BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN
4.4. Pembahasan
4.4.3. Wawancara dengan Guru Fisika Kelas XII IPS 3 SMAN 1 Ngaglik
wawancara dengan guru fisika yang terlampir pada Lampiran 10.
Wawancara dilakukan dua kali di dua waktu yang berbeda. Wawancara yang pertama berfokus pada bagaimana pengalaman guru fisika mengajar siswa IPS. Mengenai cara mengajar yang ia lakukan untuk siswa IPS, ia mengatakan bahwa untuk siswa kelas XI IPS ada modul tersendiri yang ia buat sebagai instrumen pembelajaran. Modul ini dibuat untuk menyesuaikan mata pelajaran fisika lintas minat kelas IPS yang ada di SMAN 1 Ngaglik.
Modul ini berisikan beberapa materi fisika yang ada di kelas IPA, tetapi diambil bagian yang mudahnya saja dan beberapa contoh penerapan fisika dalam kehidupan sehari-hari. Menurutnya, siswa IPS jangan diajak berpikir susah-susah, karena dasarnya mereka sudah memilih IPS, mereka tidak mau
ambil pusing untuk mempelajari fisika. Maka, diambilah beberapa penerapan fisika dalam kehidupan sehari-hari sebagai materi untuk memudahkan mereka mempelajari fisika. Namun, berbeda dengan siswa kelas XII IPS, kelas XII IPS belum memiliki modul fisika lintas minat sendiri. Ia menggunakan LKS yang sama digunakan oleh siswa IPA untuk kelas XII IPS yang notabene materinya sulit. Maka dari itu, ia perlu memilih dengan baik mana bagian-bagian materi fisika IPA yang sekiranya mudah dan mampu dipahami oleh siswa IPS. Walau begitu, praktikum siswa IPS berjalan selaras dengan siswa IPA. Menurutnya, materi fisika yang diajarkan untuk siswa IPS kurang lebih mirip dengan yang diajarkan pada siswa SMK, lebih banyak penerapan dibandingkan teori.
Siswa IPS cenderung tidak membicarakan kalau mereka sedang kesulitan dalam belajar. Tidak banyak pula siswa yang mau maju ke depan dan menulis di papan tulis untuk mencoba menjawab latihan soal yang diberikan. Meskipun ada, orangnya hanya itu-itu saja. Namun, beda cerita jika sudah dalam praktikum. Hampir atau bahkan seluruh siswa penuh semangat dalam mencoba berbagai peralatan dalam praktikum. Dapat dipastikan keadaan dalam laboratium fisika penuh dengan keramaian mereka yang penasaran untuk mencoba alat eksperimen.
Guru fisika mengatakan bahwa rata-rata hasil belajar siswa IPS selama ini cukup baik, setidaknya sudah melebihi KKM. Namun, beberapa yang melebihi KKM itu adalah siswa-siswa yang aktif dalam menjawab latihan soal yang diberikan di kelas. Diketahui siswa-siswa yang aktif itu adalah tujuh siswa yang hadir dalam pembelajaran tatap muka kemarin.
Ditemukan pula fakta bahwa ada tiga siswa laki-laki lagi yang juga aktif, tetapi mereka tidak hadir saat pembelajaran tatap muka. Dibandingkan dengan siswa-siswa ini, siswa yang lain hasil belajarnya hanya mencapai taraf cukup.
Guru fisika bercerita jika kemudahan yang ia alami selama mengajar siswa IPA adalah lebih banyak yang mau mendengar penjelasan yang ia berikan dibandingkan siswa IPS. Namun, kelebihan yang terasa saat
ia mengajar siswa IPS adalah pemilihan materi yang mudah karena terfokus pada penerapan fisika. Kesulitan yang dirasa saat mengajar siswa IPA adalah sultinya membangkitkan motivasi belajar mereka. Siswa IPA cenderung mengungkapkan berbagai alasan saat diminta untuk berusaha dalam belajar oleh guru fisika. Tentu saja, jika sudah seperti itu, guru fisika hanya bisa memaklumi. Berdasarkan apa yang disampaikan guru fisika saat wawancara, tidak ditemukan kejelasan mengenai kesulitan dalam mengajar siswa IPS, bahkan ia sempat mempertanyakan sendiri apa yang dirasa sulit.
