BAB IV ANALISIS DAN TRANSKRIPSI
4.2 Analisis Struktur Melodi lagu Melayu Sri Mersing, Pulau Kampai,
4.2.2 Analisis Struktur Melodi Lagu Sri Mersing, Pulau Kampai,
4.2.2.2 Wilayah Nada (Range)
tersebut ke dalam garis paranada, maka didapatlah range tersebut. Wilayah nadanya dari masing-masing lagu adalah sebagai berikut:
a. Sri Mersing A D’ b. Pulau Kampai G G’ c. Tanjung Katung A B’ d. Zapin Kasih dan Budi
B B’
4.2.2.3 Nada Dasar (Pitch Center)
Dalam menentukan nada dasar, penulis berpedoman kepada rekaman yang ada,
penulis mendengarkan rekaman dari lagu tersebut dan mencocokkan dengan bantuan alat musik keyboard. Nada dasar pada masing- masing lagu adalah: Sri
Mersing bernada dasar A minor, Pulau Kampai bernada dasar A, Tanjung Katung A minor , Zapin Kasih dan Budi bernada dasar E minor.
4.2.2.4 Formula Melodik (Melodic Formula)
Bentuk juga dapat dibagi menjadi 5 menurut pendapat Malm (Malm dalam Takari 1993 : 14-15), yaitu:
1. Repetitive, yaitu bentuk nyanyian yang mengalami pengulangan.
2. Ireratif, yaitu suatu bentuk nyanyian yang menggunakan formula melodi yang kecil dengan kecenderungan pengulangan-pengulangan di dalam keseluruhan nyanyian.
3. Reverting, yaitu suatu bentuk nyanyian apabila di dalam nyanyian terjadi pengulangan pada frase pertama setelah terjadi penyimpangan melodis.
4. Strofic, yaitu apabila bentuk nyanyian diulang dengan formalitas yang sama namun menggunakan teks yang baru.
5. Progressive, yaitu apabila bentuk nyanyian selalu berubah dengan menggunakan materi melodi yang selalu baru.
Tabel 4.1 Formula Melodi
JUDUL LAGU FORMULA MELODI
Sri Mersing Stropic dan progressive
Pulau Kampai Repetitif dan stropic
Tanjung Katung Stropic dan progressive
4.2.2.5 Interval (Prevalent Interval)
Interval adalah jarak antara satu nada dengan nada yang lainnya (Manoff 1991 : 50). Penulis memisah interval pada lagu tersebut dengan interval naik dan interval turun. Berikut adalah interval pada masing-masing lagu.
Tabel 4.2
Interval Lagu Sri Mersing
Interval Posisi Jumlah
Prime Perfect 168 Prime Augmented 2 Sekunda Mayor 36 Sekunda Minor 18 Sekunda Augmented 1 Terts Mayor 3 Terts Minor 12 Kwart Perfect 3 Kwart Augmented 2 Kwint Diminis 1 Septa minor 1 Tabel 4.3
Interval Lagu Pulau Kampai
Interval Posisi Jumlah
Prime Perfect 62 Prime Diminis 5 Sekunda Mayor 18 Sekunda Minor 7 Sekunda Augmented 2 Terts Mayor 4 Terts Minor 3 Terts Augmented 2 Kwart Diminis 1 Kwint Diminis 2 Tabel 4.4
Interval Lagu Tanjung Kantung
Prime Perfect 66 Prime Augmented 28 Prime Diminis 2 Sekunda Mayor 37 Sekunda Minor 23 Terts Mayor 16 Terts Minor 11 Sekta Mayor 2 Septim Minor 1 Tabel 4.5
Interval Lagu Zapin Kasih dan Budi
Interval Posisi Jumlah
Prime Perfect 31
Sekunda Mayor 4
Sekunda Minor 16
Terts Mayor 7
Terts Minor 18
4.2.2.6 Pemakaian Nada/Jumlah Nada (Frequency of Notes)
Jumlah nada dapat dilihat dari banyaknya pemakaian nada yang dipakai dalam sebuah komposisi. Penulis menyusun jumlah nada yang dipakai dalam lagu sesuai dengan tangga nada yang telah dibuat sebelumnya. Dapat dilihat dari gambar garis paranada berikut.
