• Tidak ada hasil yang ditemukan

Hari/tanggal : Senin 23 Juni 2008 Waktu : 09.00-10.00 WIB Tempat : rumah subyek Interviewee : Z

Interviewer : RF

Ketika interviewer datang ke rumah subyek, rumah subyek terlihat sepi hanya ada pembantu rumahnya dan anak subyek yang autis. Bahkan yang membukakan pintu adalah anak subyek yang autis tersebut, karena pembantu rumah subyek sibuk memasak di dapur. Setelah beberapa menit subyek datang, lalu berbincang sebentar menanyakan bagaimana perjalanan saya menuju rumah subyek. Setelah berbincang mengenai berbagai hal mengenai daerah tempat tinggal subyek, barulah dimulai proses wawancara. Tempat dilakukannya wawancara adalah di ruang tamu, dimana terdapat dua buah meja yang berjajar dan dikelilingi beberapa sofa. Tidak ada kendala yang cukup berarti saat proses wawancara, hanya saja anak subyek yang autis sering kali ikut duduk di kursi tempat sedang dilakukannya wawancara. Setelah wawancara selesai, istri subyek baru pulang dari tempat ia bekerja, karena pada waktu itu meskipun libur, namun istri subyek yang bekerja sebagai pegawai TU tetap bekerja.

Kode Z1

Hasil wawancara Analisis W1 Apa yang bapak ketahui tentang

gangguan autis?

Jawab : autis itu ya cirri-cirinya kalau anak itu sulit untuk berkomunikasi dan kadang soaialnya kurang.

Pengetahuan

mengenai autis tidak terlalu dalam.

W2 Apa yang bapak ketahui tentang penyebab

gangguan autis?

Jawab : katanya si penyebab autis itu bisa macam-macam. Kalau saya baca di majalah atau buku penyebabnya ada yang karena obat-obatan, karena proses kelahiran, ada juga yang katanya waktu dalam kandungan. Kalau F ini mungkin karena proses kelahiranya, soalnya waktu lahir F itu lama

Pengetahuan mengenai

penyebab autis, banyak, dan tahu penyebab autis yang terjadi pada anaknya.

banget, karena bayinya itu terbelit usus. W3 Dari mana bapak mengetahui informasi

mengenai gangguan autis?

Jawab : saya si kadang baca buku atau majalah, kadang juga dari koran, terus televisi.

Informasi yang didapat mengenai autis berasal dari buku, majalah, TV, dan surat kabar. W4 Bagaiman dengan gangguan yang diderita

anak bapak, apakah menurut bapak gangguan autis itu ada tingkatan- tingkatannya?

Jawab : ya kata dokter anak saya terkena autis, tapi saya tidak tahu apakah anak saya termasuk ringan atau berat.

Mengetahui

gangguan autis dari dokter, namun tidak mengetahui tingkatan autis yang diderita anaknya.

W5 Sejak kapan bapak tahu bahwa anak

bapak itu berbeda dengan anak lainnya?

Jawab : ya pas masih bayi, waktu kira-kira umurnya hampir satu tahun, tapi kok anak saya belum bisa bicara. Terus saya bawa dia ke dokter, tapi dokter bilang katanya tidak ada apa-apa, cuma terlambat bicara aja. Kemudian dokter menyuruh nunggu sampai usia dua tahun. Terus setelah dua tahun saya kemudian membawanya ke dokter spesialis anak, nah disitu dokter bilang kalau anak saya terkena autis. Gitu mbak.

Mengetahui

anaknya autis sejak umur 2 tahun.

W6 Apa yang terlintas dibenak bapak setelah

mengetahui bahwa anak bapak terkena autis?

Jawab : ya sudah pasti saya sedih, saya bingung, tidak tahu harus bagaimana. Saya baru tahu istilah autis ya itu dari dokter anak saya itu.

Sedih dan bingung setelah mengetahui anaknya autis.

W7 Dalam kondisi bapak yang masih bingung,

apa yang bapak lakukan untuk menghadapi situasi yang sulit itu?

