• Tidak ada hasil yang ditemukan

Wilayah Pengasuhan Anak (childrearing)

HASIL DAN PEMBAHASAN

C. Hasil Penelitian

3. Wilayah Pengasuhan Anak (childrearing)

Pengasuhan anak terdiri dari perawatan anak, kehadiran atau keterlibatan dalam aktivitas anak, kendali, bimbingan, dukungan emosional, perhatian, perlindungan dan rasa aman, dan pengharapan terhadap anak. Terdapat sepuluh kriteria aktualisasi diri yang termasuk dalam wilayah pengasuhan anak (childrearing) yang mencakup kreativitas, berpusat pada tugas, persepsi yang lebih efisien akan kenyataan, kesederhanaan, struktur watak demokratis, penerimaan diri; orang lain; dan alam, penghargaan yang selalu baru, diskriminasi cara dan tujuan, pembaktian pada pekerjaan, dan kemandirian.

wilayah pengasuhan anak adalah kreativitas. Kreativitas adalah intelektualitas seseorang untuk mengkreasikan sesuatu hal menjadi lebih beragam. Kriteria-kriteria kreativitas yang muncul misalnya dapat dilihat dari salah satu partisipan yang menjadikan barang bekas dan barang-barang keperluan rumah tangga untuk menjadi stimulus untuk keperluan belajar anaknya yang masih kecil. Hal ini dapat dilihat dari pendapat salah seorang partisipan (PI):

“Maksudnya dia suka pukul-pukul nih...apa aja di pukul...yaudah saya kasihin kaleng bekas....kadang saya kasih baskom...kadang saya kasih wajan..biarin dipukul-pukul...dia belajar...oh ini suaranya beda...oh ini kalau di lempar jatuh..rusak, jadi mainan dia banyak yang rusak, jadi stimulusnya begitu.”

Kriteria aktualisasi diri yang kedua yang paling sering muncul adalah berpusat pada tugas. Berpusat pada tugas adalah ketika seseorang lebih memprioritaskan tugas yang sedang dijalankan daripada kepentingan dirinya. Kriteria berpusat pada tugas misalnya terlihat pada pernyataan salah satu partisipan bahwa hidupnya sepenuhnya untuk anak-anaknya (P2):

“Seperti itu sekitar tiga tahunan lah anak kedua itu lahir saya full untuk memberi segalanya, kasarannya sih hidup saya untuk mereka, gitu lah, seperti itu.

Kriteria aktualisasi diri yang ketiga yang paling sering muncul adalah persepsi yang lebih efisien akan kenyataan. Persepsi yang lebih efisien akan kenyataan adalah kemampuan seseorang untuk melihat permasalahan dengan cepat dan objektif. Kriteria ini misalnya terwujud dalam aktivitas salah seorang partisipan dalam hal mencarikan dan memilah sumber yang dapat dipercaya atau tidak untuk pengasuhan anak:

“Saya banyak googling ya, baca kan dulu kuliah ada psikologi perkembangan dari kuliah dulu, kemaren-kemaren sempet baca sekarang gak sempat,

tahu. Tapi bagus ya perkembagan internet jaman sekarang jadi banyak hal yang tadinya nggak tahu jadi tahu”.

Kriteria aktualisasi diri yang keempat yang paling sering muncul adalah kesederhanaan. Kesederhanaan adalah sikap sesorang yang apa adanya dan tidak dibuat-buat. Kriteria kesederhanaan misalnya terlihat paa pernyataan salah satu partisipan kelima yang mengatakan bahwa ia sudah sangat senang ketika anaknya mau pergi ke sekolah dan tidak terlalu menuntut anaknya dalam hal sekolah (P5):

“Tapi untung dia mau untung dia masih mau ya udah tak cobani, mau sekolah tapi itu setiap hari ada rutinitas yang saya lakukan sampai sekarang membujuk dia agar mau berangkat sekolah jadi kalau dia mau sekolah itu dah terima kasih ndak usah muluk muluk sekarang karena ee juga banyak masalah kan di sekolah itu homeschooling tu.”

Kriteria aktualisasi diri yang kelima yang paling sering muncul adalah struktur watak demokratis. Struktur watak demokratis merupakan karakteristik seseorang di mana ia mempunyai sikap rendah hati terhadap orang lain sehingga ia dapat belajar dari siapa saja. Kriteria ini misalnya terlihat pada salah satu partisipan (P1) yang belajar dari proses merawat anaknya yang masih kecil. Partisipan menganggap bahwa bukan hanya anaknya saja yang belajar, ia juga dapat belajar cara menghadapi anak yang diperlihatkan pada pernyataan seorang partisipan (PI):

“Ya kadang lagi muncul agresinya ini lho, ya itu, muncul, nyakar-nyakar, godain, gitu ya, padahal sama neneknya itu galak, kalau dah ngomongin apa-apa suka haiyah...suka dibantah gitu (ketawa), dah mulai muncul...saya apa ya...saya menikmati sih proses...prosesnya itu...jadi bukan hanya dia yang belajar, saya juga belajar...gitu”.

