BAB II PERKEMBANGAN HUKUM LAUT INTERNASIONAL
B. Sejarah dan Perkembangan Hukum Laut Internasional
2. Wilayah Laut Yang Berada di Luar Yurisdiksi
UNCLOS 1982 tidak menyebutkan secara tegas pengertian laut lepas atau high seas. Namun, penulis berpendapat bahwa pasal 86 UNCLOS 1982 dapat dikatakan memberikan pendefinisian mengenai laut lepas. Bunyi pasal 86 UNCLOS 1982 adalah sebagai berikut:
“The provisions of this part apply to all parts of the sea that are not included in the exclusive economic-zone, in the territorial sea or in the internal waters of a State, or in the archipelagic waters of an archipelagic state. This article does not entail any adbridgement of the freedoms enjoyed
by all States in the exclusive eonomic zone in accordance with article 58.”
Dari ketentuan pasal 86 tersebut dapat disimpulkan bahwa laut lepas adalah sebagai bagian laut yang tidak termasuk dalam zona ekonomi eksklusif, laut teritorial atau perairan pedalaman suatu negara, atau perairan kepulauan dari suatu negara kepulauan.
Laut lepas (high seas) sebagaimana telah penulis uraikan di atas merupakan wilayah laut yang berada di luar yurisdiksi nasional negara pantai. Hal ini berarti tidak ada satu negara pun boleh mengklaim kedaulatan ataupun melakukan tindakan-tindakan yang mencerminkan kedaulatan di laut lepas atau di bagian-bagian tertentu dari laut lepas.72
Hal ini bahkan ditegaskan dalam pasal 89 UNCLOS 1982 yang menyatakan bahwa tidak ada suatu negara pun yang dapat secara sah menundukkan kegiatan manapun dari laut lepas pada kedaulatannya. Posisi lautlepas yang berada di luar yurisdiksi nasional suatu negara pantai, mengindikasikan berlakunya kebebasan-kebebasan bagi seluruh negara dan hal tersebut telah diakomodir oleh UNCLOS 1982. Kebebasan di laut lepas tersebut meliputi 6 (enam) hal yakni sebagai berikut73 :
1) kebebasan berlayar (freedom of navigation); 2) kebebasan penerbangan (freedom of overflight);
72
I Wayan Parthiana, Op. Cit., Hlm. 187. 73
3) kebebasan untuk memasang kabel dan pipa bawah laut, dengan tunduk pada Bab VI (freedom of lay submarine cables and pipelines, subject to part VI);
4) kebebasan untuk membangun pulau buatan dan instalasi lainnya yang diperbolehkan berdasarkan hukum internasional, dengan tunduk pada Bab VI (freedom to construct artificial islands and other installations permitted under part VI); 5) kebebasan menangkap ikan, dengan tunduk pada persyaratan
yang tercantum dalam bagian 2 (freedom of fishing, subject to the conditions laid down to section 2);
6) Kebebasan riset ilmiah, dengan tunduk pada bab VI dan XIII (freedom of scientific research, subject to Parts VI and XIII).
b. Kawasan Dasar Laut Internasional(International Seabed Area)
Selain laut lepas, zona maritim yang berada di luar yurisdiksi nasional adalah kawasan dasar laut internasional (international seabed area). Isu mengenai kawasan dasar laut internasional muncul dari gagasan seorang duta besar Malta di PBB yaitu. Arvid Pardo, yang mengusulkan kepada Majelis Umum PBB dalam Sidang MU PBB tahun 1967 agar sumber daya alam khususnya sumber daya mineral yang terkandung di kawasan dasar laut internasional menjadi warisan bersama umat manusia
(common heritage of mankind). Atas tindak lanjut dari usulan tersebut, PBB mengeluarkan Resolusi Majelis Umum No. 2749 (XXV) tahun 1970 yang menjadi ketentuan pertama yang mengatur mengenai kawasan dasar laut internasional (international seabed area).
