• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB II DASAR HUKUM PENGATURAN DALAM

B. Wilayah Pesisir Kota Batam sebagai Kawasan

Berbicara tentang wilayah pesisir tidak terlepas dari area kelautan. Zona Ekonomi Eksklusif (ZEE) Indonesia adalah jalur laut diluar laut wilayah Indonesia sebagaimana diatur dalam dalam Undang-Undang Nomor 4 Prp Tahun 1960 Tentang Perairan Indonesia, dengan lebar 200 mil laut diukur dari garis-garis pangkal.

Menurut Konvensi Hukum Laut PBB 1982 , garis pangkal ada dua jenis yaitu garis pangkal biasa (normalbase lines)dan garis pangkal lurus (straight base lines). Garis pangkal biasa adalah garis yang ditarik pada saat air surut terjauh dari pantai. Sedangkan garis pangkal lurus adalah garis yang ditarik dengan menghubungkan titik-titik terluar dari pulau-pulau terluar. Kearah luar garis pangkal itu, suatu negara dapat menetapkan lebar laut territorial maksimum 12 mil.96

Didalam ZEE tersebut Indonesia memiliki dan melaksanakan :

a. Hak-hak berdaulat untuk melakukan eksplorasi dan eksploitasi, pengelolaan dan pelestarian sumber daya hayati dan non hayati dari dasar dan tanah dibawahnya serta air diatasnya, dan hak-hak berdaulat untuk melakukan kegiatan-kegiatan

96

I Made Pasek Diantha, Zona Ekonomi Eksklusif Indonesia Berdasarkan Konvensi Hukum Laut PBB 1982,(Bandung : CV.Mandar Madju, 2002), hlm. 15.

eksplorasi dan eksploitasi ekonomi lainnya di jalur tersebut, seperti pembangkitan tenaga dari air, arus dan angin.

b. Jurisdiksi yang berhubungan dengan :

(1) Pembuatan dan penggunaan pulau-pulau buatan, instalasi-instalasi dan bangunan-bangunan lain;

(2) Penelitian ilmiah mengenai laut; (3) Pelestarian lingkungan laut;

(4) Hak-hak lain berdasarkan hukum internasional.97

Secara Umum Indonesia terdiri dari beberapa pulau-pulau baik kecil maupun besar sehingga Indonesia terkenal dengan Negara Kepulauan dan begitu juga dengan Batam yang terdiri dari beberapa pulau yang besarnya seperti Pulau Batam, Rempang dan Galang dan ada beberapa pulau-pulau kecil. Pulau-pulau kecil dikenal dengan DaerahHiterlanddan Pulau-pulau Besar dikenal dengan sebutanMainland.98

Berdasarkan Rencana Tata Ruang Wilayah Kota Batam Tahun 2004 – 2014 Luas Wilayah Kota Batam, Kota Batam di Sebelah Utara berbatasan dengan Selat Singapura, sebelah Selatan berbatasan dengan Kecamatan Senayang, Sebelah Barat dengan Wilayah Kecamatan Karimun dan Moro Kabupaten Karimun dan sebelah Timur dengan Kecamatan Bintan Utara sehingga Batam lebih banyak dominan wilayah lautan dan terdapat banyak pulau-pulau.

Sesuai Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2004 junctoPeraturan Daerah Kota Batam Nomor 2 Tahun 2004 tentang Rencana Tata Ruang Wilayah Kota Batam 2004-2014 wilayah Kota Batam dengan batas ruang darat dan ruang laut ditetapkan

97Ibid., hlm. 63.

98 Kewenangan Pemerintah dalam memberikan Perlindungan Hukum Terhadap Wilayah

Pesisir dan Pulau-Pulau Kecil Batam Ditinjau Dari Kewenangan Daerah(Studi Kasus terhadap Pulau Setokok dan Pulau Janda Berhias), diakses dari http://dc415.4shared.com/doc/gKPnU9xa/preview.html, pada tanggal 5 April 2013

sejauh 4 (empat) Mil laut diukur dari garis pantai ke arah laut lepas dan/atau ke arah perairan kepulauan.

