BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
2) Wawancara
Wawancara adalah suatu proses tanya jawab atau dialog secara lisan antara pewawancara dengan responden atau orang yang diinterview dengan tujuan untuk memperoleh informasi yang dibutuhkan oleh peneliti (Widoyoko, 2015:40). Wawancara yang dilakukan oleh peneliti termasuk dalam bentuk wawancara
46 terencana-tidak terstruktur karena peneliti menyusun rencana wawancara menggunakan pedoman wawancara yang hanya merupakan garis-garis besar permasalahan yang akan ditanyakan tetapi tidak menggunakan format dan ukuran yang baku (Widoyoko, 2015:44 & Yusuf, 2014:377). Peneliti melakukan wawancara kepada beberapa narasumber yaitu kepala SD Kanisius Jetisdepok, guru kelas III dan siswa kelas III.
Data yang diperoleh peneliti melalui wawancara kepala sekolah adalah informasi mengenai sekolah, ketersediaan dan penggunaan media pembelajaran di sekolah serta penelitian yang sudah pernah dilaksanakan di SD Kanisius Jetisdepok. Wawancara yang dilakukan oleh peneliti kepada guru kelas III bertujuan untuk memperoleh informasi seputar ketersediaan media pembelajaran, penggunaan media pembelajaran di kelas, kesulitan yang ditemui selama pembelajaran IPA dan usaha yang dilakukan guru dalam mengatasi kesulitannya. Wawancara yang dilakukan oleh peneliti kepada siswa kelas III bertujuan untuk memperoleh informasi mengenai penggunaan media pembelajaran dan kesulitan yang dialami selama pembelajaran IPA.
3.5.3 Kuesioner
Kuesioner adalah teknik pengumpulan data yang dilakukan dengan cara memberi seperangkat pertanyaan atau pernyataan tertulis kepada responden untuk diberikan respon sesuai dengan permintaan pengguna (Widoyoko, 2015:33). Peneliti menggunakan kuesioner untuk beberapa hal yaitu analisis kebutuhan dan validasi produk. Kuesioner analisis kebutuhan diberikan kepada guru dan siswa kelas III SD Kanisius Jetisdepok untuk menganalisis kebutuhan seputar media pembelajaran. Kuesioner validasi produk diberikan kepada ahli untuk menilai
47 kelayakan media pembelajaran yang dibuat oleh peneliti. Selain itu, kuesioner validasi produk diberikan pada siswa untuk menilai kelayakan media pembelajaran yang dibuat oleh peneliti setelah uji coba terbatas.
3.5.4 Tes
Menurut Mansyur (Widoyoko, 2014:50), tes adalah sejumlah pertanyaan yang membutuhkan jawaban, atau sejumlah pernyataan yang harus diberi tanggapan atau respons dengan tujuan mengukur tingkat kemampuan seseorang atau mengungkap aspek tertentu dari orang yang dikenai tes. Dalam penelitian ini, peneliti menggunakan pretest dan posttest. Pretest merupakan salah satu bentuk tes yang dilaksanakan pada awal proses pembelajaran, sedangkan posttest merupakan salah satu bentuk tes yang dilaksanakan setelah kegiatan inti pembelajaran selesai (Widoyoko, 2014:61). Pretest dilakukan sebelum uji coba terbatas dan posttest dilakukan setelah uji coba terbatas. Pretest dan posttest digunakan oleh peneliti untuk mengetahui hasil belajar siswa sebelum dan sesudah menggunakan media pembelajaran dalam uji coba lapangan terbatas. Selain itu, pretest dan posttest digunakan peneliti sebagai data pendukung untuk mengetahui kualitas media pembelajaran daur hidup hewan berbasis metode Montessori.
3.6 Instrumen Penelitian
Instrumen penelitian adalah alat yang digunakan untuk mengumpulkan data penelitian (Sanjaya, 2013:247). Dalam penelitian ini, peneliti menggunakan beberapa instrumen, yaitu pedoman observasi, pedoman wawancara, kuesioner
48 dan matriks triangulasi untuk teknik nontes dan soal pretest-posttest untuk teknik tes.