Jawab : saya dan istri saya membawanya ke dokter anak, terus ke psikolog. Ya…sempet mengikuti terapi yang diberikan. Saya bawa anak saya ke jogja, terus ke semarang ya pokoknya kami dah muter-muter untuk mencari pengobatan untuk anak saya.

Membawa anaknya ke dokter dan psikolog setelah mengetahui

anaknya autis.

W8 Selama diperiksakan ke dokter, terapi apa

saja yang diberikan kepada anak bapak ?

Jawab : ya dulu itu ada terapi suruh menata balok, terus terapi apalagi saya tidak tahu, tapi itu dilakukan di tempat kami

Terapi yang diberikan hanya di tempat dokter, dengan alat yang disediakan dokter.

memeriksakan anak kami. Ya kami cuma mengikuti aja apa yang diberikan dokter. W9 Apakah ada terapi-terapi yang dilakukan

di rumah?

Jawab : ya sebenernya si ada, tapi kadang kalau di rumah tidak teratrur, dan kadang anaknya tidak mau mengikuti jadi ya terapinya tidak jalan. Wong si F kadang kalau mau terapi malah tidak mau. Lah dia kalau dipaksa malahjadi uring-uringan ya akhirnya jadi tidak terapi.

Tidak ada terapi yang secara terus menerus dilakukan, karena anaknya tidak mau diterapi.

W10 Apakah selain terapi, ada pelatihan yang diberikan kepada anak bapak ?

Jawab : ya kadang saya atau istri saya atau malah kakak-kakaknya memberikan beberapa pelatihan sederhana, seperti latihan makan sendiri, pakai baju sendiri, mandi, gosok gigi. Tapi untuk latihan konsentrasi, sulit untuk dilakukan, soalnya F seringnya tidak mau, trus nanti kalau dia dipaksa malah jadi uring- uringan. Pelatihan yang diberikan adalah pelatihan untuk merawat diri seperti makan sendiri, mandi, gosok gigi, memakai baju sendiri.

W11 Apakah semua anggota keluarga terlibat dalam prose terapi atau pelatihan?

Jawab : ya secara tidak langsung si iya, tapi kadang yang melatih ya siapa yang tidak sibuk, kan kadang saya capek ya nanti istri, ya pokoknya kita semua saling membantu lah. Tapi kalau kakak-kakanya jarang membantu lah wong mereka sibuk dewe-

dewe. Mereka kan sekolah mbak, jadi ya

jarang dirumah.

Tidak semua anggota keluarga membantu

terapinya.

W12 Bagaimana bapak memberikan pengertian dan pemahaman pada seluruh anggota keluarga, bahwa F itu mengalami gangguan autis?

Jawab : ya saya memberi tahu keluarga saya sebatas yang saya ketahui saja, selebihnya mereka dan saya sendiri mengetahui dari baca buku atau dari televisi. Saya hanya memberitahu bahwa saudara kita berbeda dengan anak lainya. Dan saya tahu kalau anak saya itu membutuhkan penaganan yang khusus, saya juga memberitahukan kepada anak-anak saya yang lain bahwa adeknya itu mempunyai suatu kelainan.

Memberikan pengertian kepada anggota keluarga lainnya sebatas pengetahuan subyek. Subyek mengetahui lebih lanjut dari buku, majalah dan TV. Subyek juga memahami bahwa anaknya membutuhkan penanganan khusus.

W13 Saya mendengar bahwa anak bapak yang autis ini bersekolah di SLB, pertimbangan apa yang membuat bapak memasukan anak bapak ke SLB?

Jawab : ya saya beranggapan bahwa anak saya tidak bisa disekolahkan di sekolah anak normal, jadi saya menyekolahkan anak saya ke SLB.

Itu saja saya yang mengumpulkan orang tua siswa yang mau bersekolah di SLB, sehingga nanti memanggil guru untuk mengajar disitu, gitu mbak. Ya walaupun sebenernya itu tidak tepat. Pertimbangan memasukan anaknya ke SLB karena anaknya tidak normal, subyek juga mengetahui bahwa memasukan anaknya ke SLB sebenarnya tidak tepat.

W14 Kenapa bapak tidak menyekolahkan anak bapak di sekolah khusus untuk anak autis?