Luas laut yang dilegitimasi dan boleh di reklamasi menurut peraturan yang ada di Batam adalah 0 (nol) mil sampai dengan 4 (empat) Mil laut diukur dari garis pantai ke arah laut lepas dan/atau ke arah perairan kepulauan.99

Secara historis, wilayah pesisir telah berfungsi sebagai pusat kegiatan masyarakat mengingat berbagai keunggulan fisik dan geografis yang dimiliki. Pengembangan wilayah pada wilayah pesisir sebagaimana pengembangan wilayah pada kawasan lainnya, tujuan utamanya adalah meningkatkan kesejahteraan masyarakat.

Semakin meningkatnya kegiatan pembangunan dan jumlah penduduk, serta semakin menipisnya sumber daya alam daratan, maka sumberdaya pesisir dan lautan akan menjadi tumpuan harapan bagi kesinambungan pembangunan ekonomi nasional di masa mendatang.

Wilayah pesisir adalah kawasan peralihan yang menghubungkan ekosistem darat dan ekosistem laut, yang sangat rentan terhadap perubahan akibat aktifitas manusia di darat dan di laut, secara geografi ke arah darat sejauh pasang tertinggi dan ke arah laut sejauh pengaruh dari darat.100

99 Wahyu Daryatin, Kasubdit Pengukuran dan Pemetaan Badan Pertanahan Daerah Kota Batam,Wawancara,Batam,tanggal 06 Mei 2013, pukul 09.00 W.I.B.

Wilayah pesisir yang merupakan salah satu sumber daya yang potensial di Indonesia. Sumber daya ini sangat besar, hal ini didukung oleh adanya garis pantai Indonesia sepanjang sekitar 81.000 Km (delapan puluh satu ribu kilometer).101

Pasal 1 ayat 2 Undang-Undang Nomor 27 Tahun 2007 Tentang Pengelolaan Wilayah Pesisir dan Pulau-Pulau Kecil menjelaskan bahwa wilayah pesisir adalah daerah peralihan antara ekosistem darat dan laut yang dipengaruhi oleh perubahan didarat dan laut.

Selanjutnya dalam Pasal 2 Undang-Undang Nomor 27 Tahun 2007 Tentang Pengelolaan Wilayah Pesisir dan Pulau-Pulau Kecil menyebutkan Ruang lingkup pengaturan Wilayah Pesisir dan Pulau-Pulau Kecil meliputi daerah peralihan antara Ekosistem darat dan laut yang dipengaruhi oleh perubahan di darat dan laut, ke arah darat mencakup wilayah administrasi kecamatan dan ke arah laut sejauh 12 (dua belas) mil laut diukur dari garis pantai102

“Sebagai kawasan daratan, wilayah pesisir yang masih dipengaruhi oleh proses dan dinamika laut seperti pasang surut, intrusi air laut dan kawasan laut yang masih mendapat pengaruh dari proses dan dinamika daratan seperti sedimentasi dan pencemaran. Sementara itu pendekatan administrasi membatasi wilayah pesisir sebagai wilayah administrasi pemerintahan memiliki batas terluar sebelah hulu dari kecamatan atau kabupaten/kota yang

101

Emy Rossanty,Dampak Reklamasi Pantai Marina Kota Semarang, Tugas Akhir, Fakultas Teknik Jurusan Perencanaan Wilayah Dan Kota, Universitas Diponegoro, Semarang, 2008, hlm.1.

102

Dalam penjelasannya menerangkan bahwa ruang lingkup pengaturan dalam Undang- Undang ini meliputi Wilayah Pesisir, yakni ruang lautan yang masih dipengaruhi oleh kegiatan di daratan dan ruang daratan yang masih terasa pengaruh lautnya, serta Pulau-Pulau Kecil dan perairan sekitarnya yang merupakan satu kesatuan dan mempunyai potensi cukup besar yang pemanfaatannya berbasis sumber daya, lingkungan,dan masyarakat. Dalam implementasinya, ke arah laut ditetapkan sejauh 12 (dua belas) mil diukur dari garis pantai sebagaimana telah ditetapkan dalam Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2004 Nomor 125, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4437) sedangkan ke arah daratan ditetapkan sesuai dengan batas kecamatan untuk kewenangan provinsi. Kewenangan kabupaten/kota ke arah laut ditetapkan sejauh sepertiga dari wilayah laut kewenangan provinsi sebagaimana telah ditetapkan dalam Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah, sedangkan ke arah daratan ditetapkan sesuai dengan batas kecamatan.

mempunyai laut dan ke arah laut sejauh 12 (dua belas) mil laut dari garis pantai untuk provinsi dan sepertiganya untuk kabupaten/kota.103

