• Tidak ada hasil yang ditemukan

1.5. Kerangka Pemikiran 65

1.6.2. Wawancara Mendalam (In-Depth Interview)

Wawancara mendalam dilakukan dengan cara tatap muka. Hasil wawancara dicatat dalam catatan dan juga direkam dengan alat perekam jika partisipan tidak keberatan. Durasi wawancara bersifat fleksibel. Artinya, disesuaikan dengan situasi yang sedang berlangsung ketika wawancara dilakukan.

Percakapan sehari-hari yang dilakukan oleh saya dengan para informan juga bisa menjadi sumber data yang dapat diandalkan. Kedekatan yang telah cukup lama dibangun oleh saya dengan para anggota KCB memungkinkan percakapan sehari-hari yang berlangsung memuat beberapa topik yang “berat” dan “sensitif.” Misalnya, percakapan tentang masalah etnis dan pandangan pribadi para informan terhadap hal tersebut telah dikategorikan oleh mereka sebagai sebuah percakapan yang ringan dan bersifat sehari-hari. Informan tidak lagi mengalami rasa canggung dan kikuk dalam membahas hal-hal yang dianggap tabu, terlebih karena lawan bicara mereka (maksudnya saya) juga adalah orang Tionghoa yang notabene mengalami “nasib” yang sama.

Wawancara mendalam biasanya diawali dengan pertanyaan yang menyiratkan “pengalaman bersama” antara saya dan mereka. Saya selalu memulai sebuah wawancara dengan menceritakan pengalaman hidup saya sendiri terlebih dulu. Pengalaman hidup yang saya ceritakan adalah pengalaman-pengalaman tertentu yang sengaja dipilih karena mengandung muatan etnis di dalamnya. Salah satunya, ketika ingin bertanya tentang prasangka etnis antara mereka dan orang non-Tionghoa, saya memulainya dengan menceritakan tentang pengalaman saya waktu kecil ketika bersepeda dan diganggu oleh sekelompok anak non-Tionghoa dengan ejekan berbau rasis. Saya meneruskan cerita ini dengan menyampaikan perasaan dan emosi saya terkait apa yang saya alami dan dengan

sikap dan pilihan kata yang seolah-olah menyatakan simpati mendalam saya atas setiap diskriminasi yang mungkin dialami juga oleh orang Tionghoa lainnya. Setelah itu, saya baru mulai melontarkan pertanyaan kepada informan saya mengenai pengalaman serupa yang mungkin juga pernah mereka alami. Kesimpulan saya menunjukkan bahwa metode ini efektif karena semua informan yang ditanyai langsung merespons dengan antusiasme dan emosi yang meluap-luap. Saya dan para informan juga bercerita tentang pengalaman hidup masing-masing dengan canda tawa jika mengingat bagaimana kita (selaku orang Tionghoa) membalas ejekan dan diskriminasi yang dialami, kemudian melarikan diri karena takut dikeroyok oleh anak-anak non-tionghoa. Rasa kesal juga kadangkala muncul jika mengingat pengalaman-pengalaman tertentu yang kurang mengenakkan, seperti ketika salah seorang informan dilempari batu di kepalanya ketika sedang berjalan santai. Sebagian besar wawancara dilakukan di tempat-tempat umum seperti kafe dan rumah makan. Dengan alasan makan bersama, wawancara di tempat umum seperti ini sekaligus untuk menjaga kenyamanan para informan. Jika dilakukan di rumah kontrakan atau di KCB, misalnya, ada kemungkinan kalau orang-orang yang hilir mudik di dalam ruangan mengganggu jalannya wawancara. Akan tetapi, wawancara di rumah kontrakan dan KCB juga kadangkala dilakukan jika kebetulan kedua tempat tersebut sedang sepi.