Kawasan dasar laut internasional atau yang dalam UNCLOS 1982 disebut Kawasan (area) adalah dasar laut dan tanah di bawahnya yang terletak di luar batas yurisdiksi nasional suatu negara.74 Dalam UNCLOS 1982, keseluruhan pengaturan mengenai kawasan termuat dalam Bab XI.
Seperti yang telah penulis uraikan dalam bab sebelumnya, sumber daya alam di kawasan (area) sangat berlimpah, khususnya sumber daya mineral. Mineral-mineral yang dihasilkan dari wilayah kawasan dapat dieksplorasi dan dieksploitasi oleh negara-negara atau perusahaan-perusahaan dengan memenuhi persyaratan yang diberlakukan oleh suatu otorita yang dinamakan Badan Otorita Dasar Laut Internasional (International Seabed Authority).
Pembahasan mengenai kawasan dasar laut internasional serta otoritanya secara lebih mendalam akan Penulis uraikan dalam bab-bab selanjutnya, mengingat bahwa judul skripsi ini adalah terkait dengan kawasan dasar laut internasional serta badan otorita
74
yang berwenang dalam kawasan dasar laut internasional tersebut yang mengharuskan Penulis menjelaskan kedua hal tersebut dalam bab-bab tersendiri.
BAB I PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Pada umumnya, ada 3 (tiga) jenis wilayah di permukaan bumi yang dikenal manusia, yaitu wilayah daratan, wilayah lautan dan wilayah udara.Ketiga wilayah tersebut pada dasarnya juga merupakan salah satu indikator yang menunjukkan keberadaan sebuah negara.Pasal 1 Konvensi Montevideo 19331 mengenai Hak-Hak dan Kewajiban-Kewajiban Negara menyebutkan bahwa “wilayah yang tertentu” sebagai salah satu syarat diakuinya suatu negara sebagai pribadi hukum internasional. Bunyi lengkap dari pasal 1 tersebut adalah sebagai berikut :
“Negara sebagai pribadi hukum internasional harus memiliki syarat-syarat berikut: (a) penduduk tetap; (b) wilayah tertentu; (c) pemerintah; (d) kemampuan untuk melakukan hubungan dengan negara lain.”
Kata “wilayah tertentu” yang termuat dalam pasal tersebut tentunya dapat diartikan meliputi 3 (tiga) tiga jenis wilayah yang disebutkan sebelumnya. Untuk mempertegas hal tersebut, dalam sebuah produk hukum nasional yaitu pasal 1 ayat (2) Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1960 tentang Ketentuan Pokok-Pokok
1
Konvensi Montevideo tentang Hak-Hak dan Kewajiban Negara (Montevideo
Convention on the Rights and Duties of States) 1933 merupakan sebuah konvensi yang
ditandatangani di Montevideo, Uruguay, pada tanggal 26 Desember 1933. Konvensi ini mengatur mengenai unsur-unsur yang harus dimiliki untuk membentuk sebuah negara. Konvensi ini dikodifikasikan berdasarkan teori deklaratif kenegaraan, yang kemudian diterima sebagai bagian dari hukum kebiasaan internasional (international customary law).
Agraria, disebutkan “bumi, air, dan ruang angkasa” dimana ketiga komponen tersebut berada dalam wilayah Republik Indonesia sebagai karunia Tuhan Yang Maha Esa juga merupakan kekayaan nasional. 2
Ketiga wilayah tersebut sangat penting bagi keberlangsungan hidup bangsa dan Negara. Dalam penelitian ini Penulis fokuskan untuk melakukan penelitian khususnya terhadap wilayah laut. Satu dan lain hal alasannya karena wilayah ini merupakan suatu kekayaan alam yang sangat kompleks. Hal tersebut terlihat dari berbagai fungsi dari wilayah laut itu sendiri. Fungsi-fungsi tersebut antara lain sebagai: 1) sumber makanan bagi umat manusia; 2) jalur perdagangan; 3) sarana untuk penaklukan; 4) tempat pertempuran-pertempuran; 5) tempat bersenang-senang; dan 6) alat pemisah atau pemersatu bangsa.3Dengan berbagai fungsi dan manfaat yang ditawarkan dari wilayah laut, maka tidak mengherankan bahwa wilayah laut memiliki potensi yang besar untuk dijadikan sumber penghidupan umat manusia.