“Di Indonesia pengertian yang digunakan adalah wilayah pesisir sebagai wilayah yang merupakan kawasan pertemuan antara daratan dan lautan, ke arah darat meliputi bagian daratan baik kering maupun terendam air yang masih dipengaruhi oleh proses-proses yang berkaitan dengan laut atau sifat- sifat laut seperti pasang surut, angin laut dan perembesan air asin. Sedangkan ke arah laut kawasan pesisir mencakup bagian laut yang masih dipengaruhi oleh proses alami yang terjadi di darat seperti sedimentasi dan aliran air tawar, maupun yang disebabkan kegiatan manusia di darat seperti penggundulan hutan dan pencemaran.”104

“Secara ekologis, batas ke arah laut dari suatu wilayah pesisir mencakup daerah perairan laut yang masih dipengaruhi oleh proses-proses alamiah (seperti aliran air tawar dari sungai maupun run-off) maupun kegiatan manusia (seperti pencemaran dan sedimentasi) yang terjadi di daratan. Sementara itu, batas ke arah darat adalah mencakup daerah daratan yang masih dipengaruhi oleh proses-proses laut, seperti jangkauan pengaruh pasang surut, salinitas air laut, dan angin laut. Oleh karena itu, batas ke arah darat dan ke arah laut dari suatu wilayah pesisir bersifat sangat site specific atau bergantung pada kondisi biogeofisik wilayah berupa topografi dan geomorfologi pesisir, keadaan pasang surut dan gelombang, kondisi DAS (Daerah Aliran Sungai).”105

Pemerintah Kota Batam juga merumuskan pengertian wilayah pesisir adalah suatu daerah pertemuan antara darat dan laut, ke arah darat meliputi bagian darat, baik kering maupun terendam air, yang masih dipengaruhi oleh sifat-sifat laut seperti pasang surut, angin laut dan lain-lain, sedangkan ke arah laut mencakup bagian laut yang masih dipengaruhi oleh proses alami maupun kegiatan manusia di darat seperti sedimentasi, aliran air tawar, penggundulan hutan, pencemaran lingkungan dan lain- lain.106

103Batasan Laut, Wilayah Pesisir dan Pulau-Pulau Kecil, diakses dari http://repository.ipb.ac.id, pada tanggal 27 Maret 2013

104

Nurkhotimah,Loc.Cit

105Ibid.,hlm. 33.

106 Lihat Pasal 1 huruf p Peraturan Daerah Kota Batam Nomor 2 Tahun 2004 tentang Rencana Tata Ruang Wilayah Kota Batam 2004-2014

Dalam konsep normatif batasan pengertian wilayah pesisir yang digunakan adalah sebagaimana dalam Pedoman Umum Perencanaan Pengelolaan Pesisir Terpadu yang menyatakan :

“Wilayah peralihan ekosistem darat dan laut yang saling mempengaruhi di mana ke arah laut 12 mil dari garis pantai untuk provinsi dan sepertiga dari wilayah laut itu untuk kabupaten/kota dan ke arah darat batas administrasi kabupaten/ kota”.107

Pasal 1 ayat 8 Undang-Undang Nomor 27 Tahun 2007 Tentang Pengelolaan Wilayah Pesisir dan Pulau-Pulau Kecil menyebutkan kawasan pesisir merupakan wilayah pesisir tertentu yang ditunjuk dan atau ditetapkan oleh pemerintah berdasarkan kriteria tertentu, seperti karakteristik fisik, biologi, sosial, dan ekonomi, untuk dipertahankan keberadaannya.

Berdasarkan Pasal 45 ayat 1 Peraturan Daerah Kota Batam Nomor 2 Tahun 2004 Tentang Rencana Tata Ruang Wilayah Kota Batam Tahun 2004-2014 menyebutkan Kawasan Pengembangan Pantai di Kota Batam yang merupakan kawasan pesisir di bagian utara Pulau Batam diukur dari garis pantai saat pasang tertinggi ke arah laut yang ditetapkan untuk pengembangan berbagai kegiatan perkotaan melalui reklamasi pantai.