Kerahasiaan identitas adalah aspek yang sangat penting dalam penelitian lapangan. Semua nama partisipan diganti dengan nama samaran. Para partisipan juga diberikan waktu untuk mendiskusikan proyek penelitian ini dan pertanyaan-pertanyaan yang berkaitan dengan penelitian yang dilakukan, terutama yang berkaitan dengan beberapa pertanyaan yang bersifat “sensitif.” Jika membicarakan masalah yang sensitif adalah satu hal, maka menerbitkannya ke dalam sebuah tulisan ilmiah adalah sebuah hal lain lagi.

1.6.3. Informan

Partisipan potensial haruslah individu yang sudah berusia 18 tahun atau lebih, telah menjadi anggota KCB minimal selama 1 tahun, dan terlibat aktif di dalam setiap kegiatan KCB. Definisi “aktif di dalam kegiatan KCB” adalah semua aktivitas KCB yang dilakukan di KCB ataupun di rumah sendiri, setidaknya seminggu sekali. Batas minimal usia 18 tahun dipilih karena merupakan batas minimal seseorang telah dianggap dewasa. Lama anggota yang harus mencapai minimal 1 tahun ditetapkan untuk memastikan bahwa informasi yang didapat oleh saya adalah jenis informasi yang kredibel. Sebagai tambahan, saya juga menetapkan syarat “aktif” untuk mengeliminir informan-informan yang meskipun telah bertahun-tahun menjadi anggota KCB, namun tidak pernah aktif mengikuti kegiatan apapun. Para informan adalah 20 orang anggota KCB (sekaligus juga peserta FGD) yang telah berada di KCB selama minimal setahun dan aktif dalam berbagai kegiatan yang diadakan oleh KCB.

Saya memilih 20 orang sebagai peserta FGD dan sekaligus merangkap informan karena alasan praktis. Pemilihan para informan dilakukan secara acak, dalam artian bahwa informan akan langsung dipilih jika ia sudah memenuhi kriteria. Individu yang telah dipilih secara kebetulan namun ternyata tidak mewakili variasi kriteria akan disisihkan. Selain itu, para informan haruslah individu yang mampu meluangkan waktunya untuk mengikuti FGD dan kemungkinan wawancara mendalam. Individu yang tak memenuhi syarat ini juga dieliminir demi menjaga kenyamanan dan privasi mereka. Pemilihan para informan secara acak juga karena alasan praktis.

Dengan demikian, bisa dikatakan lebih lanjut bahwa alasan pemilihan para informan adalah semata-mata karena mereka yang sudah terpilih memang memenuhi syarat

keterpilihan sebagai informan, yakni mewakili heterogenitas dan kompleksitas orang Tionghoa di Indonesia. Dalam penelitian ini, heterogenitas dan kompleksitas yang dimaksud berusaha direpresentasikan dengan kelima kriteria di atas (jenis kelamin, umur, asal daerah, sub-etnis, dan pekerjaan). Pertimbangan saya dalam memilih 20 orang secara acak dan merangkap sebagai peserta FGD sekaligus informan, selain karena alasan praktis, juga dilakukan karena saya meyakini bahwa nama-nama individu yang muncul dalam daftar keterpilihan adalah orang-orang yang pasti mengetahui informasi dan seluk-beluk KCB secara mendalam. Saya harus mengakui bahwa keyakinan saya ini bersifat subjektif, karena hanya didasari pada kedekatan hubungan saya dengan mereka serta pengetahuan terbatas saya tentang pengalaman dan informasi yang mungkin mereka miliki terkait KCB.

Informan adalah para individu yang diseleksi secara acak dari beragam kriteria. Rinciannya adalah sebagai berikut: jenis kelamin: 15 pria & 5 wanita; usia: merentang dari 21-28 tahun; tempat lahir: 8 orang Medan, 5 orang Jakarta, 2 orang Palembang, 2 orang Riau, 1 orang Banjarmasin, 1 orang Jambi, 1 orang Yogyakarta; sub-etnis, 10 orang Hokkian, 4 orang Khek, 4 orang Teociu, 2 orang Hokcia; pekerjaan: 8 orang pelajar, 7 orang karyawan, 5 orang wiraswasta.

