• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB I PENDAHULUAN

2.3 Westernisasi Setelah Perang Dunia II

Pada tahun 1868, Meiji Tenno sebagai pemerintah baru mengutarakan janji

五箇条 誓文 (gokajou no seimon). Tenno meningkatkan kehidupan ekonomi dan politik, dengan cara mencari ilmu dari seluruh dunia. Jepang mendukung dan mengadapsi segala hal dari Barat. Jepang terlahir kembali dengan Amerika sebagai ibu baru dan Prancis sebagai ayah. Sikap ini semakin berkembang pada zaman Taisho.

Suryohadiprojo (1982:26-31) mengatakan dalam proses awal modernisasi di Jepang, ada beberapa hal yang fundamental dilakukan oleh pemerintahan Meiji, yaitu :

1. Penghapusan gologan samurai dan tembok pemisahan antara golongan petani, tukang, serta pedagang.

2. Diadakannya pendidikan wajib dan bebas bagi seluruh rakyat selama 4 tahun dan dibukanya berbagai macam tingkat sekolah, hingga pada tingkat universitas.

3. Sikap Jepang untuk lebih berorientasi kepada kekuatan sendiri dari pada berdasarkan pada bantuan luar negeri.

4. Diadakannya sistem wajib militer melalui UU pada tahun 1872. 5. Perubahan sistem perpajakan.

Dari lima tindakan fundamental yang dilakukan pemerintahan Meiji, telah terbukti hasilnya berupa perang Jepang – Rusia pada tahun 1904 – 1905. Jepang berhasil memenangkan perang. Kemenangan Jepang membuktikan bahwa Jepang dapat mengimbangi bangsa Eropa dan memperkuat kepercayaan diri bangsa Jepang. Pada perkembangan selanjutnya, Jepang mengalami kemajuan pada fase Perang Dunia I. Dalam Perang Dunia I negara-negara Eropa tidak mampu memproduksi barang-barang untuk daerah jajahan di Asia, karena negara-negara tersebut terlibat perang. Sejak saat itu Jepang memperoleh daerah pemasaran hasil industrinya di wilayah Asia. Ditambah lagi karena Jepang turut serta dalam perang dengan memihak Inggris yang pada saat Perang Dunia I menjadi pihak yang menang, sehingga Jepang mendapat sebagian dari bekas jajahan Jerman.

Dengan keberhasilan modernisasi yang dilakukan dari keadaan terisolasi dan jauh tertinggal dari negara luar, menjadi sebuah negara yang mengalami kemajuan pesat dalam bidang pengetahuan dan teknologi, serta dalam bidang ekonomi membuat Jepang menjadi agresif keluar. Jepang mulai melakukan ekspansinya ke China dan akhirnya turut serta melibatkan diri dalam Perang Dunia II. Serangan yang dilakukan Jepang atas Pearl Harbour merupakan awal dari keikutsertaan Jepang dalam Perang Dunia II. Jepang bersama dengan Jerman dan Italia melawan Amerika, Inggris, Rusia dan sekutunya. Jepang bersekutu dengan Jerman dan Italia karena kesamaan paham yang mereka anut yaitu, Fasisme. Selain fasisme, Jepang memiliki motivasi lain dalam melakukan invasi. Salah satunya adalah konsep Hakko Ichiu. Konsep ini pertama kali diungkapkan oleh Jimmu Tenno, salah satu Kaisar Jepang pada 600SM. Hakko Ichiu sendiri memiliki arti “8 penjuru di bawah 1”. Orang Jepang pada masa itu berasumsi

bahwa seluruh dunia merupakan keluarga besar dan Jepang sebagai keturunan Dewa menjadi pemimpin seluruh dunia. Asumsi bahwa kaisar sebagai perwujudan dunia nyata berasal dari shintoisme. Ajaran ini sudah mendarah daging dalam akar budaya Jepang. Oleh karena itu, ketika Jepang melakukan invasi para tentara dengan semangat tinggi rela melakukan apapun demi Kaisar yang dianggap dewa. Menggunakan Hakko ichiu sebagai pemacu semangat benar-benar efektif bagi Jepang pada masa itu.

Namun hasil Perang Dunia II tidak menguntungkan bagi Jepang. Meskipun awalnya Jepang berhasil menduduki beberapa negara di kawasan Asia seperti Korea dan Indonesia, Jepang mengalami kekalahan dalam Perang Dunia II. Jepang akhirnya menyadari bahwa strateginya untuk menguasai dunia melalui kekuatan militernya mengalami kegagalan dan bahkan mengalami kerugian di berbagai sektor ekonomi yang cukup parah akibat terjadinya penghancuran terhadap dua kota pusat industrinya, Nagasaki dan Hiroshima dibom atom oleh Amerika Serikat.