Kawasan pesisir di Pulau Batam yang ditetapkan sebagai Kawasan Pengembangan Pantai mencakup kawasan pesisir Teluk Tering, kawasan pesisir Bengkong Laut, dan kawasan pesisir Teluk Jodoh.108 Kawasan reklamasi pantai

107 Nurkhotimah,Op.Cit.,hlm. 34.

108 Lihat Pasal 45 ayat 2 Peraturan Daerah Kota Batam Nomor 2 Tahun 2004 Tentang Rencana Tata Ruang Wilayah Kota Batam Tahun 2004-2014

adalah kawasan hasil perluasan daerah pesisir pantai melalui rekayasa teknis untuk pengembangan kawasan baru.109

Kawasan reklamasi pantai termasuk dalam kategori kawasan yang terletak di tepi pantai, dimana pertumbuhan dan perkembangannya baik secara sosial, ekonomi, dan fisik sangat dipengaruhi oleh badan air laut.110

Reklamasi yang dilakukan di kawasan pengembangan pantai Teluk Tering sudah sesuai dengan Rencana Tata Ruang Wilayah Kota Batam.111 Perencanaan

reklamasi sudah diselaraskan dengan rencana tata ruang kota. Tata ruang kota yang baru nantinya harus memerhatikan kemampuan daya dukung sosial dan ekologi bagi pengembangan Kota.

Dalam Rencana Tata Ruang Wilayah Kota Batam Tahun 2004-2014 pada bagian Kawasan Budidaya Wilayah Laut yang meliputi :

a. Kawasan Pengembangan Pantai; b. Kawasan Penangkapan Ikan; c. Kawasan Budidaya Akuakultur; d. Kawasan Pariwisata Laut;

e. Kawasan Pengembangan Industri Kelautan; dan f. Kawasan Alur Pelayaran.112

Kawasan Pengembangan Pantai hanya diperuntukkan bagi pengembangan kegiatan perdagangan dan jasa, perkantoran, perumahan, pariwisata, dan kegiatan perkotaan lain yang memiliki daya tarik investasi dan nilai ekonomi yang tinggi, dan

109 Pasal 1 ayat 2 Peraturan Menteri Pekerjaan Umum Nomor 40 /PRT/M/2007 Tentang Pedoman Perencanaan Tata Ruang Kawasan Reklamasi Pantai

110 Lampiran Peraturan Menteri Pekerjaan Umum Nomor 40 /PRT/M/2007 Tentang

Pedoman Perencanaan Tata Ruang Kawasan Reklamasi Pantai, hlm. ix

111 Wahyu Daryatin, Kasubdit Pengukuran dan Pemetaan Badan Pertanahan Daerah Kota Batam,Wawancara,Batam,tanggal 06 Mei 2013, pukul 09.00 W.I.B.

112Lihat Pasal 44 Peraturan Daerah Kota Batam Nomor 2 Tahun 2004 Tentang Rencana Tata Ruang Wilayah Kota Batam Tahun 2004-2014

harus dilengkapi dengan sistem prasarana transportasi, fasilitas umum, dan utilitas umum Kota yang disediakan oleh pihak investor atau pengembang kawasan.

Kawasan pantai umumnya merupakan wilayah yang merupakan koridor pembangunan yang diminati. Hal tersebut disebabkan karena wilayah tersebut mengandung banyak hal yang memberi kemudahan dan memberi daya dukung untuk pembangunan. Kemudahan dan daya dukung tersebut adalah :

1) Wilayah pantai sebagian besar merupakan wilayah dataran dengan kemiringan lereng yang datar atau hampir datar, sehingga mudah dicapai dan banyak pembangunan dapat dilaksanakan.

2) Berbatasan dengan laut sehingga di beberapa tempat dapat dikembangkan menjadi pelabuhan sehingga dapat terjalin komunikasi ke luar pulau, serta adanya wilayah penangkapan dan budidaya perikanan laut.

3) Banyak sungai mengalir dan bermuara di wilayah pantai ini. Sungai dapat menjadi sumbu air tawar, dan muara sungai menjadi wilayah pelabuhan.

4) Tanah di wilayah dataran pantai mempunyai tanah yang lunak, gembur, berpori sehingga dapat menjadi akifer air tanah yang baik dan dangkal dibandingkan dengan wilayah pegunungan. Tanah yang lunak dan gembur merupakan tanah yang relatif mudah digarap menjadi kawasan pertanian dan sawah.