Pemanfaatan wilayah laut telah terlihat sejak zaman kuno hingga saat ini.Namun, perbedaan pemanfaatan wilayah laut pada zaman kuno dengan pemanfaatan wilayah laut saat ini adalah bahwa dalam pemanfaatan laut pada zaman kuno tidak didasarkan pada suatu aturan yang mengikat.Hal tersebut disebabkan oleh beberapa faktor, yakni jumlah penduduk yang tidak banyak, pemanfaatan wilayah laut yang terbatas hanya untuk kepentingan perikanan dan
2
Lihat Pasal 1 ayat (2) Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1960 tentang Ketentuan Pokok-Pokok Agraria.
3
BandingkandenganDikdik Mohamad Sodik, Hukum Laut Internasional dan
pelayaran, minimnya teknologi kelautan serta terbatasnya kemampuan mengarungi lautan.
Pemanfaatan wilayah laut pada zaman kuno dimulai dari sekitar abad ke-14, dimana beberapa bangsa penjajah mulai melancarkan usahanya untuk mendapatkan benua-benua yang baru dan berbagai kepentingan lainnya dengan berlayar merintangi wilayah lautan. Pelayaran yang dilakukan bangsa-bangsa penjajah seperti bangsa Spanyol, Portugis, Romawi, dan beberapa bangsa Eropa, Amerika, bahkan Asia tersebut dilaksanakan pada kurun waktu yang sama.
Banyaknya bangsa penjajah dari berbagai belahan dunia yang mengarungi wilayah lautan di waktu bersamaan mengakibatkan ramainya pelayaran lintas benua dan samudera.Hal ini tentunya menimbulkan suatu permasalahan mengenai status hukum dari wilayah laut internasional.Kondisi ini kemudian melahirkan dua konsepsi hukum laut internasional, yaitu Res Communis dan Res
Nullius.4Kedua konsep dasar dalam hukum laut internasional tersebut kemudian
menjadi tonggak dalam perkembangan hukum laut internasional.Setelah doktrin Res Communis dan Res Nullius, beberapa doktrin lainnya mengenai hukum laut internasional mulai bermunculan, seperti teori Mare Liberium dan Mare
Clausum.5
4
Res Communis adalah konsep yang menyatakan bahwa laut itu adalah milik bersama
masyarakat dunia, sehingga laut tidak dapat diambil atau dimiliki oleh suatu negara manapun. Sedangkan Res Nullius adalah konsep yang menyatakan bahwa laut adalah ranah tak bertuan, atau Kawasan yang tidak dimiliki oleh siapapun, dan karena itu dapat diambil atau dimiliki oleh negara manapun.
5
Mare Liberium atau yang dikenal dengan istilah laut bebas adalah konsep mengenai laut
yang dikemukakan oleh Grotius (Hugo de Groot). Grotius mengemukakan bahwa laut tidak dapat dimiliki oleh siapapun karena pada dasarnya laut merupakan Kawasan bebas.Mare Clausum adalah bentuk respon atas konsep Mare Liberium, oleh John Selden yang menganggap bahwa bagian-bagian laut tertentu dapat dimiliki oleh negara pantai.