Jawab : ya kalau di sekolah khusus untuk anak autis kan mahal mbak, lagi pula kalau dari sini jauh, jadi susah mbak.

Tidak

menyekolahkan anaknya ke sekolah autis karena biaya dan jarak yang jauh dari tempat tinggal subyek.

W15 Menurut bapak, seberapa pentingkah pendidikan untuk anak bapak yang autis?

Jawab : ya penting mbak, tapi bagaimana lagi anak saya kan kemampuannya kurang, ya kalau diberi pelajaran ya kurang bisa menerimanya.

Pendidikan itu penting, namun anaknya

kemampuannya kurang, jadi tidak diberikan

pendidikan. W16 Bagaimana dengan masa depan anak

bapak ?

Jawab : ya begini-begini aja, selama saya bisa merawat, ya akan saya rawat dengan sebaik-baiknya. Saya juga sudah berusaha memeriksakan dia kemana-mana, tapi hasilnya seperti ini. Saya kan juga masih punya dua anak lagi, kalau saya teruskan pengobatan untuk F ya nanti kakak– kakaknya tidak bisa sekolah, karna kan biayanya mahal mbak.

Masa depan anaknya yang autis

tidak jelas, karena

dia juga memikirkan biaya

untuk anaknya yang lain, sehingga tidak

menyekolahkan anaknya yang autis. W17 Selama bersekolah di SLB , apakah anak

mampu bersosialisasi?

Jawab : di sekolah F hanya diam, malah ke sekolah cuma jajan saja, di sekolah dia tidak bisa mengikuti pelajaran yang diberikan gurunya. Di kelas kalau diajari gurunya malah nangis.

Anak tidak mampu mengikuti

pelajaran yang diberikan di sekolahnya.

mengantar anak bapak ?

Jawab : biasanya saya yang mengantar F ke sekolah, terus nanti yang nungguin pengasuhnya.

mengantar anaknya yang autis ke sekolah, namun yang menunggu anaknya yang autis

itu adalah pengasuhnya.

W19 Kenapa F berhenti dari sekolah?

Jawab : ya karena tidak ada yang mengantar ke sekolah, saya kan harus bekerja, istri saya juga. Jadi ya sudah F berhenti sekolah.

Berhenti

bersekolah karena tidak ada yang mengantarkan

anaknya yang autis ke sekolah.

W20 Apakah bapak mengajarinya sendiri di rumah?

Jawab : ya paling diajari cara merawat diri aja.

Subyek hanya mengajari cara merawat diri saja dirumah.

W21 Bagaimana pemberian pendidikan untuk anak bapak?

Jawab : ya kalau pendidikan, apa ya.. F ini kalau diajarin tidak mau, kalau dipaksa malah nangis, jadi ya sudah saya biarkan saja dia mau melakukan apa, yang penting tidak berbahaya.

Tidak diberi pendidikan secara khusus.

W22 Apa yang biasanya bapak lakukan saat di rumah bersama anak bapak ?

Jawab : ya biasanya sepulang sekolah saya menemani F menonton TV. Kan biasanya kalau saya dan istri saya berangkat kerja, F ditinggal sama pengasuhnya.

Saat di rumah subyek menemani anaknya yang autis menonton TV.

W23 Apakah semua anggota keluarga dan bapak sendiri selaku kepala keluarga terlibat secara pro aktif dalam proses pendidikannya?

Jawab : ya saya dan istri saya berusaha untuk mengajari F belajar, berkonsentrasi dan lain – lain, tetapi F malah yang tidak mau diajarin, kalau dia dipaksa, malah nangis. Jadi ya sudah dibiarkan saja, yang penting F tidak rewel. Tapi kalau kakak-kakaknya sibuk sengan urusan mereka sendiri-sendiri jadi jarang ngurusin adeknya.

Tidak semua anggota keluarga terlibat dalam proses pendidikan untuk anak autis.

W24 Bagaimana komunikasi bapak dengan anak bapak yang autis?

