BAB V Bab ini berisikan kesimpulan sebagai jawaban atas masalah yang dirumuskan serta saran-saran
PROFIL PENGADILAN AGAMA CIBINONG
C. Wilayah Yuridiksi Pengadilan Agama Cibinong 5
Wilayah yuridiksi Pengadilan Agama Cibinong serupa dengan wilayah yuridiksi Pengadilan Agama pada umumnya. Wilayah yuridiksi yang dimaksud dalam pembahasan ini merujuk pada istilah kewenangan memeriksa, memutuskan dan menyelesaikan suatu perkara bagi pengadilan. Dalam istilah “kewenangan” merupakan sinonim dari kata “kekuasaan”. Adapun yang dimaksud dengan kewenangan dan kekuasaan itu didalam HIR dikenal dengan istilah kompetensi.
Dalam Bab III pasal 49 sampai dengan pasal 53 UU No. 7 Tahun 1989. Dalam ketentuan pasal 49 dinyatakan:6
1. Pengadilan Agama bertugas dan berwewenang memeriksa, memutus, dan menyelesaikan perkara-perkara di tingkat pertama antara orang- orang yang beragama Islam di bidang: a. Perkawinan; b. Kewarisan, wasiat, dan hibah, yang dilakukan berdasarkan hukum Islam; c. Wakaf dan shadaqah.
2. Bidang perkawinan sebagaimana yang dimaksud dalam ayat (1) huruf a ialah hal-hal yang diatur dalam atau berdasarkan untuk Undang- undang mengenai perkawinan yang berlaku.
3. Bidang kewarisan sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) huruf b ialah penentuan siapa-siapa yang menjadi ahli waris, penentuan mengenai
5
Peradilan Agama Cibinong, “Wilayah Yuridiksi Pengadilan Agama Cibinong” artikel diakses pasa 04 Februari 2015 dari http://www.pa-cibinong.go.id/yuridiksi-pa.
6
Dr. Jaih Mubarok, M.Ag., Peradilan Agama di Indonesia, (Bandung: Pustaka Bani Quraiys, 2004), Cet ke-1, h. 14
45
harta peninggalan, penentuan bagian masing-masing ahli waris, dan melaksanakan pembagian harta peninggalan tersebut.7
Dalam ketentuan-ketentuan itu menunjukkan bahwa cakupan kekuasaan absolut Pengadilan Agama Cibinong secara garis besar meliputi perkara perkara perdata tertentu dikalangan orang-orang yang beragama Islam. Perkara-perkara perdata itu adalah di bidang perkawinan, kewarisan, wasiat, hibah, wakaf, dan shadaqah yang dilakukan berdasarkan hukum Islam.
Berbicara mengenai kompetensi, jika diklasifikasikan lagi Pengadilan Agama Cibinong mempunyai dua kompetensi, yaitu:
1. Kompetensi absolut, yaitu kewenangan atau kekuasaan pengadilan yang berhubungan dengan jenis perkara atau jenis pengadilan perkara atau tingkat pengadilan, dalam perbedaannya dengan jenis perkara atau jenis pengadilan lainnya.8 Pada Undang-undang No. 3 Tahun 2006 jo UU no. 7 Tahun 1989 tentang Peradilan Agama disebutkan BAB II mengenai kekuasaan Pengadilan pasal 29 yang berbunyi: “Pengadilan Agama bertugas dan berwewenang memeriksa, dan menyelesaikan perkara ditingkat pertama antara orang-orang beragama Islam di bidang: a. Perkawinan b. Waris c. Wasiat h. 22 7
Undang-undang Peradilan Agama (UU No. 7 Th. 1989), (Jakarta: Sinar Grafika, 2002),
8
H. Raihan A. Rasyid, Hukum Acara Peradilan Agama,(Jakarta: Rajawali Pers, 1991), Cet ke-1, h. 27.
d. Hibah e. Wakaf f. Zakat g. Infak h. Shadaqoh i. Ekonomi Syariah
Semua kompetensi yang disebutkan diatas berdasarkan Undang- undang Perkawinan, Kewarisan, Peraturan Pemerintah dan Kompilasi Hukum Islam (KHI). Adapun pelaksanaan tugas-tugas pokok ini pembinaannya dilakukan oleh Mahkamah Agung (MA).
Khusus mengenai bidang perkawinan, maka dalam penjelasan dalam pasal 49 ayat (2) UU No. 3 tahun 2006 jo. No. 7 tahun 1989 tentang Peradilan Agama dijelaskan bahwasannya kompetensi absolut Peradilan Agama mengenai hal-hal yang berhubungan perkawinan antara lain:
a. Izin beristri lebih dari seorang
b. Izin melangsungkan perkawinan bagi orang yang berusia 21 tahun, dalam hal orang tua wali, atau keluarga dalam garis lurus ada perbedaan pendapat.
c. Dispensasi nikah. d. Pencegahan perkawinan.
e. Penolakan perkawinan oleh Pegawai Pencatat Nikah. f. Pembatalan Perkawinan.