Jepang mulai merayap untuk membangun negaranya dengan berangkat kembali dari titik nol. Bagaimana pun strategi untuk menguasai dunia dengan kekuatan militer harus diganti dengan menampilkan dirinya sebagai „economic animal‟ yang benar-benar harus bisa tampil tanpa pandang bulu dan juga harus menyingkirkan segala bentuk pertimbangan moralitas untuk mencapai tujuannya itu.

Menurut Ishihara Shintaro, seorang pengarang terkenal dan pernah menjadi anggota Diet (Parlemen) dari LDP, unsur paling mendasar dalam proses

modernisasi Jepang pasca kekalahannya dari Perang Dunia II ialah dengan membentuk „mentalitas lapar‟ orang Jepang. Kita semua maklum, orang lapar bisa berbuat apa saja untuk menutupi laparnya, termasuk berbuat yang tidak bermoral.

Bangsa Jepang, memang menempatkan dirinya ibarat permukaan cermin yang luas, yang menerima dan memantulkan cahaya dari peradaban bangsa- bangsa lain di dunia. Para ahli tehnik, industri otomotif dan elektronika, budayawan dan cendikiawan, selalu haus agar cermin itu dapat menerima bayangan kemajuan dari negara lain untuk kemudian diadopsi, direkayasa sehingga akhirnya menjadi produk baru yang lebih canggih dari aslinya dan itu merupakan karya bangsa Jepang yang kemudian dilempar ke pasaran dunia.

Program pendidikan merupakan aset utama dalam program pembangunan nasional Jepang. Anggaran belanja negara, banyak tersedot dalam program ini dan pada awalnya terutama untuk proyek-proyek penerjemahan serta riset dan penelitian, khususnya di bidang teknologi dan industri. Seperti halnya yang dilakukan oleh Taiwan yang kini termasuk “Macan Asia” sebagai salah satu negara industri baru di kawasan Timur, Jepang mendidik para penerjemah (antara lain dengan mengirim mereka keluar negeri) di mana setelah memperoleh pengetahuan bahasa yang cukup mereka harus segera kembali dan mulai melaksanakan tugas menerjemahkan buku apa saja dari luar, khususnya dari negara-negara Barat yang dianggap sudah lebih maju, ke dalam bahasa Jepang.

Dengan cara demikian rakyat Jepang, terutama para pelajar dan mahasiswa yang duduk di perguruan tinggi, tak harus membuang waktu dengan bersusah payah belajar bahasa asing. Mereka dapat mempelajari dan mengadopsi ilmu-ilmu

terapan dari Barat dengan lebih mudah melalui literature yang sudah tertulis dalam bahasa Jepang.

Pada tahun 1947, Jepang memberlakukan Konstitusi Jepang yang baru. Berdasarkan konstitusi baru, Jepang ditetapkan sebagai negara yang menganut paham pasifisme dan mengutamakan praktik demokrasi liberal. Pendudukan AS terhadap Jepang secara resmi berakhir pada tahun 1952 dengan ditandatanganinya Perjanjian San Francisco. Walaupun demikian, pasukan AS tetap mempertahankan pangkalan-pangkalan penting di Jepang, khususnya di Okinawa. Perserikatan Bangsa-Bangsa secara secara resmi menerima Jepang sebagai anggota pada tahun 1956.

Setelah Perang Dunia II, di Jepang terjadi perubahan politik yang sangat signifikan, dengan munculnya beberapa partai politik. Penetrasi ideologi melalui sistem perpolitikan dijadikan sebagai jalan masuk untuk mengambil simpati rakyat yang trauma dengan sistem perpolitikan sebelumnya yang harus dibayar dengan jutaan nyawa yang harus mati di medan perang.

Beberapa partai politik bermunculan, diantaranya partai sosialis, demokratis dan liberal. Pada awal masuknya Jepang menjadi Negara industiy di bagian politik terjadi kemajuan dalam kebijaksanaan partai politik. Sebelum kedua sistem politik tersebut Yoshida Shigeru menggunakan kekuatan di bawah Amerika dan ikatan perjanjian San Fransisco. Namun kebijakan tersebut mendapat tantangan dari para oposisi yang mulai melakukan pergerakan untuk kembalinya ke politik internasional sehingga berimplikasi terbentuknya partai Demokrasi Jepang tahun 1954 yang dipimpin oleh Hatiyama Ichiro.