Jawab : ya komunikasi kami biasa saja, ya kan kita tinggal satu rumah, setiap hari

Komunikasi

subyek dengan anak autis biasa saja. Tidak

ketemu,jadi ya biasa saja. Kadang malah saya tidak boleh pergi-pergi sama F, soalnya dia maunya saya menemaninya nonton TV. Dan kalau saya tertidur saat nemenin dia nonton TV, dia nangis. Semua anggota keluarga mengerti apa yang diminta atau dimaksudkan F. jadi kalau dia minta apa sama kakak- kakaknya ya mereka juga mengerti. Misalnya ya mbak, kalau dia lapar malam-malam, terus dia dengar ada nasi goreng lewat di depan rumah, nanti dia narik-narik tangan saya, terus bilang “agh…ah…” gitu. Saya tau itu artinya dia kepingin beli.

mengalami kesulitan yang berarti. Subyek mengerti bahasa yang digunakan anaknya dalam mengutarakan maksudnya. Seluruh anggota keluarga juga sudah paham dengan bahasa yang dipakai F untuk meminta sesuatu.

W25 Kegiatan apa saja yang biasa bapak lakukan bersama anak bapak yang autis?

Jawab : kegiatan yang paling sering dilakukan yaitu menonton TV, biasanya saya menemani F menonton TV. Dia sudah tau waktunya mandi, terus dia punya kebiasaan mematikan lampu setiap pagi dan menyalakannya kalau sore. Jadi dia itu apalan, dia itu rapi.dia tahu waktunya mandi, jadi sepertinya dia tahu jam jamnya. Nanti kalau sudah tau waktunya mandi, dia narik- narik tangan saya, maksudnya suruh mandikan dia.

Kegiatan yang biasa dilakukan bersama anak autis adalah menonton TV serta mandi, karena Z selalu memandikan anak Z yang autis.

W26 Dalam sehari semalam, kira-kira berapa jam bapak dapat berinteraksi secara intensif dengan anak bapak yang autis?

Jawab : ya kira-kira yang benar-benar internsif 3-4 jam, yaitu pada saat saya menemaninya menonton televisi.

Dalam sehari semalam, interaksi subyek dengan anak autis yang intensif selama 3-4 jam.

W27 Terapi apa saja yang masih dilakukan sampai sekarang ?

Jawab : kalau sekarang F sudah tidak pernah mendapatkan terapi. Kan biaya untuk mengikuti terapi mahal.

Sekarang anak autis tidak mendapatkan

terapi. W28 Kenapa tidak pernah dilakukan terapi

dirumah?

Jawab : kalau dirumah, F itu anaknya malas, kalau disuruh apa, dia tidak mau, nanti kalau dipaksa dia rewel. Sedangkan saya dirumah kadang sudah capek, saya juga tidak mau tambah capek menghadapi anak rewel.

Tidak diberi terapi karena anak autisnya tidak mau diajari dan subyek merasa capek.

W29 Bagaimana bapak memberikan pengertian dan pemahaman kepada F mengenai kehidupan yang harus dijalani?

Jawab : ya gimana ya mba, saya cuma mengajarkan hal-hal yang sederhana seperti perawatan sehari-hari, bagaimana mandi, kapan dia harus bangun tidur, kapan dia harus tidur. Soalnya mba, dia itu susah sekali kalau disuruh tidur, kadang saya sudah ngantuk, tapi dia masih belum tidur. Saya juga memberitahu bahwa saya dan ibunya harus berangkat bekerja setiap pagi, dan pulang siang. Dia mengerti, kalau ditinggal bapak sama ibu, tidak boleh nakal. Kalau ada tamu, dia juga mengerti bagaimana harus memperlakukanya dirumah. Ya seperti itu lah mbak. Subyek hanya memberikan pengertian yang sederhana mengenai perawatan sehari- hari kepada anak autis.

W30 Apakah bapak selalu memberikan pelatihan dan pengarahan kepada anak bapak yang autis?

Jawab : ya itu tadi, paling kalau ada sesuatu yang F tidak tahu, baru saya kasih tahu. Ya paling-paling saya mengajarinya kegiatan sehari-hari supaya dia bisa misalnya mandi, waktunya mandi, saya suruh dia mandi, nanti dia jadi tahu waktu mandi. Tapi dek’ne ki sudah mengerti waktunya mandi, ya mungkin karena dibiasakan ya mbak. Kalau pelatihan khusus si tidak ada mbak.