KonsepMare Liberium tersebut didasarkan pada teori Grotius mengenai lautan bahwa kepemilikan, termasuk atas laut hanya dapat terjadi melalui kepemilikan (possession).6Possession hanya dapat dilakukan melalui okupasi, dan okupasi hanya bisa terjadi atas barang-barang yang dipegang teguh yang menunjukkan bahwa barang tersebut harus memiliki batas.7 Laut adalah sesuatu yang tidak memiliki batas, sehingga menurut Grotiuslaut tidak dapat di okupasi sebab ia cair dan tidak terbatas. Dengan demikian, maka tuntutan atas laut yang didasarkan pada penemuan, penguasaan tidaklah dapat diterima karena semua itu bukanlah alasan untuk memperoleh pemilikan atas laut.8Sedangkan konsep Mare Clausum dikemukakan oleh penulis Inggris yang bernama John Selden. Selden mengungkapkan bahwa walaupun sifat laut adalah cair, namun tidak berarti laut tidak dapat dimiliki, sebab sungai dan perairan lainnya di sepanjang pantai dapat dimiliki.
Seiring dengan berkembangnya berbagai konsep dasar dalam hukum laut internasional, berkembang pula ilmu pengetahuan dan teknologi, yang berdampak pada penemuan baru dari wilayah laut.Penemuan tersebut meliputi bahan-bahan tambang dan sumber daya alam mineral yang terkandung di bagian dasar laut.Berkaitan dengan adanya penemuan baru tersebut kemudian menimbulkan ide dari berbagai negara untuk memulai upaya pengambilalihan sumber daya mineral dan berbagai bahan tambang, disamping melaksanakan kegiatan penjajahan dan kegiatan lainnya di wilayah lautan. Sementara itu, konsep dasar
6
Dikdik Mohammad Sodik, Op. Cit., Hlm. 5. 7
Bandingkan dengan Ibid. 8
hukum laut internasional terus berkembang, disertai dengan timbulnya pertentangan pendapat dari para ahli hukum internasional dan kalangan lainnya.
Bagian dari hukum laut yang sangat berpengaruh pada perkembangan hukum laut internasional saat itu terletak pada rezim laut teritorial.Hal ini berkaitan dengan konsep dasar hukum laut internasional yang paling mendasar; yaitu doktrin laut tertutup dan laut terbuka. Pertentangan yang sempat timbul akhirnya mencapai satu kesepakatan yang dibahas dalam suatu konferensi yang dinamakan Konferensi Den Haag pada tahun 1930, bahwa laut teritorial berada di bawah kedaulatan penuh suatu negara pantai dan laut lepas bersifat bebas untuk seluruh umat manusia.9Konferensi yang diadakan Liga Bangsa-Bangsa (LBB) ini juga merumuskan ketentuan-ketentuan mengenai laut teritorial, yang menjadi embrio lahirnya pranata hukum laut internasional.Namun perumusan tersebut tidak sepenuhnya berhasil sebab tidak tercapainya kesepakatan mengenai lebar laut teritorial.Beberapa negara menetapkan lebar laut teritorialnya secara sepihak dengan mengeluarkan produk hukum nasional masing-masing.
Tidak hanya mengenai laut teritorial, beberapa klaim sepihak mengenai bidang hukum laut lainnya juga dikeluarkan oleh beberapa negara. Antara lain Amerika Serikat melalui Presiden Harry S.Truman dengan proklamasinya yang menyatakan bahwa Amerika Serikat berhak untuk mengeksplorasi dan mengeksploitasi sumber daya alam serta ikan yang ada di zona perairan dan perikanan Amerika Serikat. Hal tersebut didukung dengan teknologi milik Amerika Serikat yang memungkinkan Negara itu untuk melakukan kegiatan
9
eksplorasi dan eksploitasi sumber daya alam, namun kegiatan itu tadinya tidak dapat dilakukan sebab belum ada aturan hukum yang mengaturnya pada waktu itu.Puncaknya, negara adidaya tersebut membentuk landasan hukumnya sendiri agar kegiatan eksplorasi dan eksploitasi sumber daya alam tersebut dapat terlaksana.Tindakan Amerika tersebut tidak ditentang, bahkan beberapa negara justru mengikuti tindakan tersebut, sehingga akhirnya menjadi hukum kebiasaan internasional.