Penelitian ini berfokus pada 20 orang yang menjadi peserta FGD sekaligus informan kunci dalam meneliti proses pencarian identitas orang Tionghoa penganut Buddhisme-Tibet di Indonesia. Orang-orang yang mengisi biodata dan data persebaran demografi (lampiran 2) dipilih menjadi responden penelitian untuk mencari tahu tentang pandangan umum atau garis besar tentang hal-ihwal di KCB, misalnya tentang karakteristik umum dari orang Tionghoa, deskripsi umum tentang KCB dan berbagai kegiatan yang

berlangsung di dalamnya, gambaran umum tentang suasana ketika sesi ritual dan retret, dan lain-lain. Wawancara dengan para responden dilakukan secara serentak ketika saya mengumpulkan data persebaran demografi dan biodata tentang mereka. Setelah data yang diisi oleh individu saya kumpulkan, biasanya saya tidak langsung pamit pulang. Alih-alih, saya singgah sebentar di rumah mereka untuk berbincang-bincang ringan mengenai tema-tema yang berhubungan dengan topik penelitian saya. Di lain pihak, wawancara dengan para informan dilakukan ketika sesi FGD. Wawancara lanjutan yang sifatnya mendalam dilakukan dengan sebagian informan jika dirasakan bahwa terdapat pandangan yang unik dan berbeda dari pandangan mayoritas para peserta FGD.

Sesi FGD dipandu dengan cara memperkenalkan tema-tema yang dibahas di dalam sesi. Setiap tema dibuka oleh saya selaku pemandu FGD. Setelah menyatakan opini pribadi terkait tema yang didiskusikan, saya meminta tiap peserta untuk memberikan pendapat pribadi mereka. Untuk membantu menyusun apa saja yang harus dikomentari oleh peserta secara runtut, saya menanyakan pertanyaan-pertanyaan pancingan dan utama. Pertanyaan pancingan berisi informasi umum mengenai kehidupan dan keseharian individu dalam menjalani hidupnya dan mengenai kehidupan mereka selama di KCB. Pertanyaan utama adalah pertanyaan tentang proses pencarian dan pergumulan identitas (detail pertanyaan di lampiran 2). Setiap pendapat dari seorang peserta boleh disela dengan pertanyaan dan komentar dari peserta lainnya. Setiap perbedaan pendapat didiskusikan lebih lanjut untuk dicari akar perbedaannya. Jika waktu tak memungkinkan, pendapat atau pandangan yang berbeda ini digali lagi dalam sesi wawancara mendalam. Selanjutnya, di akhir tiap sesi, ditarik kesimpulan umum mengenai diskusi terkait.

Akan tetapi, sumber informasi yang saya rasa paling efektif dan kredibel adalah partisipasi obeservasi di dalam setiap kegiatan para anggota. Saya berusaha mengikuti hampir semua acara dan kegiatan yang dilakukan oleh KCB. Sebagian besar acara ini adalah sesi pengajaran oleh Suhu dan ritual sembahyang berkala. Melalui kedua acara ini, saya bisa lebih mendekatkan diri dengan para anggota KCB sekaligus juga melaksanakan metode verstehen yang telah dijabarkan di atas.

Waktu saya yang “tidak terbatas” di KCB memudahkan proses partisipasi observasi yang optimal dan maksimal. Maksudnya, sebagai “orang dalam,” saya bisa menginap dengan bebas di KCB ataupun di rumah kontrakan anggota. Jarak rumah kos yang dekat dengan KCB juga memudahkan saya bolak-balik rumah kos-KCB setiap saat saya menginginkannya. Dengan demikian, saya meminimalisir kemungkinan melewatkan beberapa peristiwa penting yang mungkin terjadi ketika seorang peneliti tinggal jauh dari lokasi penelitiannya dan tetap menjaga posisi saya sebagai pengumpul data primer. 1.6.4. Kendala Kajian