Kriteria aktualisasi diri yang keenam yang paling sering muncul adalah penerimaan diri, orang lain, dan alam. Penerimaan orang lain adalah ketika seseorang menerima orang lain sebagaimana adanya. Hal ini misalnya diperlihatkan

mempunyai sifat seenaknya sendiri:

“Anakku belajar setengah jam itu udah matur nuwun, nggak tahan dia belajar lama-lama, jadi dia tipenya kalau belajar kudu dikemas jadi sesuatu yang menarik bagi dia, terus tipe berantakan...sak penake dewe mungkin anakku seperti itu, ya sudah dulu aku nggak bisa menerima tapi berjalannya waktu bisa menerima akhirnya, belajar menerima”.

Kriteria aktualisasi diri yang ketujuh yang paling sering muncul adalah adalah penghargaan yang selalu baru. Penghargaan yang selalu baru adalah sikap untuk mempertahankan sesuatu tetap positif. Kriteria penghargaan yang selalu baru ini misalnya terlihat pada salah seorang partisipan (P4) yang menganggap pekerjaan mengasuh anak sebagai sesuatu yang berat karena dikerjakan sendiri. Akan tetapi rasa berat tersebut lama-kelamaan hilang karena ketika ia melihat tingkah laku anak-anaknya ia menjadi gembira. Artinya, partisipan dapat melihat pekerjaan yang terasa berat tersebut menjadi lebih positif karena sesuatu yang sederhana:

“Kadang - kadang ya anu..kadang-kadang apa ya rasane waduh apa-apa sendiri kok rasanya berat, rasanya berat (mengasuh anak) tapi ya itu nanti rasa-rasa yang seperti itu akhirnya hilang sendiri, mungkin apa...tingkah laku anak-anak yang bikin membuat saya gembira”

Kriteria aktualisasi diri yang kedelapan yang paling sering muncul adalah diskriminasi cara dan tujuan. Diskriminasi cara dan tujuan adalah mementingkan tujuan daripada cara. Kriteria diskriminasi cara dan tujuan misalnya tercermin pada salah seorang partisipan yang lebih memilih merawat anaknya sendiri daripada menitipkan anaknya di day care (P1) :

“Saya mau saya mau saya berhasil dengan anak saya dalam artian secara fisik secara mental gitu ya, ee secara emosional, secara physicall secara intelegensinya, apa ya apa ya maksudnya anak saya tumbuh kembangnya itu optimal sesuai dengan standar saya gitu lho bukan standar dari baby sitter atau standar siapapun yang saya titipin gitu. Saya taruh di day care juga belum tentu day care juga belum tentu punya standar yang sama seperti saya, gitu lho.”

pembaktian pada pekerjaan. Pembaktian pada pekerjaan adalah keadaan dimana seseorang merasa bertanggung jawab terhadap pekerjaan sehingga menjadikan seseoarang bersungguh-sungguh terhadap pekerjaannya. Kriteria pembaktian terhadap pekerjaan ini misalnya diperlihatkan oleh salah satu partisipan (P1) yang menyatakan bahwa ia harus bertanggung jawab pada anaknya karena partisipan merasa bagaimana cara ia mengasuh anak akan berpengaruh pada tabiat anak nanti sehingga ia merasa bertanggung jawab terhadap pekerjaannya:

“Keuntungannya bisa fokus ke anak sama keluarga, maksudnya kan kita harus bertanggung jawab untuk itu, nanti anak jadi orang baik atau orang jahat itu kan peran terbesar ada di diri kita sebagai ibu, jadi kontrol terhadap anak dan keluarga itu full di tangan saya”

Kriteria aktualisasi diri yang kesepuluh yang paling sering muncul adalah kemandirian. Kemandirian adalah inisiatif seseorang untuk tidak bergantung dengan orang lain. Hal ini misalnya terlihat pada salah seorang partisipan (P3), dalam aktivitas bertanggung jawab penuh terhadap anak-anaknya ketika suami berada di luar kota:

“Jadi tante gak ini ini banget ya biasa aja njalaninnya terutama karena bapak kan memang jarang pulang ya karena bapak kadang sebulan sekali kadang sebulan dua kali pulang, jadi selama nggak ada bapak ya tanggung jawab anak anak itu otomatis kan jatuh nya ke tante to selama nggak ada bapak, bapak kan ada di luar kota”

Pada wilayah pengasuhan anak (childrearing) kriteria-kriteria aktualisasi diri paling banyak muncul pada perempuan menikah yang mempunyai anak remaja maupun anak di bawah remaja, hal tersebut wajar karena pada tahap ini orang tua masih menganggap anak pada kisaran umur ini merupakan tanggung jawab mereka dan belum sepenuhnya mandiri. Sedangkan pada perempuan menikah yang

aktualisasi diri yang muncul karena kontrol dan tanggung jawab mereka terhadap anak juga makin berkurang.