Pernyataan Amerika Serikat dan beberapa peristiwa lainnya seperti kasus
Anglo-Norwegian Fisheries Case10 kemudian mempengaruhi berbagai negara
khususnya negara-negara yang telah tergabung sebagai anggota Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) untuk mengadakan suatu konferensi internasional guna menciptakan suatu konvensi dalam bidang hukum laut. Konferensi internasional terkait dengan hukum laut tersebut dilaksanakan sebanyak empat kali, dengan rincian sebagai berikut :
1. Konferensi LBB tentang Hukum Internasional (termasuk hukum laut), yang diadakan di Den Haag, Belanda, pada tahun 1930;
2. Konferensi PBB mengenai Hukum Laut Internasional I, diadakan di Jenewa, Swiss, pada tahun 1958;
10
Anglo-Norwegian Fisheries Case merupakan sebuah kasus mengenai wilayah perikanan
yang terjadi antara Inggris dengan Norwegia. Perkara ini timbul karena Inggris menggugat tentang sahnya penetapan batas perikanan eksklusif yang ditetapkan oleh Norwegia dalam firman Raja
Royal Decree pada tahun 1935 kepada Mahkamah Internasional atau International Court of Justice (ICJ). Norwegia mengukur laut teritorialnya sejauh 4 (empat) mil laut dari batu karang dan
pulau di Norwegia dengan menerapkan sistem pengukuran baseline yaitu dengan garis lurus
(straight baseline), dan negara-negara lain tidak ada yang menentang hal tersebut. Namun, Inggris
mengakui bahwa laut teritorial dari Norwegia tersebut merupakan zona perikanan Inggris. ICJ pada akhirnya memenangkan Norwegia yang dalam melakukan penarikan garis pangkal tidak melanggar putusan pada tahun 1936 tentang Zona Perikanan.
3. Konferensi PBB mengenai Hukum Laut Internasional II, diadakan di Jenewa, Swiss, pada tahun 1960;
4. Konferensi Hukum Laut Internasional III, diadakan di Caracas, Venezuela, kemudian dilanjutkan di New York, Amerika Serikat dan Jenewa, Swiss, pada tahun 1973; dan
5. Konferensi Hukum Laut Internasional terakhir yang merupakan penandatanganan naskah final Konvensi Hukum Laut Internasional, diadakan di Montego Bay, Jamaika, pada tahun 1982.
Konferensi Hukum Laut Internasional keempat merupakan tonggak lahirnya Konvensi Hukum Laut Perserikatan Bangsa-Bangsa ke-III atau yang disebut dengan United Nations Conventions on The Law of The Sea (UNCLOS) 1982.Konvensi ini mulai berlaku pada tanggal 16 November 1994, yakni pada waktu 12 (dua belas) bulan setelah setelah tanggal pendepositan piagam ratifikasi atau aksesi ke-6011, hingga saat ini.
Konvensi Hukum Laut PBB Ke-III atau UNCLOS 1982 memuat berbagai aspek penting dalam hukum laut internasional, termasuk ketentuan-ketentuan mengenai kawasan dasar laut internasional (international seabed area).Dasar laut atau yang dalam istilah hukum laut internasional disebut dengan Kawasan (area) termuat dalam Bab XI UNCLOS.
Kawasan atau Areamerupakan suatu rezim kelautan yang sangat terkenal kaya akan sumber daya mineral yang bernilai sangat tinggi, seperti nikel, kobalt, tembaga, polymetallic nodule, dan bahan tambang lainnya seperti gas bumi.
11
Pasal 308 angka 1 Konvensi Hukum Laut PBB Ke-III atau United Nations Conventions on The Law of The Sea (UNCLOS) 1982.