Kendala yang hadir dalam kajian ini, jika ditilik dari konteks proyek penelitian yang umum tentang identitas kultural, adalah fokusnya yang hanya terbatas pada satu identitas keagamaan dan satu tempat spesifik, yakni identitas agama Buddhisme Tibet di KCB. Buddhisme Tibet atau Tantrayana adalah salah satu aliran dari agama Buddha di Indonesia. Jika agama Buddha di Indonesia saja sudah merupakan minoritas, maka aliran Tantrayana ini dapat dikatakan sebagai minoritas dalam minoritas. Artinya, pengaruh dari Buddhisme Thailand dan Buddhisme Cina terhadap orang Tionghoa bisa saja berbeda dari pengaruh yang ditimbulkan oleh Buddhisme Tibet. Pengaruh identitas-identitas keagamaan lainnya terhadap orang Tionghoa juga bisa saja berbeda-beda satu sama lain.

Pengaruh identitas kultural selain agama juga merupakan faktor yang tidak dapat dianggap remeh. Semua identitas kultural ini mungkin saja akan menimbulkan proses pembentukan komuniti yang berbeda-beda karakteristiknya. Kalaupun semua identitas tersebut akan mencapai hasil yang sama, tentu saja proses-proses yang ditempuh akan berbeda-beda dalam tahap perkembangannya.

Meskipun hasil penelitian ini dapat digunakan sebagai perbandingan dengan hasil-hasil penelitian sejenis lainnya, dan meskipun tujuan awal saya memang hanya ingin berfokus pada suatu arena sosial lokal, namun efek dari identitas-identitas kultural lainnya dalam proses pembentukan identitas orang Tionghoa juga harus dipertimbangkan bagi para peneliti yang ingin melakukan studi perbandingan tentang masalah ini.

1.7. Sistematika Skripsi

Bab 1 terdiri dari latar belakang masalah dan isu-isu yang mengelilinginya, pertanyaan penelitian, tinjauan pustaka yang berisi konsep-konsep yang dipakai saya sebagai alat analisis, serta yang terakhir, metodologi yang digunakan ketika saya melakukan penelitian di lapangan. Di dalamnya, disisipkan sub bab “operasionalisasi konsep” yang menjelaskan secara ringkas tentang detail-detail bagaimana penelitian ini dilakukan, alat ukur yang dipakai saya untuk mengukur hal-hal yang berkaitan dengan penelitian, serta alasan saya lebih memilih beberapa teknik dan alat ukur tertentu dibandingkan dengan yang lainnya.

Bab 2 merupakan gambaran umum mengenai lokasi penelitian. Di sini, saya akan menyajikan karakteristik demografis dari komposisi jumlah penganut Buddhis di kota Bandung, jumlah orang Tionghoa di kota Bandung, dan jumlah penganut Buddhisme-Tibet di Indonesia secara umum. Kemudian, struktur dari KCB sebagai sebuah organisasi

Buddhis juga akan dijabarkan secara ringkas. Terakhir, juga akan disajikan gambaran umum tentang filosofi Buddhisme-Tibet yang menjadi fondasi dari KCB.

Bab 3 menjelaskan tentang bagaimana identitas-identitas kultural ketionghoaan, entah itu yang bersifat Konfusianis maupun tidak, mempengaruhi pola pikir, sudut pandang, perikehidupan, dan kebudayaan dari orang-orang Tionghoa di KCB. Identitas-identitas ini, pada akhirnya, menjadi semacam penanda unik yang membedakan secara tegas antara orang Tionghoa dan non-Tionghoa. Garis tegas inilah yang selama ini menjadi sumber dari beragam kesalahpahaman dan diskriminasi, baik yang dilakukan oleh pihak orang Tionghoa maupun non-Tionghoa.