a. Sri Mersing
7 15 13 35 64 37 2 33 6 3
2 23 11 7 16 38
27 7
c. Tanjung Katung
8 4 7 23 47 35 19
d. Zapin Kasih dan Budi
8 4 10 19 7 10 2
4.2.2.7 Pola Kadensa (Cadence Pattern)
Pola kadensa merupakan nada yang digunakan pada tiap-tiap birama terakhir dalam satu garis paranada. Berikut adalah Pola Kadensa dari masing-masing lagu: a. Sri Mersing Frasa 1 Frasa 2 Frasa 3 Frasa 4
Frasa 5 Frasa 6 Frasa 7 b. Pulau Kampai Frasa 1 Frasa 2 Frasa 3 Frasa 4 Frasa 5 c. Tanjung Katung Frasa 1
Frasa 2 Frasa 3 Frasa 4 Frasa 5 Frasa 6 Frasa 7 Frasa 8 Frasa 9
d. Zapin Kasih dan Budi Frasa 1
Frasa 3
Frasa 4
4.2.2.8 Kontur (Contour)
Kontur dapat diartikan alur melodi yang biasanya ditandai dengan menarik garis. Menurut Malm, ada beberapa jenis kontur (Malm dalam Jonson 2000: 76). Jenis-jenis tersebut antara lain:
1. Ascending, yaitu garis melodi yang sifatnnya naik dari nada rendah ke nada yang lebih tinggi, seperti gambar :
2. Descending, yaitu garis melodi yang sifatnya turun dari nada yang tinggi ke nada yang rendah, seperti gambar :
3. Pendulous, yaitu garis melodi yang sifatnya melengkung dari nada yang rendah ke nada yang tinggi, kemudian kembali ke nada yang rendah.
Begitu juga sebaliknya, seperti gambar :
4. Teracced, yaitu garis melodi yang sifatnya berjenjang seperti anak tangga dari nada yang rendah ke nada yang lebih tinggi kemudian sejajar, seperti gambar :
intervalnya terbatas, seperti gambar:
Untuk lebih jelasnya, penulis akan menggambarkan bentuk kontur sesuai nada pada garis paranada.
a. Sri Mersing Frasa 5 b. Pulau Kampai Frasa 3 c. Tanjung Katung Frasa 5
d. Zapin Kasih dan Budi
BAB V
PENUTUP
5.1KESIMPULAN
Dari keseluruhan hasil penelitian ini dapat disimpulkan bahwa lagu Melayu dapat dipelajari secara tradisi lisan. Dalam mempelajari lagu Melayu juga terdapat beberapa teknik yang harus dipelajari secara tahap demi tahap oleh seseorang yang ingin mempelajari lagu Melayu. Teknik tersebut antara lain teknik mempelajari melodi lagu, teknik mempelajari lirik lagu, teknik mempelajari rentak lagu dan teknik mempelajari cengkok dan grenek lagu.
Dalam teknik mempelajari melodi lagu hal paling utama yang harus dilakukan adalah mendengarkan lagu yang dinyanyikan penyanyi Melayu, baik melalui berbagai jenis media penyimpanan lagu seperti kaset, CD dan DVD. Lagu Melayu juga dapat didengar dalam format lagu mp3 atau pada media jejaring sosial seperti Youtube dan Soundcloud atau dengan meminta seorang penyanyi mennyanyikan lagu untuk dapat didengarkan. Penulis mengamati bahwa mempelajari melodi lagu secara keseluruhan sangat penting karena jika tidak mengetahui melodi lagu tentu akan sulit menyanyikan lagu karena penyanyi tentu tidak mengetahui harus menyanyikan melodi apa.