Antara partai liberal dan demokrasi memiliki sedikit perbedaan, terutama permasalahan kebijaksanaan di bidang internasional, UUD keamanan Jepang Amerika. Sedangkan kesamaan dari kedua partai tersebut dapat terlihat dalam kebijakan pemerintah dan politik, yaitu :

1. Secara ekonomi menjaga kebebasan

2. Setelah perang berahir mempertahankan adat dan budaya serta kebiasaan para leluhur dengan menghargai nilai-nilai yang ada.

3. Memegang teguh perjanjian antara Jepang dan Amerika untuk membangun kembali kekuatan militer.

Namun pada akhirnya partai demokrasi dan liberal menjadi satu partai. Pemulihan ekonomi sudah berjalan cukup jauh sehingga memungkinkan industrinya memasok banyak peralatan selain dari senjata. Ekonomi dunia sedang berada di periode pertumbuhan yang cepat. Jepang yang memiliki pasar dalam negeri yang berkembang pesat, pemerintah yang siap mengucurkan modal dan penduduk yang memiliki kecenderungan menabung uang yang tinggi berada pada posisi untuk meraih manfaat dari perekonomian dunia tersebut. Pada tahun 1960 laju ekonomi Jepang mencapai 13,2%, laju pertumbuhan ini terus dipertahankan selama sepuluh tahun berikutnya.

Selain itu Jepang juga mengusahakan bantuan melalui diplomasi luar negerinya untuk mendapat simpati ataupun dukungan dari Negara lain. Ozawa Ichiro menyatakan bahwa setelah Perang Dunia II, Jepang menetapkan lima pokok garis besar politik luar negerinya sebagai upaya menstabilkan hubungan

internasional yang berlangsung antar negara-negara di seluruh kawasan internasional, adapun lima pokok garis besar tersebut adalah:

1. Mempertahankan kepentingan nasionalnya, yaitu menjadikan tujuan dasar dari politik luar negeri Jepang adalah untuk kepentingan negeri Jepang sendiri.

2. Partisipasi global, artinya sebagai negara maju Jepang memiliki tanggung jawab untuk ikut serta membangun kerjasama internasional yang tidak sebatas pada permasalahan ekonomi saja tetapi juga politik.

3. Tujuan-tujuan diplomatik, yaitu menjadikan Jepang sebagai negara yang kuat dan memiliki tujuan diplomasi yang mapan dengan cara mengembangkan kemampuan strategi untuk mencapainya.

4. Aliansi Amerika Serikat-Jepang, yaitu Jepang harus kembali mempertahankan hubungannya dengan AS sebagai tonggak untuk mewujudkan keamanan dan kemampuan strategi untuk mencapainya. 5. Kawasan Asia-Pasifik, yaitu Jepang harus mengakui arti penting kawasan

Asia Pasifik. Dimana hal tersebut merupakan bentuk diplomasi “pilar kembar” Jepang sebagai anggota dalam komunitas Asia-Pasifik dan juga kelompok negara-negara demokrasi maju.

BAB I

PENDAHULUAN

4.1 Latar Belakang

Seiring dengan perkembangan zaman, kehidupan manusia dari generasi ke generasi mengalami perubahan. Kebudayaan, peradaban, adat istiadat dan tradisi, serta nilai-nilai yang berlaku dalam masyarakat pun berubah. Nilai-nilai dan pandangan lama yang bersifat tradisional, yang berlaku dalam masyarakat pada masa lalu, di zaman sekarang ini telah mengalami pergeseran. Adat istiadat dan tradisi yang dulu mengikat masyarakat, telah mengalami perubahan, dan pelaksanaannya disesuaikan dengan perkembangan zaman. Dengan berkembangnya paham-paham kebebasan, manusia secara individu dapat lebih bebas dalam memilih dan memutuskan sendiri kehidupannya.