5) Wilayah pantai yang merupakan pertemuan antara daratan dan lautan pada umumnya mempunyai pemandangan yang indah dan mempesona, sehingga dapat berkembang menjadi daerah pariwisata bahari, lebih-lebih jika terdapat terumbu karang.

6) Wilayah pantai merupakan berbagai ekosistem seperti wilayah hutan bakau, terumbu karang, laguna, serta gua-gua pada tebing terjal di pantai, muara sungai/delta, dan pantai landai berpasir.113

Salah satu kawasan pengembangan pantai di Batam adalah Coastarina. Konsep Coastarina adalah gabungan antara perumahan mewah dengan fasilitas wisata

113 Sampurno,Pengembangan Kawasan Pantai Kaitannya Dengan Geomorfologi, Makalah, Departemen Geologi, Institut Teknik Bandung, Bandung, hlm.23.

superlengkap. Coastarina dibangun di kawasan pusat kota Batam, terletak di pinggir pantai Teluk Tering, Batam Centre.

Pengelolaan sumberdaya pesisir pantai dalam kerangka pengembangan wilayah, akan lebih efektif bila dilaksanakan secara bersama-sama dari seluruh

stakeholder yang terkait baik di tingkat pusat maupun daerah. Otonomi daerah telah membuka peluang desentralisasi pengelolaan sumber daya pesisir.

Untuk kawasan pesisir Teluk Tering saat ini telah dilakukan reklamasi, luasnya kurang lebih 750.339 M2 (tujuh ratus lima puluh ribu tiga ratus tiga puluh

sembilan meter persegi), dengan status Hak Pengelolaan yang dipegang oleh Pemerintah Kota Batam.

C. Penataan Ruang Wilayah Kota Batam Dan Kaitannya Dengan Reklamasi Pantai

Pasal 1 ayat 5 Undang-Undang Nomor 26 Tahun 2007 tentang Penataan Ruang menyebutkan pengertian penataan ruang adalah suatu sistem proses perencanaan tata ruang, pemanfaatan ruang dan pengendalian pemanfaatan ruang.

Penataan ruang sebagai suatu sistem perencanaan tata ruang, pemanfaatan ruang, dan pengendalian pemanfaatan ruang merupakan satu kesatuan yang tidak terpisahkan antara yang satu dan yang lain dan harus dilakukan sesuai dengan kaidah penataan ruang sehingga diharapkan dapat:

a. dapat mewujudkan pemanfaatan ruang yang berhasil guna dan berdaya guna serta mampu mendukung pengelolaan lingkungan hidup yang berkelanjutan;

c. tidak menyebabkan terjadinya penurunan kualitas ruang.114

Kita bedakan Tata Ruang sebagai wujud struktural dan pola pemanfaatan ruang, baik direncanakan maupun tidak dengan penataan ruang. Demikian pula pengertian rencana tata ruang adalah hasil dari perencanaan tata ruang.115

“Sesuai dengan amanat Pasal 20 Undang-Undang Nomor 26 Tahun 2007 tentang Penataan Ruang, Rencana Tata Ruang Wilayah Nasional (RTRWN) merupakan pedoman untuk penyusunan rencana pembangunan jangka panjang nasional; penyusunan rencana pembangunan jangka menengah nasional; pemanfaatan ruang dan pengendalian pemanfaatan ruang di wilayah nasional; mewujudkan keterpaduan, keterkaitan, dan keseimbangan perkembangan antar wilayah provinsi, serta keserasian antar sektor; penetapan lokasi dan fungsi ruang untuk investasi; penataan ruang kawasan strategis nasional; dan penataan ruang wilayah provinsi dan kabupaten/kota.”116

“Oleh karena itu, RTRWN disusun dengan memperhatikan dinamika pembangunan yang berkembang, antara lain, tantangan globalisasi, otonomi dan aspirasi daerah, keseimbangan perkembangan antara Kawasan Barat Indonesia dengan Kawasan Timur Indonesia, kondisi fisik wilayah Negara Kesatuan Republik Indonesia yang rentan terhadap bencana, dampak pemanasan global, pengembangan potensi kelautan dan pesisir, pemanfaatan ruang kota pantai, penanganan kawasan perbatasan negara, dan peran teknologi dalam memanfaatkan ruang.”117