Dalam teknik mempelajari lirik lagu ada dua teknik penting yang diamati oleh penulis yaitu bahwa dalam menyanyikan lagu Melayu lirik lagu dapat diubah sesuai dengan konteksnya. Hal kedua adalah bahwa lagu Melayu dapat
disisipkan kata-kata seperti aduhai, sayang, bang oi, nak oi, hai, lah, mak, dan lain-lain.
Selanjutnya dalam teknik mempelajari rentak lagu Melayu, rentak lagu Melayu sebaiknya dipahami oleh penyanyi untuk mempermudah penyanyi dalam menentukan kapan lagu mulai dinyanyikan. Rentak juga membantu penyanyi untuk mengetahui cepat lambatnya sebuah lagu (tempo) dan karakteristik masing-masing ritem sehingga penyanyi bukan hanya mampu menyanyikan lagu saja tetapi juga dapat mengikuti pola pukulan gendang dan melodi dari permainan alat-alat musik pengiring menurut caranya sendiri , misalnya membayangkan dalam pikiran, mengikutinya dalam hati atau membuat tepukan kecil pada tangan atau kaki.
Dalam teknik mempelajari cengkok dan grenek lagu Melayu hal penting yang penulis amati dalam mempelajari cengkok dan grenek adalah bahwa seorang penyanyi harus memahami apa karakteristik masing-masing dari cengkok dan grenek. Penempatan cengkok dan grenek dalam lagu yaitu pada bagian lagu yang memiliki durasi panjang seperti durasi 1½, 2, 2½ dan 3 ketukan. Dalam hal ini, cengkok dan grenek dibuat seindah mungkin sesuai rasa musikal yang dimiliki rasa seseorang yang ingin menyanyikan lagu melayu. Bagi seorang penyanyi, biasanya melodi cengkok dan grenek tersebut dinyanyikan untuk satu suku kata yang dibawakan dalam bentuk melismatis yaitu menyanyikan satu suku kata dengan banyak nada dalam satu nafas.
5.2SARAN
Tulisan ini masih sangat jauh dari kesempurnaan baik dari teknik penulisan terutama cara penyampaian informasi yang terkandung didalamnya. Oleh karena itu dibutuhkan perbaikan-perbaikan guna menyempurnakan tulisan ini. Di harapkan kepada penulis yang ingin mengidentifikasi musik Melayu khususnya lagu Melayu untuk lebih lagi menganalisis lagu Melayu terutama teknik menyanyikannya.
Penulis juga mengharapkan kepada pelaku-pelaku seni khususnya orang Melayu untuk mencari tau lebih banyak lagi tentang tradisi Melayu, karena hal itulah yang menjadi ciri khas orang Melayu. Kepedulian pemerintah dan orangtua untuk memperkenalkan kekayaan budaya Melayu kepada generasi muda juga sangat diharapkan guna terus melesarikan budaya Melayu.
BAB II
BIOGRAFI IBU AZLINA ZAINAL DALAM KONTEKS
BUDAYA MELAYU
2.1 Pengertian Biografi
Biografi secara sederhana dapat dikatakan riwayat hidup seseorang. Biografi dapat berbentuk beberapa baris kalimat namun dapat juga berupa sebuah buku. Perbedaannya adalah biografi singkat hanya memaparkan fakta-fakta tentang kehidupan seseorang dan peran pentingnya sedangkan biografi yang panjang berisi informasi-informasi penting tentang kehidupan seseorang namun dikisahkan dengan lebih lengkap dan dituliskan dengan gaya bercerita yang baik.
Melalui biografi kita akan mengetahui perjalanan hidup seseorang, tindakan serta perilaku hidupnya. Biografi biasanya dapat bercerita tentang kehidupan seseorang, baik yang terkenal maupun yang tidak terkenal. Biografi juga bias menceritakan tokoh sejarah atau orang yang masih hidup. Biasanya biografi ditulis secara kronologis.