Bab 4 dan bab 5 membahas tentang bagaimana suatu identitas dapat secara perlahan-lahan berubah menjadi suatu identitas lainnya, sebagai akibat dari pembentukan yang dilakukan oleh dialektika antara rasionalitas aktor dan KCB sebagai sebuah struktur yang “memaksa” aktor mengikuti aturannya. Bab 4 akan menguraikan tentang perubahan dari identitas Tionghoa menjadi identitas Buddhisme-Tibet, sedangkan bab 5 akan membahas perubahan dari identitas Buddhisme-Tibet ke tahap berikutnya, yakni identitas Indonesia. Bab 6 adalah kesimpulan dari keseluruhan penelitian ini, yang berisi rangkuman dari tiap-tiap bab yang digabung menjadi satu ulasan yang komprehensif. Bab ini juga akan dilengkapi dengan pendapat saya tentang signifikansi dari hasil kajian ini, ringkasan singkat tentang kajian-kajian bertema serupa yang sebelumnya pernah diteliti, dan juga saran untuk penelitian kajian-kajian bertema serupa di masa depan. Penelitian ini, dan juga sedikit pendapat dan saran yang saya tawarkan, mudah-mudahan dapat menjadi tonggak awal bagi penelitian antropologis tentang orang Tionghoa di Indonesia, dampak sistem kepercayaan dalam membentuk alam kebudayaan suatu masyarakat, dan juga

interaksi antara kedua tema besar ini sebagai dua buah variabel yang persilangannya niscaya akan selalu menghasilkan suatu fenomena yang unik untuk dikaji oleh para ilmuwan sosial.

BAB 2

ORANG TIONGHOA & BUDDHISME-TIBET DI BANDUNG: SEBUAH

GAMBARAN UMUM

2.1. Pengantar

Bab ini menggambarkan lokasi penelitian secara umum, dengan menyajikan beragam data yang berkaitan dengan masalah penelitian dan tujuan penelitian. Bab ini ingin menjelaskan sebuah komuniti Tionghoa Buddhis-Tibet di dalam organisasi Buddhisme-Tibet yang bernama KCB. Fokusnya adalah pada bagaimana orang-orang Tionghoa di KCB ini secara perlahan-lahan mulai merangkul identitas baru selain identitas lama mereka, sebagai upaya untuk menemukan jati diri mereka dalam suatu kelompok etnis yang selama ini menjadi minoritas dalam negara. Karena lokasi penelitian terletak di Bandung, maka terlebih dulu digambarkan tentang karakteristik demografis orang Tionghoa dan agama Buddha yang ada di kota ini.

2.2 Setting

Menurut Dienaputra (dikutip dalam Colombijn dkk, 2005), Bandung merupakan salah satu kota penting di Indonesia karena pernah dinominasikan menjadi hoofdstad (ibukota) menggantikan Batavia. Nominasi ini akhirnya berujung pada pembangunan tata kota Bandung menjadi kota modern bergaya Eropa. Setelah Bandung ditingkatkan statusnya menjadi gemeente (kotamadya) pada tanggal 1 April 1906 oleh Gubernur Jenderal J. B. Van Heutsz, terjadi peningkatan konsentrasi jumlah penduduk yang datang dan menetap di Bandung. Jika di tahun 1906 jumlah penduduk hanya tercatat sebesar 47.391 jiwa, maka pada tahun 1920 jumlah penduduk di Bnadung sudah melonjak sampai sebesar 102.227 jiwa. Peningkatan ini terutama sekali disebabkan oleh masuknya orang Eropa,

yang jumlahnya meningkat sampai lima kali lipat. Selanjutnya, pada tahun 1961, jumlah penduduk melonjak lagi ke angka 973.000 jiwa. Lonjakan yang fantastis ini salah satunya disebabkan oleh urbanisasi besar-besaran penduduk yang berasal dari daerah konflik DI/TII, misalnya Garut, Kuningan, Sukabumi, dan lain-lain.