“Untuk mengantisipasi dinamika pembangunan tersebut, upaya pembangunan nasional juga harus ditingkatkan melalui perencanaan, pelaksanaan, dan pengendalian pemanfaatan ruang yang lebih baik agar seluruh pikiran dan sumber daya dapat diarahkan secara berhasil guna dan berdaya guna. Salah satu hal penting yang dibutuhkan untuk mencapai maksud tersebut adalah peningkatan keterpaduan dan keserasian pembangunan di segala bidang pembangunan, yang secara spasial dirumuskan dalam RTRWN.”118

114 Butir 5 Penjelasan Umum Undang-Undang Nomor 26 Tahun 2007 tentang Penataan Ruang

115

A.P.Parlindungan [4], Komentar Atas Undang-Undang Penataan Ruang

(U.U.NO.24TH.1992), (Bandung : CV.Mandar Madju, 1993), hlm. 12. 116

Penjelasan Umum Peraturan Pemerintah Nomor 26 Tahun 2008 tentang Rencana Tata Ruang Wilayah Nasional

117Ibid. 118Ibid.

Dalam konsiderans Peraturan Daerah Kota Batam Nomor 2 Tahun 2004 Tentang Rencana Tata Ruang Wilayah Kota Batam Tahun 2004-2014 pada butir (c) menyebutkan bahwa Rencana Tata Ruang Wilayah Kota Batam sebagai pedoman dan arahan lokasi investasi pembangunan yang dilaksanakan oleh pemerintah, sektor swasta, dan masyarakat di ruang wilayah darat dan wilayah laut perlu senantiasa antisipatif terhadap setiap dinamika perubahan dan tuntutan perkembangan.

Pasal 2 ayat 1 Peraturan Daerah Kota Batam Nomor 2 Tahun 2004 tentang Rencana Tata Ruang Wilayah Kota Batam 2004-2014 menyebutkan Ruang lingkup wilayah Kota Batam terbentang antara 0O25’29” LU - 1015’00” LU dan 103034’35”

BT - 104026’04” BT dengan total wilayah darat dan wilayah laut seluas 3.990,00

Km2, meliputi lebih dari 400 (empat ratus) pulau, 329 (tiga ratus dua puluh sembilan)

di antaranya telah bernama, termasuk di dalamnya pulau-pulau terluar di wilayah perbatasan negara, yang secara administrasi pemerintahan terdiri dari 8 (delapan) wilayah kecamatan, yaitu :

a. Kecamatan Sekupang, yang mencakup : 1. Kelurahan Sungai Harapan;

2. Kelurahan Tanjung Pinggir; 3. Kelurahan Tanjung Riau; 4. Kelurahan Tanjung Uncang; 5. Kelurahan Tiban Indah; 6. Kelurahan Patam Lestari; 7. Kelurahan Tiban Asri; 8. Kelurahan Tiban Lama;

b. Kecamatan Lubuk Baja, yang mencakup : 1. Kelurahan Batu Selicin;

2. Kelurahan Lubuk Baja Kota; 3. Kelurahan Kampung Pelita; 4. Kelurahan Pangkalan Petai; 5. Kelurahan Tanjung Uma;

c. Kecamatan Batu Ampar, yang mencakup : 1. Kelurahan Bukit Senyum;

2. Kelurahan Sungai Jodoh; 3. Kelurahan Batu Merah; 4. Kelurahan Kampung Seraya; 5. Kelurahan Bengkong Harapan; 6. Kelurahan Bukit Jodoh;

7. Kelurahan Harapan Baru; 8. Kelurahan Bengkong Laut; d. Kecamatan Nongsa, yang mencakup :

1. Kelurahan Batu Besar; 2. Kelurahan Nongsa; 3. Kelurahan Kabil;

4. Kelurahan Teluk Tering; 5. Kelurahan Belian; 6. Kelurahan Baloi Permai; 7. Kelurahan Baloi;

8. Kelurahan Ngenang;

e. Kecamatan Sei Beduk, yang mencakup : 1. Kelurahan Muka Kuning;

2. Kelurahan Batuaji; 3. Kelurahan Sagulung; 4. Kelurahan Tanjung Piayu;

f. Kecamatan Galang, yang mencakup : 1. Kelurahan Sijantung;