3.6.1 Pedoman Observasi
Observasi dilakukan pada pembelajaran IPA kelas III dan ketersediaan media pembelajaran di SD Kanisius Jetisdepok. Aspek yang diobservasi ketika pembelajaran IPA kelas III adalah ketersediaan dan pemanfaatan media pembelajaran serta cara mengajar oleh guru. Peneliti mencatat hal-hal yang berkaitan dengan aspek yang diobservasi setiap rentang waktu tertentu. Kisi-kisi observasi pembelajaran IPA kelas III dapat dilihat pada tabel 3.1.
Tabel 3.1 Kisi-Kisi Observasi Pembelajaran IPA Kelas III
No.
Item Kisi-kisi Observasi Objek yang Diamati
1,2 Ketersediaan media pembelajaran IPA di kelas
Ada media pembelajaran IPA yang diletakkan di kelas.
Media layak untuk digunakan dalam pembelajaran .
3,4 Penggunaan media dalam pembelajaran IPA di kelas
Guru menggunakan media untuk menjelaskan materi pembelajaran IPA. Guru menguasai cara menggunakan media pembelajaran.
5,6 Cara penggunaan media pembelajaran IPA di kelas
Guru menjelaskan cara penggunaan media pembelajaran IPA kepada siswa. Siswa dapat menggunakan media pembelajaran secara mandiri.
7,8 Kesulitan belajar yang dialami siswa dalam pembelajaran di kelas
Siswa mengalami kesulitan ketika mengikuti pembelajaran IPA di kelas. Siswa mengalami kesulitan ketika mengerjakan soal IPA.
Pedoman observasi telah divalidasi oleh beberapa ahli yaitu ahli pembelajaran IPA dan ahli Montessori. Instrumen nontes yang digunakan untuk mengukur sikap akan diuji validitasnya dengan validitas konstruk (Sugiyono, 2015:176). Validitas konstruk berkaitan pada sejauh mana suatu instrumen mampu mengukur konsep dari suatu teori (Widoyoko, 2009:131). Oleh sebab itu, pedoman observasi tadi diuji dengan uji validitas konstruk. Berdasakan validasi
49 konstruk yang dilakukan oleh ahli akan diperoleh hasil rerata skor validasi pedoman observasi. Hasil validasi pedoman observasi dapat dilihat pada tabel 4.1 halaman 68.
3.6.2 Pedoman Wawancara
Peneliti melakukan wawancara dengan beberapa narasumber, yaitu kepala SD Kanisius Jetisdepok, guru kelas III dan siswa kelas III. Wawancara yang dilakukan oleh peneliti bertujuan untuk menganalisis kebutuhan media pembelajaran IPA dari narasumber.
3.6.2.1Wawancara Kepala Sekolah
Peneliti melakukan wawancara yang pertama kepada kepala SD Kanisius Jetisdepok. Wawancara yang dilakukan oleh peneliti termasuk dalam bentuk wawancara terencana-tidak terstruktur karena peneliti menyusun rencana wawancara menggunakan pedoman wawancara yang hanya merupakan garis-garis besar permasalahan yang akan ditanyakan tetapi tidak menggunakan format dan ukuran yang baku (Widoyoko, 2015:44 & Yusuf, 2014:377). Adapun rencana wawancara dengan kepala sekolah dapat dilihat pada tabel 3.2.
Tabel 3.2 Rencana wawancara dengan Kepala Sekolah
No Topik Pertanyaan
1. Informasi berkaitan dengan sekolah
a. Prestasi yang telah diraih siswa dalam bidang akademik b. Prestasi yang telah diraih siswa dalam bidang non akademik c. Nilai UN mata pelajaran IPA
2. Ketersediaan media pembelajaran di sekolah
a. Media pembelajaran IPA yang sudah ada di sekolah b. Perawatan media pembelajaran IPA di sekolah c. Pengadaan media pembelajaran IPA di sekolah 3. Penggunaan media dalam pembelajaran IPA
50
3.6.2.2Wawancara Guru Kelas III
Peneliti melakukan wawancara yang kedua kepada guru kelas III. Wawancara yang dilakukan oleh peneliti termasuk dalam bentuk wawancara terencana-tidak terstruktur karena peneliti menyusun rencana wawancara menggunakan pedoman wawancara yang hanya merupakan garis-garis besar permasalahan yang akan ditanyakan tetapi tidak menggunakan format dan ukuran yang baku (Widoyoko, 2015:44 & Yusuf, 2014:377). Adapun rencana wawancara dengan guru kelas III dapat dilihat pada tabel 3.3.