Tidak ada pelatihan yang diberikan kepada anak autis. Z hanya memberi pengertian tentang kegiatan yang harus anaknya lakukan seperti mandi.

W31 Bagaimana perasaan bapak dan seluruh anggota keluarga lainnya setelah mengetahui bahwa salah satu anak bapak mengalami gangguan autis?

Jawab : ya waktu pertama kali saya tahu kalau anak saya terkena autis, ya tentunya sedih, kaget, bingung juga, tapi setelah dijelaskan, ya akhirnya kita semua sama- sama tahu. Ya bagaimana lagi mbak, mungkin ini sudah menjadi kehendak allah, ya kita terima saja. Mungkin awlnya kita stress, tapi lama kelamaan ya biasa saja.

Awalnya subyek stress mengetahui anaknya autis, namun lama– kelamaan biasa saja.

W32 Bagaimana sikap dan perlakuan bapak dan semua anggota keluarga terhadap anak autis ini?

Jawab : kami bersikap baik, saya sebagai orang tua ya bagaimanapun keadaan anak

Sikap subyek pada awalnya tidak bisa menerima keadaan anaknya, namun lama–kelamaan

saya, saya tetap sayang sama dia, apalagi dia tidak seperti anak pada umumnya. Ya siapa si yang ingin punya anak autis, saya rasa ya tidak ada yang menginginkannya, tapi kalau sudah terjadi ya sudah. Awalnya mungkin kami bingung, belum bisa menerima secara apa adanya, namun lama kelamaan, kita semua sudah dapat menerimanya. Kami memperlakukannya ya seperti biasa, tidak membedakan karena dia beda.

subyek dapat menerima anakya apa adanya.

W33 Bagaimana bentuk dukungan keluarga terhadap proses terapi dan pemberian pendidikan pada anak autis tersebut?

Jawab : dukungan ya… gimana ya mbak, untuk masalah pendidikan ya bukannya saya tidak mau menyekolahkan anak saya, tapi kalau saya mau menyekolahkan “F” ya nanti kasihan kakak-kakaknya “F” mereka tidak bisa sekolah. Biaya untuk “F” kan mahal. Ya paling saya dan istri saya mengajari seadanya di rumah. Kalau kakak-kakaknya mereka jarang mengajari “F” sesuatu, kadang saja mbaknya mengajari “F” nulis, tapi ya malah ga mau. Untuk memberikan pendidikan jujur saja saya juga jarang. Saya tidak mengajarkannya tentang pelajaran sekolah, karena saya tahu dia tidak mau diajarin. Kalau disuruh nulis atau menggambar, dia ini tidak mau, malah nangis, yo wis lah… piye

meneh..

Dukungan dari keluarga kurang begitu juga dari Z. Z tidak terlalu peduli dengan pendidikan

ankanya yang autis..

W34 Apakah bapak tidak berusaha untuk mengajarinya berbicara atau mengajarinya menulis?

Jawab : ya dulu pernah ngajarin menulis, tapi tu F ga mau mbak. Kalau diajarin dia tidak mau. Kemaren saja disuruh nggambar dia tidak mau. Ya kalau dia sudah tidak mau ya sudah.

Usaha subyek dalam mengajari anaknya yang autis untuk menilis kurang.

W35 Apakah kerjasama yang baik sudah terjalin antara anggota keluarga untuk terlibat aktif dalam usaha memandirikan remaja autis?

Jawab : menurut saya si kerjasamanya ya gimana ya mbak. Ya…bisa dibilang kurang lah.., apalagi kakak–kakaknya kan sibuk dengan urusan mereka sendiri, mereka

Kerjasama antar anggota keluarga untuk

memandirikan anak autis kurang.

sekolah jadi ya jarang memperhatikan adeknya.ya paling yang ngajarin saya sama ibunya.

W36 Mengapa bapak tidak memberikan pendidikan yang sesuai dengan kebutuhan anak bapak?

Jawab : ya kalau di sekolahkan di sekolah autis di daerah sisni tidak ada mba, kalau ada si mungkin sudah saya masukan ke sekolah autis. Lagi pula kan biayanya yang tidak ada. Ya kalau saya ngurusin F terus, ya nanti kakak–kakanya tidak bisa sekolah.