Guru fisika tersebut menyatakan bahwa pelajaran fisika lintas minat ini sudah diprogramkan oleh kurikulum sekolah, sehingga siswa IPS khususnya saat ini kelas XII IPS 3 mendapatkan mata pelajaran fisika lintas minat. Ia juga menjelaskan jika dari kelas X sudah mendapatkan pelajaran lintas minat, maka kelas tersebut akan melanjutkan pelajaran lintas minat yang sama sampai kelas XII. Seperti yang terjadi pada tahun lalu, kelas XI IPS 3 baru saja mendapatkan mata pelajaran fisika lintas minat, yang saat ini berlanjut sampai kelas XII IPS 3. Dapat dipastikan siswa IPS SMAN 1 Ngaglik yang saat ini mempelajari fisika lintas minat di kelasnya tidak didasari dari minat siswa itu sendiri, melainkan sudah diprogramkan dari kurikulum sekolah.
Pada wawancara yang kedua, peneliti berfokus menanyakan tentang bagaimana cara guru fisika memberikan tes dan menilai hasil belajar siswa kelas XII IPS 3 SMAN 1 Ngaglik saat ulangan harian pada materi induksi elektromagnetik. Guru fisika menuturkan bahwa saat memberikan latihan soal di kelas, ia akan menggunakan soal-soal dari LKS. Namun, lebih banyak akan ia ambil dari soal-soal UN dari tahun-tahun sebelumnya.
Untuk ulangan atau ujian, soal yang digunakan adalah soal UN yang belum dibahas di kelas, tetapi dipilih terlebih dahulu sesuai dengan kapasitas kemampuan siswa pada kelas yang diajar, dalam hal ini kelas XII IPS 3. Ia juga memperhatikan banyaknya soal disesuaikan dengan poin-poin materi per bab. Diketahui guru fisika menerapkan cara yang sama pada ulangan harian sebelumnya pada materi induksi elektromagnetik. Ditambah ulangan
harian tersebut dilakukan secara online/daring melalui aplikasi Google Classroom. Guru fisika mengakui jika ulangan secara online/daring seperti ini rentan untuk siswa dapat mencari jawaban soal dari internet. Alasan tidak dilakukannya ulangan secara tatap muka karena terbentur kebijakan pemerintah Indonesia menyangkut pandemi COVID-19 yang sedang terjadi.
Alasan lain, siswa kelas XII IPS 3 pun banyak yang menolak untuk dilakukan ulangan secara tatap muka dikarenakan pandemi masih berlangsung dan untuk menjauhi risiko penularan.
Komponen penilaian yang digunakan guru fisika dalam menilai siswanya cukup bervariasi. Penilaian KD digunakan untuk menilai pemahaman siswa dalam menyelesaikan soal saat ulangan harian, PTS, dan PAS, yang artinya siswa mampu menerapkan materi yang telah dipelajari.
Selain dilihat dari KD, guru fisika juga memperhatikan siswa yang berniat untuk menyelesaikan latihan soal saat proses pembelajaran terutama jika bersedia untuk membahas atau mengerjakan soal di depan seluruh siswa.
Tugas atau pekerjaan rumah dan sikap siswa juga dipertimbangkan guru untuk penilaian akhir pada rapor. Pada saat pandemi, guru fisika meminta seluruh siswa kelas XII IPS 3 hadir untuk mengikuti PTS, tetapi hanya beberapa siswa aktif yang hadir dan selebihnya mengerjakan secara online/daring.
Dapat disimpulkan dari hasil wawancara dengan guru fisika, alasan mengapa tidak ditemukan adanya korelasi antara persepsi siswa pada fisika terhadap hasil belajarnya dikarenakan kelemahan dari ulangan harian yang diadakan secara online/daring. Ulangan harian secara online/daring ini memberikan kebebasan siswa untuk mencari informasi di internet tanpa adanya pengawasan dari guru. Selain itu, soal yang digunakan untuk ulangan harian merupakan soal-soal UN yang pembahasannya sudah tersebar di internet, cukup mudah untuk dicari. Hal ini mendukung tidak signifikannya uji statistik korelasi Pearson dari data-data yang telah diperoleh di lapangan.