Tabel 3.3 Rencana Wawancara dengan Guru Kelas III
No Topik Pertanyaan
1. Ketersediaan media pembelajaran di kelas
a. Media pembelajaran IPA yang dimiliki oleh kelas b. Pengadaan media pembelajaran IPA oleh guru 2. Penggunaan media dalam pembelajaran IPA
3. Kesulitan yang dialami guru dalam menyampaikan materi pembelajaran IPA 4. Kesulitan belajar yang dialami siswa dalam pembelajaran IPA
5. Usaha yang dilakukan guru untuk mengatasi kesulitan-kesulitan tersebut
3.6.2.3Wawancara Siswa Kelas III
Peneliti juga melakukan wawancara kepada beberapa siswa kelas III. Wawancara yang dilakukan oleh peneliti termasuk dalam bentuk wawancara terencana-tidak terstruktur karena peneliti menyusun rencana wawancara menggunakan pedoman wawancara yang hanya merupakan garis-garis besar permasalahan yang akan ditanyakan tetapi tidak menggunakan format dan ukuran yang baku (Widoyoko, 2015:44 & Yusuf, 2014:377). Adapun rencana wawancara dengan siswa kelas III dapat dilihat pada tabel 3.4.
Tabel 3.4 Rencana Wawancara dengan Siswa Kelas III
No Topik Pertanyaan
1. Tanggapan terhadap pembelajaran IPA yang selama ini terjadi 2. Penggunaan media dalam pembelajaran IPA
51 Pedoman wawancara kepada kepala sekolah, guru dan siswa telah divalidasi oleh beberapa ahli yaitu ahli pembelajaran IPA, ahli Montessori dan guru SD. Instrumen tersebut divalidasi supaya dapat digunakan untuk mengumpulkan data yang valid selama penelitian. Instrumen nontes yang digunakan untuk mengukur sikap akan diuji validitasnya dengan validitas konstruk (Sugiyono, 2015:176). Validitas konstruk berkaitan pada sejauh mana suatu instrumen mampu mengukur konsep dari suatu teori (Widoyoko, 2009:131). Oleh sebab itu, pedoman wawancara tadi diuji dengan uji validitas konstruk. Berdasarkan hasil uji validitas konsruk yang dilakukan oleh beberapa ahli tadi, diperoleh hasil rerata skor validasi pedoman wawancara. Hasil validasi pedoman wawancara kepala sekolah dapat dilihat pada tabel 4.3 halaman 70. Hasil validasi pedoman wawancara guru dapat dilihat pada tabel 4.6 halaman 72. Hasil validasi pedoman wawancara siswa dapat dilihat pada tabel 4.9 halaman 74.
3.6.3 Kuesioner
Peneliti menggunakan kuesioner untuk beberapa hal yaitu analisis kebutuhan, validasi produk oleh para ahli, dan validasi produk melalui uji coba lapangan terbatas.
3.6.3.1Kuesioner Analisis Kebutuhan
Kuesioner analisis kebutuhan yang digunakan oleh peneliti termasuk dalam bentuk kuesioner tidak terstruktur atau kuesioner terbuka karena responden dapat menjawab pertanyaan sesuai dengan pendapatnya sendiri (Sanjaya, 2013:258). Responden yang digunakan oleh peneliti untuk mengisi kuesioner analisis kebutuhan adalah guru dan seluruh siswa kelas III SD Kanisius
52 Jetisdepok. Hasil dari pengisian kuesioner analisis kebutuhan digunakan oleh peneliti sebagai pertimbangan dalam merancang media pembelajaran yang dikembangkan. Adapun kisi-kisi kuesioner analisis kebutuhan dapat dilihat pada tabel 3.5.