Pemerintah kolonial di Bandung, sebagaimana kebijakan umumnya di Indonesia, juga melakukan melakukan pembagian antara pemukiman untuk orang Eropa, orang Cina dan Timur Asing lainnya, serta orang pribumi. Orang Eropa ditata untuk tinggal di daerah sekitar Andir, Kosambi, Jalan Riau, daerah sekitar Gedung Sate, dan Taman Lalu Lintas Ade Irma Suryani. Pusat kegiatan ekonomi dan gaya hidup Eropa berada di sekitar Jalan Braga dan Asia-Afrika. Di sisi lain, untuk golongan Timur Asing, terutama orang Cina, pemerintah kolonial menempatkan mereka di sekitar pusat-pusta perdagangan, yakni di daerah sekitar Pasar Baru. Golongan pribumi kebanyakan ditempatkan di daerah sekitar Karapitan, sedangkan golongan pribumi dari kelas menengah di daerah sekitar Cihapit. Kelompok pribumi lainnya yang tidak masuk ke dalam tata rencana pemerintah kolonial membangun pemukiman berdasarkan kelompok etnis atau daerah asal mereka masing-masing, misalnya Kampung Jawa, Babakan Surabaya, Babakan Tarogong, Babakan Ciamis, dan Babakan Bogor. Setelah era kemerdekaan, tata rencana kota tidak mengalami perubahan signifikan. Salah satu perubahan kecil, misalnya, daerah utara kota Bandung yang sebelumnya menjadi tempat tinggal orang Eropa kini berubah menjadi tempat pemukiman masyarakat golongan menengah ke atas. Berikut ditampilkan tabel populasi penduduk kota Bandung 1906-1970.

Tahun Pribumi Eropa Cina Total 1906 41.393 2.199 3.799 47.391 1920 82.263 10.658 9.306 102.227 1930 129.871 19.327 16.690 165.888 1935 142.009 22.178 19.242 183.429 1940 171.457 27.726 25.534 224.717 1961 973.000 1965 1.058.000 1970 1.176.000

Sumber rujukan: Kantor Sensus dan Statistik Jawa Barat, 1971 (Dienaputra, “Bandung 1906-1970: Studi tentang Perkembangan Ekonomi Kota,” dalam Colombijn dkk, 2005)

Berdasarkan tabel di atas, terlihat bahwa sejak tahun 1961, sensus penduduk tidak lagi mencatat jumlah persebaran etnis di kota Bandung. Hal ini kemungkinan besar disebabkan oleh perjanjian dwikewarganegaraan antara pemerintah Indonesia dan Cina pada tahun 1955 di Bandung. Perjanjian ini menyebabkan sebagian orang Tionghoa yang totok berpindah kewarganegaraan. Selain itu, awal dekade 1960-an sepertinya menjadi periode kritis yang ditandai oleh konflik etnis antar orang Tionghoa dan non-Tionghoa. Krisis ditandai oleh peristiwa kerusuhan di Bandung pada tahun 1963 (Setiono, 2008). Dengan berbagai pertimbangan tersebut, sulit kiranya menentukan secara pasti jumlah orang Tionghoa yang terdapat di Bandung.

Survei BPS kota Bandung tahun 2012 hanya memiliki persebaran penganut agama di 27 kecamatan dari total 30 kecamatan. Populasi total dari 27 kecamatan ini sendiri adalah 2.812.888 jiwa, dengan rincian 94,6% (2.660.978 jiwa) menganut Islam, 3,2% (90.868 jiwa) Protestan, 1,6% (45.789 jiwa) Katolik, 0,3% (9.652 jiwa) Buddha, 0,2% (4.394 jiwa) Hindu, dan 0,1% (1.199 jiwa) penganut kepercayaan lain. Di 3 kecamatan sisanya (Sukajadi, Cicendo, Andir), BPS kota Bandung tidak memiliki persebaran penganut agama dan hanya mencantumkan populasi penduduk, dengan rincian masing-masing sebagai berikut: Sukajadi: 105.963 jiwa, Andir: 95.392 jiwa, Cicendo: 97.544 jiwa;

populasi total ketiga kecamatan: 298.889 jiwa. Jika digabungkan, maka populasi total dari 30 kecamatan di Bandung adalah 3.111.779 jiwa.