Masing-masing negara memiliki adat tradisi dan ciri khas tersendiri. Begitu juga dengan negara Jepang. Negara Jepang terletak di kawasan Asia Timur, berdekatan dengan negara Korea, China dan Rusia. Jepang memiliki 4 pulau besar yaitu Hokkaido, Honshu, Shikoku, dan Kyushu dan beribu pulau-pulau kecil yang dikelilingi oleh laut dan samudra. Pada awalnya masyarakat Jepang tidak begitu jauh berbeda dengan masyarakat di negara Asia lainnya. Yaitu memiliki budaya dan adat istiadat yang unik, beraneka ragam kepercayaan, dengan tata cara pergaulan yang berpegang teguh pada sopan santun dan tata krama. Perbedaan besar terjadi pada sekitar akhir abad ke-18, saat Jepang mulai menyadari bahwa dirinya tertinggal dari negara Barat, baik dari segi ekonomi, pemerintahan, militer,

dan lain-lain. Untuk mengatasi ketertinggalan itu, Jepang kemudian mengadakan restorasi besar-besaran, yang dinamakan Restorasi Meiji.

Tujuan Restorasi Meiji salah satunya adalah mengejar ketertinggalan bangsa Jepang dari bangsa Eropa. Bangsa Jepang mengejar ketertinggalannya tersebut dengan melakukan modernisasi pada berbagai sektor kehidupan. Upaya modernisasi bangsa Jepang salah satunya dilakukan dengan mengadopsi pemikiran, nilai, budaya dan ilmu pengetahuan dari Barat. Modernisasi dan pengadopsian segala hal berbau barat yang merupakan dampak dari restorasi Meiji itu tidak hanya memberikan pengaruh positif saja, tapi juga pengaruh negatif. Salah satu pengaruh negatif tersebut berupa sikap pemujaan terhadap Barat yang berlebihan, yang disebut dengan westernisasi. Sikap ini mulai tumbuh semenjak zaman Meiji dan semakin berkembang pada zaman Taisho. Selain itu, proses modernisasi juga menyebabkan munculnya berbagai perubahan keadaan sosial budaya masyarakat Jepang.

Pada abad itu, westernisasi terjadi di segala bidang, yaitu pemerintahan, militer, ekonomi, teknologi dan lain-lain kecuali budaya. Jepang kini telah menjadi negara maju tanpa meninggalkan kebudayaan mereka. Namun meskipun masyarakat Jepang tetap menjunjung tinggi kebudayaan, tidak dapat dipungkiri proses westernisasi telah banyak merubah pola pikir mereka. Salah satunya adalah tentang penentangan diskriminasi antara kaum pria dan wanita. Westernisasi telah merubah pola pikir wanita Jepang untuk memiliki kehidupan yang sederajat dengan kaum pria seperti hal nya persamaan gender yang ada di Eropa.

Peran wanita Jepang mengalami perubahan dari waktu ke waktu. Gender memang merupakan prinsip penting dalam stratifikasi sejarah Jepang, namun di bawah pemerintahan feodal Tokugawa (1600-1868), status wanita mengalami kemunduran. Pada saat itu diberlakukan sistem Ie (家) yang merupakan sistem yg sangat penting dan dijunjung tinggi, sebagai pilar utama harmonisasi Jepang. Kehidupan wanita harus tunduk pada sistem patrilineal dan ideologi patriarki yang didukung oleh pemerintah sebagai bagian dari usaha pengendalian sosial. Dalam sistem ie kedudukan wanita sangat rendah. Mereka tidak memiliki hak apapun, tugas mereka hanya mengurus rumah tangga dan anak dan semua hal yang dilakukan untuk mendukung suami.

Pada tahun 1868, Jepang telah memasuki era baru ketika pemerintahan Meiji menggantikan pemerintahan Tokugawa yang telah berkuasa selama 260 tahun. Dengan ini maka perlahan-lahan berakhirlah feodalisme digantikan oleh sistem kapitalis dan arus modernisasi. Diumumkannya Konstitusi Meiji pada tahun 1889 dan hukum perdata pada tahun 1898 membuat kepatuhan wanita kepada kepala rumah tangga, dan lelaki secara umum, diberi justifikasi secara legal. Wanita mulai dihargai dalam kelas sosial dimana ia berada. Pada saat itu sejumlah besar perempuan sudah bisa bekerja diluar rumah seperti di pabrik sutra, tekstil dan tenun untuk membantu ekonomi keluarga.

Setelah perang Dunia II berakhir, berlaku Undang-Undang Dasar yang diresmikan pada tahun 1946. Undang-undang ini secara jelas mengakui persamaan derajat diantara pria dan wanita. Hak-hak wanita pun mulai diperhatikan. Undang-undang Baru 1946 (日 本 国 憲 法/ nihonkokukenpou)

merupakan hasil pekerjaan pemerintahan pendudukan Sekutu periode pendudukan militer, suatu hal yang diketahui dipaksakan terhadap Jepang karena bertentangan dengan adat istiadat negara. Hal ini dilakukan untuk menyesuaikan dengan perubahan-perubahan dalam posisi internasional Jepang. Dalam undang-undang ini mulai dimasukkan paham demokrasi sehingga hak-hak manusia sebagai warga negara lebih diperhatikan dan dijamin.