Tabel 3.5 Kisi-kisi Kuesioner Analisis Kebutuhan
Indikator Deskriptor Nomor item Kuesioner Guru Kuesioner Siswa Auto-education 1. Menggunakan media dalam
pembelajaran IPA
1 1
2. Memahami konsep IPA secara mandiri 2 2
Menarik 1. Memiliki warna 5 dan 6 6 dan 7
Bergradasi 1. Bentuk media pembelajaran 9 10
2. Berat media pembelajaran 8 8
Auto-correction 1. Membantu menemukan kesalahan sendiri
10 9
2. Membantu menemukan jawaban yang benar
7 5
Kontekstual 1. Memanfaatkan bahan dari lingkungan sekitar
3 dan 4 3 dan 4
Kelima indikator yang terdapat dalam kisi-kisi analisis kebutuhan dikembangkan menjadi 10 pertanyaan untuk guru dan 10 pertanyaan untuk siswa yang disusun dalam kuesioner analisis kebutuhan.
3.6.3.2Kuesioner Validasi Produk
Peneliti menyusun kuesioner validasi produk dengan memperhatikan ciri- ciri media pembelajaran berbasis metode Montessori, yaitu auto-correction, auto-
education, menarik, bergradasi, dan satu ciri tambahan yaitu konteksual.
Kuesioner yang dibuat oleh peneliti akan divalidasi supaya dapat mengetahui kelayakan media pembelajaran yang dikembangkan. Kuesioner validasi produk diisi oleh beberapa ahli yaitu ahli pembelajaran Montessori, ahli pembelajaran IPA, dan guru SD. Pengisian kuesioner validasi produk oleh ahli dilaksanakan setelah peneliti selesai mempresentasikan media pembelajaran yang
53 dikembangkan. Selain kuesioner validasi produk oleh ahli, ada juga kuesioner tanggapan mengenai media pembelajaran oleh siswa. Siswa mengisi kuesioner tanggapan mengenai media pembelajaran setelah melakukan uji coba terbatas. Kuesioner validasi produk oleh ahli dan kuesioner tanggapan mengenai media pembelajaran oleh siswa memiliki indikator yang sama. Adapun kisi-kisi kuesioner validasi produk oleh ahli dan kuesioner tanggapan mengenai media pembelajaran oleh siswa dapat dilihat pada tabel 3.6.
Tabel 3.6 Kisi-kisi Kuesioner Validasi Produk oleh Ahli dan Kuesioner Tanggapan mengenai Media Pembelajaran oleh Siswa
Indikator Deskriptor Nomor Item
Ahli Siswa
Auto- education
1. Membantu siswa memahami konsep IPA 1 2
2. Siswa belajar secara mandiri 2 1
Kontekstual 1. Memanfaatkan benda dari lingkungan sekitar 3 10 2. Dapat diproduksi oleh masyarakat sekitar dan
sekolah/guru
4 11
Menarik 1. Memiliki warna yang menarik bagi siswa 5 3 2. Bentuk media pembelajaran menarik 6 4 3. Cara kerja media pembelajaran menarik 7 7 Bergradasi 1. Dapat digunakan untuk lebih dari satu kompetensi 8 5
2. Memiliki berat yang sesuai dengan karakteristik siswa
9 6
Auto- correction
1. Membantu siswa menemukan kesalahan sendiri 10 8 2. Membantu siswa menemukan jawaban yang benar 11 9
Lima indikator yang terdapat dalam kisi-kisi dikembangkan menjadi 11 pernyataan untuk ahli dan 11 pernyataan untuk siswa yang disusun dalam kuesioner validasi produk oleh ahli dan kuesioner tanggapan oleh siswa. Selain produk berupa media pembelajaran, produk yang berupa album media pembelajaran juga diuji kelayakannya. Adapun aspek yang akan dinilai pada validasi album dapat dilihat pada tabel 3.7.