Akan tetapi, jika kita memakai persentase penganut agama dari 27 kecamatan tersebut di atas terhadap 3 kecamatan sisanya secara kasar, maka didapat data sebagai berikut: 94,6% (282.758 jiwa) menganut Islam, 3,2% (9.565 jiwa) Protestan, 1,6% (4.782 jiwa) Katolik, 0,3% (897 jiwa) Buddha, 0,2% (598 jiwa) Hindu, dan 0,1% (299 jiwa). Jadi, bisa disimpulkan bahwa jumlah total penganut Buddhis di Bandung adalah 4.992 jiwa. Mengenai jumlah orang Tionghoa di Bandung sendiri, dari total 30 kecamatan, tidak ada satu pun yang memuat data tentang persebaran etnis. Hal ini barangkali disebabkan oleh muatan politis dalam proses identifikasi etnis.

Untuk perhitungan jumlah orang Tionghoa secara kasar, kita dapat memakai metode Leo Suryadinata (2002) dalam menaksir jumlah orang Tionghoa di Indonesia. Apabila kita sepakat bahwa semua penganut Buddhis umumnya adalah orang Tionghoa, maka kita akan mendapatkan jumlah awal 4.992 jiwa. Selanjutnya, jika kita juga sepakat bahwa persentase orang Tionghoa penganut Kristen (Protestan dan Katolik) di seluruh Indonesia masih berkisar pada angka 0,5% (Suryadinata, 2002), kita dapat secara kasar menerapkan angka 0,5% ini pada kasus Bandung. Dengan demikian, akan didapatkan jumlah orang Tionghoa penganut Kristen (Protestan dan Katolik): 755 jiwa. Sehingga, jika digabungkan, maka jumlah total orang Tionghoa di Bandung secara kasar adalah sekitar 5.747 jiwa, atau hanya sekitar 0,18% dari total populasi. Jumlah ini sendiri bukanlah jumlah yang pasti dan akurat. Salah satu alasannya, jumlah ini hanya terbatas pada orang-orang yang memiliki KTP Bandung saja. Sebagaimana dicontohkan oleh kasus orang-orang Tionghoa di KCB, misalnya, hampir tidak ada satu pun dari para pendatang (maksudnya

yang bukan asli orang Bandung) yang memiliki KTP Bandung. Dampaknya, di kelurahan Pasteur yang menjadi tempat KCB berada, jumlah penganut Buddha tercatat hanya sebesar 29 orang saja pada tahun 2012, padahal penganut Buddha di KCB sendiri saja (tempat-tempat lain belum diperhitungkan) sudah mencapai hampir 100 orang.

Bertolak belakang dengan persentase penganutnya yang relatif kecil, Bandung memiliki jumlah vihara yang relatif banyak. Tercatat ada sekitar 30 vihara yang berlokasi di Bandung. Sebagian besar vihara terletak di daerah pecinan. Persebarannya adalah sebagai berikut: 4 di Jalan Kelenteng, 3 di Jalan Pagarsih, 3 di Jalan Luna, 2 di Jalan Cibadak, 2 di Gang Onong, dan sisanya masing-masing 1 di Jalan Otista, Jend. Gatot Soebroto, Moh. Iskat, Jend. Soedirman, Gang Wangsa, Kosasih Matawi Jaya, Kebon Sirih, Sawit, Gang Ibu Aisah, Kebon Jukut, Ir. H. Djuanda, Sasak Gantung, Ciguriang, Bojolola. 2 vihara sisanya terletak di daerah Cisarua dan Lembang.

Dari deskripsi data di atas, dapat disimpulkan bahwa karakteristik pola persebaran vihara di Bandung masih berkorelasi erat dengan orang Tionghoa yang memang menjadi penganut utamanya. Vihara-vihara tampaknya cenderung dibangun di daerah Pecinan untuk memudahkan umat Buddhis Tionghoa beribadah di sana. Selain itu, lokasi yang berdekatan dengan daerah pecinan juga memudahkan pemeliharaan dan perawatan bangunan vihara.

2.3. Kesulitan Mengidentifikasi Penganut Tantrayana

Seperti disajikan di atas, data jumlah penganut agama Buddha di Bandung relatif sulit

Dokumen terkait