Dalam penulisan biografi diperlukan bahan-bahan utama dan pendukung. Bahan-bahan utama dapat berupa surat-surat, buku harian, atau kliping Koran. Bahan-Bahan-bahan pendukung dapat berupa biografi lain dan buku-buku referensi atau sejarah.
2.2 Biografi Ibu Azlina Zainal
Semua Uraian di bawah ini didapatkan oleh penulis dari hasil wawancara secara langsung dengan Ibu Azlina Zainal serta keluarga dan kerabat beliau.
Ibu Azlina Zainal lahir pada tanggal 30 Desember 1959 di Bandar Selamat. Beliau merupakan anak ke 7 dari 13 bersaudara. Beliau menikah dengan Bapak drs. H.
merupakan sekretaris Majelis Adat Budaya Melayu Indonesia sejak tahun 2010. Ibu Azlina Zainal memiliki satu orang anak yang bernama Muhammad Ihsan (Wawancara penulis dengan Ibu Azlina Zainal 26 Mei 2015)
2.2.1 Latar Belakang Keluarga
Ibu Azlina Zainal lahir dari keluarga yang sama sekali tidak memiliki latar belakang seni. Ibu Azlina merupakan Putri dari Bapak Zainal dan Ibu Hj. Saibatul Islamiyah Nasution. Namun sebelum menikah dengan ayah beliau, ibu beliau telah menikah sebelumnya dan dikaruniai 5 orang anak. Ayah dan Ibu beliau merupakan pedagang di sebuah pasar tradisional. Beliau merupakan anak ke 7 dari 13 bersaudara yaitu: (1) Khairuddin Lubis, (2) Khairiyah Lubis, (3) Khairul Amri Lubis, (4) Nasriyah Lubis, (5) Khadijah Lubis, (6) Zulkifli Zainal, (7) Azlina Zainal, (8) Zaini Zainal, (9) Zainah Zainal , (10) Zailani Zainal, (11) Zulfahri Zainal, (12) Zainab Zainal.
Dari ke 13 bersaudara tersebut hanya Ibu Azlina yang menggeluti profesi sebagai penyanyi. Beliau juga tidak tau mengapa hal tersebut bias terjadi. Beliau hanya menuturkan “mungkin sudah bakat yang Allah karuniakan untuk saya sehingga saya bias
bernyanyi sejak kecil”. Selain itu sejak kecil beliau dan saudara-saudaranya tidak pernah
mendapatkan pendidikan seni. Rasa ketertarikan beliau terhadap musik lah yang membuat beliau mau belajar dan mengembangkan bakat bernyanyi yang ada dalam dirinya.
2.2.2 Latar Belakang Pendidikan
Ibu Azlina Zainal mendapat pendidikan sekolah dasar di SD Alhidayah Bandar Selamat selama 6 tahun. Kemudian Beliau melanjutkan pendidikannya di Pendidikan Guru Agama (PGA) Negri di Pancing selama 6 Tahun. PGA merupakan pendidikan akhir beliau. Beliau mengatakan bahwa Ia tidak melanjutkan pendidikannya ke jenjang yang lebih tinggi karena faktor ekonomi sehingga beliau harus rela pendidikannya berhenti sampai di tingkat tersebut. Sejak kecil Beliau juga tidak pernah mengikuti kursus apapun. Pada saat beliau berumur 22 tahun beliau mendapatkan pelajaran ilmu musik, olah vokal serta benyanyi lagu Melayu dari Ibu Hj. Dahlia Kasim Sinar, pimpinan LIA GRUP.
