbagai skala; serta perbaikan yang mencukupi. - Tujuan keenam yaitu meningkatkan kesehatan ekologi. Hal ini

dapat diukur dengan habitat yang sehat dan mendukung keanekaragaman hayati; kualitas air permukaan dan alirannya;

kualitas dan pengisian kembali air tanah; serta melindungi wilayah eksisting yang memiliki nilai ekologi yang tinggi.

- Tujuan ketujuh yaitu memastikan ruang perkotaan ayng berkualitas. Hal ini dapat diukur dengan mengaktifkan konektivitas antara ruang hijau dan biru; memfungsikan elemen-elemen perkotaan untuk mitigasi dampak dari pemanasan; serta tutupan vegetasi.

Penjabaran indikator WSC yang dikembangkan oleh Cooperative Research Centre of Water Sensitive Cities di atas tidak digunakan semua dalam penelitian ini. Hal ini dikarenakan indikator tersebut harus disesuaikan dengan tujuan dari penelitian, berikut indikator yang terpilih.

Tabel 2.1 Indikator dalam Konsep Water Sensitive City Sumber Teori Indikator Penelitian

Chesterfield, et al. (2016)

1. Air merupakan elemen kunci dalam perencanaan dan perancangan kota

2. Akses yang merata terhadap perlindungan banjir 3. Infrastruktur air yang multifungsi

4. Tutupan vegetasi

Sumber: Chesterfield, et al., 2016

Pemilihan indikator-indikator di atas telah disesuaikan dengan tujuan dari penelitian ini. Indikator-indikator tersebut dipilih karena memiliki pengaruh penting dalam pelayanan sistem air untuk menuju sebuah kota yang layak huni, keberlanjutan, tangguh, dan produktivitas (Beck, et al., 2016). Berikut penjelasan terkait dipilihnya indikator-indikator pada konsep WSC tersebut.

- Air merupakan elemen kunci dalam perencanaan dan perancangan kota, dipilih karena untuk mewujudkan suatu kota yang berkelanjutan maka sumberdaya air maupun perlindungan lingkungan air perlu dipertimbangkan (Wong & Brown, 2009). Sehingga ketika melakukan perencanaan dan perancangan kota untuk menuju prinsip keberlanjutan, harus memperhatikan air dalam pelaksanaanya.

- Akses yang merata terhadap perlindungan banjir, dipilih karena untuk menuju kota dengan sistem ketahanan maka kota tersebut harus dapat menghindar dari faktor-faktor yang dapat mengganggu sistem perkotaan tersebut seperti halnya banjir (Wong & Brown, 2009). Oleh karena itu, perlindungan terhadap banjir penting adanya untuk dipertimbangkan dalam menuju kota dengan konsep WSC.

- Infrastruktur air yang multifungsi, dipilih karena hal ini sesuai dengan pilar yang ada dalam konsep WSC dimana kota menyediakan pelayanan keberlanjutan ekosistem dengan merancang infrastruktur air secara fungsional dan estetis serta terintegrasi untuk memberikan manfaat ganda seperti pengolahan air hujan dan perlindungan banjir (Wong & Brown, 2009; Wong, et al., 2013). Oleh sebab itu, infrastruktur air yang multifungsi berperan penting dalam mewujudkan konsep WSC.

- Tutupan vegetasi, dipilih karena vegetasi memiliki dampak yang penting terhadap manajemen air hujan dan water sensitive city, dimana vegetasi dapat menyerap dan menguapkan air hujan yang diserap olehnya (Johnstone, et al., 2012). Oleh karena itu, vegetasi berperan penting untuk terwujudnya konsep WSC dimana manajemen air hujan sangat penting di dalamnya.