54 Tabel 3.7 Aspek Penilaian Album Media Pembelajaran
No Aspek yang Dinilai
1 Kesesuaian bahasa dengan tata bahasa Indonesia yang baku 2 Kejelasan kalimat
3 Pemilihan jenis huruf 4 Pemilihan ukuran huruf 5 Pemilihan ukuran gambar 6 Kejelasan gambar 7 Kelengkapan album
8 Keruntutan langkah-langkah kegiatan
9 Kesesuaian langkah kegiatan dengan gambar yang digunakan
10 Kesesuaian perilaku dalam langkah kegiatan dengan perkembangan siswa
Kuesioner analisis kebutuhan dan kuesioner validasi produk divalidasi oleh beberapa ahli, yaitu ahli pembelajaran IPA, ahli Montessori, dan guru SD. Instrumen tersebut divalidasi supaya instrumen tersebut dapat digunakan untuk mengumpulkan data yang valid saat penelitian berlangsung. Instrumen nontes yang digunakan untuk mengukur sikap akan diuji validitasnya dengan validitas konstruk (Sugiyono, 2015:176). Validitas konstruk berkaitan pada sejauh mana suatu instrumen mampu mengukur konsep dari suatu teori (Widoyoko, 2009:131). Oleh sebab itu, kuesioner tadi diuji dengan uji validitas konstruk. Melalui validasi konstruk yang dilakukan oleh beberapa ahli tadi diperoleh hasil rerata skor validasi kuesioner analisis kebutuhan dan rerata skor validasi produk. Hasil validasi kuesioner analisis kebutuhan guru dapat dilihat pada tabel 4.12 halaman 79, sedangkan hasil validasi kuesioner analisis kebutuhan siswa dapat dilihat pada tabel 4.14 halaman 80. Hasil validasi kuesioner validasi produk oleh ahli dapat dilihat pada tabel 4.27 halaman 108, sedangkan hasil validasi kuesioner tanggapan mengenai media pembelajaran oleh siswa dapat dilihat pada tabel 4.28 halaman 109.
Di samping uji validitas konstruk, kuesioner untuk siswa perlu melakukan tahap uji keterbacaan. Uji keterbacaan dilakukan kepada siswa kelas III SD setara bertujuan untuk mengetahui tingkat pemahaman siswa terhadap kalimat
55 pertanyaan atau pernyataan dalam kuesioner. Berdasarkan hasil uji keterbacaan tadi diperoleh rerata skor uji keterbacaan kuesioner. Hasil uji keterbacaan kuesioner analisis kebutuhan guru dapat dilihat pada tabel 4.13 halaman 80, sedangkan hasil uji keterbacaan kuesioner analisis kebutuhan siswa dapat dilihat pada tabel 4.15 halaman 81. Selain itu, hasil uji keterbacaan kuesioner tanggapan mengenai media pembelajaran oleh siswa dapat dilihat pada tabel 4.29 halaman 110.
3.6.4 Soal Tes
Dalam penelitian ini, peneliti menggunakan tes sebagai pretest dan
posttest. Pretest dan posttest digunakan oleh peneliti untuk mengetahui hasil
belajar siswa sebelum dan sesudah menggunakan media pembelajaran dalam uji coba terbatas. Selain itu, pretest dan posttest digunakan sebagai data pendukung untuk mengetahui kualitas media pembelajaran. Pretest dilakukan sebelum uji coba terbatas dan posttest dilakukan setelah uji coba terbatas. Peneliti menyusun
dan mengembangkan tes berdasarkan Kompetensi Dasar (KD) “Mendekripsikan
perubahan yang terjadi pada makhluk hidup dan hal-hal yang mempengaruhi pertumbuhan dan perkembangan anak (makanan, kesehatan, rekreasi, istirahat dan olahraga)” untuk kelas III semester gasal. Peneliti mengembangkan KD tadi menjadi dua indikator. Dua indikator yang sudah dibuat oleh peneliti dikembangkan menjadi 10 soal uraian terbatas tipe melengkapi. Adapun kisi-kisi soal tes dapat dilihat pada tabel 3.8.
56 Tabel 3.8 Kisi-kisi Soal Tes
Kompetensi Dasar Indikator
Nomor Soal Uraian terbatas tipe
melengkapi 1.3 Mendekripsikan perubahan
yang terjadi pada makhluk hidup dan hal-hal yang mempengaruhi pertumbuhan dan perkembangan anak (makanan, kesehatan, rekreasi, istirahat dan olahraga)
1.3.1 Menyebutkan arti daur hidup. 9 1.3.2 Menyebutkan tahap perubahan pada katak. 1, 2, 3, 4, 5, 6, 7, 8, 10
Instrumen tes yang sudah dibuat oleh peneliti akan diuji validitasnya. Validitas merupakan suatu derajat ketepatan instrumen (alat ukur), apakah instrumen yang digunakan sudah tepat untuk mengukur apa yang akan diukur (Arifin, 2011:245). Instrumen dikatakan valid apabila instrumen tersebut dapat dengan tepat mengukur apa yang hendak diukur (Widoyoko, 2015:141). Validitas yang digunakan untuk instrumen tes adalah validitas isi dan validitas konstruk. Pengujian validitas isi dapat dilakukan dengan membandingkan antara isi instrumen dengan materi pelajaran yang telah diajarkan (Sugiyono, 2011:177). Adapun aspek penilaian validitas isi instrumen tes pada tabel 3.9.