2.2.3 Latar Belakang Pengalaman Bernyanyi
Ibu Azlina Zainal sejak kecil sangat suka bernyanyi. Beliau tertarik untuk bernyanyi setelah mendengarkan lagu-lagu dari radio. Pada waktu beliau masih kecil, orangtua beliau tidak memiliki radio dan televisi. Hanya sedikit orang yang memiliki radio dan televisi pada saat itu. Jadi beliau hanya dapat mendengarkan lagu dari radio atau televisi milik tetangga atau warga yang memiliki radio dan televisi yang dekat dengan rumah beliau. Dari radio dan televisi beliau menghafal dan mempelajari lagu-lagu termasuk lagu Melayu dan lagu irama padang pasir. Kebetulan lingkungan tempat beliau
budaya Melayu walaupun beliau bukan merupakan keturunan etnis Melayu. Namun menurut pengakuan beliau, karena kecintaan dan ketertarikan beliau terhadap Lagu Melayu, beliau menjadi lebih mahir menyanyikan lagu Melayu dibandingkan lagu Mandailing dan lagu Aceh.
Sejak kecil beliau tidak pernah mendapatkan pendidikan musik. Beliau hanya belajar sendiri secara otodidak. Beliau senang memperhatikan,mendengar dan menghafal lagu kemudian Beliau nyanyikan dirumah. Latar belakang agama beliau sejak kecil yaitu Islam membuat beliau sering melihat dan mengikuti kegiatan pengajian. Hal tersebut membuat beliau menyukai dan mampu menyanyikan lagu-lagu nasyid dan lagu irama padang pasir. Karena kemampuan beliau dalam bernasyid, beliau sering diminta untuk bernasyid di acara pengajian bahkan di radio. Selain itu, beliau juga pernah mendapatkan juara dalam perlombaan Nasyid.
Awal beliau memulai karir musik adalah ketika beliau diminta untuk bergabung dengan grup El-Surayya yang dibentuk oleh Bapak Ahmad Baki. Beliau diminta untuk bergabung oleh Bapak Ahmad Baki setelah kemampuan beliau dalam menyanyikan lagu irama padang pasir dilihat oleh Bapak Ahmad Baki di salah satu acara di TVRI. Ibu Azlina bergabung dengan grup tersebut selama kurang lebih 3 tahun. Rupanya, saat bernyanyi dengan Grup El-Surayya, bakat Ibu Azlina dilihat oleh seorang produser rekaman lagu bernama Bapak Djulfan. Lalu Ibu Azlina ditawarkan untuk rekaman lagu Padang pasir. Pada saat rekaman tersebut, ibu Azlina berkenalan dengan salah seorang penyanyi lagu Melayu yaitu Ibu Leyla Hasyim. Mereka bersama-sama bernyanyi dalam rekaman tersebut. Kaset rekaman tersebut merupakan rekaman pertama Ibu Azlina.
Setelah berkenalan dengan Ibu Leyla Hasyim, proses rekaman di studio membuat mereka menjadi cukup dekat. Kedekatan mereka tersebut mendorong mereka untuk membuat grup vocal trio. Grup tersebut beranggotakan Ibu Azlina Zainal, Ibu Leyla Hasyim dan Bapak Syaiful Amri. Karena Ibu Azlina telah memiliki grup yang baru akhirnya beliau memutuskan untuk keluar dari Grup El-Surayya. Namun . Lalu Ibu Azlina mendengar berita di radio dan televise mengenai pemilihan Bintang Radio dan televisi. Beliau katakana bahwa beliau tertarik untuk mengikuti perlombaan tersebut. Namun beliau merasa kurang percaya diri karena beliau tidak memiliki pakaian yang pantas untuk mengikuti perlombaan. Kemudian beliau bercerita mengenai hal tersebut kepada Ibu Leyla Hasyim yang merupakan sahabat beliau. Ibu Leyla ternyata sangat mendukung beliau untuk mengikuti perlombaan tersebut. Beliau dipinjamkan pakaian dan didandani oleh Ibu Leyla Hasyim. Beliau sangat terharu akan hal tersebut dan sampai sekarang tidak bias melupakan jasa Ibu Leyla Hasyim. Namun, sebelum perlombaan dimulai para peserta dilatih terlebih dahulu oleh para pelatih sebelum peserta yang mengikuti perlombaan bertanding. Pada saat kegiatan latihan tersebut, ternyata Ibu Azlina