Eksistensinya ie menguat setelah Restorasi Meiji dan hancur setelah Perang Dunia II. Ie hancur memudar seiring berkembangnya westernisasi dan peralihan masyarakat Jepang dari masyarakat agraris dan feodalis ke masyarakat industri sejak tahun 1945. Sistem keluarga ie perlahan-lahan mulai menghilang seiring dengan berkembangnya sistem keluarga kaku kazoku (keluarga inti), yaitu pasangan yang telah menikah meninggalkan rumah dan membentuk keluarganya sendiri. Keluarga inti ini terdiri dari ayah, ibu, dan anak-anak. Namun meskipun demikian, nilai-nilai keluarga yang terdapat dalam sistem ie tidak sepenuhnya ditinggalkan, keluarga masih merupakan suatu ikatan yang penting.

Hukum Sipil tentang „Keluarga dan Warisan‟ di Jepang pun berubah mengikuti hukum Barat. Tujuan hukum ini adalah untuk memberikan landasan penghormatan hak perorangan serta persamaan hak diantara suami dan istri. Namun sejak berakhirnya periode feodal hingga selesai Perang Dunia II, menjadi hal yang dianggap wajar dan bernilai tinggi apabila seorang wanita mengabdi dengan setia kepada kepala rumah tangganya seumur hidupnya. Masyarakat Jepang pada waktu itu masih beranggapan bahwa seorang wanita harus tunduk kepada ayahnya, kemudian suaminya, dan pada hari tuanya kepada anak laki- lakinya yang menduduki posisi kepala keluarga meskipun pada tahun 1948 hukum

telah memberikan kaum wanita jaminan persamaan hak dengan kaum pria di lingkungan kehidupan keluarga.

Dalam hukum yang baru juga, izin kepala keluarga bagi pernikahan tidak lagi diperlukan, sehingga wewenang orang tua dalam permasalahan ini hanya diakui sejauh orang tua masih merupakan wali dari anak-anaknya yang belum akil baliq. Hal ini tentu saja menjadi kabar gembira bagi kaum wanita karena mereka tidak lagi perlu menikah karena perjodohan yang lebih sering dipaksakan secara sepihak. Wanita Jepang bebas memilih pasangan hidupnya berdasarkan keinginannya sendiri.

Mengenai dasar-dasar bagi perceraian, jelas dewasa ini hukum memberikan dasar persamaan yang sempurna baik bagi pria maupun wanita. Namun permasalahan pokok dari hukum perceraian adalah perlindungan kaum wanita dan jaminan akan kesejahteraan anak. Setelah runtuhnya sistem ie, wanita memiliki hak atas kompensasi perceraian dan pembagian harta keluarga. Hak warisan bagi seorang anak perempuan yang telah menikah juga mendapat pengakuan.

Setelah Perang Dunia II berakhir di Jepang, peluang bekerja bagi wanita menjadi terbuka lebar. Hal tersebut membuat banyak wanita Jepang memilih bekerja dengan tujuan untuk emansipasi kesetaraan hak dan mengejar karir. Bahkan, meningkatnya wanita Jepang yang berpendidikan tinggi dan memiliki kemampuan bekerja yang setara dengan laki-laki membuat kesempatan tersebut menjadi semakin besar bagi wanita untuk masuk dalam dunia kerja. Ini memberikan indikasi bahwa para istri tidak hanya memikul tanggung-jawab atas

pengelolaan rumah tangga, melainkan juga atas merawat anak, mengurus pendidikan anak dan sekaligus menjadi penopang ekonomi keluarga.

Westernisasi telah memberikan pengaruh besar pada wanita Jepang. Pikiran mereka menjadi terbuka terutama dalam hal pandangan terhadap masalah pernikahan, rumah tangga, pekerjaan dan pendidikan. Sarah Chaplin dalam buku

Shoma Munshi: Images of the „Modern Woman‟ in Asia, mengatakan bahwa hal

baru yang muncul dimasa westernisasi ini adalah wanita „modern‟, atau ダン ー (modan gaaru), sebuah kata baru yang muncul di tahun 1920 dan disingkat

(moga) yaitu kegiatan meniru dari Barat yang menjadi tetap. Moga melambangkan cara hidup kosmopolitan/internasional, dan menurut kamus Akira

Miura di „ „English‟ in Japanese,‟ berarti „gadis muda di tahun 1920-an yang menggunakan rambut pendek, high heels, dan rok panjang‟ (Miura dalam Munshi 2001:56). Gambaran dangkal ini mengingkari pengaruh yang sangat dalam pada wanita Jepang dalam kehidupan sosial, dan melemahkan pengaruh kuat pada gambaran diri Jepang sendiri. Menurut Darrel William Davis : „Moga adalah sebuah simbol kebebasan modern dari pemberontakan melawan sistem patriarki ... Dia adalah gambaran perdebatan hebat di jalanan Tokyo, sebagai perwujudan

jujur dari seksualitas feminin,‟ dan Darrel menentang itu „dalam konteks Jepang,

dia/moga ditandai sebagai „kemajuan‟ akibat westernisasi dari Jepang lama. (Davis dalam Munshi 2001:56).

Tahun 1920 merupakan tanda kedua dari tiga periode penting dalam modernisasi di sejarah baru Jepang yang mana sejarawan Ann Wasuro mengidentifikasi, tanda yang pertama di tahun 1880 dan awal 1900, periode

setelah Restorasi Meiji di tahun 1868, ketika Jepang membuka hubungan perdagangan dengan Barat setelah dua abad mengisolasi diri dari dunia luar. Tanda ketiga adalah di tahun 1970 sampai 1980-an, saat ketika industri teknik mesin Jepang bangkit dalam ekonomi pasar global.

Jepang merupakan salah satu negara maju dalam bidang industri, ilmu pengetahuan dan teknologi. Masyarakat Jepang bangkit dari titik terendah setelah kalah total di Perang Dunia II yang berakibat sangat luar biasa dan mampu mengubah negara mereka menjadi salah satu negara pemimpin industri di dunia. Di abad ke 18 Jepang membuka diri dan mengadakan restorasi besar-besaran yang dinamakan Restorasi Meiji. Jepang tidak hanya membuka dirinya untuk pengaruh Barat, namun juga meniru banyak hal dari Barat. Mulai dari sistem pemerintahan, hukum, ilmu pengetahuan, teknologi dan juga ideologi. Hal inilah yang membuat westernisasi berkembang secara luas di Jepang. Westernisasi telah mempengaruhi Jepang dalam banyak hal, termasuk memodernisasi peran wanita Jepang.

Perilaku individu dalam kesehariannya hidup bermasyarakat berhubungan erat dengan peran. Karena peran mengandung hal dan kewajiban yang harus dijalani seorang individu dalam bermasyarakat. Meskipun Jepang termasuk salah satu negara paling modern di dunia saat ini, konsep pemisahan kerja antara pria dan wanita masih sangat mengakar di masyarakat Jepang. Dan telah menjadi paradigma yang susah untuk dirubah karena mindset masyarakat telah terbentuk bahwa wanita tidak boleh lebih superior dari pria sebagai kepala keluarga. Sesuai dengan konsep Ryosaikenbo (istri yang baik dan ibu yang bijaksana) yang berkembang di masa Meiji. Gelombang westernisasi telah membuat banyak kaum wanita Jepang yang ingin menjadi sederajat dengan pria, setelah melihat contoh

yang ada di negara-negara Barat. Wanita Jepang berjuang untuk mendapatkan kesetaraan hak dengan pria dalam lingkungan rumah tangga, pendidikan dan pekerjaan.

Berdasarkan pada uraian di atas, penulis tertarik untuk membahas tentang fenomena westernisasi dan bagaimana pengaruhnya bagi kaum wanita di Jepang

dengan judul “ Westernisasi dan Pengaruhnya dalam Memodernisasi Peran

Wanita Jepang”.

4.2 Perumusan Masalah

Permasalahan dalam penelitian ini adalah pengadopsian segala hal berbau Barat yang terjadi di Jepang pada sekitar akhir abad ke-18, yang disebut dengan

istilah „westernisasi‟ serta pengaruhnya dalam memodernisasi peran wanita Jepang dalam lingkungan rumah tangga, pekerjaan dan pendidikan. Untuk memperlancar jalannya penelitian ini, ada beberapa pertanyaan penelitian yang ingin penulis cari jawabannya, yaitu antara lain :

1. Bagaimana sejarah westernisasi yang terjadi di masa Meiji dan setelah Perang Dunia II.

2. Bagaimana peran wanita Jepang sebelum dan sesudah Restorasi Meiji.

Dokumen terkait