Pertambangan, sebagai salah satu sektor andalan dalam pembangunan suatu negara khususnya dalam pembangunan kelautan memiliki potensi yang cukup besar.12
Dengan adanya potensi sebagaimana diuraikan di atas; membuat berbagai pihak berlomba-lomba untuk melakukan kegiatan eksplorasi dan eksploitasi sumber daya alam, terutama sumber daya mineral di dasar laut. Hal ini pada dasarnya menguntungkan bagi beberapa negara industri maju yang didukung dengan teknologi pertambangan laut.Namun, permasalahan hukum yang timbul yaitu status hukum dari Kawasan (area) itu sendiri; apakah ada kedaulatan atau hak berdaulat suatu negara pantai di wilayah Kawasan (area) serta sumber daya alamnya. Poin tersebut sangat penting, sebab, jika kegiatan eksplorasi dan eksploitasi sumber daya mineral di suatu wilayah Kawasan (area) ini sudah atau sedang dilaksanakan oleh suatu negara, maka timbul permasalahan yaitu adanya kecenderungan dan keinginan untuk menguasai wilayah Kawasan (area) tersebut serta sumber daya alam mineral yang terkandung di dalamnya.
Persoalan hukum yang sedemikian rupa telah terjawab dalam Sidang Majelis Umum PBB pada tahun 1967.Seorang delegasi dari Malta yang bernama Arvid Pardo memberikan suatu usulan yang akhirnya menjadi suatu prinsip utama dalam setiap kegiatan di kawasan dasar laut internasional, yang terkenal dengan prinsip common heritage of mankind. Menurut Arvid Pardo, sumber daya alam mineral yang terkandung di kawasan dasar laut internasional ditetapkan sebagai warisan bersama umat manusia.
12
Bandingkan dengan Bernhard Limbong, Poros Maritim, Jakarta: Margaretha Pustaka, 2015, Hlm. 272.
Sidang tersebut juga memberikan kontribusi terhadap pelaksanaan kegiatan di Kawasan (area) saat ini, dengan lahirnya ketentuan-ketentuan baru yang lebih spesifik mengenai area dalam UNCLOS 1982. Salah satunya adalah terbentuknya Badan Otorita Dasar Laut Internasional (International Seabed Authority/ dalam penulisan skripsi ini Penulis singkat dengan ISA) yang menjadi satu-satunya lembaga terkait dengan segala bentuk kegiatan di Kawasan (area).
International Seabed Authority mempunyai 4 (empat) badan utama otorita yaitu : 1. majelis; 2. dewan; 3. sekretariat dan; 4. perusahaan (the enterprise). Selain itu suatu hal yang Penulis teliti bahwa ternyata semua negara yang menjadi peserta Konvensi Hukum Laut PBB 1982 ditetapkan secara ipso facto menjadi anggota Badan Otorita Dasar Laut Internasional (International Seabed Authority). Oleh karena itu secara normatif ditentukan bahwa yang dapat melakukan kegiatan eksplorasi dan eksploitasi sumber daya alam, terutama sumber daya mineral di dasar laut adalah perusahaan (enterprise).
Dalam pandangan yang sedemikian rupa terlihat bahwa hampir semua pihak berkepentingan bagaimana supaya enterprise berhasil secara ekonomis menghasilkan laba yang secara langsung atau tidak dapat dinikmati oleh masyarakat luas. Namun bagaimana suatu enterprise berhasil adalah sangat erat kaitannya dengan kewenangan Badan Otorita Dasar Laut Internasional(ISA). Oleh karena itu sangat menarik untuk melakukan analisis terhadap kewenangan International Seabed Authority (ISA) dalam hal pelaksanaan kegiatan eksplorasi dan eksploitasi sumber daya mineral di Kawasan (area) dalam perspektif hukum laut internasional.
B. Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang tersebut di atas, adapun permasalahan dalam penelitian ini adalah :
1. Bagaimana perkembangan hukum laut internasional ?
2. Bagaimana pengaturan mengenai kawasan dasar laut internasional (Area) dalam Konvensi Hukum Laut 1982 ?
3. Bagaimana kewenangan International Seabed Authority (ISA) dalam kegiatan eksplorasi dan eksploitasi sumber daya mineral di kawasan dasar laut internasional (Area) ?