Tabel 3.9 Aspek Penilaian Validitas Isi Instrumen Tes
No Komponen penilaian
1 Kesesuaian Standar Kompetensi, Kompetensi Dasar, dan indikator
2 Kesesuaian perilaku yang dituntut dalam indikator dengan perkembangan siswa 3 Kesesuaian indikator 1 dengan item soal yang diberikan
4 Kesesuaian indikator 2 dengan item soal yang diberikan 5 Kesesuaian penggunaan bahasa dengan bahasa Indonesia baku 6 Kesesuaian penulisan kalimat pertanyaan
Sedangkan validitas konstruk adalah pengujian validitas yang dilakukan dengan melihat kesesuaian konstruksi butir yang ditulis dengan kisi-kisinya (Purwanto, 2007:134). Validitas konstruk mengacu pada sejauh mana suatu instrumen mengukur konsep dari suatu teori (Widoyoko, 2009:131). Pengujian
57 validitas konstruk dapat dilakukan dengan meminta pertimbangan ahli. Validitas isi dan validitas konstruk dilakukan oleh ahli, yaitu guru SD setara. Hasil validasi isi dapat dilihat pada tabel 4.20 halaman 103 dan hasil validasi konstruk dapat dilihat pada tabel 4.21 halaman 103.
Instrumen tes yang sudah divalidasi oleh ahli lalu diujicobakan secara empiris kepada siswa kelas III di SD setara. Hasil uji empiris diolah dengan menggunakan Statistic Package for Social Studies 20 (SPSS 20) for Windows untuk mengetahui validitas dan reliabilitas instrumen tes. Item soal yang valid dapat dilihat dari perbandingan antara r hitung dengan r tabel. Jika r hitung lebih besar daripada r tabel maka item tersebut dapat dikatakan valid dan sebaliknya. Disamping itu, valid atau tidaknya suatu instrumen dapat dilihat dari harga sig. (2- tailed). Jika harga sig. (2-tailed) lebih kecil dari 0,05, item soal dikatakan valid (Widoyoko, 2009:139). Hasil perhitungan item soal yang valid dan tidak valid setelah diolah dengan SPSS 20 for Windows dapat dilihat pada 4.23 halaman 106.
Setelah melakukan penghitungan validitas pada instrumen tes, peneliti juga menghitung reliabilitasnya. Reliabilitas berasal dari kata reliable dalam bahasa Inggris memiliki arti dapat dipercaya (Widoyoko, 2015:157). Instrumen tes dikatakan dapat dipercaya (reliable) apabila memberikan hasil yang tetap atau konsisten apabila diteskan berulang kali (Widoyoko, 2015:157). Peneliti bisa mengetahui item soal tersebut reliabel atau tidak dengan melihat nilai koefisien
Alpha. Item soal dalam instrumen tes tersebut diolah dengan menggunakan
Statistic Package for Social Studies 20 (SPSS 20) for Windows dengan
menghitung nilai koefisien Alpha. Menurut Kaplan (Widoyoko, 2015:165), apabila instrumen tes memiliki koefisien Alpha sekurang-kurangnya 0,7 maka
58 item soal tersebut dapat dikatakan reliabel. Hasil perhitungan reliabilitas pada item soal dengan SPSS 20 for Windows dapat dilihat pada tabel 4.24 halaman 106.
Berdasarkan hasil pengolahan validitas dan reliabilitas pada instrumen tes yang sudah peneliti lakukan, peneliti memilih 10 soal yang akan digunakan sebagai soal pretest dan posttest. Kesepuluh soal yang digunakan oleh peneliti diuji keterbacaannya oleh siswa kelas III di SD setara. Uji keterbacaan dilakukan kepada siswa kelas III SD setara bertujuan untuk mengetahui tingkat pemahaman siswa terhadap kalimat pertanyaan atau pernyataan dalam soal tes. Berdasarkan hasil uji keterbacaan tadi diperoleh rerata skor uji keterbacaan instrumen tes. Hasil uji keterbacaan instrumen tes dapat dilihat pada tabel 4.26 halaman 107.