2. Kelurahan Karas; 3. Kelurahan Galang Baru; 4. Kelurahan Sembulang; 5. Kelurahan Rempang Cate; 6. Kelurahan Subang Mas; 7. Kelurahan Pulau Abang;

g. Kecamatan Bulang, yang mencakup : 1. Kelurahan Bulang Lintang; 2. Kelurahan Pulau Buluh; 3. Kelurahan Temoyong; 4. Kelurahan Batu Legong; 5. Kelurahan Pantai Gelam; 6. Kelurahan Pulau Setokok;

h. Kecamatan Belakang Padang, yang mencakup : 1. Kelurahan Belakang Padang;

2. Kelurahan Pemping; 3. Kelurahan Kasu; 4. Kelurahan Pecong; dan 5. Kelurahan Pulau Terong.

Selanjutnya dalam ayat 2 Peraturan Daerah Kota Batam Nomor 2 Tahun 2004 tentang Rencana Tata Ruang Wilayah Kota Batam 2004-2014 menyebutkan bahwa Peraturan Daerah tentang Rencana Tata Ruang Wilayah Kota Batam ini mencakup strategi dan struktur pemanfaatan ruang wilayah Kota Batam sampai dengan batas ruang darat dan ruang laut sejauh 4 (empat) mil laut dari garis pantai.

Rencana Tata Ruang Wilayah Kota Batam sendiri meliputi :

a. Tujuan pemanfaatan ruang wilayah untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat dan pertahanan keamanan, yang diwujudkan melalui strategi pelaksanaan pemanfaatan ruang wilayah untuk tercapainya pemanfaatan ruang yang berkualitas;

b. Rencana struktur tata ruang wilayah dan sistem kegiatan pelayanan kota; c. Rencana alokasi pemanfaatan ruang wilayah darat dan wilayah laut;

d. Rencana sistem prasarana transportasi, fasilitas umum, dan utilitas umum kota; e. Pedoman pengendalian pemanfaatan ruang wilayah.119

Lebih tegasnya tujuan pemanfaatan ruang wilayah Kota Batam, yaitu :

a. Terwujudnya tata ruang wilayah yang madani di Kota Batam untuk mendukung visi pembangunan daerah, yakni “Terwujudnya Batam Sebagai Bandar Dunia yang Madani”;

b. Terselenggaranya pemanfaatan ruang wilayah darat dan wilayah laut yang berkelanjutan dan berwawasan lingkungan sesuai dengan kemampuan daya dukung dan daya tampung lingkungan hidup, serta kebijakan pembangunan nasional dan daerah;

c. Terselenggaranya pengaturan pemanfaatan ruang wilayah darat dan wilayah laut, serta pelaksanaan kegiatan pembangunan dan pemanfaatan ruang kawasan budidaya di kawasan perkotaan, kawasan perdesaan, kawasan strategis, kawasan

119Pasal 3 Peraturan Daerah Kota Batam Nomor 2 Tahun 2004 tentang Rencana Tata Ruang Wilayah Kota Batam 2004-2014

khusus, dan kawasan-kawasan yang diprioritaskan pengembangannya di Kota Batam;120

Beberapa pedoman yang ada tentang Rencana Tata Ruang Wilayah/Kota dirasakan masih terlalu umum dan belum secara konseptual meletakkan landasan pemanfaatan dan pengembangan kawasan tepian pantai/sungai. Akibatnya adalah pengembangan kegiatan di atas pantai dan sungai, serta darat tidak terintegrasi secara baik, sehingga Pemerintah Kota harus menghadapi berbagai permasalahan seperti: a. Pemanfaatan lahan yang tidak efisien (tidak sesuai dengan potensi yang

dimilikinya) ditinjau dari kontribusinya terhadap ekonomi kota. In efisiensi

penggunaan lahan ini terutama terjadi pada daerah pusat kota.

b. Penguasaan lahan tepi pantai dan sungai oleh perorangan yang membatasi akses warga kota ke pantai dan sungai, sehingga terjadi penguasaan sumber daya strategis (pantai & sungai) oleh sebagian kecil kelompok masyarakat.121

Untuk itu pengembangan kawasan tepian pantai menuntut keterpaduan dalam berbagai tingkatan, mulai dari yang bersifat makro (kebijaksanaan dan program) hingga keterpaduan yang bersifat mikro (fisik). Keterpaduan ini juga mencakup keterpaduan berbagai aspek, antara lain adalah aspek fungsi kegiatan-kegiatan yang akan ada (tata-ruang), intensitas pembangunan (tata bangunan), serta arahan arsitektur

Dokumen terkait