diperhatikan kemampuan nya oleh Ibu Dahlia Kasim Sinar, seorang pemimpin Grup teater Melayu yang benama LIA grup. Ibu Hj. Dahlia Kasim Sinar , selaku pimpinan LIA Grup, tertarik untuk mengajak Ibu Azlina bergabung di LIA Grup karena beliau melihat bakat yang ada dalam diri Ibu Azlina saat menjadi peserta dalam pemilihan Bintang Radio dan Televisi Sumut dan Ibu Azlina berhasil mendapatkan juara pertama. Ibu Azlina bersedia menerima tawaran untuk dididik terlebih dahulu oleh Ibu Dahlia Kasim Sinar. Selama bergabung di LIA grup, Ibu Azlina sering menginap di rumah Ibu Dahlia Kasim Sinar. Beliau diajarkan banyak hal mengenai teori musik, teknik vocal, lagu Melayu , dan ketekunan untuk berlatih. Hal tersebut membuat Ibu Azlina semakin baik lagi dalam hal bernyanyi khususnya lagu Melayu. Selain pendidikan musik yang didapatkan dari Ibu Dahlia Kasim Sinar, beliau juga mendapatkan banyak pelajaran dan pengalaman berharga lewat berbagai pertunjukan yang Beliau tampilkan bersama LIA grup yang beranggotakan 5 orang penyanyi dan banyak penari. Para penyanyi di LIA grup antara lain Ibu Azlina Zainal, Vivi, Zulham Jais, Darmansyah dan Tengku Syafik. Mereka diundang ke berbagai acara baik di dalam negri maupun di luar negri. Selama 5 tahun Ibu Azlina bergabung dengan LIA grup hingga akhirnya grup ini bubar karena Ibu Dahlia Kasim Sinar sakit kemudian pindah ke Jakarta.
Setelah LIA grup bubar akhirnya Ibu Azlina kembali bergabung dengan grup El-Surraya yang pada saat itu dipimpin oleh Bapak Syamsul Bahri anak dari pimpinan sebelumnya yaitu Bapak Ahmad Baki. El-Surraya merupakan grup terakhir yang dimasuki oleh ibu Azlina hingga akhirnya Ibu Azlina memutuskan untuk berdiri sendiri tanpa grup hingga saat ini. Beliau mengungkapkan bahwa selama bergabung di grup-grup tersebut, disitulah beliau mendapatkan banyak sekali pelajaran dan pengalaman berharga yang dapat dijadikan beliau modal menjadi seorang penyanyi. Banyak pengalaman berharga yang tidak dapat dibeli dan didapatkan disekolah manapun. Beliau bersyukur sekali memiliki kesempatan untuk dapat bergabung dalam grup-grup tersebut. Namun karena beliau melihat sangat sulit menemukan partner grup dank arena kesibukan berumah tangga akhirnya beliau tidak lagi bergabung dalam grup apapun. Namun karena beliau memiliki relasi yang baik dan sudah cukup dikenal oleh beberapa kalangan masyarakat, hingga saat ini beliau masih sering bernyanyi dalam berbagai acara atau kegiatan. Bahkan terkadang seminggu dua hingga tiga kali beliau dapat tampil pada acara yang berbeda. Hal itu menyebabkan beliau tidak kehilangan mata pencahariannya sebagai
seorang penyanyi dan beliau juga dapat terus mengasah kemampuan beliau dalam bernyanyi.
1 BAB I PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang Masalah
Etnomusikologi merupakan sebuah disiplin ilmu yang merupakan fusi dari musikologi dan antropologi (etnologi). Secara eksplisit apa itu etnomusikologi sebagai sebuah disiplin ilmu pengetahuan manusia, didefinisikan oleh Merriam, sebagai berikut.