47
h. Perceraian karena talak. i. Gugatan percerain.
j. Penyelesaian harta bersama. k. Hadhanah.
l. Ibu dapat memikul biaya pemeliharaan dan pendidikan anak bilamana bapak yang seharusnya bertanggung jawab tidak mematuhinya.
m. Penentuan kewajiban memberi biaya penghidupan oleh suami kepada bekas istri atau penentuan suatu kewajiban bagi bekas istri. n. Putusan tentang sah atau tidaknya seorang anak.
o. Putusan tentang pencabutan kekuasan orang tua. p. Pencabutan kekuasaan wali.
q. Penunjukan orang tua lain sebagai wali oleh pengadilan dalam hal kekuasaan seorang wali dicabut.
r. Penunjukan seorang wali dalam hal belum cukup umur (18 tahun) yang ditinggal kedua orang tuanya.
s. Pembentukan kewajiban ganti kerugian atas harta benda anak yang ada dibawah kekuasaannya.
t. Penetapan asal usul seorang anak dan penetapan pengangkatan anak berdasarkan hukum islam.
u. Putusan tentang hal penolakan pemberian keterangan untuk melakukan perkawinan campuran.
v. Pernyataan tentang sahnya perkawinan yang terjadi sebelum Undang-undang No. 1 Tahun 1974 Tentang Perkawinan dan dijalankan menurut peraturan lain.
2. Sedangkan kompetensi relative yang dimiliki oleh pengadilan agama yaitu: kewenangan atau kekuasaan untuk memeriksa, memutuskan dan menyelesaikan suatu perkara bagi pengadilan yang berhubungan dengan wilayah atau domisili para pihak pencari keadilan. Hal demikian tersebut terdapat pada ketentuan sebagai berikut:
a. HIR pasal 118 ayat (1 s/d 4) atau 142 R. Bg.
b. Undang-undang Peradilan Agama pasal 66 ayat (1 s/d 5) dan pasal 73 ayat (1 s/d 3) tentang kompetensi relative.
Khusus mengenai bidang kewarisan, wasiat dan hibah diatur dalam Statsblaad 1882 No. 152, yang kemudian diubah dengan
Statsblaad 1937 No. 1116 dan 610. Sebagaimana tercermin dalam
Peraturan Pemerintah No. 45 Tahun 1975 menjelaskan bahwasannya kompetensi absolut Peradilan Agama Cibinong di bidang kewarisan mencakup empat hal yaitu:
a. Penentuan siapa-siapa yang menjadi ahli waris. b. Penentuan mengenai harta peninggalan (tirkah).
c. Penentuan masing-masing ahli waris dari harta peninggalan itu. d. Menjelaskan pembagian harta peninggalan tersebut.
Selain itu ketentuan mengenai kewenangan Pengadilan Agama Cibinong khusus dibidang wakaf dan shodaqah merujuk pada PP No. 28
49
Tahun 1977 tentang Perwakafan Tanah Milik dan ketentuan pasal 17 Peraturan Menteri Agama No. 1 Tahun 1978, yang menyatakan bahwa Pengadilan Agama berkewajiban menerima dan menyelesaikan perkara tentang perwakafan tanah menurut syariat Islam diantaranya:9
a. Wakaf, wakif, nadzir, ikrar, dan saksi. b. Bayinah (alat bukti) administrasi wakaf. c. Pengelolaan dan pemanfaatan hasil wakaf.
Adapun kompetensi relative Pengadilan Agama Cibinong mewilayahi 39 Kecamatan, 423 Desa dan 457 kelurahan. Wilayah Kecamatan terdiri dari desa dan kelurahan sebagai berikut:
1. Kecamatan Ciawi : 13 Desa 2. Kecamatan Cisarua : 9 Desa 3. Kecamatan Caringin : 11 Desa 4. Kecamatan Cijeruk : 12 Desa 5. Kecamatan Taman Sari : 18 Desa 6. Kecamatan Ciomas : 11 Desa 7. Kecamatan Cibinong : 12 Desa 8. Kecamatan Dramaga : 10 Desa 9. Kecamatan Gunung Putri : 10 Desa 10. Kecamatan Citeureup : 12 Desa 11. Kecamatan Babakan Madang : 3 Desa 12. Kecamatan Sukaraja : 13 Desa
9
Dr. Jaih Mubarok, M.Ag., Peradilan Agama di Indonesia, (Bandung: Pustaka Bani Quraiys, 2004), Cet ke-1, h. 19-20.
13. Kecamatan Mega Mendung : 10 Desa 14. Kecamatan Suka Makmur : 14 Desa 15. Kecamatan Jonggol : 12 Desa 16. Kecamatan Cileungsi : 9 Desa 17. Kecamatan Kapala Nunggal : 20 Desa 18. Kecamatan Cariu : 9 Desa 19. Kecamatan Parung : 10 Desa 20. Kecamatan Ciseeng : 9 Desa 21. Kecamatan Kemang : 16 Desa 22. Kecamatan Bojong Gede : 6 Desa 23. Kecamatan Ranca Bungur : 10 Desa 24. Kecamatan Gunung Sindur : 19 Desa 25. Kecamatan Leuwiliang : 15 Desa 26. Kecamatan Pamijahan : 13 Desa 27. Kecamatan Rumpin : 15 Desa 28. Kecamatan Cibungbulang : 19 Desa 29. Kecamatan Ciampea : 15 Desa 30. Kecamatan Jasinga : 9 Desa 31. Kecamatan Tenjo : 11 Desa 32. Kecamatan Parung Panjang : 11 Desa 33. Kecamatan Nangung : 9 Desa 34. Kecamatan Sukajaya : 9 Desa 35. Kecamatan Cigudeg : 15 Desa
51
36. Kecamatan Leuisedang : 8 Desa 37. Kecamatan Tajur Haling : 7 Desa 38. Kecamatan Tenjolaya : 57 Desa 39. Kecamatan Cigombong : 8 Desa