3.7 Triangulasi
Triangulasi merupakan teknik pengumpulan data yang bersifat menggabungkan berbagai teknik pengumpulan data dan sumber data yang telah ada (Sugiyono, 2015:330). Triangulasi bertujuan bukan untuk mencari kebenaran tentang beberapa fenomena, melainkan untuk meningkatkan pemahaman peneliti terhadap apa yang telah ditemukan (Sugiyono, 2015:330). Triangulasi dibedakan menjadi dua, yaitu triangulasi teknik dan triangulasi sumber. Triangulasi teknik memiliki arti bahwa peneliti menggunakan teknik pengumpulan data yang berbeda-beda untuk mendapatkan data dari sumber yang sama sedangkan triangulasi sumber memiliki arti bahwa peneliti mendapatkan data dari sumber yang berbeda-beda menggunakan teknik pengumpulan data yang sama (Sugiyono, 2015:330).
59 Pada penelitian ini digunakan triangulasi teknik. Triangulasi teknik digunakan oleh peneliti untuk mendapatkan data analisis kebutuhan. Teknik pengumpulan data yang digunakan oleh peneliti adalah observasi, wawancara, dan kuesioner. Analisis kebutuhan dilaksanakan di awal untuk mengumpulkan data mengenai ketersediaan dan penggunaan media pembelajaran di kelas III. Adapun bagan triangulasi teknik pada bagan 3.4.
Bagan 3.4 Triangulasi Teknik Pengumpulan Data Analisis Kebutuhan
Berdasarkan bagan 3.4 peneliti mendapatkan data analisis kebutuhan melalui teknik observasi, wawancara, dan kuesioner. Data yang diperoleh dari triangulasi teknik digunakan sebagai pertimbangan peneliti dalam mengembangkan media pembelajaran. Hasil triangulasi teknik dapat dilihat pada bagan 4.2 halaman 91. Selain triangulasi teknik, peneliti juga menggunakan triangulasi sumber. Triangulasi sumber digunakan oleh peneliti untuk menganalisis data hasil wawancara berdasarkan tiga sumber data. Adapun bagan triangulasi sumber pada bagan 3.5.
Bagan 3.5 Triangulasi Sumber Data Wawancara
Observasi Wawancara Kuesioner Kepala Sekolah Siswa Guru
60 Berdasarkan bagan 3.5, peneliti melakukan wawancara kepada beberapa narasumber, yaitu kepala sekolah, guru, dan siswa. Hasil triangulasi sumber dapat dilihat pada bagan 4.1 halaman 76. Hasil triangulasi sumber ini digunakan oleh peneliti untuk mengidentifikasi permasalahan yang dialami selama pembelajaran IPA di kelas III.
3.8 Teknik Analisis Data
Setelah proses pengumpulan data selesai, maka langkah selanjutnya yang akan dilakukan oleh peneliti adalah menganalisis data. Analisis data merupakan suatu proses kegiatan yang dilakukan setelah data terkumpul dari seluruh responden atau sumber data lainnya (Sugiyono, 2015:207). Data yang diperoleh dari hasil pengumpulan data dibedakan menjadi dua macam, yaitu data kuantitatif dan data kualitatif. Data kuantitatif merupakan data yang berwujud angka-angka sebagai hasil observasi atau pengukuran sedangkan data kualitatif merupakan data yang menunjukkan kualitas atau mutu sesuatu yang ada, baik keadaan, proses, peristiwa/kejadian dan lainnya yang dinyatakan dalam bentuk pernyataan atau berupa kata-kata (Widoyoko, 2015:18-21). Berikut merupakan pembahasan dari masing-masing teknik analisis data yang digunakan oleh peneliti.
3.8.1 Analisis Data Kuantitatif
Dalam penelitian ini peneliti memperoleh data kuantitatif dari validasi pedoman observasi, validasi pedoman wawancara, validasi kuesioner analisis kebutuhan, validasi kuesioner validasi produk, uji empiris soal tes, uji keterbacaan kuesioner dan soal tes, serta pretes dan posttest melalui uji coba terbatas. Analisis