Ethnomusicology carries within itself the seeds of its own division, for it has always been compounded of two distinct parts, the musicological and the ethnological, and perhaps its major problem is the blending of the two in a unique fashion which emphasizes neither but takes into account both. This dual nature of the field is marked by its literature, for where one scholar writes technically upon the structure of music sound as a system in itself, another chooses to treat music as a functioning part of human culture and as an integral part of a wider whole. At approximately the same time, other scholars, influenced in considerable part by American anthropology, which tended to assume an aura of intense reaction against the evolutionary and diffusionist schools, began to study music in its ethnologic context. Here the emphasis was placed not so much upon the structural components of music sound as upon the part music plays in culture and its functions in the wider social and cultural organization of man. It has been tentatively suggested by Nettl (1956:26-39) that it is possible to characterize German and American "schools" of ethnomusicology, but the designations do not seem quite apt. The distinction to be made is not so much one of geography as it is one of theory, method, approach, and emphasis, for many provocative studies were made by early German scholars in problems not at all concerned with music structure, while many American studies have been devoted to technical analysis of music sound (Merriam 1964:3-4).1
1Dalam aplikasi disiplin etnomusikologi di Indonesia dan dunia, terdapat sebuah buku yang terus populer sampai sekarang ini, dalam realitasnya menjadi “bacaan wajib ” bagi para
2
Apa yang di kemukakan oleh Merriam seperti kutipan di atas, bahwa para pakar atau ahli etnomusikologi membawa dirinya sendiri kepada benih-benih pembagian ilmu, yaitu musikologi dan antropologi. Selanjutnya dalam memfungsikan kedua disiplin ini, akan menimbulkan kemungkinan-kemungkinan munculnya masalah besar dalam rangka menggabungkan kedua disiplin itu. Oleh karena itu setiap etnomusikolog akan berada dalam fokus keahlian ilmu pada salah satu bidangnya saja, tetapi tetap mengandung kedua disiplin tersebut.
Etnomusikologi seperti yang di uraikan oleh Merriam tersebut menekankan perhatian pada dua aspek. Yang pertama adalah fungsi musik dalam kebudayaan manusia yang mendukungnya. Ini berkaitan dengan konteks musik tersebut digunakan dalam masyarakat, dan bagaimana kontribusi tersebut dalam masyarakat pendukungnya. Yang kedua adalah struktur musik itu sendiri, yang memiliki hukum-hukum internalnya, yang bisa saja berbeda antara satu musik dengan musik lain, antara budaya musik etnik yang satu dengan yang lainnya.
Sesuai dengan penjelasan Merrtiam tentang etnomusikologi tersebut di atas, maka sangatlah relevan mengkaji tentang teknik menyanyikan lagu Melayu. Penulis tertarik untuk menulis tentang hal tersebut karena rasa ingin tahu penulis tentang bagaimana cara menyanyikan lagu Melayu. Penulis memperhatikan bahwa dalam menyanyikan lagu Melayu ada beberapa ciri pelajar dan mahasiswa etnomusikologi seluruh dunia, dengan pendekatan kebudayan, fungsionalisme, strukturalisme, sosiologis, dan lain-lainnya. Buku yang diterbitkan tahun 1964 oleh North Western University di Chicago Amerika Serikat ini, menjadi semacam “karya utama” di antara karya-karya yang berciri khas etnomusikologis.
3
khas yang dikenal dengan istilah cengkok, gerenek dan patah lagu. Lagu Melayu juga memiliki konsep tentang pola ritme pukulan gendang yang disebut rentak. Rentak Melayu di antaranya ialah asli, inang, lagu dua (joget), zapin, ghazal, hadrah dan lainnya (Takari, 2008). Namun dalam tulisan ini hanya 4 jenis rentak yang akan dibahas yakni rentak asli,inang, joget (lagu