C. Tujuan dan Manfaat Penulisan
Berdasarkan rumusan masalah diatas, tujuan yang ingin dicapai dalam penelitian ini adalah sebagai berikut:
1. Untuk mengetahui perkembangan hukum laut internasional.
2. Untuk mengetahui pengaturan mengenai kawasan dasar laut internasional (area) menurut Konvensi Hukum Laut 1982.
3. Untuk mengetahui kewenangan International Seabed Authority (ISA) dalam kegiatan eksplorasi dan eksploitasi sumber daya mineral di wilayah kawasan dasar laut internasional.
Sedangkan manfaat dari penulisan skripsi ini; Penulis maksudkan adalah untuk memberikan masukan secara teoritis dan praktis dalam hukum laut internasional yaitu :
1. Dalam hal manfaat teoritis; dapat menambah pengetahuan dengan memahami dan memperdalam hukum internasional khususnya dalam bidang hukum laut internasional. Serta dapat bermanfaat untuk memperluas pemahaman tentang kawasan dasar laut internasional khususnya mengenai peran Badan Otorita Dasar Laut Internasional dalam upaya kegiatan eksplorasi dan eksploitasi sumber daya mineral di kawasan dasar laut internasional.
2. Dalam hal manfaat praktis yaitu :
a. Untuk Pemerintah Indonesia, agar dapat memberikan masukan tentang arti penting dari pelaksanaan kegiatan eksplorasi dan eksploitasi sumber daya mineral di kawasan dasar laut internasional, juga agar dapat lebih mendalami Badan Otorita Dasar Laut Internasional (InternationalSeabed Authority) sebagai badan utama kawasan dasar laut internasional; dan b. Untuk masyarakat luas, agar dapat memberikan gambaran
mengenai pelaksanaan kegiatan eksplorasi dan eksploitasi sumber daya mineral di kawasan dasar laut internasional serta gambaran mengenai Badan Otorita Dasar Laut Internasional (InternationalSeabed Authority) sebagai badan utama kawasan dasar laut internasional.
D. Keaslian Penulisan
Judul skripsi ini adalah “Kewenangan International Seabed Authority (ISA) Dalam Pelaksanaan Kegiatan Eksplorasi dan Eksploitasi Sumber Daya Alam Mineral di Kawasan (Area) Dalam Perspektif Hukum Laut Internasional.” Skripsi ini ditulis berdasarkan ide, gagasan serta pemikiran Penulis dengan menggunakan berbagai referensi. Sehingga, bukan hasil dari penggandaan karya tulis, skripsi, thesis, bahkan disertasi orang lain dan oleh karena itu keaslian skripsi ini dapat dipertanggungjawabkan. Dalam proses penulisan skripsi ini Penulis memperoleh data dari buku-buku, jurnal ilmiah, media cetak dan media elektronik. Jika ada kesamaan pendapat dan kutipan, hal itu semata-mata digunakan sebagai referensi dan penunjang yang Penulis perlukan demi penyempurnaan penulisan skripsi ini. Demikian penelitian ini dapat dipertanggungjawabkan keasliannya dan belum pernah ada judul yang sama, mirip bahkan persis. Demikian juga dengan pembahasan yang diuraikan berdasarkan pemeriksaan oleh Perpustakaan Universitas Cabang Fakultas Hukum Universitas Sumatera Utara/Pusat Dokumentasi dan Informasi Hukum Fakultas Hukum USU tertanggal 22 September 2015.
E. Tinjauan Pustaka
Kawasan dasar laut internasional atau yang dalam istilah Konvensi Hukum Laut III (United Nations on The Law of The Sea) disebut Kawasan (Area) merupakan suatu pranata hukum laut internasional positif yang tergolong baru, tegasnya baru dikenal setelah mulai berlakunya UNCLOS 1982 pada tanggal 16
November 1994.13 Defenisi Kawasan dalam UNCLOS termuat dalam Pasal 1 ayat (1) UNCLOS, yang berbunyi sebagai berikut: