• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB III : HASIL DAN PEMBAHASAN PENELITIAN

C. Peranan Pemerintah Dalam Pengelolaan Zakat

2. Pengelolaan Zakat oleh Lembaga Pemerintah

2.2. Wewenang Memungut Zakat

Pasal 29 ayat (2) DUD. 1945 menyebutkan bahwa Negara menjamin kemerdekaan tiap-tiap penduduk untuk memeluk agama dan untuk beribadat menurut agamanya dan kepercayaannya itu.

Dengan mengingat pasal 29 dan pasal 34 UUD dibuatlah Undang-undang nomor 38 tahun 1999 tentang Pengelolaan Zakat. Pengertian zakat menurut Undang-undang tersebut adalah: Harta yang harus disisihkan oleh seorang muslim atau badan yang dimiliki oleh orang muslim sesuai dengan ketentuan agama untuk diberikan kepada yang berhak menerimanya. (Pasal 1 angka 2).

Bagi pemeluk Islam selain adanya kewajiban membayar zakat terdapat perintah memungut zakat. Perintah ini tercantum dalam firman Tuhan surat Surat Al Bara’ah ayat 103.

Zakat adalah sistem keuangan, ekonomi, sosial, politik, moral dan agama sekaligus. Zakat adalah juga sistem politik karena pada asalnya negaralah yang mengelola pemungutan zakat dan pembagiannya terhadap sasarannya dengan memperhatikan asas keadilan, dapat memenuhi kebutuhan, mendahulukan yang penting. Itu semua dilakukan dengan menggunakan sarana yang kuat dan terpercaya, yaitu para amil zakat, sebagaimana juga sebagian sasaran zakat itu sesuatu yang menjadi urusan negara seperti para muallaf dan sabilillah.

Zakat adalah semacam jaminan sosial dan pemerintah berhak memaksakannya kepada orang-orang yang telah wajib membayarnya sebagaimana yang pernah dilakukan oleh Khalifah Abu Bakar Shiddiq terhadap orang-orang yang menolak membayar zakat.

Sejak berdirinya kerajaan-kerajaan Islam di Nusantara pelaksanaan hukum Islam menjadi tanggung jawab penguasa, karena Islam tidak memisahkan antara agama dan pemerintahan. Dari Surat Edaran Sekretaris Gubernur Jenderal Hindia Belanda nomor 216 tanggal 18 Agustus 1866 diketahui bahwa sebelumnya, Raja-raja di kerajaan Islam mengelola zakat, namun Pemerintah Hindia Belanda tidak mencampuri agama rakyatnya, hanya mengawasi pengumpulan zakat dan fitrah dengan ketentuan-ketentuan sebagaimana diatur dalam surat Edaran Sekretaris Gubernur Jenderal tersebut.

Sejak tahun 1800 an para ahli hukum dan ahli kebudayaan Belanda mengakui bahwa di lingkungan masyarakat Indonesia, Islam adalah ajaran yang dijunjung tinggi oleh pemeluknya. Penyelesaian masalah senantiasa merujuk kepada ajaran agama, baik di bidang ibadah, ekonomi, dan kemasyarakatan lainnya. Atas dasar hal tersebut maka ahli hukum Belanda meyakini bahwa di tengah-tengah masyarakat muslim Indonesia berlaku hukum Islam, termasuk di bidang peradilan oleh Pemerintah Hindia Belanda diberlakukan Undang-undang agama Islam.

Sampai bubarnya VOC kedudukan hukum Islam tidak diganggu gugat. L.W.C. van den Berg (1845-1927) pernah berkesimpulan (teori reseptio in

complexu) bahwa pada awal masa penjajahan Belanda bagi orang-orang Indonesia

yang beragama Islam menerima dan berlaku hukum Islam secara keseluruhan.

Pada tahun 1884 van dan Berg menulis asas-asas hukum Islam

(Mohammedansche Recht) menurut madzhab Hanafi dan Syafi’i dengan tujuan untuk

memudahkan para Pejabat Hindia Belanda dalam merespon kepentingan Hukum Islam masyarakat Jawa. Pada 1892 terbit pula tulisannya mengenai Hukum Keluarga

dan Kewarisan di Jawa dan Madura dengan beberapa penyimpangan. Van den Berg menyatakan bahwa bagi orang Islam berlaku penuh hukum Islam karena dia telah beragama Islam. Van den Berg mengupayakan agar Hukum Islam dijalankan oleh Hakim-hakim Belanda dengan bantuan Penghulu atau Qadhi-qadhi Islam.111

Karena pendapat dan usahanya itu van den Berg disebut sebagai bapak teori

receptio in complexu. Menurutnya, orang Islam Indonesia telah melakukan receptie

hukum Islam dalam keseluruhannya dan sebagai suatu kesatuan.

Dalam Surat Edaran Gubernur Jenderal Hindia Belanda 18 Agustus 1866 No. 216 tersebut terdapat larangan kepada pegawai Bumi Putera dan Pemerintah Desa, mereka dilarang ikut campur dalam pengaturan zakat.

Kata Gubernur Jenderal (dengan ejaan baru): Zakat dan Fitrah -diperingatkan lagi- harus diberikan dengan rela hati, tidak boleh dengan paksaan. Jadi pekerjaan pemerintah negeri yang terutama tentang itu adalah melindungi kepentingan orang; supaya jangan ada paksaan apapun juga dalam itu, baik dalam membayar zakat itu sendiri atau tentang banyaknya, maupun tentang memilih yang hendak diberi zakat.

Surat Edaran Gubernur Jenderal tersebut mencerminkan Politik Hukum Hindia Belanda, terhadap Hukum Islam khususnya zakat. Zakat yang menurut Qur’an (8 : 103) dipungut oleh pejabat yang berwenang, dan dapat dipaksakan oleh Pejabat yang berwenang, seperti yang dilakukan oleh Khalifah Abu Bakar, tertentu jumlahnya, seperti 2,5 % dari modal usaha dan keuntungan untuk zakat mal dan didistribusikan kepada delapan kelompok (delapan ashnaf) penerima. Oleh pemerintah Hindia Belanda, seluruhnya diserahkan kepada orang yang membayar

111

zakat dan Gubernur Jenderal mengatakan bahwa hal itu sebagai di luar kekuasaan pemerintah.112

Yusuf al Qardhawi menulis:113 bahwa zakat tersebut meskipun termasuk ibadah, akan tetapi tidak terlepas dari pengelolaan pemerintahan. Pemerintah harus ikut menangani pengurusan pelaksanaan zakat tersebut.

Pelaksanaan hukum Islam ada yang memerlukan perantaraan tangan penguasa. Pelaksanaan zakat adalah salah satunya. Seperti halnya pendapat al Qardhawi, Busthanul Arifin, mantan Ketua Muda Urusan Lingkungan Peradilan Agama Mahkamah Agung Republik Indonesia juga berpendapat114: Hukum yang hanya bersandar pada

kekuasaan adafah kesewenang-wenangan. Akan tetapi hukum tanpa kekuasaan sama sekali adalah hayal. Hukum itu hanya berlaku kalau ada bayangan kekuasaan, j’adi memiliki kewibawaan.

Zakatpun demikian, apalagi zakat menyangkut pengambilan harta dari pemiliknya maka adanya ketentuan yang mengatur sebagai hukum publik dan campur tangan Pemerintah menj’adi amat diperlukan.

Apa yang dikemukakan oleh al Qardhawi di atas menunjukkan dengan jelas bahwa amat erat kaitan antara zakat sebagai ibadat dan zakat sebagai sarana untuk mensejahterakan masyarakat, karenanya Pemerintah juga bertanggung jawab atas pelaksanaan zakat agar sesuaii dengan ketentuan agama yang dianut pemeluknya dan sesuai dengan peraturan perundang-undangan yang ada.

112

Mohammedaansch Inlandsch Zaken, 1938: 233-235. 113

Yusuf Qardhawi, Op. Cit. 224 114

Amrullah Ahmad, et al, Prospek Hukum Islam dalam Kerangka Pembangunan Hukum Nasional, Jakarta, PP. IKAHA, 1994, hal. 44.