Tidak memberikan pendidikan yang sesuai karena tidak adanya sarana yang mendukung serta biaya yang dibutuhkannya.

W37 Apakah bapak merasa kesulitan dalam mencari informasi tentang autis?

Jawab : ya agak sulit, saya kadang baca di majalah, surat kabar, kadang saya juga lihat di TV. Tapi saya tahu pertama ya dari dokter anak yang memeriksa anak saya, itupun cuma sekedar tahu nama gangguannya, penjelasan selanjutnya ya saya baca – baca di majalah atau buku. Tapi mbak saya bacanya kalau ada waktu luang, saya gunakan untuk baca-baca buku tentang autis, ya sebenarnya bisa dibilang saya telat menangani anak saya.

Subyek merasa kesulitan dalam mencari informasi mengenai autis.

W38 Maksud bapak terlambat dalam menangani anak bapak itu seperti apa?

Jawab : ya maksudnya gini mbak, kadang kan saya baca-baca buku tentang autis, misalnya begini, disitu ada beberapa makan yang boleh dan tidak boleh dikomsumsi anak autis, ya sebenarnya itu termasuk terapi makanan. Saya sudah tahu dari membaca, tapi saya terlambat menerapkannya, soalnya dari kecil “F” itu makan apa saja, dia doyan ya sudah dimakan saja, yo ora memperhatikan makanan tersebut boleh dimakan apa tidak. contone de’ne ki seneng

banget karo mie, padahal kan ora entuk makan mie. Lah piye meneh, nek ora diwei de’ne nangis. Ya dari pada nangis y owes to mbak, tak kasih wae.

Z mengakui bahwa Z terlambat dalam menangani

anaknya yang autis. Z mengerti bahwa beberapa makan tidak boleh dikonsumsi

anaknya yang autis dari membaca buku, namun Z tidak peduli apakah makanan tersebut baik untuk anaknya atau tidak. Z memberikan

makanan yang sebenarnya tidak boleh dikonsumsi anak autis kepada anaknya yang autis,

mengetahui hal tersebut.

W39 Bapak kan sudah tahu sekarang beberapa makanan yang tidak diperbolehan untuk anak autis, tapi kok bapak masih memberikannya kepada anak bapak tersebut?

Jawab: Ya gimana ya mbak, tapi ya alhamdulillah anak saya makan ya ga papa. Selama tidak ada masalah ya saya biarin aja, yang penting dia itu anteng, ogak rewel.

Subyek menuruti kemauann anaknya, meskipun hal tersebut tidak baik untuk anaknya. Subyek memberikan apa yang anaknya inginkan, yang penting membuat anaknya tidak rewel.

W40 Saat ini apa harapan bapak kepada anak bapak sekarang?

Jawab : ya saya si hanya berharap anak saya sehat terus, meskipun kondisinya sekarang seperti ini. Ya meskipun dia kurang normal, tapi kalau sehat kan seneng. Soalnya sebenarnya fisiknya bagus, dia makanya banyak, Cuma mungkin ada sarafnya yang kurang normal atau gimana.

Harapan subyek kepada anaknya, anaknya selalu sehat.

W41 Dulu bapak pergi ke dokter seberapa sering?

Jawab : ya dulu waktu F masih umur satu atau dua tahunan gitu ya kira-kira 4 sampai 5 kali ke dokter, tapi kan obatnya setiap bulan harus dibeli. Tapi kalu ke pengobatan alternatif ya beberapa kali.

Pada awalnya subyek sering membawa anaknya ke dokter dan rutin membeli obat untuk anaknya.

W42 Sejak kapan pengobatan untuk anak bapak dihentikan ?

Jawab : sejak kapan ya, kalau pengobatan ke dokter kalau ga salah sekitar umur empat sampai lima tahun gitu mbak. Ya dulu kan saya sama istri saya berpikiran kalau saya hanya mengurusi pengobatan F, ya saya tidak bisa membiayai kakak-kakaknya yang lain sekolah. Tapi kalu pengobatan alternatif ya sambil jalan gitu.

Pengobatan untuk anaknya berhenti saat anaknya kira-